Suatu perjalanan yang panjang tentang gerakan kiri di Asia Tenggara. Membaca buku ini seperti diajak mbedah karya dan tokoh di lima negara jiran sekaligus. Di Filipina ada penulis bernama Jose Maria Sison dengan karyanya yang dituduh jiplak DN Aidit, tapi tuduhan itu tak berdasar. Ramon Guillarmo mampu menjlentrehkan bukti secara detail dan apik. Ternyata tuduhan itu untuk mengikis substansi radikal yang dibawa Sison. Saya sangat salut bagaimana penulis dengan tekun membandingkan, mewawancari tokoh kunci, dan menghadirkannya dengan rapi.
Perjalanan kedua ke Singapura yang mengingatkan saya saat jadi mahasiswa sains, ikut kelompok gerakan, dan belajar teori-teori Marxis. Di tulisan ini, Lah Kah Seng menjelaskan panjang lebar bagaimana para mahasiswa teknik yang dianggap sekunder dalam wacana kritis justru jadi pelopor di Singapur. Ia mengungkap aktivisme politeknisi dan gerakan perubahan era 70an. Selain itu, ruang-ruang dan peristiwa-peristiwa internasional menjadi satu bagian penting dari pengalaman para aktivis mahasiswa di Politeknisi. Mengingatkan saya juga,
Perjalan ketiga ke Malaysia, pembaca dikenalkan seorang penulis kiri bernama Ahmad Boestamam dengan karya2 sastranya. Yang paling berkesan berjudul "Rumah Kacha Digegar Gempa" (1969), sekilas ceritanya roman cinta segita. Tak dinyana roman itu mampu menggambarkan perselingkuhan koalisi di tingkat partai pemerintahan. Novel-novel Ahmad menangkap gamblang, sebagaimana kata Teo Lee Ken, lanskap politik dan pertarungan ide di Malaysia. Serta kritik betapa kentalnya kultur kolonial pada kelas terdidik.
Perjalanan keempat, yang paling dekat dan menjadi darah daging adalah perjalanan ke negeri sendiri Indonesia. Tulisan Yerry Wirawan mengulas terkait karya-karya Siti Rukiah dengan visi seriusnya terkait cita-cita perempuan merdeka. Yerry mendedah buku "Tandus" & "Kejatuhan dan Hati" yang berisi cerita-cerita biasa masyarakat tapi dengan muatan ideologis masa itu yang mendobrak dan dukungan Rukiah pada ide-ide kiri.
Perjalanan kelima, menuju Thailand dengan tokoh Che lokal bernama Jit Phumisak. Dia adalah seorang penentang tradisi yang dengan gagasan revolusionernya mengkritik rezim dan Buddha yang mapan. Jit tak segan-segan mengungkap kritik pedasnya. Meski sayang, sosoknya dideradikalisasi dan didepolitisasi menjadi sebatas pahlawan heroik di negaranya, tapi gagasan-gagasan radikalnya justru hanyut/luput. Cukup terhenyak dengan ungkapan: CPT lebih berikhtiar menciptakan seorang pahlawan ketimbang menyebarkan ideologi Marxis di kalangan pemuda.
Sebagai penutup saya sepakat dengan apa yang dikatan Jan Myrdal, "Marxisme didekati bukan sebagai ideologi yang 'dipotong sesuai ukuran,' melainkan secara historis, yang dibentuk oleh perspektif-perspektif dan konteks-konteks mutakhir dan yang maknanya bervariasi dan tak mengenal tamat."
Juga pendapat, "Alienasi dalam masyarakat kita yang mewujud dalam minimnya kontak akar rumput antara para pemimpin dengan yang dipimpin."