Jump to ratings and reviews
Rate this book

Jakarta: A Dining History

Rate this book
Jakarta saat ini menjadi rumah bagi puluhan ribu rumah makan dan restoran yang terbagi dalam cakupan yang amat luas. Dari tempat makan tradisional sampai restoran kontemporer ada di sini. Bukan hanya itu saja, Jakarta juga ibarat tuan rumah yang menerima siapapun untuk tinggal di sini, dari masakan Cina sampai masakan Spanyol, dari meriahnya masakan Aceh hingga segarnya gohu Maluku. Namun, jalan Jakarta hingga bisa dibilang sebagai kota dengan rumah makan dan restoran paling beragam di Indonesia tidaklah hadir dalam semalam. Lebih dari dua ratus tahun dilewati hingga akhirnya kita bisa menikmati ragam restoran yang tersaji di kota raksasa ini.

Penulis kuliner, Kevindra Soemantri, menggalinya dalam buku ini dan membaginya per era. Dari era Batavia di abad ke-19, saat restoran dan kafe Prancis merajalela; dekade 1970 dan 1980 yang diwarnai restoran hotel bintang lima dan munculnya tren fast-food; hingga nyamannya foodcourt yang terletak di pusat perbelanjaan modern di dekade 1990. Restoran dan tempat makan turut berkembang bersama
dengan masyarakatnya, dan inilah yang menjadi intisari buku Jakarta: A Dining History, yaitu bagaimana warga Jakarta membentuk kultur makan dan minum yang tidak bisa lepas dari kehidupan sosial masyarakat kota dan terus berkembang hingga sekarang.

242 pages, Paperback

Published February 25, 2021

10 people are currently reading
62 people want to read

About the author

Kevindra Prianto Soemantri

5 books2 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
33 (39%)
4 stars
35 (41%)
3 stars
15 (17%)
2 stars
1 (1%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 22 of 22 reviews
Profile Image for fara.
280 reviews42 followers
August 19, 2022
Membaca buku ini seperti diajak jalan-jalan melintasi zaman. Kalau versi serial dokumenternya, mirip dengan euforia dibawa terbang ke masa lalu saat menonton "Melawan Lupa"-nya Metro TV. Nggak cuma nostalgia semata, foto-foto dan lanskap yang diselipkan juga menyampaikan fakta-fakta sejarah perkembangan Kota Jakarta (dulu Batavia) dari masa ke masa (abad 19 sampai 80-an). Menariknya, ada juga penjelasan soal kulinernya yang variatif dan oriental. Bagi saya yang nggak begitu mengenal Kota Jakarta, buku ini seperti penuntun meskipun pada akhirnya ya saya masih tetap "buta". Mungkin untuk masyarakat asli, buku ini akan sangat menarik karena tempat-tempatnya yang familier, mulai dari Cikini, Kebayoran, hingga kawasan Menteng.
Profile Image for Marina.
2,042 reviews360 followers
August 28, 2022
** Books 76 - 2022 **

3,4 dari 5 bintang!

Sebenarnya pada awalnya aku tidak ada rencana untuk membaca buku ini haha.. Namun ketika penerbit Gramedia mengadakan acara Ruang Tengah dan mengundang mas Kevin ini untuk membahas isi bukunya ak jadi tertarik untuk segera meminjam buku ini XD

Buku ini sangat menarik buatku terutama yang penasaran dengan sejarah kuliner di Jakarta dijaman era Batavia hingga tahun 90an seperti apa. Aku banyak mendapatkan fakta-fakta yang menarik seperti dahulu kala wilayah para bangsawan untuk menikmati fine dining ada di Harmoni dan Gajah Mada. Selain itu apakah kalian mengetahui kalau wilayah Tenabang dulunya sempet ditanami tanaman budidaya kayak Jahe, Sirih dan kacang lainnya hingga kalian mengenal nama areanya berubah menjadi Kebon Jahe, Kebon Sirih dan kebon kacang hehe..

