Samuel Erlangga adalah seorang yang tegas, keras, layaknya singa ketika menghadapi rivalnya. Sayangnya, hal itu berbanding terbalik dengan sifat aslinya yang manja di rumah jika harus bertemu dengan susu dan botol Spiderman buatan ibunya. Namun, siapa sangka di balik ketegaran Samuel, ia memiliki trauma masa lalu yang selalu menghantui sejak dua tahun terakhir.
Wanita yang dicintainya meninggal atas kesalahan dirinya. Sejak itulah, ia tidak ingin lagi memiliki hubungan percintaan yang serius dengan seorang wanita. Sampai akhirnya, Ibu dan Ayahnya mengabarkan bahwa dirinya sudah dijodohkan sejak masih kecil dengan anak sahabat Ayahnya yang ternyata wanita manja dan menyebalkan.
Satu hal yang membuat Samuel harus menerima perjodohan saat ia lulus kuliah nanti adalah wanita itu menjadi target pembunuhan dari para saingan ayahnya. Sehingga, Samuel merasa tertantang untuk melindungi wanita tersebut yang tak lain adalah Azura atau Rapunzel.
Hari ini aku menamatkan cerita Samuel ini. Jujur, aku memang suka sama cerita anak SMA yang ada geng nya gitu dan akhirnya ketemu sama Samuel yang kebetulan lagi populer di aplikasi oranye. Dari penilaian subjektif aku, ceritanya sangat-sangat to the point sehingga menyajikan inti cerita keseluruhan yang memang betul saling berkaitan. Enggak heran bukunya jadi setebal 260 halaman. Tapi hal itu juga yang buat aku secara pribadi kurang mampu merasakan feel ceritanya, karena selama aku baca terkesan sangat dipangkas. Terlebih penulis kurang memainkan gaya bahasa sehingga pemilihan kata yang digunakan terkesan itu-itu saja.
Yang buat aku kecewa, sebetulnya di bagian klimaks. Aku pikir bagian ini lebih diperjelas lagi karena banyak banget informasi pemicu konflik utama yang seharusnya dikulik lebih jauh justru terkesan seperti kilas lalu. Seperti kasus kematian Ellen yang ternyata didalangi oleh Raskal sendiri. Kukira bakal ada penjelasan dari sudut pandangnya Raskal agar motif dia membunuh Ellen lebih jelas, mungkin dalam bentuk flashback kah, atau dia sendiri yang mengaku langsung ke Samuel dkk.
Untuk karakter, aku sama sekali enggak punya masalah karena mereka keliatan menonjol dengan ciri khas masing-masing. Jadi aku mudah membedakan mana Samuel, mana Areksa, mana Canva, mana Ilona, Azura, dan karakter lainnya. (Kecuali Farzan yang entah kenapa masih keliatan bersembunyi di antara teman-temannya)
Untuk fisik buku, tulisannya kecil-kecil banget, ya. Aku harap isinya bisa dipercantik dengan ilustrasi kecil sebagai pembatas halaman/scene mungkin dan pemilihan ukuran font yang lebih nyaman dibaca, biar keliatan rapi karena jujur cerita Samuel ini bagus, jadi fisiknya juga kudu kece, hehe.
Oke, sekian deh dari salah satu pembaca Samuel. Terima kasih kepada penulis dan penerbit yang sudah menghadirkan karya ini untuk mengisi waktu senggang aku (termasuk pembaca yang lain) dengan kisah yang keren yaa. Ditunggu buku selanjutnya~
This entire review has been hidden because of spoilers.
Bagus karena penulis berhasil menyelesaikan tulisannya. Tapi jujur, bukunya membosankan. Dari mulai Areksa, Canva, sampai Samuel ini diksi yang dipakai kurang beragam jadi terkesan monoton. Banyak bagian yang kesannya buru-buru, kurang ngunci, dan kurang klimaks. Untuk buku 200 halaman lebih yang sebenernya bisa selesai beberapa jam aja, aku ternyata gak mampu. Ayo semangat lagi, diimprove kembali tulisannya. Semangat!