Jump to ratings and reviews
Rate this book

Jangan Diklik

Surat untuk Hera

Rate this book
Ketika menyaksikan Safira bunuh diri tepat di hadapannya, Hera terpaku, sementara semua orang di sekitar mereka berusaha menyelamatkan sepupunya itu. Di benaknya terus terngiang ucapan Safira sebelum melompat dari jembatan ke sungai yang mengalir deras. Dia bilang, semua ini salah Hera---Safira bunuh diri karena dirinya. Hera memutuskan pindah ke sekolah baru di kota yang berbeda untuk melupakan kematian Safira. Awalnya usahanya membuahkan hasil, tetapi sejak SMS aneh masuk ke ponselnya dan otomatis menginstall sebuah aplikasi bernama JanganDiklik, arwah Safira mendadak mulai menghantuinya---dan terus-menerus berusaha membunuhnya. Setelah berulang kali gagal membunuh Hera, arwah Safira mulai mengincar orang-orang di sekitar Hera, termasuk Max, si berandalan sekolah yang merupakan satu-satunya orang yang membela Hera ketika teman-temannya yang lain menyalahkan Hera atas semua kejadian aneh yang diperbuat Safira. Hera tidak ingin Max terluka gara-gara dirinya. Masalahnya, dia juga tidak tahu bagaimana mengembalikan arwah Safira ke tempat seharusnya…

296 pages, Paperback

First published July 9, 2021

10 people are currently reading
84 people want to read

About the author

Lexie Xu

43 books901 followers
Lexie Xu adalah penulis kisah-kisah bergenre misteri dan thriller. Seorang Sherlockian, penggemar sutradara J.J Abrams, dan fanatik sama angka 47. Saat ini Lexie tinggal di Bandung bersama anak laki-lakinya, Alexis Maxwell.

Ingin tahu lebih banyak soal Lexie?
Silakan kunjungi website-nya: www.lexiexu.com
Facebook: www.facebook.com/lexiexu.thewriter
Twitter: @lexiexu
Instagram: @lexiexu47
Email: lexiexu47@gmail.com

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
14 (17%)
4 stars
34 (41%)
3 stars
23 (28%)
2 stars
10 (12%)
1 star
1 (1%)
Displaying 1 - 20 of 20 reviews
Profile Image for Amaya.
749 reviews58 followers
October 14, 2023
Actual rating: 3,5

Seri ketiga Jangan Diklik menceritakan tentang Hera yang ditinggal kedua orang tuanya meninggal dan dirawat oleh adik dari ibunya. Kehidupannya berjalan seperti biasa, sampai sepupunya, Safira, nekat bunuh diri karena merasa kehadiran Hera menjadi ancaman di rumah Safira sendiri. Beberapa bulan setelah insiden tersebut, Hera pindah sekolah dan kota, lalu menjalani hidup seperti biasa, jika tidak sengaja mengklik link JanganDiklik.net yang dikirim lewat SMS oleh nomor asing di ponselnya. Hera mendapati banyak surat yang Safira tulis untuknya di aplikasi tersebut. Meskipun sempat ragu, Hera membaca semua surat yang ditujukan untuknya dan mendapati kebenaran di balik aksi bunuh diri Safira.

Pertama, aku suka tulisannya. Lebih mendekati tone Rahasia Ayu. Kesan thrilling dan merindingnya juga dapet banget. Sempat ragu di awal, bakal condong ke sendu atau misterinya, ya, ternyata berkat formatnya yang kayak nulis surat, ceritanya nggak datar-datar banget.

Kedua, ya memang awalnya mikir nggak datar, tapi waktu masuk ke pertengahan ada beberapa yang bikin skeptis dan malah bikin bosan. Karakter Hera layer-nya kurang tebal. Poin dia jadi cewek yang tough dan nggak gampang kepengaruh sama bulian dan nggak gampang terintimidasi itu yang kurasa kurang garang (plus ditonjolkan). Ini bagian yang agak disayangkan juga. Terus, Hera ini juga ngarah ke pasrahan. Ada beberapa kali dia niat mau begini dan begitu, udah usaha buat nanya, tapi pas dihadapkan sama tantangannya malah pasrah. Bahkan nggak ada gerakan gitu, lho, buat mencegah atau gimana. Dan ini berulang sampai akhir, sebelum dia ke Bandung itu. Itu pun juga apa ya, usahanya cuma nanya, udah kelar.

Ada beberapa bagian yang cacat logika atau pov-nya bocor. Misal, waktu di ruang BK setelah insiden Lily di lantai 3 itu nggak dijelaskan Max ke mana, masih stay di ruang BK-kah atau udah keluar duluan. Atau aku yang kelewat ini? Karena yang aku ingat cuma temannya Lily aja yang diminta buat stay. Beberapa kali pov Hera bocor waktu dialog sama Max atau dengan yang lain.