Buku ini juga memuat restoran-restoran yang sudah lama berdiri bahkan sebelum Indonesia Merdeka kayak Eskrim Ragusa, Gado-gado Bonbin dan hingga restoran Trio. Hal menarik lainnya aku juga menjadi tahu kalau ternyata fast food pertama yang masuk ke Jakarta adalah American Burger atau AH yang seperti kita kenal di tahun 1980an :') KFC pertama juga dibuka di Melawai dan Hokben di jalan Sabang

Habis membaca buku ini aku jadi tergerak membaca buku timbunanku mengenai Risjtaffel Jejak Rasa Nusantara: Sejarah Makanan Indonesia oleh Fadly Rahman :D

Terimakasih Gramedia Digital Premium atas peminjaman bukunya!
Profile Image for Katherine 黄爱芬.
2,427 reviews292 followers
January 8, 2025
Buku ini membawa saya ke zaman abad 19 hingga tahun 1990an di kala saya masih remaja. Author termasuk direct to the point dlm memaparkan sejarah perkembangan gourmet restaurant sehingga gampang dipahami oleh awam spt saya yg buta kulineran.

Jadi buku ini dibuka dgn orang-orang Belanda yg membuka tempat baru (dari sebelumnya di Kota Tua) utk pemerintahan dll yg dinamakan Molenvliet (sekarang sekitar Jalan Merdeka dsb). Wilayah ini berkembang menjadi meliputi daerah sekitarnya spt Cikini, Gondangdia, Menteng dll.

Saya baru tahu di awal abad 20 itu Batavia sudah termasuk kota modern utk zaman waktu itu. Saya jadi terbayang pesta dansa dan kue-kue 🍰 pastry nya yg bikin ngiler 🤤

Perkembangan pesat Jakarta dimulai di awal tahun 1960an dimana Jakarta mjd tuan rumah Ganefo, jadi banyak gedung dan jalanan baru yg dibangun. Dilanjutkan pd zaman Orba dimana banyak dibangun hotel-hotel 5 ⭐. Perkembangan paling signifikan memang di tahun 1980-1990an dimana Jakarta makin ramai sbg kota urban, dgn berbagai suku bangsa yg tinggal di kota tsb, menciptakan banyak restoran dgn gaya baru hingga sekarang Jakarta masih terus bertransformasi mengikuti selera penduduknya yg beragam.

Kelemahan buku ini kebanyakan menitikberatkan pd kuliner kelas menengah keatas dan yg hype saja. Tapi ditutupi dengan sejarah yg lumayan detail yg membawa pembaca spt saya ke masa lalu Jakarta yg dari dulu sudah cantik, mempesona dan memberikan kesan kenangan modern yg berpadu dgn tradisional.

