Jump to ratings and reviews
Rate this book

Trocoh

Rate this book
Kumpulan 41 tulisan tentang apa saja yang menarik minat Budi Warsito: film seluloid, serangga dan buah-buahan, topi dan soda beku, baling-baling bambu, menunggu acara di televisi, piring terbang, dan terutama musik. Siapa yang pertama kali memakai istilah punk di Indonesia? Benarkah gamelan di luar angkasa bakal menarik perhatian alien? Siapa itu Sujud Kendang dan kenapa dia lucu? Adakah resep mujarab untuk mendaur ulang sebuah lagu? Budi Warsito mencari benang merah dari semua itu, merasa menemukan kode-kode, dan malah tersesat sendiri di dalamnya.

288 pages, Paperback

Published May 5, 2021

11 people are currently reading
49 people want to read

About the author

Budi Warsito

3 books

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
8 (12%)
4 stars
41 (64%)
3 stars
14 (21%)
2 stars
1 (1%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 24 of 24 reviews
Profile Image for ucha (enthalpybooks) .
201 reviews3 followers
January 30, 2022
#KEBAB15 @kebabreadingclub
Desember 2021 - #Trocoh
Budi Warsito @buswitradio
@penerbitbanana

“Pas kelas 2 SMA pernah punya diary bareng pacar, ampun deh masa remaja… Gantian gitu ngisinya, di buku yang sama, 3 hari di dia, 3 hari di gua.. Tiga hari kayak selamanya! Terakhir sih dia yang bawa, mungkin udah dibuang juga. Nulis apa ya waktu itu.. Pasti banyak bokis-bokisnya lah ya. “ (wawancara Budi Warsito di altspace.id)

sambil menyiapkan #KEBAB15 @kebabreadingclub sehari sebelum acara, saya ketawa-ketawa sendiri malam-malam pas baca wawancara mas buswit di blog altspace.id. dulu pas kami di SMA berasrama di akhir 90an yang punya pacar atau “adek-kakak”an punya diary bersama juga, disebutnya medikom = media komunikasi. ini semacam surat cinta yang diarsipkan, saya lupa juga dulu apa saja yang ditulis, tapi lamanya pacaran bisa diukur dari banyaknya medikom yang kita punya sampai akhir kelulusan sekolah.

membaca Trocoh buku nyentrik dengan jumlah 41 tulisan ini, mau tak mau memori masa kecil, masa remaja, masa kuliah saling silang bergantian muncul. mulai kenangan dari kaset pertama yang kami punya: soundtrack Yuni Shara The Return of Condor Heroes, dan kaset OASIS kado dari temen SMP dibelikan di Disc Tarra MM bekasi karena saya bantuin bikin PR, juga kenangan uang jajan habis demi gegayaan beli kaos Nirvana sablonan di pasar baru, pernak pernik tas Alpina bordiran kartun melet grunge sampai nekat beli sepatu basket NIKE KW di Tampur.

zaman SMP dulu ada tiga aliran di kelas kami: anak grunge penyuka Nirvana (anggotanya cuma dua, saya dan teman sebangku dulu), anak punk penyuka Sex Pistol dan anak grindcore dengan dandanan ala-alanya. ketika membaca tulisan “Punk Pink Ponk!” dan “Kepada Donald di Mana pun Berada”, terasa mas Bud menggali keluar lagi pengalaman-pengalaman personal yang bagi kami sendiri sudah berhenti di masa itu.

tulisan menarik lainnya adalah tentang Paman Kikuk dan paman-paman lainnya, tentang trik klasik di dunia penulisan cerita anak. tulisan tentang Sujud Kendang, sosok yang familiar bagi yang sempat tinggal di perkampungan di Jogja dulu. tulisan kritis tentang tayangan Ria Jenaka, juga tentang senam SKJ yang membuat berpikir ulang tentang pelajaran yang ingin membuat muridnya sehat tapi penilaian berdasarkan hafalan gerakan, sekaligus “pemberontakan” kecil kita dengan gaya nyeleneh dan memparodikan tambahan liriknya (dukun pelet / dukun beranak).

menyambung istilah ‘nyentrik’ yang saya tulis sebelumnya, lain dari tulisan esai biasanya, sepanjang tulisan tidak ada jeda paragraf, juga tidak ada tulisan miring untuk membedakan berbagai bahasa yang dipakai. saat diskusi di KEBAB mas Budi kembali menjelaskan alasan gaya yang dipilihnya ini dan gayung bersambut oleh penerbit Banana yang menerima dan mewujudkannya. semakin banyak mengobrol dengan penulis di KEBAB semakin saya paham alasan-alasan khusus mereka di balik tiap buku yang saya baca.

