Jump to ratings and reviews
Rate this book

Sekong!

Rate this book
Pepatah berkata malang tak dapat ditolak. Kala perselingkuhan suaminya makin terkuak, Surti harus menerima kenyataan bahwa suaminya seorang sekong. Pengembaraan lain pun mempertemukan Surti pada ruang-ruang gelap manusia. Ada begitu banyak cangkang yang dibangun oleh orang-orang di sekitarnya agar mereka tampak sesuai dengan masyarakat dan nilai-nilai di dalamnya.

Stebby, setelah novelanya yang terdahulu, Rumah Ilalang, kembali menyeret pembacanya ke dalam pergumulan antara identitas gender dan relijiusitas serta nilai-nilai tradisional yang kadung mendarah daging. Dalam Sekong!, Stebby mempertemukan kita dengan tiga sosok pria: seorang penyiar, seorang pemimpin tur dan seorang penyuluh keluarga berencana. Tiga sosok pria yang terperangkap pada kontruksi sosial masyarakat mengenai kaum homoseksual.

208 pages, Paperback

Published July 1, 2021

18 people want to read

About the author

Stebby Julionatan

16 books55 followers
Stebby Julionatan. Lahir di Probolinggo, Jawa Timur, 30 Juli 1983. Mantan Kang Kota Probolinggo 2006, finalis Raka-Raki Jawa Timur 2007 dan Rimata Jatim BPAP 2008. Pendiri Komunitas Menulis (KOMUNLIS). Bergiat di Komunitas Sae Sanget Indonesia (KSSI). Sehari-hari bekerja sebagai staf Diskominfo Kota Probolinggo, penyiar radio dan editor tabloid Suara Kota. Pernah dinobatkan sebagai Penulis Muda Berbakat 2007 atas karyanya “Ku Nanti Hujan di Pucuk Musim Kemarau” oleh Kolomkita. Karyanya yang telah terbit LAN (Bayumedia, 2010), Barang yang Sudah Dibeli Tidak Dapat Ditukar Kembali (Bayumedia, 2011) dan Biru Megenta (Ruang Kosong, 2015). Tahun yang sama, Biru Megenta masuk shortlist Anugerah Pembaca Indonesia (API) 2015. Di 2016, manuskrip puisi Rabu dan Biru, menjadi nominator (5 besar) Siwanataraja Awards. Dapat disapa di @sjulionatan dan untuk berkirim email bisa ke sjulionatan@yahoo.com.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
1 (3%)
4 stars
10 (31%)
3 stars
17 (53%)
2 stars
2 (6%)
1 star
2 (6%)
Displaying 1 - 12 of 12 reviews
Profile Image for Dion Yulianto.
Author 24 books196 followers
August 10, 2021
Setelah Rumah Ilalang, penulis muda Stebby Julionatan kembali meluncurkan karya berikutnya, Sekong. Sesuai dengan judulnya, novel ini kembali mengangkat tema yang hampir serupa, yakni kelompok homoseksual. Saya tidak menemukan arti kata sekong di KBBI, tetapi dari penelusuran internet diperoleh definisi sekong sebagai bahasa kelompok transgender (atau kasarnya, maaf, banci) yang merujuk pada seseorang (biasanya laki-laki) yang “sakit” atau tidak normal secara orientasi seksual, yakni gay, banci, atau laki-laki yang berpindah orientasi seksualnya. Dan memang inilah garis besar yang dikisahkan dalam novel ini: tentang bagaimana seseorang menutupi, mencoba mengingkari orientasi seksualnya versus mereka yang sudah menerima diri apa adanya. Yang ternyata, keduanya sama-sama kecewa karena cinta yang tak dapat diraih.

“Bukankah pada akhirnya manusia memang harus menikmati apa yang ada di dirinya? Sedang kebahagiaan sejati sesungguhnya adalah sikap penerimaan kita pada apa yang kita miliki.” (hlm 54)

Dikisahkan dengan gaya seseorang yang bercerita menggunakan sudut pandang salah satu karakter di dalamnya (siapa yang bercerita ada di akhir buku, tetapi jangan langsung buka halaman belakang, tidak seru nanti). Tekniknya semacam kisah berbingkai dan berantai, di mana satu tokoh akan megarahkan pembaca ke tokoh lain, dan tokoh lain ini kemudian memperkenalkan ke tokoh yang lainnya juga. Unik, tapi juga membuat pembaca kurang focus karena sepertinya ada begitu banyak tokoh. Padahal, tidak. Pada pertengahan buku, pembaca akan tahu kalau cerita ini hanya berpusat pada tiga pria yang sama-sama homoseksual.

