Tafsir al-Azhar adalah hasil karya terbesar dari ulama ternama yaitu Prof. Dr. HAMKA. Dalam penyusunan Tafsir al-Azhar, Buya HAMKA menggunakan metode tahlili (analitis), tafsir Al-Qur'an dengan Al-Qur'an, tafsir Al-Qur'an dengan hadits, pendapat sahabat dan tabi'in, tafsir dengan tafsir muktabar, penggunaan syair, menggunakan analisis bil-ma'tsur, menganalisis dengan kemampuan analisis sendiri, dan disusun tanpa membawa pertikaian antar madzhab
Tafsir al-Azhar menitikberatkan penjelasan ayat-ayat Al-Qur'an dengan ungkapan yang teliti, menjelaskan makna-makna yang dimaksud dalam Al-Qur'an dengan bahasa yang indah dan menarik, dan menghubungkan ayat dengan realitas sosial dan sistem budaya yang ada.
Buya HAMKA membicarakan permasalahan sejarah, sosial, dan budaya di Indonesia. Beliau juga mendemonstrasikan keluasan pengetahuan, menekankan pemahaman ayat secara menyeluruh (mengutip ulama-ulama terdahulu), mendialogkan antara teks Al-Qur'an dengan kondisi umat Islam saat Tafsir al-Azhar ditulis.
Buku ini merupakan jilid kesatu dari sembilan jilid yang kami terbitkan. Sebuah referensi yang wajib Anda miliki.
Haji Abdul Malik Karim Amrullah, known as Hamka (born in Maninjau, West Sumatra February 17, 1908 - July 24, 1981) was a prominent Indonesian author, ulema and politician. His father, syekh Abdul Karim Amrullah, known as Haji Rasul, led and inspired the reform movement in Sumatra. In 1970's, Hamka was the leader of Majelis Ulama Indonesia, the biggest Muslim organizations in Indonesia beside Nahdlatul Ulama and Muhammadiyah. In the Dutch colonial era, Hamka was the chief editor of Indonesian magazines, such as Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat, and Gema Islam.