Uzbekistan, negeri yang namanya menari-nari di sudut benak saya. Negeri yang ingin saya datangi dari dulu. Negeri yang disebut-sebut sangat indah oleh Ibnu Batutah dalam Rihlah, buku memoarnya yang terkenal.
Enam ratus delapan puluh sembilan tahun setelah kedatangan Ibnu Batutah ke Uzbekistan, semesta mendukung saya untuk menyaksikan sendiri betapa indahnya negara ini. Meskipun sudah tak lagi sama seperti yang digambarkan Ibnu Batutah, tetapi aura negeri seribu satu malam yang jadi persinggahan para kafilah Jalur Sutra masih sangat terasa.
Sebagai solo female traveler, banyak pengalaman menakjubkan yang diceritakan penulis tentang petualangannya menjelajahi empat kota terkenal di Uzbekistan, yakni Tashkent, Samarkand, Bukhara, dan Khiva. Disisipkan pula beberapa kisah masa lampau yang dipercaya pernah terjadi di negeri seribu satu malam ini.
Baca buku ini jadi ngebayangin bisa wisata religi sekaligus wisata sejarah, mengunjungi tempat-tempat bersejarah serta masjid-masjid indah di sana. Review buku selengkapnya:
Discovering Uzbekistan, Perjalanan Seorang Diri Menyusuri Negeri 1001 Malam (2021) [18-50]
[Spoiler rate: 30%]
Kalau ngomongin negara-negara berakhiran -Tan (Pakistan, Afghanistan, Tajikistan, Uzbekistan, dsb), yang terbayang di benakku kalau negeri-negeri itu jauh, untouchable, indah walaupun isu keamanannya juga harus diperhatikan saksama.
Padahal, negara-negara yang kayak begini nih yang malah bikin tambah penasaran. Makanya, saat Agustinus Wibowo mengeluarkan tetralogi Selimut Debu dan dia menceritakan perjalanan ke negara Tan ini, keinginan untuk eksplorasi semakin mencuat, walaupun, ya nggak bakalan memakai gaya perjalanan yang sama kayak Agustinus juga.
Nah, hadirnya Discovering Uzbekistan ini dapat dijadikan salah satu pegangan jika berencana mendatanginya. Apalagi, Rahma -penulis, menjelajahi negara ini seorang diri!
Secara garis besar, Rahma berkesempatan mendatangi empat kota yakni Tashkent, Samarkand, Bukhara dan Khiva. Walaupun aku belum pernah ke sana, namun nama-nama kota itu cukup familier. Beberapa kartu pos yang aku dapat bahkan bergambar objek wisata terkenal yang berasal dari kota-kota ini.
Salah satu cerita menarik yang aku ingat ialah peristiwa kedatangan presiden Soekarno yang konon saat itu dia meminta khusus kepada pimpinan Uni Soviet saat itu (ya, Uzbekistan dulunya memang bagian dari Uni Soviet) menemukan makam Imam Bukhari.
Walau cerita ini tak dapat diyakini keabsahannya, paling tidak, kini wisatawan dapat berkunjung ke makam Imam Bukhari di Tashkent yang dibangun dengan apik dan nyaman.
Selain Bukhari, Uzbekistan juga "mengklaim" bahwa Nasruddin Hoja berasal dari sana (uniknya, Nasruddin juga diklaim oleh beberapa negara lain hehe), dan ada juga jejak nabi Ayub di mana sumur tempat nabi Ayub membersihkan penyakit kulit masih dapat ditemukan di kota Bukhara.
Perjalanan Rahma melintasi berbagai kota menggunakan sleeper train juga seru. Apalagi saat dia harus "terjebak" di sebuah kompartemen, berdua saja dengan pria tua di saat pintu kompartemen tersebut rusak dan tidak bisa dibuka.
Seru! apalagi kalau Rahma udah menceritakan pertemuan-pertemuannya dengan penduduk lokal. Di mulai dari penjaga toko di pasar yang meminta dia menjagakan tokonya hingga nenek-nenek bergigi emas yang ramah.
Discovering Uzbekistan ini memang bukan jenis buku how to yang memuat informasi perjalanan dengan begitu mendetail. Tapi, dari sini cukup banyak juga informasi yang dapat dijadikan pegangan, tinggal memastikan lagi informasi itu sebelum berangkat untuk melihat apakah terjadi perubahan atau nggak.
Kisah-kisahnya menarik, walau di beberapa judul aku merasa masih dapat dikembangkan. Nah, dikarenakan bukunya cukup ramping yakni 135 saja, maka buku ini dapat dibaca dalam sekali duduk. Saking enaknya, eh tahu-tahu duah di halaman terakhir aja gitu haha.