Oiya, aku bingung sama karakter Max. Dia ini nggak dijelasin gitu background-nya, tahu-tahu muncul jadi perundung terus kesengsem sama Hera dan gaya deketinnya khas bad boy yang nggak tahu cara buat melakukan hal manis buat crush-nya. Alasannya nggak suka sama Deven juga nggak ada penjelasan sampai akhir. Masa karena cemburu doang? Max ini agak ngingetin aku sama Rex di RA, tapi poin "baik"-nya nggak ditunjukkan dengan jelas. Ya cuma buat Hera aja. Terus doi juga kasar banget, dikit-dikit main fisik. Duh, kamu kok, deg-degan sama cowok macam ini, Her? :(

Aku kurang paham istilahnya apa, entah bener atau enggak, act 3-nya kurang greget bagiku. Jadi kesannya malah antiklimaks. Konflik di bagian akhir langsung disambung penyelesaian (maksudku kayak beneran disambung tanpa ada jeda atau apa) kayak terkesan dipaksakan aja.

Overall, aku puas sih, baca ini. Terutama bagian penampakan Safira yang nongol mulu itu. Ih, bikin susah aja, mana bikin kasur basah, kan? (peace, Fir). Btw, bahas air yang dibawa Safira itu, kok bisa ya hantu langsung nyelakain manusia? Biasanya lewat medium apa gitu, kan? Apa karena ada di tempat dia meninggal jadi kekuatannya tambah kuat?
Profile Image for Karina.
172 reviews32 followers
August 19, 2021
Jujur, saya awalnya agak kaget dengan pace cerita ini yang tergolong cepat. Di beberapa halaman awal, pembaca langsung disuguhkan beragam konflik yang menurut saya cukup bikin merinding. Tapi justru karena itulah saya gak bisa berhenti baca karena betul-betul dibuat penasaran.

Misteri di buku ini menurut saya seru banget untuk disingkap. Hera sebagai tokoh utama pun menarik karena selain baik, dia juga berani. Saya suka banget sama pertemannya dengan Deven dan berantem-berantemnya dia dengan Max (walaupun sejujurnya saya berharap bisa tahu lebih jauh soal background story Max yang bikin dia suka bully orang). Di samping itu, penggambaran tokoh Safira yang awalnya bikin saya merinding pun malah jadi salah satu aspek yang bikin penuturan cerita ini makin seru. Saya suka banget cara penulis membangun misteri di seputar karakteristik tokoh Safira, yang kemudian disingkap pelan-pelan sepanjang cerita.

Meski hanya beberapa kali lewat, beberapa tokoh pendukung punya peran yang cukup kuat di sini. Menurut saya, beberapa bahkan punya potensi untuk dikembangkan lebih jauh di buku-buku selanjutnya. Dengan vibes remaja yang kental terasa, Surat untuk Hera menyuguhkan kisah yang penuh kejutan dan misteri. Dan ending buku ini pun bagi saya cukup gak tertebak tapi somehow pas banget. Rasanya, hampir semua karakter di buku ini get the closure they deserve dan jujur aja, saya betulan ikut sedih di bab-bab terakhir.

Overall, Surat untuk Hera menurut saya jelas bacaan yang seru. Di sepanjang cerita, saya ikut deg-degan plus terkadang ngeri sendiri, jadi saya jelas akan merekomendasikan buku ini bagi teman-teman yang suka fiksi horror remaja atau memang fans berat karya-karya Lexie Xu.
Profile Image for Fikriah Azhari.
363 reviews148 followers
September 5, 2021
“Hai, Hera...
Sudah berapa lama gue berpikir tentang kematian? Eh, tapi tunggu... Mendadak gue menyadari sesuatu. Kenapa gue yang harus mati? Kenapa bukan lo saja?”


“Lo tenang aja, kita akan ke tempat itu bersama supaya tahu dosa siapa yang lebih besar di antara kita.”


Kalau pada buku #JanganDiKlik sebelumnya aku dibuat merinding dengan suasana yang tercipta serta penggambaran 'makhluk' yang menghantui sang tokoh utama, kali ini aku merasakan dendam yang berupaya dibayarkan oleh arwah Safira pada Hera.

Seakan belum cukup menjadi saksi mata tindakan bunuh diri yang dilakukan sepupunya, Hera kembali menelan kenyataan bahwa dialah alasan dari hilangnya nyawa Safira.

Meski hanya hadir sebagai arwah, melalui surat-surat yang ditinggalkan pada aplikasi JanganDiklik!, kita diajak menelusuri isi pikiran Safira serta kenyataan di balik hari kejadian tersebut. Safira sudah bertindak terlalu jauh, dan aku menyayangkan hal tersebut. Rangkaian teror yang Safira lakukan membuatku bergedik ngeri. Dia licik dan sengaja mengulur waktu, membangun panggung untuk membuat Hera semakin menderita, menjadikan Hera penjahat dengan banyaknya penonton yang menyaksikan jebakan yang dibuatnya.