Trocoh ini bisa jadi salah satu buku penting dalam kehidupan saya sendiri. bukan hanya tentang senangnya akan kesamaan pengalaman dalam rentang yang tidak jauh berbeda, tapi juga sebagaimana arsip penting lainnya, kumpulan tulisan ini jadi arsip ingatan yang bisa dibuka-buka lagi nantinya sekaligus bisa jadi pendorong untuk ikut membekukan memori dalam bentuk tulisan juga.

lalu untuk apa? mungkin jawabannya sesuai salah satu lagu favoritnya mas Budi:
untuk : mengerti akan arti kehidupan…
Profile Image for Steven S.
703 reviews66 followers
July 21, 2021
Trocoh, membekukan yang cair, mencairkan yang beku. Mari menyusurinya bersama.


Mendapatkan buku ini cepat-cepat semenjak infonya muncul di Patjar Merah adalah keinginan saya belaka. Saya belum kenal dan berinteraksi dengan penilik perpustakaan dan toko buku Kineruku, Bandung, yang jelas harus punya deh. Sehari setelah acara peluncuran yang meriah - tatap muka virtual dengan sang penulis (Minggu, 19 Juli 2021) akhirnya buku ini tiba setelah berbagai jalan memutar yang nggak bikin kesal, cuman, terbitan terbaru baNaNa dengan dominan kuning terang ini sebenarnya bisa saya langsung "panen" di pertengahan Juni kemarin. Ceritanya begini:

Dari semenjak festival pembaca yang diadakan Goodreads Indonesia bersama Patjar Merah, di 19 Juni hingga 4 Juli 2021 itu akan diadakan, saya sudah berulang kali ngecek judul ini di toped. Oke sudah ada beberapa tempat yang menjual. Tapi tunggu dulu.... Pertama saya mengecek, apakah "Trocoh" bisa dibeli di Playbook. Biasanya Indie Book Corner lengkap rilisannya disana. Hasilnya nihil. Lumayan kan kalau dapat. Tak usah ongkir mahal. Praktis pula.

Beberapa saat saya menganalisa harus beli di lapak yang mana ya. Hm... Harganya mendekati seratus ribu. Cek. Cek. Cek. Apakah ada alternatif yang bagus. *bagi saya itu berarti bisa bebas ongkir atau pakai lionparcel, keduanya boleh lah. Pula ada buku lainnya yang bisa masuk dalam paket perbelanjaan itu. Supaya tak sia-sia membayar ongkir.

28 Juni 2021. Saya memilih wasurjaya.vicyshoop dengan Trocoh Rp80.000, Lebih Senyap dari Bisikan, dan Anak Cerpen Anak Puisi di dalam keranjang Rp80.000. Anak Cerpen Anak Puisi di official store Patjar Merah dalam status preorder (kala itu), sehingga saya kira ini formasi pas untuk segera merealisasikan perhitungan. Lalu bayar. Tanpa mengecek, apakah ketiganya ready stock apa tidak. Setelah tanggal 30, seller mengirim sandek kalau kumpulan cerpen "ACAP" tak ada. Saya lantas bilang. Tak apa. Biar diganti dengan "Trocoh". "anak bunga, anak puisi udah dicari di rak gudang dua hari tidak ketemu stoknya Kak. Ada judul lain yang diminati?" kata penjual.

5 Juli 2021. Pesanan saya sampai.
Setelah paket sampai di rumah (yang terlihat aneh, kok tipis banget ya). Saya buka perlahan. Ditemani kamera yang siap untuk merekam, unboxing gitu ceritanya. Apalagi sekarang banyak cerita "ingin komplain, siapkan video unboxing, untuk dijadikan bukti kuat".
Kresek hitam saya silet dengan cutter.
Bubble wrap saya robek.
Pas! hanya ada 1 buku. Novel terbaru Andina Dwifatma Lebih Senyap dari Bisikan satu-satunya di sana.

Buru-buru. (nggak juga sih) Saya kirim sandek ke pak penjual. Asumsikan saja begitu.

selamat sore. trocohnya tidak termasuk. Chat Status15:58
di paketnya Chat Status15:58
apa bisa direfund? Chat Status15:58
044x3xx8x8 an steven sixxxgxn. ini rekening bxa saya 16:07
tolong ya 16:07

ada Kak
17:52

dikirim susul kok

lalu skip 13 Juli 2021, akhirnya proses refund beres.

Sebelum itu mari kembali ke tanggal 9. Saya mencoba belanja bukunya di Indie Book Corner.
Jaga-jaga aja kan. Punya dobel nggak apa deh. Triple malah.

