Jump to ratings and reviews
Rate this book

Pasukan Buzzer

Rate this book
Internet. Propaganda. Dan manipulasi opini publik.

Sam-goong, Chatatkat, dan 01810 pada awalnya membentuk Tim Aleph sebagai perusahaan pemasaran online yang menawarkan jasa mempromosikan produk atau perusahaan. Dengan Sam-goong yang ahli menyusun strategi, Chatatkat yang pintar merangkai kalimat, dan 01810 yang jago komputer, mereka pun dengan cepat menguasai cara memanipulasi orang-orang melalui internet.

Suatu hari, Tim Aleph menerima permintaan pekerjaan yang aneh.

“Kalian pernah mendengar situs bernama Kafe Jumda? Jika kalian berhasil menghancurkan situs itu dalam waktu satu bulan, aku akan memberi kalian sembilan puluh juta won.”

Dengan keyakinan polos dan menggebu-gebu bahwa mereka bisa mengubah dunia, Tim Aleph pun mulai beraksi. Ketiga pemuda itu sama sekali tidak menyadari bahwa mereka mungkin terlibat dalam permainan politik berbahaya dan organisasi rahasia yang tidak segan-segan menyingkirkan siapa saja yang dianggap bisa merugikan mereka... dengan cara apa pun.

288 pages, Paperback

First published November 30, 2015

13 people are currently reading
172 people want to read

About the author

Chang Kang-myoung

26 books8 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
18 (8%)
4 stars
93 (45%)
3 stars
67 (32%)
2 stars
21 (10%)
1 star
5 (2%)
Displaying 1 - 30 of 78 reviews
Profile Image for Sulhan Habibi.
805 reviews62 followers
July 28, 2021
Seberapa sering kamu mencari informasi atau baca berita/info di internet?
Berapa jam yang kamu habiskan di dunia maya?
Membaca buku PASUKAN BUZZER karya Chang Kang-myoung dan diterbitkan terjemahannya oleh @bukugpu kembali mengingatkan dan meneguhkan hatiku bahwa internet itu suatu tempat/media segalanya bisa terjadi. Penyebaran informasi bisa terjadi sangat cepat. Merusak reputasi orang lain punbisa dengan “semudah” itu. Belum lagi dengan banyaknya informasi yang ada. Info benar-salah, bermanfaat-sampah, semuanya campur dari satu. Adakah waktu, tenaga, dan keinginan kita untuk mencari lebih banyak dan memilah? Sanggupkah kita menghabiskan energy kita di sana? Well, buku ini menyadarkanku kembali bahwa internet itu tempat asing. Aku tidak mau menenggelamkan diri di sana dan membatasi penggunaan internet (terutama media sosial).
Mungkin (mungkin tapi ya – ini berdasarkan perasaanku setelah menamatkan buku ini) Pasukan Buzzer ini tidak cocok bagi sebagian orang. Selain tema yang bisa berat buat yang awam teknologi atau jarang berkecimpung di internet, penceritaan buku tidak *runut* dan tidaklah utuh seperti novel lainnya. Apalagi adegan2 di dalamnya banyak adegan *vulgar* yang cocok untuk usia dewasa. Pantaslah diberikanrating 21+. Membaca adegan tersebut sampai membuatku ngebatin, "apa-apaan sih ini orang" 😂.
Tokoh-tokoh di cerita ini tidak ada yang akan membuat kita menyukai mereka. Sikap mereka pun seperti geek atau orang yang hidup seenaknya. Mungkin ini penggambaran yang pas kalau orang yang berkecimpung di dunia hacker/buzzer punya hidup yang tidak perlu mereka khawatirkan dengan sangat serius. Tidak ada keluarga yang menjadi tembok untuk mereka melangkah.

Namun, lepas dari semua itu, aku sangat menikmati buku Pasukan Buzzer ini. Buku ini sangat lebih dari cukup untuk memberikan gambaran ngerinya dunia internet dan apa saja bisa dimanipulasi di sana. Bahkan membuatku kembali mengingat beberapa peristiwa beberapa tahun belakangan. Benarkah kejadiannya seperti yang diberitakan? Ataukah ada permainan di balik rusaknya sebuah nama atau perusahaan atau komunitas di dalamnya. Hal ini membuatku tidak lagi memandang suatu kejadian viral di internet dengan pikiran yang sama seperti pertama kali.

Buku ini semakin menyadarkanku bahwa media sosial pun bisa menjadi sangat toxic. Kalau bisa menjauh, ya mending menjauh. Kalau bisa dibatasi, ya mending dibatasi. Bahkan nggak berminat lagi main media sosial selain bookstagram karena tidak mau meracuni diri dengan semua hiruk pikuk di dunia maya.

Wapadalah. Berpikir kritislah. Semua yang kalian baca dan lihat di internet itu belum tentu benar.
Btw, terjemahannya bagus. Covernya bagus. Banyak kutipan yang aku suka. Walaupun aku bersikap netral kepada semua tokohnya, tetapi menjelang ending, ada semacam perasaan tidak rela hal ‘itu’ terjadi. Why?
Profile Image for Rachel Yuska.
Author 9 books246 followers
November 9, 2021
3.5⭐ rounded up

'Hanya orang yang memiliki impianlah yang bisa mewujudkan impian.'
.
Pasukan Buzzer ditulis Chang Kang-myoung yang walaupun cerita dan tokohnya fiktif, namun ada beberapa kejadian yang diangkat dari kisah nyata. Penulisnya pernah berprofesi sebagai jurnalis di media cetak selama 11 tahun dan novel ini terasa sekali unsur jurnalistiknya.

Tim Aleph merupakan kelompok marketing underground online yang berisi tiga orang. Ada Sam Goong yang pintar bicara, Chatatkat yang mahir menulis, dan 01810 yang jago IT. Mereka bertiga dibayar untuk memasarkan produk dengan cara menaruh barang di postingan influencer, menghancurkan reputasi seseorang, bahkan membuat film jadi tidak laku karena bisa membahayakan beberapa pihak. Suatu hari ada tawaran menggiurkan untuk Tim Aleph. Mereka diminta untuk menghancurkan sebuah forum online. Tetapi, mereka tidak sadar bahwa mereka terjebak dalam konspirasi berbahaya.

Novel ini membuka mata saya bahwa internet bisa menjadi tempat yang berbahaya. Semua hal di social media bisa dimanipulasi. Bahkan ada yang membuka jasa bully online berbayar dan saya menemukannya di Instagram 😖.

Hal yang menarik dari novel ini adalah kpop culture yang dibahas juga detail cara buzzer memanipulasi opini publik di forum online.

Saya perlu waktu untuk memproses informasi di novel ini karena banyak sekali hal yang dimasukkan oleh penulisnya. Juga pria-pria Korsel yang misoginis bikin kesel banget.

Alurnya maju mundur dengan menggabungkan wawancara dengan narasi.
Profile Image for Vidi..
34 reviews1 follower
November 1, 2021
3.5/5. Novel cerdas, plot twist di dalam plot twist, membosankan dan penuh adegan 21+.

Di halaman-halaman awal jujur agak susah untuk menghapal tokoh-tokoh di dalam novel ini, karena semuanya menggunakan "julukan". Tapi setelah mengalir cerita jadi bisa lebih masuk ke dalam tokohnya.

Apabila sedang tidak membahas cara kerja Tim Aleph dan konspirasinya, jujur agak membosankan novel ini. Proporsi hura-hura dengan wanitanya menurut gua agak terlalu banyak, padahal yang gua nanti-nantikan adalah konspirasi gilanya. Ini yang agak menghambat membaca, meskipun mungkin penulis menganggapnya sebagai break setelah menyantap hidangan penuh.

Tapi menyentuh 50 halaman akhir, begitu tiba plot twistnya, semuanya bakal terlihat seru. Bahkan ingin kembali ke halaman-halaman awal untuk mengingat apa yang terjadi saat itu. Kekacauan yang ditimbulkan oleh Tim Aleph dan bagaimana cara mereka cuci tangan serta pikiran jahat Lee Cheol Soo benar-benar membuat terpukau. Ini yang membuat gua sebut sebagai novel cerdas.
Profile Image for Wardah.
926 reviews171 followers
November 30, 2021
Aku menutup buku ini dengan campuran perasaan kaget, marah, dan sedih. Aduh pengen mencak-mencak sambil mengumpat tapi spoiler banget!

"Semakin lama kita mengenggelamkan diri ke dalam internet, semakin sering kita melihat apa yang ingin kita lihat, dan semakin dalam kita percaya pada apa yang kita percayai selama ini." (halaman 69-70)
Profile Image for Pradnya Paramitha.
Author 19 books459 followers
August 12, 2021
Whoaaaa plot twist-nya!

Ini sih plot twist yang udah terprediksi, tapi tetap saja plot twist. Eh, gimana sih bilangnya 😂😂

Jujur saja aku agak bosan baca buku ini. Tapi buku ini bikin aku jadi kepikiran setiap tren yang muncul di media sosial, kayak joget-joget di app yang lagi hits atau tren nge-prank, itu jangan-jangan kerjaan pasukan buzzer juga😂
Profile Image for Fahri Rasihan.
478 reviews123 followers
December 29, 2021
• Judul : Pasukan Buzzer
• Penulis : Chang Kang-myoung
• Penerjemah : Iingliana
• Penyunting : Juliana Tan & Raya Fitrah
• Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
• Terbit : 04 Agustus 2021
• Harga : Rp 95.000
• Tebal : 288 halaman
• Ukuran : 13.5 × 20 cm
• Cover : Soft cover
• ISBN : 9786020653785

"𝘔𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘶𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘵𝘦𝘳𝘯𝘦𝘵 𝘴𝘶𝘭𝘪𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘣𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘰𝘴𝘪𝘵𝘪𝘧." (hal. 66)

Bercerita mengenai Tim Aleph yang beranggotakan tiga orang pemuda, yaitu Sam-goong sebagai public relations, Chatatkat sebagai copy writer dan 01810 yang bertugas di bagian IT. Mereka bertiga merupakan sekelompok buzzer yang menerima pekerjaan seperti membantu sebuah produk untuk bisa viral, menghancurkan nama intansi atau seseorang, hingga menjadi hacker. Semua pekerjaan yang ditawarkan bisa mereka lakukan asalkan bayarannya sesuai. Bahkan mereka pun pernah berhasil menjatuhkan sebuah film yang diprediksi akan menjadi box office di Korea yang malah mendapatakan hujatan dan masalah akibat ulah dari Tim Aleph ini.

