#KEBAB15 @kebabreadingclub
Desember 2021 - #Trocoh
Budi Warsito @buswitradio
@penerbitbanana
“Pas kelas 2 SMA pernah punya diary bareng pacar, ampun deh masa remaja… Gantian gitu ngisinya, di buku yang sama, 3 hari di dia, 3 hari di gua.. Tiga hari kayak selamanya! Terakhir sih dia yang bawa, mungkin udah dibuang juga. Nulis apa ya waktu itu.. Pasti banyak bokis-bokisnya lah ya. “ (wawancara Budi Warsito di altspace.id)
sambil menyiapkan #KEBAB15 @kebabreadingclub sehari sebelum acara, saya ketawa-ketawa sendiri malam-malam pas baca wawancara mas buswit di blog altspace.id. dulu pas kami di SMA berasrama di akhir 90an yang punya pacar atau “adek-kakak”an punya diary bersama juga, disebutnya medikom = media komunikasi. ini semacam surat cinta yang diarsipkan, saya lupa juga dulu apa saja yang ditulis, tapi lamanya pacaran bisa diukur dari banyaknya medikom yang kita punya sampai akhir kelulusan sekolah.
membaca Trocoh buku nyentrik dengan jumlah 41 tulisan ini, mau tak mau memori masa kecil, masa remaja, masa kuliah saling silang bergantian muncul. mulai kenangan dari kaset pertama yang kami punya: soundtrack Yuni Shara The Return of Condor Heroes, dan kaset OASIS kado dari temen SMP dibelikan di Disc Tarra MM bekasi karena saya bantuin bikin PR, juga kenangan uang jajan habis demi gegayaan beli kaos Nirvana sablonan di pasar baru, pernak pernik tas Alpina bordiran kartun melet grunge sampai nekat beli sepatu basket NIKE KW di Tampur.
zaman SMP dulu ada tiga aliran di kelas kami: anak grunge penyuka Nirvana (anggotanya cuma dua, saya dan teman sebangku dulu), anak punk penyuka Sex Pistol dan anak grindcore dengan dandanan ala-alanya. ketika membaca tulisan “Punk Pink Ponk!” dan “Kepada Donald di Mana pun Berada”, terasa mas Bud menggali keluar lagi pengalaman-pengalaman personal yang bagi kami sendiri sudah berhenti di masa itu.
tulisan menarik lainnya adalah tentang Paman Kikuk dan paman-paman lainnya, tentang trik klasik di dunia penulisan cerita anak. tulisan tentang Sujud Kendang, sosok yang familiar bagi yang sempat tinggal di perkampungan di Jogja dulu. tulisan kritis tentang tayangan Ria Jenaka, juga tentang senam SKJ yang membuat berpikir ulang tentang pelajaran yang ingin membuat muridnya sehat tapi penilaian berdasarkan hafalan gerakan, sekaligus “pemberontakan” kecil kita dengan gaya nyeleneh dan memparodikan tambahan liriknya (dukun pelet / dukun beranak).
menyambung istilah ‘nyentrik’ yang saya tulis sebelumnya, lain dari tulisan esai biasanya, sepanjang tulisan tidak ada jeda paragraf, juga tidak ada tulisan miring untuk membedakan berbagai bahasa yang dipakai. saat diskusi di KEBAB mas Budi kembali menjelaskan alasan gaya yang dipilihnya ini dan gayung bersambut oleh penerbit Banana yang menerima dan mewujudkannya. semakin banyak mengobrol dengan penulis di KEBAB semakin saya paham alasan-alasan khusus mereka di balik tiap buku yang saya baca.
Trocoh ini bisa jadi salah satu buku penting dalam kehidupan saya sendiri. bukan hanya tentang senangnya akan kesamaan pengalaman dalam rentang yang tidak jauh berbeda, tapi juga sebagaimana arsip penting lainnya, kumpulan tulisan ini jadi arsip ingatan yang bisa dibuka-buka lagi nantinya sekaligus bisa jadi pendorong untuk ikut membekukan memori dalam bentuk tulisan juga.
lalu untuk apa? mungkin jawabannya sesuai salah satu lagu favoritnya mas Budi:
untuk : mengerti akan arti kehidupan…