Lalu fast forward lagi ke 14 Juli.
Pesanannya dibatalkan. Karena tidak diproses. Kali ini saya bertanya dulu kok. Ke sellernya.
Yang saya tanyakan, apa buku "Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma Idrus tersedia? Baru saja saya ketahui Idrus adalah penulis favorit Pramoedya. Cerpennya yang mengusung gaya realisme, konon mendapat sambutan yang bagus dari para penulis Indonesia. Banyak yang merengkuh style Idrus ini. Tapi yang paling saya inginkan dari membaca karya cerpen-yang melegenda ini-adalah jejak biografis Idrus itu sendiri di karya tersebut.

Tidak menyerah. Siang itu langsung saya cari lagi.

Kali ini dengan jurus-jurus anti gagal.

Coba ke buku akik bookshop. Tersisa 1 nih, si Trocoh.
Sejurus saya kirim sandek dengan sepenggal gambar berisi 3 buku yang jadi teman jalan Trocoh dari Jogja nanti. Apakah judul-judulnya ready? Begitu kira-kira sesiangan itu saya mencoba mengontak buku akik. Tersedia jawabnya disana. Ya oke. Pikirku, akhirnya dapet juga Trocoh.

Lalu di tanggal 19 Juli, bukunya sampai di rumah. Haha. Senang juga akhirnya bisa baca si Trocoh setelah sehari sebelumnya melihat perilisannya secara daring.

Demi menghindari kejadian serupa di lain tempat. Ada beberapa tips bagus untuk beli buku yang didapat. Jadi lain kali harus cek barangnya udah in stock apa belum. Atau langsung saja beli di tempat si penerbit. Dalam hal ini "Patjar Merah Official" sebagai penjual. Hindari juga lapak seberang yang menawarkan harga lebih miring. Ini yang bikin pertama kali tertarik belanja di tempat pertama kita tadi. Lebih baik belanja di tempat yang pasti-pasti saja. Terjamin reputasinya. Begitu.
------------------------------------------------------------------------
Ayo bicara tentang bukunya.

Esai pertama di buku ini merupakan pembuka yang mengasyikkan. Kita diberi kesempatan melihat cara bercerita-mendongeng-penulis. Sungguh sebuah cara penyajian yang luar biasa bagi perjalanan pembaca menikmati Trocoh.

Lagu pertama (yang ditulis sehabis esai pertama) itu pun kejutannya adalah musik pembuka di acara rilisan Trocoh. Masuk 30 menit sebelum jam mulai. Musik ini dimainkan di latar. Openingnya wah megah kesannya, middle kok ada perpindahan nada yang kayak gini ya. Itu sebelum saya menandaskan esai Budi yang bercerita tentang karirnya sebagai pemutar film, pengantar rol film seperti di film "Janji Joni", pergantian masa sma ke kuliah, yang seru sekali untuk diikuti. Dan alhasil lagu tersebut langsung nyantol. Repetitif terputar di belakang pikiran saya.

Sekian esai yang ada saya nikmati. Di bagian-bagian awal masih tuntas saya ikuti. Pun lagu-lagu yang disajikan. Saya coba putar sebelum lanjut ke bagian berikutnya.

Di satu esai, ia mendorong kita untuk dengar lagu. "Susan Punya Cita-cita" dari Susan dan kak Ria Enes. Jujur saja. Baru kali ini saya perhatikan betul liriknya. Putar di spotify (untung ada lagunya disana. YES!)

Susan susan susan//
Besok gede mau jadi apa//

Aku kepingin pinter//
Biar jadi dokter//

yang dibalas,

Kalau kalau benar//
Jadi dokter kamu mau apa//

Mau suntik orang lewat//
Jus jus jus~//

Lalu masuklah kak Ria,

Ria : Lho kalau nggak sakit kenapa disuntik?
Susan : Biar obatnya laku

Oooh begitu~ pikir saya sambil ngakak.

Secara keseluruhan begitulah kesan saya membaca Trocoh. Bacaan yang asyik untuk diikuti. Mengundang tawa. Bergembira lewat mengikuti pengalaman mas Budi yang beragam. Dikisahkan dengan luwes dan cekatan di tiap lembarnya.

Meski untuk melengkap (ulasan ini) ada beberapa bagian, soal musik yang belum bisa saya ikuti benar, hehehe. Tapi mungkin nanti akan coba baca lagi.

