Jump to ratings and reviews
Rate this book

KAKI KUDA dan cerita lain

Rate this book
Seorang perempuan tua sedang mencabuti rambut mayat di ruang atas Gerbang Rashomon. Seorang samurai--yang baru saja dipecat dan harus mencari jalan untuk melanjutkan hidup--menyaksikan hal tersebut.

Ada pula seorang pendeta yang memiliki hidung sangat besar, menggantung sampai ke bawah dagu. Diceritakan dengan penuh humor, sang pendeta berusaha untuk mengecilkan hidungnya dalam cerpen "Hidung"; yang dipuji-puji oleh Natsume Soseki.

Selain itu, ada "Benang Laba-laba", "Kaki Kuda", "Bubur Ubi", dan "Dalam Semak Belukar", enam karya pilihan Akutagawa Ryunosuke, sang Bapak Cerita Pendek.

152 pages, Paperback

Published July 1, 2021

4 people are currently reading
140 people want to read

About the author

Ryūnosuke Akutagawa

1,336 books2,137 followers
Akutagawa Ryūnosuke (芥川 龍之介) was one of the first prewar Japanese writers to achieve a wide foreign readership, partly because of his technical virtuosity, partly because his work seemed to represent imaginative fiction as opposed to the mundane accounts of the I-novelists of the time, partly because of his brilliant joining of traditional material to a modern sensibility, and partly because of film director Kurosawa Akira's masterful adaptation of two of his short stories for the screen.

Akutagawa was born in the Kyōbashi district Tokyo as the eldest son of a dairy operator named Shinbara Toshizō and his wife Fuku. He was named "Ryūnosuke" ("Dragon Offshoot") because he was born in the Year of the Dragon, in the Month of the Dragon, on the Day of the Dragon, and at the Hour of the Dragon (8 a.m.). Seven months after Akutagawa's birth, his mother went insane and he was adopted by her older brother, taking the Akutagawa family name. Despite the shadow this experience cast over Akutagawa's life, he benefited from the traditional literary atmosphere of his uncle's home, located in what had been the "downtown" section of Edo.

At school Akutagawa was an outstanding student, excelling in the Chinese classics. He entered the First High School in 1910, striking up relationships with such classmates as Kikuchi Kan, Kume Masao, Yamamoto Yūzō, and Tsuchiya Bunmei. Immersing himself in Western literature, he increasingly came to look for meaning in art rather than in life. In 1913, he entered Tokyo Imperial University, majoring in English literature. The next year, Akutagawa and his former high school friends revived the journal Shinshichō (New Currents of Thought), publishing translations of William Butler Yeats and Anatole France along with original works of their own. Akutagawa published the story Rashōmon in the magazine Teikoku bungaku (Imperial Literature) in 1915. The story, which went largely unnoticed, grew out of the egoism Akutagawa confronted after experiencing disappointment in love. The same year, Akutagawa started going to the meetings held every Thursday at the house of Natsume Sōseki, and thereafter considered himself Sōseki's disciple.

The lapsed Shinshichō was revived yet again in 1916, and Sōseki lavished praise on Akutagawa's story Hana (The Nose) when it appeared in the first issue of that magazine. After graduating from Tokyo University, Akutagawa earned a reputation as a highly skilled stylist whose stories reinterpreted classical works and historical incidents from a distinctly modern standpoint. His overriding themes became the ugliness of human egoism and the value of art, themes that received expression in a number of brilliant, tightly organized short stories conventionally categorized as Edo-mono (stories set in the Edo period), ōchō-mono (stories set in the Heian period), Kirishitan-mono (stories dealing with premodern Christians in Japan), and kaika-mono (stories of the early Meiji period). The Edo-mono include Gesaku zanmai (A Life Devoted to Gesaku, 1917) and Kareno-shō (Gleanings from a Withered Field, 1918); the ōchō-mono are perhaps best represented by Jigoku hen (Hell Screen, 1918); the Kirishitan-mono include Hokōnin no shi (The Death of a Christian, 1918), and kaika-mono include Butōkai(The Ball, 1920).

Akutagawa married Tsukamoto Fumiko in 1918 and the following year left his post as English instructor at the naval academy in Yokosuka, becoming an employee of the Mainichi Shinbun. This period was a productive one, as has already been noted, and the success of stories like Mikan (Mandarin Oranges, 1919) and Aki (Autumn, 1920) prompted him to turn his attention increasingly to modern materials. This, along with the introspection occasioned by growing health and nervous problems, resulted in a series of autobiographically-based stories known as Yasukichi-mono, after the name of the main character. Works such as Daidōji Shinsuke no hansei(The Early Life of

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
52 (30%)
4 stars
90 (53%)
3 stars
26 (15%)
2 stars
0 (0%)
1 star
1 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 54 reviews
Profile Image for cindy.
1,981 reviews156 followers
August 8, 2021
Sebenarnya dari 6 cerpen di antologi ini, 3 di antaranya sudah pernah kubaca di antologi yang lain ataupun sebagai kisah lepas, di mana ketiganya sudah sangat terkenal. Ketiga cerpen itu adalah Rashomon sebagai cerpen yang membuka jalan bagi Akutagawa, Hidung karya masterpiece-nya yang tak mudah dilupakan serta Benang Laba-laba yang menjadi salah satu cerita pendek favoritku sepanjang masa. Selain itu masih ada Kaki Kuda yang diambil jadi judul buku kumcer ini, Dalam Semak Belukar, dan Bubur Ubi.

Rashomon menurutku adalah cerpen yang sangat baik mencerminkan karya-karya Akutagawa. Penulis ini memang punya cara khas untuk menunjukkan sikap manusia yang tak terduga saat menghadapi suatu situasi kepepet. Bahkan orang baik-baik dan terhormat sekali pun bisa melenceng dari moralitas yang dipegangnya.

Berbeda dengan Rashomon, Benang Laba-laba justru menunjukkan hal sebaliknya. Jika seseorang sudah dasarnya buruk, saat menemukan hal yang baik pun, ia tetap akan jadi buruk. Sungguh menyedihkan membaca ending cerita ini.

Kisah Hidung dan Bubur Ubi, menurutku punya tema yang mirip..., yaitu "hati-hati dengan pengharapanmu". Saat suatu masa hal tersebut terkabul, apakah kamu benar-benar mengharapkannya? Apakah kamu siap menerimanya? Ah...

Dalam Semak Belukar mengisahkan suatu tragedi dari berbagai pov pihak yang terlibat. Pada akhirnya, tidak jelas mana kebenaran yang sebenar-benarnya, satu kejadian bisa punya banyak sisi dalam hati pelakunya. Akhirnya hanya menyisakan kegetiran saja.
Aku tidak begitu suka kisah ini, tapi cara penyajiannya unik. Belum pernah membaca karya Akutagawa yang seperti ini.

Sedangkan cerpen Kaki Kuda benar-benar menarik. Shinigami Tiongkok salah mengambil nyawa seseorang, tapi saat sadar salah dan akan dikembalikan, mayat si orang tersebut sudah membusuk kakinya, sehingga dicarikan penggantinya, yaitu kaki kuda :))
Akhirnya si orang ini hidup kembali (setelah 3 hari tewas dan nyaris dikubur), tapi kaki-kakinya yang kaki kuda bikin masalah sepanjang sisa hidupnya. Kisah fantasi iseng usil ini, terasa ringan dan komedis, tapi setelah kupikir-pikir, terasa betapa tidak adilnya hidup ini. Nasib buruk. Nasib buruk.

