Jump to ratings and reviews
Rate this book

Musim Kupu-Kupu Kuning

Rate this book
Pada musim kupu-kupu kuning tahun itu, armada pemerintah kolonial Belanda tiba di Teluk Lagundri. Kembalinya pasukan kulit putih itu terasa mencurigakan hingga desa-desa Nias Selatan yang biasanya berseteru memutuskan untuk menggabungkan kekuatan. Sayangnya, mereka gagal mencegah Belanda mendirikan benteng. Kehadiran pasukan Belanda menggoyahkan tatanan hidup Nias Selatan dan mendorong persekongkolan antara Galifa, syaman muda yang haus kekuasaan, dengan pihak musuh. Namun selain pengkhianatan, lahir pula persahabatan tak terduga antara Tuha sang syaman agung Bawomataluo dengan Klint, misionaris pemberontak yang dihantui rasa bersalah. Ini adalah kisah bertemunya dua dunia yang bertolak belakang, tentang tumbuhnya persahabatan yang begitu menyentuh hingga mampu membangkitkan sang roh agung...

384 pages, Paperback

Published January 1, 2021

11 people are currently reading
107 people want to read

About the author

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
10 (18%)
4 stars
30 (56%)
3 stars
11 (20%)
2 stars
2 (3%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 16 of 16 reviews
Profile Image for Kezia Nadira.
60 reviews6 followers
May 17, 2022
Buku ini seperti bawang merah. Kita harus mengupasnya perlahan penuh dengan kesabaran, sampai menemukan esensinya yang berharga. Ya, seperti itulah gambaran saya saat membaca dan menyelesaikan buku ini.

Di bagian awal, saya dipenuhi dengan perkenalan adat desa-desa di Nias Selatan. Saya bingung ke arah mana saya akan dibawa, kemana pertikaian dan pengkhianatan yang disebut-sebut di blurb? Jujur, reading slump saya sempat kambuh karena saya merasa buku ini kurang menarik (di awal-awal). Hingga saya sampai di bab "Demam Air".

Saya jadi berpikir, walau agak ekstrem, sebenarnya ironis sekali betapa banyak karakter penting di sini harus hilang nyawa akibat tergigitnya anjing Siwa oleh monyet, yang menyebabkannya menderita rabies.

Saya menyelesaikan buku ini begitu lambat di awal dan begitu cepat saat memasuki bab "Demam Air". Tiba-tiba buku ini menjadi semenarik itu. Lewat buku ini, saya belajar banyak sekali hal: adat dan kebiasaan desa-desa di Nias Selatan, kepercayaan dan keyakinan suku Nias di tahun 1800an yang penuh dengan ritus, taktik dan strategi prajurit Nias dalam berburu dan bertahan di hutan, serta sedikit tentang sejarah Eropa seperti "liberte, egalite, fraternite" oleh revolusi Perancis dan ancien regime...dan lebih sedikit tentang kehidupan bangsa Boer di Zanzibar dan Mozambik.

Buku ini penuh dengan karakter yang membuat saya merinding hanya dengan mengenalnya lewat tulisan. Saya bisa begitu mengagumi Tuha yang bijaksana, Dafao si pemberani, Mohua si jelita yang cerdas dan penuh prinsip. Saya juga bisa begitu membenci Van Ops, Ta'Osisi, dan apalagi...Galifa!

Melalui buku ini, kita dikenalkan dengan bangsa kita yang dipecah-pecah oleh Belanda dengan iming-iming ketuhanan dan keberadaban. Agar mereka bisa melancarkan ekspedisinya, mereka menjual iming-iming "perdamaian" kepada desa-desa Nias Selatan tapi tidak benar-benar menginginkan perdamaian antar desa-desa yang sudah bertikai sejak dulu itu. Karena jika kita bersatu, kita akan lebih kuat menyerang mereka.

Kelicikan dan kebusukan Van Ops benar-benar membuat saya mual. Menjual Tuhan untuk birahi dan nafsunya, menghardik suku Nias akan ketidak-biadabannya dan memaksakan suku Nias untuk menerima "keberadaban" Belanda yang diagung-agungkannya. Padahal, keberadaban yang dimiliki Belanda saat itu hanyalah ketidak-beradaban dalam bentuk berbeda. Tetap ada perbudakan, tetap ada kelas-kelas sosial, tetap ada penjajahan. Apa yang mereka anggap beradab tidak lebih baik dibandingkan suku Nias yang mereka anggap tidak beradab.