Kemampuan Tim Aleph yang dapat memanipulasi opini publik melalui dunia maya pada akhirnya menarik sebuah organisasi yang menamakan diri mereka sebagai Grup Happo. Grup Happo yang dipimpin oleh Lee Cheol-soo menawarkan sebuah pekerjaan untuk menghancurkan sebuah situs progresif bernama Kafe Jumda dalam waktu satu bulan dengan imbalan sebesar sembilan puluh juta won. Nominal yang fantastis tersebut membuat Tim Aleph percaya dapat menyelesaikan pekerjaan tersebut. Apalagi, sebelumnya mereka juga telah berhasil mengadu domba anggota di situs progresif lainnya, Forum Eunjong.

Namun, berbeda dengan Forum Eunjong, Kafe Jumda ternyata memiliki anggota yang solid, sehingga cara yang Tim Aleph terapkan untuk menghancurkan Forum Eunjong, tidak akan berhasil diaplikasikan pada Kafe Jumda. Untungnya, kemampuan setiap anggota di Tim Aleph mampu menciptakan cara baru untuk bisa membuat situs progresif bernama Kafe Jumda tersebut hancur dan ditinggalkan oleh para anggotanya. Hanya saja, durasi waktu yang diberikam oleh Lee Cheol-soo tampaknya tidak akan cukup untuk dikejar oleh Tim Aleph.

Di balik tugas yang tampaknya mudah dan menyenangkan itu, ternyata Grup Happo merupakan sebuah kelompok misterius yang menjerat Tim Aleph dalam bahaya. Sam-goong, Chatatkat dan 01810 tidak tahu jika nyawa mereka ikut dipertaruhkan dalam pekerjaan yang mereka lakukan ini. Ketiga pemuda tersebut hanya menikmati prosesnya dibarengi dengan kebiasaan mereka dalam bermain wanita. Namun, dapatkah nyawa mereka selamat dari genggaman Grup Happo? Siapa sebenarnya Grup Happo yang dipimpin oleh Lee Cheol-soo ini?

"𝘔𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘯𝘦𝘩. 𝘔𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵 𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘨𝘢𝘳𝘢-𝘨𝘢𝘳𝘢 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘬𝘰𝘮𝘦𝘯𝘵𝘢𝘳 𝘴𝘪𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵." (hal. 99)

Dunia maya kini seolah sudah menjadi realita baru dalam kehidupan manusia. Di mana di dalamnya kita dibuai dengan segala sesuatunya yang terkesan mudah dan menarik. Tidak mengherankan jika kini dunia maya merupakan cara termudah untuk mendapatkan atensi dari publik dengan cara memanipulasi opini mereka. Kehadiran para buzzer yang kerap muncul saat promosi suatu produk, menjatuhkan nama publik figur, hingga saat pemilihan umum untuk menarik simpati rakyat, bisa menjadi alat untuk memanipulasi opini dalam memutarbalikkan fakta. Hal ini pula yang turut disorot oleh Chang Kang-myoung dalam novelnya yang berjudul Pasukan Buzzer.

Selain memiliki tema cerita yang sangat relatable dengan kondisi saat ini, Pasukan Buzzer juga mempunyai kover buku yang juga tidak kalah menarik dengan ceritanya sendiri. Kover buku hasil karya Martin Dima ini memang tidak perlu diragukan lagi berhasil merepresentasikan isi ceritanya dengan baik. Ilustrasi tangan yang tengah mengangkat pion catur sangat mewakili pekerjaan para buzzer yang kerap menyetir opini publik harus ke arah mana. Ditambah lagi dengan efek virtual di sekitar gambar menambah kesan aesthetic sekaligus menguatkan tema ceritanya sendiri. Kontras antara warna biru, hitam, putih dan merah muda yang dipilih menghasilkan kombinasi yang pastinya tidak akan mudah untuk diabaikan mata.

Sesuai dengan judul bukunya, Pasukan Buzzer menceritakan tentang tiga pemuda, Sam-goong, Chatatkat dan 01810, yang membuka sebuah jasa digital marketing bernama Tim Aleph. Namun, seiring permintaan klien, Tim Aleph mulai menjadi buzzer yang menggiring opini publik untuk keperluan promosi produk, menjatuhkan nama seseorang, hingga mengadu dombakan anggota dalam sebuah forum daring. Hingga, datang satu organisasi misterius bernama Grup Happo yang meminta Tim Aleph untuk menghancurkan sebuah situs progresif bernama Kafe Jumda. Namun, ada risiko dan bahaya yang mengancam nyawa di balik jumlah bayaran fantastis yang ditawarkan.

Bisa dibilang Pasukan Buzzer mampu memotret fenomena yang memang terjadi saat ini, di mana fakta dan hoaks kerap sulit untuk dibedakan. Keberadaan para buzzer ini menjadi dalang dalam menggiring opini publik demi sebuah tujuan pihak tertentu. Meskipun tidak banyak adegan menegangkan di dalam jalan ceritanya, tapi Kang-myoung bisa membawakan alurnya dengan rapi, sehingga mampu mengecoh saya saat membacanya. Unsur politik dan budaya pop yang ada di Korea Selatan tampak sangat kentara menghiasai jalan ceritanya. Butuh waktu dan adaptasi bagi saya untuk bisa menyerap semua itu, karena jujur, politik dan budaya pop Korea masih sangat terasa asing untuk saya.

Terdapat tiga tokoh utama yang menjadi pion penting selama jalan ceritanya berlangsung, yaitu Sam-goong, Chatatkat dan 01810. Tiga tokohnya ini menggunakan nama samaran layaknya para hacker. Tokoh Sam-goong bisa dibilang merupakan leader dari Tim Aleph yang kerap presentasi dan berbicara di depan calon klien untuk menawarkan jasa dari Tim Aleph. Selanjutnya tokoh Chatatkat merupakan anggota yang mempunyai kemampuan dalam bidang copy writing, sehingga kerap menjadi penyusun narasi saat Tim Alpeh beraksi. Terakhir, ada 01810 yang adalah ahli IT dalam Tim Aleph. Ketiga tokohnya ini mempunyai hobi yang sama, yakni "bermain-main" dengan perempuan.

Sebetulnya tidak ada yang spesial ataupun menarik dari ketiga tokoh utamanya ini selain kemampuan mereka masing-masing di Tim Aleph. Karakternya bisa dibilang lemah dan kurang memberikan kesan yang mendalam terhadap pembaca, khususnya bagi saya. Interaksi yang terjalin di antara mereka pun terasa datar dan hambar, sehingga tidak menimbulkan emosi apapun. Namun, ini dapat dimaklumi karena Kang-myoung memang tidak menjual pendalaman karakter yang kuat untuk kekuatan ceritanya. Tapi, justru, cara kerja dari Tim Aleph sendiri lah yang membuat Pasukan Buzzer tampak menarik untuk dibaca.

Pasukan Buzzzer memiliki dua macam cara dalam menyampaikan cerita kepada pembaca. Pertama melalui narasi cerita biasa dan kedua melalui percakapan berbentk wawancara. Pada awalnya ini cukup membingungkan dan menjenuhkan sebab banyak hal yang terlihat tidak padu antara satu sama lain, tapi kesabaran adalah kunci, karena menjelang akhir benang merah yang menyatukan keduanya akan terlihat.

Penggunaan sudut pandang orang ketiga dipilih sebagai narasi untuk mengajak pembaca dalam memahami tujuan dan konflik dari Tim Aleph ini. Cara bercerita dari Kang-myoung sendiri tidak terasa spesial ataupun memiliki ciri khas yang khusus. Namun, semuanya bisa tersampaikan dengan runut, rapi dan padat di saat yang bersamaan. Meskipun begitu, untuk saya pribadi pengetahuan tentang politik dan budaya pop Korea Selatan yang dimasukkan terasa terlalu membeludak, sehingga tidak semuanya bisa diserap dalam otak.

Alur ceritanya ditampilkan secara maju-mundur sesuai dengan cara penyampaian ceritanya, narasi dan wawancara. Mungkin, di awal cara Kang-myoung dalam menyampaikan cerita akan terasa sedikit membuat jenuh, tapi ini sepadan dengan fakta yang akan diungkap menjelang akhir cerita. Hasil terjemahan dari Ingliana pun sangat bagus dan mudah untuk dipahami, karena turut menyertakan catatan kaki untuk istilah atau kebiasaan yang terdapat di Korea Selatan. Beberapa lokasi yang disebut di sini juga cukup terasa hidup dan meyakinkan karena Kang-myoung dapat menghidupkan atmosfer dari setiap tempatnya.

Konflik atau permasalahan yang timbul dalam Pasukan Buzzer terbilang tidak menggebu-gebu dan terasa tenang, tapi menghanyutkan. Keberadaan Grup Happo yang tidak diketahui latar belakangnya menjadi sumbu utama yang akan membawa Tim Aleph dalam sebuah konflik yang taruhannya adalah nyawa. Walaupun tidak ada atmosfer sadis, kejam atau menegangkan, tapi nuansa suspense yang dibawa mampu membuat saya cemas dan ketar-ketir sendiri akan akhir dari jalan ceritanya.

Sepanjang jalan cerita, saya dibuat menebak dan bertanya-tanya, akan dibawa ke mana sebenarnya konflik dari Tim Aleph ini. Apalagi dalam format wawancara antara Chatatkat dengan seorang pria bernama Lim Sang-jin sudah terlihat pola yang dimainkan oleh Kang-myoung, tapi apa mau dikata, saya sendiri termanipulasi oleh kecerdikan penulis dalam merangkai narasi cerita.

