Warning! This review contains spoilers so be aware before reading my review. This is also one hell of a messy long rant, so prepare yourself!
Poin-poin di bawah ini aku tulis seiring jalannya aku membaca buku ini, jadi kalau ada yg kesannya diulang-ulang, kurang lengkap, atau berantakan, tolong dimaafkan.
- Gaya penulisan yg kaku & bertele-tele, plus banyak penggunaan titik koma yg janggal dan malah bikin engap baca narasinya. Memang ini diceritakan oleh POV seorang anak kecil, tapi bukan jadi justifikasi cara penulisan yg berantakan & kacau. Penulis sepertinya perlu banyak mengasah lagi kemampuan menulisnya, karena baru chapter 2 aja udah secapek itu baca novelnya gara-gara tata bahasa yg aneh.
- Terlalu banyak kalimat & poin yg diulang. Papa jahat, mama baik. Rasanya di tiap halaman pasti ada kalimat yg membahas ini, apa tidak ada bahasan yg lebih bermakna selain mengulang-ngulang hal yg sama berpuluh atau beratus kali? Padahal udah bawa tema yg berat tapi gaada substansi lain yg bisa didapat selain jual cerita 'sedih'. Di bagian separuh akhir pun hanya mengulang-ngulang membahas kehidupan mereka di keluarga abusive tanpa ada pembahasan lain yg lebih bermakna.
- Susunan plot yg semrawut dan gegabah. Hanya dalam waktu kurang dari seminggu, tokoh utama di buku ini sudah pindah rumah, bertemu dengan 'belahan jiwa'-nya, pisah rumah dengan papanya, kabur dari rumah, berkelana di kota lain, dan berakhir dengan bunuh diri. Inikah cerita yg pantas menjadi pemenang sayembara menulis?
- Alur cerita yg dipaksa 'sedih' padahal tidak masuk akal. Apa coba alasan Ava tiba-tiba mau pergi kabur dari rumah? Kita disuguhin narasi 100 halaman lebih ceritain kalo Papa jahat, Mama baik. Terus tiba-tiba dia merasa kalo Mama nya sebenarnya juga jahat? Gara-gara omongannya si P?? Dan hanya dalam waktu 3 hari??? Ga masuk akal. Anak kecil ga sebodoh itu sampe yg segitunya ga punya pendirian dan ga bisa mikir, mana Ava juga sepanjang cerita diceritain sebagai anak yg 'pintar'. Apa-apaan coba tiba-tiba dia sampe milih ikut kabur alih-alih usahain biar P hidup sama mereka aja? Kelihatan banget sengaja ceritanya mo dibuat sedih gajelas aja padahal jatohnya malah plin plan sama tulisan sendiri.
- Menyangkut poin sebelumnya, pemikiran Ava dan P yg tidak masuk akal. Semua manusia itu membentuk pemikiran mereka berdasarkan berbagai informasi yg mereka dapatkan sehari-hari. Bisa dari keluarga, teman, tontonan, bacaan, pokoknya bisa dari segala jenis media. Lah di novel ini, out of nowhere P kepikiran buat minggat dari rumah dan bahkan bunuh diri, lalu Ava dengan bodohnya juga menurut untuk melakukan itu. Bunuh diri dan kabur itu adalah topik yg berat loh, dan mustahil seorang anak kecil bisa tiba-tiba kepikiran konsep itu kalau tidak pernah dapat influence sama sekali. Even orang dewasa pun yg ga pernah keekspos ke dunia itu juga ga bakal sadar, lah tiba-tiba anak-anak ini menciptakan aja konsep yg tidak pernah dibahas sebelumnya dan seharusnya diluar scope mereka. Penulisan yg malas dan cacat sekali. Malah kurang ajar & ignorant karena segampang itu membawa suicide tanpa tau seberapa berat topik yg diangkat.