Alurnya cepat namun terarah karena bantuan beberapa tokoh. Straight to the point. Aku bersyukur Hera punya Deven dan Max yang ada di sisinya. Terlebih dengan karakter Deven yang indigo, menghadirkan keseimbangan untuk melawan energi negatif pada aplikasi yang membuat Safira menjadi kuat. Pun, setiap tokoh memang memegang kunci penting untuk menyelesaikan permasalahan yang ada.

Cuma aku merasa kurang bukti sih dari kepopuleran serta prestasi Hera yang terus digemakan. Bahkan aku sempat lupa dengan sisi Hera tersebut jika saja Safira nggak ngungkit hal itu lagi.

Di samping gangguan arwah Safira yang berusaha untuk dilenyapakan, Surat Untuk Hera juga menghadirkan 'topping' manis interaksi Hera dan Max selayaknya romansa remaja—meski mereka lebih sering berinteraksi pakai urat hahaha.

Ditutup dengan adegan yang membuatku tersenyum penuh arti, aku menanti buku selanjutnya dari seri penuh misteri ini—entah apa lagi yang akan dihadapi ke depannya. Tapi ya, begitulah hidup, life as if you were to die tomorrow, right?
Profile Image for Nur Reti Jiwani.
109 reviews27 followers
March 22, 2024
For your information, aku sudah mengikuti series #JangandiKlik ini mulai dari buku pertamanya. Sebagai penikmat buku-buku seram, horor, misteri dan sejenisnya, tentu aku enggak boleh dong ya melewatkan series satu ini. Apalagi penulisnya Lexie Xu and friends.

Tapiiiiiii, sayang sekali.

Buku ketiga ini kuanggap kurang memenuhi ekspektasiku. Well, deskripsinya cukup OK. Penggambaran suasana, keseraman hantunya, dan penceritaan nuansa di sekitar cerita OK. SIP LAH POKOKNYA. Seperti yang sudah-sudah. Aku menyelesaikan buku ini jam 01.00 dini hari dan sumpah ya, MERINDING!

Tapiiiiiiii (lagi-lagi ada tapi disini), aku tidak suka dengan wrapping up ceritanya.

Aduuuh, gimana sih ini jelasinnya :'

Maaf, aku bukan editor buku soalnya. Jadi agak sulit menyampaikan maksudku. Jadi gini loh, sepanjang cerita tuh kan digambarkan kalau sosok 'si Hantu' ini penuh dendam kesumat, supeeeerrr jahat, dan licik. Jadi emosi pembaca tuh makin naik, makin naik, berharap ada penyelesaian yang 'JEDUUUAAAAR' tapi ternyata enggak ada. ~

Malah, jadi rada 'njomplang' ketika si hantu berubah jadi rasional dan lembut hati di akhir ceritanya. Ngerti sih intensi penulisnya apa, pesan moral yang mau dibawa tuh apa, cuuummaaaaaa akunya yang tidak puas (sekali lagi, ini pendapatku pribadi loh ya. SUBJEKTIF!).

Secara keseluruhan buku ini mendapat predikat IT WAS OK. So, 2 bintang bukan berarti bukunya jelek, tak layak baca atau gimana-gimana. INI BUKU LOH, BUKAN HOTEL. WKWKWK. Jadi 2 bintang berarti THIS BOOK IS OK, bagus kok. Cuma ya belum ditahap yang bikin aku syuka sekali ajah ~ :D
Profile Image for Irma Nurhayati.
138 reviews4 followers
November 7, 2021
Ini series ketiga. Penulisnya beda-beda ya, aku baru ngeuh.

Kalau yang ini lebih ke konflik keluarga. Spoiler dikit aja ya, si setan otaknya agak miring. Semasa hidupnya ga pernah besyukur satu kali pun. Ampe pengen noyor dia pake tongkat bisbol.

Kalau yang ini thrillernya super kerasa, ukuran anak SMA ini serem banget sih. Yang sayang banget di sini tuh, cowonya kelewat macho wkwkwkwk

Ya, ada bumbu romance-nya juga.
Profile Image for Nining Sriningsih.
361 reviews38 followers
July 20, 2021
ehmm..
Jujur, kl bukan karena novel Kalex, q nggak baca..
biz temanya Horor, mana hantunya muncul seram..
kl jadi film, yakin nggak bakal q nonton, karena q nggak suka genre horor..
:p

tapi tetap suka kok dengan novel Kalex..
di tunggu Kalex, novel selanjutnya..
:D
Profile Image for Fahri Rasihan.
478 reviews125 followers
September 17, 2021
• Judul : Surat untuk Hera
• Penulis : Erlin Cahyadi & Lexie Xu
• Penyunting : Dwi Ratih Ramadhany & Anastasia Aemilia
• Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
• Terbit : 9 Juli 2021
• Harga : Rp 89.000,-
• Tebal : 296 halaman
• Ukuran : 13.5 × 20 cm
• Cover : Soft cover
• ISBN : 9786020647487

