Pada kepindahaannya yang ke-45, Leila kabur dari rumah. Dia menyadari kacaunya dunia ketika sebuah bangunan runtuh menimpanya. Setelah berminggu-minggu terkubur di bawah reruntuhan ruko, seorang pemuda bernama Alatas menggalinya keluar.
Alatas mengendalikan logam. Temannya, Truck, memiliki kekuatan penyembuh. Dan Erion, seorang bocah tunarungu, mampu menerbangkan manusia ratusan kaki di udara.
Segalanya semakin kacau untuk Leila. Tidak hanya dunia telah menjadi sarang Fervent—orang-orang berkekuatan super—tetapi gadis itu pun menjadi salah satu dari mereka. Demi bertahan hidup dari perburuan Fervent yang diselenggarakan Kesatuan NC, Leila harus bergabung dengan ketiga Fervent yang menyelamatkannya.
Setelah sekian lama g pernah buka goodreads lagi dan lupa password, akhirnya bikin acc lagi demi review buku ini
My impression on first chapter: Well, that's quite a good hook.
Seiring jalan cerita petualangan 4 sekawan ini, Ima be like, ranging from this:
To this:
And this is me after the final reveal about Leila's father, ruangan rahasia bungker Raios, dan rentetan kejadian di ending chapter:
Kepo berat dengan nasib Erion. Sebetulnya masih ada chapter-chapter untuk seri selanjutnya di wattpad, tapi authornya bilang ada beberapa perubahan di ending buku pertama ini, jadi aku takut g nyambung kalau intip-intip sekarang. I need the second book ASAP
Sebenarnya sudah pernah baca di wattpad walau belum selesai dan keburu dihapus. Untuk kualitas sendiri, versi cetaknya tidak mengecewakan. Chapter-chapter flashback di bab genap ada yg berubah and it's good. Aku ngerasa flashbacknya jadi lebih relate dengan chapter-chapter ganjilnya yang bukan flashback. Dan kasih lebih banyak clue juga untuk misteri-misteri di buku ini. Tentang Leila yang ternyata sudah punya kekuatan sejak dia kecil misal, ada bab tersendiri yang menceritakan waktu dislokasi sikunya betul sendiri. Padahal pembaca sempat dimislead melalui dialog karakter kalau Leila baru dapat kekuatannya setelah terkubur hidup-hidup. ternyata enggak.
Worldbuilding oke. Penyajian plot unik. Science logic dan pesudoscience nya masih bisa diterima dan masuk ke akal untuk ukuran fiksi. Humornya segar banget dan nyelip dgn cantik. Jadi rasanya persis naik rollercoaster. One moment I'm shock, next paragraf tiba-tiba dibikin ngakak, terus tegang lg, terus ketawa lagi.
Karakternya? Chef's kiss. Leila's one hella true example of strong woman tapi masih punya kekurangan dan sisi labil remaja. Erion is cute af. Truck is Truck. Alatas bahkan lebih bikin baper dari pada karakter teenlit yang pernah kubaca. Sampai karakter yang kelihatannya numpang lewat juga sangat berkesan
Pesannya pun nyampai banget tanpa kesan menggurui. Tentang survival, society, power gap, kelakuan manusia kalau dikasih kekuatan super, isu gender (Truck needs to chill), dan isu keluarga. Walaupun ini buku scifi-fantasy-petualangan tentang superpower bersetting di dunia apokaliptik/distopia, aku ngerasa this whole book is basically about Leila yang kena karma karna kualat sama orang tuanya, but at the same time juga jadi pembelajaran buat para orang tua yang terlalu mengekang dan g bisa jujur sama anaknya.
Untuk genre yang lumayan susah ditemukan di pasaran Indonesia (dan kalaupun ada, I'm kinda always disappointed with the worldbuing and the characterization), I'll give this book solid 5 stars. Can't wait for the rest of the series to unfold whatever lies behind this story
Secara keseluruhan, ini apik. Bahkan dari awal membaca udah klop banget. Tema yang unik dan gaya bahasa yang gak membuat bosan dan terus mengalir.
Pembangunan dunia sainsnya tersusun rapi. Ada kilas balik yang berhubungan dengan masa sekarang. Sejauh ini tidak menggangu dan mang saling melengkapi.
Para tokohnya relate. Gak ada sistem OP atau karakter maha God. Ya, biasanya sering ketemu tokoh kayak gitu. Tapi di sini tidak. Seru banget petualangan Leila dan Genk Telat kalau kata Erion.
Tema survivalnya pun terasa. Hanya saja, peningkatan plot menjelang akhir yang sudah bisa dipastikan, bahkan bersambung sebelum selesai membaca.
Ya, pada dasarnya cerita genre seperti fiksi ilmiah dan fantasi tidak akan habis dalam satu buku. Sejujurnya, aku sangat menikmati tiap baris kata dalam RavAges. Untuk beberapa istilah asing di awal memang pusing dan membingungkan.
