Jump to ratings and reviews
Rate this book

Puasa Puisi

Rate this book
"Menurut saya, setiap manusia punya takdirnya sendiri-sendiri untuk lahir sebagai apa. Apakah menjadi laki-laki, perempuan, atau hidup di garis waktu seperti apa, menjadi anak kecil, orang dewasa, dan lainnya. Tapi dengan menulis puisi, saya bisa menjadi apapun, hidup kapanpun, dan bisa pergi ke manapun yang saya mau. Saya juga bisa menuangkan berbagai keresahan seperti bercerita, dan menggunakan berbagai metafora yang membuat cerita itu semakin indah."

--Widya Mareta

Paperback

First published June 1, 2021

3 people are currently reading
25 people want to read

About the author

Widya Mareta

2 books2 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
9 (31%)
4 stars
19 (65%)
3 stars
1 (3%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 12 of 12 reviews
Profile Image for Sintia Astarina.
Author 5 books359 followers
August 15, 2021
Satu lagi puisi perempuan yang menyentuh hati.

Puasa Puisi karya @pilgrimaya berkisah tentang pengembaraan seorang anak perempuan ketika kehadirannya masih dalam bentuk doa Ibu, kemudian janin, lalu bertumbuh besar hingga akhirnya beranjak dewasa dan mampu berdiri di atas kaki-tangannya sendiri. Karya ini bukan cuma merayakan keberadaan perempuan di tengah masyarakat. Widya mengulik hal yang lebih personal: hubungan antara anak perempuan dengan Ibunya, dengan pasangannya, juga dengan dirinya sendiri.

Di mana letak kuat puisi-puisinya? Aku merasa permainan metaforanya begitu "jahil" (ah, ternyata Widya senang berteman dengan kamus). Lalu, beberapa bait terakhir puisinya juga begitu mengena. Ketika dibaca, seperti ada bunyi gong yang menyambar dan bikin pembaca berseru, "Wah, bagus banget puisinya!"

Meski puisinya panjang dan melelahkan, aku sangat menikmati pembacaanku dari awal hingga akhir karena di kepalaku ada kebebasan untuk menafsirkannya. Beneran deh, habis baca puisi tuh analytical skills-nya berasa naik 1 level. Hahaha. Pstt ... di buku ini nggak ada puisi "Puasa Puisi" seperti di judul. PR teman-teman untuk tafsir sendiri, ya.

Aku terkesan dengan puisi ini:
1. Solitude
It resonates with me. Tentang seseorang yang menemukan kebahagiaan dalam kesendirian, seseorang yang membuktikan bahwa dirinya bisa baik-baik saja tanpa masa lalunya.

2. Pohon Ibu (Kinanthi)
Kasih Ibu sepanjang masa. Nasihatnya yang meresap dalam hati terus terbawa bahkan ketika si anak perempuan menjadi sosok Ibu bagi anak-anaknya nantinya. Kasih sayangnya terus bergulir dari generasi ke generasi. Pesannya bagus sekali!

3. Prosesi Perenggutan Masa kecil (I)
Tentang Ibu yang jadi saksi tumbuh kembang perempuan kecilnya. Meski anak sudah dewasa nanti, sang Ibu diceritakan sebagai sosok yang akan selalu ada dalam kondisi apa pun. Puisi yang bikin haru.

Puasa Puisi bukan bukti atau validasi bahwa perempuan adalah sosok kuat, karena pada dasarnya perempuan memang kuat, kok. Usai membaca, aku semakin dibuat percaya bahwa puisi adalah bentuk paling abadi dari indahnya keresahan hati.

Review selengkapnya baca di https://www.sintiaastarina.com/puasa-...
Profile Image for uwievelo.
27 reviews1 follower
September 2, 2021
“Puasa Puisi” (Penerbit Indonesia Tera, 2021) karya Widya Mareta, seorang penyair kelahiran 1994 (Gen Z). Metafora dan diksi yang tersebar di 43 puisi karyanya menurut saya patut diapresiasi karena tidak hanya indah tetapi juga menyiratkan keluasan bacaan dan kedalaman observasi Widya terhadap kehidupan yang lekat dengan kesehariannya sebagai seorang perempuan muda: kosmetik, pembalut, kompleksitas tubuh dan pencarian makna menjadi perempuan yang sedang bertumbuh dari masa remaja ke masa dewasa, hubungan ibu dan anak perempuan, hubungan diri dengan Tuhan, dan lain-lain.

