RESENSI NOVEL PERGI: MENEMUKAN TUJUAN DARI LANGKAH SEDERHANA; PERGI.
Judul buku : Pergi
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Republika
Terbit : April 2018
Tebal buku : 455 halaman
Jenis buku : Novel
Kenangan itu melesat berkumpul di kepalaku. Mamak yang memelukku, melindungiku sambil berbisik, “Minta maaf, Bujang. Minta maaf kepada bapakmu. Berlutut…”. Hal paling membahagiakanku selama hidup di talang adalah: saat Tauke Besar menjemputku. Aku berlarian meninggalkan Bapak—bahkan saat Mamak menangis terisak tidak rela melepasku, aku tetap berlarian pergi. (hal. 54—PERGI)
Penulis berdarah kelahiran Sumatera ini berhasil menghipnotis para pembaca, menganggap kalau-kalau yang menulis adalah seorang wanita, padahal mereka keliru. Seorang alumni FE UI, yang hampir di seluruh novel-novel action-nya bertemakan ekonomi dunia, menguak apa yang tidak diugkap media publik, tidak terdaftar di pemerintah, dan jelas tak dikenali masyarakat, itulah shadow economy, ekonomi yang bergerak di bawah bayangan—illegal.
Dia juga yang memiliki kontra dengan pemerintah, menghentikan menerbitkan seluruh bukunya, tidak akan dicetak ulang, dan buku-buku di toko dibiarkan habis secara alamiah hingga 31 Desember 2017 lalu. Keputusan yang ia ambil, mengingat tidak-adilnya perlakuan pajak kepada profesi penulis, dan tidak pedulinya pemerintah sekarang menanggapi kasus ini. Ya, penulis itu bernama Tere Liye. Menulis hal demikian di akun fanspage-nya—yang entah hari ini ke mana? Setelah berusaha mengirimkan surat-surat beralamatkan pemerintah yang tak kunjung dibalas. Saya yakin, penulis ingin buku-bukunya dijangkau pembaca—bahkan tanpa harus berurusan dengan pajak yang menggurita, lama-lama mencekik, lantas membunuh, Tere Liye melakukan ini karena peduli dengan literasi dan nasib seluruh penulis di Indonesia. Keluhan itu—setelah di-share ratusan orang—langsung ditanggapi Ditjen Pajak lewat akun twitter resminya @DitjenPajakRI, bahkan sampai membuat Menteri Keuangan, Sri Mulyani angkat bicara, memperhitungkan netto dan brutto, pajak penulis, profesi, Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP)—apalah itu, saya kurang mengerti. Hingga terjadilah! Mulai bulan Desember, rak-rak buku di toko mulai sepi dari buku-buku Tere Liye.
Tepat di bulan April 2018, Tere Liye akan mencetak ulang buku-bukunya dan menerbitkan buku-buku baru, seperti KOMET, CEROS DAN BATOZAR, dan salah satunya novel PERGI ini. Kejutan yang mengagumkan, saya sampai bersyukur buku-buku penghibur saya muncul lagi di rak-rak toko. Tapi saya tidak sempat membeli novel ini di bulan itu, tentu saja karena banyaknya orang yang berburu; ingin membacanya. Saya ingat kata Tere Liye, “Saya kan menyuruh kalian untuk baca buku-buku Tere Liye, bukan membelinya.” Jadi niat saya ingin pinjam, tapi pikiran saya berubah haluan—setelah bulan demi bulan, tidak ada yang mau dipinjami—terlebih memang tidak ada kawan saya yang punya, juga tidak terlalu berminat dengan bacaan penghibur itu, betul yang dikatakan Tere, kalau zaman ini sangat sedikit manusia mencari hiburan dalam buku, mereka lebih memilih jalan-jalan—plesir—ke luar negeri, menghabiskan uang untuk kesenangan sesaat—kadang tanpa tujuan. Novel ini saya rekomendasikan untuk kalian, terutama bagi para remaja yang notabene zaman ini, kehilangan arah tujuan hidupnya, lebih banyak menghabiskan waktu untuk hal yang tidak produktif. Sangat disayangkan bukan, kalau para remaja yang memiliki energi dan daya pikir cemerlang disibukkan dengan sesuatu atau banyak hal yang membuatnya “galau”, berambisi mendapatkan atau memenuhi keinginannya—tanpa melihat apa itu baik atau buruk untuk dirinya. Tere Liye berhasil menyinggungg ini melalui tokohnya Rambang (hal 115-PERGI).