"𝘞𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘭𝘪𝘵, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘭𝘢𝘮𝘢-𝘬𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘢𝘯 𝘭𝘰 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘴𝘪𝘯𝘺𝘢." (hal. 45)

Semenjak Safira tewas akibat bunuh diri, Hera kerap dihantui oleh arwah sepupunya tersebut. Hera sendiri harus menerima kenyataan yang pahit saat kedua orangtuanya meninggal dunia. Akibatnya, Hera harus tinggal bersama Tante Hilda dan Safira. Kehadiran Hera di tengah keluarga Safira awalnya terasa biasa saja. Namun, seiring berjalannya waktu, Tante Hilda kerap membandingkan Safira dengan Hera. Apalagi Tante Hilda terlihat lebih perhatian terhadap Hera dibandingkan dengan anaknya sendiri, Safira. Oleh sebab itu, Safira mulai membenci Hera. Kehadiran Hera dalam hidup Safira seperti bencana. Padahal Hera sendiri tidak bermaksud demikian. Dia hanya menumpang di rumah Safira dan tahu akan posisinya tersebut. Akan tetapi, Safira salah menangkap semua hal yang terjadi dan malah membuat asumsi sendiri. Sampai terbesit niatan untuk bunuh diri dalam benak Safira. Dan pada akhirnya Safira meregang nyawa akibat ulahnya sendiri. Kematian Safira malah menjadi sumber masalah baru untuk Hera. Di mana dia kini sering diteror oleh arwah Safira yang bergentayangan. Teror itu dimulai saat Hera, secara tidak sengaja, menekan tautan situs bernama JanganDiklik dalam ponselnya.

Setelah menekan tautan situs tersebut, secara tiba-tiba aplikasi JanganDiklik sudah terunduh di ponsel Hera. Anehnya, Hera tidak dapat menghapus aplikasi tersebut dari ponselnya. Saat membuka aplikasi JanganDiklik, Hera menemukan surat yang ditulis Safira untuk dirinya. Tak hanya Hera, Tante Hilda pun turut menerima surat dari Safira. Inti dari surat-surat tersebut adalah perihal rasa benci Safira terhadap Hera. Kini Hera harus mencari cara agar Safira bisa berhenti menghantui dirinya. Hera pun meminta bantuan pada Deven, teman satu sekolahnya. Menurut rumor yang beredar, Deven merupakan anak indigo yang mampu melihat makhluk tak kasat mata. Pertemuan Hera dan Deven pun diawali dengan keributan yang diciptakan oleh Max. Secara tidak langsung, Deven dan Max sekarang sudah terlibat dalam urusan Hera yang berisiko dapat membahayakan nyawa mereka. Safira tidak segan untuk menyakiti orang-orang yang berusaha membantu Hera. Melihat mara bahaya yang datang tepat di depan matanya, Hera berusaha secara mati-matian agar dapat menghentikan teror yang dilakukan oleh Safira. Akankah nyawa Hera dan teman-teman yang turut menolongnya bisa selamat? Mampukah Hera menghentikan teror yang dibuat oleh Safira?

"𝘓𝘰 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶, 𝘭𝘰 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘮𝘢𝘬𝘩𝘭𝘶𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘬 𝘬𝘢𝘴𝘢𝘵 𝘮𝘢𝘵𝘢, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘳𝘵𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢." (hal. 171)

Ini menjadi kali kedua bagi saya membaca novel seri JanganDiklik. Sebelumnya saya sudah terlebih dahulu membaca Ketika Sukma Terjaga yang ditulis oleh Dadan Erlangga. Kali ini di buku ketiganya, Surat untuk Hera, ditulis oleh Erlin Cahyadi. Sedikit informasi, seri JanganDiklik ini merupakan kolaborasi Lexie Xu dengan beberapa penulis. Di setiap bukunya akan ada benang merah yang sama, yaitu teror yang tercipta akibat aplikasi JanganDiklik. Sejauh ini menurut saya masing-masing buku bisa dibaca secara terpisah, tanpa harus membacanya secara runut. Dari tiga bukunya yang sudah terbit, masing-masing buku memiliki konsep dan tema 𝘤𝘰𝘷𝘦𝘳 yang seragam. Keseragaman 𝘤𝘰𝘷𝘦𝘳 bukunya ini menjadi pemicu yang kuat untuk mengoleksi setiap bukunya. Surat untuk Hera juga mempunyai 𝘤𝘰𝘷𝘦𝘳 buku yang tak kalah suram dan mencekam dengan dua buku pendahulunya. Dominasi warna hitam dari gelap malam ditambah ilustrasi kolam renang dengan warna merah seakan dapat membawa aura kelam nan menakutkan. Konsep yang dibuat dalam setiap 𝘤𝘰𝘷𝘦𝘳 bukunya ini berhasil memicu bulu kuduk untuk bangkit berdiri.