Dari Trocoh. Tentu tidak afdol kalau saya coba lemparkan apa saja serunya buku ini. Namun efek dari buku ini adalah: Saya jadi ingin bisa mengarsip dan menulis selincah, mas Budi. Buah menulis sejak lama yang saya kira, butuh dedikasi dan fisik yang prima untuk mengikuti jejaknya. Di lain hal fundamental seperti dedikasi, resiliensi, dan pengalaman membaca, mendengar musik, menonton film hingga punya banyak referensi seperti dirinya. Itu saya kira demikian. Penulis yang saya kepengin bisa menulis seperti dia juga adalah pak Soesilo Toer.

Selain esai yang musik-musik (cuma beberapa kok, ya) sejauh itu bisa saya ikuti dan nikmati. Direkomendasikan untuk para pencinta musik. Penggemar esai personal. Ini satu judul yang layak dikoleksi dan dibaca di musim pandemi.

Ps: Saya baru tahu, kalau beliau adalah kreator acara kesukaan saya saat SMP.

Waktu itu acaranya hanya bisa ditangkap pakai parabola. Itupun tidak secara rutin saya tonton (mungkin karena jamnya agak malam, ya), tapi saya suka sekali parodinya. Canda-candaan pemainnya. Pokoknya itu buat saya masa jayanya Tora Sudiro, mbak Tike, Kang Ronal, dan seabrek pemain Extravaganza lainnya.

Terlambat sekali. Bila tahu, tentu akan saya mintai tandatangannya saat mampir ke Kineruku, 2019 silam. Juga kalau memungkinkan mencuri satu dua anekdot tentang acara itu. Begitu.
Profile Image for Happy Dwi Wardhana.
244 reviews39 followers
January 6, 2022
Pesan moral yang saya dapatkan setelah membaca Trocoh adalah bersikaplah totalitas, bahkan untuk hal-hal paling remeh-temeh yang kamu minati.

Dalam Trocoh, Budi Warsito menuliskan hobinya sebagai penikmat musik, film, dan majalah tahun 80-90 an. Seseorang, siapa saja, bisa menulis karangan tentang apa yang ia sukai, tapi saya yakin tak bisa sedetail tulisan-tulisan Budi. Entah karena iseng atau memang gemar riset, bisa-bisanya dalam setiap tulisannya ia menyebutkan rujukan seperti nama majalah lengkap dengan halaman, nomor edisi dan tahunnya, atau judul lagu di suatu kaset dengan perusahaan rekaman, keterangan side A/B dan nomor tracknya. Tak mau kalah dengan tinjauan pustaka karya ilmiah.

Saya tumbuh di era MTV yang sedang gencar memutar video klip Hanson atau Savage Garden, sedang Trocoh banyak membahas musik-musik sebelum tahun itu, misal Lou Reed, Nirvana, atau Gombloh. Saya juga penggemar majalah remaja seperti Hai!, Aneka Yess!, Kawanku edisi awal 2000 an, sedang Trocoh banyak membahas majalah itu di tahun 80 an. Sudah barang tentu, saya tak paham benar kebanyakan judul dalam buku ini dan sedikit tak menaruh minat.

Adapun hal yang paling relate dengan saya adalah gosip bocil 90 an tentang Melissa, penyanyi "Abang Tukang Bakso", yang mati kesetrum. Saya langsung teringat masa di mana saya dan para bocah lelaki berseragam putih-merah jongkok membuat lingkaran di bawah pohon randu dan mulai membicarakan kejadian-kejadian tragis yang dialami artis-artis cilik. Di SD saya, santer beredar kabar Chikita Meidy tewas diracun dan Enno Lerian berbuat tak senonoh dengan Bondan Prakoso. Ini menarik bagaimana para bocil berbagi hal yang sama di beda daerah dalam era yang seterbatas itu.
Profile Image for Yuniar Ardhist.
146 reviews18 followers
December 18, 2021
Berisi 39 judul tulisan, sebagian besar tentang cuplikan-cuplikan peristiwa yang dikaitkan dengan musik. Jika dalam sastra, pembaca bisa membawa nama Eka Kurniawan, yang ciamik dalam menuliskan esai-esai pendek dalam blognya tentang hasil bacaan, maka ini adalah Budi Warsito dengan segala catatan bersama dunia musiknya.

Juga semacam membuka arsip-arsip lama, pun pembaca mungkin akan teringat gaya tulisan Bandung Mawardi. Namun, ini adalah Budi Warsito dengan segala sejarah dan seluk beluk arsip-arsip musiknya. Karya yang autentik dan memiliki ciri khas, jelas bisa disematkan untuk buku ini.