Berikut puisi favorit saya, pendek tapi dalam:

suatu malam aku pergi ke tubuh lipstik dan tak pernah kembali (“Asmarandana”, halaman 46).

Di balik kesederhanaannya, puisi ini mengandung dan mengundang tafsir besar pergulatan perempuan terhadap industri kosmetik dan standar kecantikan versi industri dan budaya patriarki.

BRAVO Widya! 🤍🤍🤍
Profile Image for Christan Reksa.
184 reviews11 followers
March 29, 2023
Ulasan ini berbeda. Pertama, akhirnya karena saya belum pernah membahas buku puisi. Kedua, karena ini sejatinya cerita bagaimana buku ini berdampak pada kisah romansa saya.

Buku ini saya beli karena saya pernah menyimak beberapa puisi Widya yang menurut saya gayanya mirip puisi2 Joko Pinurbo serta bisa dicerna oleh saya yang sejatinya tidak terlalu gemar genre puisi. Namun ada alasan lain mengiringi: saya ingin meminjamkan buku ini ke gebetan saya,yang saya tahu suka puisi.

Saat membayar di kasir, saya ditanya, suka puisi ya? Saya jawab, sebenarnya belum, tapi ingin belajar menikmati puisi & berbagi ke gebetan yang suka baca puisi & enjoy membuat puisi juga.

Beberapa bulan kemudian, ketika bertemu dengan gebetan saya, tentu saya bawa buku ini, kemudian saya pinjamkan kepada dia.

Beberapa minggu setelahnya, di ibadah & syukuran ulang tahun lembaga persekutuan Kristen tempat kami sama2 pernah terlibat, dia membacakan puisi yang dibuatnya untuk ibadah itu. Saya sempat heran, kok timingnya dekat dekat sekali dengan ketika saya meminjamkan Puasa Puisi. Setelah ibadah itu selesai, saya membahasnya dengan dia, lucu juga timingnya dekat sekali dengan ketika Puasa Puisi saya pinjamkan.

Ternyata bahkan ada timing yang lebih dekat lagi.

Begini katanya soal bagaimana ini berpengaruh kepada keputusannya bersedia membacakan puisi di ibadah itu:

"Hari itu gue paginya baru jawab iya buat bacain puisi setelah mikir panjang kali lebar. Terus sorenya ketemu lu, dapet stimulus yg menurut gue lebih mendarat puisinya daripada kahlil gibran 😂😂😂"

"Heran kan kak 😂 ga ada yg tahu kok gue mau tampil baca puisi karena gue aja ga yakin bisa baca 😂 makanya gue bengong sendiri pas itu buku mendarat di depan gue di hari gue mengiyakan baca puisi 😂😂"

Singkat cerita, beberapa bulan kemudian status gebetan berubah menjadi pacar.

Jadi makasih Puasa Puisi, sudah jadi perpanjangan Tuhan buat memberanikan dia membagikan puisi ketika dia banyak meragu. 🙏🏻🤣

⭐⭐⭐⭐⭐ karena cerita yang mengiringinya.
Profile Image for Rizq_ Nurjanna.
42 reviews
July 18, 2022
"... dengan menulis puisi, saya bisa menjadi apapun, hidup kapanpun, dan bisa pergi ke manapun yang saya mau. Saya juga bisa menuangkan berbagai keresahan seperti bercerita, dan menggunakan berbagai Metafora yang membuat cerita itu semakin indah."

Menyadur pernyataan Melani Budianta, Guru Besar FIB-UI, seorang pengajar kritik sastra dan penulisan kreatif, saya sependapat dengannya bahwa menikmati puisi tidak tentang mendapat jawaban benar dan salah seperti ulangan pilihan ganda, tetapi yang lebih penting dari itu adalah, menikmati permainan katanya, keliaran imajinasinya, sensasinya, ketika bunyi - rasa - bau - dan sensasi inderamu diajak berkelana.