Sebuah antologi yang membawa nama Akutagawa dengan sangat baik. Proses penerjemahannya yang enak dibaca dan lancar sekali, langsung dari bahasa aslinya, juga jadi nilai plus buku ini. Yang aku kurang suka hanyalah penggunaan glosarium alih-alih footnote atau endnote. Paling tidak kalu endnote kan sudah jelas mana-mana kosa kata yang ada penjelasan lebih lanjutnya, dan ada penomeran yang langsung menunjukkan penjelasan tersebut. Tapi secara keseluruhan, bagus sekali.

Oiya, dan covernya juga lumayan keren.

Profile Image for raafi.
929 reviews450 followers
August 1, 2021
Ulasan lengkap: https://bibliough.com/buku-kaki-kuda/

Going through unsettling conditions were not easy and reading this book was a part of it.

Buku ini berisi 6 cerita pendek karya pengarang Jepang klasik, Akutagawa. Masing-masing memberikan variasi kehidupan meresahkan yang berbeda. Tokoh-tokohnya menyimbolkan dua sisi perspektif moral berseberangan yang bakalan menarik jika dianalisis lebih lanjut. Mungkin aku akan melakukannya.
Profile Image for Faisal Chairul.
267 reviews17 followers
July 14, 2021
Ulasan ini sudah dimuat di halaman instagram pribadi gw, @faisalchairul
.
Buku 'Kaki Kuda' ini merupakan buku terjemahan sastra klasik Jepang ketiga yang diterbitkan Penerbit Mai setelah Gagal Menjadi Manusia dan kumpulan enam cerita pendek tulisan 4 penulis berbeda (Natsume Soseki, Edogawa Ranpo, Kaiji Motojiro dan Ogawa Mimei) berjudul Sengkarut. Buku 'Kaki Kuda' ini merupakan kumpulan enam cerita pendek karya Akutagawa Ryunosuke. 'Kaki Kuda' sendiri merupakan salah satu judul cerpen yang ada di dalam kumcer ini yang pertama kali terbit dengan judul Uma no Ashi pada tahun 1925. Kelima judul lainnya adalah Rashomon (terbit pertama kali tahun 1915), Hana (Hidung) (1916), Imogayu (Bubur Ubi) (1916), Kumo no Ito (Benang Laba-Laba) (1918) dan Yabu no Naka (dalam Semak Belukar) (1921).
.
Cerita-cerita pendek dalam kumcer ini menceritakan potret sifat-sifat yang umum dimiliki manusia. Misalnya, cerita berjudul Rashomon yang merupakan cerpen favorit gw, bercerita tentang pertentangan batin seorang samurai yang luntang-lantung setelah dipecat untuk mempertahankan atau menyingkirkan idealismenya untuk mencuri demi bisa terus bertahan hidup. Pertentangan batin itu semakin menguat ketika ia bertemu seorang perempuan tua di puncak tangga gerbang 'Rashomon' yang juga memiliki pertentangan batin serupa.
.
Lalu ada cerpen berjudul 'Hidung' dan 'Bubur Ubi' yang bercerita tentang bias manusia ketika memiliki keinginan untuk meraih sesuatu (suatu impian). Dalam cerpen 'Hidung', diceritakan seorang pendeta yang memiliki hidung berukuran sangat besar, 15 cm panjangnya hingga menjuntai ke dagu. Keberadaan hidung besarnya tersebut seringkali membuat ia rendah diri dan berhasrat untuk memiliki hidung yang 'normal'. Perasaan rendah dirinya ini tercermin saat ia terus mencari-cari keberadaan orang yang juga memiliki hidung besar seperti dirinya setiap ada banyak orang berdatangan untuk menenangkan hatinya.
.
Sementara cerpen 'Bubur Ubi' menceritakan seorang samurai kelas rendah buruk rupa yang berhasrat untuk memakan 'Imogayo', sejenis bubur ubi yang dianggap memiliki kelezatan tertinggi pada zamannya bahkan saking lezatnya seringkali dijadikan santapan kerajaan.
.
Dua cerpen tersebut diatas mengisyaratkan sifat manusia dimana ketika ada sesuatu yang kita inginkan, hasrat kita menggebu-gebu, namun ketika sudah berada di genggaman kita, kita justru mempertanyakan makna keinginan kita tersebut.
.
Gaya cerita yang jenaka, ditambah sedikit bumbu 'keanehan-keanehan di luar batas nalar dan imajinasi', buat gw kumcer ini lebih menarik untuk dibaca dibandingkan dua buku yang sudah terbit lebih dahulu :D
Profile Image for Szasza.
246 reviews21 followers
November 10, 2022
Gak tau mau review apa tapi mau rambling tentang cerita favorite ku di buku ini yang judulnya Hidung; menurut aku cerita ini yang paling relateable, soalnya plot utamanya tentang insecurities. Moral story yang aku dapet dari cerpen Hidung adalah:

♡ insecurities will kill you slowly
♡ people will talking shit about u no matter what you do, gak peduli kamu salah atau bener people gonna talking shit about you anyway so fuck people's opinions
♡ kita akan selalu merasa gak cukup, gak peduli apapun yang kamu dapat kalo kamu gak bersyukur ujung ujungnya pasti akan selalu merasa gak cukup
♡ and the only thing you could do buat ngelawan this whole insecurities shit adalah yaaaa accept and love ourselves
Profile Image for Wardah.
952 reviews172 followers
December 6, 2021
Akhirnya baca Rashomon yang terkenal itu dan cerita-cerita lainnya yang ditulis Akutagawa.

1) Rashomon 3 bintang
Ceritanya agak anti klimaks sih buatku, pembukaannya panjaaang banget dan berliku. Ending-nya ternyata udah selesai. Yah, tapi maknanya dalam sih. Serta mungkin ironi yang dibawa ini bikin Rashomon terkenal.

2) Hidung 3,5 bintang
Membacanya menarik, penasaran banget sama apa yang akan terjadi sama pendeta dan hidungnya yang panjang. Terus ternyata cerita berkembang nggak seperti yang aku bayangkan. Haha. Absurd dan menyentil soal self love.

3) Benang Laba-laba 4 bintang
Pendek dan to the point. Meski begitu ending-nya memuaskan. Worth to read!

4) Kaki Kuda 4 bintang
Ide cerita ini bikin nggak habis pikir. Gimana Akutagawa bisa kepikiran coba??? Tentu saja ceritanya nggak kalah absurd ya, gimana mau nggak absurd kalo ini cerita tentang laki-laki yang hidup lagi dan kakinya berubah jadi kaki kuda. Nggak habis pikir banget :D

5) Bubur Ubi 3,5 bintang
Ceritanya ternyata lebih sederhana dari yang aku pikirkan. Meski latar karakternya agak membingungkan sih... khususnya soal struktur jabatannya itu. Tapi ya tentu saja banyak pesan moral, khususnya soal kesederhanaan, di cerita ini.

