Biar kuberitahu beberapa hal mengenai penari telanjang yang tidak sengaja kutemui usai menghadiri bridal shower yang diatur teman-temanku.
Pertama, rambutnya merah sebahu.
Kedua, dia menawarkan segala hal yang tidak berani kudambakan; hasrat-hasrat, kenekatan sampai spontanitas.
Terakhir, dia mengetahui semua rahasia yang tidak kubeberkan pada siapa pun. Mulai dari perasaan yang kuragukan terhadap calon suamiku, sampai teman di Sekolah Dasar yang kusekap dalam lemari hingga tewas.
Ketika berusaha menguak identitasnya, aku sekaligus mengungkap sebuah rahasia gelap yang selama ini membungkusku rapat-rapat.
Known for 'Kelab dalam Swalayan’ (Night Club in the Convenience Store), which was named one of the top five reads by Indonesian authors by The Jakarta Post in 2021. This debut novel also won Best Debut Novel and Best Psychological Thriller at the Scarlet Pen Awards in 2021. Her second novel, 'Laila Tak Pulang’ (Laila Doesn’t Come Home), was a finalist for the Ayu Utami Awards RASA in 2023. The novel was also awarded Best Novel and Best Mystery Novel of 2023 by the Scarlet Pen Awards. Her books have been featured at the Makassar International Writers Festival 2024 and the Ubud Writers and Readers Festival 2024. She resides in Bandung, West Java, Indonesia.
Yang pertama, desain sampulnya cukup menarik. Menggambarkan sebuah dunia misterius yang terletak di balik pintu berwarna merah. Pintu warna merah ini mengingatkan pada film horor "Insidious" yang merupakan pintu penghubung antara dunia yang dihuni tokoh dan dunia dalam dimensi yang lain. Sebelum membaca isi, saya coba memprediksi apa yang akan diceritakan dalam sampul depan : sebuah dunia asing yang ingin dimasuki/dibuka oleh seorang perempuan yang sebelumnya sama sekali tidak mengenal dunia itu. Apa isinya? Ini yang membuat penasaran. Yang saya perkirakan ada dua : dunia di mana ia akan menemukan dirinya yang sesungguhnya, atau sebuah dunia yang lekat dengannya, tetapi selama ini tidak pernah ia ketahui. Semacam kenyataan masa lalu yang akhirnya tersingkap. Yang mana? Perlu membaca isinya.
Kedua, saya suka narasi yang dituliskan pengarang. Mengalir dengan lancar seperti seorang yang sedang bercerita dan bertutur pada orang lain tentang sebuah cerita yang seru. Saya juga menyukai bagaimana pengarang memasukkan beberapa pendapatnya sendiri terkait hal-hal atau situasi yang dihadapi para tokohnya dalam novel.
Mengusung genrenya "psychological thriller" adalah genre yang saya suka. Terus terang, ekspektasi jadi tinggi karena ini. Pengarang bukan saja harus mampu membuat konflik serta plot yang mengundang penasaran, tetapi juga dibutuhkan kelihaian untuk mengatur babak demi babak, tempo naik-turun, cepat-lambatnya cerita, serta pembaca diliputi perasaan berganti-ganti emosi. Ditambah lagi, bagaimana pengarang mampu secara apik mengeksplorasi situasi kejiwaan tokoh-tokohnya yang mungkin saja 'tidak baik-baik saja'. Dan ternyata, di sini pula yang kurang maksimal di novel ini.
Saya berusaha membayangkan situasinya. Dalam jumlah setebal 283 halaman, apa saja yang diangkat oleh penulisnya. Diawali dengan situasi tokoh utama, Sonja, yang sedang dalam persiapan pernikahan dengan Nohan, seorang pria yang dikarakternya sempurna secara fisik dan latar belakang. Sonja merasa bahwa dirinya sebenarnya tidak sepenuh menginginkan pernikahan tersebut, tetapi ia juga tak mampu melawan apa yang sudah menjadi 'garis tangan' seorang perempuan.
Dengan hubungan yang dingin dan nyaris tanpa adegan romantis sepasang kekasih, lebih disibukkan dengan pekerjaannya sebagai seorang fashion designer, buku ini secara keseluruhan mengeksplor lebih jauh lagi tentang kehidupan Sonja, yang menemukan sebuah kelab malam di dalam sebuah swalayan tanpa sengaja. Memicu rasa penasaran, terlebih ketika ia diceritakan bertemu sosok bernama Mega, seorang penari telanjang. Sonya dan Mega lantas sering bertemu di kelab itu. Diawali adanya hal-hal yang membuat Sonja penasaran dengan Mega, karena ia mengatakan sangat tahu tentang Sonja, lebih dari yang Sonja tahu sendiri.