Saya belajar banyak dari buku ini. Tentang spiritualitas, bahwa Tuhan kita sama hanya dalam nama yang berbeda. Tentang perbudakan, baik sementara maupun selamanya tidak ada yang berhak direnggut kebebasannya. Tentang konflik memperdebatkan peradaban milik siapa yang lebih baik. Tentang adat istiadat yang begitu mendarah-daging hingga merenggut begitu banyak nyawa hanya untuk mengagungkannya.

Diangkat dari kejadian sejarah yang nyata, dengan penggambaran yang fiksional. Layak dibaca untuk menambah ilmu dan membuka pikiran tentang berbagai hal, buku ini benar-benar kaya.
Profile Image for Rei.
366 reviews41 followers
October 17, 2021
Buku ini berkisah tentang perjuangan penduduk Nias Selatan melawan usaha Belanda untuk menguasai wilayah mereka. Tuha, sang Syaman Agung dari Desa Bawomataluo, desa yang paling perkasa di Nias Selatan, mengusulkan agar desa-desa mereka, yang kerap kali berperang, untuk melakukan gencatan senjata demi menyatukan kekuatan. Di sisi Belanda, seorang misionaris bernama Klint, memutuskan untuk tinggal di Desa Bawomataluo agar ia lebih mengenal penduduk desa tersebut sebelum ia berupaya untuk menyebarkan agamanya. Tak diduga, Klint dan Tuha bisa bersahabat, bahkan saling berbagi ilmu pengobatan. Sayangnya, rencana Tuha untuk menyatukan desa-desa berbuah pengkhianatan, yang selain menguntungkan pihak Belanda, juga mengguncangkan kehidupan keluarga Tuha sendiri.

Tak diragukan lagi, daya tarik utama buku ini adalah gambaran kehidupan masyarakat Nias di tahun 1800an. Mereka memiliki budaya yang kaya; rumah-rumah dengan pondasi kokoh untuk menghadapi gempa bumi, tradisi lompat batu untuk ‘melantik’ seorang pemuda menjadi ksatria, dan terutama tradisi berburu dan mengoleksi kepala manusia yang dimulai di musim kupu-kupu kuning. Karakter-karakternya memiliki keunikan tersendiri, dengan latar belakang yang memancing rasa penasaran. Gambaran tentang bentang alam Nias juga cukup mendetil. Menariknya lagi, buku ini justru ditulis oleh seorang Italia saat ia menjadi sukarelawan Tsunami Aceh 2004.
Profile Image for Suciwani Nan Sedayu .
7 reviews
April 28, 2023
Seperti yang kita ketahui dan pelajari disekolah suku Nias terkenal dengan tradisi lompat batu oleh pemuda Nias untuk membuktikan kedewasaanya. Namun ternyata ada tradisi yang jarang orang ketahui tentang suku Nias yaitu tradisi berburu kepala manusia untuk membuktikan seberapa kuat seorang pemburu pada masa itu.

Karena tradisi ini, suku Nias dikenal sebagai suku yang sangat menakutkan dan berbahaya oleh bangsa Belanda, namun Belanda tetap ingin mendudukkan diri di Nias dengan membentuk benteng. Pembangunan benteng sempat hampir digagalkan oleh desa-desa Nias yang berkerja sama untuk menggagalkan pembangunan benteng, dengan mengirimkan seribu pasukan Nias. Namun usaha itu gagal karena penghianatan oleh salah satu ketua desa di Nias Selatan yang berkerjasama dengan belanda. Karena gagalnya penyerangan benteng Belanda berhasil didirikan. Tujuan awal dibentuknya benteng ini adalah mengakhiri perselisihan antar desa, menghentikan perbudakan (walau mereka juga melakukan hal yang sama), dan menghapus tradisi berburu kepala manusia. Namun tujuan ini tergeser sejak datangnya "pengamat" belanda yang mulai melakukan politik devide et impera.

Di bab-bab awal saya seakan dibawa ikut merasakan bagaimana suasana suku Nias pada abad ke-19. Saya sempat berhenti dan agak malas membaca buku ini karena menurut saya bab-bab awal terlalu "datar" jalan ceritanya dengan konflik yang tidak terlalu besar. Namun rasa malas saya hilang setelah masuk di bab "Demam Air" sangat mengejutkan karena cucu bungsu, anak, dan menantunya meninggal karena rabies yang disebabkan oleh anjing peliharaan cucunya yang digigit oleh monyet liar.