Membaca Pasukan Buzzer seperti melihat keadaan saat ini yang bisa dibilang sangat menakutkan, karena hanya melalui cara virtual banyak hal-hal buruk yang bisa dilakukan. Mulai dari membohongi publik, menggiring opini, hingga menghancurkan kehidupan seseorang. Semuanya dapat dilakukan oleh para buzzer ini dengan sangat mudah. Kang-myoung bisa merangkai cerita fiksi berdasarkan fakta yang ada dengan riset yang tidak main-main, karena di akhir cerita disebut beberapa referensi tentang berbagai hal nyata yang diselipkan dalam jalan ceritanya. Dibutuhkan kesabaran dan ketelitian jika ingin menikmati novel ini secara mendalam. Atau, kita bisa menelan semuanya bulat-bulat terlebih dahulu untuk melihat penjelasannya di akhir cerita.

Mungkin, Pasukan Buzzer memang tidak dapat dinikmati oleh semua pembaca. Apalagi yang masih merasa awam dengan budaya dan politik Korea Selatan, karena memang unsur-unsur tersebut hampir memenuhi setiap rongga ceritanya. Terlalu banyak informasi yang ingin disampaikan oleh penulis justru membuat saya kewalahan untuk menyerapnya. Namun, untungnya, menuju akhir cerita ada sebuah tipu daya yang dapat membangun nuansa suspense bagi pembaca. Secara keseluruhan, Pasukan Buzzer adalah potret ntaran dari eksistensi dunia maya yang penuh dengan tipu daya, di mana ada orang-orang berkuasa yang mengendalikannya.

"𝘉𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶𝘭𝘢𝘩 𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢 𝘥𝘶𝘯𝘪𝘢. 𝘖𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘬𝘶𝘢𝘵 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘯𝘵𝘶𝘩, 𝘴𝘦𝘮𝘦𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘭𝘦𝘮𝘢𝘩𝘭𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨." (hal. 139-140)
Profile Image for h.
375 reviews149 followers
Read
November 22, 2021
Wah sepanjang cerita rasanya gak berhenti pengen ngumpat out loud, dan ini mau curhat aja sebenarnya sama keluh kesah baca ini novel.

*
*
*

Dari novel ini aku dapat gambaran kalo Korea segelap itu ya ternyata, walopun di drama sering diangkat perihal politik kotornya perusahaan atau pemerintahan. Tetap aja masih denial kalo itu cuma drama HAHAHHAHA stupid.

Perihal penggambaran dunia internet di novelnya sangat relatable utk sekarang, seperti dengan adanya akun-akun ghosting yg suka memunculkan api di sosmed atau akun-akun bodong yg suka memberikan komentar gak jelas di sosmed cuma buat naikin tagar biar trending. Ternyata pasukan buzzer emang bener-bener bekerja buat yg begituan ya. Dan bodohnya yg mudah kepancing ya nanggepin tanpa memfilter berita/kabar yg diterima😐

Di novel ini juga digambarkan perihal2 artikel yg sering memuat sumber referensi hasil riset dari negara x yg toh juga riset aslinya gak bakal dicari sama pembaca artikelnya. Dan gegara baca bagian ini, aku jadi dapat reminder harus crosscheck double-triple-multiple nih kalo mau baca berita biar gak kegocek.

Juga, endingnya gatau bakal double twist gitu HAHAHHAHAHAHHAHA di sini pengen ngumpat rasanya

Dan part yg paling bikin jijik itu, penggambaran wanita di sini juga seolah-olah cuma sebagai pemuas nafsu laki-laki doang dan bener-bener gak ada harganya. WAH PENGEN NGUMPAT LAGI

DAN SAYA MENOLAK MEMBERI RATING *BYE*
Profile Image for Truly.
2,763 reviews12 followers
November 23, 2021
Begitulah cara kerja dunia. Orang yang terlihat kuat tidak akan disentuh, sementara orang yang terlihat lemahlah yang selalu diserang.

~Pasukan Buzzer, halaman 140~

Ketika kuliah dulu, berulang kali dosen menyebutkan bahwa orang yang bisa menguasai dunia adalah yang menguasai informasi. Seiring waktu, salah satu cara menyebarkan informasi adalah melalui internet. Maka, bisa kita simpulkan, siapa yang pandai dan menguasai internet, maka ia bisa dikatakan menguasai dunia melalui berbagai sisi, misalnya bisnis.

Di Korea, banyak terdapat perusahaan yang membutuhkan jasa pemasaran virtual. Perusahaan tersebut diharapkan mampu mempromosikan sebuah produk melalui internet, termasuk melalui situs yang tertutup untuk umum serta meningkatkan tanggapan akan produk tersebut.
-----
-----
-----
https://trulyrudiono.blogspot.com/202...
Profile Image for Utha.
824 reviews400 followers
December 23, 2021
Tiga koma nol

Sinting sih Tim Aleph ini dalam membuat manipulasi opini publik. Jangan-jangan memang kayak gitu kali ya kerjaan para buzzer di negeri ini? Beberapa hal bikin geleng-geleng, dan memang ada jeda bosannya plus agak tertebak sedikit. Pas di Kafe Jumda juga cukup kacau juga sih. Tapi aku pun mengakui tim ini memang "imajinasi"-nya setinggi langit. Apalah aku yang lebih besar di eksekusi, kan jadi iri.

Cukup menikmati kegilaan Chatatkat, Sam-goong, dan 01810. Udahlah, nggak usah percaya sama gadis kimchi! Eh, gimana, kok nggak nyambung.
Profile Image for raafi.
928 reviews449 followers
December 24, 2021
Selesai baca ini, langsung sakit kepala. Entah ada hubungannya atau tidak; sepertinya ada. Plot twist-nya nggak main-main. Alurnya rapi sekali tapi menjelang akhir malah dibikin menohok karena ekspektasi yang meleset.

Salah satu buku menarik yang kubaca tahun ini, dan mungkin akan terkenang selama beberapa waktu ke depan.

Akan diulas lebih panjang!
Profile Image for Tia Ayu Sulistyana (tiareadsbooks).
266 reviews71 followers
May 21, 2025
3.5/5⭐

❝Memangnya internet ada tujuannya? Di masa sekarang ini, internet hanyalah internet.
Bukankah internet sudah mengubah sejarah?
Memang benar, tapi kurasa sekarang internet sulit mengubah sejarah menjal sesuatu yang positif.❞
—Page 66

❝Dulu aku pernah berpikir bahwa internet seharusnya menjadi tempat tapa nama selamanya. Saat itu sudah kuperkirakan bakal muncul banyak gosip, dugaan, dan informasi salah. Walaupun begitu, kupikir, jika banyak informasi bagus yang tersedia, orang-orang bisa melihatnya dan memperbaiki jalan pikiran mereka sendiri. Kukira bakal terjadi proses pembersihan diri. Namun, sekarang aku tahu pikiranku itu salah. Ada terlalu banyak informasi di internet, jadi orang-orang malah tidak bisa membersihkan diri. Yang terjadi justru sebaliknya. Orang-orang mulai mem-bentuk kelompok-kelompok terpisah.❞
—Page 68

❝Semakin lama kita mengenggelamkan diri ke dalam internet, semakin sering kita melihat apa yang ingin kita lihat, dan semakin dalam kita percaya pada apa yang kita percayai selama ini. Jelas sekali itu bias informasi.❞
—Page 69-70

❝Kita tidak mendapat uang dengan mengunggah postingan, jadi kenapa kita selalu rajin mengunggah postingan dan menulis komentar? Karena kita merasa mendapat pengakuan apabila orang-orang lain meninggalkan komentar positif untuk kita.
Tapi pada dasarnya mereka semua sama saja. Semuanya berebut mendapatkan pengakuan. Semua orang meyembunyikan belati dalam hati, dan ketika kesempatan muncul, mereka akan menyerang.❞
—Page 94

❝Pertengkaran di internet menyangkut stamina dan kekuatan mental. Kami punya stamina besar, karena ini memang pekerjaan kami. Mental kami juga sangat kuat. Karena sebenarnya kami tidak punya mental apa-apa. Berperang komentar dengan kami sama seperti bermain gunting-batu-kertas dengan robot, di mana yang menang boleh menampar yang kalah. Kami mungkin bisa kalah bermain gunting-batu-kertas, tapi kami sudah pasti tidak kalah dalam gambaran besarnya.❞
—Page 101

❝Begitulah cara kerja dunia. Orang yang terlihat kuat tidak akan disentuh, sementara orang yang terlihat lemahlah yang selalu diserang.❞
—Page 139-140

❝Hanya orang yang memiliki impianlah yang bisa mewujudkan impian.❞
—Page 207

❝Jadi, slogan "Aku hebat" seharusnya terdengar menarik bagi mereka. Apa yang membuatku hebat? Bagaimana aku bisa membuktikan diriku hebat? Apa yang bisa dilakukan anak-anak remaja yang bisa membuat mereka merasa hebat? Itulah alasan kami memilih slogan "Aku tidak menyalahkan siapa pun". Walaupun menghadapi kesulitan dan rintangan, aku tidak menyalahkan siapa-siapa, karena aku hebat. Atau sebaliknya, aku tidak menyalahkan siapa-siapa, karena itulah aku hebat. Terlebih lagi, mereka yang menyalahkan orang lain adalah orang-orang lemah.❞
—Page 216

•••

Buku ini bercerita tentang Tim Aleph, kelompok pemasaran online yang terdiri dari: Sam-goong yang ahli menyusun strategi, Chatatkat yang pintar merangkai kalimat, dan 01810 yang jago IT. Ketiganya begitu mahir memanipulasi opini publik. Suatu hari, mereka mendapatkan tawaran untuk mengahancurkan situs bernama Kafe Jumda dengan iming-iming 90 juta won. Tergiur, mereka pun tak sadar telah terjebak dalam permainan politik berbahaya.

Jujur, aku bingung mau nulis apa untuk review buku ini. Reaksi pertama setelah kelar buku ini, aku cuma bengong dan ngedumel, "Aku abis baca buku apaan sih?"

Buku ini mengingatkanku kembali tentang bahaya dan sisi gelap dari internet. Banyak orang tak bertanggungjawab di balik akun-akun anonim. Bagaimana isu-isu yang sering membuat geger jagat dunia maya, mungkin hanyalah kerjaan dari pasukan buzzer seperti Tim Aleph belaka. Gila sih, Tim Aleph cuma bertiga tapi mereka bisa menyusun strategi propaganda dan memanipulasi opini publik se-massive itu. Dari memasarkan produk, merusak reputasi seseorang, membuat film tidak laku, menghancurkan sebuah situs online, hingga membuat tren-tren viral dengan pesan tertentu.