Buku ini bisa dipinjam di IPusnas.
Profile Image for Tamara Fahira.
130 reviews8 followers
December 1, 2021
Melihat perkembangan ibukota dari masa ke masa. Begitu banyak sejarah yang didapat melalui buku ini mulai dari nama-nama jalan di Jakarta pada zaman Belanda sampai pembangunan hotel-hotel bintang lima.
45 reviews
July 9, 2024
Seeing the development of the city through culinary traditions that are closely related to social and political issues. Starting from Societeit de Harmonie, then shifting to restaurants around Nieuw Gondangdia, 5 star hotels widespread to tent stalls.
Profile Image for Willy Alfarius.
95 reviews9 followers
April 3, 2022
Meski ditujukan sebagai sebuah buku populer, saya kira buku ini cukup kuat terutama dalam hal penggunaan sumber-sumber primer serta wawancara untuk, sesuai judulnya, melihat transformasi atau perubahan lanskap restoran di Jakarta sepanjang abad 19 dan 20. Kevindra memanfaatkan sumber-sumber primer yang tersedia secara gratis baik melalui Delpher maupun Perpustakaan Nasional RI untuk melihat dan memberikan detail bagaimana budaya kuliner terus bergerak maju, seiring semakin ramainya Batavia/Jakarta, ditopang oleh keadaan dunia yang semakin kosmopolit seiring dibukanya Terusan Suez.
Pembaca akan disuguhi gambaran restoran-restoran di Batavia tempo doeloe, apa saja menu yang mereka tawarkan dan sajikan, siapa saja yang datang berkunjung dan makan, serta bagaimana keadaan sehari-hari kota terpenting di masa kolonial tersebut. Kevindra memadukan perkembangan restoran-restoran dan gaya hidup saat itu dengan suasana dan perubahan zaman yang menandai tiap era. Sangat keren sebagai sebuah panduan awal melihat bagaimana gaya hidup warga ibukota berlangsung dan berubah sepanjang dua abad tersebut.
Profile Image for Rizkana.
248 reviews29 followers
July 15, 2024
Walaupun topik utamanya adalah perkembangan restoran dan lanskap kuliner, rupanya setiap perkembangan dan perubahan didorong banyak faktor ekstrinsik di luar makanan itu sendiri, seperti perkembangan wilayah permukiman, migrasi penduduk, peningkatan ekonomi nasional, kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan kepala daerah, globalisasi, dan masuknya teknologi baru yang berpengaruh kepada cara manusia berinteraksi dan melakukan kegiatan sosial."


Saya sudah mempersiapkan diri untuk mengikuti perkembangan dunia kuliner Jakarta dari era kolonialisme hingga modern atau era 1990-an lebih tepatnya. Yang tidak saya kira, dan ini menjadi kejutan menarik, ada lebih dari sekadar perkembangan dunia kuliner yang diceritakan, salah satunya perihal perkembangan lanskap kota dan bagaimana itu memengaruhi gaya konsumsi kuliner, bahkan pesona kota secara keseluruhan.

"Seseorang hanya perlu menyusuri jalanan Noordwijk kala sore dan malam hari untuk bisa mendapatkan perbedaan antara Singapura dan Batavia. Saat matahari tenggelam, dari kacamata orang Eropa, dengan pengecualian cahaya dari lampu-lampu Hotel Raffles dan Hotel de l'Europe, Singapura adalah kota mati. Begitu juga dengan Hongkong. Namun, tidak dengan Batavia. Menjelang makan makam hingga setelahnya, suasana begitu hidup, cerah, dan aktif sehingga Noordwijk dan Rijswijk dapat disejajarkan dengan Boulevard des Capucins di Paris." Thomas H. Reid (1908)


Setelah membaca buku ini, saya jadi tahu bahwa fine dining era 1960-1980-an disertai hiburan tarian, kabaret, bahkan teater. Ternyata, hotel-hotel terbiasa mengadakan festival makanan, khususnya khas dari negara-negara Eropa, dan mengiklankannya di koran-koran. Perihal iklan ini juga menarik, pada era itu, iklan festival makanan atau menu spesial makan siang dan makan malam yang diselenggarakan pihak hotel umumnya disiarkan di koran dan dalam bahasa Inggris. Sebuah praktik yang, rasa-rasanya, sudah tidak lagi dilakukan saat ini berkat berkurangnya peran media.

Untuk itu, upaya penulis dalam melakukan riset tulisan, yang tidak hanya mengandalkan wawancara, tetapi juga riset dari sumber koran hingga kartografi, membuat buku ini terasa padat dan kaya. Plus, ada berbagai arsip foto yang mendampangi narasi, membuat pembaca makin mudah tenggelam dalam suasana latar cerita.

Lantas, adakah yang terasa kurang? Bagi saya, mungkin akan lebih memuaskan jika, dalam perkembangannya, penulis dapat menginformasikan transformasi terakhir dari tempat-tempat makan atau hotel legendaris pada masanya. Banyak yang saat ini tentu sudah tidak ada lagi dan, sebagai pembaca, saya ingin tahu apa yang terjadi padanya.