Alur bergerak maju, diselingi oleh adegan-adegan seperti Bi Ijah (pembantu Sonja) yang ditemukan Sonja mati tiba-tiba saat bangun tidur, setelah sebelumnya dalam keadaan mabuk hingga tak sadarkan diri. Lalu bagaimana ia segera bertindak untuk menghilangkan jejak mayatnya. Diceritakan juga Sonja menerima tawaran Mega untuk menemaninya terlibat dalam pertunjukan; menjadi penari telanjang bersama Mega dengan rayuan didekatkan dengan Chakra --laki-laki yang mulai ditaksir Sonja diam-diam, adegan kematian kakak Sonja, kematian ayah Sonja, juga kepingan peristiwa-peristiwa kelam yang terjadi di masa lalu.
Di tengah konflik kejiwaan dan nuansa misteri yang ingin digambarkan, pembaca akan disuguhi banyak deskripsi yang juga dibuat untuk mengesankan kehidupan sebagian masyarakat urban yang lebih mudah (atau lebih terbiasa) dengan dunia gemerlap dalam kelab malam, minuman keras, merokok, prostitusi, dll. Ketersediaan akses adalah salah satu faktor, dan beragamnya dinamika kehidupan urban jadi bisa tergambarkan. Misalnya, bagaimana suasana kelab yang sedang menyajikan 'pertunjukan' penari telanjang, mata-mata para pria tampak ingin memangsa sang penari. Pembaca juga akan diberi informasi terkait cara kerja alkohol mengapa bisa memabukkan sekaligus menawarkan kenikmatan. Juga tentang Oestrogel, untuk mendongkrak kembali estrogen pada tubuh perempuan yang pascamenopause. Menjadi semacam deskripsi-deskripsi tambahan yang digunakan sebagai latar untuk menambah kegelapan dalam konfliknya.
Masuk ke sebagian babak akhir, terkuak rahasia yang selama ini ternyata disembunyikan dari Sonja sendiri, dan itulah yang menjadi alasan mengapa situasinya bisa seperti yang dijelaskan di awal. Pembaca akan mendapatkan informasi lengkapnya ketika masuk ke bagian itu. Sebelumnya, diminta puas mengikuti apa yang ingin dipaparkan di bagian depan.
Saya suka ide ceritanya. Namun, dalam sebuah karya, apalagi buku (bukan film), cara menuliskan, memaparkan, menggiring, dll sangat penting dikemas secara apik untuk menghanyutkan pembaca. Buku ini menurut saya membutuhkan lebih banyak lagi sentuhan editor untuk menjadikan kemasan ceritanya lebih menarik.
Saya mengamati beberapa adegan seolah hanya selintas,situasi kejiwaan Sonya sendiri malah tidak terlalu dalam dieksplor. Jika melihat riwayat masalahnya, Sonja mengalami trauma luar biasa. Ini harus dieksplor lebih banyak dan dalam. Agar pembaca mendapatkan gambaran betapa mengerikannya situasi yang dialami Sonja, hingga traumanya bisa menyebabkan situasi demikian. Ada juga yang kesannya saya anggap terlalu mudah selesai. Misal, adegan kematian Bi Ijah. Bagi saya tidak semudah itu untuk pada akhirnya berhasil menghilangkan jejak atas lenyapnya seseorang. Bagaimana bisa Sonja dengan mudah menemukan seseorang untuk membantunya mengurus mayat, misalnya. Sonja juga bukan orang yang ahli dalam hal ini. Ide menghilangkan jejak dengan cara membakarnya (kremasi) seperti dalam buku "The Plotters" (Un-Su Kim), tetapi situasinya berbeda. Di sana tokohnya adalah pembunuh berdarah dingin yang sudah berpengalaman.
Terkait penulisan dalam buku, editor atau layouter perlu lebih teliti. Ada bagian yang ditulis dengan tidak huruf bercetak miring, padahal itu adalah ungkapan suara yang keluar dari dalam pikiran Sonja, bukan percakapan yang ia lakukan secara langsung. Contoh : "Sonja?" Suara itu merembet ke luar. "Di dalam sini pengap sekali. Aku kesulitan bernapas." (Hlm 163). Ini adalah suara dari orang yang telah meninggal beberapa waktu lalu, teman sekelas Sonja yang ditinggalkan dalam lemari pakaian dan menguncinya. Menurut saya, itu seharusnya percakapan yang dicetak miring, karena Sonja sebenarnya sedang mendengarkan suara dari pikirannya, teringat kejadian yang lampau. Beberapa adegan juga terasa cepat sekali perpindahannya, sehingga pembaca pun harus cepat menangkap situasi.