Konflik selanjutnya lebih besar karena Tuha harus membayar hutang anaknya sebesar 4 kepala, ia berburu di hutan bersama cucunya. Namun ia berjanji kepada kekasihnya, ia hanya akan membunuh orang yang berdosa seperti penburu kepala. Mereka mengandalkan Indra pendengaran, penciuman, serta pengelihatan. Mereka dapat mengetahui ciri-ciri mangsanya hanya dengan melihat telapak kakinya, mereka dapat mencium aroma tubuh mangsanya dari bermeter-meter jauhnya. Mereka dapat mengetahui jejak mangsanya walau sudah di tutupi. Mengetahui mangsanya dari insting hewan seperti burung yang berterbangan dan monyet yang pergi dari atas pohon saat makan buah-buahan. Menurut saya ini hal yang sangat luar biasa.

Walau buku ini ditulis oleh orang Italia, namun sangat terasa buku ini ditulis dengan kajian yang mendalam walaupun dalam bentuk novel, karya fiksi. Buku ini menambah pemahaman saya dari banyaknya dampak negatif masuknya Belanda ke Nusantara, terdapat dampak positif yaitu berperan sebagai pertumbuhan kepercayaan dan pengobatan di Indonesia.

Menurut saya buku ini akan sangat cocok jika kalian tertarik dengan genre fiksi sejarah dan antarpologi.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for One Anjana.
306 reviews18 followers
April 15, 2025
Butuh waktu cukup lama untuk akhirnya terbiasa dengan gaya penulisan dan mengenal para karakter dalam buku ini. Dengan narasi yang diceritakan dari sudut pandang pihak ketiga, banyaknya karakter sekaligus pengenalan akan Nias, khususnya Bawomataluo, cukup membuatku bingung dan bertanya-tanya kemana arah cerita ini akan dibawa. Mungkin setelah hampir setengah buku, ceritanya mulai menarik, konfliknya begitu terasa, dan bahkan membuatku emosional.

Musim kupu-kupu kuning merupakan musim berburu bagi masyarakat Nias Selatan. Daerah itu terkenal paling barbar, karena yang mereka buru adalah kepala manusia. Kepala itu kemudian dipajang dan menjadi trofi untuk mereka. Namun, tatanan hidup mereka mulai berubah saat pasukan Belanda tiba dan membangun benteng di sana. Hal itu kemudian juga memicu timbulnya pengkhianatan, namun juga persahabatan dengan orang yang tidak terduga.

Menuju akhir cerita, sebenarnya aku merasa cukup puas dengan kisah penyelamatan Mohua dari perbudakan. Namun, kemudian cerita masih berlanjut, dan menurutku hal itu justru membuat perasaanku kalut. Meskipun pada akhirnya lanjutan itu juga sangat penting bagi banyak aspek dalam plot, namun tidak dipungkiri aku sempat merasa terganggu dengan hal itu. Rasanya seperti ada cerita lain yang dipaksa dimasukkan dengan terburu-buru.

Secara pribadi, aku kurang suka dengan gaya penulisannya (atau mungkin lebih ke gaya translasinya). Namun, secara keseluruhan, buku ini punya cerita bagus yang berlatar belakang Nias Selatan dalam zaman penjajahan Belanda. Pertemanan karib dari pihak-pihak yang tidak terduga yang terjadi dalam buku ini, serta pertumbuhan karakter yang kuat merupakan aspek yang kuat dan paling berkesan setelah membaca buku ini.
Profile Image for Satvika.
582 reviews43 followers
April 10, 2023
3,5 stars

Plot-nya seru banget..membayar lunas gaya penceritaan penulis yang sangat datar dan nyaris membosankan..insight tentang Pulau dan Penduduk Nias-nya sangat sangat menarik..terkadang saya merasa sangat malu, butuh waktu yang lama untuk lebih mengenal seluk beluk tentang negara sendiri itupun lewat mata orang asing (penulisnya orang Italia btw)

Membaca buku ini membuat saya ingin tahu lebih dalam tentang Pulau Nias, dan ternyata Vanni Puccioni juga menulis buku non fiksi tentang Pulau Nias, judulnya adalah "Tanah Para Pendekar" , saya sudah membaca beberapa bab dan sangat menikmati tulisan beliau disana..sepertinya Vanni Puccioni memang lebih cocok menulis buku non fiksi hehehe..