Selebihnya? Saya suka dan jika kamu tertarik mencari tahu bagaimana gemerlap dan selalu dinamisnya kuliner Jakarta sejak abad ke-19 hingga akhir 90-an, mulai dari Rijsttafel dan fine dining yang ekslusif hingga warung tenda yang begitu inklusif, buku ini boleh jadi pilihan.
Profile Image for Anjani Ayunita.
18 reviews
February 28, 2025
Siapa yang tidak mengenal mi ayam? Mi ayam banyak jenisnya, ada yang dimasak ala bakmi ayam bandung adapula mi ayam yang biasa aku sebut mi ayam gerobak biru atau "mi ayam jawa". Tapi, ternyata "mi ayam jawa" yang khas itu dengan kuah coklat manis gurih kentalnya bukanlah berasal dari resep orang Jawa tapi dibawa dari Tiongkok oleh orang asli sana. Kaget? Aku pun kaget! Haha
Seru banget baca buku ini, melihat perkembangan Indonesia dari wajah Jakarta dalam pandangan kuliner. Jadi, tahu banget beberapa tempat makan yang masih bertahan dari zaman Belanda, tempat makan yang zaman dulu cuma bisa didatangi para meneer dan mevrouw, sekarang bisa Kita datangi. Penggambaran bagaimana mulai munculnya tempat makan para old money, street food dan tempat makan bersejarah langganan para tokoh besar seperti Sutan Sjahrir, Mohammad Hatta, dll.
Gara-gara buku ini sekarang kalau ke Jakarta lebih tertarik dateng ke tempat makan yang berumur tua dan bersejarah dibanding makanan baru yang sedang viral di media sosial, rasanya pengen ngrasain sensasi makan sambil bernostalgia. Oh, iya, gara-gara buku ini juga aku belajar bahwa ternyata membuka sebuah restoran, cafe atau toko roti/jual makanan apapun deh enggak semudah ada lahan kosong lalu dibuka lalu menjual makanan yang tengah viral dan duaar ramainya cuma sesaat. Aku belajar beberapa restoran dan rumah makan yang masih bertahan ternyata selain memikirkan lokasi yang strategis mereka juga mempelajari demografis sehingga mereka bisa mencocokkan makanan yang dijual dengan nilai-nilai serta status masyarakat di sekitarnya. Keren banget kan! Buku ini cocok nih buat yang bingung mau ajak dinner pasangan atau kolega kemana. Lumayan pas ajak makan nanti gak anyep, ada bahan pembicaraan tentang sejarah tempat makan tersebut. Mungkin buku ini akan lebih lengkap lagi kalau ditambah daftar tempat makan yang disebutkan dalam buku yang masih ada dan dapat Kita kunjungi tanpa Kita harus mengulik dimana alamat jelasnya dan apakah masih berdiri atau sudah tutup atau malah berganti nama dan pindah tempat.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Farah Fitria Sari.
228 reviews10 followers
May 4, 2025
Buku ini cukup keren untuk dapet rating 5 bintang. Untuk sekadar sebagai pengantar sejarah "dining" ibu kota, buku ini nyediain referensi yang lumayan mateng buat next explore sejarah lain yang berhubungan mengenai Jakarta.

Runut banget ngejelasinnya. Dimulai dari zaman VOC sampe tahun 2000-an. Perkembangan restoran/kafe dan kebiasaan ngumpul atau makan cantik dari zaman ke zaman juga digambarin di sini.