Pembacaan saya pada puisi² @pilgrimaya ini boleh dikatakan sebagai pembacaan seorang awam yang menikmati dengan cukup baik bait per bait tiap judul puisi yang disuguhkan. Diksi² yang digunakan erat hubungannya dengan kehidupan perempuan, sebagaimana tema yang diangkat dalam buku puisi ini. Dan saya merasa penulis seperti sedang mengajak saya mengeluarkan diri saya yang lain untuk saling berbicara satu sama lain.

Salah satu puisi paling menyentuh yaitu Kinanthi, yang diberi judul pohon ibu, berisi petuah² hidup seorang ibu kepada anaknya. Pada bait menjelang akhir tertulis, "doa ibu adalah musik yang berputar tanpa jeda..." Sebuah baris yang begitu syahdu menurut saya, betapa benar bahwa doa ibu adalah kidung yang terus dipanjatkan dengan setia kepada anak²nya. Tanpa lelah, tanpa bosan, dengan kasih yang tak sedikitpun berkurang, bahkan semakin hebat mengiringi bersamanya setiap malamnya.

"Doa ibu adalah langit, lalu Tuhan menjadikannya teduh.
Doa ibu adalah tanah, lalu tuhan menjadikannya penuh.
Doa ibu adalah ruh, lalu tuhan menjadikannya utuh." (hlm.1)
🥺❤️
Profile Image for sekar banjaran aji.
165 reviews15 followers
August 26, 2023
Puasa Puisi oleh Widya Mareta

Aku telat bacanya setelah banyak yang merekomendasikan buku ini. Ternyata secara konsep aku suka idenya Widya Mareta: dia mencoba menggunakan inner child nya untuk melihat dunia meskipun banyak getirnya tapi eksekusinya keren.

Widya punya gaya ala puisi kompas dan tempo dengan alur cerita kekinian. Waktu dia bercerita tentang bagaimana perempuan tumbuh, aku jadi ingat puisinya Gustiana Canaya Rompas (Anya). Jika Anya meneceritakannya lugas dan kekinian maka Mareta menceritakannya seperti penyair 90an. Aku paham perasaannya tapi kata-kata itu seperti diucapkan ibu atau budheku. Barangkali itu yang membuat Mareta menang kusala sastra.

Oh ya, aku juga baru sadar kalau ibu bisa jadi sosok yang penting sebab hampir dalam puisi dari penulis perempuan sosok ibu selalu digali. Barangkali ini anti tesis dari puisi jadul yang selalu menggali semangat juang dari sosok pahlawan yang maskulin.

Aku lebih suka puisi pendeknya Widya Mareta sih. Lebih kuat aja. Kalau puisi panjangnya, kadang masih membuatku tersesat.

Bonus foto lucu pas di warung 🍕

#WhatSekarReads2023 #WhatSekarReads #PuasaPuisi #WidyaMareta
Profile Image for Aris Kristanto.
15 reviews
March 19, 2022
Puasa Puisi adalah buku kumpulan puisi pertama yang saya baca dari penulis perempuan--terlepas dari penulis laki-laki atau perempuan, saya memang jarang baca puisi, sih.

Buku ini berisi 40-an puisi yang punya kekuatan dengan tema seputar kesepian dan perempuan. Bahkan, ada beberapa puisi pendek (tentang perempuan) di buku ini yang lebih dahsyat daripada puisi-puisi panjangnya, seperti ledakan bom atom. Selain itu, uniknya juga adalah penempatan kolofon yang tak seperti di buku lain.
Profile Image for Ade A. Wahab.
11 reviews
April 6, 2024
Her poems feel organic to read like they are based on her thoughts and feelings about something or perhaps what she has been through. I think she writes with all-out honesty and gives the reader a pov of her seeing things.

Anyway, this is the first time I read Widya Mareta's book. I think she has some writing style similarities with Joko Pinurbo.
Profile Image for Kitari.
15 reviews
March 15, 2024
Entah, bagaimana Mareta mendapat benih-benih puisinya.
tapi, lebih dari sekedar membuat mabuk atau tenggelam saja.
Puasa puisi ini seperti Jamur.
Tidak hingga mematikan,
Namun spesiesnya membuat candu keracunan.
Profile Image for Ela G.
3 reviews
October 23, 2021
suka banget dengan buku puisi ini. Semoga menang KSK 2021.
Displaying 1 - 12 of 12 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.