6) Dalam Semak Belukar 4 bintang
FAVORITKU! Dalam Semak Belukar alias Yabu no Naka ini adalah pioner cerita misteri jepang yang menggali unsur ketidakpercayaan pada karakternya (berdasarkan artikel yang kubaca, cmiiw). Sumpah bacanya merinding! Bikin aku teringat berbagai buku misteri Jepang lain yang udah aku baca. Ending-nya bikin pembaca bengong dan penasaran pada kenyataan yang sebenarnya. Super recommeded!

Bacalah buku ini kalau mau menemukan kisah yang absurd dan menarik. :D
Profile Image for Puty.
Author 9 books1,388 followers
Read
May 8, 2022
Saya baru tahu kalau buku kumpulan cerpen ini memuat 2 cerita pendek Akutagawa Ryunosuke yang diadaptasi ke film legendaris 'Rashomon' karya Akira Kurosawa di tahun 1950-an, 'Rashomon' dan 'Dalam Semak Belukar' ('Yabu No Naka'). Saya jadi tahu juga kalau cerpen aslinya 'Rashomon' ternyata sangat singkat tapi super creepy 🥲 Jadi menurut saya buku ini harta karun sih, heheh.

Selain kedua cerita tadi ada 4 cerita pendek lainnya, 'Hidung', 'Benang Laba-Laba', 'Kaki Kuda', dan 'Bubur Ubi'. Sebagai pembaca yang tidak punya pemahaman mendalam soal sastra Jepang, saya menikmati pengalaman membaca buku ini. Absurd dan tidak bisa ditebak, jadi dinikmati saja. Cocok untuk yang baru mau berkenalan dengan sastra Jepang karena diterjemahkan dengan baik dan enak dibaca. Bukunya pun hanya 150 halaman, jadi tidak terlalu tebal.

Salah satu hal yang saya suka adalah adanya glosarium untuk istilah dalam Bahasa Jepang yang memang tidak dicari padanan katanya dalam Bahasa Indonesia di dalam cerita. Bikin lebih dapat feelnya 😊
Profile Image for Irma Nurhayati.
138 reviews4 followers
January 31, 2022
absurd ini cerita-ceritanya hahaha tapi bisa banget menyindir sih.

yang paling aku suka dari keenam cerpen yang ada di kumcer ini : Kaki kuda, bubur ubi.
kedua cerpen ini panjang banget sih dibanding yang lainnya, tapi sumpah seru.

Kaki kuda tentang orang yang mati suri, tapi mati suri-nya 3 hari dong itupun gara-gara malaikat maut salah ambil arwah orang wkwkwk terus dibalikin ke dunia setelah 3 hari.

bubur ubi tentang samurai yang punya keinginan untuk makan bubur ubi sepuasnya. Perkara bubur ubi aja bisa rumit dan bikin si samurai berhidung merah ini kapok setengah mati.
Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book265 followers
March 2, 2024
Akhirnya bisa baca buku ini, terima kasih #PerpusBerjalan

Buku ini berisi enam cerita pendek. Cerita favorit saya adalah yang berjudul Hidung. Ada bagian di dalam cerita ini yang menarik perhatian saya.
Hati manusia selalu penuh paradoks. Mereka mudah berempati kepada penderitaan orang lain, tetapi juga kurang senang jika orang tersebut berhasil mengatasi penderitaannya dengan susah payah. keberhasilan orang lain, entah bagaimana, bisa secara diam-diam menimbulkan kedengkian dalam diri manusia (hlmn 37).

Dalam cerpen ini dikisahkan seorang pendeta yang khawatir dengan hidungnya yang panjang menjuntai. Dia ingin mengubah bentuk hidungnya, namun di satu sisi sebagai seorang pendeta sebaiknya dia tidak terganggu oleh hal duniawi. Beberapa orang pun berpendapat, untunglah dia pendeta. Karena jika tidak, tentu tidak ada wanita yang menginginkan pria dengan hidung panjang. Singkat cerita, pendeta itu berhasil memendekkan hidungya. Namun ketika hidungnya sudah pendek, orang-orang malah menertawakannya di belakangnya. Itulah paradoks yang disebutkan di atas.

Lima cerpen lainnya juga menarik, tapi cerita berjudul Hidung ini yang paling melekat di benak saya saat menutup halaman terakhir.
Profile Image for Stella_bee.
496 reviews16 followers
July 21, 2021
Kumcer yang ini menarik!!! Padahal I'm not a fans of kumcer actually.. Tapi beneren cerita-cerita yang disajikan enak diikuti, penuturannya juga mengalir, beberapa mungkin terkesan absurd tapi tetap asik. Favoritku Benang Laba Laba, Dalam Semak Belukar & Kaki Kuda
Profile Image for tia.
239 reviews7 followers
February 10, 2022
stres/5

Asli, ngga paham kenapa kumcer singkat yang terdiri dari 6 cerita pendek ini benar-benar ngasih vibes yang dark dan suram tapi 'in a good way' dan—ini karena kebiasaan baca dostoyevsky kali, ya. Yang tipenya 'blak-blakan'—baca dua cerita awal kaya tukang keong hah-hoh-hah-hoh doang. Makin ke cerita selanjutnya, makin tau. Ini sedikit banyak ngasih gambaran sosial di masyarakatnya sih ya. Rada satir tapi okelah, buatku. Dari keenam ini, yang plot twist parah adalah cerpen terakhir wkwkwkwkwkwk sebelum nutup buku baca dua kali di dua lembar terakhir dan masih kaya 'eh gila, serius?' wkwkwkwkwk sebagai penutup epiknya.

Oh, iya. Enaknya kumcer ini tuh open interpretasi. Jadi, asik aja gitu wkwkwkwkwk
Profile Image for Natsume Natsuki.
110 reviews22 followers
March 12, 2022
Ini jadi buku kedua dari seluruh karya Akutagawa Ryunosuke yang sudah aku baca. Buku ini berisi 6 cerita pendek, yaitu Rashomon, Hidung, Benang Laba-laba, Kaki Kuda, Bubur Ubi, dan Dalam Semak Belukar. Dari keenam cerpen ini, yang paling aku suka itu Hidung dan Dalam Semak Belukar.

Di cerpen Hidung, aku lebih banyak ketawa karena cerpennya benar-benar full of humor. Agak kasihan sih kalau liat penderitaan Pendetanya karena hidungnya yang panjang sampai 15 cm, tapi aku malah ketawa. Maaf. Walaupun begitu, aku belajar dari kisah ini bahwa seringkali kita terpengaruh dengan perkataan orang lain dan berupaya untuk mengubahnya sesuai dengan kemauan orang lain. Sama seperti halnya si Pendeta yang tidak puas dengan hidungnya dan berusaha untuk mengubah hidungnya agar terlihat normal di mata orang lain, ternyata yang terjadi malah sebaliknya. Orang-orang jadi lebih menertawakan si Pendeta saat hidungnya sudah tidak panjang lagi. Akhirnya, si Pendeta justru merasa senang saat hidung panjangnya kembali lagi, berharap supaya orang-orang tidak menertawakannya lagi.

Cerpen Hidung adalah cerpen yang dibungkus dengan humor, tetapi tidak lupa menyisipkan gambaran sosial masyarakat saat itu. Bahkan hingga sekarang pun masih banyak cerita si Pendeta masih tetap relevan dengan masyarakat modern saat ini.

