Dunia yang dihuni oleh Sangsaka dan Kalinda penuh dengan mitos dan kutukan
Pasca mengikuti Ritus Pinilih: ritual kedewasaan yang wajib diikuti bagi yang cukup umur, keduanya mendeklarasikan akan menjadi Majava. Hal itu sontak menimbulkan polemik, bagai percik api di lumbung jerami kering yang siap menghuru-harakan tanah kelahiran mereka.
Majava adalah dongeng sebelum tidur untuk anak-anak yang nakal Majava adalah momok bagi orang dewasa yang melanggar tiga belas perintah Majava adalah kontrol sosial
Bersamaan dengan itu ada pihak yang menunggangi, berupaya menjadikan Sangsaka dan Kalinda sebagai sumbu untuk membakar dan mengganti tatanan lama pemerintahan yang dianggap terlalu ajek dan kuno. Demikian, perang berdarah tak terhindarkan.
Maja(va), manifes dari buah dan nasib yang pahit (Ma)java, bahwa tidak ada kekuasaan yang hadir tanpa dengan mengorbankan
Sarongge adalah dunia fiksi yang diciptakan oleh sang penulis lewat imajinasinya. Dituangkan dalam kata-kata sehingga membuat pembaca membangun imajinasinya sendiri. Karena imajinasiku kadang suka tak terkendali, aku menganggap Sarongge sebagai dunia yang dengan alam dan keindahan untuk dinikmati. Tanpa gadget, tanpa polusi, tanpa gedung dan bangunan berkaca lainnya.
𝑊𝑜𝑟𝑙𝑑 𝑏𝑢𝑖𝑙𝑑𝑖𝑛𝑔 yang dibuat oleh sang penulis sungguh luar biasa. Dibubuhi dengan kentalnya aturan adat dan budaya yang ada, hanya dengan mengikuti jalan cerita yang ada maka pembaca akan langsung tahu bahwa kisah ini mengandung kearifan lokal yang sangat mengagumkan ✨
Antara keluarga, cinta dan takdir. Mana yang akan kau pilih?
Ini kisah yang sangat mendebarkan sekaligus menegangkan. Tentang sepasang kekasih yang terpisahkan oleh takdir. Mereka dilarang jatuh cinta karena itu merupakan larangan tertulis. Mereka hanya boleh jatuh cinta dengan sesamanya. Dengan kaum yang memiliki latar belakang sama seperti mereka.
Sasangka dan Kalinda. Perjalanan cinta mereka tidak mudah. Banyak badai dan topan yang harus dilalui dan keadaan semakin mendorong mereka untuk semakin terpisah.
Ingat kisah Romeo and Juliet?
Perjuangan mereka tidak ada apa-apanya dibandingkan Sasangka dan Kalinda.
Selain romansa yang ada, penulis juga menambahkan politik tak kentara didalamnya. Kenapa 𝑡𝑎𝑘 𝑘𝑒𝑛𝑡𝑎𝑟𝑎? Karena pembaca tidak akan mengetahui bahwa sesungguhnya ada politik yang bermain dalam kisah cinta Sasangka dan Kalinda. Dibalik politik itu sendiri, ada sebuah misteri. Misteri yang hanya diketahui oleh sang pemegang kekuasaan itu sendiri.
Yang jelas 𝑀𝑎𝑗𝑎𝑣𝑎 benar-benar sudah diluar akal. Salut dengan penulisnya karena berhasil menciptakan plot cerita seindah dan semenakjubkan ini, tak dipungkiri sangat plot twist 🙃
Desas-desus seunsur dengan udara, sekali saja dilontarkan, maka sekeliling akan mengetahui... (Hal.81)
Sepengetahuan semua orang, kehidupan Majava amat mengerikan dan mereka dianggap punah. Kepunahan mereka menyebabkan orang yang berbuat dosa tidak mau menjadi Majava..." (Hal.146) . . . Ketika sebuah dongeng yang dianggap menakutkan tentang seseorang yang memutuskan menjadi Majava, kemudian memantik polemik dengan kemunculan Sangsaka dan Kalinda yg mendeklarasikan diri menjadi Majava. Mungkinkah deklarasi ini menjadi momentum perubahan antara kedua suku yg hidup berseberangan? Ataukah... Hal tidak terduga justru datang mengambil kesempatan diantara polemik kehadiran manusia yg mendeklarasikan diri menjadi Majava?