Konsep horor yang diusung dalam Surat untuk Hera masih terasa mirip dengan Ketika Sukma Terjaga. Hanya saja dalam Surat untuk Hera, peran aplikasi JanganDiklik ini terasa lebih dominan. Di awal cerita saja penulis sudah langsung "menghajar" pembaca dengan teror yang diciptakan oleh aplikasi tersebut. Hera yang baru saja kehilangan Safira karena bunuh diri, harus menerima teror dari arwah sepupunya tersebut. Surat-surat yang ditulis Safira untuk Hera melalui aplikasi JanganDiklik menguak fakta tentang alasan dibalik rasa tidak suka Safira terhadap Hera. Hera yang berpacu dengan waktu serta nyawa, dipaksa untuk segera mencari cara menghentikan aksi Safira. Perpaduan antara cerita horor dan remajanya terasa pas dan mantap. Masing-masing memiliki porsi yang tidak berlebihan. Di satu sisi saya bisa menikmati bagian horor yang meneror. Di sisi lain saya juga menyukai kehidupan remaja yang membawa nostalgia. Penampakan yang disertai aktivitas supranatural yang ekstrem seakan mampu memicu adrenalin saat membacanya. Sedangkan kehidupan remaja, seperti belajar di kelas, membaca di perpustakaan, hingga dipanggil ke ruang BK mampu membawa kenangan lama saat masih duduk di bangku SMA.

Ada dua tokoh inti yang mampu menghidupkan jalan ceritanya, yaitu Hera dan Safira. Hera merupakan tokoh protagonis yang digambarkan sebagai seorang gadis yang baik hati, pemberani, dan mandiri. Kebaikan hati Hera dapat dilihat pembaca saat dirinya membela Deven dari perundungan yang dilakukan oleh Max. Sedangkan keberanian Hera muncul saat mau tak mau dia harus menghadapi penampakan arwah Safira. Dan terakhir kemandirian Hera tumbuh saat dirinya harus bertahan hidup sebagai anak yatim piatu. Lalu ada tokoh Safira sang antagonis. Safira adalah sepupu Hera yang memutuskan untuk bunuh diri, karena perasaan iri dengki. Safira menpunyai watak yang tempramental, selalu ingin jadi pusat perhatian, dan egois. Seluruh syarat untuk menjadi tokoh antagonis ada dalam diri Safira. Malah saat sudah menjadi hantu pun Safira masih menunjukkan sifat negatifnya yang bikin emosi setengah mati. Selain Hera dan Safira, ada dua tokoh lain yang tak kalah pentingnya, yaitu Max dan Deven. Max adalah teman satu kelas Hera yang kerap berulah dengan kelakuannya yang membangkang. Sedangkan Deven adalah anak indigo yang akan membantu Hera menghentikan teror Safira. Semua karakternya bisa diciptakan dengan baik oleh penulis. Masing-masing tokoh memiliki karakter yang kuat dan berbeda. Tidak sulit untuk saya mengingat dan membedakan setiap tokohnya. Namun, karena nama Hera dan Safira sekilas terdengar mirip, terkadang saya sering tertukar saat membacanya.

Alur ceritanya berjalan dengan cukup cepat. Di awal cerita saja penulis seakan tidak ingin basa-basi untuk menyuguhkan sajian horornya. Namun, sayangnya di tengah-tengah cerita, entah kenapa saya merasa jika penulis terlalu mengulur-ulur waktu untuk memecahkan misteri teror arwah Safira ini. Gaya bahasa dan bercerita penulis termasuk ringan dan mudah dimengerti. Bahkan saking ringannya, penulis bisa membuat saya penasaran setengah mati akan misteri yang tersaji. Sehingga tidak heran saya dengan gampangnya dapat kecanduan untuk membalik setiap lembar halaman bukunya. Pokoknya Surat untuk Hera ini merupakan jenis novel yang 𝘱𝘢𝘨𝘦 𝘵𝘶𝘳𝘯𝘦𝘳 untuk dibaca. Sudut pandang yang dipakai adalah sudut pandang orang pertama dari tokoh Hera. Lewat sudut pandang ini saya dapat ikut merasakan kegelisahan, kekhawatiran, hingga ketakutan yang dirasakan oleh Hera. Penulis sukses membawa setiap emosi Hera pada pembaca dengan sudut pandang ini. Jalan ceritanya sendiri berlangsung di dua tempat, yaitu Jakarta dan Bandung. Meskipun demikian, saya tidak terlaku merasakan atmosfer dari kedua kota ini. Namun, penggunaan tempat seperti ruang kelas, sungai, jembatan, hingga gedung olahraga mampu menghidupkan nuansa horor dalam jalan ceritanya.