Di sisi lain lagi, saya memahami bahwa ide ini mungkin menarik, tapi juga tidak mudah untuk bisa dituliskan dalam rangkaian cerita yang menjadi satu, membaur, bergantian menyodorkan adegan. Tujuannya memang agar pembaca mendapatkan kejutan di akhir, tapi perlu ada beberapa tambahan dan tatanan. Saya rasa dengan bantuan lebih baik lagi dari editor, narasi yang sudah cukup bagus ini bisa dibuatkan konsep yang lebih enak dibaca.
#KelabDalamSwalayan @abiardianda @penerbitbaca “Sonja, aku penari telanjang. Bukan pelacur. Aku mempertontonkan tubuhku, itu betul, tetapi, merabanya merupakan hal berbeda. Enggak pernah ada nominal yang cukup bagi siapa pun untuk menyentuhnya tanpa kesediaanku.” Dialog pada novel ini di halaman 116 langsung mengingatkan pada Series “Ozark” saat adegan di Lickety Splitz club. Ini jadi salah satu alasan untuk terus membaca halaman demi halaman hingga tuntas. Jika tidak tahu info mengenai novel ini, saya tak bakal menyangka ini adalah sebuah karya debut. Mengusung tema psychological thriller, penulisnya Abi, mampu menjalin runtutan cerita yang membuat pembacanya penasaran akan kejadian berikutnya. Banyak detil yang disampaikan untuk melengkapi cerita mulai dari pernak-pernik tentang teh, gaya hidup high class, obrolan tentang luar angkasa, dan lain-lainnya dalam porsi yang cukup. Gaya bercerita yang mengalir dan penggalan per adegan yang pas membuat pembaca tidak kebingungan mengikuti alurnya hingga kembali menemui lagi bagian prolog yang berhasil menjawab pertanyaan awal bacaan. Tema yang diangkat mencerminkan kegelisahan tentang potret perempuan yang ada terutama dalam ikatan hubungan perkawinan ataupun hubungan ketika menuju ke situ. Sentilan sana sini juga terungkap dari dialog-dialog antar tokohnya. Memang buku ini luput menuliskan label dewasa di bagian belakang cover, akan tetapi jika membaca isi blurb kita akan tahu kategori umur pembaca yang cocok. Ada satu hal yang saya rasa berlebihan ketika pilihan korban adalah perempuan juga, akan tetapi saya paham ketika dijelaskan mengenai alasan tersebut. Juga ada adegan tentang pintu terkunci dari dalam yang membuat saya terpikir awalnya adalah kesalahan, tetapi memang ternyata tidak tertuliskan. Selain itu, ada beberapa catatan kecil yang sudah saya sampaikan langsung ke penulis misalnya mengenai TPS, istilah Tiongkok dan engsel peti. Secara keseluruhan saya cukup puas dan menikmati pengalaman membaca buku ini. Membacanya sambil mendengarkan playlistnya di Spotify bisa jadi pilihan tepat. Tentunya sambil merapal mantra “Non lasciarti ingannare.” 🥂 #EnthalpyReads
Kelab dalam Swalayan mengisahkan tentang Sonja, seorang gadis yang memiliki banyak rahasia kelam di masa lalu. Suatu hari, ia bertemu seorang penari striptease yang mengetahui semua rahasianya.
Pertama kalinya baca buku pyschological thriller Indonesia, dan aku suka banget sama buku ini! Sensasi ketegangannya terasa banget dari prolog, ditambah lagi setiap bab selalu diakhiri cliffhanger yang bikin penasaran. Ada beberapa adegan yang cukup disturbing dalam buku ini, so proceed with care.
Aku merekomendasikan buku ini untuk setiap penggemar novel thriller dan misteri. Kalau kamu lagi mencari novel yang saking page-turner-nya bisa diselesaikan dalam sekali duduk, this is the book for you!
Serasa baca buku Minato Kanae dan Akiyoshi Rikako, tapi versi penulis Indonesia dengan diksi yang lebih kaya tentunya. Aku sukaaa. Makin ke belakang makin mindblowing as in “What the actual f is happening here???“
Kalau kalian penggemar novel misteri/thriller J-lit dan jarang baca novel misteri/thriller Indonesia, please please baca buku ini. Bagus banget. Totally sick. Isunya masih seputar perempuan dan tentu saja bukunya sarat akan budaya Indonesia.
If you are into psychological thriller mystery, go read this book bestie thank you very much.
"Dunia bisa jadi tempat yang sangat bengis bagi orang-orang yang hidup hanya memakai perasaan."