Kemudian, di cerita Dalam Semak Belukar, aku kebingungan untuk mencari mana kesaksian yang benar karena semua kesaksian yang ada sangat bertolak belakang. Seolah-olah mereka membuat kesaksian yang hanya menguntungkan mereka sendiri supaya bebas dari segala bentuk tuduhan. Kalau cerita ini boleh dirangkum ke dalam satu kalimat, mungkin kalimat yang cocok adalah berkumpulnya para pembohong.

Oiya, cerpen Dalam Semak Belukar dan Rashomon sudah diangkat jadi film di tahun 1950 dengan judul Rashomon. Walaupun judulnya Rashomon, isi filmnya lebih didominasi sama cerita Dalam Semak Belukar. It's really worth to watch!!
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Lelita P..
632 reviews59 followers
September 10, 2023
Wah, cerpen-cerpen di sini cakep ternyata. Terjemahannya juga enak dibaca. Hampir semuanya mengandung elemen surreal, tapi gaya penceritaannya enak. Bisa dinikmati banget, nggak harus berpikir terlalu keras (soalnya ada, kan, cerpen-cerpen sastra yang bikin pembaca kayak saya mesti mikir dulu maksud ceritanya tuh apa, saking abstraknya). Cerpen-cerpen di sini nggak abstrak, ada alurnya. Pokoknya setelah baca ini jadi paham kenapa Akutagawa-sensei dianggap sebagai Bapak Cerpenis di Jepang.

Dari 6 cerpen di sini, semuanya berkesan, tapi--lagi-lagi Penerbit Mai pintar dalam penempatan--yang paling bikin ngekngok adalah cerpen terakhir, "Dari Semak Belukar". Gaya penceritaannya sangat eksperimental sebagai sebuah "cerpen", dan keambiguan dalam cerpennya itu bikin saya bengong pas udah selesai. "Kesaksian yang mana nih yang benar?! Jadi sebetulnya kejadiannya itu bagaimana?! Yang bunuh tuh siapa?! Ini kok pada ngaku-ngaku semua...."

Cerpen lainnya yang berkesan sekali adalah "Kaki Kuda", yang diambil sebagai judul kumcer ini.... karena ceritanya sangat surreal. Tapi penceritaannya bagus banget, apalagi plotnya membentuk lingkaran utuh.

Secara personal saya suka "Benang Laba-laba" karena sedikit-banyak ngingetin sama Hoozuki no Reitetsu, salah satu anime yang sangat saya sukai.

Cerpen paling terkenalnya sendiri, "Rashomon", justru terasa paling sastra. Pendek juga sih ceritanya.

Btw, ini sampulnya cakep sekaliiiii. Sepertinya ada unsur-unsur dari keenam cerpen itu dalam gambar kaki kudanya.
Profile Image for Adit Maryadi.
128 reviews2 followers
January 13, 2022
Saya tertarik untuk membaca Kaki Kuda karena adanya sebuah situasi bernama efek Rashomon.

Efek Rashomon pertama kali muncul di dalam cerpen 'Dalam Semak Belukar', yakni merupakan sebuah situasi di mana orang-orang yang berbeda memiliki kesaksian & interpretasi yang berkontradiksi perihal untuk memberikan sudut pandang yang berbeda dari satu kejadian yang sama.

Saya belum membaca kesebelas cerpen Akutagawa Ryunosuke lainnya karena Kaki Kuda hanya memuat enam cerpen. Tapi keenam cerpen tersebut masing-masing dapat memberikan kesan kuat serta nilai moral bagi pembacanya.

Rashomon 4.5 ⭐️
Hidung 5 ⭐️
Benang Laba-laba 3 ⭐️
Kaki Kuda 4 ⭐️
Bubur Ubi 4.5 ⭐️
Dalam Semak Belukar 5 ⭐️



Profile Image for Seara Maheswari.
80 reviews1 follower
December 17, 2024
Kumpulan 6 cerpen karya Akutagawa, yang rata-rata latar tempat cerpennya ada di Kyoto. Dari keenam cerpen dalam buku ini, aku paling suka yang Benang Laba-Laba dan Dalam Semak Belukar. Benang Laba-Laba sendiri menceritakan tentang keserakahan dan keegoisan manusia, sementara Dalam Semak Belukar, menceritakan tentang kasus pembunuhan dan berbagai sudut pandang siapa pembunuh sebenarnya. Bahkan, mayatnya pun ngasih kesaksian berbeda dengan para saksi.
Profile Image for Haris Quds.
52 reviews55 followers
August 28, 2021
Suka bangett!!
Spiritual, magis, miris, dan komedik to some extent wkwk
Cerpen2 di buku ini bisa dibaca sebagai hiburan belaka, bisa juga dibaca sebagai kritik-kritik terhadap perilaku masyarakat.

Tentu aja cerpen paling ogut suka yg judulnya Kaki Kuda (yg juga jadi judul buku ini)
Profile Image for Sherry Heather.
199 reviews3 followers
July 23, 2021
Kaki Kuda adalah kumpulan cerita pendek yang penuh dengan nilai-nilai moral. Seperti cerita zaman dahulu biasanya, cerpen-cerpen karya Akutagawa Ryunosuke ini bisa disebut bizarre. Aneh. Di dalam setiap ceritanya, kamu akan menemui keajaiban yang kadang-kadang tak masuk akal, namun menjadi bumbu yang menarik dalam kumpulan ceritanya. Aku paling suka dengan cerita "Bubur Ubi" dan "Semak-Semak". "Bubur Ubi" punya makna yang mendalam lewat kesederhanaan ceritanya, "Dalam Semak Belukar" pun memiliki makna sendiri yang membuat aku merasa ngeri di akhir cerita. Kalau kamu baru ingin menelusuri sastra klasik Jepang, aku rasa "Kaki Kuda dan Cerita Lainnya" ini bisa jadi pilihan yang cukup ringan dan menarik.
Profile Image for Echa Hakim.
18 reviews1 follower
January 6, 2022
Rashomon 4⭐
Hidung 3⭐
Benang laba-laba 4⭐
Kaki Kuda 5⭐
Bubur Ubi 4.5⭐
Dalam Semak Belukar 5⭐
Profile Image for t s a r.
374 reviews17 followers
February 18, 2025
“Seorang manusia terkadang mengabdikan hidupnya untuk sebuah hasrat yang tidak ia yakini akan terpenuhi atau tidak.”


Kaki Kuda dan Cerita Lain ★★★

Trigger warnings: body horror, death, gore, rape.

Kaki Kuda dan Cerita Lain merupakan sekumpulan cerita pendek pilihan karya Ryunosuke Akutagawa yang di antaranya termasuk judul novella itu sendiri, lalu diikuti dengan beberapa cerita pendek Akutagawa yang populer seperti Rashomon, Hidung (Hana/The Nose), Bubur Ubi (Imogayu/Yam Gruel), Benang Laba-Laba (Kumo no Ito/The Spider's Thread), dan Dalam Semak Belukar (Yabu no Naka/In a Grove), yang menyematkan posisi Akutagawa sebagai Bapak Cerita Pendek Jepang.