Melabel diri sebagai ‘pengumpul barang bekas’, penulis mengajak pembaca pada penelusuran ingatan ‘lawas’ masa lalu tentang ‘fenomena’ Sheila On 7, SKJ (Senam Kesegaran Jasmani) yang ternyata berasal dari beberapa gerakan silat, hingga harus diganti karena gerakannya dianggap sulit, kisah barang-barang koleksi yang menakjubkan termasuk film-film kanibal, tentang penyanyi Gombloh yang lagunya sangat terkenal tapi banyak yang salah mengira judulnya, dll.

Seruuu!
Profile Image for mayday.
435 reviews11 followers
August 9, 2021
Mens senam in corpore sano, di dalam senam yang sehat terdapat jiwa yang kuat.

Walau gak ngerti 100% musik yang diceritakan di buku ini (halo, yang saya dengerin cuman anime song dan lagu-lagu Arab/gambus juga lagu-lagu berbahasa Inggris yang populer circa 2011 ke atas), suka banget dengan narasi jenaka Budi Warsito :D

Sebuah buku bagus jika ingin berbicara dengan Ketua Tim atau Supervisor, hehe, apalagi di dunia nyata, Supervisor suka ngomongin Bapak Harmoko. Aku sendiri gak mungkin tau siapa bapak penerangan tersebut jika tidak mendengarkan omongan supervisor ketika kami lagi ngobrol. Nampaknya Budi Warsito punya kesan mendalam dengan Bapak Harmoko.
Profile Image for syarif.
296 reviews63 followers
December 20, 2021
Buku yang kocak namun sekaligus berdecak kagum sama mas Budi yang bisa menelaah dan menyampaikan interest yang dia punya dari musik, film, hingga keisengan beliau di masa lampau bisa se detail itu!!.

Gaya penulisannya cukup nyentrik- tanpa ada pemisahan paragraf dan bahkan ada satu tulisan dimana penggunaan titik hanya digunakan sekali di akhir kalimat yang memakan 2 halaman!!- jadi agak pusing sama kaget juga.

Meskipun berada jauh di generasi atas saya, buku ini masih ada relatenya sedikit banyak jadi saya yakin tiap orang memiliki bagiannya tersendiri di beberapa tulisan ini.
Profile Image for Aris Setyawan.
Author 4 books15 followers
July 19, 2022
Buku yang saya nikmati sekali ketika membacanya. Budi Warsito sangat piawai merangkai kata-kata. Apa saja yang dibahasnya? Banyak sekali, mulai dari musik, film, seni secara luas, tata bahasa, hingga perkara keseharian yang tampak remeh temeh namun sesungguhnya memiliki substansi yang lebih luas.

Saya sungguh terpukau dengan cara Mas Budi berkisah. Esai demi esai terasa begitu renyah, padat dan sarat dengan pengetahuan. 42 esai--termasuk prolog dan epilog--di buku ini menunjukkan betapa luas pengetahuan penulisnya, betapa menarik kisah hidupnya, dan betapa banyak referensi-referensi yang telah ia baca, lihat, atau dengar.

Kadang kita dibawa terbahak-bahak oleh kisah yang sungguh jenaka, misalnya, ihwal penyanyi legendaris Gombloh dan topi-topi, kadang kita diajak berpikir keras dan sesekali harus membuka kamus karena tidak tahu arti dari satu kata atau frasa tertentu. Kadang kita akan jadi terharu, persis saya yang tiba-tiba "meng-sedih" ketika membaca kisah tentang berpulangnya Mbah Sujud Kendang, musisi jenaka legendaris asal Yogyakarta yang pernah saya tonton pertunjukannya 9 tahun yang lalu.

Di antara kisah jenaka atau yang serius itu, Mas Budi selalu mengajak kita mendengarkan musik-musik tertentu karena di sebagian besar tulisan di buku ini selalu terselip referensi musik-musik yang asyik.

Bab favorit saya? Tentu saja satu bab flowchart lagu "Nasihat Yang Baik" milik Melancholic Bitch. Bab ini hanya dua halaman, dan saya masih enggak habis pikir kok bisa sih Mas Budi kepikiran bikin flowchart lirik lagu Melbi yang ketika dibaca asyik banget dan urutannya bener gitu.

"Trocoh" adalah buku yang saya rekomendasikan untuk kalian-kalian yang ingin menyelami bagaimana rasanya menggilai produk budaya populer, rasanya mencintai berbagai arsip budaya seperti kaset, vinyl, buku, dan majalah, dan untuk kalian yang ingin terpingkal karena hidup yang kayaknya terlihat nelangsa ini sebenarnya terkadang berisi juga dengan hal-hal jenaka yang bisa bikin kita tertawa. Lupa pada sengsara.
Profile Image for Tika W.
75 reviews7 followers
August 20, 2021
Buku TROCOH adalah himpunan 40 kiriman blog penulisnya. Didominasi tema 80-90an, buku ini sangat bisa membuka pembicaraan dengan siapapun. Saya sendiri cukup terkejut ada acara TV khusus pencarian orang yang mirip Gombloh. Dan Dian Sastro sebelum AADC pernah tampil sangat menor di klip Sheila on 7.