Tokoh favorit saya disini adalah Sersan Belanda bernama Buyckx (entah bagaimana cara mengucapkan namanya hahaha..) , dia sepertinya mewakili para pembaca yang merasa betapa munafiknya Belanda, mengecap Penduduk Nias adalah orang liar yang tidak beradab karena memiliki keyakinan animisme dan melakukan perburuan manusia dan merasa bahwa Belanda adalah bangsa yang lebih baik dan beradab karena mengenal Tuhan sedangkan yang dilakukan Belanda juga tidak jauh berbeda, menjajah bangsa lain dan memperjualbelikan budak a.k.a MUNAFIK ABIS!

Overall buku ini bagus, menambah insight tentang saudara kita di Pulau Nias, tapi harus bersabar membacanya karena gaya penceritaan yang sangat datar dan cenderung membosankan.
Profile Image for mia.
56 reviews14 followers
June 3, 2023
Aku biasanya bukan pembaca historical fiction, nggak pernah cukup tertarik untuk baca sampai akhir (aku bukan penggemar sejarah dan kisah-kisah tragis). But 'Musim Kupu-Kupu Kuning' has its own charm that made me read it until the very last page. Mungkin sebagian besar adalah faktor kebudayaan dan kepercayaan masyarakat Nias yang dibahas. Aku jadi banyak belajar. Seru banget!!

Seperti hisfic pada umumnya—yang biasanya juga menjadi alasan aku nggak menyukai genre itu—buku ini punya adegan-adegan yang cukup tragis, ngilu, dan frankly very sad. Tapi, bukunya juga dihias dengan adegan-adegan kekeluargaan dan persahabatan yang hangat, sekaligus petualangan yang seru.

Bagian yang paling aku suka dari buku ini, yang nggak aku sangka, adalah pembicaraan soal ketuhanan. Bagaimana cerita membahas Tuhan yang kita kenal di agama-agama besar dan tuhan yang dipercayai sebuah adat atau budaya. This part of the book was very beautiful, touching, and eyes-opening.

Pembukanya (I think it was the prolog?) yang membicarakan soal laut itu indah dan puitis, bikin adem pas baca.
Walaupun di bagian pertengahan ada hal-hal yang menurutku bosenin dan bertele-tele, pada akhirnya selalu ada adegan menarik yang bikin aku terus baca sampai akhir.
Endingnya memuaskan. Justice—truly the most satisfying of things.

overall rating:
★ 4 out of 5
Profile Image for ersa n..
32 reviews
November 30, 2024
Belum pernah baca buku yang bawa sejarah Nias sebelumnya and always exciting to learn and know a new history especially about Indonesia.

Baca buku ini benar-benar jadi bikin aku berpikir gimana jadinya kalau misalkan Nusantara tidak dijajah. Apakah kita sampai saat ini masih akan hidup meramu? Dan mungkin kita tidak akan menjadi diri kita yang sekarang.

Banyak moral juga yang bisa dipetik dari kehidupan-kehidupan para tokoh. Mohua and Dafao tell us that if we meant to each other, we will find our way. Pendeta Klint, give my high respect for him, meskipun di akhir imannya goyah, tapi dia berhasil menyebarkan kebaikan bagi penduduk Bawomataluo meskipun berkali-kali 'dikhianati' Tuhannya. Sersan Buyckx (until I write this, I still don't know how to say his name), yang menunjukkan bahwa orang-orang yang haus kuasa dan harta itu tidak hanya menghancurkan hidup yang dijajah tapi juga sebagian penjajah yang terpaksa masuk ke dalam jurang tidak beradab itu, mau dengan alasan semulia apa pun penjajahan tetap tidak bisa dibenarkan.

We ofc will not forget about Tuha, masih tidak bisa menalar how he communicate with roh-roh desa. But, he is the man. THE MAN.

