Dalam keluarga Jawa, orang tua adalah struktur objektif dominan sementara anak dianggap subjek belaka. Anak yang pada awalnya nir-nilai, kosong, kemudian diisi. Anak sama sekali belum memahami dunia, keluarga memahamkannya, jika bukan memaksanya untuk mengerti dunia dari sudut pandang tertentu. Praktik ini kemudian melahirkan “orang Jawa”, agar njawani, yang berarti berpikir dan bertindak secara Jawa.
Melalui anak, keluarga dapat mewariskan “kehidupan” dari generasi sebelumnya. Proses pewarisan tersebut berlangsung dalam jangka waktu yang lama—mulai dari subjek kosong hingga “benar-benar lepas” dari keluarganya. Di situ pula praktik kekuasaan keluarga berlangsung dan berulang, terus menerus mereproduksi subjek-subjek njawani. Sebuah kekuasaan yang memungkinkan orang tua untuk memaksakan kehendak serta membatasi kebebasan anak.
Suatu malam di Togamas Kotabaru Jogja, saya mendekati rak berlabel Sosial Politik. Saat itu, saya tiba-tiba ingin membaca buku kumpulan esai yang ditulis oleh penulis Indonesia. Spesifikasinya satu saja: tipis. Saya ingat Linda Christanty baru saja menerbitkan kumpulan esai baru, Jangan Percaya Surat Palsu judulnya. Sayangnya, saya tidak menemukan buku itu. Saya kemudian menemukan buku Eka Kurniawan berjudul Tragedimu Komediku. Tapi, ternyata cukup tebal. Sampailah saya menemukan buku yang baru saya selesaikan ini. Walaupun agak meleset dari intensi awal saya, topiknya menarik bagi saya yang seorang blasteran Jawa-Sunda.
Sebetulnya kata-kata blasteran hanya pencair suasana kala ditanya asal suku saya. Ayah dan ibu saya sebetulnya asal Cilacap. Ayah saya berasal dari kota Cilacap alias pesisir dekat pantai yang percakapan sehari-harinya menggunakan bahasa Ngapak. Sementara itu, ibu saya berasal dari Wanareja, sebuah kecamatan yang berjarak dua jam dari kota Cilacap. Mayoritas orang di Wanareja—yang hanya 20 menitan dari Kota Banjar, Jawa Barat—berkomunikasi menggunakan bahasa Sunda. Kata-kata blasteran Jawa-Sunda adalah justifikasi saya pribadi terhadap kebingungan saya terhadap asal-usul saya yang beragam tersebut.
Membawa pulang buku ini membuat saya merumuskan sebuah pertanyaan, “Apakah ada secuil kisi-kisi bahwa saya orang Jawa dari cara ayah dan ibu saya membesarkan saya?” Lebih-lebih, tinggal beberapa tahun di Yogyakarta dan merasakan interaksi orang-orangnya menjadi faktor tambahan ketertarikan saya atas buku ini. Lagi-lagi pertanyaannya: “Se-Jawa apakah saya?”
Setelah menyelesaikan karya yang embrionya sebuah skripsi ini, sulit untuk menemukan jawaban atas pertanyaan saya tersebut. Jika dibandingkan dengan konsep keluarga ayah-ibu-anak dengan keterhadiran satu sama lain yang menjadi fokus utama buku ini, saya merasa kurang relate karena kondisi keluarga saya tidak seperti yang digambarkan. Meski masih keluarga utuh, saya dan adik-adik saya serta ibu tidak setiap hari bertemu dengan ayah. Ayah saya bekerja dan tinggal di Jakarta. Beliau pulang setiap dua/tiga/empat minggu sekali untuk bertemu kami. Bisa dibilang, saya kurang mendapatkan figur ayah hingga beliau meninggal saat saya berusia 20 tahun. Oleh karenanya, saya tidak termasuk anggota keluarga ideal seperti objek utama pada buku ini.
Sebenarnya, itu bukan masalah. Saya masih bisa menikmati buku berlabel “Politik” ini. Saya jadi tersadar bahwa saya sebagai subjek ternyata sudah masuk ranah politis bahkan sejak masih bayi. Seperti kata penulis, “... Keluarga memiliki kuasa untuk mengondisikan kehidupan ini. Kuasa yang terkonsentrasi pada sosok orang tua selaku aktor dominan dalam keluarga, khususnya keluarga Jawa.”
Bahwa ada banyak sekali penanda post-it dalam buku ini adalah bentuk kekaguman saya terhadap wawasan seputar Jawa yang dibeberkan tumpah-ruah di dalamnya; dari orang Jawa, budaya Jawa, pandangan dunia Jawa, hingga definisi keluarga Jawa. Saya menilai bahwa orang Jawa adalah orang yang ‘njelimet’. Penilaian ini tentu subjektif, tapi berdasarkan tiga poin yang saya ambil secara acak dan mungkin tidak saling berhubungan dari buku ini.