Oh, ya... bahkan sampai halaman terakhir aku masih penasaran sama kepanjangan NC. Feelingku mungkin buku ini bisa berseri lebih dari 2. Akan ada banyak hal yang harus di eksplor
Novel sci-fi pertama yang aku baca di wattpad, hehe. Dapet buku fisiknya juga, dikasih sama temenn. Disini, mungkin beberapa hal langsung tertebak dari mc, tapi masih ada banyakkkk kejutan lainnya yang bikin aku ngerasa, "Woww, keren abis!". Aku suka pembawaan ceritanya dari sudut pandang orang pertama. Feel-nya jadi beneran dapettt bgtttt. Sampe sekarang masih suka baca, diulang-ulang teruss
4,5/5 🌟 - RavAges adalah buku kedua yang akhirnya kubeli setelah mengikuti ceritanya di Wattpad. Di versi cetak ini, ada beberapa narasi/informasi yang ditambahkan dan perbaikan tulisan—selebihnya masih sama dengan yang pernah kubaca dulu. - RavAges sedikit mengingatkanku akan Reckoners Trilogy, karena kata penulis, buku ini terinspirasi dari seri Brandon Sanderson itu. Bedanya, orang-orang berkekuatan super di RavAges dikenal dengan Fervent, sedangkan kekuatannya disebut Fervor. Total, ada 12 Fervor yang disebutkan di sini, 4 di antaranya adalah Brainware, Steeler, Phantom, dan Cyone. Kalau mau tahu lebih jauh, silakan baca bukunya, hehe. Atau, bisa juga mampir ke ig-nya penulis, Kak @e_jazzy_ Di sana dijelaskan macam-macam Fervor dan nama Fervent yang memiliki kekuatan tersebut. Oh, iya. Asal usul munculnya Fervor belum dijelaskan secara pasti oleh penulis di buku ini, hanya spekulasi dari tokoh-tokohnya saja. Misi yang mereka jalankan dan musuh yang dihadapi juga belum dijabarkan secara eksplisit. - Plot RavAges berselang-seling tiap chapter-nya. Chapter ganjil menggunakan alur maju (present timeline) yang diawali dengan pertemuan Leila dan tiga cowok fervent—si kalem Alatas, si temperamental Truck, dan si doyan makan Erion. Sementara itu, chapter genap menggunakan alur mundur (flashback) dan menceritakan masa lalu si tokoh utama. Di buku pertama ini, karena fokus utamanya adalah Leila dan asal-usulnya, kita tidak diajak menyelami lebih jauh karakter tokoh-tokoh lain—hanya apa yang tampak di permukaannya saja. - Worldbuilding-nya masih kurang kompleks dan mendetail. Mungkin di buku selanjutnya akan dijelaskan lebih rinci lagi; apa itu NC, bagaimana gambaran Herde, Pusat Karantina, dan lainnya. - Gaya bahasa Kak Jazz yang terasa mengalir, serta diselipi sarkasme dan dark jokes membuatku tidak terlalu tenggelam dalam suasana suram yang menjadi latar cerita. Kompleks terbakar, reruntuhan bangunan, Garis Merah, dan lain sebagainya. - Sayangnya, bagi pembaca yang sudah mengikuti cerita RavAges di Wattpad ber-chapter-chapter sepertiku, membaca RavAges versi cetak terasa kurang memuaskan. Mungkin karena akan dipecah menjadi dua atau tiga buku (?) Jadi, buku pertama ini (sepertinya) hanya membahas tak sampai setengah dari keseluruhan isi cerita (prolog - epilog). - Endingnya sangat menggantung—bagi yang sama sekali belum baca versi Wattpad. Namun, bagiku pribadi yang sudah baca dan agak lupa jalan ceritanya, sensasinya pun tetap sama sama. Dibayang-bayangi rasa penasaran. Mungkin aku harus instal Wattpad dan re-read lagi. - Secara garis besar, buku ini rekomended buat kalian yang menggandrungi fiksi ilmiah berbumbu fantasi dan survival, utamanya yang bercita rasa lokal!
Saya diberi kehormatan untuk menjadi reviewer pertama buku ini krn yg nulis temen sendiri :) ini juga akan jadi review pertama saya di goodreads.
So I read both Wattpad version dan yg cetak. Ada beberapa perbedaan dan peningkatan dalam versi cetaknya, salah satunya ending. Karena ternyata buku ini akan jadi series, jadi ending-nya agak dibelokkan dari versi Wattpad untuk berlanjut ke buku kedua.
Yg paling menonjol dari Ravages adalah karakternya yg hidup dan penokohannya sangat kuat. Leila yg saya kira hanya akan jadi typical badass heroine yg bakal jadi baperan karena kesenggol cogan male-lead ala-ala buku YA, ternyata bisa membuat saya jatuh hati dengan sarkasmenya dan keteguhannya untuk tidak jatuh ke dalam gombalan maut Alatas sampai ending buku ini. Leila fokus bertahan hidup dan sebagian besar hanya membangun hubungan dengan Erion.