- Tokoh Ava dan P yang seperti pinang dibelah dua, alias terlalu mirip dan gaada unik-uniknya. Tiap mereka ngobrol kesannya seperti satu orang yg ngomong sendiri, karena pola pikir mereka sama persis dan hanya saling menguatkan saja. Mereka berasal dari dua tempat yg berbeda dan diasuh secara berbeda pula, terutama Ava yg sudah bersekolah (dan seharusnya banyak terekpos dengan anak-anak dari berbagai jenis latar belakang), tapi anehnya hasil buah pikirannya sama persis dengan P yang hanya tinggal di rusun. Kehidupan mereka seperti terisolisir dan sempit sekali, seperti tidak pernah bertemu orang lain selain keluarga dan orang-orang di Rusun Nero. Padahal nyatanya Ava sudah lebih luas lingkungannya.
- Menyangkut poin sebelumnya, pola pikir Ava dan P yg janggal & tidak konsisten. Di satu sisi mereka seperti teisolisir sekali, hanya tahu kehidupan rumah tangga tidak sehat seperti mereka berdua. Tapi di sisi lain, mereka juga melek akan rumah tangga 'normal' pada umumnya. Contohnya seperti Ava dan P yg menganggap kalau semua papa itu sifatnya pemarah dan pemukul, tapi di satu sisi mereka juga tahu kalau anak-anak tidak seharusnya tidur di koper ataupun di kardus. Kan, kontradiktif, ya? Kalau tahu anak lain tidur di kasur, kok malah tidak tahu kalau anak lain bisa punya papa yg baik? Sampai baru tahunya saat di point out oleh bapak tukang sate. Penokohan yg tidak konsisten & berubah-ubah menyesuaikan narasi, dan ini terjadi berulang kali di sepanjang cerita.
- Romance antara Ava dan P yg sangat menggelikan. Hei, penulis, sadar kah kamu mereka ini masih anak di bawah umur? Masih 6 dan 10 tahun loh, tapi udah bisa bahas cinta lawan jenis begitu dalam seperti orang dewasa. Jujur creepy banget penulis bisa-bisanya sampe masukin kisah cinta gak sehat ke anak di bawah umur. Perlu diinget juga, Ava baru ketemu P ini 3 hari, tapi udah sebegitu kepincutnya sampai berkali-kali berandai jadi suami istri? Even novel romance antar dua orang dewasa aja aku geli dgn konsep insta-love karena cenderung konotasi nya ke arah atraksi seksual, lah ini malah sama anak kecil! Disgusting.
- Karakter yg dangkal dengan masa lalu yg tidak jelas. Ava dan P diceritakan kalau mereka adalah anak 'haram', tapi hanya dibahas sekilas saja masa lalu keluarga mereka. Beberapa tokoh disini juga banyak yg hanya muncul tanpa dieksplor lebih lanjut, seperti Kak Suri yg punya banyak 'teman tidur', Om Ari yg sempat kerja dgn Papa Ava tapi akhirnya berhenti, Tante Lisa yg tidak menolong mama dan Ava lebih cepat, atau pun masa lalu Mas Alri dan Kak Suri hingga akhirnya mengambil keputusan ini. Apa gunanya memunculkan berbagai jenis orang dgn latar belakang berbeda kalau hanya sekedar numpang lewat? Penulis tidak berani atau tidak mampu kah untuk mengulik karakter yg lebih kompleks?
- Terlalu banyak menggunakan analogi dan simbol yg serupa, hingga akhirnya hanya membuat tema yang diangkat menjadi terlalu jenuh. Analogi salt & pepper, reinkarnasi dengan pasangan hidup, kisah cinta penguin yg abadi. Girl ok we get it, intinya mereka itu pasangan sehidup semati abadi, mau ditulis berapa puluh kali agar pembaca paham? Apakah penulis mengira pembaca sebodoh itu? Analogi dan simbol lain mengenai kesengsaraan P juga diungkit berkali-kali sepanjang cerita, hingga sudah hapal pola tulisannya.
- My personal peeve dgn tokoh mama yg tiba-tiba digambarkan jahat karena kadang 'lupa' dengan Ava. Menurutku ini tega sekali. Mamanya Ava bertahun-tahun di abuse oleh suaminya, baik secara fisik maupun emosional. Dia pun selalu berusaha untuk pasang badan setiap kali Ava akan disiksa oleh papanya. Dia adalah ibu yg sangat teguh dan sabar, tapi malah dihukum di cerita ini karena kadang 'lupa' dengan kondisi Ava, di saat dia bertahan untuk diri sendiri pun sudah tergopoh-gopoh. Lagi-lagi yg disalahkan malah korban perempuan, ya? Bukannya malah fokus untuk melindungi korban kekerasan, malah tambah disalahkan lagi di narasi cerita ini. Di chapter terakhir ketika diungkap identitas asli Kak Suri pun, yg disalahkan malah Kak Suri ketimbang orang lain.