Secara premis cerita nya sangat menarik, karena isu yang diangkat mbak abi disini ngga sengaja pas banget sama salah satu manga favorite tahun lalu. Diceritakan dari sudut pandang Sonja si tokoh utama disini, kita dibawa kepada potongan-potongan kisah yang semakin kita baca ke belakang semakin potongan-potongan kisahnya menyambung. Cuman sayangnya masih ngerasa miss dibeberapa bagian seperti dan menurutkan ngerasa ada hole di beberapa bagian kisahnya Sonja ini.
After all sangat menikmati cerita Sonja, merasakan ketegangan dan adrenalin sampai 2/3 cerita nya. Sangat mengapresiasi mbak Abi yang berani mengangkat cerita agak gore begini dan pesan-pesan tentang feminis nya jg menurutku lumayan bagus dan juga perihal gangguan psikologi nya yg diangkat masih jarang aku temui dicerita-cerita penulis indo salah satu hal menarik dibuku debutnya mbak abi ini.
Di jam 23.14 tanggal 17 April 2023, aku beneran baru selesai baca kelab dalam swalayan
Ceritanya beneran banyak plot twist dan buat kaget sekagetnya Aku beneran kaget waktu ternyata ibunya yang jahat banget apalagi bagian mutilasi sama nyopot kuku keponakan sendiri, oh iya bagian ibunya cerita minum abu ibunya sendiri (nenek sonja) beneran buat HAH BISA BISANYAA NI ORANG Trs plot twist kalau Mega sama Chakra itu orang di dalam diri sonja beneran buat kaget sih😭 Sebegitu traumanya dia waktu kecil sampe bisa buat beberapa orang di dalam hidupnya 😓
Menurutku ini pas sih novelnya ga terburu-buru, penulisannya juga apik, jadi page turner juga!!!! Oh iya cerita di novel ini beneran fresh dan eksekusi dari sang penulis juga wah banget, kece, keren 💯💯💯💯💯
Beneran dehhh kalau ketemu yang Anjani mending RUNNN Daripada dijadiin makanan anjing atau diseduh kan;(( Anaknya aja dibunuh sama ditaro di peti, apalagi kita🙂🙂🙂🙂🙂
This entire review has been hidden because of spoilers.
Membosankan. Terlalu banyak detil yang sebenarnya ganggu banget. Banyak halaman yang aku bacanya cepet cepet karena emang kayaknya gak usah ditulis pun gak ngefek buat ceritanya.
Habis baca novel lies hidden in my backyard lanjut baca ini karena sama sama thriller. Tapi ternyata 😌😌😌
Tertarik karena blurbnya menarik. Tapi ternyata isinya tidak sesuai ekspetasi.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Okeh, nggak sia-sia aku begadang demi novel ini sampi panas dingin 🤣 (udah nggak fit maksa baca lagi) 🤣🤣 soalnya ending setiap babnya tuh cliffhanger yang bikin aku makin kepo sama kelanjutan kisah Sonja .
Here we go with my messy review and trying my best not to spoil any of the story.
- Tokoh utama yg sangat menyebalkan. Mau dijustifikasi gimana pun, gak bisa dipungkiri perjalanan baca buku ini kerasa dragging banget gara-gara banyak tindakan & pola pikir bodoh dari tokoh utamanya. Beberapa tokoh penting disini juga sama bodoh dan fiktifnya, pokoknya gaada satu pun tokoh disini yg bikin aku emotionally attached. - Tokoh samping yg gak dieksplorasi lebih lanjut. Semua sifat & watak mereka cuma didapatkan dari penjelasan tokoh utama aja, beneran kita disuapin mentah-mentah tanpa storytelling yg memadai. Bahkan banyak tokoh-tokoh yang cuma muncul sekali terus gak muncul lagi sampai akhir, padahal dikenalinnya sedemikian rupa seakan-akan mereka tokoh penting. - Banyak plot yang gak masuk akal. Beberapa adegan sengaja banget dipaksain buat terjadi tanpa dibedah lebih lanjut. Banyak detail apalagi terkait "thriller psikologis"-nya yg kelihatan banget cuma numpang muncul doang biar bukunya terkesan lebih dark, padahal malah bikin bukunya jadi kehilangan esensi thrillernya saking banyaknya bumbu-bumbu gak penting yg dimasukin. - Alur cerita yang berantakan & gak dikemas dengan rapi. Ada pembelaannya sih kenapa alurnya seperti ini, tapi tetep aja bikin experience baca buku ini jadi gak menyenangkan. Intro yg awalnya menarik pun jadi kerasa lemah banget pas diungkap di akhir cerita, karena dah kebanyakan disuguhin plot yg amburadul. - Puncak konflik yg lemah dan resolusinya yg diselesaikan dengan malas sekali. Semuanya dijelaskan & disudahi dengan mudahnya, padahal dengan topik yg diangkat, harusnya butuh penjelasan yg jauh lebih dalam dan gak segampang itu. Beneran pas udah selesai bacanya sampe batin, oh, ok...? That's it?? - Banyak membawa aspek mental disorder & coping with traumatic event tanpa research yg memadai. Terlalu menyepelekan dan jujur, ignorant. Tolong lain kali research lebih lanjut dan pikirkan dampak dari membawa isu seperti ini, karena risikonya bisa bawa stigma jelek ke orang-orang yg mengidap kondisi serupa. Apalagi kelihatan banget author cuma bawa mental disorder sebagai bumbu cerita aja dan dengan gampangnya melabeli tokoh-tokohnya tanpa memahami sepenuhnya apa yg sebenarnya dia tulis.
