SIPIT, Kumpulan kolase dan puisi dari Jakarta Utara.
Memilih rumah bukan perkara KPR semata. Memilih rahim apalagi takdirnya. Sebuah pandangan alternatif dari Jakarta Utara, SIPIT adalah kumpulan puisi dari wara-wiri seorang perempuan Tionghoa modern yang sering mempersoalkan nasib, keluarga, budaya, sang Maha Esa, identitas dan kotak-kotak penyekat di antaranya. Jika kamu sering bertanya-tanya tentang hal yang serupa, bisa jadi kumpulan catatan ini adalah bagian dari perjalananmu juga.
"Eh melek, dong, makanya. Coba, coba sini, matanya melotot," kata temenku ke temen lainnya yang bermata sipit.
Akrab dengan kalimat di atas? Orang bermata sipit sering diidentikan dengan masyarakat keturunan Tionghoa, padahal sebenernya banyak juga yang matanya belo. Ironisnya, banyak yang nggak sadar kalau "perbedaan" ini sering jadi bahan ledekan di mana-mana: di sekolah, lingup sosial, hingga masyarakat secara luas. Yang lebih ironisnya lagi, nggak semua sadar bahwa ledekan itu menyakitkan, lho.
Makanya, seneng banget pas tahu ada buku kumpulan kolase dan puisi berjudul Sipit karya Yosephine Salim ini. Sebagai seorang perempuan Tionghoa modern di fase umur 20-an, ia banyak mempertanyakan soal identitas dan juga keberadaannya di negeri ini. Kok, bisa-bisanya masih ada sekat pembeda yang bahkan mengelompokkan pribumi dan non-pribumi? Ya, apalagi ada sejarah kelam yang rasanya nggak pengin diingat-ingat lagi.
Aku sadar betul bahwa penulis cukup gelisah. Baru baca puisi pertama saja, "Oriental Set", pembaca disadarkan kembali soal pandangan masyarakat ketika mereka melihat orang Tionghoa, yang sering dianggap sudah pasti tajir, pinter dagang, pinter cari duit, bisa ngomong Mandarin, bermata sipit, bakalan nengok kalo dipanggil cici-koko, atau mungkin pandangan soal orang Chinese pasti temennya/pasangannya orang Chinese juga.
Mami-Papi pasti senang jika sang calon sudah sama iman Bila tidak? Ya, samakan!
Di sini, penulis merasa representasi dirinya seolah "dipaksa" untuk serupa dengan mayoritas, meski etnis ini (kadang/mungkin saja) masih dianggap minoritas. Rasa-rasanya menjadi seorang perempuan Tionghoa nggak punya banyak kebebasan untuk memilih.
Diskriminasi sosial juga jadi bahasan penting dan menarik. Coba baca "Moy Amoy" yang mengulas soal catcalling, yang mana ini jadi salah satu bentuk pelecehan seksual verbal. Duh, rasanya gemes banget nggak siihhh kalau masih ada orang-orang usil kayak gitu. Kalau digalakin balik, jawabannya cuma iseng. Hadehhh.
Sebagai perempuan keturunan Tionghoa juga, aku ingin mengapresiasi kejujuran yang disampaikan penulis. Isi buku ini cukup menggelitik, tapi aku rasa Yosephine bisa lebih galak dari ini, deh. Mungkin masih ada unek-unek yang belum tersampaikan? Meski begitu, segala kekecewaan, kemarahan, juga penerimaan dalam diri, bisa jadi bentuk protes yang menurutku cukup estetis, yang dibalut dalam kata dan visual. Oh ya, kolasenya menarik banget! Bahkan ada gambar kwetiau goreng, makanan yang lahir di China, tapi populer di Indonesia, yang mana semakin memperkuat isi buku Sipit ini.
Yang terpenting, penulis nggak mencoba untuk menutup-nutupi identitas aslinya, yakni sebagai seorang perempuan, seorang Tionghoa, dan seorang Indonesia. Buku ini seperti berpesan bahwa nggak ada gunanya memperkokoh sekat pembatas yang mengotak-otakkan, toh, bukannya kita ini bhinneka tunggal ika?
Dekat, sederhana, menyesakkan, dan penuh pertanyaan. Puisi-puisi yang memang sudah saya expect dari judulnya, mengenai perjuangan sebagai wanita Tionghoa di Indonesia. Kolase puisi yang mudah dikunyah oleh pembaca awam. Dengan membaca ini sekali duduk, saya tidak menemukan satu dua puisi yang spesial, namun justru karena keseluruhan alur buku ini yang koheren dan pas emosinya, membuat saya puas membacanya dengan lahap. Porsi pas, rasa sesuai ekspektasi, kapan-kapan bakal mampir lagi ke buku ini.
Tentang kehidupan sebagai cina-indonesia yang seringkali tidak diterima di negerinya sendiri.
Tentang kehidupan wanita di tengah masyarakat juga, begitu banyak standard yang dipasangkan, di dikte bagi wanita, diarahkan untuk menjadi apa tanpa punya kebebasa untuk memilih.
Kumpulan kolase dan puisi ini membuat aku mengenali kehidupan penulisnya dan beberapa kali merasa relate dengan pengalaman-prngalaman yang dia alami
dari Bibit kecil yang ia tanam di rahimnya menjadi Bunga liar yang tak berhenti berkelana meresap benar-salah dari segala arah dan penjuru dunia. -Resep Doa Ibu.
Kesan pertama membaca buku ini unik dan berani, penulis memberikan kesan juga pesan mengenai dirinya yang hidup di negeri yang katanya Bhineka Tunggal Ika. Jadi lebih mengerti mengapa toleransi juga saling menghargai masih menjadi hal yang mahal dan belajar untuk tetap menghargai satu sama lain. Aku begitu menikmati setiap puisinya yang berani dan menggebu tanpa ampun. Aku menyukai buku ini.