Gaya penulisan Akutagawa memiliki ciri khas yang kini kerap ditiru oleh penulis Jepang modern: adanya unsur yang sekilas seperti genre magical realism, memilik metafora yang utuh dan banyak di setiap kata, dan atmosfir yang cukup absurd untuk diikuti oleh pembaca awam atau yang tidak terbiasa mengikuti tulisan cerita orang Jepang. Hal ini juga yang membuat saya sedikit sulit untuk memahami setiap cerita yang disuguhkan oleh Akutagawa, namun, bukan berarti tidak ada cerita yang tidak menarik di mata saya.

Salah satu contoh yang paling berkesan adalah cerita pendek yang berjudul Hidung; memiliki nada yang cukup humoris dan nyeleneh dalam menceritakan tentang seorang pendeta Buddha yang lebih terobsesi untuk memperbaiki hidungnya daripada menjalankan tugas-tugas spiritualnya sebagai pendeta. Rashomon sendiri memiliki karakteristik yang terkenal dan cukup ngeri dalam menyampaikan cerita tentang kelangsungan hidup, begitu pula dengan cerita pendek Kaki Kuda (dari judul buku) yang serupa memberikan kesan menyeramkan dan jijik di ceritanya.

Lalu, dari setiap cerita yang terbilang berbeda tersebut, adakah benang merah yang dapat disampaikan? Tentunya ada. Akutagawa memusatkan ceritanya ke dalam tema tentang moralitas dan sisi kemanusiaan seseorang; sampai batas mana seorang manusia mampu melihat mana yang baik dan buruk ketika dihadapkan dalam situasi yang membuatnya putus asa. Rasionalitas dan akal pikiran karakter-karakternya diuji seolah sedang dimasukkan ke dalam eksperimen psikologis, dengan hasil yang beragam dan, walaupun terlihat konyol dan lepas dari kenyataannya, sebetulnya merupakan gambaran erat akan realita yang ada.

Akhir kata, apakah Kaki Kuda dan Cerita Lain layak untuk dibaca? Menurut saya sendiri, buku ini dapat dibaca sebagai pengalaman sekali seumur hidup untuk mengenal bagaimana alur pikiran Akutagawa mengalir.
Profile Image for T. Inggan.
62 reviews
June 22, 2023
Buat yang suka kumcer, especially buat yang suka sastra Jepang, you must read this book!

Ada 6 cerita dalam buku ini. Rashomon yang mungkin namanya udah gak asing lagi buat yang udah nonton Bungou Stray Dogs. Hidung yang dipuji-puji oleh penulis Jepang kenamaan, Natsume Soseki. Juga ada cerita pilihan lain seperti Benang Laba-laba, Kaki Kuda, Bubur Ubi, dan Dalam Semak Belukar

Rashomon membuatku berpikir kalau kadang, kita jadi terdorong memilih satu dari pilihan yang udah kita pikirkan karena keadaan di sekeliling kita. Ini relate dengan hal yang sering ku rasakan sih

Hidung ini ceritanya unik, lucu aja liat si Pendeta yang walaupun ngerasa 'aneh dan nggak mau' dengan cara yang dilakukan muridnya buat ngecilin hidungnya, dia tetep ngikut aja

Benang Laba-laba mengingatkanku kalau keserakahan memang sering berakibat buruk. Hal-hal baik maupun buruk yang kita lakukan, pasti ada konsekuensinya. Buat yang udah nonton Boku Dake ga Inai Machi mungkin udah gak asing lagi sama cerita yang satu ini

Kaki Kuda, cerita yang ini lumayan panjang sih. Aku ngerasain kalau manusia mungkin punya perasaan ingin mengembalikan sesuatu walaupun yang lain harus hilang

Bubur Ubi ini punya tema sederhana. Pernah mau banget sama sesuatu nggak? Mungkin kalau baca ini bakalan merasa punya teman yang kayak gitu sih haha

Dalam Semak Belukar, ini cerpen favoritku di buku ini. Cerita ini punya nuansa misteri yang menurutku mirip dengan Girls in The Dark



Ku juga udah review di akun Instagramku, kalau berkenan silahkan mampir dan ayo berteman! https://www.instagram.com/p/CRavgqXDK...
Profile Image for nvtpages.
172 reviews1 follower
November 21, 2023
—• 1. Rashomon
- Judul ini pasti ga asing buat para pembaca, lekat kaitannya dengan Akutagawa. Di BSD aja si Aktgwa ability nya Rashomon
- Setelah baca kek, aku paham maksudnya penulis ke arah mana, cmn aku bingung nulis di sini kek mana 😭
- Sepemahamanku, di tengah kemelut suasana era Heian karena wabah, bencana alam, hingga kelaparan, ada juga orang2 yg sibuk menyelamatkan dirinya sendiri dengan menghalalkan segala cara, menganggap hal yang salah menjadi benar, seperti 2 tokoh utama yang bertemu di Rashomon ini.

—• 2. Hidung
- Bayangkan jika kau mempunyai hidung sepanjang 15cm menjuntai dari bibir atas hinga dagu? Pastilah ingin memendekkannya agar terlihat seperti manusia pada umunya. Hal ini lah yang diinginkan oleh Pendeta Zenchi. Namun saat berhasil memendekannya, mengapa ia ingin kembali memanjangkannya?
- Suka sih sama cerita ini, kek keadaan Pendeta Zenchi tuh relate banget sama kehidupan manusia pada umumnya. Pesan yang bisa aku petik dari Hidung ini adalah ketika kamu menginginkan hal lain, bisa jadi apa yang kamu miliki sekarang jauh lebih baik daripada hal lain tersebut.

—• 3. Benang Laba-Laba
- Suka banget judul ini, berasa baca dongeng anak. Karena amanatnya disampaikan tersurat, jadi langsung paham.
- Menceritakan ttg seorang perampok jahat yang sedang tersiksa di dasar neraka, karena satu kebaikan di dunia, ia pun ditolong Budha dengan seutas benang laba2 untuk naik ke surga. Namun karena keegoisannya, ia pun gagal untuk ditolong.

—• 4. Kaki Kuda
- Aku paham, tapi gapaham 😭
- Sebenernya kisahnya gabisa di nalar, tapi apa yang terjadi semuanya masuk akal si.
- Aku menilai 2 orang Tiongkok itu semacam malaikat maut (?) Yang karena kesalahan mereka, seseorang jadi menderita :((
- Kisah ini lekat kaitannya dengan kehidupan masyarakat pada umumnya, gimana media tuh berperan besar dalam penyebaran informasi. Sekalinya salah, ya akan salah seterusnya.
- Kisah ini juga lekat dengan rasa kepercayaan terhadap orang terdekat
- Endingnya nggantung, tapi menurutku ini yang terbaik, soalnya menciptakan kesan yang cukup dalam.
- Quotes fav :
"Untungnya masyarakat tidak pernah meributkan cara orang meninggal. Cara orang hiduplah yang justru menuai omongan."
-
"Bukankah begitulah prinsip di dunia ini? Manusia suka menolak yang sulit dan menerima yang mudah."