TROCOH mungkin semacam ensiklopedia musik dan tren dengan mesin waktu hingga era 80-an. Segala tentang Gombloh, Sujud Kendang, sampai Lagu Abang Bakso yang pakai kol diulas dengan jahil.

Saya bisa bayangkan menyambangi Kineruku baca dengan harum kertas tua menyeruak dari berjajar buku Klub Ilmuwan Edan, Lima Sekawan, dan Buku Pintar, diiringi sayup musik vinyl Igor Tamelan, Franky Sahilatua, atau Gamelan Ndoro Alien.

Meski demikian, tidak bisa dipungkiri bahwa untuk bisa menikmati euforia emosional di beberapa bagian kita perlu googling. Masalahnya saya tidak lahir di era tersebut dan tidak mengikuti tren musik/gaya hidup yang dibicarakan di buku. Sederhananya, karena saya kuper, jadi saya kurang nyambung di beberapa bagian.

Meski demikian, saya akan membuka kembali buku ini ketika butuh referensi topik obrolan dengan generasi 80-an. Justru ketidaktahuan itu yang mungkin bisa jadi conversation starter, bukan?
Profile Image for Bimana Novantara.
280 reviews28 followers
March 4, 2024
Buku ini akan sangat mengasyikkan untuk dibaca oleh para pengabdi budaya populer yang suka nonton film, nonton acara tivi, mendengarkan musik genre apapun, hingga membaca dengan lahap semua yang bisa dibaca mulai dari koran, majalah, tabloid sampai buku dengan segala tema dan bentuknya. Ketika memamah berbagai jenis media tersebut, pastinya akan timbul pendapat, kesan, kenangan, komentar, atau rasa penasaran yang muncul dalam kepala. Terlepas dari sampulnya yang tidak menyiratkan apa pun mengenai isi buku, semua tulisan yang ada di dalamnya tidak lain tidak bukan adalah segala ingatan yang muncul dalam pikiran penulisnya mengenai berbagai hal yang ia konsumsi dan aktivitas yang ia lakukan di masa lalu.

Tema yang mendominasi adalah musik. Ada berbagai musisi, lagu dan album yang dibahas, mulai dari yang termasuk arus utama seperti Nirvana, Joy Division, The Doors, Dewa 19, dan Sheila on 7, hingga nama-nama dan judul-judul yang lebih jarang terdengar dan yang benar-benar samar baik dari kancah musik lokal maupun mancanegara. Tulisan terbaik di buku ini bagi saya adalah yang berjudul “Punk Pink Ponk!”. Menarik sekali mengikuti penelusuran mengenai kapan istilah punk masuk di Indonesia, serta bagaimana media dan para musisi lokal waktu itu menanggapi kehadirannya ketika belum ada referensi terpercaya mengenai definisi istilah itu. Dengan semangat yang sama, tulisan lain yang berjudul “Res Volans Ignota” mencoba untuk melacak kapan frasa ‘piring terbang’ pertama kali dikenal di Indonesia.

Mengenai lagu “She’s Lost Control” yang disebutkan sebagai lagu paling definitif dari Joy Division, saya harus berbeda pendapat dengan si penulis karena menurut saya yang layak menempati posisi itu adalah lagu “Transmission”. Lewat betotan bass bersuara tebal sebagai pembuka dan permainan drum Stephen Morris yang di lagu ini paling menunjukkan kualitas sebagai “the human drum machine”, pendengar akan bisa dengan mudah membayangkan bagaimana Ian Curtis melakukan joget epileptik ciri khasnya ketika sedang bernyanyi “dance dance dance dance dance to the radio!” dengan nada yang resah, dan saya kira hal itulah yang paling dapat mendefinisikan keseluruhan karya Joy Division.
Profile Image for N.  Jay.
242 reviews10 followers
January 13, 2025
Sebagai orang terpapar ramainya jejaring era laman pribadi, baca tulisannya mas Budi ini tentu jadi semacam nostalgia mengingat orang-orang yang begitu berdedikasi menuliskan apa pun, entah sebuah artikel dari hal yang disukainya, dan bahkan membuat serangkaian kumpulan cerpen dan cerbung.

Meski secara tata paragraf terlihat berantakan, mas Budi begitu luwes dan antusiasnya membicarakan hal-hal yang digandrungi sejak masa sekolah dasar, yang saya pikir dia akan jadi teman tongkrongan yang asyik juga mungkin meski perkara cocok-cocokan selera bisa saling bertolak belakang.

