"Kunang-kunang, makhluk kecil yang indah yang masa hidupnya hanya sebentar."
Sebuah kekaisaran yang perkasa pun akhirnya runtuh. Jepang dihujani bom oleh pasukan udara Amerika. Pawai kematian terakhir dari suatu bangsa digaungkan oleh jutaan tragedi yang lebih kecil. Ini adalah kisah Seita dan adik perempuannya, Setsuko. Dua anak yang lahir di waktu dan tempat yang salah. Dua orang anak yang terombang-ambing di dunia yang tidak peduli akan nasib mereka. Memaksa mereka berjuang seorang diri di tengah kota yang habis terbakar—tanpa kerabat yang membantu, dan makanan yang begitu langka.
“Grave of the Fireflies” adalah kisah mengharukan yang telah diadaptasi ke dalam beberapa media lain, di antaranya yang paling terkenal adalah adapatasi anime oleh Studio Ghibli dengan judul yang sama. Melalui anime inilah kisah Seita dan Setsuko ini menjadi dikenal secara luas di seluruh dunia. Selain “Grave of the Fireflies”, di dalam buku ini juga disertakan cerita-cerita lain yang tak kalah menarik.
Akiyuki Nosaka (野坂 昭如 Nosaka Akiyuki) is a Japanese novelist, singer, lyricist, and former member of the House of Councillors. As a broadcasting writer he uses the name Yukio Aki (阿木 由紀夫 Aki Yukio) and his alias as a chanson singer is Claude Nosaka (クロード 野坂 Kurōdo Nosaka).
Nosaka was born in Kamakura, Kanagawa, the son of Sukeyuki Nosaka, who was a sub-governor of Niigata. Together with his sisters he grew up as an adopted child of Harimaya in Nada, Kobe, Hyōgo. One of his sisters died as the result of sickness, and his adoptive father died during the 1945 bombing of Kobe in World War II. Another sister died of malnutrition in Fukui. Nosaka would later base his short story Grave of the Fireflies on these experiences. He is well known for children's stories about war. His Grave of the Fireflies and American Hijiki won the Naoki Prize in 1967.
His novel, The Pornographers, was translated into English by Michael Gallagher and published in 1968. It was also filmed as The Pornographers by Shohei Imamura. In December 1978, he was credited for giving former rugby player-turned pro wrestler Susumu Hara his ring name, Ashura Hara.
He was elected to the Japanese Diet in 1983. Nosaka suffered a stroke in 2003 and although still affected by it, he keeps writing a column for the daily Mainichi Shimbun.
Efek kelar baca cerita-cerita di sini tuh dada yang sesak. Aku kira cuma Grave of the Fireflies doang. Ternyata nyaris semuanya!
Dan dari empat cerita yang ada, favoritku sih tetap cerita itu karena yang paling gamblang dalam deskripsi (bukan karena anime besutan Studio Ghibli, ya!). Tapi yang paling kentara dari cerpen Akiyuki Nosaka ini adalah latar perang. Plus, pembuatan narasi yang berlarut-larut (in a good way) dengan deskripsi yang nyalang. Aku suka! Tapi setelah hanyut sama perasaan dan connected dengan tokoh, BLAM... selamat teriris-iris dengan ceritanya. Empat cerita di buku ini seolah memvisualisasikan Jepang ketika masa perang.
1. Kuburan Kunang-Kunang (4/5) 2. Seriga Tua dan Gadis Kecil (4/5) 3. Tahanan Perang dan Gadis Kecil (3,5/5) 4. Keluarga Sang Prajurit (3,5)
Untuk cerita pertama, penuturannya memang agak mengawang-ngawang, tapi itu karena penerjemah kepingin pembaca punya pengalaman membaca kayak naskah aslinya (meski penerjemah bilang terjemahannya sudah dipenggal dan dibikin lebih nyaman).
Walaupun novelnya cukup tipis tapi efek yang diberikan sangatlah luar biasa.
Novel ini menceritakan kisah hidup Seita dan adiknya, Setsuko yang harus bertahan hidup di masa peperangan.
Mereka berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya untuk menyelamatkan diri, menghadapi kematian kedua orangtuanya, yang bahkan tidak sempat mereka tangisi.
Yang tidak terelakkan mereka juga harus menghadapi kelaparan. Dan inilah yang menjadi penyebab akhir hidup keduanya.
Sungguh sangat menyayat hati.
Menurutku, novel ini mengajarkan banyak hal, seperti melindungi, menyayangi, dan berjuang terus untuk bertahan hidup.
Juga, menggambarkan kekejaman perang yang pada akhirnya menimbulkan banyak kerugian dan meninggalkan duka yang mendalam.