Blurb-nya memang agak “menipu” karena menampilkan sosok Surti yang saya kira akan menjadi tokoh utama novel ini. Akan menarik melihat bagaimana tanggapan seorang wanita begitu tahu suaminya seorang homoseksual, apakah menerima atau murka. Tetapi tidak, Sekong menyorot pada tokoh Si Penyiar, Rahim, dan TL yang ketiganya sama-sama gay tetapi dengan kecintaan yang berbeda. Berbeda dengan pandangan masyarakat umum bahwa seorang gay akan selalu tertarik pada semua laki-laki, kehidupan cinta tiga pria ini menunjukkan bahwa seorang gay pun pilih-pilih dalam mencintai sesama lelaki. Kehidupan cinta mereka pun tidak kalah drama dengan kisah cinta picisan.

“Ketika banyak orang tidak punya pilihan, kekebasan memilih bagiku adalah anugrah. Aku terbuka dengan segala kemungkinan.” (Hlm. 162)

Kisah dibuka dengan Si Penyiar yang ditelpon oleh seorang perempuan bernama Surti. Perempuan itu curhat di radio kalau suaminya yang bernama Rahim ternyata seorang sekong, gay. Sungguh sulit dipercaya karena keduanya telah dianugrahi anak setelah bertahun-tahun berumah tangga. Dari sini, tokoh si pencerita mulai merunut alur kisah Rahim dan Surti, masa lalu pernikahan mereka, penyebab Rahim mau menikahi Surti, serta bagaimana campur aduk perasaan baik Rahim maupun Surti terkait fakta bahwa lelaki itu mencintai lelaki. Kisah semakin rumit karena melibatkan lembaga negara juga keluarga besar yang tidak mau nama baiknya tercemar.

“Dan sejarah, senantiasa dibangun oleh dunia patriaki dan pihak-pihak yang berkuasa.” (hlm. 85)

Persoalan semakin rumit karena setelah Rahim melepaskan Surti dan mengabaikan keluarga besarnya, cintanya malah bertepuk sebelah hati. Pria muda yang dicintainya lebih mencintai si Penyiar sementara si Penyiar sendiri menaruh hati pada sosok ABG yang tidak akan pernah mungkin bisa ia cintai. Perkara cinta memang rumit, dan itu berlaku juga di dunia kaum gay sebagaimana juga dalam percintaan heteroseksual. Yang dicinta belum tentu balas mencinta. Yang didamba belum tentu bisa didapatkan, bahkan meskipun keduanya sama-sama pria gay. Sejak dulu, begitulah cinta. Indah tapi rumit adanya.

“Begitulah cinta, bukan? Hal-hal luar biasa, ajaib, dan bahkan tolol terjadi karena cinta.” (hlm. 109)

Fenomena homoseksual memang, diakui atau tidak, ada dalam masyarakat kita. Hanya saja dunia mereka ditutupi oleh lapis demi lapis dalih yang tertutup rapat. Sekong seperti hendak membuka mata pembaca pada dunia yang terselubung ini. Mereka ada, dan mereka berbahagia sekaligus menderita dengan dunianya tersebut. Lain itu, Sekong semacam membeberkan kehidupan mereka yang menyembunyikan orientasi seksualnya, menekannya habis-habisan, hanya untuk mendapati kalau dorongan alami itu memang sulit untuk dikekang. Pada akhirnya, membohongi diri sendiri akan berujung pada membohongi orang lain. Tidak hanya itu, Sekong dengan unik dan blak-blakkan menggambarkan bagaimana pandangan dan posisi masyarakat terhadap kelompok yang terpinggirkan dan meminggirkan diri ini.

“Penderitaan itu akan bersalih-sulih dalam kehidupan kita. Jika kamu pernah menyakiti orang lain, maka jangan marah jika nantinya hidupmu akan disakiti oleh orang lain.” (hlm. 156)
Profile Image for Cahyo Prayitno.
171 reviews
June 22, 2022
Sampai bab terakhir, penulis masih bingung, siapa dia? kenapa dia menulis novel ini? apa hubungannya para tokoh dengan dirinya? Jujur, aku lebih bingung daripada si Penulis.

