Buku ini hakikatnya adalah tonggak-tonggak perjalanan, rangkaian pelajaran, juga tumpukan kenangan. Buku ini adalah hasil pertemuan antara pengalaman nyata, ungkapan rasa, dan pergumulan pikiran. Di dalamnya bertaburan banyak puisi (atau mirip puisi) dan juga tulisan-tulisan pendek yang dirangkai dengan beragam tujuan, sesuai situasi saat ia dilahirkan; dengan harapan semoga isinya tidak hanya ditelan, namun juga dicerna direnungkan, demi memerah kemanfaatan.
Fahruddin Faiz adalah doktor ilmu filsafat di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Ia kini selain sebagai dosen Prodi Aqidah dan Filsafat Islam (AFI), juga menjabat sebagai Wakil Dekan I di Fakultas Ushuluddin (teologi Islam).
Sudah sejak 2013, tiap malam Rabu di setiap pekannya, Pak Faiz, panggilan akrabnya, menjadi pengisi materi dan pemantik diskusi kajian filsafat di Masjid Jendral Sudirman.
Fahruddin Faiz lahir di Mojokerto pada 16 Agustus 1975. Dia meraih S-1 dari Jurusan Aqidah dan Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (1998), S-2 dari Jurusan Agama dan Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (2001), dan S-3 dari Jurusan Studi Islam UIN Sunan Kalijaga (2014).
Selain menjadi dosen dan wakil dekan di Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, penerima Short-Course on Research-Management, NTU Singapura (2006) dan Short-Course on Islamic-Philosophy, ICIS (International center for Islamic Studies), Qom, Iran (2007) ini juga merupakan seorang penulis yang cukup aktif.
Beberapa karyanya antara lain: Menjadi Manusia, Menjadi Hamba; Menghilang, Menemukan Diri Sejati; Hermeneutika Qur’ani: Antara Teks-Konteks dan Kontekstualisasi; Tafsir Baru Studi Islam dalam Era Multikultural; Transfigurasi Manusia (Terjemahan); Perempuan dalam Agama-Agama Dunia (Terjemahan); Filosofi Cinta Kahlil Gibran; Bertuhan Ala Filosof (Terjemahan); Aku Bertanya Maka Aku Ada; Handbook of Broken Heart; Risalah Patah Hati; Filosof Juga Manusia; Sebelum Filsafat; Memaknai Kembali Sunan Kalijaga; Dunia Cinta Filosofis Kahlil Gibran; dan beberapa judul buku lain. Dia juga masih aktif memberikan ceramah keagamaan, khususnya bertema filsafat ke sepenjuru Nusantara.
Seperti yang di jelaskan oleh Pak Faiz di awal sebagai pengantar pada buku ini, bahwa buku ini adalah hasil pertemuan antara pengalaman nyata, ungkapan rasa dan pergumulan pikiran. Yang menurut saya, lebih mengajak pembacanya untuk lebih dalam mengarungi samudra kehidupan dengan segala macam level kebijaksanaan kontemplasinya 'tentang aku, hamba dan cinta' ketika berusaha meniti jalan cahaya-Nya. Buku ini ibarat dialog diri dengan semesta, segala anugerahNya dan Sang Maha Pemberi.
Pada akhirnya, semakin banyak deskripsi definisi rasa yang coba di tuangkangkan pada secuil perspektif disini akan semakin jauh mereduksi terjemah rasa itu sendiri. Semakin dalam rasa itu semakin sukar untuk diungkapkan ke permukaan, biarlah ia tetap dari dan bermuara bersama Sang Pemberi rasa sebagai setitik cahaya untuk kembali padaNya nanti hingga saatnya tiba.
Pada awalnya saya mengira buku ini adalah esai atau tulisan panjang Pak Fahruddin Faiz seputar tema-tema "rasa" dan seribu macam variannya. Namun ternyata buku ini adalah kumpulan puisi yang beliau tulis di sela-sela kesibukannya. Buku yang cukup memikat dan syarat dengan sentuhan nilai-nilai renungan, religi, dan filsafat. Meskipun tidak sesuai dengan ekspektasi saya pada awalnya, tetapi tetap berhasil memberikan pemahaman tersendiri bagi saya tentang bagaimana mengelola "rasa".
Buku Ust. Faiz yang berisi puisi-puisi dan keluh-kesah tentang kehidupan yang ada pada dunia ini.
Bukunya simple. Sekitar 160 halaman dan ga banyak tulisan seperti buku pada umumnya. Meskipun begitu, buku ini berisi begitu banyak pelajaran, makna, dan hikmah yang dapat diambil.