Berita Kehilangan. Penghilangan paksa menyebabkan putusnya kisah kehidupan dengan penuh ketidakpastian. Hilang menyisakan tanda tanya dari asa yang tersisa. Ketiadaan yang dirasa harus disikapi dengan penguburan harapan atau harus selalu menghadirkan penantian.
Di Indonesia, penghilangan paksa kerap terjadi dalam sejumlah momen dinamika sosial politik yang menjadi kisah dalam sejarah. Bentuk kejahatan kemanusiaan & Pelanggaran HAM Berat ini tercatat dalam sejumlah kasus. Bukan hanya kepada para aktivis di momen genting peralihan Orde Baru menuju Reformasi. Melainkan juga terjadi di banyak kasus lain sejak 1965 bahkan hingga momen yang terjadi di Papua pada tahun 2020. Nama rezim berganti, namun penghilangan paksa terus terjadi.
KontraS yang hadir dengan semangat terlibat dalam penuntasan kasus penghilangan paksa dan berbagai pelanggaran HAM Berat serta ketidakadilan sejak 1998 kembali berupaya bersama banyak pihak untuk bersuara mengenai kegelisahan ini.
Sejak Maret 2021, KontraS menyelenggarakan submisi terbuka cerita pendek dengan judul Berita Kehilangan. Setelah terkumpul 280 naskah, KontraS dan para kurator telah memilih 20 naskah untuk dijadikan antologi cerpen yang kini bisa dipesan untuk dimiliki oleh kamu semua. Sebagai salah satu cara menghadirkan obrolan-obrolan tambahan mengenai penghilangan paksa.
Sabda Armandio Alif. Menulis dan menerjemahkan cerita pendek. Novel pertamanya: Kamu (Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya) diterbitkan di awal tahun 2015. Novel keduanya, '24 Jam Bersama Gaspar: Sebuah Cerita Detektif' (Penerbit Mojok) terbit tahun 2017. Saat ini bekerja sebagai Manager Multimedia di Tirto.id.
Saya mulai membaca buku ini setelah membaca kumpulan cerita pendek tentang pengalaman perempuan pasca reformasi. Entah karena ceritanya suram atau memang sudah lelah dengan keadaan bangsa ini, di cerita ketiga saya harus berhenti dan menumpahkan perasaan. "Capek! Kenapa negara ini fondasinya suram-suram begini, sih? Apa guna negara dan batas-batas kalau fondasinya hal-hal suram dan jahat?" tulis saya di sebuah kertas kecil.
Cerita-cerita pendek tentang orang hilang atau dihilangkan atau keluarga yang merasa kehilangan di buku ini begitu mengusik perasaan dan pikiran saya. Betapa sejarah yang diajarkan di pendidikan formal dan arus utama, tidak bisa mengisahkan keseluruhan ceritanya. Ada berbagai manusia, dengan kepedihan, ketidaktahuan, kebingungan, yang menyisa dan menggantung sampai sekarang.
Sempat bimbang untuk mulai baca, takut terlalu menyakitkan. Tapi terjawab oleh kata-kata mba Saras Dewi saat bedah buku ini di acara Peringatan Hari Keadilan Internasional oleh KontraS, bahwa "Kepedihan menggerakan Kita untuk peduli".
Dan ternyata buku ini cukup ringan dibaca. Walau pedih, ke 20 cerpen ini membantu kita merawat ingatan akan kasus penghilangan paksa yang (ternyata) terjadi di banyak wilayah di Indonesia. Banyak latar cerpen yang merupakan kasus yang jarang diperbincangkan. Membuat saya makin menyetujui penggalan kutipan dari cerita Sebelum Bendungan itu Ada; "Begitu mudah menjadi orang hilang".
Sulit memilih yg paling berkesan, karena semua cerita menggores hati. Tapi karena kutipan diatas, cerita Sebelum Bendungan itu Ada menjadi favorit. Mungkin juga karena berlatar di kampung saya, Aceh, konflik yang dari kecil saya ikuti dengan mengkliping koran-koran. Serta cerita Maka Senyap pun Turun Ke Bumi, bagi Saya yg paling menyakitkan tentang korban penghilangan paksa adalah; tak ada tempat ziarah. Karena statusnya pun tidak dapat dipastikan.
Kagum dengan KontraS yang mengampanyekan isu penghilangan paksa dengan karya ini. Kurator yang memilah dan mengedit dari banyaknya cerpen menjadi Antologi ini. Serta 280 penulis yang sudah mengikuti submisi.