- Plus point dari buku ini aku suka ke-modern-an dunianya dan keunikan beberapa tokoh sampingnya. Cuma ya itu, sayangnya gak dieksplorasi lagi sama authornya karena malah sibuk nambahin narasi & plot gak penting. Wasted potential. - Padanan kata yang enak dibaca dan terkesan puitis di beberapa bagian. Sayang plotnya tidak memadai.
- Tambahan saran dariku, lain kali coba buat cerita yg lebih terfokus ke beberapa tema saja alih-alih semuanya diembat di 1 buku. Kalo emang mau bawa banyak tema, researchnya juga harus yg dalam. Jangan maunya nulis banyak topik tapi semuanya dangkal, malah jadi gak kerasa impact ceritanya dan keliatan banget disengajain biar bukunya seakan-akan "gila". Even though it's more like reading an emo teenager's writing.
[Update] Semakin aku cari tahu terkait topik yg diangkat author, semakin keliatan research authornya cetek banget. Banyak sekali bagian yg muluk-muluk & gak masuk akal, padahal sebenarnya adegan-adegan yg diangkat itu udah mainstream di dunia genre psychological thriller, cuma si author somehow eksekusi nya sekacau itu. Sampe kesel sendiri bacanya, karena kesannya kayak author gak pernah baca buku psychological thriller sama sekali sebelum nulis buku ini.
Aku belum baca buku yg satunya (Laila Tak Pulang), tapi dari bacain salah satu reviewnya juga langsung keliatan kurang lebih style penulisan dia disana juga sama aja. Author coba nulis genre lain dulu deh, karena sayang tata bahasanya udah bagus tapi jadi zonk gara-gara plotnya jelek & kebanyakan plot hole. Kalo emang masih mau nulis thriller, tolong researchnya dikencengin, jangan malah kelihatan kayak bodoh. Thriller-psychology is not an easy genre without proper research.
Apa yang kamu bayangkan jika mendengar kata "Kelab dalam Swalayan"?
Ini pertama kalinya aku membaca tulisan Kak Abi. Aku tak menyangka novel setebal 287 halaman ini akan membiusku sejak halaman pertama hingga terakhir.
Novel yang membuatku terus membaca dan membaca setiap lembarnya dan menemukan kejutan demi kejutan yang tak kuprediksi sebelumnya.
Sejak awal membaca prolog, aku sudah penasaran dengan kisah dalam novel ini. Kisah diceritakan secara perlahan, aku diajak bertemu dengan sosok Sonja, seorang gadis yang akan segera menikah. Semua tampak baik-baik saja, memiliki kekasih yang tampan, keluarga yang cukup terpandang dan karir yang baik.
Sayangnya, apa yang terlihat tidak seperti apa yang sesungguhnya. Sonja seakan menyimpan bom waktu yang kapanpun siap meledak.
Ceritanya bergulir secara perlahan, Kak Abi pintar sekali mempermainkan emosi pembacanya, membuka lapis demi lapis kisah Sonja secara perlahan, menyelipkan beberapa petunjuk dan membuatku menebak-nebak apa yang sesungguhnya terjadi.
Pertemuan dengan Mega, penemuan sebuah kelab dalam Swalayan yang membuka sisi lain Sonja hingga kejadian mengejutkan lainnya seperti teror kematian dan sebagainya mengiringi kisah ini.
Sejak awal aku membiarkan diriku untuk mengikuti ritme ceritanya, dan benar seperti dugaanku ada yang mengganjal dan itulah clue2nya. Aku suka dengan plot twistnya yang berlapis.
Aku tak menyangka kisah Sonja ini benar-benar kompleks, aku bisa memahami kenapa dia bisa menjadi pribadi seperti itu.