Dan seperti judulnya, Trocoh menetes secara terus menerus meski berlepotan arah cipratannya membahas permusikan, film, dan juga beberapa idola era 80an dan 90an menjelang akhir. Meski untuk tulisan yang membahas punk saya kelelahan mencernanya, meski sudah coba dituliskan dengan cara yang menarik dan dekat dengan awam.

Di antara generasi seusia mas Budi, mungkin kakak laki-laki saya termasuk yang mengalami era kaset dibeli dengan berdarah-darah mengumpulkan rupiah demi rupiah dan disambung naik bus ke kota yang memiliki toko kaset terlengkap pada era tersebut, dan tentu ini sebuah perjuangan seorang penikmat musik yang berdedikasi.

Rasa humornya mas Budi ini boleh juga, membuat tulisannya terasa akrab dan sesekali jenaka.

Kelak di masa depan jika bumi masih bergerak dan spesies manusia tetap membaca, mereka akan mendapati betapa remah-remah peradaban dan peradaban seperti ini pernah dituliskan. Itu juga kalau catatan ini tidak keburu musnah dikerikiti tikus.
2 reviews
January 12, 2025
Saya sesungguhnya sama sekali tidak tahu siapa itu Budi Warsito. Keputusan saya membeli buku ini hanya karena klasifikasinya sebagai buku kumpulan esai. Waktu itu saya sedang getol-getolnya membaca esai, terutama esai personal. Maka, buku ini saya pinang tanpa ekspektasi apapun, kecuali dalam rangka melihat cara menulis (dan membukukan esai).

Tidak disangka buku ini justu berisi cetak biru bagaimana esai-esai personal ditulis. Berbagai artikel yang ditulis Mas Budi terasa sangat dekat, hangat, tapi juga penuh wawasan. Banyak sekali hal-hal obvious yang ternyata punya sejarah panjang dan dikemas Mas Budi dengan sangat dekat. Saya juga iri dengan kemampuan Mas Budi menceritakan pengalaman personalnya secara visual. Saya bisa membayangkan suasana ruangan 9009 yang penuh-sesak saat Bioskop Kampus, atau bagaimana suasana early-internet di Indonesia saat blog sedang ramai-ramainya.

Tentu saja menulis blog, menyusun arsip, dan berburu piringan hitam menjadi indikator bahwa penulis esai yang baik dan bergizi membutuhkan perpustakaan pikiran yang ekstensif pula. Saya jadi belajar cara mencatat dan juga menyajikan informasi trivial agar menjadi berharga dan juga relatable. Benar-benar definisi buku yang membuat saya iri sekaligus terinspirasi untuk menulis esai.

Kalau Mas Budi menulis buku lagi, saya otomatis beli.
Profile Image for Anton.
157 reviews10 followers
January 28, 2024
Jangan hakimi buku dari sampulnya jelas pepatah yang tak berlaku bagi buku ini. Sampulnya sih tidak jelas dan tidak meyakinkan. Rasanya itu foto mainan anak-anak tahun 1980an, boneka monyet yang bisa nabuh drum setelah diputar dulu tombol di punggungnya. Judulnya juga terlalu ndeso, Trocoh.

Namun, isi buku ini ternyata daging semua. Penuh gizi. Saking enaknya disantap, aku seperti tak mau berhenti membacanya meski disambil kerja di luar kota.

Trocoh berasal dari bahasa Jawa Tengahan yang berarti bocor. Mungkin diksi ini mewakili bocornya pikiran si penulis, seorang pustakawan alumni ITB yang kelihatan sekali rajin meriset dan menulis apa yang dia temukan. Bahkan untuk isu yang oleh sebagian orang mungkin dianggap remeh temeh.

Tema utama buku ini sebenarnya bukan sesuatu yang lekat-lekat amat denganku: musik, film, lagu, musisi, band, dan semacamnya. Namun, karena dia banyak membahas era di mana aku juga hidup dengan semua yang dia ceritakan, jadinya relate banget, kalau kata anak muda sekarang.

Hal menakjubkan adalah karena Budi bisa menulis topik ngepop banget tersebut dengan sangat detail, mendalam, dan mencerahkan. Banyak ilmu. Banyak juga yang bikin nggumun dan ngguyu setelah membacanya. Seru!
Profile Image for Gita Swasti.
323 reviews40 followers
December 28, 2023
Trocoh adalah kumpulan esai yang berjumlah 41. Bagi pembaca yang tertarik dengan musik dan budaya pop, mungkin buku ini bisa menjadi salah satu favoritmu. Saya mengenal Budi Warsito dari Kineruku, Bandung. Ia juga dikenal sebagai kolektor rekaman, buku, dan barang-barang antik.