Ps. Ini ulasan pertama Saya. Inipun karena ajakan untuk mengulas buku ini disini😂
Hai! Ini sebenarnya cuma ulasan ala-ala dari saya, jadi sebenarnya ini sesuka hati saya saja. Mulai, ya! P.S: mengandung sedikit spoiler untuk beberapa cerpen.
Jadi sebenarnya pun dari covernya kita sudah bisa menebak isi cerpennya akan seperti apa. Yup, soal penghilangan paksa. Sebenarnya bukan saya banget sih membuat ulasan panjang seperti ini, tapi setelah menonton bedah buku dan diskusi di live Youtube KontraS (17/7), saya jadi tercerahkan~ Buku ini memuat 20 cerpen. 15 di antaranya merupakan cerpen terpilih dari 280 cerpen yang tersubmisi dari lomba submisi terbuka untuk cerita pendek yang diadakan oleh KontraS untuk buku Berita Kehilangan. Sisanya, lima cerpen, merupakan cerpen karya penulis tamu.
Saya menikmati semua cerpennya. Semua berhasil meninggalkan perasaan yang, bagaimana ya, tercabik-cabik di hati? Saya sempat lupa dan mengira saya hanya membaca fiksi semata hingga saya mengikuti bedah buku ini, dan saya tersadar bahwa ini nyata. Penghilangan paksa itu nyata. Sulit bagi saya untuk menentukan cerpen yang benar-benar favorit bagi saya. Namun saat ini yang paling meninggalkan bekas paling besar bagi hati saya, cerpen-cerpen tersebut adalah: 1. Bolu Jahe dan Hari Orang Hilang - Aoelia M. 2. Sebelum Bendungan Itu Ada - Khairul Ikhwan Damanik 3. Perempuan yang Berbincang dengan Buaya - Dedy Tri Riyadi 4. Telur Cicak - Ratih Fernandez 5. Ikan-Ikan yang Menggelepar - Mardian Sagian
Saya tidak akan membahas semua cerpen yang ada di sini. Tapi bukan berarti yang tidak dibahas itu cerpennya jelek, ya! Saya bahas yang paling meninggalkan kesan bagi saya (cerpen-cerpen yang saya sebutkan di atas) dan cerpen pertama dan terakhir sebagai pembuka dan penutup buku.
Pertama, cerpen pembuka (Yang Hilang di Tanah Paulus - Zaky Yamani) ini epik. Aplaus untuk yang memutuskan cerpen ini sebagai cerpen pembuka karena berhasil memikat saya di awal. Cerpen ini semakin membuka mata saya terhadap kekerasan HAM yang terjadi di tanah Papua. Di cerpen pertama ini menggunakan sudut pandang warga. Kemudian di cerpen kedua (Tragedi Kandang Babi - Seno Gumira Ajidarma) menggunakan sudut pandang penyidik itu sendiri. Saya menyatukan keduanya karena menurut saya cerpen-cerpen ini berhubungan. Emosi yang saya rasakan adalah marah. Saya marah terhadap aparat negara yang sewenang-wenang merampas hidup orang. Mengingatkan saya dengan diskusi kemarin, negara selalu dianggap sebagai penjahat dalam buku ini, secara tidak langsung.
Kemudian cerpen ketiga (Bolu Jahe dan Hari Orang Hilang - Aoelia M.). Ya, cerpen ini menginggalkan kesan yang sangat dalam bagi saya. Saya mempunyai sebuah soft spot untuk cerita-cerita yang mengangkat tragedi '98 dan kekerasan seksual terhadap wanita Tionghoa. Ini mungkin bias, karena saya dibesarkan dengan cerita mengerikan yang diceritakan oleh ibu saya mengenai tragedi itu dan dampaknya terhadap orang Tionghoa. Ya, saya orang Tionghoa. Maka dari itu saya bilang kesan yang saya dapatkan ini bisa dibilang bias. Tidak cukup sampai di situ, cerpen ini menghadirkan tokoh Ita Martadinata yang merupakan orang nyata dan termasuk orang yang dibungkamkan secara paksa (baca: dibunuh) untuk menyuarakan keadilan. Sejak pertama kali membaca cerpen ini saya merasa tidak asing dengan tokoh Ita. Ternyata benar, dia Ita Martadinata yang saya ketahui kisahnya. Saya lupa dengannya padahal saya xmembaca kisahnya saat memperingati tragedi Mei '98 pada Mei lalu. Maaf Ita, sejak saat ini saya tak akan melupakan perjuanganmu. Cerpen ini berhasil mengoyak-ngoyak hati saya. Baca sendiri dan rasakan sensasinya. :)
Cerpen kelima (Sebelum Bendungan Itu Ada - Khairul Ikhwan Damanik) termasuk cerpen yang meninggalkan kesan yang mendalam bagi saya. Cerita tentang memaafkan masa lalu. Ending-nya, ah, sudahlah. Saya hampir menangis membacanya.