Buku ini memiliki 2 tipe penulisan, yaitu narasi dengan POV orang ketiga dan format wawancara. Gaya penulisannya sangat lugas dan intens, well, gak heran sih karena penulisnya pernah berkecimpung dalam dunia jurnalis media cetak. Unsur jurnalistik di buku ini cukup kental dan informasi dijelaskan dengan begitu detail. Somehow, bikin information overload sih~

Meski aku salut dengan keahlian Tim Aleph, aku gak suka karakter mereka. Well, tepatnya karakter para laki-laki di buku ini yang misoginis dan ngeselin banget! Rating buku ini pun 21+ ya, karena memiliki banyak adegan vulgar yang cocok untuk usia dewasa. Menurutku, adegan vulgarnya terlalu banyak dan gak gitu penting. Tapi di sisi lain, ini menggambarkan realita dan budaya di Korea Selatan sih. Oh iya, twist di ending pun gak yang membagongkan.

All in all, aku cukup menikmati buku ini! Terjemahannya enak dibaca, cover-nya bagus dan menggambarkan isi bukunya. Tapi aku rasa, gak semua orang akan suka dengan buku ini, karena tema yang cukup berat dan bahasan tentang seluk-beluk internet yang kompleks. Oh iya, mau ngingetin aja untuk selalu bijak dan kritis dalam menggunakan internet ya! Jangan sampe meninggalkan jejak digital yang negative!🙌🏻

•••

#tiareadsbooks #tiawritesreviews
Profile Image for Juwita.
333 reviews5 followers
May 23, 2022
Perbedaan budaya dan sistem politik di negara Korea membuat ku sedikit kesulitan dalam memahami novel ini. But, idenya super berani, gila dan unik.
Profile Image for Alif Syahrul Wahyudi.
126 reviews22 followers
November 18, 2021
3★

Disajikan dengan bentuk narasi dan transkrip wawancara dengan timeline yang berbeda. Khusus wawancara merupakan, rekaman percakapan antara seorang wartawan dengan Chatatkat.

Di bagian awal kurang jelas bagaimana ceritanya dibangun oleh penulis, slow burn terutama bagian wawancaranya, kalau bagian narasi deskriptifnya lumayan mengalir, hanya saja ada satu yang buat saya terganggu, yaitu: deskripsi adegan vulgar yang sensitif. Salahku juga tidak antisipasi karena di bagian labelnya udah jelas 21+. Hanya saja kurasa adegan seksnya terlalu berlebihan dan gak penting-penting amat untuk kelengkapan cerita maupun perkembangan karakter.

"Semakin lama kita mengenggelamkan diri ke dalam internet, semakin sering kita melihat apa yang ingin kita lihat, dan semakin dalam kita percaya pada apa yang kita percayai selama ini.

Hampir tiap bagiannya selalu diisi dengan minum-minum, seks, kegiatan buzzer, repeat. akhirnya terasa repetitif belum lagi diselingi ceramah politik atau filosofis. Tapi di samping itu, kita dikasih insight menarik bagaimana buzzer dan komunitas internet bekerja dan dinamikanya dalam sebuah forum. Hanya saja, suasana kacau yang dituliskan kurang dapat kurasakan, kurang berefek aja.

Endingnya cukup memuaskan, red herrings yang dipasang penulis bisa cukup menyesatkan dan ditutup dengan twist yang menarik, agak mengobati kekurangan dari novel ini.
Profile Image for veyninda.
151 reviews9 followers
October 28, 2021
Setelah 2 kali ketimpa buku pas baca (soalnya bacanya sambil rebahan 🤣) akhirnya kelar juga...
Sebelumnya belum pernah baca Thriller berbau politik, tapi serius aku suka. Cuma aku marasa buku ini intes banget dan relate banget sama dunia nyata 🙈
Profile Image for Tiny Shen 沈帝妮.
1,251 reviews34 followers
January 29, 2022
Awalnya gagal paham akhirnya paham. Yeppp, beginilah nasib jd buzzer. Ditinggikan di saat dibutuhkan, dijadikan budak tapi setelah tidak dibutuhkan lagi dijadikan kambing hitam deh.

This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Shanifiction.
221 reviews70 followers
November 21, 2024
Baca ini jadi dapat gambaran cara kerja buzzer tuh kaya gimana.
Profile Image for F3t.
167 reviews12 followers
November 24, 2021
Sebagai penikmat media massa daring maupun cetak, sepertinya kita pernah mendengar atau membaca berita yang mengejutkan. Tidak perlu jauh-jauh, terkadang kita sebagai makhluk sosial tentunya sering mendengar percakapan mengenai orang lain. Namun, apakah semua berita atau gosip yang kita dengar itu benar adanya?

Buku Pasukan Buzzer mempunyai inti yang sama, mempertanyakan kebenaran suatu informasi yang pada akhirnya membuat saya sebagai pembaca bertanya-tanya bagaimana bisa kita untuk tidak mempercayai berita yang ternyata dibuat sedemikian "nyata".

Sam-goong ahli menyusun strategi dan memasarkan idenya; Chatatkat ahli dalam menyusun kata-kata; serta 01810 yang ahli dalam komputer. Mereka bertiga membentuk Tim Aleph, yang awalnya bekerja untuk mempromosikan perusahaan yang menyewa jasa mereka untuk mendapatkan peringkat yang tinggi (dengan cara memanipulasi data) dalam pencarian secara daring.

Selain memalsukan kuantitas, mereka juga mulai berani mengarah ke kualitas. Pada satu perusahaan perjalanan, Chatatkat yang sudah seperti penulis, menjelaskan dengan detail bagaimana ia dan istri (khayalannya) melakukan perjalanan dengan menggunakan jasa tur tersebut. Mengumpulkan beberapa foto yang indah dan mencantumkannya ke dalam blog perjalanan sehingga terkesan bahwa liburannya sangat berkualitas, bahkan mungkin tidak ada yang percaya bahwa Chatatkat sendiri tidak pernah ke luar negeri.
Tim Aleph juga mempelajari pemasaran viral secara tersembunyi dengan menggabungkan foto seksi dan barang yang akan mereka viralkan.

Sampai akhirnya mereka menerima "konsultasi" mengenai serangan cyber. Yang menyewa mereka adalah agensi guru yang ingin menjatuhkan agensi saingannya. Mereka menarik informasi mengenai salah satu guru dari tempat saingan tersebut, mengubah bentuk fisik tubuh guru tersebut dengan photoshop dan mengkritiknya secara terbuka di forum akademi. Akibat serangan tersebut sang guru yang sedang naik daun pun mengundurkan diri, yang dianggap suatu keberhasilan bagi Tim Aleph.

Kisah mulai berkembang ke arah tak terduga ketika mereka menerima tawaran untuk menghancurkan situs komunitas yang disebut dengan Kafe Jumda, yang berisi ibu-ibu rumah tangga yang ikatannya terlihat sangat erat dalam situs tersebut. Tim Aleph mulai mencari cara untuk meretakkan hubungan antar anggota. Dengan waktu yang terbatas, mereka masuk menjadi anggota dengan membuat "identitas palsu", dan melancarkan serangan secara bertahap.

Pencapaian mereka cukup mengesankan hingga mereka direkrut untuk upaya "perbaikan negara" dengan "serangan" yang lebih besar.
.
.
.
Bagian buku yang membuat saya terkesan adalah tentang "identitas palsu" yang mereka ciptakan. Sangat rumit dan penuh strategi, sehingga tidak ada yang menyangka bahwa semua itu adalah karangan saja.
Selain mata pencarian mereka yang "kotor", saya tidak suka dengan cara Tim Aleph yang (sebenarnya) tidak meninggalkan komentar atau kritik yang bisa dikatakan jahat. Mereka hanya memercikkan sedikit tulisan yang bisa memicu api oleh pembaca yang lain; menulis satu kalimat untuk memulai perdebatan panjang yang pada akhirnya menjadi kebencian.
Namun di situlah luar biasanya, ketika membaca buku ini, seperti itulah mudahnya memecahbelahkan komunitas yang sudah kokoh sekalipun dengan sedikit tembakan kalimat. Betapa mudahnya manusia terpancing secara emosi hanya melalui tulisan yang bahkan belum bisa dibuktikan kebenarannya?
.
.
Dengan usaha terakhir dalam "perbaikan Korea", Chatatkat bertemu dengan Lim Sang-Jin dan menceritakan bagaimana Tim Aleph menjatuhkan Kafe Jumda. Ketika bukti-bukti yang dikumpulkan sudah dianggap cukup, Lim Sang-Jin yang bekerja di koran cetak, berani mengambil langkah berikutnya, yaitu membeberkan kenyataan yang dia tahu.

Namun, pada akhirnya, apakah cukup hanya dengan bukti yang dia tahu?
.
.
.
Sebenarnya buku ini meninggalkan kesan yang kuat. Seperti yang saya sebutkan di awal, buku ini memberi banyak keraguan bagi saya untuk mempercayai berita apapun. Ya, efeknya emang sangat besar, karena apa yang tidak kita lihat atau dengar secara langsung dari sumbernya, belum pasti benar. Dan bahkan bila kita mendengar dari sumbernya langsung sekalipun, pasti ada kenyataan yang meleset.
Pernah dengar tentang orang yang suka membual? Bahkan cerita yang benar sekalipun dari mulutnya tidak akan dianggap benar oleh orang yang sudah dibohongi berkali-kali. Atau orang yang suka menambah-nambah racikan cerita? Ketika dengan si A, dia bercerita MNOP, sedangkan ketika dengan si B, dia bercerita LMNOPQ agar terlihat lebih heboh.
Saya pernah melihat di media sosial, ketika seorang selebriti X mengusir orang tua yang mengikutinya ketika ia berbuat amal, namun menurut selebriti lain, hal itu hanya untuk membuat kegiatan X agar lebih "viral", kalau sudah begitu, siapa yang bisa dipercaya?
Saya sih bukan penggemar X ataupun yang lain, jadi saya hanya datar-datar saja mendengar hal tersebut, tapi bagaimana dengan tanggapan orang lain?