Really satisfied with the ending. Hope the fake Uskup Agung rott in hell <3
Profile Image for lala.
78 reviews32 followers
November 1, 2021
A rich and captivating book to read until the end. I love many things about this book, the story, the cover and the things I could learn from many perspective shown in one book. It has successfully shown many valuable lessons such as paradox inside oneself, the need to change the so long rooted culture but at the same time feeling reluctant to do so, ambition, keeping pride and status, deception, lies, self-reflection, love, vengeance, greed, wisdom, pain caused by society standard, women-knowledge-and-witches, ancient knowledge about war and tactics, the impact of a decision to all the generation, sacrifice, wickedness, violence and extreme things in the name of God, distrust, and rich culture and belief system. I love how the difficult and harsh nature forced humans to survive in the most extreme way and makes them a powerful tribe. The skills they had here especially when it comes to hunting and surviving in a forest are super cool, it feels like watching an assassin themed movie.
Profile Image for R_ajab.
87 reviews2 followers
August 31, 2023
Novel dengan ide cerita yang menarik namun dengan eksekusi yang tidak memadai. Banyak dialog hambar, plot yang untuk ukuran novel dewasa terlalu mudah ditebak, perpindahan adegan yang kurang membekas dan banyak dari adegannya dibuat terlalu mudah untuk mencapai keinginan penulis.
Intinya untuk ukuran karya sastra ini lebih mirip buku sejarah yang kaku ketimbang novel yang aksaranya menyimpan kedalam rasa dan keluwesan bahasa
Profile Image for Sira.
27 reviews1 follower
March 9, 2025
Yang selalu saya kagumi dalam novel fiksi sejarah adalah bagaimana penulis mendeskripsikan sesuatu di masa lalu, yang mana pasti butuh upaya yang luar biasa untuk mencari tahu hal tersebut. Novel ini mendeskripsikan suku Nias dengan begitu teliti. Walaupun awal cerita agak membosankan dan terkadang ada adegan yang menurut saya terlalu "cepat", buku ini layak diapresiasi dengan berbagai adrenalin dan penambahan wawasannya.
Profile Image for Ayu.
343 reviews22 followers
April 6, 2024
Suka dengan kisah sejarah dan kebudayaan pulau Nias
Profile Image for Mayoonaisu.
1 review
November 11, 2024
Sumpah ini buku bagus banget 🥹
Dari buku ini aku banyak mengenal budaya Suku Nias.
Pokoknya ini rekomended banget menurutku.
Profile Image for Fifi Alfiah.
20 reviews
June 6, 2022
3.3/5

Membaca novel etnografis adalah kegemaran saya setelah hiatus beberapa tahun dari membaca banyak.

Novel ini unik. Umumnya saya akan merasakan cita rasa lokal saat membaca kultur masyarakat Nias pada masa itu, tapi ternyata faktor buku ini adalah buku terjemahan plus buku ini juga ditulis oleh orang barat, jadi, tentu kesannya akan berbeda dari novel entnografis domestik yang bahasanya sederhana dan dipenuhi diksi serapan lokal.

Judulnya menarik dan sesuai dengan isinya. Buku yang judulnya merepresentasikan isinya adalah buku yang selalu punya tempat di hati saya. Sebaliknya, judul yang tidak seberapa relevan membuat saya merasa dicurangi.

Dan detail-detail seperti bagaimana strategi berburu, menyesuaikan arah angin, mencium bau manusia, membaca jejak, dan sebagainya cukup mengagumkan, yang kemudian juga dijelaskan sumber risetnya oleh penulisnya sendiri di Ucapan Terima Kasih.

Beberapa kutipan kesukaan saya adalah:

"Jatuh ke dalam penderitaan juga merupakan kemewahan."
—Klint, hlm. 179

"Manusia bisa melupakan kebaikan dan keadilan, tetapi tidak rasa takut."
—Tuha, hlm. 65

Awalnya saya sudah khawatir saat menemukan bagian awal buku ini menulis nama tokoh-tokohnya menjadi daftar sesuai dengan kalangan dan kubunya. Waduh, ini harus saya hapalkan? pikir saya. Pada fase awal membaca, hal tersebut sesuai prakiraan. Saya bolak-balik melihat daftar nama sambil mengangguk, oh yang itu. Sebelum akhirnya saya hapal nama-nama penduduk Nias.

Sayangnya, begitu Vlanda masuk ke cerita, mereka seperti ditelantarkan begitu saja. Pembawaannya tidak imbang. Saya tidak menghitung berapa halaman tepatnya 'warlok' (selain tokoh masyarakat) di novel ini tidak disebut. Sepertinya kurang kebih seratus halaman.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for if.
64 reviews
December 23, 2021
nggak ragu-ragu kasih novel ini rating 5 karena belum pernah merasa SEPUAS ini sama ending suatu novel!
Displaying 1 - 16 of 16 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.