Konflik yang berlangsung dalam Surat untuk Hera berfokus pada teror yang dilakukan arwah Safira terhadap Hera. Kematian Safira nyatanya malah membawa petaka untuk Hera. Arwah Safira bergentayangan semenjak Hera menekan tautan aplikasi JanganDiklik. Hera seakan mendapatkan mimpi buruk setelah aplikasi JanganDiklik tersebut secara ajaib terunduh di ponselnya. Aplikasi itu berisi surat-surat Safira yang ditujukan pada Hera. Hera merasa bingung dan khawatir dengan teror yang dilakukan Safira terhadap dirinya. Konfliknya terasa cukup ringan dan mudah untuk dinikmati. Arwah yang bergentayangan memang terasa cocok untuk menjadi bahan utama dalam sebuah konflik cerita horor. Saya cukup menikmati cara penulis dalam mengeksekusi konfliknya. Di mana penulis tidak segan-segan untuk memperlihatkan sisi brutal dari kemunculan arwah Safira ini. Semua aksi dan perbuatan Safira dapat membuat tubuh bergidik ngeri membayangkannya. Akan tetapi, sayangnya penyelesaiannya terasa kurang gereget bagi saya. Rasanya terkesan terlalu tiba-tiba dan mudah untuk membuatnya menjadi seperti itu. Padahal harapan saya penyelesaian konfliknya bisa jauh lebih dramatis lagi.

Perpaduan antara cerita horor dan kehidupan remaja yang ditulis terasa pas. Sebagai pembaca saya bisa mendapatkan dua sensasi saat membaca Surat untuk Hera, merinding dan menyenangkan. Meskipun terlihat bertolak belakang, tapi ternyata dua jenis cerita ini bisa dipadukan dengan baik di sini. Selain itu cara penulis dalam menggambarkan teror yang dilakukan oleh arwah Safira terbilang brutal dan tak bisa dibayangkan jika itu semua terjadi di kehidupan nyata akan seperti apa jadinya. Kehidupan remaja yang dikisahkan pun terasa kuat dan memicu nostalgia, khususnya untuk pembaca dewasa. Gaya bercerita penulis menjadi amunisi lainnya yang mampu membuat saya betah dan candu saat mengikuti setiap bagian ceritanya. Kekurangan yang saya rasakan selama membaca Surat untuk Hera adalah penulis terkesan seperti sedikit bertele-tele dalam menguak misteri teror Safira ini. Selain itu hobi dan prestasi Hera dalam berenang masih terasa kurang dieksplor. Padahal 𝘤𝘰𝘷𝘦𝘳 bukunya sendiri menggunakan ilustrasi kolam renang, tapin sayangnya hobi berenang Hera cuma terkesan seperti tempelan saja. Secara keseluruhan Surat untuk Hera adalah komposisi yang pas antara cerita horor dan kehidupan remaja yang cocok dibaca oleh anak SMA maupun pembaca dewasa.

"𝘕𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘩𝘪𝘳 𝘫𝘢𝘩𝘢𝘵 𝘥𝘪 𝘥𝘶𝘯𝘪𝘢 𝘪𝘯𝘪, 𝘏𝘦𝘳. 𝘉𝘪𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘫𝘢𝘩𝘢𝘵 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘬𝘦𝘢𝘥𝘢𝘢𝘯 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘭𝘪𝘯𝘨𝘬𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯." (hal. 284)
Profile Image for Ica Agustin.
96 reviews
December 16, 2022
ceritanya hampir sama kayak Rahasia Ayu
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Viri Shin.
165 reviews
March 24, 2023
⭐2,5/5

Nggak ada yang spesial di novel ketiga ini. Sama kayak buku pertama, nggak ada kesan membekas yang aku dapetin.

Cerita cuma dipenuhi sama penampakan dan scene gemes pasangan SMA. Resolusi di akhir pun gak meledak-ledak dan gak nyoba untuk bikin plotwist ringan kayak di buku kedua. Vibes misterinya kurang, bahkan masih ada hal-hal yang belum dijelaskan yang bukannya bikin itu jadi misteri tak terpecahkan, malah jadi plothole.

*spoiler*
Masih bingung, apa alasan Nancy gak berhasil nyelamatin Safira? Itu berpotensi untuk bikin cerita jadi lebih seru tapi tau-tau aja langsung dimatiin. Dan begitu aja ngebelokin masalah ini disebabkan oleh kurangnya komunikasi antara ibu dan anak?? Trus Safira dibilang punya temperamen abnormal tuh seketika dilupakan gitu aja? Tau-tau ternyata Safira punya sisi baik?

Aneh kalo dicerna, tapi bakal jadi cerita yang terlalu kompleks emang, kalo dibahas semuanya dan diperluas lebih dalam. Lagian ini cuma teenlit kan. Mungkin juga maunya cuma berfokus sama surat-surat untuk Hera, makanya yang lain akhirnya gak dibahas.
Tapi tetep aja, aku bisa dibilang kecewa ternyata bener-bener bergaya teenlit yang permasalahan dan penuntasannya bisa sebegitu ringannya. Tau-tau udah selesai aja, antagonisnya udah baik aja, padahal sebelumnya digambarkan jahat banget 🥲
Mana Max, yang berperan jadi preman ternyata nggak sepreman itu. Ah tapi ini penilaian subjektif sih, dulu kalau aku baca ini pasti suka-suka aja sama Max. Tapi sekarang, yah sangsi banget ada modelan preman sekolah yang sebijak dia.