Nah, novel ini bagi saya mendukung sekali untuk bahan pustaka tentang penggambaran manusia yang punya VISI besar, TUJUAN akhir dalam setiap langkah-langkah hidup. Novel ini tidak hanya cocok bagi kalangan remaja atau anak muda saja, tentunya orang dewasa—lebih-lebih akan membutuhkannya, karena ciri khas novel action Tere Liye adalah menunjukkan suatu hal yang seharusnya tidak dilakukan—haram atau tabu. Hanya orang yang mampu berfikir dewasalah yang akan mencernanya dengan baik. Logika selalu dibolak-balik olehnya. Ini akan membuat kerja otak kita lebih tajam. Bagus—terlebih dengan gaya bahasa yang renyah, sederhana, dan mudah dipahami.
Dalam novel ini, Bujang-lah tokoh utama yang mencari TUJUAN, yang membuat langkah kakinya PERGI menapaki jalan yang semestinya. Dikisahkan Bujang sangat bahagia PERGI dari talang—tanah Sumatera, meninggalkan bapaknya yang sering marah dan memukulinya setiap ia diajari mengaji oleh mamaknya. Saat itu, Bujang memutuskan PERGI karena rasa benci.
Tokoh Agam—sering kita sebut Bujang, berduet manis dengan saudara tirinya; Diego, anak bapaknya dari ibu yang lain bernama Catrina, orang Meksiko yang menikah dengan Samad sebelum menikah dengan Midah—ibunya Bujang. (Menarik; Samad PERGI setelah lamarannya ditolak oleh keluarga Midah, kali ini penulis ingin mengajarkan PERGI karena rasa cinta, manis)
Berhasil bergabung dengan keluarga penguasa shadow economy, Bujang akhirnya menjadi tukang pukul nomor satu—setelah Tauke Besar wafat, dia menggantikannya, menjadi kepala Keluarga Tong. Membangun tim intelligent yang berwarna bersama si kembar Yuki dan Kiko—ninja genit karena tampilannya yang sering menarik perhatian, White—seorang koki yang mahir menggunakan senjata mesin AK-47, juga Salonga—guru menembak, dan satu-satunya guru yang masih hidup.
Aku menghela napas. Perang ini tentu saja akan berakhir dengan serangan besar-besaran kepada Master Dragon, itulah ending-nya. Apalagi yang kuharapkan? Kami berdamai? Tidak mungkin, dan harganya mahal sekali. Kepala Keluarga Beijing, El Pacho, juga Tuan Muda Lin tewas. Termasuk ratusan tukang pukul lainnya, bergelimpangan terbunuh. Entah berapa lagi yang akan gugur saat perang besar meletus di Hong Kong. Tapi itu memang satu-satunya jalan keluar. Menyerang atau diserang. Membunuh atau dibunuh. Bagaimanapun transformasi Keluarga Tong, sekuat apa pun bandul Keluarga Tong dibawa pergi ke sisi yang lebih terang, kekerasan akan selalu menjadi keniscayaan. Karena itulah sejatinya keluarga penguasa shadow economy. (hal.379--PERGI)
Tak sedap rasanya kalau kisah ini kehilangan tokoh penghancur, pengusik, musuh—antagonis. Penokohan level tinggi, tokoh antagonis berpusat di Master Dragon, kepala seluruh keluarga penguasa shadow economy, yang lebih menarik adalah Yurri, tokoh antagonis—yang sengaja sepertinya—tidak terlihat batang hidungnya, hanya alat-alat bomnya saja yang dibayar Master Dragon untuk menghancurkan seluruh keluarga shadow economy—ingin menguasai dunia dengan cara licik, membuat aliansi bersama keluarga lain dan menusuknya dari belakang. Akhirnya Keluarga Tong memutuskan untuk beraliansi dengan keluarga yang netral atau benci pada Master Dragon—Keluarga Yamaguchi dan Bratva. Mereka membuat rencana untuk menyerang dan menghabisi Master Dragon di Macau dan para sekutunya; El Pacho, Keluarga Beijing dan Keluarga Lin.
Awalnya, saya enggan membaca novel bergenre action—anak perempuan mana yang suka dengan pukul-pukulan? Walau memang kebanyakan pembaca adalah perempuan, tapi tidak berarti laki-laki tak jua membaca ini. Tere Liye mampu mengemasnya dengan baik lewat cover dan judul yang menggoda; mengira kalau novel ini bukan novel action, tapi romance. Sudut pandang ‘aku’ membuat kita ikut merasakan menjadi Bujang.