Pertama, konsep ethok-ethok yang harus dimiliki oleh orang Jawa. Penulis mendefinisikannya sebagai “seni untuk berpura-pura”. Lebih lanjut, ini dijelaskan penulis pada halaman 60-61. Kedua, bahwa hubungan sosial di Jawa ialah hormat dan keakraban yang mana menurut penulis, “Dua unsur ini agaknya saling bertolak belakang”. Lebih lanjut, baca halaman 75-76. Ketiga, bahwa orang Jawa harus paham tiga unsur emosional yang berkaitan dengan laku hormat yaitu, wedi (takut), isin (malu), dan sungkan.
Tiga poin tersebut juga membuat saya berefleksi atas diri saya sendiri. Saya mungkin beberapa kali melakukan ethok-ethok saat bertemu dengan orang lain. Rasa sungkan juga kerap menghinggapi saya saat bertemu dengan orang baru. Apakah kemudian dua hal tersebut sudah menjadi tanda bahwa saya orang Jawa, saya tidak tahu. Yang pasti, bahasan nilai-nilai orang Jawa dalam buku ini begitu familier dengan ragam laku sehari-hari saya (terlepas dari apakah itu diajarkan oleh ayah dan ibu saya atau tidak).
Perlu diketahui, penulis sudah memberikan disclaimer di awal bahwa buku ini berfokus pada kecenderungan orang Jawa. Itu berarti, saya tafsirkan, sebagian orang Jawa mungkin membenarkan apa yang disampaikan pada buku ini tapi sebagian yang lain mungkin menyangkalnya.
Pada akhirnya, saya masih belum tahu apakah saya orang Jawa jika dilihat dari konsep keluarga Jawa yang dituturkan dalam buku ini. Namun yang pasti, beberapa nilai-nilai orang Jawa yang disebutkan pada buku ini bikin saya angguk-angguk sambil mengira-ngira sepertinta ayah dan ibu saya dulu melakukan/mengajarkan/menurunkannya kepada saya.
Suku Jawa merupakan suku terbesar di Indonesia (BPS, 2015). Keluarga Jawa tak hanya perkara unit sosial, melainkan alat politik. Ada kekuasaan dan struktur internal yang senantiasa berestrukturasi. Membicarakan keluarga Jawa tidak hanya tentang mitos, tapi geografisnya, kondisi pertanian, sampai struktur desanya. Suku Jawa berupaya menyeimbangkan hubungan di alam lahir dan gaib, makanya ada sesajen dan selametan.
Karena judulnya adalah Njawani: Bagaimana Keluarga Jawa Menciptakan Anak-Anak yang Patuh, rasanya aneh jika saya tidak membahas pola asuh keluarga Jawa.
Kerukunan dan rasa hormat masyarakat lebih diutamakan tanpa memperhatikan sikap batin. Keluarga Jawa cenderung mencegah konflik. Tak peduli berapa kerugian yang harus ditanggung, betapa kurang ajarnya si pelaku, semua dilakukan atas nama keseimbangan batin. Orang Jawa dididik menjadi sopan dan menghindari keterusterangan yang serampangan. Tentulah ketika membaca bagian ini, batin saya terkoyak-koyak karena tidak sepakat. Bisa jadi, saking Jawa-nya seseorang, ia menjadi tidak tahu kapan lawan bicaranya sedang bersungguh-sungguh atau berpura-pura.
Sepi ing pamrih, rame ing gawe, memayu hayuning buwana. Kami dididik untuk menyingkirkan kepentingan personal. Kami harus memenuhi kewajiban masyarakat yang telah ditentukan. Hubungan sosial di Jawa ialah rasa hormat dan keakraban. Itulah cara hidup paling rasional versi Jawa. Di jaman yang sudah modern seperti ini, nilai tersebut jelas tergeser karena ilmu pengetahuan mengedepankan obyektivitas.
Buku ini menarik karena membahas pergeseran tradisionalisme Jawa ke modernisme yang kekinian. Praktik kehidupan orang Jawa tidaklah stagnan. Saya sebagai orang Jawa mengakui budaya kami mengalami korosi akibat tuntutan modernitas. Orientasi keselarasan orang Jawa adalah kecocokan dan rasa hormat, sementara orientasi dari rasionalitas adalah objektivitas.
