Membaca bukunya secara online terhitung membaca juga nggak, ya? Kalau bukan buku fisik tuh kadang merasa blep! selesai saja sudah. Antara senang dan menyesal kok cepat sekali hahaha.
Setelah nonton dramanya, penasaran mau baca novelnya. Sudah menyiapkan hati kalau harus kecewa sama adaptasi dramanya. Kadang drama yang diadaptasi dari novel antara terlalu merubah banyak isi buku, atau terlalu memaksakan diri memasukkan semua isi buku sampai esensi ceritanya menghilang, atau merubah seperlunya dan menyertakan isi novel seperlunya. Yang terakhir jarang terjadi dan untungnya terjadi di adaptasi drama dari novel ini (loh kok malah mengulas dramanya).
Tentu setelah menonton dramanya, ketika membaca novel saya merasa lebih puas karena beberapa hal-hal yang tidak dimasukkan ternyata menjawab pertanyaan-pertanyaan saya tentang kisahnya. Nggak membosankan juga untungnya. Apalagi di bagian kuliah yang banyak diubah di drama. Konflik dan penyelesaian masalah di dalam novel terbaca lebih realistis, berat dan menyedihkan. Ini yang saya suka. Sementara di drama terkesan lebih ringan dan singkat. Lebih fokus kepada masa-masa SMA. Di novel hampir imbang antara kedua masa tersebut. Akhir kisahnya keduanya sepadan sih. Tapi di novel lebih detail saja penjelasannya. Kalau disuruh menyarankan, saya akan menyarankan untuk menonton dramanya, lalu kalau susah move on, baca bukunya hahaha.