Bercerita tentang Indonesia di 2035 yang menerapkan sistem Artemis; yakni aplikasi untuk rating dan review manusia, dengan tujuan menciptakan keamanan dan kenyamanan, serta meminimalisir tindak kejahatan. Untuk tujuan itu, setiap akhir tahun, tepatnya di bulan Desember, pemerintah mengadakan sebuah event nasional bernama Hunting Season, yakni satu pekan di mana warga yang ratingnya 1 dari 5, akan dieksekusi oleh para eksekutor.
Artemis: Rebellion adalah buku yang bersetting di Indonesia tahun 2035 dengan berbagai teknologi canggih yang sudah digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu dari teknologi tersebut adalah Artemis yang merupakan sistem yang digunakan untuk memberikan rating pada setiap orang dengan kriteria tertentu seperti menjadi teman di aplikasi Artemis atau hanya sekadar mengetahui nomor anggota Artemis. Tujuannya untuk menekan angka kriminalitas. Di akhir tahun selalu ada Hunting Season yaitu periode saat orang-orang berbintang 1 harus dieksekusi oleh tim yang disebut Eksekutor.
Hal yang aku suka : + blurb menggambarkan dengan baik gambaran cerita yang akan didapatkan pembaca dan cukup intriguing + cerita to the point, tidak basa-basi, langsung menuju inti dari kisahnya Artemis, masalah-masalah yang ditimbulkan dan kengerian Hunting Season + ide cerita yang diangkat mengenai bagaimana sebuah aplikasi (yang rentan peretasan dan masih mengandung celah) bisa digunakan menjadi dasar untuk menilai baik-buruknya seseorang hingga menghilangkan nyawa seseorang dengan rating rendah. + pemilihan kata yang digunakan untuk narasi tidak repetitif, bisa menggambarkan dengan sangat baik kondisi lingkungan maupun keadaan yang dialami oleh karakter di dalamnya + kritik terhadap orang-orang yang memangku jabatan tertentu, bagaimana kekuasaan yang digunakan untuk mencapai tujuan yang lebih besar akan menimbulkan dampak yang sangat besar + aspek thrillingnya dapet, terutama ketika Eksekutor muncul dan beraksi. Keberadaan Eksekutor di dalam buku ini berhasil dibuat menjadi sosok yang ditakuti sekaligus misterius yang tentu saja membuat pembaca semakin penasaran. + monopoli media dan informasi oleh pihak yang berkepentingan yang bertujuan untuk mengarahkan opini publik terhadap hal-hal tertentu sehingga publik berfokus pada hal tidak sebenarnya terjadi + penulis berhasil membuat semua karakter yang muncul di buku ini sebagai karakter yang bikin kesel + endingnya membuat pembaca penasaran dan ngeri, yang sepertinya bakal ada buku keduanya.
Hal yang kurang aku suka : - tidak ada pembeda atau tanda baca yang menandai kalau seseorang sedang berkata dalam hati. Hal ini membuat pembaca kebingungan kenapa tiba-tiba ada kata ganti orang pertama di tengah paragraf yang menceritakan sesuatu dengan kata ganti orang ketiga - terlalu banyak karakter yang diceritakan sehingga personally buku ini kurang mendalami karakter yang diceritakan karena berpindah dengan cepat dari satu karakter ke yang lainnya. Beberapa karakter pun mudah dilupakan seperti Bara dan anak buahnya, sehingga waktu nama mereka muncul atau sesuatu terjadi pada mereka, aku tidak merasa penasaran atau gimana-gimana. - penasaran dengan POV dari pihak yang menjadi dalang semua kekacauan ini, karena hampir semua orang yang terlibat diceritakan di buku ini. Kalau bisa menceritakan dari POV antagonis mungkin bakal lebih seru dan karakter antagonis ini tidak one dimensional. - banyaknya teknologi canggih yang dimunculkan di cerita yang hanya sebentar saja, yang membuat pembaca penasaran dan ingin tahu lebih lanjut bagaimana teknologi tersebut digunakan di kehidupan sehari-hari - beberapa hal seperti bagaimana Eksekutor melacak para bintang 1, kisah Bu Ningsih yang membuat dia mengambil sebuah keputusan, hingga bagaimana metode pendistribusian sesuatu yang penting dilakukan tidak dijelaskan lebih detail sehingga masih meninggalkan pertanyaan - gaya penulisan penulis sebenarnya mudah diikuti dan tidak membingungkan tapi entah kenapa rasanya kurang cocok sama aku - personally, aku kurang suka kata-kata dalam huruf kapital tebal yang menggunakan alignment center di akhir satu bagian, yang sebenarnya adalah penekanan terhadap akhir dari bagian tersebut.
Secara keseluruhan Artemis: Rebellion adalah kisah yang membuat aku merenungkan hal-hal yang terjadi di dunia saat ini. Aku sebagai orang yang merasa rating Goodreads tidak cukup mewakili pendapat aku mengenai sebuah buku, pastinya bakal kesel kalau Artemis benar-benar ada. Pesan mengenai betapa kompleksnya manusia dan betapa banyaknya layer dalam karakter manusia itu sendiri sehingga sebuah aplikasi canggih dari luar negeri pun tidak bisa benar-benar memberikan nilai yang tepat sudah tersampaikan dengan baik.
Temen-temen pasti udah nggak asing sama sistem rating kan? Sekarang kalau suka sama makanan dan pelayanan nya, pasti bakal kasih rating bintang 5 di Google maps untuk restorannya, atau malah nggak ragu kasih rating 1 hanya gara-gara viral di jagat maya tentang pelayanannya yang buruk. Bahkan yang terbaru, masyarakat Indonesia rame-rame kasih bintang 1 untuk Sungai Aare Swiss, padahal bisa jadi mereka sama sekali belum pernah kesana. Dan tentu aja itu jadi sorotan kan?
Itu baru penerapan rating untuk tempat, gimana kalau untuk manusia? Maksudnya semua orang punya rating, nggak hanya kurir aja gitu? Kalau penasaran, buku Artemis: Rebellion ini bisa kasih sedikiiiit bocoran kalau rating pada manusia beneran diterapkan.
Dengan setting Indonesia pada tahun 2035, Augmented Reality Track Evaluation Mobile Integrated System yang disingkat ARTEMIS, sudah beberapa tahun diterapkan, dengan tujuan untuk menekan angka kriminalitas.
Jadi pada sistem ini, orang-orang yang ada dalam daftar Artemis kita bisa kasih rating, dan setiap tahun direset. Tapi sebelum reset, ada Hunting Season, dimana orang-orang dengan rating 1 bakalan di eksekusi. Nah pas eksekusi ini sih, aku rasa penyuka thriller bakalan suka 😭
Yaah namanya juga sistem yang dibuat manusia, pasti nggak sempurna kan? Dan ini jadi kesempatan hacker untuk bikin kekacauan dengan membuat situs God Hand yang bisa memanipulasi rating seseorang.
Soal alur ceritanya, juara banget! Banyak plot nggak terduga, banyak karakter yang menurutku penting tapi ditamatin sama author, trus nggak ada karakter baik atau jahat disini, semuanya cuma mementingkan diri sendiri untuk bisa bertahan hidup. Yang bikin miris adalah, gimana sistem Artemis ini mengontrol manusia, ada yang rela pura-pura baik demi dapat bintang 5. Ada juga yang menunda kasih rating supaya dia bisa terus mengontrol seseorang untuk bisa bersikap baik. Ah tega banget pokoknya.