—• 5. Bubur Ubi
- Ceritanya cukup panjang dibanding cerita lainnya
- Diawali dengan penjelasan rinci ttg sosok Goi dan kehidupannya sebagai tokoh utama, dilanjutkan dengan keinginan besarnya untuk menyantap Bubur Ubi sampai bosan, hingga perjalanannya dengan Toshihito untuk mencapai keinginannya.
- Menarik untuk disimak, karena pada awalnya aku juga mengira ini semua jebakan dari Toshihito. Tapi syukurlah, nyatanya Goi bisa memenuhi keinginannya berkat Toshihito
- Pesan menarik yang bisa aku petik dari cerita ini adalah, Hati-hati dengan keinginan kita. Janganlah berlebihan dalam menginginkan suatu hal, bisa jadi hal kecil yang sudah kamu dapatkan saat ini lebih baik dan berhaga daripada keinginan besarmu itu. Hargailah setiap proses.
- Quotes fav :
"Seorang manusia terkadang mengabdikan hidupnya untuk sebuah hasrat yang tidak ia yakini akan terpenuhi atau tidak. Namun, mereka yang menertawakan kebodohan ini, pada akhirnya, tidak lebih dari sekedar penonton."

—• 6. Semak Belukar
- Gaya penulisannya cukup berbeda dari 5 cerita lainnya, menggunakan POV masing2 tokoh dengan gaya khas seperti sebuah hasil wawancara para saksi.
- Terdapat 7 POV didalamnya, namun POV paling penting berasal dari 3 POV tokoh yang terlibat dalam peristiwa di Semak Belukar itu.
- Uniknya disini adalah, penuturan masing2 tokoh yang tidak sinkron. Ketidaksinkronan ini membuat pembaca semakin bingung harus mempercayai yang mana.
- Ending yang nggantung ini dirasa tepat, karena buatku pribadi cerita ini meninggalkan kesan tanda tanya yang besar.

—• SELESAI
- Pertama aku ucapkan banyak terimakasih untuk Penerbit Mai yang sudah menerbitkan kumcer ini dengan sangat baik.
Terjemahannya sangat nyaman dibaca, dengan bahasa indah dan tetap luwes, membuatku lebih mudah utk masuk ke dalam cerita.
- Dari buku ini aku jadi tau keberagaman gaya penulis seorang Akutagawa Ryunosuke.
Dari mulai cerita jenaka, penuh pesan seperti dongeng, hingga cerita yang misterius, semua terangkum dengan baik di buku ini
- Overall, suka banget sama buku ini
Kalo kalian suka atau baru mulai baca sastra Jepang, buku ini sangat aku rekomendasikan~
- Oiya ketinggalan wkwkw
Kalo ditanya 3 cerita fav dari buku ini, aku pilih Kaki Kuda, Hidung, dan Semak Belukar 🫶🏻
Profile Image for Annas Jiwa Pratama.
126 reviews7 followers
Read
December 31, 2021
Absurd dan misantropis. Sepertinya, dalam kumcer-kumcer ini, saya lagi-lagi menemukan tema yang sering muncul ketika membaca beberapa buku literatur modern Jepang yang klasik, tentang sifat-sifat ‘jorok’ manusia. Tema yang rasa-rasanya agak mirip dengan yang saya temukan waktu membaca Kokoro atau Ningen Shikkaku, tentang orang-orang yang membuat keputusan-keputusan yang self-serving, egois, yang menghantui dengan rasa malu dan bersalah. Tetapi, jika di kedua buku tadi rasa malu dan bersalah dari tokoh-tokoh utamanya menjadi poros utama dari ceritanya, cerita di buku ini lebih terasa seperti fabel atau cerita moral yang singkat. Refleksi diri adalah kewajiban pembaca, bukan hal yang dilalui para tokoh di sini.


Di Rashomon misalnya, kita disuguhkan bagaimana dengan mudahnya moral seseorang runtuh Ketika mendapat justifikasi, baik dari kelaparannya sendiri dan dari konformitas. Jika orang lain menjadi maling, kenapa saya tidak, toh saya juga mau hidup. Dalam Kaki Kuda, di mana seorang salaryman yang mati suri menjadi setengah kuda dengan sangat mudah dibuang begitu saja oleh masyarakat, kita melihat gambaran masyarakat korporat yang ultra konformis, dan sang tokoh utama yang setengah mati berusaha untuk tidak menunjukkan nasib malangnya. Di Hidung dan Bubur Ubi, kita melihat tokoh-tokoh yang mencapai apa yang mereka inginkan, hanya untuk menjadi cemas dan labil, tidak kurang karena begitu mudahnya mereka mendapat olok-olok dari sekitar. Dan di Dalam Semak Belukar, misteri kriminal menjadi katalis untuk melihat bagaimana orang menggubah realita mereka sendiri, entah untuk menjaga citra diri atau bertahan hidup.


Saya jadi agak teringat akhir dari film Rashomon (yang sebenarnya adalah adaptasi dari Dalam Semak Belukar, bukan cerpen Rashomon). Ending di di film itu agak beda dengan cerita aslinya, lebih memiliki harapan kalau manusia tidak jahat-jahat atau egois-egois amat ketimbang ending yang menggantung dari cerpen ini. Mungkin cerita-cerita di atas memang cukup suram, sampai-sampai Akira Kurosawa atau orang lain di dalam produksinya memilih untuk mengubahnya di adaptasi ini.


Cerita-cerita ini asyik untuk dibaca. Penerbit Mai menerjemahkan dengan sangat baik, dan semakin meyakinkan untuk mengikuti mereka sebagai sumber terjemahan literatur Jepang ke Indonesia. Sepertinya sudah pasti bakal beli terbitan mereka selanjutnya, sih.

Catatan lainnya
• Tuntas sudah bacaan saya di 2021. Cukup senang bisa konsisten untuk menulis sedikit tentang setiap buku yang dibaca. Apakah bermanfaat? Nggak tau juga sih, yang jelas saya merasa sedikit ada pencapaian. Mungkin juga jadi sarana menulis dengan agak bebas, tanpa perlu banyak mikir tentang siapa yang bakal baca, karena kebanyakan orang di sini ya teman-teman IRL saja (tetapi tanpa rasa cringe yang biasanya saya rasakan ketika menulis hanya untuk diri sendiri seperti dalam jurnal pribadi). Jadi kadang bisa agak TMI tapi ya nggak apa juga selama belum ada yang protes.

• Kayaknya tulisan ini agak berantakan karena sedang keranjingan Final Fantasy XIV (lagi)

• Sebenarnya agak kesal rasanya Googling Ryunosuke Akutagawa hasilnya selalu Bungou Stray Dogs. Jujur, animenya rada membosankan sih.





Profile Image for filireads.
7 reviews
April 25, 2023
Akutagawa menjadi sastrawan klasik Jepang pertama yang karyanya saya baca. Novel ini berisi enam cerita pendek yang ditulis beliau semasa hidupnya. Tiap cerita memiliki ciri khas dan absurditasnya masing-masing. Favorit saya adalah Rashomon dan Dalam Semak Belukar (In a Grove/Yabu no Naka). Dua kisah tersebut memainkan perspektif pembaca serta sedikit pengaburan distingsi hal baik dan buruk. Akutagawa dengan cerdas membuat kisah yang membuat kita tidak mudah memutuskan siapa yang salah dan benar dari suatu kejadian.