Debut Kak Abi ini benar-benar KEREN, aku suka banget. Eksekusi endingnya juga menarik, buat pecinta novel psikologi thriller aku yakin bakal menyukai novel ini. Karena novel ini memadukan kisah romansa, drama keluarga, psikologi,hingga thriller, benar-benar kompleks.
Senang sekali kembali menemukan 1 lagi penulis thriller lokal. Novel ini kurekomendasikan untuk kamu yang sudah dewasa ya, karena memuat konten yang butuh kebijaksanaan tersendiri saat membacanya
Puas rasanya setiap kali ketemu buku fiksi yang bisa bikin baca sampai lupa waktu. Kelab dalam Swalayan, novel psychological thriller debut Abi Ardianda ini berhasil memberi rasa puas, bahkan melebihi ekspektasi yang saya set sebelumnya.
Dari judulnya saja sudah saya sudah bertanya-tanya akan seperti apa ceritanya, lalu disusul setelah membaca beberapa bab awal di mana Sonja si tokoh utama diperkenalkan kepada pembaca; sosok karakter yang menurut saya sangat "menggemaskan", karena keputusan-keputusan yang diambilnya selalu ditemani keraguan dan berpotensi nyiksa diri sendiri di masa depan. Kok mau saja begini, kok mau saja begitu. Asli gmzbgtampun.
Abi dengan lihai memainkan rasa penasaran saya sepanjang membaca. Beberapa karakter lain diperkenalkan, dan beberapa kejanggalan juga saya temukan. Ada yang terjawab seiring dengan bertambahnya halaman yang dibaca, ada juga yang dibiarkan saja, terserah interpretasi pembaca.
Ada adegan yang menurut saya "terlalu gampang", dan terasa kok udah gitu doang, tapi kalau dibandingkan dengan keseruan membaca ceritanya, jelas lebih banyak serunya. Ini tipe buku yang bisa dihabiskan dalam sekali duduk saking benar-benar bikin penasaran.
Genre novelnya memang psychological thriller, tapi saya suka dan mengapresiasi Abi yang menyelipkan beragam isu keluarga, dan konstruksi sosial terhadap perempuan yang kudu gini kudu gitu di dalam Kelab dalam Swalayan. Somehow terasa seperti melihat potret perempuan urban yang terjebak dalam beragam situasi kompleks dan dampaknya yang terus sambung-menyambung.
Harapannya sih ada sekuel dengan POV selain Sonja, tapi sudah dijawab di Kebab Reading Club kalau nggak ada lanjutannya 🙈 Nggak apa-apa, Kawan KEBAB tetap menanti karya Abi selanjutnya!
Kisah dibuka dengan seorang Sonja yang baru saja kembali dari India. Kekasihnya, Nohan menginginkan mereka melakukan pemotretan untuk prewedding di sana. Sebenarnya Sonja masih letih dari sisa perjalanannya, namun teman-temannya sudah merencanakan untuk melakukan acara bride-shower baginya. Sepulangnya dari acara tersebut, Sonja singgah di sebuah swalayan. Namun dia menemukan keanehan di swalayan itu, dimana di dalam swalayan itu terdapat bar privat. Sonja menyogok pegawai swalayan untuk memberikannya akses masuk ke dalam bar privat itu. Di tempat itu, dia bertemu dengan Mega, seorang penari telanjang, yang memberinya kejutan. Dia mengenal Sonja dan mengetahui rahasia-rahasia kelamnya.
Kejadian demi kejadian hadir dalam hidup Sonja. Satu per satu orang yang dikenalnya mati terbunuh. Dan semua yang terbunuh itu dibereskan oleh Sonja. Di sisi lain, kekasihnya memintanya melakukan persiapan pernikahan yang sebenarnya Sonja tidak yakin akan menjalaninya. Novel psikologis thriller ini membuat penasaran sejak halaman pertama. Tidak banyak novel Indonesia yang mengambil genre ini. Yang menarik, setiap bab-nya meninggalkan pertanyaan dan memaksa pembaca untuk lanjut ke bab berikutnya. Ketegangan diatur sedemikian rupa hingga meningkat menuju klimaks. Meski demikian bagian antiklimaksnya sedikit terburu-buru. Walaupun jawabannya tersedia, tapi sepertinya masih bisa dibuat sedikit lebih panjang.
Gila??? Banget?? Probably one of my best read in october?? Aku suka bagaimana penulis merangkai teka teki hidup Sonja diawal penuh misteri menjadi full circle kebelakang.. pemilihan kata kata yang berani dan scene scene liar bersubstansi bikin betah banget baca Kelab Dalam Swalayan.