Siaran radio Z pernah mengatakan, "Ada survei yang menyatakan bahwa netijen Indonesia adalah netijen yang paling tidak ramah di Asia Tenggara." Bukan berita yang membanggakan, namun saya sendiri pernah melihat bagaimana komentar-komentar negatif yang pernah dituliskan ke laman media sosial salah satu selebriti Korea Selatan, karena tokoh yang dilakoninya adalah wanita yang merebut suami orang. Hanya peran dalam drama, namun dihujat oleh netijen Indonesia. Betapa malangnya. Siapa yang memulai? Tidak ada yang tahu. Yang pasti, pada akhirnya mereka yang ikut-ikutan berkomentar menghujat mungkin bukan yang pertama kali memulai, dan yang mendapat cap jelek adalah mereka yang berkomentar negatif. Walaupun ada pula yang berkomentar positif dan "membela" sang aktris, namun tetap kalah dengan kobaran ketikan kebencian.
.
.
Dalam buku ini banyak terdapat catatan kaki, sehingga saat membacanya, saya sedikit tertahan antara membaca cerita dan juga penjelasan secara naik turun. Tapi catatan kaki tersebut cukup banyak membuka wawasan terutama mengenai politik Korea Selatan. Beberapa adegan dewasa juga cukup banyak bertaburan di sejumlah halaman, namun diterjemahkan dengan sopan dan sangat baik.
Sayangnya karakter ketiga tokoh tidak dijelaskan dengan mendalam, entah bagaimana dan di mana mereka berkenalan sampai akhirnya bisa membentuk Tim Aleph. Saya hanya membaca kinerja mereka dan hubungan kerja mereka dalam buku ini, tanpa adanya latar belakang pribadi.
.
Secara keseluruhan, buku ini pantas dibaca bagi mereka yang sudah dewasa dalam usia maupun mental, juga bagi pembaca novel fiktif yang menyukai unsur politik yang penuh intrik dan juga menarik.
#SaksiPasukanBuzzer
This entire review has been hidden because of spoilers.
1 review
November 29, 2021
Perjalanan sebuah buku untuk sampai ke tangan setiap pembacanya pasti punya cerita masing-masing. Buku “Pasukan Buzzer” karya Chang Kang-Myoung, yang diterjemahkan dan diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, juga punya cerita tersendiri sampai kepada saya. Berawal dari sebuah email yang dikirimkan oleh Gramedia, berisi tantangan menjadi pengulas buku, saya membeli buku ini. Beberapa orang membaca baru menulis ulasan, sementara saya mengalami hal sebaliknya.
Selama beberapa waktu menunggu, saya merenungkan informasi apa yang sudah saya miliki sehubungan dengan isu pasukan buzzer, yang dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan dengan pendengung. Bisa dibilang kata ini asing dan tak asing bagi saya. Saya mungkin asing dalam pengalaman karena rasanya tidak pernah secara langsung berinteraksi dengan pendengung. Namun secara pengetahuan rasanya tidak kosong-kosong amat. Dua buku yang ditulis oleh Agus Sudibyo yang berjudul Jagat Digital dan Tarung Digital, membuat kesadaran saya akan fenomena ini pun muncul.
Sudibyo dalam Jagat Digital menyinggung bagaimana negara adidaya seperti Amerika ternyata juga pernah berurusan dengan para pendengung, tepatnya pada pemilihan presiden 2016 lalu. Intervensi pasukan buzzer diyakini memberikan pengaruh terhadap kemenangan Donald Trump dari partai Republik dan terlegitimasinya Hillary Clinton yang diusung partai Demokrat. Dalam buku kedua yang berjudul Tarung Digital, Sudibyo secara lebih mendalam menjabarkan bagaimana propaganda komputasional telah menjadi fenomena global. Ia mengatakan bahwa propaganda yang membenarkan muslihat, manipulasi, dan penyebaran kebencian itu telah terjadi di berbagai negara, seperti Amerika, Uni Eropa, Kanada, Perancis, Spanyol, Ukraina, India, dan banyak negara lainnya tidak terkecuali Indonesia. Dua buku ini semakin memotivasi saya membaca karya Chang Kang-Myoung.
Di awal saya kira buku ini tidak berbeda dengan buku karya Sudibyo, dalam arti genre buku ini mungkin non-fiksi. Tanpa diduga, buku ini ternyata adalah karya fiksi. Sempat muncul keraguan apakah sebuah karya fiksi mampu memberikan sumbangsih bagi isu ini. Bagaimanapun saya telah berekspektasi akan dikenyangkan dengan teori-teori baru atau analisa-analisa yang lebih menyegarkan karena buku itu ditulis dalam konteks negara-bangsa Korea. Meski tidak sesuai dengan ekspektasi saya, buku bertebal hampir 290 halaman yang terbagi dalam sembilan bab ini, ternyata memiliki taji tersendiri untuk memuaskan saya sebagai pembaca. Membaca Pasukan Buzzer seperti menyusuri lahan penuh ranjau. Penulis cerdik menanam ranjau kejutan dengan jenis dan level ledakan yang berbeda. Jika satu ranjau lolos meledak masih ada ranjau lain yang siap mengejutkan pembaca.
Salah satu hal yang memukau saya adalah bagaimana Chang Kang-Myoung memanfaatkan bentuk verbatim dalam karyanya. Percakapan Chatatkat, satu dari tiga anggota tim Aleph, pasukan buzzer dalam novel ini, saat membongkar strategi dan trik-trik timnya kepada seorang wartawan dituliskan Chang Kang-Myoung dalam bentuk potongan-potongan verbatim. Tentu verbatim bukanlah suatu yang asing bagi Chang Kang-Myoung, yang berlatar belakang sebagai reporter selama sebelas tahun. Namun bagaimana ia secara taktis menggunakan bentuk tersebut, piawai menyerbarkannya di sepanjang novel, lihai melengkapinya dengan narasi dibeberapa bagian, ternyata mampu memberikan sensasi seakan-akan saya sebagai pembaca ada di sana ketika Chatatkat membuka setiap trik-triknya.
Berimajinasi lebih jauh, seandainya saya adalah salah satu warga internet yang dimaksud dalam percakapan tersebut membuat beberapa respon muncul dalam diri saya. Pertama, saya tertarik dengan percakapan tersebut, karena setiap informasi membuat saya menjadi lebih waspada, berharap saya tidak akan masuk pada perangkap yang sama. Respon lain, saya merasa marah dan bodoh, karena ternyata saya tidak berbeda dengan kebanyakan orang yang sudah masuk dalam perangkap yang sengaja dipasang. Namun bisa jadi saya berbesar hati dan berempati kepada diri sendiri bahwa sesungguhnya itu tak sepenuhnya kesalahan saya, toh saya seakan sudah diarahkan, perilaku saya telah diprediksi dan dianalisa sedemikian rupa. Terakhir, saya merasa putus asa dan tak berdaya, menyadari bahwa ada tangan-tangan tidak terlihat di sekitar saya yang telah mengatur hidup saya. Dan saya bertanya apakah sesungguhnya saya masih memiliki kehendak bebas akan diri saya sendiri, apakah perilaku saya sepenuhnya berada dalam kendali saya, bisa jadi saya hanya pion-pion kecil dalam skema yang lebih besar yang diatur oleh orang-orang yang lebih berkuasa.
Selain terkejut oleh kepiawaian penulis memanfaatkan verbatim, kejutan lain adalah kejelian penulis mengamati perilaku-perilaku yang umum dilakukan oleh para pengguna internet, meramunya dengan isu-isu faktual yang viral di masyarakat dan mengubah semua itu dalam sebuah karya fiksi yang menarik. Dalam salah satu bagian diceritakan bagaimana tim Aleph berhasil menghancurkan satu situs komunitas internet, yang merupakan forum diskusi yang mewadahi pemikiran kritis anggota forum terhadap isu sosial, hanya dengan memanfaatkan kebiasaan orang berkomentar terhadap satu unggahan. Atau gagalnya sebuah film mendapat apresiasi dan atensi dari masyarakat hanya karena sebuah cerita bohong yang tidak diverifikasi. Penulis seakan menempatkan tim Aleph sebagai devil’s advocate yang menggugat perilaku-perilaku orang-orang di internet termasuk saya sebagai pembaca.
Satu poin lain yang harus diapresiasi dari karya Chang Kang-Myoung adalah plot yang tidak terduga dan ketegangan yang terus dibangung di sepanjang novel. Penulis seakan menyuguhkan pecahan-pecahan puzzle yang terserak acak di awal novel. Meski dibuat bingung, penulis mampu membuat pembaca bertahan, terus menelusuri bagian-bagian yang tidak langsung terjawab hinga lembar demi lembar bukupun terlewati.
Meski saya begitu berharap buku ini bisa dibaca dan diapresiasi banyak orang, sayangnya ini bukan bacaan yang tepat bagi remaja menurut saya. Topik pendengung memang relevan bagi remaja yang dalam novel digambarkan sebagai kelompok usia yang mudah diperdaya, namun gambaran-gambaran petualangan malam antara tiga tokoh cerita dengan para wanita penghibur justru memberikan efek yang negative menurut saya, entah itu dalam hal aktivitas seksual atau tentang sikap dan penghargaan terhadap perempuan.
Sebagaimana buku ini sampai kepada saya karena keputusan saya membuat ulasan. Semoga ulasan buku ini membawa orang lain kepada buku ini.
Profile Image for Fitra Aulianty.
154 reviews4 followers
December 1, 2021
https://intermemories.blogspot.com/20...


Sebenarnya kurang paham bagian akhir novel :") tapi ini kenapa ya adegan vulgarnya banyak banget? Kayak setengah isi novel adegan 21+, sedangkan plot intinya kayak ya blur gitu aja. Banyak minusnya sebenernya heu. Tapi terjemahannya yang bikin novelnya jadi oke
Profile Image for Ikang Maulana Mas'ud.
43 reviews5 followers
November 22, 2021
Pertama kali melihat novel ini diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, saya langsung takjub dan tidak begitu lama langsung membeli serta membacanya. Judulnya sendiri saat dialihbahasakan menjadi Pasukan Buzzer. Judul ini menyiratkan sesuatu yang membuat saya kembali berpikir pada pemilu 2014, pemilu 2019, dan awal pandemi Covid-19 di Indonesia tahun 2020 lalu.