Novel ini lebih tepat disebut sebagai memoar, karena bentuk penceritaannya yang tidak seperti novel. Tell, not show. seluruh isi cerita bukan dari sudut pandang para tokoh2nya, tapi dari sudut pandang penulis, yang seringkali melantur kesana-kesini dalam penuturannya. Membaca novel ini lebih tepat dikatakan seperti menonton film dokumenter. Melelahkan. Hampir DNF, namun beruntung bisa diselesaikan.
Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book267 followers
August 7, 2021
Seorang wanita bernama Surti (bukan nama sebenarnya) menelpon ke Radio Suara Kota Probolinggo dalam program Laporo Rek! Program ini memang diperuntukkan bagi warga untuk mengajukan aduan ke walikota, dan berharap Ibu Walikota akan memberikan solusinya. Tapi kali ini Surti menelpon untuk melaporkan perselingkuhan yang dilakukan oleh suaminya. Lantas, mengapa Surti mengadu ke walikota? Tak lain karena suaminya, Rahim, seorang aparat negara. Surti merasa perlu hal tersebut juga ditindaki oleh aparat negara.

Si Penyiar yang mendengarkan aduan Surti hanya bisa mengatakan bahwa kasus Surti akan ditindak lanjuti. Sebenarnya Si Penyiar sendiri tidak suka akan perselingkuhan, karena itu membuka luka lama. Ayahnya pernah berselingkuh, dan dirinya sendiri juga pernah diselingkuhi. Baginya perselingkuhan adalah dosa yang tidak kunjung sembuh, tak ada obatnya.

Rahim, adalah suami kedua Surti. Meski tidak direstui orangtuanya, Rahim tetap menikahi Surti. Tetapi sejatinya, Rahim mencintai orang lain. Dia seorang pria, tour leader (TL) yang pernah bertugas menjadi pramuwisata saat kantornya berwisata ke Bali. Rahim menyusun skenario perselingkuhan dengan melibatkan sahabatnya, demi meruntuhkan pernikahannya. Rahim tidak menduga, Surti bertindak jauh melaporkan perselingkuhannya ke walikota.

Saat membaca sinopsis novel ini, saya berpikir keseluruhan cerita akan berpusat pada Surti sebagai tokoh utama. Kenyataannya tidak demikian. Tokoh sentral dalam novel ini ada tiga pria, yaitu Si Penyair, TL dan Rahim. Ketiganya memiliki kesamaan, yaitu seorang homoseksual (walaupun Rahim mungkin bisa disebut biseksual). Lewat kisah yang diceritakan oleh "Aku", ketiga pria ini saling berkaitan. Ketiganya memiliki kisah tersendiri yang kemudian terangkai menjadi satu jaringan yang tak terpisahkan.

Novel ini unik. Ada "Aku" yang memaparkan sebuah kisah, dimana di dalamnya ada kisah-kisah lainnya. Dari judulnya yang sudah mengundang rasa penasaran, novel ini mengisahkan seluk beluk kaum homoseksual di sebuah kota kecil di Jawa Timur. Saya bisa mengatakan novel ini tidak serhana, blak-blakan, dan tentunya membuat pembaca tidak akan berhenti membaca sampai halaman terakhir. Temasuk saya yang sangat penasaran bagaimana nasib Surti, dan bagaimana Surti sampai tahu kalau suaminya seorang sekong.

Saya sempat ragu, apakah novel ini adalah murni fiksi atau sebuah biografi yang disajikan dalam bentuk fiksi. Saya sempat menelusuri internet untuk lebih mengenal sosok penulis, dan menemukan ada banyak kesamaan latar belakang dalam novel ini dengan kehidupan pribadi sang penulis. Apakah "Aku" yang bercerita dalam novel ini adalah sang penulis sendiri? Siapakah "Aku" ini? Pertanyaan ini ada dalam salah satu bab, namun alih-alih menjawab pertanyaan itu, penulis memaparkan beberapa trivia terkait homo dan tanggapan masyarakat terhadap kaum homoseksual ini.