Dalam setiap esainya, ia selalu menyelipkan referensi musik dan komik. Hal itulah yang membuat saya berkesimpulan bahwa tiap esainya pun dipengaruhi oleh hobinya mengoleksi barang-barang lawas.

Esai-esainya renyah dan gamblang, membuat saya iri mengapa beliau lancar sekali memaparkan kenangan masa kecilnya. Gaya penceritaannya pun konsisten memiliki sisi jenakanya. Saya merasa buku ini punya ritmenya tersendiri.
Profile Image for Dannyart.
90 reviews3 followers
November 22, 2021
Tidak ada tulisan yang tidak bagus, hanya tidak sesuai selera saya saja. Format esai tanpa babak paragraf ternyata melelahkan untuk dibaca. Topiknya rasanya 2/3 bagian tentang musik lawas 80 90 an. Saya yg lahir 99 ora mudeng blas dan cannot relate gitu lhoo.. jadinya sering saya skip bab bab yang murni ngomongin judul lagu, album, penyanyi, yang saya nggak tau sama sekali nama nama tersebut.

Tetap saya kagum bagaimana penulis bisa mengembangkan ide-ide kecil menjadi tulisan berbobot. Beberapa esai seru untuk dibaca, tapi maaf lebih banyak yang bikin otak saya nyut-nyutan dan nggak ngeh inti pembicaraan Mas Budi ini sebenernya ke mana?
Profile Image for Fadel Ananto.
7 reviews
July 9, 2022
Sebuah perjalanan yang panjang. Kurang lebih butuh setengah tahun untuk merampungkan buku ini. Sebagai pribadi yang mencintai musik, buku ini membawa saya melintasi isi kepala dan ruang waktu Budi Warsito, tentunya membuka dan mengenalkan saya ke berbagai khazanah musik dan budaya yang ia ceritakan dalam buku ini. Memang ada bagian-bagian yang membosankan dalam buku ini (saya seringkali ngantuk ketika harus mengikuti cerita-cerita Budi), tapi overall saya suka. Cerita seorang anak yang menyelami kehidupan dan kecintaan ayahnya yang sudah meninggal terhadap musik adalah cerita favorit saya.
Profile Image for Wiwit Astari.
35 reviews1 follower
January 23, 2022
Trocoh. Mengingatkan saya pada masa-masa saya SD, juga mengetahui tentang bagaimana suatu musik, acara, dan sesuatu dibuat. Berisikan tulisan-tulisan mengenai pengalaman, peristiwa juga pengetahuan. Beberapa pengalaman relate dengan apa yang saya alami, jadi sangat asik bernostalgia sembari mengetahui sesuatu dibalik itu semua.
Profile Image for Aang Noviyana.
125 reviews1 follower
March 21, 2023
The writer is really cool (seems like it) with broad knowledge of music. Luckily I read it now when I could spotify or YouTube all the reference, which makes me feel like I could understand Mas Budi just a little more.
Profile Image for Gianina.
34 reviews
November 22, 2025
Suka banget baca tulisan-tulisannya, bagaimana sang penulis nyeritain apa yang ada di kepalanya seperti ensiklopedia yang luas dan mendalam bikin perasaan "how-do-I-live-more" yang akhir-akhir ini gw rasain makin makjleb
38 reviews
September 9, 2021
informatif, banyak cerita yang sangat relatable dan enak untuk dibaca pelan-pelan sambil nostalgia masa kecil.
Profile Image for Toni.
30 reviews4 followers
February 7, 2022
Meskipun beda generasi dengan penulis, tapi saya cukup menikmati buku ini.
Profile Image for shabrina fadhilah.
60 reviews17 followers
November 19, 2023
SOLID FIVE STARS FROM ME.

Buku yang benar2 membuat sy tersenyum2 sendiri dr awal sampai akhir.. lorong waktu yang sungguh menyenangkan dan menghibur!
Profile Image for amalia putri.
9 reviews
October 27, 2024
Kumpulan esai tentang musik, kenangan masa kecil, dan hal-hal acak lain dlm kehidupan yg bikin senang. Seru sekali
Profile Image for Liyo Buna.
3 reviews
November 21, 2021
Teman baik setelah jam pulang kantor. Mendengarkan ocehan mas Budi yang bikin hati getir juga tertawa terbahak-bahak. Juga membuat iri karena ingatan-ingatan masa kecilnya.
Displaying 1 - 24 of 24 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.