Pernahkah teman-teman menemukan bacaan fiksi yang membuat kita merasa seperti berada diantara pemikiran bahwa ini adalah fiksi namun universernya terasa seperti sejarah yang masih relevan dengan beberapa kondisi dimasa sekarang?
Jujur, novel dengan kover yang membuat kita dapat melihat dua obyek ini pada mulanya membuat saya tidak cukup yakin dapat merasakan relevansi karena menyajikan kisah yang menarik sekaligus sangat berbeda dengan genre yang saya baca. Namun, kang Adjie dengan universenya dalam novel ini berhasil membuat saya tertarik,semakin dalam bahkan terkejut karena beberapa bagian dalam novel ini terasa cukup emosional bagi saya pribadi.
Salah satu bagian yang menurut saya menjadi 'gong' dalam kisah ini justru terletak pada pemahaman yang tertanam kuat melalui mitos dan kehadiran konflik yang seperti mata pisau. Punya dua sisi yang tampaknya hitam putih, namun tidaklah demikian apabila melibatkan manusia. Kisah cinta dan konflik lainnya yang terkuak seiring bergulirnya cerita menambah rasa ingin untuk menguak hal lainnya yang akhirnya diungkap oleh kang Adjie dengan alur yang apik👍🏾
Saya merasa tidak ingin terburu-buru untuk menuliskan apa yang membuat novel ini berhasil menghabiskan sticky's note saya pada saat proses membaca dan membuat ebooknya seperti penuh 'warna'
🖤 Seperti membaca kisah sejarah yg amat tipis batasnya dengan fiksi, hal inilah yg terpikirkan pada saat membaca novel Majava ini. Bagian awal dibuka dengan penggalan dari sebuah konflik yg membuat saya memikirkan kemungkinan peristiwa berdarah yg akan menjadi puncak polemik, kemudian berlanjut dengan awal mula peristiwa adat istiadat yg diramu dengan apik oleh penulis yg membuat pembaca bertanya tentang seberapa 'ngeri' keputusan menjadi Majava itu sendiri... Saya tidak pernah terpikirkan bahwa perenungan kang Adjie selaku penulis melibatkan dua hal: PARIA dan buah MAJA🤯 Dan tahukah teman-teman bahwa Paria juga memiliki makna lain selain sebagai nama sayur? Gaskeun ke @karyakarsa untuk dapat jawabannya😊🙏
🖤 Kisah bergulir dengan narasi yg indah yg menghadirkan istilah budaya maupun tatanan masyarakat yg hidup dalam lembah Sarongge namun terpisah oleh sungai maupun aturan dalam tatanan sosial yg memisahkan kedua etnik. Bagi saya pribadi sekilas mengingatkan dgn kondisi Korut dan Korsel tetapi kronologinya jauh di masa lampau.
🖤 Konflik etnis dalam novel ini memang mengejutkan dan juga memantik emosi. Namun, yg kemudian membuat saya tercengang adalah pemahaman tentang kekuatan dongeng dan daya sebuah konflik yg mengendalikan sekaligus menciptakan keinginan akan sebuah perubahan. Tetapi, perubahan seperti apa yg dikehendaki terjadi dalam tatanan kehidupan di lembah Sarongge?