Dari tadi aku ngeluh aja, sekarang mau bahas hal yang aku suka. Tentu aja penceritaannya. Penulis pinter untuk bercerita dari sudut pandang pertama dengan gaya showing yang mudah untuk dicerna dan dibayangkan. Tapi, lagi dan lagi ada hal yang nggak aku suka, yaitu diksi yang dipilih di dalam cerita. Entah berapa kali kata 'anarkis' dipakai oleh tiga orang yang mana kalau emang ini gaya bahasa dari Hera, tapi kenapa ada tokoh lain yang make? Jadi gagal nunjukin perbedaan pribadi tiap tokohnya. Meski gitu, aku acungi jempol kerapian tata tulisnya. Walau disayangkan tiap akhir bab nggak dibuat memancing pembaca untuk terus lanjut baca.

Itu aja deh, peace! ✌️
Profile Image for Naza N.
359 reviews10 followers
September 2, 2021
Actual rating: 3.5 ⭐

Surat Untuk Hera adalah buku ketiga dari seri JanganDiklik!. Setelah Ayu dan Rena, kini teror situs JanganDiklik.net beralih menghampiri Hera. Teror tersebut didalangi oleh Safira, sepupu Hera yang mati karena bunuh diri. Dipengaruhi dendam yang mendalam, Safira pun berniat untuk mengambil nyawa Hera sebagai ganti penderitaannya. Namun, ketika dia gagal, dia mencoba melukai orang-orang terdekat Hera: Verline, Deven, dan bahkan Max, si preman sekolah yang setia berada di sisi Hera ketika semua orang menyalahkannya atas segala teror yang terjadi.

Dibanding dua buku sebelumnya, Surat Untuk Hera ini punya alur yang paling cepat. Tidak perlu lama-lama bagi misteri untuk dimulai, karena kemunculan situs misterius bernama jangandiklik.net itu bisa langsung tampak di beberapa halaman awal. Meski begitu, kecepatan ceritanya masih masuk akal, sehingga aku enggak ngos-ngosan saat membacanya. Ketegangannya justru terbangun dengan sangat baik berkat ini.

Namun, karena kecepatan ini juga, rasanya ada beberapa bagian penting yang kurang ter-highlight. Pertama, ketidaksukaan Safira kepada Hera. Karena hanya diceritakan lewat surat-surat Safira di situs jangandiklik, perasaan benci Hera yang mendalam jadi kurang terasa. Aku merasa kalau alasan Safira benci Hera ini rada dangkal.

Lalu, masalah Deven dan Max. Kenapa Max harus sebrutal itu sama Deven? Apakah masalahnya hanya sebatas karena Deven punya kemampuan yang di luar nalar? Ini entah karena memang Max rada ngeselin aja memang, atau ada cerita di balik itu yang lebih kompleks lagi sehingga mereka berdua macam kucing sama tikus tiap ketemu.

Untuk porsi romansanya oke, lah. Tidak terlalu banyak sehingga tidak meng-overshadow aspek horor dan misteri yang ada. Hanya saja, aku merasa kemistri antara dua tokoh utama ini kurang terbangun dengan baik. Meski begitu, mereka tetap sweet, kok. 🙈

Aku enggak sabar mau baca seri selanjutnya.
Profile Image for Sara Chrisenka.
35 reviews4 followers
October 24, 2021
This book has the same problem with the first book.
Same conflict pattern, same relationship development, same type of love interest whose personality is to get violent for no reason.... It was very predictable that when the heartfelt scene between Tante Hilda and Safira came, I just felt nothing. I also wished that the author dug deeper to the underlying mental health issue that Safira had instead of vaguely mentioning it.

By the way, what is it with the author and a bully/violent male lead? Lmao. I guess they need a buff male character to endure the power of supranatural beings (?). I would be pissed if Max showed up again in the fourth book, but I don't mind Deven getting featured in the fourth book. At this point, I don't know if I like Deven because he is an interesting, complex chara or it's just because I'm fed up with the mainstream male charas in the series.

Reading this made me kinda miss Johan series or Omen series. I mean sure, there were some flaws where I had to apply suspension of logic just so I enjoyed the plot more without nitpicking on them too much. But overall the story was interesting and creepy and made me want more. This series... well, not so much. I don't think I'll continue reading the continuation unless my friend convinces me it's different than the previous books.

Since this book is a collaboration work between Lexie Xu and Erlin Cahyadi, I am not sure how big Lexie Xu's role in this book. Nevertheless, I just have to say this: I think Lexie Xu deserves a long break before writing the next book/series. She can write so much better than this.
Profile Image for 3unfly.
63 reviews2 followers
January 12, 2026
"Nggak ada orang yang terlahir jahat di dunia ini, Her. Biasanya mereka menjadi jahat karena keadaan atau lingkungan."

3.5/5⁠☆
A story of Hera facing the unfairness of the world from the ghost of her cousin.