Cerpen kesembilan (Perempuan yang Berbincang dengan Buaya - Dedy Tri Riyadi) ini juga berhasil mengoyak-ngoyak hati saya di bagian terakhirnya. Kali ini ada dua keluarga yang menjadi korban penghilangan paksa. Satu karena berasosiasi dengan "orang-orang merah," satu karena konfik agraria. Penghilangan paksa ini memang tidak hanya terjadi saat kejadian '65 atau '98. Saya ingin memeluk Luale. :(
Cerpen kelimabelas (Telur Cicak - Ratih Fernandez) sukses membuat saya memaki-maki. Bayangkan, anak kecil berumur enam tahun pun menjadi korban penghilangan paksa! Sungguh kejam. Terlalu. Hal ini mengingatkan saya dengan residential school di Kanada (dan Amerika Serikat juga) yang akhir-akhir ini beritanya sedang hangat. Di mana anak-anak suku asli dimasukkan secara paksa ke dalam sekolah untuk "mengasimilasi" mereka secara paksa dengan orang-orang berkulit putih. Saya yakin tujuan mereka diculik itu sama dengan tujuan dibuatnya residential school, yaitu untuk "mengasimilasi" mereka dengan rakyat Indonesia. Ugh, saya benar-benar marah.
Cerpen kesembilanbelas (Ikan-Ikan yang Menggelepar - Mardian Sagian) ini juga bias sebenarnya karena saya tinggal di Kalimantan Barat. Buku ini sangat membuka mata saya tentang kejadian PGRS/Paraku yang dengan malu saya akui, belum pernah dengar sebelumnya. Bagaimana perang yang dimulai dengan slogan "Ganyang Malaysia" berubah menjadi "Ganyang Komunis" dan berujung menjadi perang antar etnis. Saya juga suka hint romansa yang dihadirkan dalam cerpen ini, meskipun memang cinta mereka terhalang genre, hahaha (tertawa sedih).
Cerpen penutup di buku ini (Raja Abifiruz - Rio Johan) ini memang agak tidak nyambung dibandingkan cerpen-cerpen lainnya, yah, walaupun masih ada nyerempet sedikit soal penghilangan paksa. Namun menurut saya, ini cerita yang menghibur. Setelah emosi berkecamuk sepanjang membaca buku ini, cerpen terakhir ini memberikan rasa segar kembali pada diri saya. Jadi, menurut pendapat saya, memang cocok cerpen ini ditaruh di akhir buku. Yah, tujuannya supaya tidak misuh-misuh terus.
Kesimpulannya: penghilangan paksa itu nyata. Hanya karena itu tidak terjadi di keluarga kita, bukan berarti kita bisa mengabaikannya. Saya salut dengan KontraS yang masih setia menyuarakan keadilan HAM untuk mereka yang HAM-nya dirampas, dan kali ini memilih media sastra. Kemudian, saya cinta buku ini. Lima bintang.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Seperti judulnya, Berita Kehilangan berisi 20 cerita mengenai pahit, getir, berdarah, dan ironisnya kejadian kehilangan yang begitu banyak djumpai di negara ini, dari zaman ke zaman. Seolah nyawa manusia tidak ada harganya, dan perasaan orang yang ditinggalkan hanya seumpama debu di kaca. Bisa hilang dengan dilap basah.
Buku ini sudah ada di rak buku selama beberapa bulan. Saya tarik ulur membacanya, karena tahu bahwa pasti perasaan akan ikut terhanyut di sini. Memikirkan bahwa, di balik cerita-cerita ini ada banyak air mata dan tangisan yang masih belum kering.