Saya jadi bisa ngerti dari buku ini, tema tiap fase dan apa yang ngebuat fase itu berubah ke fase selanjutnya. Dari tahun 1900an awal misalnya, salah satu pendobrak perubahannya itu dateng dari faktor teknologi. Sejak ada teknologi pendinginan, industri susu sapi jadi lebih maju dan jadi stimulan industri es krim di Jakarta (contoh pelopornya Ragusa dan Baltic). Sedangkan tahun-tahun pasca perang, 1950-1960an itu pendobraknya restrukturisasi kota Jakarta dan perkembangan ekonomi. Gara-gara perkembangan ini tahun 1970an mulai menjamur hotel bintang 5 yang bawa konsep fine dining barat dan timur. Di masa-masa ini banyak perintis bisnis supermarket juga kayak Gelael dan Hero. Terus 1980-1990an konsep ini beralih ke perkembangan mall yang nawarin fusion hotel dan supermarket ini - konsep food court lebih berkembang di era ini.

Recommended! Bukan cuma karena ngasih nuansa baru di benak saya buat kehidupan kota Jakarta, tapi juga ngasih landasan pikir perubahan kebiasaan makan-makan dan ngumpul-ngumpul pada umumnya dan faktor apa aja yang ikut main di situ. Jadi pengen nanya juga, kota lain sejarahnya gini juga nggak ya?
Profile Image for Center For Study Indonesian Food Anthropology .
46 reviews4 followers
January 1, 2023
Ditulis oleh seorang anak muda yang merupakan pengamat restoran dan penulis makanan. Buku ini memberikan nuansa baru terhadap referensi kuliner yang tidak hanya menikmati makanannya, namun penulis menampilkan adanya kontribusi historis dari bangunan yang memotret kegiatan manajemen sistem penyelanggaraan makanan atau biasa dikenal dengan sebutan food service (pelayanan makanan). Dari covernya sudah terkesan model retro dan menegaskan isi dari buku ini, dengan daftar isi dan sajian yang tidak bertele-tele, penulis langsung menyajikan intisari dari buku ini yang mencakup : gaya hidup di Batavia Abad ke-19, New Gondangdia dan suasana Jakarta di era 60-an. Buku ini sangat menarik dibaca karena disampaikan dengan bahasa generasi muda yang tidak terlalu kaku, sehingga ada selipan humor tentang menceritakan cita rasa kaum urban pada masanya yang ternyata banyak sejarah dan catatan migrasi pada perkembangan bangunan dan hidangan. Intisari buku membahas tentang dinamika kehidupan perkotaan pada abad ke-19 hingga 1990 dan lebih mengkaji perubahannya pada tata letak restoran di Jakarta sebagai Ibukota.
Terimakasih kepada penulis yang telah mendokumentasikanya.
Profile Image for Sheeta.
218 reviews17 followers
January 29, 2025
Membaca buku ini rasanya seperti disajikan makanan di hadapan kita, padahal fokus buku ini bukan hanya pada makanannya, tetapi pada restorannya.

Buku ini menjadi salah satu buku non-fiksi populer yang sangat ringan dan nyaman dibaca. Kevindra mampu menggunakan sumber-sumber primer dengan baik dan menganalisisnya dengan baik pula. Melalui buku ini, kita mampu melihat bagaimana transformasi restoran di Jakarta.

Perubahan era, masuknya teknologi dan informasi, hingga terjadinya perubahan ekonomi ternyata memengaruhi selera masyarakat Jakarta dalam mengonsumsi makanan. Terutama pada tahun 1970-1980an, transformasi lanskap restoran di Jakarta terjadi besar-besaran. Mulai dari restoran Barat yang memang sudah berkembang sejak 1960an, restoran Jepang, restoran Turki, bahkan restoran Asia seperti Thailand.