Rashomon
Rashomon mengisahkan seorang samurai yang telah dipecat dari pekerjaannya dan sedang tidak memiliki arah tujuan hidup. Dengan nasib malangnya, ia tengah menimbang apakah lebih baik mati kelaparan atau mencuri saja. Pandangannya segera berubah ketika ia menemukan "sesuatu" di lantai atas gerbang Rashomon.

Siapa yang tidak berpikir kalau tindakan mencuri--barang sedikit pun dan yang dicuri adalah milik seorang mayat--adalah tindakan yang salah? Oh, tunggu. Bukankah mayat tersebut sudah jauh terlelap dalam keabadian dan tidak punya kendali lagi atas dirinya sendiri? Dan bukankah prioritas sang pencuri yang melakukannya demi mempertahankan hidup lebih penting? Sudikah kita menganggapnya sebagai tindakan yang benar?

Begitulah kiranya yang saya pikirkan sewaktu membaca Rashomon. Kebenaran kisah ini agaknya tergantung dari perspektif siapa yang kita ambil.

Dalam Semak Belukar
Serupa dengan Rashomon, kisah Dalam Semak Belukar sangat menarik perhatian saya. Kisah ini menceritakan sepasang suami-istri yang malang. Sang suami dibunuh oleh seorang perampok dan sang istri tidak jelas bagaimana nasibnya. Namun, yang membingungkan adalah bagaimana fakta utuh dari tragedi tersebut?

Isi cerita ini seluruhnya dibeberkan melalui keterangan saksi dan pelaku yang membuat pembaca menduga-duga keterangan siapa yang paling akurat. Apakah dari seorang tukang kayu yang kebetulan lewat tempat kejadian? Atau dari pelaku sendiri? Atau mungkin dari arwah korban yang dengan sengaja menuturkan kesaksiannya? Belum lagi detail-detail kecil yang berbeda di tiap kesaksian menjadikan kisah ini semakin tidak bisa disimpulkan dari satu sudut pandang saja.

"Jika mencoba untuk memikirkan seberapa besarnya dosa yang telah kita perbuat, saya tidak tahu, mana yang lebih jahat. Anda, ataukah saya?"
-Dalam Semak Belukar

Kisah-Kisah Lain
Kedua kisah di atas bernuansa suram dan muram. Namun, anehnya justru dua hal tersebut yang menjadikan baik Rashomon maupun Dalam Semak Belukar semakin apik. Oh ya, selain dua cerita di atas, ada empat cerita lain yang tak kalah serunya dalam novel/kumcer ini. Misalnya Kaki Kuda yang, bagi saya, merupakan kisah paling absurd di antara kisah lain. Ada pula kisah Hidung yang memotret seberapa besar insecurity mempengaruhi kehidupan seseorang, Benang Laba-Laba dengan makna perenungan yang apik, serta Bubur Ubi yang sedikit membosankan tetapi sarat akan makna.

Tidak dapat dipungkiri bahwa buku ini menggugah saya untuk lebih mengenali sastra Jepang era klasik. Saya harap bisa membaca lebih banyak karya sastrawan di era tersebut ke depannya.
Profile Image for Nisa.
327 reviews18 followers
August 7, 2021
3,5 stars untuk keseluruhan buku tapi karena gue lagi in the good mood, gue mau kasih bintang ke masing-masing cerpen.

148 halaman, 6 cerita pendek. Lemme break that down:

1) Rashomon : 3 stars.
Mencuri dari pencuri itu katanya bisa dimaklumi dan 'halal'. So, waktu sang Genin (pemeran utama cerpen Rashomon) punya kesempatan itu, batinnya kebelah jadi dua; mencuri dari pencuri, atau tetap menjadi Genin yang penuh rasa hormat. Not my favorite one, but this is a good story.

2) Hidung : 3,5 stars.
I'm kinda confused, honestly. Seorang pendeta punya hidung panjang sampai ke bawah dagu tapi semua orang menerima itu tanpa ada cemoohan. Tapi ketika si pendeta berusaha mengubah hidungnya menjadi ukuran normal, everyone is laughing at him. What, why? What's so funny, really? Tapi, meskipun begitu, this story is entertaining and hilarious. Definitely the whole point of this one is loving your self.

3) Benang Laba-laba : 4,5 stars.
Now, this! This one is my favorite one. Sebuah cerita pada suatu pagi di Surga yang cantik dan Kolam Darah di Neraka yang selalu gelap. Pernah denger cerita tentang pelacur yang masuk surga karena membantu anjing yang kehausan? Nah, ini mirip-mirip itu tapi dengan plot twist yang, ugh, bikin kasihan.

4) Kaki Kuda : 3 stars.
Another confusing story. Or maybe, gue nya aja yang terlalu dumb-dumb buat ngerti. Seorang pria baru saja meninggal tapi ternyata 'para pengurus after life' salah ngambil nyawa. Mereka berusaha mengembalikan pria tadi ke dunia nyata tapi kedua kakinya udah terlalu busuk. That's whyyyy mereka ganti kaki si pria tadi dengan kaki kuda.

Gue mikir cukup lama ya setelah baca cerpen ini. Mengira-ngira maksudnya apa, gitu. Tapi kemudian gue sadar, gue terlalu lemot untuk paham hal-hal beginian, akhirnya gue ambil kesimpulan kalau cerpen ini mungkin ingin menggambarkan dunia orang dewasa di Jepang yang workaholic. Saking hecticnya, para suami bahkan ga diperbolehkan untuk sakit apalagi sakit jiwa.

5) Bubur Ubi : 4 stars.
It's a bit of everywhere. Tentang bullying, ketidakadilan di masyarakat ke orang-orang yang 'kurang beruntung',... generally, I like this story too. Pesan yang gue ambil dari cerpen ini lebih menyoal cita-cita (mimpi). Sekecil apapun mimpi kalian, kalian akan merasa nothing ketika ada orang lain, apalagi orang yang lebih berkuasa, lebih tajir, lebih cakep, tiba-tiba datang 'mencuri' mimpi kalian satu-satunya.

6) Dalam Semak Belukar : 3 stars.
Cerita pendek soal pembunuhan di semak belukar. Cerpen ini sedikit-banyak memberikan kita kalo memecahkan pembunuhan itu ga semudah yang dilihat di serial tv. A lot of point of views, so little about the truth.

So, that's it!
Secara keseluruhan, Akutagawa menceritakan kisah fiksinya dengan khasnya yang dark humoris. Sering kali gue bingung mau ketawa atau merinding ketakutan bacanya. Memang ya, penulis Jepang itu sesuatu :"
Profile Image for Sandys Ramadhan.
114 reviews
July 20, 2022
Buku ini merupakan kumpulan cerpen, tepatnya ada 6 cerpen yang ditulis oleh Akutagawa Ryunosuke. Saya pertama kali mendengar nama ini karena menonton series anime yang berjudul "Bungo Stray Dogs". Walau anime ini bercerita tentang kekuatan supernatural, mafia, detektif namun nama2 karakter yang digunakan merupakan nama2 penulis jepang.

Buku ini diterbitkan oleh Penerbit Mai yang memang berfokus pada penerjemahan karya-karya penulis jepang. Dan saat ini sudah ada 5 buku yang diterbitkan.