Novel dan adaptasi filmnya sama-sama bagus. Akan tetapi, versi novel memiliki beberapa point yang lebih mendalam, yang tidak disajikan pada filmnya. Point yang jauh lebih menyakitkan.
Miris sekali dengan berbagai celotehan setsuko dan seita yang polos tentang dunia kejam yang mereka tinggali.
Setelah membaca dan menonton filmnya, akhirnya aku paham kenapa judulnya adalah kuburan kunang-kunang.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Ironi dan Korban Perang. Kurasa itulah 2 hal yang jadi tema utama kumcer ini. Ada empat cerpen, dan semuanya berakhir dengan amat sangat menyakitkan hati. Perang memang cuma menyisakan pahit buat para korbannya.
Kuburan Kunang-Kunang Cerpen ini mungkin yang paling dikenal dari karya-karya Nosaka sensei, karena telah diangkat jadi anime oleh studio ghibli. Sudah tahu ceritanya bakal begitu, kok ya mau-maunya dibaca...
Serigala Tua dan Gadis Kecil Cerita salah sangka terhadap seekor monster tua, dengan setting pengungsian korban perang. Kalimat akhir cerpen ini bikin pengin nangis.
Tahanan Perang dan Gadis Kecil Yang ini sebaliknya, si "monster" lah yang salah sangka kalau dia diburu, tapi akhirnya sama aja. Ironis. Menyedihkan.
Keluarga Sang Prajurit Kalau semua sudah direnggut dari seseorang, satu-satunya yang tersisa darinya adalah mimpi dan harapan.
Harap siapkan tissue yang banyak ketika membaca buku ini karena kisah-kisah di dalamnya mengandung bawang segala rupa dan berlapis-lapis... Nyesek dada ini after reading feels nya😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Buku ini untuk menyelesaikan Tsundoku Books Challenge 2021
3,6 dari 5 bintang!
Ketika aku mengetahui bahwa Grave of the fireflies dari Studio Ghibli akan diterjemahkan kedalam bahasa indonesia aku jujur ga sabar menantikannya karena astaga film animasinya adalah satu salah yang super heavy angst dan menyayat hatiku dengan kisah endingnya.
Rata-rata setting buku ini mengambil tema perang dan hidup dalam survival mode on. Dari beberapa cerita kayaknya hampir gak ada yang berakhir bahagia. Kalau kalian lagi membutuhkan kumpulan cerita yang menyayat hati dan lagi ingin menangis kayaknya buku ini cocok deh buat dibaca :')
Sebagai penikmat film Jepang, kurasa teman-teman sudah tidak asing dengan judul film “Grave of the Fireflies”. Film keluaran Studio Ghibli tahun 1988 ini merupakan film paling sedih sepanjang masa bercerita tentang kisah Seita dan Setsuko yang mempertahankan diri mereka di tengah-tengah perang perang Jepang tahun 1945.
Seperti pada judulnya, novel ini tidak hanya mengisahkan cerita Seita dan Setsuko saja, melainkan ada beberapa cerita lainnya yang bertema peperangan. Adapun ketiga cerita lainnya berjudul “Serigala Tua dan Gadis Kecil”, “Tahanan Perang dan Gadis Kecil”, dan “Keluarga Sang Prajurit”.
Membaca novel ini membuat diriku merasakan kengerian pada masa-masa perang saat itu. Tokoh Seita dan Setsuko adalah gambaran anak-anak yang sudah hidup “susah” dalam artian merasakan perang yang begitu dahsyatnya. Mau tidak mau mereka harus melewati masa itu dan berusaha menyelamatkan diri. Benar-benar membuat hati ini teriris ketika membacanya. Tak ada hal yang indah di saat perang. Sedih, sedih, dan sedih.
i finished this like an hour ago or so,but finished the grave of the fireflies itself yesterday. it was sooo sad,it was literally make me cry a lot,i'm being honest yall.like oh Setsuko and Seita...poor babies they been through a lot. for the other stories,they are so gewddd,and it was relevan to the real life(hope u get what i mean),from the other stories,my fav one is Serigala Tua dan Gadis Kecil,u guys should read this one,cause its so gewd trust me.
Aku coba baca novelnya karena nggak sanggup nonton animenya. Agak menyesal tapi akhirnya rasa penasaranku terpenuhi. Ternyata nggak cuma Grave of Fireflies aja yg heartwrenching. Kisah serigala sama gadis kecil itu juga terngiang-ngiang terus di kepala😭
heartbreaking, there’s this sick feeling brewing up in your guts when you’re reading this. i watched the anime first then read the book so i could imagine Seita and Setsuko. as for the other story, other Ghibli characters just pop up in my mind. i think this book touches WW II in Japan really well.