Jujur saja, berkat membaca novel ini, saya sedikit terbantu untuk memahami buku tentang aktivitas politik di internet, khususnya ketika saya membaca buku-buku Agus Sudibyo. Sehingga, ulasan buku ini nantinya akan dibahas berdasarkan kerangka kegiatan buzzer itu sendiri dengan mengambil referensi dari buku-buku beliau.

Sebelum sedikit membahas ulasan sedikit cerita di novel ini, saya mendapatkan sedikitnya dua kesan setelah membacanya. Pertama, jelas sekali menyenangkan membaca novel yang bergenre ekonomi-politik. Secara, genre ini masih belum saya temukan lagi yang sekiranya pas terutama novel-novel keluaran penulis Asia.

Kesan menyenangkan lain yang saya dapatkan adalah kita sebagai pembaca tidak akan dibuat cepat jenuh karena novel yang terdiri dari sembilan bab atau cerita –katakanlah- ini biasanya di satu bab disajikan dua segmen cerita, pertama cerita yang berisi alur yang ada di kebanyakan novel dan kedua sajian bentuk dialog yang tidak penulis banyak temukan di beberapa novel. Nantinya, dialog yang sudah dimulai dari bab satu ini justru memunculkan akhir yang tidak terduga.

Kedua, saya mendapatkan kesan yang buruk juga setelah membaca novel ini. Bukan berarti cerita yang disajikan buruk, ceritanya sudah sangat bagus bahkan tidak kalah dengan novel-novel politik lain yang ditulis oleh penulis Barat. Namun, ceritanya ini menurut saya jelas tidak ditujukan bagi semua orang dan semua umur. Pada bab-bab awal saja pembaca pasti sudah mendapatkan alur cerita yang sangat dewasa yang membuat saya sedikit tidak nyaman membacanya.

Diluar kesan-kesan yang sudah saya utarakan, cerita di novel ini masih pantas untuk diikuti dan saya harapkan novel ini akan ada sekuelnya. Semoga saja. Kemudian, saya akan memberikan sedikit ulasan berdasarkan cerita yang menurut saya paling berkesan dan mengerti terutama setelah membaca buku tema sejenis yang biasanya bergenre non-fiksi.

Saya mengusahakan untuk tidak memberikan bocoran yang jelas dalam memberikan ulasan. Hal ini dilakukan agar tidak merusak pengalaman bagi yang belum membaca novelnya. Sesuai dengan sinopsis yang tertera di belakang, novel ini memiliki tiga tokoh utama sekaligus, yakni Sam-goong, Chatatkat, dan 01810. Ketiganya mendirikan perusahaan pemasaran dalam jaringan (daring) yang khusus memberikan jasa dalam mempromosikan produk atau perusahaan. Perusahaan yang mereka dirikan sendiri dinamai Tim Aleph.

Meskipun pekerjaan mereka terlihat normal, sebenarnya sudah sejak awal kegiatan ekonomi yang mereka jalankan adalah kegiatan propaganda yang Agus Sudibyo sebut sebagai propaganda komputasional . Lebih dari itu, ternyata mereka juga dipekerjakan oleh perusahaan tertentu yang tidak pernah disebutkan namanya sepanjang cerita novel ini melalui seorang broker.
Cerita yang menurut saya yang paling menarik adalah disaat mereka mengobrak-abrik komunitas media sosial yang diperintahkan oleh broker dari perusahaan yang disinggung sebelumnya. Tujuan komunitas-komunitas terebut diobrak-abrik tidak lain adalah dianggap membawa aspirasi politik yang menganggu perusahaan tersebut sehingga dengan berbekal banyak akun palsu, mereka berhasil melakukannya.

Agar tidak banyak bocoran yang keluar dari ulasan ini, saya justru lebih senang melakukan analisis terhadap apa yang telah mereka lakukan sebagai buzzer. Sudah disebutkan diawal, novel ini menceritakan pekerjaan yang dilakukan Tim Aleph sebagai buzzer yang disebut propaganda komputasional.

Propaganda komputasional dapat diartikan sebagai aktivitas propaganda yang dilakukan oleh troll dan bot menggunakan platform media sosial, algoritma, big data, serta penyebaran pesan yang dilakukan secara otomatis untuk memengaruhi, membentuk, dan memanipulasi opini publik yang biasanya dilakukan lintas negara. Bahkan, propaganda komputasional yang dihasilkan tidak jarang menghasilkan key opinion leader. (2021: 323)

Tim Aleph juga berperan sebagai troll dan bot dalam waktu yang bersamaan. Meskipun tidak diperlihatkan secara rinci dimana perannya sebagai troll. Sudibyo juga menjelaskan, buzzer yang kita kenal selama ini bukanlah suatu istilah tunggal, namun ada jenis sesuai perannya. Dalam konteks novel ini, saya hanya menunjukkan troll dan bot saja.

Troll merupakan sekelompok orang yang bekerja dengan memancing respons emosi dari pengguna media sosial yang lain terhadap suatu isu tertentu. Setidaknya troll bekerja dengan tiga cara, yakni: pertama, mengunggah pesan yang bernada menghasut kepada pengguna media sosial lain agar pengguna tersebut terpamcing emosinya.

Kedua, troll beroperasi di media arus utama dengan melakukan provokasi untuk kepada saluran-saluran media agar berita yang mereka buat dapat dipublikasikan. Ketiga, troll berusaha memengaruhi pasokan berita dengan membagikan secara Cuma-cuma berita yang mereka buat kepada media-media lokal yang kurang memiliki kapabilitas untuk memverifikasi berita tersebut. Nantinya setelah berita dipublikasikan mereka berharap nantinya berita tersebut dipublikasikan juga baik ke media menengah maupun nasional.

Bentuk lain dari aktor yang melakukan propaganda komputasional adalah bot. Bot merupakan serangkaian kode pemrograman atau kode-kode algoritma yang diatur oleh seorang pemrogram yang memiliki tujuan tertentu secara agresif, seperti menggelontorkan spam. Bot juga dikenal dalam perspektif politik dengan mengambil bentuk seperti munculnya akun palsu di beragam media sosial yang bertujuan untuk menyebarkan hoaks.

Terlepas dari kekurangannya yang sudah disinggung sebelumnya, novel ini merupakan bacaan alternatif bagi yang menyenangi intrik politik yang dikemas dalam sebuah buku fiksi, khususnya bagi penggemar literatur Asia. Tidak lupa juga, saya tekankan kepada calon pembaca sebenarnya akhir dari novel ini saya anggap menggantung. Maka, semoga saja ada edisi lanjutan novel ini.

Sumber Referensi
Agus Sudibyo. (2021). Tarung Digital: Propaganda Komputasional di Berbagai Negara. Kepustakaan Populer Gramedia.

#SaksiPasukanBuzzer
Profile Image for cindy.
1,981 reviews156 followers
August 22, 2021
Saat membaca novel ini satu hal yang terpikir olehku adalah, semogaaa para buzzer endonesah gak sampai baca ini juga, gak sampai meniru-niru trik dan strategi yang dibuat tim aleph di sini. Mereka ini, terutama Sam-Goong, cerdik dan kreatif, mencari celah unuk menghancurkan forum, kelompok, pribadi orang bahkan bisa merubah pola pikir masyarakat secara luas.

Twist di akhir cerita sudah sedikit terduga di paruh kedua, kalau dibaca dengan seksama, triknya hampir sama dengan saat tim aleph "menangani" kafe joomda. Twist di bagian ending, paling akhirnya, cukup mengejutkan juga. Ya kalau mau main bersih ya memang harus gitu sih, karena Chatatkat sudah terekspose pada jurnalis Lee. Beruntunglah 01810 yang masih di balik layar.

Kisah yang sangat membuka pikiran di era dunia maya ini. Jangan pernah langsung percaya hal-hal yang kamu baca di internet. Jejak digital itu mematikan. Lindungi privacy dan data pribadimu. Bijak-bijaklah berkomentar di platform/forum apapun! Hiiyyy... ngerii pokoknya...
2 reviews
February 10, 2024
Plot twistnya mungkin cukup memuaskan, tapi tidak terlalu tersorot olehku karena terlanjur terganggu dengan bagaimana penulis menggambarkan wanita dalam cerita, rasanya wanita hanya dianggap sebagai objek semata. Masih sedikit terganggu bahkan setelah 2 hari berlalu sejak selesai membaca. Jika bisa mengulang waktu, aku ga akan mau baca buku ini. Memang ada beberapa informasi mengenai internet yang mungkin cukup berguna, namun bagiku tidak sebanding dengan rasa sedih dan terganggu yang didapat saat membaca adegan selingan dewasa yang ditulis dengan detail—entah apa tujuannya. Endingnya juga tidak terlalu memuaskan karena bagiku tidak mengejutkan, padahal aku sudah menguatkan diri membaca sampai akhir karena penasaran akhir seperti apa yang disiapkan penulis, namun ternyata sangat mengecewakan.
This entire review has been hidden because of spoilers.
2 reviews
November 30, 2021
21++ (mengandung konten dewasa)
3 dari 5 bintang
Ulasan ini aman dari spoiler

“Ketika internet pertama kali diperkenalkan, orang-orang dari kalangan usiaku berpikir bahwa internet bisa menjadi alat yang hebat, dan bahwa internet akan membangkitkan semacam revolusi. Kupikir internet akan membuka jalan bagi orang-orang untuk bebas bertukar pikiran dan membahas alternatif-alternatif tanpa memedulikan posisi seseorang. Aku bahkan yakin internet bisa memberi penekanan pada kesenjangan dalam masyarakat, menjatuhkan kekuasaan, dan membawa kita ke arah demokrasi.”

Kutipan diatas merupakan salah satu bagian dari percakapan yang diambil dari novel PASUKAN BUZZER. Sedikit banyak kutipan diatas menggambarkan definisi dari Tim ALEPH yang menjadi tokoh utama dalam novel Pasukan Buzzer karya Chang Kang-Myoung yang dirilis pada tahun 2015. Tim ALEPH adalah sebuah tim buzzer yang memanfaatkan kekuatan netizen dunia maya. Tim ALEPH terdiri dari trio Sam-Goong, Chatatkat, dan 01810. Di tangan tim ALEPH, internet/media sosial menjadi sebuah alat ofensif yang ampuh untuk menyudutkan bahkan menjatuhkan pihak tertentu.

