"... dengan menulis puisi, saya bisa menjadi apapun, hidup kapanpun, dan bisa pergi ke manapun yang saya mau. Saya juga bisa menuangkan berbagai keresahan seperti bercerita, dan menggunakan berbagai Metafora yang membuat cerita itu semakin indah."
Menyadur pernyataan Melani Budianta, Guru Besar FIB-UI, seorang pengajar kritik sastra dan penulisan kreatif, saya sependapat dengannya bahwa menikmati puisi tidak tentang mendapat jawaban benar dan salah seperti ulangan pilihan ganda, tetapi yang lebih penting dari itu adalah, menikmati permainan katanya, keliaran imajinasinya, sensasinya, ketika bunyi - rasa - bau - dan sensasi inderamu diajak berkelana.
Pembacaan saya pada puisi² @pilgrimaya ini boleh dikatakan sebagai pembacaan seorang awam yang menikmati dengan cukup baik bait per bait tiap judul puisi yang disuguhkan. Diksi² yang digunakan erat hubungannya dengan kehidupan perempuan, sebagaimana tema yang diangkat dalam buku puisi ini. Dan saya merasa penulis seperti sedang mengajak saya mengeluarkan diri saya yang lain untuk saling berbicara satu sama lain.
Salah satu puisi paling menyentuh yaitu Kinanthi, yang diberi judul pohon ibu, berisi petuah² hidup seorang ibu kepada anaknya. Pada bait menjelang akhir tertulis, "doa ibu adalah musik yang berputar tanpa jeda..." Sebuah baris yang begitu syahdu menurut saya, betapa benar bahwa doa ibu adalah kidung yang terus dipanjatkan dengan setia kepada anak²nya. Tanpa lelah, tanpa bosan, dengan kasih yang tak sedikitpun berkurang, bahkan semakin hebat mengiringi bersamanya setiap malamnya.
"Doa ibu adalah langit, lalu Tuhan menjadikannya teduh.
Doa ibu adalah tanah, lalu tuhan menjadikannya penuh.
Doa ibu adalah ruh, lalu tuhan menjadikannya utuh." (hlm.1)
🥺❤️