Saya mengapresiasi buku-buku yang anti mainstream dan berani seperti ini. Terima kasih kepada penulis yang berkenan memberikan saya kesempatan mengulas novel ini. Saya yakin penulis dengan bekal pendidikan magisternya di bidang gender ingin membagikan ilmunya lewat sebuah karya sastra. Semoga dengan cara ini bisa membuka wawasan banyak orang tentang kaum homoseksual, terlepas dari menerima atau tidak akan keberadaan mereka.
Profile Image for Sophia Mega.
Author 4 books136 followers
January 20, 2022
Buku ini mempertemukanku dengan dunia queer. Beberapa stereotipe coba dipatahkan melalui ini, dan yang paling menarik, bahwa hubungan gay tak melulu soal berhubungan seksual. Ada juga hubungan gay yang hangat seperti Sang Penyiar dan Musthofa.

Aku sudah membuat ulasan lengkapnya di kanal YouTube Sophia Mega.
Profile Image for Truly.
2,764 reviews13 followers
August 7, 2021
Ketika banyak orang tidak punya pilihan, kekebasan memilih bagiku adalah anugrah. Aku terbuka dengan segala kemungkinan. Namun sejauh ini aku tidak tertarik membangun komitmen serius dan punya anak
~Sekong, hal 162~

Semula, bagi Si Penyiar-tokoh kita yang bercita-cita menjadi penyair, hari ini tak berbeda dengan hari yang lain. Ia tak mengira bahwa program Laporo Rek! yang ia pandu hari ini akan mendapat aduan yang tak biasa.

Seorang wanita bernama Surti melaporkan bahwa suaminya berselingkuh, dan ia meminta bantuan pihak berwenang untuk menyelesaikan masalah tersebut. Menurut Surti, suaminya berselingkuh dengan sahabatnya sendiri, seorang perawat yang bekerja di RSUD. Melalui program Laporo Rek! Surti memohon keadilan bagi dirinya dan kedua anaknya dengan cara memecat sang perawat.
---
---
---
Sekilas, jika kita membaca judul kisah ini, secara umum mengartikan sebagai cerita tentang seseorang yang memiliki haluan sex yang tidak semestinya. Lebih lanjut, seorang pria yang mencintai sesama jenis. Sejatinya buku berkisah tentang banyak hal. Salah satunya tentang identitas seseorang yang selama ini terkotak-kotak atas nama gender.

https://trulyrudiono.blogspot.com/202...
Profile Image for Just Avis.
131 reviews2 followers
October 22, 2021
Ketika membacanya (untuk kedua kali) maka kamu akan menemukan benang ruwet dunia LGBT. Ini terungkap secara tidak sengaja ketika Surti curhat di siaran langsung radio perihal suaminya "selingkuh" yang mana selingkuhannya sama-sama abdi negara seperti suaminya. Gempalah dunia kecil di Probolinggo dengan siaran di atas. Namun, Rahim, suami Surti ternyata hanya pembuka dari tabir LGBT yang berpindah dari satu raga ke raga lain. Ada banyak nama lain dari beragam latar belakang termasuk kaum yang terdidik agamamis di lingkungan agamis. Tidak ada yang salah dengan rasa, sejatinya rasa adalah hal yang alamiah. Namun, aturan norma dan adat membuat tatanan belum menerima sepenuhnya kaum homo. Walhasil, Stebby menuliskan secara dramatis di novel ini jika persaingan cinta antara gay lebih dramatis dibandingkan laki-perempuan, lebih sadis dan tidak jarang lebih liar. Good job Stebby! Jadi Surti dan Rahim cerai atau enggak nih, hehe.
Profile Image for Aldila Sakinah Putri.
83 reviews
August 15, 2022
"Benar atau tidak benar, jujur atau berpura-pura, kali ini ia harus mulai menerima dan menikmati apa yang sudah disodorkan kepadanya. Bukankah pada akhirnya manusia memang harus menikmati apa yang ada di dirinya?" Halaman 54.

Diawali sebuah kisah Surti yang nekat melaporkan Rahim ke program radio daerah. Ia melaporkan suaminya yang telah berbuat serong dengan seorang perawat RSUD, teman wanita Rahim. Si Penyiar menangani kasus-kasus aneh seperti ini pada program acara radionya, ternyata mempunyai sudut pandang lain tentang siapa sebenarnya kekasih gelap Rahim.

You know who? Kekasih gelapnya berjenis kelamin yang sama 🤯

Latar belakang novel ini berada di kota Probolinggo, berdekatan dengan kotaku, makanya aku sangat penasaran sekali dengan jalan ceritanya. Sebanyak 33 judul bab yang bisa dikatakan sebagai cerita pendek bersambung dengan sudut pandang yang berbeda-beda. Merupakan keunikan tersendiri dari novel ini.