Tim ALEPH kemudian dipekerjakan oleh sekelompok ekstrimis yang tidak digambarkan dengan gamblang siapa anggota kelompok dan apa tujuan sebenarnya dari kelompok ini. Kelompok ekstrimis ini menugaskan tim ALEPH untuk menjatuhkan sebuah website. Dari situlah plot cerita mulai berlanjut menceritakan tindak tanduk tim ALEPH dalam menyelesaikan tugas mereka.

Judul novel ini cukup menarik perhatian karena kata buzzer menjadi sebuah kata yang sering terdengar saat ini. Cover novel ini Novelnya sendiri bisa dibilang relevan dengan kondisi masyarakat pada saat ini, dimana opini publik/status sosial menjadi satu hal yang penting, menjadi sesuatu yang diperjuangkan. Dibalik sebuah situs, bahkan konten media sosial terdapat orang-orang yang mengendalikan bahkan memanipulasi opini publik demi kepentingan pihak-pihak tertentu.

Novel ditulis dengan menggunakan 2 alur - 1 alur maju (diawali dengan keberhasilan tim Aleph yang berlanjut dengan pekerjaan mereka selanjutnya), dan 1 alur mundur (dituliskan dalam bentuk wawancara dengan salah satu anggota tim ALEPH). Kedua alur ini berhubungan dan saling melengkapi perjalanan tim ALEPH dilihat dari 2 sudut pandang yang berbeda.

Ya novel ini memiliki twist; namun agak disayangkan karena novel ini berakhir terlalu cepat disaat alur cerita justru terasa sedang berada di puncaknya. Hubungan antara ketiga tim ALEPH dieksplor dengan cukup mendetail, terutama untuk hal-hal yang berhubungan dengan strategi mereka dalam bekerja. Kaum ekstrimis yang mempekerjakan tim ALEPH juga kurang terjabarkan dengan baik; hanya kesan bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki kuasa. Banyak pendalaman karakter dan plot yang sebenarnya bisa lebih digali lebih dalam namun mungkin hal tersebut bukanlah fokus penulis. Gambaran bagaimana sebuah opini di media sosial bisa dikendalikan oleh sekelompok orang tergambarkan cukup jelas disini. Dan di akhir novel ini tergambar jelas bahwa meskipun tim ALEPH merupakan tim yang memegang “kendali senjata”, mereka tetaplah hanya sebuah pion dalam permainan catur.
Profile Image for Riski Oktavian.
462 reviews
December 21, 2021
"Sama seperti internet. Orang-orang tidak akan mau berpindah-pindah situs demi mengubah apa yang sudah mereka ketahui." ㅡ(Bab Tiga)

Aku sudah cukup sering juga lihat judul ini di mana-mana dan baru punya kesempatan buat baca buku ini di Gramedia Digital.

Jujur aja aku bingung mau kasih bintang berapa karena mau kasih bintang 3 kayaknya sayang tapi mau dikasih bintang 4 takutnya ketinggian.

Pertama, aku suka dengan konsep atau dasar cerita ini yaitu mencangkup internet dan bagaimana segala sesuatu di internet bisa dinarasikan sebegitu enaknya di dalam sini. Dan membaca ini juga jadi membuatku berpikir apa sih sebenarnya realita di balik kehidupan digital itu.

Kemudian aku juga suka dengan jasa atau apa yang dikerjakan oleh Tim Aleph di sini, salah satu tim yang berisikan tiga orang yang bisa "mengubah" situs-situs tertentu.

Awalnya aku cukup enjoy menikmati narasinya dan cukup terpukau dengan bagaimana Tim Aleph ini bekerja.

Dan juga sebagai penggemar kpop, mungkin beberapa situs atau gaya berkomentar netizen di sini cukup akrab di telinga apalagi untuk penggemar yang sering mengunjungi portal media yang memuat berita seputar kpop. Dan jujur aku merasa tergelitik ketika membaca bagian komentar-komentar itu yang, sorry, cukup akurat sebenarnya dengan kehidupan nyata.

Dan aku jadi berpikir apakah sebenarnya ada dalang tertentu di balik media yang selama ini mungkin sering diikuti orang dan apakah memang benar adanya kalau berita kpop selalu dipakai untuk menutupi konflik di Korea? (Salah satu teori konspirasi tentang Korsel yang sering kudengar).

Tapi semua itu berubah ketika ada satu bab yang mulai menampilkan adegan dewasa, yang oh God aku nggak siap dan nggak nyangka akan ada adegan seperti itu. Entah mengapa menurutku semenjak dimunculkannya adegan itu, tema tentang internet di buku ini mulai sedikit berkurang bahkan hingga di akhir cerita.

Dan entah mengapa fokus utama di beberapa bab terakhir jadi berbeda seratus delapan puluh derajat dengan apa yang kita ikuti di bagian awal buku.

Untungnya novel ini ketolong dengan terjemahannya yang enak banget dan bagaimana penulis bisa mendeskripsikan bagian-bagian dalam organisasi secara apik.

Next aku merasa aneh sebenarnya sih, karena beberapa teman-teman yang sudah baca buku ini mengatakan bahwa plot twist nya cukup mencengangkan tapi jujur aku nggak merasa sampai ternganga sih. Atau mungkin karena topik utama di novel ini meredup aku jadinya nggak terlalu banyak berharap ke depannya dengan novel ini kali yah.

Tapi ya aku sampe sekarang masih mencari-cari plot twist yang dimaksud. Kalaupun ada satu hal yang aku tahu itu yang dimaksud plot twistnya, aku kurang setuju sih kalau itu dibilang plot twist. Agak aneh aja sih.

Tapi ya intinya aku suka bagaimana dunia perinternetan di sini dijabarkan.

Tapi sayangnya sepertinya penulis menghempaskan ekspektasiku setelah membaca bab-bab awal di sini. Padahal bab-bab awal itu sudah cukup memenuhi ekspektasiku terhadap novel ini.

Oke maybe kepanjangan reviewnya. Aku akan tuang di blog mungkin jadi tungguin aja di sana ya.

Dan akhirnya aku memutuskan untuk kasih buku ini 3,8 bintang saja.
311 reviews10 followers
March 1, 2025
⚠️ tw: tema seksual, kata-kata kasar, cyber crime (kejahatan dunia maya), kematian, pencemaran nama baik, hoak, mabuk, nama-nama minuman keras, bar & klub.

disclaimer: novel ini enggak gue baca pas ramadan ya gaes.

|

• genrenya fiksi sains, yang mana jarang diangkat. apalagi yang sampai mendetail kayak gini. baru kali ini gue baca fiksi sains berbahasa indonesia dan mengangkat dunia internet, terus merasa, "ini baru namanya fiksi sains!"

• pengetahuan-pengetahuan di sini bikin kita mikir apakah ini nyata atau enggak. penulisnya udah konfirmasi sih di akhir kalau semua yang ada di novel ini fiktif, tapi tetep aja rasanya menarik banget buat diketahui. rasanya kayak baca jurnal dalam bentuk novel. (sampai akhirnya lo sampai di akhir cerita, wkwk)

• bisa mudah dipinjam di perpustakaan nasional a.k.a perpusnas (bagi warga jabodetabek). gue juga minjem dari perpusnas kok.

• kita jadi bisa lebih memahami budaya korea selatan dari sudut pandang yang jarang dibahas, seperti normalnya forum diskusi mirip quora di sana. dan, itu tuh banyak, bahkan ada yang privat.

• terjemahan dan penulisannya rapi. as expected sih, gramedia soalnya. ya, memang enggak semua buku terbitan gramedia rapi, tapi alhamdulillah ini salah satu yang rapi kok.

• ending-nya awikwok banget. dijeder sama double plot twist ciamik sekaligus yang bisa bikin ngakak kagak percaya.

• lo enggak bakalan berasa kalau lagi dilibatkan pada sebuah rencana deh sepanjang baca novel ini. percaya deh. mungkin awal-awalnya membosankan, tapi coba percayalah sama novel ini. gue juga awalnya ngerasa bosen kok, tapi ternyata beneran bagus!

• recommended buat kalian yang berkutat dengan internet sehari-harinya, apalagi yang biasa pegang analisis media sosial dan website. cocok banget. atau, yang biasa berkutat sama programming juga lumayan cocok kok.

• salah satu buku yang bosenin di awal, tapi ternyata seseru itu kalo tetap percaya.

• modelan ada tambahan cover yang tertekuk di dalam itu model yang gue suka. jadinya bisa nambahin informasi di situ. kalau di novel ini, jadi tempat biografi singkat penulis deh.

• udah enggak mikirin fisiknya masing-masing tokoh kayak gimana, soalnya sedetail itu ilmu-ilmunya. tapi enggak masalah sih.

• bagian-bagian intermezzo-nya itu loh, banyak yang bikin enggak nyaman. kayak gimana penulis menuliskan adegan seksual secara detail. ya, enggak kaget sih kalau mereka begitu, dan menurut gue cocok banget dicantumin di novel ini, tapi... beberapa adegan bikin bener-bener enggak nyaman. (oh ya, kalau dipikir-pikir, intermezzo di novel ini juga sebenernya jeder awikwok sih. ah, baca aja deh sampai selesai ya, wkwk)

• mungkin karena penulisnya cowok juga kali ya, jadi pergaulan antarcowoknya berasa banget nyatanya di sini. kayak, this is real! para cowok tuh kalo ngobrol ya begini.
Profile Image for Rizkana.
242 reviews29 followers
March 19, 2025
"Tetapi mereka tahu bahwa mereka harus memancing emosi, bukan logika."


Yang saya suka:
- Tema cerita--pertama-tama, tentu saja, tema cerita yang diangkat. Bahwa internet adalah dunia yang abu-abu; apa yang dinyatakan benar belum tentu benar dan apa yang digambarkan salah belum tentu salah. Intinya, jangan percaya buta pada apa yang ditampilkan di internet dan media sosial.

"Mereka taklebih dari bocah yang percaya pada hal konyol apa pun selama hal konyol tersebut terkesan informatif. Kita harus memanfaatkan kenyataan itu."