Selamat datang di Lembah Sarongge, lembah luas yang dikepung oleh tebing batu tinggi dan mustahil didaki karena curamnya. Dibelah oleh sungai Kanuha yang berair melimpah, di lembah inilah hidup dua komunitas suku yang saling menghindari, suku Vanartara dan Varsha. Keduanya tinggal di dua sisi sungai yang berbeda dan memang dilarang untuk dipersatukan. Haram hukumnya anggota suku yang satu berinteraksi apalagi mengunjungi suku yang satunya. Mereka yang melanggar pantangan akan menjadi orang terkutuk dan harus diasingkan serta menyandang gelar sebagai Majava.
Kisah ini seperti Romeo Juliet era distopia yang terjadi di Sunda masa lampau. Sangsaka dan Kalinda yang berasal dari dua suku berbeda saling jatuh cinta. Mereka bertekad untuk melakukan Ritus Angkara yang akan menjadikan mereka Majava di Sarongge. Tetapi kisah ini ternyata bukan sekadar kisah kasih terlarang yang tak sampai, tapi juga melibatkan intrik berusia setengah abad, perang antar suku, pengkhianatan, dan juga tentang murninya cinta dan juga ikatan kekeluargaan.
Novel Majava merupakan novel ketiga Kak Aji yang kubaca. Novel yang memiliki tema yang unik, seperti 2 novel sebelumnya, yaitu Maneken dan Arterio.
Aku senang sekali ketika ditawari untuk membaca naskah ini sebelum terbit. Perasaanku saat membaca dulu dan sekarang masih sama menyenangkannya.
Novel yang page turner, gaya menulis yang enak dan mengalir dengan nilai lokalitas yang menarik. Aku suka sekali bagaimana Kak Aji mampu membangun dunianya sendiri, dunia yang terasa familiar tetapi tetap terasa unsur fiksinya.
World buildingnya kuat dengan detail yang lengkap, mulai dari adat istiadat, kepercayaan, nama tempat, tokoh hingga kitab yang mereka gunakan. Setiap babnya pun diawali dengan penggalan kitab, benar-benar detail sekali.
Dari segi ide ceritanya sendiri, sebenarnya awalnya hanya kisah romansa antar dua orang yang berbeda suku dan sulit untuk dipersatukan, hingga mereka melakukan suatu keputusan, untuk menjadi Majava, orang-orang yang bernasib pahit. Tapi kisah pun menjadi tak sesederhan itu.
Kisah romansa yang penuh perjuangan dan mengharukan, berbalut intrik kekuasaan dan aturan-aturan yang ingin dirombak.
Kisahnya sendiri mudah dicerna, tapi seperti saat membacanya dulu, aku merasakan bahwa kisah ini bisa dikembangkan lebih jauh lagi.
Sebuah kisah yang menarik dengan plot yang mengejutkan dan penokohan karakter yang cukup kuat. Dibalut dengan nilai-nilai budaya, spritual dan kepercayaan yang kental. Ditambah dengan dimuatnya isi-isi ajaran yang diyakini masyarakat Sarongge dalam cerita, menjadikan kisah ini terasa nyata seperti kisah sungguhan.
Melalui sosok Sangsaka dan Kalinda, kita diajarkan untuk berani menentukan sebuah pilihan dan siap dengan segala resikonya. Disamping itu, kita juga diingatkan untuk adil dalam bersikap, tidak memandang rendah kelompok lain karena pada dasarnya kita sama, saling bergantung dan membutuhkan. Melalui novel ini pula, kita disadarkan bahwa kebohongan bukanlah sikap yang bijak, yang ada hanya akan menimbulkan kebohongan lain dan akhirnya justru menimbulkan banyak masalah dan pertikaian di kemudian hari.
"Kekuasaan seharusnya diperoleh dengan cara yang benar dan tujuan yang lurus, bukan dengan kebohongan ataupun untuk kepentingan pribadi semata"
Novel yang sangat layak untuk diselami dan dinikmati. Mari mengembara bersama ke Lembah Sarongge 🌻