Cerita ini mengambil perspektif yang cukup luas, cerita yang beragam, dan representasi wilayah Indonesia yang mumpuni. Representasi ini menunjukan hal yang baik karena acknowledgement akan wilayah Indonesia, namun juga miris. Membuktikan bahwa, dalam sejarah hampir tidak ada tempat di Indonesia ini yang aman dan bebas untuk seseorang hidup dan berekspresi, tanpa takut di malam gelap dia akan dibawa dan dibunuh.
Ada kisah tentang pembunuhan Pendeta Yeremia Zanambani di Papua dan pembunuhan Ita Martadinata di tahun 1998. Lalu ada cerita dimana seorang perawat yang secara sembunyi-sembunyi menolong gerilyawan GAM dipotong tangannya, kemudian dibawa oleh tentara dan tidak pernah kembali, cerita pembunuhan orang yang menentang tambang, orang-orang yang dituduh PKI, dan lainnya.
Sulit untuk membaca kisah ini, dengan tidak terbawa emosi.
Dengan privilese hidup yang saya punya, mungkin secara langsung saya tidak pernah mengalami kehilangan kerabat seperti ini. Namun, ada kisah yang terasa dekat, yaitu penculikan anak-anak di Timor Timur, dengan ditawari permen bentuk telur cicak warna-warni. Saya ingat, di zaman saya SD, beberapa kali mendengar kisah anak hilang yang juga tidak ditemukan.
Berharap buku-buku seperti Berita Kehilangan ini, bisa semakin banyak dibaca oleh masyarakat luas, terlebih anak muda. Untuk mengingat bagian dari sisi kelam dan hutang besar negara ini, yang oleh para pemimpin dianggap hanya seperti dengung nyamuk, yang mudah ditepis.
Buku ini berisi spoiler sejak dalam judul. Benar, Berita Kehilangan adalah antologi cerita pendek berisi dosa-dosa negara, yang sejatinya dosa itu disebabkan oleh perbuatan-perbuatan keji yang tidak layak dilakukan kepada siapapun dan makhluk apapun.
Meski buku ini mengandung tema yang begitu mencekam, namun gaya bahasa para penulis begitu enak dibaca, tidak terlalu ruwet, namun tentu saja berhasil membuat saya pusing, dan ketika pusing, saya menjadi mudah marah. Marah dengan apa yang dilakukan oleh negara kepada para korban. Sayang sekali, negara Indonesia yang gemerlap anugrah ilahi, remah jipah loh jinawi, namun digandrungi oleh pemimpin diktator, tolol, dan tidak berperikemanusiaan. Oke, maaf, saya terpancing emosi.
Membicarakan HAM di negara yang tidak pernah kelar dengan PRnya sejak puluhan tahun, juga menyikapi waham Doomer-isme yang tak kasat mata melekat di banyak orang adalah sebuah perjuangan yang harus senantiasa ditanamkan pada tiap-tiap elemen, seperti kehadiran buku ini, contohnya. Merujuk pada Pendahuluan Editor, bahwa ini adalah perjuangan estafet, jika generasi yang lalu terkungkung penjara Orde Baru, masa kini masih tertutupi orang buta dan bisu akan fakta yang sebenarnya sudah membentang jelas di depan mereka.
Kita masih bisa memberikan tongkat perjuangan ini pada generasi selanjutnya. Meski tidak tahu kekhawatiran atau ketakutan apalagi yang hadir pada generasi mendatang, tapi saya selalu berharap dan berdoa bahwa tiap-tiap nyawa yang diambil paksa oleh negara, kelak akan ada penghakiman seadil-adilnya di masa depan.
Berita kehilangan memuat cerita-cerita tentang penghilangan paksa, yang bernuansa mencekam, dan tidak jarang membuat saya ikut deg-degan ketika membaca bagian-bagian terakhir di setiap cerpen. Favorit saya: "Yang Hilang di Tanah Paulus", "Tragedi Kandang Babi", "Jawaban untuk Dia yang Dibenci Api", "Sebelum Bendungan Itu Ada", "Perempuan yang Berbincang dengan Buaya", "Telur Cicak", dan "Raja Abufiruz". Saya harap buku ini bisa dibaca oleh lebih banyak orang.
Indonesian: Di lingkup komunitas baca yang tersebar di X (Twitter), banyak yang telah sepakat untuk memberikan sebutan bagi bulan September yaitu: September Hitam. Hal ini mungkin dilakukan untuk mengenang penghilangan paksa dan pembunuhan paksa yang pernah terjadi di bulan September-Oktober 1965 dan kasus lainnya yang mengikuti di bawah rezim Orde Baru atau Orba. Terdapat juga ajakan yang bertajuk #BacaBukuSejarahBareng yang kemudian memotivasi saya untuk mengambil buku-buku bertema sejarah yang tersedia di rak buku dalam kamar.