Dibanding dengan twist Ibu, aku lebih merasa plot twist dengan DID dan misteri Bapak, mungkin harusnya aku yang lebih peka dengan hint DID nya but still though?!?! Keluarga yang fucked up dan untungnya Sonja punya kakak kakak yang normal dan sayang sama dia yah :'D
Kelab Dalam Swalayan menghadirkan kengerian tersendiri tapi juga rasa penasaran yang dibentuk dari cliffhanger tiap chapternya.
Jadi, setiap scene Sonja sama Mega dan Chakra halu sendiri atau ngomong sendiri? So insane narrative..
This entire review has been hidden because of spoilers.
Buat yang sudah pernah baca Fight Club-nya Chuck Palahniuk bakalan menebak plotnya dengan mulus sih. Tokoh Sonja, Mega, si pecandu, Chakra, ekuivalen dengan Tyler Durden.
Bagian yang lumayan mengejutkan adalah tokoh Ibu. Sayangnya, tokoh si Ibu kurang dikulik lagi sebab-musabab traumanya. Penjelasan hidup dan motifnya juga masih kureng. Hanya dibahas di beberapa halaman bab akhir.
Fokus banyak ke Nohan (calon suami tokoh utama), dialog kantor, dan seputar persiapan nikah, yang nggak cuma ngebosenin, lumayan repetitif, tapi kurang korelasinya sama penguatan ceritanya.
Untuk ukuran novel debut, lumayan oke banget. Semoga karya selanjutnya lebih mantap.
Suka banget sama buku ini! Keren banget. Harus baca deh yang suka genre psychological thriller. Ngggak sempurna, tapi karena ini buku debut dari penulisnya aku rasa bisa dikategorikan luar biasa. Rasanya 283 halaman masih kurang. Kalau saja beberapa hal digali lebih dalam dan tidak dibuat buru-buru, aku yakin bakal sempurna.
Meski begitu aku tetap menyukai buku ini! Aku memutuskan memasukan buku ini ke dalam bacaan terbaik tahun ini.
Salah satu buku atau malah buku tercepat yang ditamatkan tahun ini. Selain karena bukunya cukup tipis, saya suka sekali dengan gaya narasi penulis dalam buku ini. Bab-bab yang ditulis pendek dalam buku ini membuat proses membacanya tidak terasa alias tiba-tiba sudah mau tamat aja. Misterinya saya suka, sangat membuat penasaran tentang apa sebenarnya yang terjadi di masa lalu Sonja. Dan beberapa bagian di buku ini cukup disturbing untuk dibaca tetapi saya tetap suka😜 Sekian.
All the plot twist membuat emosi. Cerita yang berat dalam tulisan yang begitu ringan dan mudah untuk mendalami ceritanya. Overall, the author succesfully cooked on this book! Perfect 🫶
Setelah kupikir-pikir, kayaknya aku nggak keberatan sama sekali untuk menyematkan bintang 5 pada novel ini. Sebagai sebuah novel debut, kayaknya ini sudah cukup sempurna --setidaknya buatku.
Meski, menurutku pada halaman-halaman awal alurnya agak lambat dan pembaca hanya disuguhkan tentang betapa sempurnanya keluarga inti Sonja yang keseluruhannya adalah perempuan --tanpa kehadiran seorang lelaki pun selama bertahun-tahun, tapi menurutku semakin lama ceritanya jadi semakin seru. Banyak twist-twist berserakan, diletakkan di tempat yang tak kusangka-sangka. Sejujurnya, aku sangat suka buku yang tidak bisa kutebak akhir ceritanya. Selain terlihat seperti sebuah tantangan, biasanya buku-buku serupa ini bikin kita berdecak puas setelah menamatkan ceritanya.
Penulisnya seperti paham harus meletakkan ledakan-ledakan kecil di mana. Biasanya, di bagian akhir bab selalu ada bagian yang bikin penasaran, dan membuatku nggak bisa berhenti untuk lanjut ke bab berikutnya.
Selain itu, editannya juga udah cukup bagus dan hampir nggak ada bagian yang mengganggu. Hanya saja, aku rasa novel ini nggak cocok dibaca sambil makan :p random aja sih, karena kemarin kebetulan membacanya di jam makan siang. Ada beberapa bagian yang agak kurang elok dibaca sambil mencerna makanan. Bukan berarti aku bilang bahwa itu bagian yang jelek, malah menurutku itu menjadikannya bagian yang sangat menarik, dan membuatku ikut tenggelam ke dalam cerita.