Hal yang lekat dan selalu saya ingat dari perjalanan tumbuh sebagai 'Jawa' adalah ungkapan yang sering dilontarkan ibu, budhe, dan nenek saat di rumah: oh ancen arek durung Jawa kok (Oh, memang anak belum Jawa). Agaknya, selama 18 tahun saya tumbuh dan berkembang di bawah asuhan ungkapan tersebut hingga pada akhirnya pindah ke Yogyakarta untuk bersekolah. Meski Jawa Timur dan DIY sama-sama Jawa, tetapi hadir dan tidaknya 'asuhan keluarga' secara intensif di sana adalah yang membedakan keduanya.
Pada akhirnya, bagi saya istilah 'Jawa' sendiri adalah perlambang dari banyak aspirasi masyarakat pemiliknya. Bagi orang tua, 'menjadi Jawa' bisa jadi dimaknai menjadi orang yang ramah, sopan, ringan tangan, dan hormat kepada kerabat. 'Durung Jawa' atau 'belum Jawa' berarti seseorag yang mereka sebut tadi, belum memenuhi aspirasi 'Jawa' yang mereka maknai.
Anak di keluarga Jawa yang mendapat sebutan 'belum Jawa' atau tidak 'njawani' adalah anak yang belum dianggap bisa berpikir dan bertindak secara Jawa. Buku ini akan menjelaskan bagaimana keluarga Jawa bisa menciptakan kepatuhan kepada anak-anak mereka melalui istilah 'Njawani' atau 'manjadi Jawa' tadi.
'Menjadi Jawa' atau 'njawani' adalah istilah kosong yang kemudian diisi oleh aspirasi-aspirasi. Sedangkan yang berhak mengisinya adalah orang tua sebagai struktur objektif dominan yang kemudian aspirasi itu dialirkan kepada bejana-bejana kosong yang mereka lahirkan: anak.
Melalui buku 'Njawani' ini, Mas Reka Sakti memulainya dengan trinitas Bourdieu. Ia memilih habitus sebagai pisau analisis untuk menjawab pertanyaan: mekanisme kuasa seperti apakah yang berjalan dalam keluarga Jawa?
Catatan: sebagai pembaca yang pernah mempelajari ilmu mumet di FEB (Fakultas Elmu Budaya), saya bisa menelan buku ini dengan nyaman. Namun sebagai pembaca yang mencari kesenangan, saya rasa buku ini mungkin akan sulit dipahami dan kadangkala membosankan. Banyak informasi yang berupa pengulangan dan bagian analisisnya sendiri terasa tidak diberi cukup ruang.
Bahasanya berat karena ini berasal dari penilitian akademis. Tapi tetap kuselesaikan juga membacanya karena memang topikinya menarik dan membantuku dalam memahami apa dan kenapa yang terjadi dalam keluargaku, terutama keluarga dari garis ayah yang menurutku pola pikirnya rumit.
Rupanya karena memang banyak hal dalam value keluarga Jawa yang ada dalam buku itu yang aku sudah tidak sepakati, hal itu juga diamini dalam buku ini tentang bagaiamana generasi modern melakukan pertentangan adat Jawa yang sudah lama berlangsung ini.
Keluarga adalah kunci dari peradaban. Lantas, bagaimana keluarga Jawa menciptakan anak-anak yang patuh?
Buku dari Reka Sakti yang berlandaskan sebuah penelitian tentang keluarga Jawa dibungkus dengan menarik dari hulu hingga hilir sehingga pembaca bisa menikmati setiap argumen, istilah, dan simpulan di setiap akhir topik yang diulas.
Penulis menggunakan trinitas bourdieu; habitus, arena, dan modal sebagai pra-syarat dalam menganalisis keluarga Jawa. Karena hal tersebut dianggap menghadirkan entitas; masyarakat yang bisa menjadi benang merah dari simpulan yang tercipta.
Karena ini berlandaskan penelitian, seluk beluk tentang Kebudayaan Jawa itu sendiri dijelaskan sebagai pondasi pembaca untuk penjelasan di bagian-bagian berikutnya. Hal-hal asing akan ditemukan oleh pembaca yang bukan Jawa, tetapi hal tersebut menambah banyak pengetahuan baru.
Saya sendiri jadi mengetahui banyak tentang Jawa, siklus kehidupan subjek Jawa, dan topik utamanya yaitu keluarga Jawa. Tidak lupa dibahas keresahan dari penulis tentang irisan orang Jawa tradisional dengan orang Jawa modern.
'Njawani' yang notabene adalah penelitian, maka di akhir penulis memberikan simpulan dari penelitian yang telah dianalisis, tentang keluarga Jawa menciptakan anak-anak yang patuh. Juga kekurangan dari penelitian yang telah penulis laksanakan.