Di tahun 1998, pasca reformasi, terjadi perubahan yang drastis. Disini mulai muncul warung tenda sebagai bentuk kenyataan bahwa ekonomi negara yang turun dan banyaknya usaha restoran mewah yang gulung tikar.
Profile Image for Makarim Muhammad.
17 reviews
April 30, 2023
Membaca buku ini, melintasi Gondangdia-Cikini tidaklah sama lagi. terbayang lanskap ibukota pra -kemerdekaan seperti yang digambarkan penulis. Terbayang di daerah ini dahulu berdiri restoran-restoran pertama yang ada di Indonesia.
Selain menawarkan informasi yang kaya akan sejarah kuliner dan restoran di ibukota. penulis juga menjelaskan sejarah pengembangan kota yang turut memengaruhi pendirian restoran. Misalnya pembangunan kebayoran baru, pembangunan daerah Menteng dan Cikini, dll. Segalanya saling berkaitan.
Bagian yang menceritakan sejarah fine dining di hotel-hotel besar Jakarta juga menarik. Pembaca seakan dibawa ke tahun-tahun awal kemerdekaan hingga akhir 90-an. Era dimana ibukota sedang gencar-gencarnya melakukan pembangunan tak terkecuali membangun budaya kuliner. Di sela-sela buku disusupi gambar-gambar dokumentasi seperti gambar restoran, iklan restoran, dan daftar menu restoran ketika itu.
Bagi penggiat sejarah dan pecinta kuliner. buku ini cocok untuk Anda!
Profile Image for Soraya Nur Aina.
163 reviews1 follower
December 12, 2023
Sebagai wargi kabupaten, aku baca ini pakai menerka. Karena ngga lahir dan besar sebagai penduduk Ibukota, jadi kurang paham Jalan atau Daerah mana saja yang dimaksud buku ini.

Buku ini menceritakan sejarah makanan, utamanya restauran dan hotel berbintang sejak era Hindia Belanda hingga 1990an. Aku baca ini siklusnya selalu berhenti - gugling - berhenti - gugling. Tapi dari baca ini jadi tau seberapa pengaruh Hotel Indonesia jaman dulu dan Gubernur Ali Sadikin.

Aku jadi sedikit tau apa itu Hotel Des Indes, Ice Cream Baltic, Ice Cream Tjanang -- dan sederet sejarah resto populer jadul lain. 250 halaman yang amat sangat daging lah kata anak jaman sekarang~
Profile Image for arneta.
166 reviews
January 3, 2023
Not even a Jakartan, tapi ngerasa kayak ikut nostalgianya. Penulisannya detil dan ngalir, jadi mudah untuk membayangkan lanskap yang dibahas di tiap bab. Kadang ada beberapa bagian panjang yang terasa agak melenceng dari pembahasan, tetapi disambungkan cukup halus ke bagian restoran dan makanannya. I just think every Jakarta should read this and go on a foodie city tour.
Profile Image for Anastasia Celestine.
1 review
December 28, 2023
Bought this book in coincidence, by window shopping at the bookstore... but did not regret it at all.

Simple but captivating ✨️ good reference for learning the history of Jakarta culinary story with easy to follow narratives and interesting photos featuring Jakarta culinary legends in the past that some still existed until now... overall love it 💕 (finished it only around 2-3 days of reading)
Profile Image for Mohammad  Norman.
3 reviews1 follower
May 9, 2022
pemaparan Penulis sangat rinci di buku ini sehingga saya bisa memahami isi buku ini dengan mudah dan menyelesaikannya sekali duduk. Terlebih lagi referensi yang digunakan Penulis ini sangat beragam dan kredibel.
84 reviews
July 21, 2022
Keren karena nggak semata membahas perkembangan restoran di Jakarta aja tapi juga soal perkembangan kotanya sendiri.
55 reviews1 follower
October 15, 2023
Seruuu banget!!! Aku bukan food topic enjoyer tapi gara-gara buku ini jadi penasaran bangeeeet sama sejarah makanan dan tempat makan lainnya 😆
Profile Image for Kyo.ko.
9 reviews2 followers
June 20, 2025
very good book! not only talking about food itself, but the cultural and historical background behind it were described well. very interesting.
Profile Image for Ima Aisyah Rahma.
5 reviews
January 4, 2026
Rasanya ingin nostalgia ke beberapa restoran yang masih exist yang diceritakan di buku ini.
Displaying 1 - 22 of 22 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.