Berita Kehilangan sudah saya miliki sejak 2021, tapi seperti kebiasaan saya yang sudah-sudah, saya menunggu buku ini “berteriak” kepada saya untuk dibaca. Momen yang tepat, di September kemarin, saya akhirnya memutuskan untuk melepas segel buku ini untuk dinikmati isinya.
Tapi bagaimana saya bisa menikmati jika hal-hal yang saya baca, jika di dalamnya terdapat antalogi cerita pendek menyayat hati yang terinspirasi dari penghilangan paksa sampai pembunuhan kejam? Dari keseluruhan cerita pendek, pelaku utama terus menerus tertuju pada negara. Negara melalui kebijakannya yang rasis, melalui aparat militernya yang kasar dan bengis, dan melalui budaya-budaya penghilangan paksa yang sengaja dilanggengkan untuk menciptakan suasa mencekam, agar masyarakat tetap tunduk dan patuh kepada negara.
Antalogi cerita pendek ini bermula dari sayembara menulis cerpen “Berita Kehilangan” yang dilaksanakan pada Pekan Penghilangan Paksa 2021 (diselenggarakan oleh Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan-KontraS) dan diikuti oleh 280 penulis. Adalah 15 cerita pendek terpilih dari 15 penulis melalui sayembara serta 5 cerita pendek dari penulis tamu, yang mengisi buku ini. Semuanya berangkat dari kejadian dan pengalaman nyata dari orang-orang yang menyaksikan atau menjadi korban atau terdampak atau juga yang mempelajari sejarah kelam bangsa ini.
Salah satu cerita pendek yang ada di buku ini, yang membuat saya terdiam cukup lama adalah fakta bahwa terdapat pemindahan paksa/penculikan yang terjadi pada anak-anak di bawah umur dari Timor Leste selama masa konflik dengan Indonesia dari tahun 1975-1999. Anak-anak ini dibawa oleh aparat militer ke Indonesia. Banyak anak yang kemudian hidup terlantar dan tumbuh dalam kemiskinan, tidak sedikit juga yang mengalami pelecehan seksual dan pemaksaan pindah agama.
Ada pula cerita yang terinspirasi dari kisah nyata seorang aktivis muda Tionghoa, yang ditemukan dibunuh di rumahnya. Ita Martadinata Haryono adalah saksi kunci dari yang akan memberikan kesaksian di Sidang PBB di New York pada Oktober 1998. Ita hendak memberikan kesaksian adanya perkosaan massal terhadap Perempuan Tionghoa pasca reformasi 1998.
-----------
English: Here's the English translation of the text you provided:
Inside of reading communities spread across X (formerly Twitter), many have agreed to give September a moniker: Black September. This is done to commemorate the enforced disappearances and killings that occurred in September-October 1965 and many that followed during Orde Baru (New Order) Regime. There's also hashtag going online titled #BacaBukuSejarahBareng which then motivated me to pick up history-themed books available on the bookshelf in my room.
I've owned "Berita Kehilangan" since 2021, but as per my usual habit, I waited for this book to "call out" to me to be read. At the right moment, last September, I finally decided to break the seal of this book to enjoy its contents.
But how could I enjoy what I read, if it contains an anthology of heart-wrenching short stories inspired by enforced disappearances to cruel murders? Throughout all the short stories, the main perpetrator consistently points to the government. The government through its racist policies, through its brutal and cruel military apparatus, and through the cultures of enforced disappearances deliberately perpetuated to create an atmosphere of terror, so that society remains submissive and obedient to the government.
This anthology of short stories originated from the "Berita Kehilangan" short story writing competition held during the Week of Enforced Disappearances 2021 (held by KontraS) and participated by 280 writers. There are 15 selected short stories from 15 writers through the competition and 5 short stories from 5 guest writers, that fill this book. All of them stem from real events and experiences of people who witnessed or became victims or were affected or also those who studied the dark history of this nation.
One of the short stories in this book that made me pause for quite a while is the fact that there were forced relocations/abductions of underage children from East Timor during the conflict with Indonesia from 1975-1999. These children were taken by military personnel to Indonesia. Many children then lived in neglect and grew up in poverty, and not a few experienced sexual abuse and forced religious conversion.