- Konsep-konsep menarik yg sempat diangkat di awal, lalu dilupakan begitu saja oleh penulis. Contohnya seperti kebiasaan berjudi papanya Ava (bahkan Ava sampai akhir belum paham apa itu berjudi, padahal di awal dia berkali-kali ingin mencari tahu pengertiannya), kehidupan warga di rusun Nero (yg dijelaskan hanya kondisi rumahnya, tapi kehidupan penduduk disana yg tinggal di dekat rumah judi itu tidak pernah dikulik sama sekali), masa lalu Ava dan Kakek Kia (beliau berkali-kali diungkit dalam cerita, tapi hanya sekedar nama saja), dan banyak hal lain yg sebenarnya menarik sekali dan bisa membuat novel ini jadi lebih kompleks. Sayang penulis hanya tertarik menulis tentang Ava dan P saja.
- Detail-detail kecil lainnya yg aneh: di rusun yg seharusnya banyak anak-anak, tapi malah hanya ada mereka berdua anak kecil disana. Orang dewasa disana yg digambarkan sebegitu tidak berguna jadi hanya planga plongo saja setiap mendengar & melihat kelakuan Ava dan P.
- Dan akhirnya sampai ke gong-nya! Chapter terakhir: Sehidup Semati. Dari halaman pertama saja aku langsung merasa seperti baca buku yg benar-benar berbeda. Darimana asalnya ini tiba-tiba Ava inisiatif buat cari tahu arti Tanah Lada? Lalu tiba-tiba berandai kalau dia dikubur disini. Darimana coba mendadak dia bisa kepikiran tentang kubur-mengubur? Aku sampai balik ke halaman sebelumnya buat baca ulang apa ada narasi yg ketinggalan, karena transisi-nya sangat jomplang dan aneh. Dari segi style penulisan pun tiba-tiba berubah menjadi lebih runtun, seperti dinarasikan oleh orang lain.
Chapter terakhir buku ini menunjukkan kalau penulis sebenarnya mampu untuk menulis cerita dan bahasan yg lebih berbobot, dilihat dari gaya penulisan dan pembahasannya yg lebih dalam daripada 200 halaman sebelumnya. Sayangnya, sudah terlalu telat, dan malah jadi kelihatan out of place dibandingkan dengan keseluruhan ceritanya. Narasi Ava yg selama ini kekanak-kanakan tiba-tiba menjadi sangat dewasa dan kompleks, rahasia dari orang tua P juga malah menciptakan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban, konklusi akhir yg mereka putuskan dari seluruh perjalanan mereka juga sangat dipaksa hanya sebagai faktor mengejutkan. Chapter terakhir ini sebenarnya indah kalau berdiri sendiri, tapi karena disatukan dengan keseluruhan buku yg amburadul, akhirnya jadi kelihatan aneh dan jadi satu kesatuan yg sangat absurd. Transisi cerita yang sungguh aneh dan tidak jelas tujuannya apa, selain sengaja mengarahkan ceritanya ke akhir yg dibuat-buat tidak bahagia.
Sebenarnya topik yg diangkat buku ini menarik karena membahas tentang child abuse yg diceritakan dari sudut pandang sang anak. Pertemanan antar korban kekerasan juga sebenarnya akan sangat mengharukan kalau dikemas dengan baik. Cuma sayangnya, penulis hanya berfokus untuk buat cerita 'sedih' dan so-called ✨️traumatic✨️ tanpa bahasan yg benar-benar berbobot, sehingga asal main comot saja segala unsur yg terkesan 'dark'.
Alur cerita dan penokohan karakter juga banyak yg tidak konsisten dan tidak masuk akal, sampai aku bertanya-tanya apakah penulis sebenarnya paham betul dengan cerita yg ia tulis ini. Semuanya terasa dangkal sekali, seperti tidak ada rasa cinta terhadap dunia dan tokoh yg ia ciptakan.