Jump to ratings and reviews
Rate this book

Sains & Pencarian Kebenaran

Rate this book
Berbeda dari ideologi, sains adalah proses berpikir yang fleksibel untuk menerima perubahan yang sejalan dengan perkembangan pemahaman tentang dunia. Pengetahuan berkembang melalui revolusi sains. Paradigma baru menggantikan yang lama, setiap perubahan paradigma membentuk pemahaman baru. Revolusi sains mirip revolusi sosial, tanpa genangan darah.

Tugas sains bukan mencari (memverifikasi) kebenaran, melainkan mengeliminasi (mengurangi) kesalahan, agar kebenaran bisa semakin didekati. Temuan sains telah membuka kesadaran manusia untuk meninggalkan paradigma antroposentris yang mengistimewakan manusia sebagai pusat dunia. Padahal, manusia cuma satu dari sekian banyak makhluk hidup, dan bukan ciptaan entitas supranatural.

164 pages

Published July 1, 2021

About the author

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
0 (0%)
4 stars
0 (0%)
3 stars
0 (0%)
2 stars
1 (50%)
1 star
1 (50%)
Displaying 1 - 2 of 2 reviews
Profile Image for Happy Dwi Wardhana.
244 reviews39 followers
September 9, 2021
Buku kedua Seni Pemikiran baNANA

Sama seperti buku Sains dan Hal-Hal Baiknya, buku juga merupakan kumpulan tulisan dalam polemik sains vs filsafat di pertengahan tahun lalu. Jika buku AS Laksana (Sulak) hanya menanggapi tulisan-tulisan GM, buku ini menanggapi tulisan F. Budi Hardiman, selain GM.

Berbeda dengan buku pertama, saya bingung bagaimana merespons buku ini. Pertama, judul-judul di dalamnya tidak satu suara. Ada yang mengkompromi antara sains, filsafat, dan agama. Yang lain mengkonfrontasi habis-habisan filsafat dan agama. Saya paham bahwa ini tulisan-tulisan terpisah yang dibukukan, tetapi seharusnya kurator lebih selektif lagi dalam memilih judul-judulnya. Kedua, saya jadi membandingan dengan buku sebelumnya yang saya baca. Narasi buku ini tak semulus tulisan Sulak. saya seperti membaca buku teks sains walaupun kenyataannya ini adalah esai. Saya pikir karena terbit dari baNANA esai-esai ini akan menjadi sastrawi. Ternyata, penulis hanya mencomot argumen-argumen dari buku yang kebanyakan sains populer, dan menggabungkannya dengan sedikit argumennya sendiri .

Lukas terus menggempur pembaca dengan dalih sains mememudahkan kehidupan manusia. Ini benar. Tapi sejauh mana? Manusia yang mana? Teknologi adalah anak kandung sains. Hal yang hari ini paling bersentuhan dengan manusia. Sebagai contoh: Ponsel membuat kita terus terhubung kapanpun dan di manapun hingga bos mengingatkan revisi proposal di jam 10 malam. Sosial media adalah ajang anak muda berekspresi, tapi ia akan ramah hanya bagi mereka yang good looking. Sains bisa membantu kok mereka yang tak good looking dengan operasi, namun biayanya? Tak cukup sejuta, dua juta. Pedagang siomay harus mengikuti perkembangan zaman dengan berjualan daring. Untuk bisa laris ia harus mengerti SEO, tapi yang ia tahu, agar bisa laris dia harus berdoa. Fenomena-fenomena itu yang luput dari perhatian penulis. Uraian-uraian di buku ini tak menyentuh akar rumput. Ia bagai isme-isme yang mengawang-awang. Tepat seperti apa yang dikritiknya pada filsafat.

Tak ada misteri bagi sains. Yang ada hanya teka-teki. Misteri adalah pertanyaan tanpa jawaban. Teka-teki adalah jawaban yang belum menyingkapkan dirinya. Alam semesta bukanlah misteri bagi sains. Alam semesta adalah teka-teki. Suatu saat sains akan menguak apa yang sekarang tidak kita ketahui tentang alam semesta, seperti apa yang ada di luar semesta, mungkin juga di mana keberadaan Tuhan. Tapi itu nanti, bisa jadi satu milenium lagi, saat hidup kita sudah selesai barangkali. Jika hari ini belum tahu, mengapa tak sudi mengakui misteri ini dan mengamini saja?

Saya mengutip sindiran tulisan Sulak bahwa sains mendikte. Dan ya, itu benar. Lebih jauh, mendikte orang-orang yang tak memiliki scientific temper. Tapi siapa yang perlu scientific temper? Ibu dengan lima anak di pedesaan atau pedagang asongan di terminal? Saya yakin manusia tak bisa sepenuhnya rasional. Ia tetap butuh realitas yang dikhayalkan. Terlebih lagi, menjadi sepenuhnya rasional membutuhkan effort yang besar. Melihat kultur pendidikan di negara ini, pasti hanya orang-orang yang memiliki previlege yang dapat berbuat demikian. Jadi, yah, harus diterima bahwa scientific temper dan mitos masih hidup selaras di negara ini.

Teknologi yang semakin maju melampaui kebutuhan manusia itu sendiri. Masyarakat urban sebagai konsumen teknologi terbesar, mulai banyak yang merasakan dampak negatif percepatan ini. Mereka merasa hidup semakin bising dan dikerjar-kejar waktu. Mereka mencari ketenangan dengan meditasi Vippasana, hidup slow living, atau berlatih yoga. Bagi saya sains adalah pilihan, tepat seperti yang dituliskan di bab 3 buku ini. Apa yang menjadi kebutuhan kita manfaatkan, apa yang tidak tak perlulah digubris. Dengan demikian, perlukah sains diglorifikasi?
Profile Image for Agoes.
512 reviews37 followers
December 31, 2021
Artikelnya agak lebih banyak dari seri pemikiran yang lain tapi juga ternyata nggak berupa satu rangkaian argumen yang utuh. Jadinya ini beneran terkesan seperti kompilasi tulisan di facebook yang disatuin dalam sebuah buku.
Displaying 1 - 2 of 2 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.