There's also a story inspired by the true story of a young Chinese activist, who was found murdered in her home. Ita Martadinata Haryono was a key witness who was to testify at a UN hearing in New York in October 1998. Ita was about to testify about the mass rape of Chinese Women after the 1998 reformation.
Short, Strong & Sharp ❀ 20 Berita Kehilangan yang disampaikan dari berbagai sudut pandang dan latar belakang tiap tokoh dalam ceritanya. Saat sampai di akhir cerita akan selalu muncul pernyataan yang sama: Mereka hilang menyisakan tanda tanya dari asa yang tersisa.
Antalogi yang diinisiasi KontraS ini ditujukan untuk menghidupkan kembali semangat dalam penuntasan kasus penghilangan paksa dan berbagai pelanggaran HAM Berat serta ketidakadilan sejak 1998: “Menengok tentang ‘65 adalah cara untuk paham sejarah sendiri. Bagaimana belajar dari situ, bagaimana beranjak dari situ, bagaimana kita nggak lagi-lagi ada di titik yang itu-itu melulu.”
Penuh dengan emosi yang menyentuh dari berbagai perspektif – Pembaca dapat melihat peristiwa hilangnya seseorang dari kacamata keluarga terdekat, orang-orang disekitar mereka, sampai pada pelaku penghilangan, pun mereka yang terlibat dalam kegiatan keji itu. Tiap cerita juga menjadi representasi berbagai wilayah di Indonesia–menambah sudut pandang kita tentang penghilangan paksa yang terjadi di daerah mereka dan kepercayaan warga lokal. Menurutku tiap cerita memiliki daya tariknya masing-masing.
Cerpen yang paling berkesan untukku adalah: “Kupu-Kupu Datang Bertandang” yang menceritakan keadaan keluarga setelah anak laki-laki pertama mereka menghilang selama dua hari. Dengan kepercayaan serta nuansa khas Bali yang dibawa penulis, aku merasa lebih mendalami perasaan mereka. Selain itu, cerpen “Bolu Jahe dan Hari Orang Hilang” juga menjadi favoritku dari segi penyampaian ceritanya yang unik, yaitu dengan menceritakan tiap babak diawali dengan resep membuat Bolu Jahe.
Tiap sampai di akhir cerita, berbagai emosi dapat aku rasakan & mulai mengusik pikiranku–tentang sudah sampai mana penyidikan orang hilang saat ini & kontribusi apa yang bisa aku berikan. Mungkin yang baru terpikirkan adalah memperkenalkan buku ini melalui kanal media sosialku & mengajak teman-teman sekalian untuk aware dengan sejarah Indonesia tercinta.
🥀 Sebuah buku setebal 258 halaman, yang ditulis oleh beberapa penulis ini menceritakan tentang sekelumit kisah penghilangan paksa yang terjadi dalam rentang '47-2020. Buku ini, sukses membuat aku kembali mengingat beberapa pelajaran sekolah dan penjelasan guru yang dulu sering diceritakan dengan nada yang agak berbeda.
🥀🥀 Kengerian dan ketegangan sebegitu mudah terhidu oleh pikiran kita saat membaca buku ini. Mengingatkan bahwa sejarah negara kita memang belum jelas. Masih kabur dan berada di wilayah abu-abu. Bahkan, kelamnya sejarah yang ditulis buku-buku nyatanya masih terbawa sampai saat ini. Mungkin bukan lagi dengan penembakan misterius. Tapi penghilangan paksa itu masih ada. Dalam konteks masalah dan 'pemberontakan' seperti apapun.
🥀 Kisah-kisah di buku ini bisa saja menyulut emosi, menghidupkan bara kemarahan atas ketidakadilan. Juga, memercik kembali ingatan komunal kita tentang kepedihan penjajahan negeri oleh segelintir rakyatnya sendiri. Rupanya, perjuangan kita tak berhenti dengan kata merdeka. Karena banyak tikus yang tak mati saat kemerdekaan dikumandangkan, melenggang bebas, menghidupkan kembali apa yang dulu belum usai.
🥀🥀 Namun demikian, seperti halnya tak ada gading yang tak retak. Ada satu kisah yang aku rasa terlalu dipaksakan. Tulisan seseorang di akhir halaman. Yang menimbulkan perasaan tak nyaman dan meng'ambyar'kan segala emosi yang terbentuk di awal.