Yang saya tangkap cerpen-cerpen ini menampilkan potret keresahan yang dimiliki para tokohnya. Contohnya seperti cerpen pertama "Rashomon" yang menunjukkan pergolakan batin seorang samurai yang ingin melakukan tindak kejahatan demi bertahan hidup namun ragu melakukannya, kemudian cerpen "Hidung" dan "Bubur Ubi" yang memperlihatkan keresahan para tokoh yang keinginannya sudah tercapai namun tidak merasakan apa-apa. Adapun juga cerpen "Kaki Kuda" yang ceritanya begitu absurd dan jenaka, kok si penulis bisa kepikiran ya. Dan cerpen terakhir yang bikin penasaran yaitu "Dalam Semak Belukar" membuat pembaca bertanya-tanya siapakah dalang dibalik pembunuhan seorang lelaki malang itu. Benar-benar menunjukkan kalau perspektif orang itu berbeda-beda.

Kemudian untuk sampul dan penerjemahan tidak perlu diragukan lagi, salut banget sama Penerbit Mai. Cuma yang saya kurang suka dengan pengunaan glosarium alih-alih menggunakan footnote, jadi mesti bolak-balik halaman belakang buat tau artinya. Tapi gapapa si, kurang srek aja.

Akhir kata, membaca cerita-cerita dari Jepang kiranya selalu menimbulkan perasaan yang sukar dijelaskan, rasanya muram, aneh, sulit dibayangkan, tapi entah kenapa tetap menarik untuk dibaca sampai selesai.
Profile Image for Rizkana.
248 reviews29 followers
June 18, 2023
Kaki Kuda sejatinya memuat enam cerpen karya Akutagawa Ryunosuke yang saya yakini dengan teguh belum pernah membaca karyanya sampai membaca cerpen terakhir dalam buku ini, “Dalam Semak Belukar”.

Rupanya saya salah. Karyanya sudah pernah saya baca dalam format kumcer berjudul, The Life of a Stupid Man. Oleh karena itu, catatan saya pun hanya pada lima cerpen berikut.

“Rashomon” menceritakan sampai sejauh mana orang bertindak ketika dihimpit kemiskinan—merampok mayat pun jadi hal biasa.

“Hidung” nggg… sejujurnya banyak bagian yang saya lompati karena tak tahan membayangkan proses “memendekkan” hidung yang menjuntai sampai ke dagu, meski bukan itu poinnya. Poinnya, barang kali penerimaan atas dirimu sendiri sudah lebih cukup dari apa pun.

“Benang Laba-Laba” semisal dongeng dengan pesan yang jelas—jangan egois. “Kaki Kuda” wah, saya marah pada para ‘malaikat pencabut nyawa’ yang menghancurkan hidup Hanzaburo. Entah apa yang ingin disampaikan penulis—bahwa kesialan ada dan hidup harus terus berjalan maka terimalah biarpun hidupmu hancur berantakan?

“Bubur Ubi” well, betapa manusia lain bisa sangat gapil dan menyebalkan! Saya tidak mau memaafkan tingkah Toshihito yang mengubah mimpi sederhana Goi menjadi hal paling memuakkan dalam hidupnya. Mungkin itu maksud penulis, urusan mimpi orang lain, jangan merampasnya, jangan kurang ajar dan mencekokkannya dengan cuma-cuma.

Tentu saja interpretasi saya bisa jadi berbeda dengan pembaca lainnya, bahkan penulisnya. Lalu keinginan lama timbul kembali, saya jadi ingin punya bookclub!
Profile Image for Hirai.
200 reviews8 followers
April 11, 2024
Kalau kamu sedang mencari cerita klasik yang seru namun penuh makna dalam hidup tentu saja wajib baca buku ini. Cerpennya pendek-pendek meskipun ceritanya gelap tapi banyak pesan implisit menarik yang bisa membuatmu memikirkan perspektif lain dari banyak sudut pandang. Dibuka dengan cerpen yang berjudul "Rashomon" tentang pencuri rambut mayat yang akhirnya juga dirampok kemudian ditutup dengan cerita gelap "Dalam Semak Belukar".

Kamu bakalan bertemu banyak fakta "SIAPA SANGKA" dalam buku ini seperti halnya orang memilih untuk mencuri atau mati, fakta orang lain yang selalu mencemooh apa yang kita punya, manusia yang seharusnya belum mati karena kesalahan namun sayang kakinya terlanjur busuk sehingga diganti dengan kaki kuda sampai pembelaan diri sendiri untuk mendapatkan pembenaran atas apa yang dilakukannya.

Manusia memang mudah terhasut, berasumsi dan berprasangka tentu tidak selalu mempertimbangkan kebenaran yang ada. Manusia kebanyakan meyakini apa yang lebih mudah diterima dan menyangkal apa yang sulit untuk dicerna. Namun bukan berarti apa yang menjadi kepercayaan seseorang juga harus dipercaya oleh orang lain karena pada dasarnya kita makhluk yang unik dan harus punya prinsip pendirian bukan?
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for febriani.
109 reviews6 followers
April 13, 2022
Kaki Kuda adalah kumpulan cerpen Ryunosuke Akutagawa yang terdiri dari enam cerpen. Cerpen-cerpen tersebut memiliki nuansa cukup suram dan sarat orang-orang bernasib malang, namun juga sedikit jenaka di beberapa tempat. Akutagawa memotret beberapa sifat manusia, di antaranya sifat tidak pernah puas dan ada kalanya mendamba kontradiksi setelah mendapatkan apa yang diidam-idamkannya setelah sekian lama. Sifat tersebut dapat dilihat dari cerpen berjudul Hidung dan Bubur Ubi. Sementara itu, cerpen ketiga yang berjudul Benang Laba-Laba membuatku seperti membaca dongeng kisah surga dan neraka.

Sebelumnya aku pernam membaca Rashomon edisi terjemahan Pustaka Jaya, namun cerita dalam kumpulan cerpen di buku ini tidak seperti yang kuingat samar-samar. Cerita yang kuingat pernah kubaca justru lebih dekat dengan cerpen terakhir dalam buku ini, yaitu Dalam Semak Belukar.
Profile Image for Gayatri.
94 reviews4 followers
January 12, 2022
Kumpulan cerpen yang bisa dikatakan absurd. Saking absurdnya, otakku susah mencerna isi ceritanya😭

Buku ini terdiri dari 6 cerpen dengan permasalahannya masing2.

1. Dari Rashomon yang datang dengan hawa mencekam.
2. Hidung dengan aksi yang jenaka yang bikin aku ketawa terus dengan imajinasi penulis.
3. Benang Laba-laba yang membuat aku memikirkan kembali keterkaitan antara dunia dan akhirat.
4. Kaki Kuda yang ga kalah absurd dari cerita2 sebelumnya yang entah bingung mau ketawa atau sedih.
5. Bubur Ubi yang mengajarkan kita apa arti sebuah harapan dan perjuangan,
6. dan terakhir Dalam Semak Belukar, yang menurutku termasuk paling rumit untuk dipahami, banyak point of view yang dipaparkan, namun di akhir kita gatau siapakah yang benar.
Displaying 1 - 30 of 54 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.