Hingga akhirnya dari novel ini aku tahu ternyata penyuka sesama jenis punya "radar" tersendiri untuk menemukan yang sealiran dengannya. Wah sangat mengejutkan buatku.

Tidak hanya itu, jalan ceritanya juga berkaitan dengan politik yang terjadi pada tahun tersebut. Salah satu tokohnya tengah mengikuti seminari. Tokoh yang lain menyukai dunia kepariwisataan.

Nah, yang jadi rahasia bahwa Si Penyiar hingga akhir kisahnya tidak diceritakan siapa nama sebenarnya. Hanya satu huruf saya yaitu "P" hhmm cukup membuat penasaran. Kalian bisa tebak siapa namanya?

"Tak ada yang abadi di kota ini, kecuali engkau berakar kuat. Untuk berakar kuat, kau perlu menghujamkan pengaruhmu sedalam akar pohon mangga, menggurita di dalam, dan menebarkan harum pesona Manalagi di permukaan, hingga jauh ke seluruh pelosok negeri." Halaman 26
Profile Image for Hilm.
85 reviews21 followers
December 21, 2023
3.5 stars rounded up.

Its earnestness is showing strongly (which I like), if somewhat rough, and meandering with lots of affectations. Overly reliant on lots of cultural references which feels a bit all over the place. Several typos peppered the novel, which is unfortunately quite distracting.

Things I like: small-town set up (Probolinggo), wide ranging cast—possibly too many? But the numbers and character diversity are possibly instrumental in avoiding stereotypical descriptions of gays: there’s all kind of gays here. (And an acknowledgment that one of the characters may be bisexual.)

The narrative structure is certainly a *choice*: commentary on each character’s naming, epistolary style, a storyteller-like expositions, Q-and-A style chapter.. I can’t say it 100% works. But this is short so in the end I basically read it in a sitting.
Profile Image for Sera..
24 reviews3 followers
July 31, 2022
⭐3/5!

(Ulasan bersifat subjektif!)



Rasa-rasanya, saya sudah mulai bisa mengenali gaya bercerita milik penulis. Penulis selalu bercerita dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga terbatas. Setiap tokoh yang berkenaan dengan (diduga) Si Tokoh Utama, turut diceritakan. Menurut saya, ini unik. Setiap tokoh diberikan kesempatan untuk menyampaikan sudut pandangnya masing-masing.

Saya banyak menemukan typo dalam penulisan, namun yang membuat saya memutuskan untuk memberikan bintang 3 untuk kisah dalam buku ini bukan itu, tentu saja. Ada alasan personal yang tidak bisa dimasukkan dalam ulasan.
Profile Image for FADMA AZLANI.
2 reviews
January 14, 2025
ambil ini dari rak karena buku karena tertarik sama kisahnya tentang para LGBT dan nama-nama tokohnya ‘lokal’ banget (surti, tejo) haha. tapi, sejujurnya aku cukup bingung sama hubungan antar tokoh dan alur bab yang kesana-kemari. mungkin untuk slow reader, novel ini sangat nyaman untuk dibaca.

tapi, untuk aku yang menyelesaikan novel ini kurang dari 3 hari karena lebih tertarik dengan kisah LGBT-nya, cukup berat bahkan menuntaskan buku ini tanpa 100% mendapat makna (yang mungkin bagus banget).

setidaknya, aku dapet keseruan & kebinalan tokoh “sekong” yang bold di novel ini. tapi, kalo dipikir-pikir ini buku pertamaku yang nama tokohnya diambil dari profesinya (Si Penyair, TL, dll) :D
96 reviews1 follower
July 22, 2024
Membaca buku dengan latar belakang kota kelahiranmu, ditambah dengan topik yang menjadi bagian dari lapisan identitasmu itu ... Aneh-aneh lucu. Cukup seru, tapi karakter utama dan para figurannya terlalu banyak—membingungkan otakku yang daya fokusnya sudah rendah ini. Aku suka gaya tulisan Stebby, cukup khas dan bumbu-bumbu perspektif religi (dan mitologi Yunani!) cukup menarik. Beberapa referensi literatur dalam buku ini juga meluaskan wawasanku (ada Ayu Utami!!). Yah, nggak buruk juga, meski sangat berat di tipikal komunitasnya. Stereotip dan masih satu dimensional banget.
Displaying 1 - 12 of 12 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.