🥀 Berita Kehilangan, jangan sampai menyentuh telingamu dengan nama-nama orang tersayang. 🥀
Berita kehilangan, akankah pemerintah kita mampu bersikap berani untuk membuka tabir kehilangan yang tak berujung pangkal ini? Apakah mereka mati? Oleh siapa? Apakah mereka hidup, tetapi dimana?
Buku ini adalah buku pertama yang saya punya, yang membicarakan mengenai penghilangan paksa dan atau perampasan Hak Asasi Manusia (HAM), dan atau kejahatan negara. Buku ini berbentuk antologi cerpen yang dikurasi oleh rekan-rekan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS). Terdiri dari 20 cerpen, ke-semuanya meninggalkan kesan yang begitu mendalam, sedih, dan tidak karuan di benak saya sampai review ini dibuat. Di antara banyaknya cerita sedih tersebut, cerita Bolu Jahe dan Hari Orang Hilang tulisan dari Aoelia M adalah yang paling saya "sukai". Pernahkah kalian merasakan perasaan takut dan horor bahkan ketika tidak menonton film hantu? Itu yang saya rasakan ketika membaca cerita ini. Kengerian yang ditimbulkan dari pemilihan kata, penggambaran keadaan tempat dan suasana yang menyelimuti, serta kengerian yang saya dapatkan dari fakta bahwa sepersekian bagian dari cerpen itu memanglah nyata terjadi, berhasil membuat saya linglung dan marah terhadap semua hal yang berkaitan dengan tragedi '65 dan '98. Sangat menyayat hati adalah tiga kata yang tepat untuk menggambarkan keseluruhan isi buku ini.
Jujur aja cerpen di buku ini bagus² dan lumayan sesuai ekspektasi: fiksi sejarah yg mengusung kearifan lokal seperti ada bahasa daerahnya dan adat kampung tertentu. Tapi jujur saja cerpen terakhirnya terkesan tidak nyambung dengan tema kumcer di buku ini. Agak sebal juga ya karena cerpen terakhir seperti berada di dimensi lain, seperti dimensi arabian night sedang ekspektasi saya seperti yg saya tulis di atas.
Ada top 3 cerpen favorit saya di buku ini:
1. Perjalanan 2. Bolu jahe dan hari orang hilang 3. Jawaban untuk dia yang dibenci api
Kenapa 3 cerpen diatas masuk list top 3 cerpen yg ku baca dari buku ini? Karena mengandung plot twist yang.....oke I'm fine sampai ngakak sesenggukan.
Saya membaca buku ini sekaligus membaca Laut Bercerita. Dua karangan yang memiliki hal yang sama yaitu penghilangan paksa. Dalam buku ini yang berisi antologi cerita pendek ada beberapa cerita yang saya sukai maupun tidak. Sejauh saya membaca Berita Kehilangan, cerita berjudul ‘Sebelum Bendungan Itu Ada’ masih menjadi favorit saya sampai saat ini. Bercerita mengenai seorang ayah yang kehilangan anaknya. Kemudian ada cerita pendek lain yang saya sukai juga yaitu ‘Burung Pelatuk’ bercerita mengenai seorang anak yang kehilangan ayahnya, dan terakhir ‘Maka Senyap pun Turun ke Bumi’ bercerita tentang ziarah. Namun, apa daya ziarah tidak bisa dilakukan ke kuburan yang menjadi korban penghilangan paksa. Sebab tidak tahu jasadnya berada dimana. Menurut saya ini begitu mendalam dan menyakitkan bagi orang terdekat. Sejauh saya membaca buku ini ada beberapa kali saya memikirkan, “Begitu mudahkah hilang di negeri sendiri?”
Dua cerita pendek terakhir pada buku ini tidak begitu saya sukai. Terutama pada cerita pendek karya Rio Johan. Memang benar ada cerita mengenai penghilangan paksa, namun ia tidak begitu dekat dengan saya atau mungkin karena dianalogikan menjadi sebuah kerajaan membuat saya sedikit bingung membacanya. Namun hal yang sama ialah tetap membuat saya memikirkan, “Begitu mudahkah hilang di negeri sendiri? Walaupun dengan alasan-alasan jelas atau tidak jelas sekalipun?”