I don't know but psychopath ghost doesn't seems click with me, it isn't fair at all because they couldn't get as much help and trust from people. I always enjoy psychopath series from Lexie Xu, but this. I almost want to stop everytime the attack came, I ended up skip a few pages to see what happen before going back to the last page I read.

Honestly, I already read two books from Erlin Cahyadi and I really love Bayangan Kematian. I love the plot and it does involve ghost so I was thinking that maybe I will also love this book. Combining ghost and psychopath in one book, that's unique. But sadly, my expectation gets low easily in the first few chapters.

I don't remember how I read the first and second book of this series because I don't review the book properly, but one thing about this book is it has general characters that very hard to be loved. I only like Deven's character here to be honest. The main character is too inconsistent, both Hera and Alex. And the villain? She's a real psychopath. Other figurant characters are also didn't help, they only made me want to skip their dialogues.

This long review is because I really want to love this book because Lexie Xu has always been my childhood, and both Erlin Cahyadi and Dadan Erlangga are my all-time favorite co-authors of her. I did read this book in less than 24 hours, but I'm sorry I can't say I'm satisfied.
Profile Image for Umul Amalia.
7 reviews
January 4, 2023
Cukup mengecewakan dibanding dua cerita #JanganDiklik sebelumnya. Romansa antara Max dan Hera rasanya bikin mengernyit, errr, banget. Alih-alih ikut tersipu, saya malah berpikir itu aneh. Bisa-bisanya Hera menyukai Max, padahal dia adalah cowok yang anarkis. Jatuh cinta cuma karena senyumnya? Sedikit lebih masuk akal romansa Ayu-Rex di Rahasia Ayu.

Hantunya Safira juga terasa overpower. Dia bisa menyentuh manusia, tapi manusia nggak bisa menyentuh dia? Benar-benar di luar nalar karena penjelasan atas semua kejadian ini hanya karena "dia punya kekuatan melalui HP dan aplikasi".

Dan setelah semua huru-hara yang diakibatkan Safira, endingnya "hanya begitu"?
Profile Image for kik.
159 reviews1 follower
December 6, 2023
Astaga, buku ketiga ini paling kerasa tegangnya di sepanjang baca, walaupun awal2 sempet agak slow 😭 balas dendamnya safira lebih barbar dan lebih beneran serem ketimbang leoni di buku 1, walau alasannya masih rada2 aneh (tapi ya maklum dikit sih, doi masih "remaja labil). Tapi hal itu juga nunjukin betapa ngerinya kalau salah ngasuh bocah 😔

Selama baca ini bener2 sulit nebak arahnya kemana dan endingnya gimana. Tapi aku suka dengan penyelesaiannya gimana. Udah nyiap2in diri juga bakal kena gocek plot twist (udah curiga kalo deven jahat wkwkwk) tapi zonk. Gapapa deh, intinya suka sama ni buku 🫶🏻
Profile Image for vira.
20 reviews1 follower
November 29, 2024
3.0

It's been a while since the last time I read this kind of novels.

Mengangkat genre mystery, horror & thriller dengan alur cerita yang cukup cepat, saya berhasil dibuat merinding di beberapa bagian cerita, khususnya ketika penulis mendeskripsikan sosok Safira.

Namun karena alurnya yang cepat, saya menemukan beberapa plot hole sehingga saya tidak bisa menikmati keseluruhan cerita seutuhnya.

Meskipun demikian, buku ini tetap menggungah rasa penasaran saya tentang situasi yang dialami oleh Hera.
Profile Image for umayeo.
9 reviews
August 17, 2022
Surat Untuk Hera adalah buku horor pertamaku. Alurnya cepat dan bahasanya mudah dipahami. Kisahnya klasik, benar-benar horor Indonesia banget. Tertarik baca ini karena 'Hera' adalah orang penting dalam hidupku. Bagus untuk pemula horor yang gak mau kebayang-bayang sama hantunya. Walaupun sepanjang baca tetap bergidik ngeri karena penjelasan 'sosok hantu' dituliskan dengan jelas dan detail.
Profile Image for C.
166 reviews1 follower
June 1, 2024
⭐️: 4.5/5

after a while.. baca buku kurang dari 24 jam. mungkin karena novel remaja, jadi alur dan bahasanya dapat dipahami dengan cepat. cerita yang diangkat pun terjadi di kehidupan sehari-hari. safira deserves better though. she deserves a better life if only their parents realize it sooner.. a good one! i will consider to read the previous and the next one from this series #JanganDiKlik
Profile Image for Maharani Dewi.
40 reviews
May 9, 2024
Dibuku ini, suasananya terasa begitu mencekam. Melalui surat-surat di aplikasi 'jangandiklik!' yang terpasang di hp Hera, kita diajak menelusuri isi pikiran Shafira.

Karya Kalex emang ga pernah gagal membuat pembaca deg-degan plus ngeri.
Displaying 1 - 20 of 20 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.