- Gaya ceritanya--sebagian besar alur cerita disampaikan dalam format wawancara. Sebenarnya, ini mengeliminasi banyak porsi latar cerita karena penceritaan jadi hanya fokus pada kejadian berikutnya. Biar begitu, gaya cerita dalam format ini membuat pembaca jadi terus mengantisipasi alur cerita.

Yang tidak saya suka:
- Terlalu banyak penggambaran mendetail adegan 18+ yang sebenarnya tidak esensial untuk plot cerita. Buang-buang halaman. Setelah saya lompati, hampir 8 halaman, tidak ada kemajuan apa-apa di plot. Jadi, bisa dibuang saja kan sebenarnya?
- Menggambarkan perempuan, setidaknya di Korea, lebih seperti objek. Kehadiran perempuan di alur cerita ini hanya sebagai objek hasrat seksual para tokoh laki-lakinya. Tidak ada reporter perempuan, bahkan sekadar menjadi penjahat atau mastermind kejahatan di cerita ini pun tidak. Mereka digambarkan sebagai ibu-ibu komunitas yang saling berperang satu sama lain dan sok. Saya tidak tahu apakah seperti itu cara laki-laki Korea melihat perempuan atau bias dari penulis sendiri. Entah. Yang pasti, lama-lama porsi peran ini mengganggu.

"Ini memang tidak nyata, tapi ini benar."


Yang cukup menyenangkan untuk ditemui, tetapi tidak terlalu istimewa:
- Plot twist yang dihadirkan. Jelang akhir, pembaca sudah bisa mengantisipasinya, termasuk plot twist di kapal dan rencana terakhir mereka untuk terus menguasai opini publik lewat agensi.
- Beberapa model kampanye di internet. Ya, buku ini bisa juga menjadi panduan bagaimana membentuk opini publik, merusak citra, menghancurkan kepercayaan komunitas tertentu, bahkan mencari tahu identitas pribadi seseorang.


Ok, mari kita tutup catatan ini dengan kutipan dari penulis sendiri (bukan berasal dari plot).

"Jadilah penulis yang mengkritik sekaligus mencintai negara ini. Tulislah novel seperti itu."
Profile Image for fatru.
211 reviews
January 5, 2023
Pasukan Buzzer jadi pembuka bacaan yang apik di awal tahun. Buku ini sudah jadi wishlist saya dari lama sekali, dan membacanya ternyata jadi pembuka yang menyenangkan buat awal tahun ini.

Pasukan Buzzer bercerita tentang Tim Aleph, yang ditugaskan untuk menjebol beberapa situs-situs progresif yang dikhawatirkan bisa menimbulkan huru-hara di masyarakat. Ketiga anggota tim, Sam Goong, Chatatkat, dan 01810 sudah malang melintang di dunia ini dan berhasil menghancurkan berbagai forum. Sampai, satu pekerjaan mengubah idealisme mereka.

Banyak yang mereview ini dengan bilang 'pusing' dan sejujurnya says setuju. Memang memusingkan sekali baca buku ini, dari mengikuti jaringan cerita dan hubungan orang-orang, hingga mengamati bagaimana rapi dan sistematisnya Tim Aleph menghancurkan reputase dan kredibilitas orang-orang di dalam forum.

Baru dua bab pertama saja....segala yang ada di internet itu beneran nggak bisa dipercaya, ya. Bahkan cerita yang terlihat "pasti" aja bisa direkayasa dan memang ada badan yang jadi perekayasanya. Membaca ini jadi meningkatkan kembali kewaspadaan saya pada berita di internet. Apa benar? Atau hoaks? Sekadar pengalihan isu?


Buku ini juga banyak mengomentari hal lain, masalah political correctness dan superioritas di internet, misalnya, utamanya soal pemakaian istilah dan juga aktivisme via internet. Di sini, kita akan dibuat merenung: apa benar, apa yang kita perbuat sudah tepat? Mau tidak mau, suka tidak suka, three chapters in and I reluctantly agree that they are right. Cara paling mudah mematahkan "perlawanan" adalah memecah belah pergerakan adalah dengan diskursus yang tidak produktif. Diskursus istilah, politik identitas yang berlebihan, & moralitas superior. Memecah belah dengan diskursus, memancing moralitas orang lain, hal itu adalah hal yang amat mudah dilakukan untuk memecah komunitas yang berusaha melawan arus utama.

Di sini, kita pun akan dihadapkan pada pandamgan-pandangan yang seakan benar, namun jika ditilik lagi, terlihat amat kontradiktif. Cara para petinggi menjaga 'perdamaian' via internet buat bergidik. Dan juga, twist yang disajikan tidak main-main gelapnya, membuat yang baca jadi pusing kepala.

Setengah novel political thriller, setengah komentar satir terhadap kondisi masyarakat. Novel yang bikin pusing, tapi pengalaman membacanya menyenangkan.
Profile Image for Kartini NRG.
77 reviews
April 10, 2022
Saat membaca, aku membayangkan bagaimana isu-isu umum yang diceritakan itu pelan-pelan merasuk menjadi bagian dari konflik utama dalam novel ini. Pasukan Buzzer ini berhasil bikin aku ngerasa kayak nonton drama korea techno-thriller yang mencengangkan. Habis baca ini, bisa dibilang kita bakal dicuci otak dan nggak akan asal percaya lagi sama yang viral-viral. Soalnya, emang bikin enek sih ya. Aku sendiri enek sama konten viral yang bertebaran tiada hentinya di sosmed. Sengaja bertingkah aneh lalu direkam dan disebar. Awalnya mungkin lucu, tapi lama-lama makin aneh dan ewh banget. Belum lagi semua itu kadang sampai diadaptasi ke tayangan TV pula. Hadeuh.

Nah, di novel ini, kita seolah diajak mikir kritis. Kadang, di balik yang viral-viral itu, ada satu tujuan yang pengen diraih sama orang dibalik layarnya. Aku nggak tahu sih kalau di dunia nyata ya. Tapi dalam novel ini, banyak banget hal-hal viral yang sebenarnya ada makna tersembunyinya. Apakah itu untuk promosi merk minuman baru, promosi hotel, atau bahkan yang ekstrimnya sampai memboikot suatu instansi seperti sekolah atau bahkan satu individu tertentu. Banyak istilah baru, jadi footnotenya rada penuh. But it’s okay. Malah nambah wawasan juga.

Menurutku, plot twistnya cukup tertebak. Tapi meski begitu, tetap menegangkan saat plot twist pertamanya diungkap. Perasaan suspensenya kurang sih, menurutku. Agak mumet juga buat otakku, soalnya banyak banget dialog yang panjang-panjang, ngalor-ngidul ke sana ke mari—yang harus dimaklumi karena karakter tokohnya emang gitu. Bisa dari bahas A eh tiba-tiba ke C, lalu lompat jauh ke S terus balik lagi ke B. Pusing deh pokoknya.

Banyak analisis soal komunitas juga yang relate banget dengan dunia nyata. Perkumpulan orang-orang dan apa yang mereka bicarakan di dalamnya, semua itu memang punya pola. Dan pola itulah yang dimanfaatkan oleh Tim Aleph untuk menuntaskan misi mereka.

Yang keren menurutku adalah kemampuan penulisnya menuangkan hasil risetnya ke dalam cerita. Tetep ngalir dan ngena di saat bersamaan. Daebak!

Yang tertarik baca techno-political-thriller boleh deh coba baca novel ini. Meski menurutku lumayan berat, tapi kalau suka political dan techno gitu kayaknya bakal enjoy aja.

Rating: 3.0/5.0
Profile Image for Anisa Ningtias.
88 reviews
February 10, 2022
#reviewdiction
📍Pasukan Buzzer
📝 Chang Kang Myoung
📚 @fiksigpu
📖 288 hal.
📅 2021
Read on @gramediadigital
.
.
Hanya orang yang memiliki impianlah yang bisa mewujudkan impian.

Itu adalah salah satu kutipan yang membekas pada salah satu tokoh dalam buku ini. Chatatkat, saat ia membaca sebuah poster yang menempel di sebuah toko saat ia membeli ponsel bersama kekasihnya. Kata dalam poster itu seolah memberikan ia sebuah harapan.

Kembali dulu pada isi buku ini. Pasukan Buzzer menceritakan sebuah manipulasi, propaganda yang dilakukan dengan apik melalui internet. Iya, internet. Yang selalu kita gunakan sehari-hari untuk mencari informasi, hiburan, dan hal lainnya.

Chatatkat bersama Samgong dan 01810 membentuk tim bernama Tim Aleph yang mempunyai tugas sebagai buzzer. Memang seperti buzzer yang kita tahu, yang seringkali menyulut keriuhan di internet dengan opini-opini. Lalu, seberapa powerful keterlibatan tim Aleph pada misi manipulasi kali ini?

Bisa dibilang luar biasa. Mereka bahkan bisa meruntuhkan sebuah forum yang tadinya sangat solid menjadi tanpa jejak. Pun saat mereka menggiring opini masyarakat dan membuat tren karena misi tertentu.

Novel ini cukup padat, data yang disajikan juga diambil dari kisah nyata, jadi pembaca seperti dihadirkan oleh hal-hal yang nyata dan bikin lebih mudah untuk imajinasi.

Dikemas dengan cukup unik dengan menghadirkan format wawancara dan narasi back-to-back, tapi cukup butuh pemahaman karena alurnya yang maju mundur.

Nggak nyangka bakalan nyelesain buku ini hanya 2 hari, karena kupikir bakal lebih lama. Ternyata seseru itu. Mungkin kalau nggak keputus bacanya 1 hari juga selesai. Apalagi plot twist nya! Gila! Sampe bengong aja pas mendekati ending - ending nya!

Wah, internet tuh luar biasa emang, tp di tangan orang yg ambisi, idealis, punya kuasa dan uang bisa jadi racun yang bikin orang lain sengsara. Speechless deh. Good job author-nim!

Kasian banget sama Chatatkat 😭😭

Yang kurang seru buatku, banyak adegan dewasa di buku ini. Jadi, aku menyarankan buat yang 20 ke bawah jangan baca dulu yaa. But, overall, I recommended this!
Displaying 1 - 30 of 78 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.