Satu lagi twist yang tak kusangka ada di bagian ending. Halaman paling belakang. Kupikir, aku sudah melahap semua twistnya, tapi akhirnya~ demikianlah~
"Jatuh cinta itu rasanya harus seperti pulang. Rumah yang kamu tuju harus terasa seperti perhentian terakhir dalam perjuanganmu memercayai seseorang. Ketika kamu enggak yakin bisa memercayainya, jangan jadikan dia rumah. Enggak seorang pun mau selamanya terbelenggu dalam keraguan." - Mega, hal. 145
Dalam psikologi ada yang namanya "Johari Window". Ini adalah empat panel imajiner yang berbentuk seperti jendela yang menggambarkan bagaimana kita mengenal diri dan orang lain. Panel pertama, tentang apa yang kita dan orang lain sama-sama tahu. Yang kedua, tentang apa yang kita tahu tetapi orang lain tidak tahu. Yang ketiga, tentang apa yang kita tidak tahu tetapi orang lain tahu. Dan yang keempat, tentang apa yang kita dan orang lain sama-sama tidak tahu. Membaca buku ini akan membuatmu lebih paham tentang Johari Window.
Baca buku ini mengingatkan aku dengan Holy Mother nya Akiyoshi Rikako, Rumah Lebah nya Ruwi Meita, We Were Liars nya E. Lockhart dan Katarsis nya Anastasia Aemilia dan catatan harian sang pembunuh nya Kim Young Ha. Walaupun begitu familiar tapi membaca buku ini ga bikin aku bosen karena detail2 dan percakapan2 yang ada dalam alur cerita sangat menarik. Seperti ngobrol dengan tema inti yang sama tapi dengan orang yg berbeda yg lebih asik dan seru akan membuat kita tetap So Excited.
"Bersikaplah seolah ini merupakan hari terahirmu hidup. Biasanya, pikiran itu membantuku merasa lebih tenang". [Mega, hal. 182]
Tokoh yang paling aku suka disini adalah tokoh Mega. Mega selalu bicara apa adanya, memahami dark side manusia, Mega selalu bisa mendeskripsikan sesuatu yg biasanya dianggap negatif dengan begitu indah (seperti saat mega bicara tentang Alcohol,rokok dan penari telanjang). Mega Sexy dan sangat menggoda tapi dia tidak membiarkan seseorang menyentuhnya sembarangan.
Kalau kamu suka novel yang kental dengan psikologi dan memiliki plot twist, mungkin kamu akan menyukai novel ini.
Sejauh mana kamu mengenal dirimu? Sejauh mana kamu mengenal keluargamu? Teman-temanmu? Bahkan pasanganmu? Seberapa percaya kamu pada mereka? Apakah kalian semua benar-benar saling mengenal?
Novel ini dibuka dgn prolog dimana ada seorang wanita menuju motel sambil memapah seseorang yg ternyata sudah menjadi jenazah. Ok, writer. I didnt expect that.
Disusun dgn sudut pandang orang pertama, buku ini bertemakan psychological thriller. Terdiri dari banyak bab pendek which i loove krn memudahkan pembaca sepertiku utk mencari jeda. Penuturannya cepat. Wawasan penulis jg luas. Baca buku ini sekalian nambah pengetahuanku jg.
Paragraf pertama yg diletakkan penulis dalam cerita ini sudah mengandung unsur thriller. Bayangkan, baru paragraf pertama loh. Rahasia demi rahasia mengejutkan bertebaran disana-sini tanpa sempat kuantisipasi. Awalnya kukira ada plot hole disini. Namun penjelasan diakhir dapat menjawabnya. Lalu ada isu perundungan disini dan jg masalah mental illness.
Good job penulis. Saya suka bukunya. Kututup ulasan buku ini dgn kutipan favorit: "Kupikir begitulah manusia memelihara lapisan-lapisan di dalam dirinya, tidak semua lapisan itu kita tunjukkan pada semua orang." (hlm. 188)
AAAAHHHH BAGUS BANGETT 😭👏🏻✨️👑 Berhubung aku adalah tipe yang emang suka detail pandangan MC soal anything and everything, this was a masterpiece 👌🏼👏🏻 Bener² uda bikin hooked dari bab pertama, asik bangettt!! Pemilihan diksinya juga asoy sih. Cuma emang mulai tengah² tuh agak bingung sebenernya mau dibawa kemana, terus paruh akhir juga berasa terlalu diburu², but overall this was a pleasant read ✌🏻
4.7 Somethings fell flat, maybe bc I guessed the twists, and somethings are too rushed I feel like, and some plot holes. But there are alot of good quotes here and I absolutely love the writing style and the world she creates. I loved being in the world, I love the atmosphere and how I can picture things clearly. Def would read more from her. It's a good fast paced psychological thriller book.
Sukaaak! Suka sama bukunya 😍. Untuk sebuah debut novel, buku ini keren!! Page turner, diksinya enak dibaca, twistnya hadudu lumayan bikin shock! 😂 Great job Kak Abi! Aku fans barumuu :)