"Cedar Incense" mungkin satu-satunya harapan Raisa beserta kru aHa Publishing lainnya untuk menyakin papa Dru kalau aHa masih dapat dipertahankan. Bergelung dengan masalah utang-piutang, Dru akhirnya menyerah dan pasrah pada masalah yang satu itu, namun sebaliknya, Raisa dengan semangat menggebu-gebu pergi ke Frankfrut Book Fair demi mendapatkan hak cipta penerbitan ulang "Cedar Incense", novel best-seller berlatar belakang kerusuhan Mei 1998. Satu kendala bagi Raisa; mendapatkan hak cipta tidak semudah membalikkan telapak tangan, terlebih pengarannya Jan Marco, yang separuh sinting, enggan membiarkan novel best-sellernya dicetak ulang di Indonesia. Raisa tidak hanya diperhadapkan pada kesintingan Jan Marco seorang, di balik sebuah misi merebut hati pengarang "Cedar Incense", Raisa mau tak mau harus kembali membuka rahasia kelamnya yang ia tutup rapat-rapat di masa lalu.
"Relung Rasa Raisa"; frasa tiga kata yang nyaman sekali untuk dipermainkan, sebagaimana sampulnya juga menarik saat ditilik. Ada paduan kuas ala pen tablet untuk menerjemahkan pemeran utamanya sebagai Raisa, cewek berpotongan rambut pendek chic, berkulit eksotis. Dan membuat jemari gatal ingin membawanya ke meja kasir.
Saat melihat sampulnya, jelas memang ciri khas Plot Point, sebuah publishing house yang ya ... dari kebanyakan buku yang diterbitkannya memang sangat memerhatikan penampilan sampul utama. Tapi, jauh melebihi kesan buku Gagasmedia, gue menaruh satu ekspektasi tinggi pada buku-buku Plot Point, melihat "Blue Romance" yang bulan lalu sempat gue beli versi bekasnya.
Um, "Relung Rasa Raisa" punya ide cerita yang sederhana. Lagi-lagi. Dengan tokoh seorang perempuan Indonesia, juga cast-cast Indonesia lainnya yang dipindahkan latar ke negeri Jerman. Dengan konflik dari era nostalgia hingga digiring ke masa kini. Tapi, satu berbeda, cara pengemasannya yang sungguh tidak sederhana, juga latar belakang tokohnya yang tidak biasa. Pertama kalinya membaca buku karya Lea Agustina Citra dan satu rasa yang menguar dari kalimat-kalimatnya, yaitu: "nge-pop". Mungkin perlu ditambah "banget". Ada sekilas hawa teenlit dengan segala tetek-bengeknya yang kadang menjurus ke "lebay", tapi um, gak juga sih, ada juga hawa dewasa yang menggiring, melihat permainan diksi yang lumayan, tapi gue suka dengan fungsi sudut pandang orang ketiga yang coba digiring Lea ke mana-mana. Kebanyakan novel yang gue baca (dalam dan luar negeri), pengarangnya ibarat meletakkan sebuah kamera pada satu pemeran utama, yaitu tokoh yang menjadi kunci atas segalanya, namun dalam "Relung Rasa Raisa", Lea mencoba untuk menyorot kedua benda, yaitu kunci dan gembok; berganti-gantian, diselingi sedikit flashback di saat dulu SMA, lantas menjadikan dua karakter utama, Raisa dan Caesar sama-sama membuka kejadian yang di masa lalu.
Overall, dari seluruh narasinya, Lea bisa dikategorikan sebagai seorang yang tidak pelit mencari tahu. Dari sebuah konflik-konflik klise, Lea mencoba menyelipkan sejuta hal-hal yang sangat paradoks ke dalam narasinya, dari membahas sikap seorang karakter Raisa yang cengeng, keras kepala, juga jual mahal, Lea terkadang menganalogikannya ke berbagai hal, mulai dari film, public figur, dan sebagainya. Sebaliknya ada juga Caesar. Sekilas saat membaca di bagaian depan, Caesar digambarkan sebagai cowok yang sangat dewasa, pengertian, seolah dia memang seorang yang sempurna, tapi ups, di belakang, sepertinya terasa agak jomplang, namun di situlah semua cerita tersebut harusnya berawal.
Seperti bermain kronologi, itulah yang gue suka dari "Relung Rasa Raisa" dan lebih baik lagi kalau ini diterjemahkan dalam sebuah film. Pasti lebih asyik. Seperti (kalau pengin dibandingkan dengan novel luar negeri) Safe Haven, di mana sebuah jawaban terlontar terlebih dahulu sebelum pertanyaannya didendangkan. Namun demikian, "Relung Rasa Raisa" bukan novel yang mudah ditebak lho... ya, mungkin ada di satu per empat bagian buku gue sempat menebak-nebak kalau jalan ceritanya bakal agak sedikit langsir ke Lilo (spoiler ya: Lilo, cowok playboy, lagi sekolah S2 di kampus yang sama dengan Caesar, dan hobi ngajakin cewek-cewek buat dinner superromantis biar jatuh hati sama dia). Tapi, ya siapa sangka kalau perjalanan cinta Raisa gak semulus itu, bahkan ibarat naik rollercoaster terus jungkir balik, jatuh ke spot yang seharusnya gak ia hindari dari dulu.
Terlepas dari hal-hal seru, ada beberapa hal yang gue kurang suka dari "Relung Rasa Raisa", yaitu dengan beberapa klimaks yang dia hadirkan sangat baik dalam konfliknya, Lea malah memberikan sebuah episode solusi dengan sangat kilat seolah-olah itu sangat mudah untuk dilalui. Um, gak salah sih, tapi rasanya sedikit jomplang aja, apalagi kalau dua karakternya sudah saling bentak dan para pembaca tahu, kalau dua-duanya sama-sama keras kepala. Efeknya jadi sedikit kurang rill. Kepenginnya sih Lea memperpanjang konfliknya sedikiiit lagi :)
Dari 5, gue kasih 4.5, buat sampul kece, cerita yang fantastis, gaya bicara yang supeeel banget, terus buat acara tour keliling Anchen-nya yang luar biasa nyata. Sayang kalau melewatkan novel satu ini di rak buku Gramedia, rasanya bakal rugi deh, gak menikmati satu lagi hal yang unik dari pengarang lokal :D