Alatas yg tukang gombal dan bisa dibilang male-lead, sama sekali tidak overpower. Sebaliknya, dia kadang jadi beban, kadang jadi tumpuan, kadang dongok, kadang rada pinter lah dikit. And this is why I can relate to him.
Erion yg overpower meski umurnya 10 tahun adalah daya tarik terbesar sepanjang cerita. Tunarungu dan paling kecil di antara yg lain, Erion adalah bocah cerdik yg dengan cepat mengambil spotlight buku ini.
Lalu ada juga Truck. Iya namanya Truck. Besar, jahat, dan hampir saya kira akan jadi antagonis tapi ternyata saya salah. Pertengkaran Truck dan Leila justru memberi warna lebih untuk buku ini.
Worldbuildingnya cukup detail walau mungkin masih di permukaan saja mengingat ini masih buku pertama. Tapi yg patut diacungi jempol adalah deskripsi post apokaliptiknya yg sangat berasa.
Satu lagi yg saya sukai adalah konsep superpower yg dibawakan, di mana kekuatan super ini diklasifikasikan jadi 12 macam dengan istilah-istilah keren, dan terdapat sub-klasifikasi lagi untuk tiap individunya. Seperti kekuatan penyembuh yg untuk satu tokoh, penerapan dan cakupannya berbeda dengan tokoh lain.
Good job, Jazz, and congrats on ur first book. Sukses selalu buatmu, Kawan. Jangan lupa kabar-kabar lagi kalau buku keduanya terbit.
Ravages adalah buku science fiction / Dystopia lokal pertama yang aku koleksi. Aku mau memberi fiksi lokal kesempatan lagi setelah banyak dikecewakan oleh novel lokal lainnya. Ravages masih mengikuti formula versi wattpad-nya dengan peleburan yang halus di sana-sini untuk disiapkan ke versi cetak dan ini sebuah improvisasi yang bagus. - Untuk bukunya sendiri, aku kasih 4 bintang untuk total, tapi mungkin kalau enjoyment sendiri, ratingku solid 3 stars. Karena kelemahan dari buku ini ada di pacing dan tempo cerita. Sama sekali gak kasih napas. Setiap pembicaraan, perbincangan kecil, momen-momen tenang (momen "ma" kalau mengutip dari Miyazaki) pasti berakhir ledakan atau pembuka ke konflik baru. Pembaca sama sekali gak dikasih momen "ma" di mana kita bisa sedikit aja bicara tanpa bak buk di akhir. - Ya, itu memang tipikal novel dystopia dan fantasi, tapi jika kamu membaca buku ini setelah hari yang panjang dan melelahkan, jelas pacing di buku ini tambah bikin capek dan saya salah satu yang merasa begitu. Ada orang yang suka pacing begini, tapi maaf, pacing ini masih gak ramah buat saya. Selain karena bikin capek, bak buk bak buk konflik gak berhenti bisa aja bikin suspensi dari konflik berkurang dan ini yang saya rasakan di paruh akhir buku. Rasanya kayak udah kebas aja sama konflik di awal dan pertengahan. Kematian yang seharusnya jadi horor pun gak kerasa, kalau aja Leila gak ingetin saya sesekali soal nyawa-nyawa yang sudah melayang sepanjang 1 buku ini, saya mungkin gak akan sadar. - In the end of the day, saya akan tetap beli lanjutannya. Saya kepo sama perjalanan Leila, Alatas, Truck, dan Erion sampai akhir kisah. Saya suka humor Jazzy, saya suka social commentary yang kadang diselipkan secara halus di sela-sela paragraf, saya suka karakter di novel ini, dan saya suka dunianya, saya kepo dengan NC, dan I'll look forward to Indigenous.
....... Bingung mau ngedeskripsiin cerita ini bagaimana. Dan yang pasti, pertualangan Leila bersama ketiga cowok—yang mana satunya dikira sudah berukur 20 tahunan, yang sebenarnya masih satu angkatan bareng Leila, cowok itu bernama Truck lantaran ia ditemukan di mobil truk. Malahan cowok yang tak disangka-sangka sudah tua itu ternyata memang sudah berumur beberapa tahun lebih tua dari kedua orang itu—Alatas. Ditemani Erion, sang bocah ajaib yang memiliki kekuatan phantom.
Pertualangan mereka diwarnai berbagai adegan, dimulai dari yang tragis, malang sampai bikin senyum-senyum. Belum lagi mereka bertemu dengan Raios, sang musuh bebuyutan tak berbelas kasihan.
Tebak saja, mereka sudah terlunta-lunta di dunia yang mirip entah berantah, tanpa sinar matahari sama sekali. Berbekal senter yang dipegang Erion mereka berjalan sejauh yang mereka bisa tempuh.
Oke cukup sampai disini saja. Teruskan rasa penasaran kalian dan mulailah membaca bukunya!
This entire review has been hidden because of spoilers.
I know about this novel from a friend. In short, of all the Indonesian sci-fi and fantasy stories out there, Ravages by E-Jazzy is the one that amazed me the most!