Alur yang maju-mundur terkadang membuat suasana hati tertata, menerima kenyataan masa lalu untuk mengambilnya sebagai sebuah pelajaran, menyusun kembali lengkah-langkah yang akan dilakukan di masa depan. Tidak ada yang bisa menghentikkan waktu, tapi ada yang bisa mengingatkan kita pada waktu yang telah lalu—dengan menghentikan langkah sejenak, mengulas kembali, dan merenungkannya dalam-dalam. Dan tokoh Tuanku Imam bersama Salonga berhasil membuat tempo kisah Bujang ini menjadi syahdu dengan nasihat-nasihatnya yang membuat Bujang berhasil membuat keputusan, ke mana ia akan ‘pergi’?
Yang paling menarik dan saya sukai adalah saat Tere Liye menuliskan tempat-tempat besar luar negeri—didominasi suasana Meksiko, tapi sedikit sekali menyebutkan wilayah Indonesia dengan spesifik—terlepas dari para pembaca yang akan mengerti walau tak disebut secara detail. Seperti penyebutan Jakarta, Tere Liye lebih memilih menuliskannya sebagai Ibu Kota Negara. Manis sekali.
Tujuan yang jelas akan menentukkan gerak langkah kaki, tanpa adanya tujuan atau alasan yang kuat, sekuat dan sehebat apapun manusia, tentu tidak akan bergerak bukan? Bujang digambarkan memiliki VISI yang besar, menjadi Tauke Besar menggiringnya ke konsekuensi lebih rumit, dari hanya sekadar tukang pukul atau pembunuh bayaran, atau penyelesai masalah ekonomi paling rumit.
Ke mana aku akan membawa ‘pergi’ Keluarga Tong? Ke mana aku sendiri akan ‘pergi’? kalimat Tuanku Imam kembali mengiang di telingaku. (hal. 379—PERGI)
Bujang—tokoh utama—lah yang berhak memilih tujuan atau alasan PERGI-nya sebuah perkumpulan atau organisasi shadow economy tersebut. Tapi, saya lihat di-ending justru Bujang hanya menginginkan menjadi petani biasa yang bahagia—dalam bab Kisah Dua Petani hal 385, dia meninggalkan jabatan Tauke Besar—menyerahkannya pada Basyir, dan menolak tawaran saudara tirinya untuk menghancurkan shadow economy dan menjadi penguasa dunia—dengan alasan menjaga bandul keseimbangan dan PERGI ke haluan yang lebih baik.
Kejanggalan dalam sebuah cerita atau kisah bagi saya wajar-wajar saja—karena memang ini ciptaan manusia, tidak ada yang sempurna. Tapi saya tetap menikmati makna demi makna yang disampaikan, walau saya agak bingung menentukan ‘delapan penguasa shadow economy’, karena saya hanya menemukan tujuh; Master Dragon, El Pacho, Keluarga Lin, Keluarga Beijing, Bratva, Keluarga Yamaguchi, dan Keluarga Tong. Sisanya saya sulit menemukannya—mungkin dirahasiakan keberadaanya, lebih berisiko kalau massa tahu.
Tere Liye selalu menitipkan satu pesan berarti dalam setiap novel-novelnya, yang sering disebut-sebut, dan menjadi ide utama. Yang saya salut, pesan itu didapat setelah membaca beratus-ratus halaman bukunya. Dan itu yang membuat gerak membaca kita terlatih agar lebih cepat—mendapatkan ide pokoknya. Di novel PULANG, Tere Liye menitipkan pesan SETIA, kali ini Tere menitipkan pesan VISI, sebuah tujuan saat kita PERGI.
Pada kesimpulannya, “Orang yang mempunyai VISI besar harus siap disebut gila.” Mark Zuckerberg. Begitulah seharusnya manusia di muka bumi ini, mengemban satu VISI yang besar, bahkan musuh pun akan bersatu dan beraliansi untuk menghambat bahkan menghancurkan VISI besar itu. Dan VISI atau TUJUAN akan membuat langkah demi langkah kita terarah, ke mana kita harus PERGI, dan akan ke mana arah kaki kita menapak. Jadi tentukan TUJUAN atau VISI hidup kalian, kawan! (Jika kalian baca novel ini, sampaikan salamku pada Bujang, “Semoga misi-misinya berjalan lancar dengan TUJUAN-nya yang baru!”)
Poin lebihnya sebagai muslim, seharusnya hati kita tergerak dengan kalimat di awal kitab Al-quran yang memberi petunjuk untuk memilih TUJUAN PERGI; JALAN LURUS.