Siapa sangka kalau dari sepiring nasi goreng kita bisa menjelajah ke abad 16, mendalami rumus Kimia Permukaan, meresapi duka Vonny yang terusir ke kampung halamannya, hingga duduk satu meja bersama para elite politik? Siapa sangka kalau sepiring nasi goreng ternyata menyimpang keagungan khazanah kuliner Nusantara yang belum banyak terungkap?
Maka, mari kita bertualang menjelajah nasi goreng dengan buku ini sebagai petanya. Blusukan di Dinasti Qing abad ke-17, hingga menyambangi gang-gang mungil Cap Kau King di Semarang. Tenang, kita tak akan tersesat. Sebab kalau ada makanan yang bisa masuk ke selera lidah banyak kalangan, itulah nasi goreng: makanan sejuta Mamat, sejuta Agus, sejuta Wijaya, dan sejuta nama lainnya.
Buku ini sungguh membuka pikiran, melebarkan wawasan, mencengangkan. Saya, pecinta segala macam nasi goreng, sama sekali tidak tahu bahwa sedemikian dalamnya sejarah nasi goreng di Indonesia. Judulnya makanan, tetapi yang bisa diserap dari buku ini bukan cuma tentang makanan melainkan sejarah, falsafah, budaya, dan ilmu pasti. Keren.
Salah dua hal yang saya sukai dari buku ini adalah konfirmasi atas prinsip saya selama ini bahwa nasi goreng tetaplah nasi goreng meskipun tidak menggunakan kecap; dan tentang apa yang bisa disebut "asli Indonesia".
Meskipun secara penulisan bagi saya biasa saja, saya salut dengan idenya membuat rangkaian benang merah dari bab ke bab berikutnya. Kreatif.