Oh ya, untuk hal teknis, ini kayaknya aku lagi kurang beruntung sebab, buku yang aku terima halamannya terlepas walaupun aku baca dengan hati-hati. Tumben, sebab 2 bukuku sebelumnya juga terbitan Laksana dan kayaknya kualitas penjilidannya cukup kuat.
Terlepas dari itu, Discovering Uzbekistan ini memang pantas untuk dikoleksi, terlebih bagi pembaca kayak aku yang demen banget baca buku-buku perjalanan.
Apa yang saya ketahui tentang Uzbekistan? Nggak banyak. Bahkan saya baru menyadari kalau negara yang dulunya dikuasai oleh Uni Soviet ini, merupakan tanah peradaban muslim yang berjaya di masa kejayaan Islam, juga menjadi tempat persinggahan para pedagang dalam kisah jalur sutera.
Membaca buku Discovering Uzbekistan karya Rahma Ahmad mengenalkan saya, sedikit demi sedikit, tentang bangsa yang para perempuannya dikenal memiliki paras rupawan ini. Bahkan, sebuah kisah tentang Amir Temur alias Timur Lenk, baru saya sesap lebih lama. Dulu, saya hanya tahu dari acara traveler muslim yang tayang di salah satu stasiun televisi, saat Ramadhan datang.
Satu hal yang paling membekas dalam ingatan saya setamat membaca adalah kisah dari salah seorang cucu Amir Temur, Ulugh Beg namanya. Sosoknyalah yang rupanya pertama kali menghitung waktu revolusi Bumi. Teori yang ia paparkan pada lima puluh tahun sebelum kelahiran Copernicus. Tokoh yang banyak dimunculkan pada eksiklopedia.
Rupanya … saya nggak banyak mengenal peradaban muslim. Padahal, mirisnya, saya dilahirkan sebagai seorang muslim.
Buku yang bukan hanya mengajak saya serasa dibawa jalan-jalan, tapi juga merenungkan dan penasaran tentang Uzbekistan lebih jauh.
Uzbekistan adalah salah satu bucket list saya sejak bertahun lalu. Entah kenapa belum ke sini juga :D. Hampir sih, rencananya tahun ini saat ada promo tiket 3-4 jutaan Turki pp awal tahun ini. Mikirnya pandemi akan selesai pertengahan tahun, ternyata malah makin parah, hiik.
Oke, jadi buku ini adalah pengalaman penulis solo traveling ke Uzbekistan. Selalu menarik menyimak pengalamaan solo traveler. Bagaimana seseorang mengatur sendiri perjalanannya, menginap di dorm hostel (tidak selalu), berinteraksi dengan orang lokal dan sesama traveler, hingga kejadian-kejadian tak terduga (senang maupun pahit) yang dialami selama perjalanan.
Penulis melakukan perjalanan selama sepuluh hari ke empat kota: Tashkent, Samarkand, Bukhara, dan Khiva. Kota-kota yang menjadi magnet bagi traveler yang berkunjung ke Uzbekistan, karena memiliki bangunan-bangunan ikonik dengan sejarah yang pekat. Mulai dari Kulkedash Madrasa, Makam Imam Bukhari, Registan Square, Shah-i-Zinda, Po-iKaylan Tower, hingga Kalta Minor.
Seru. Meskipun tulisan-tulisannya kurang eksplorasi. Tapi sebagai buku pegangan buat solo traveler yang mau ke Uzbekistan, cukup bagus, karena ada beberapa tips yang diberikan penulis.
"Orang Indonesia diperbolehkan masuk ke makam asli yang ada di lantai bawah. Hal ini karena balas budi terhadap jasa Soekarno yang "menemukan" makam imam Bukhari." -Hlm. 52-
Selesai juga malam ini jalan-jalan via buku Discovering Uzbekistan karya Mbak @rahmaahmad. Buku perjalanan yang aku baca sekali duduk ini (135 halaman) berisi tentang solo female traveler asal Indonesia berpetualang menjelajah empat kota terkenal di Uzbekistan mulai dari Tashkent, Samarkand, Bukhara, dan Khiva. Dengan tutur cerita yang ringan, detail tiap tempat yang dikunjungi, dan beragam kisah menarik, membaca buku ini seakan menjadi obat penawar rindu traveling di kala pandemi. Aku jadi tertarik melihat manuskrip Al-Quran di Hast Imam Library, berziarah ke Makam Imam Bukhari, minum air di sumur nabi Ayub, dll. Di akhir tiap bab juga disajikan beberapa foto yang bisa membangkitkan imaji pembaca. Suatu saat jika kita ada rejeki lebih (aamiin) untuk explore Uzbekistan, aku sarankan agar buku ini jadi salah satu pegangan.