#Apr2024Kumcer Udah lama pengen baca buku ini, baru bulan lalu akhirnya beli dan jadi buku pertama tantangan bulan ini. Membaca kumpulan cerita dalam buku ini, memang membuat hati kesal apalagi ada beberapa cerita tentang kekerasan yang dialami anggota keluarga. Ceritanya banyak dan dari penulis yang sudah sering kubaca tulisannya.
beuhhhh antologi cerpen yg berat menurut gw, krn tema besarnya adalah ttg "penghilangan paksa" jd disini background ceritanya mostly dari tahun 98 atau 65, keren bgt cuyyy
Seperti uji nyali bacanya. Penghilangan paksa dari berbagai sudut pandang, yang tentu saja disertai penculikan, kekerasan fisik, kekerasan seksual, dan penyiksaan. Hal-hal yang sulit dan enggan dibayangkan karena di luar nalar. Kekuasaan dan upaya mempertahankannya bisa sedemikian mengerikan. Nyawa dan jumlahnya sebatas angka. Statistik. Jumlah dan deskripsi korban relatif. Bergantung pada narasi siapa. Diterima penguasa bukan karena kebenarannya, tapi pertimbangan keberpihakan, keuntungan dan kelanggengan. Maka narasi perlu dicipta bukan seapaadanya.
Some stories in this book benar-benar bikin sedih dan bikin mikir, “Seriously, how can the world be this cruel?” Tapi ada juga bagian yang gaya bahasanya agak formal dan baku. Buatku pribadi sih jadi kurang nyambung, maybe karena nggak biasa baca tulisan yang modelnya terlalu “serius.” Tapi ya, it’s me, not you.
Overall, this is a good book. Temanya kuat dan penting banget, nggak semua enak dibaca, tapi justru karena itu perlu. Worth a read, especially if you're into human rights issues or stories that weigh heavy on your heart but stay with you for a reason.
Tertarik membaca buku Berita Kehilangan ini setelah melihatnya di postingan Instagram KontraS, untuk kemudian menjadi semakin penasaran membaca setelah melihat penulis-penulis cerpennya. Dan rasa penasaran tersebut akhirnya terbayar tuntas setelah menelusuri satu-persatu dari satu halaman ke halaman lain mengikuti cerpen-cerpen dari beragam penulis.
Menurut saya, buku ini adalah alat lain atau media lain yang 'cukup dapat dinikmati' untuk mengingatkan kepada kita semua bahwa ada sesuatu yang belum tuntas dari cara-cara pemerintah menyelesaikan sesuatu. Meskipun tentu setelah membaca cerpen-cerpen yang termuat dalam antologi ini semakin membuat dada sesak, tetapi bercerita (re: cerpen) menurut saya adalah salah satu bentuk penyampaian paling ringan dengan pesan yang dapat tersampaikan dengan jelas. Cerita-cerita dalam buku ini ringan dinikmati secara penulisan dan alur, sekaligus pembaca dapat dengan mudah menangkap pesan yang jelas menganai berita-berita kehilangan yang berderet terjadi di negeri ini.
Salah satu cerpen yang paling saya nikmati dalam buku antologi ini adalah Perempuan Berlentera dan Sebelum Bendungan Itu Ada. Dua cerita yang membawa pesan jelas bagaimana perlakuan negara terhadap warga Aceh semasa ketegangan dengan GAM (Gerakan Aceh Merdeka), juga penggambaran paling menyakitkan dari seseorang yang mencari orang yang disayangi tanpa arah, karena ia sendiri tidak paham kenapa orang yang ia sayang dapat hilang dalam sekejap mata, hilang hanya karena berdasar pada tuduhan. Serupa penghilangan orang karena dituduh/dicap sebagai PKI.
Ada banyak nama 'beken' yang ikut meramaikan buku Berita Kehilangan ini dengan cerpen-cerpen andalannya, dan itu adalah sesuatu yang menurut saya patut untuk dinikmati. Meski bukan buku terbaik mengenai cerita penghilangan paksa (di Indonesia), tapi buku ini adalah salah satu alat yang layak digunakan jika kita semua ingin merawat ingatan bahwa kasus-kasus penghilangan paksa pernah (dan kerap) terjadi di negeri ini.
Rest in peace untuk semua korban penghilangan paksa di negeri ini. Semoga di kemudian hari hal-hal yang dapat menyebabkan dada warga negara menjadi sesak dapat dihentikan, tidak lagi ada cerita seseorang kehilangan orang lain, tidak lagi pernah terdengar kasus penghilangan paksa di sudut mana pun di Indonesia, di dunia macam apapun. Alfatihah.