Yulenka terpaksa mengikuti keinginan ayahnya. Setelah sedari kecil homeschooling, dia harus masuk sekolah umum saat SMA. Di tengah ketidakyakinan bahwa banyak hal menarik yang akan ditemukannya di SMA, Yulenka bertemu Regulus.
Si Rubah Gurun itu membuat Yulenka menantikan hari-harinya di sekolah. Meski hobi tidur di perpustakaan, ternyata cowok itu terkenal sebagai siswa terpandai. Dengan tungkai kaki yang lemah, Regulus selalu berada di dekat Yulenka. Cowok itu menemaninya menghadapi tantangan menghadapi teman sekelas, para senior, bahkan guru-guru di sekolah.
Saat menghadiri pameran pendidikan universitas, Yulenka akhirnya mengetahui satu fakta yang tanpa sengaja disimpan Regulus. Dia jadi merasa tidak mengetahui sedikit pun tentang cowok yang sering kali mengejutkannya saat hujan deras datang itu.
Ketika Yulenka tercebur ke kolam, terungkap rahasia lain dari Regulus. Rahasia yang sulit untuk diterima Yulenka. Rahasia yang mengantarkannya pada keputusan apakah akan tetap mendampingi atau justru meninggalkan cowok itu.
Major in Japanese Language of Education, love to read manga and several kind of novel (but of course not the novel which written in kana or kanji). Active in text based roleplay forum, and now still manage her day to finished the final assessment. Besides write, she loves to draw a doodle manga-style, but she gets upset to be a mangaka.
Favorites Author: Haruki Murakami (novel), Dee (novel), CLAMP (mangaka-circle), Yumeka Sumono/Sahara Mizu (mangaka), all my writting-partner :'3
Author of: Haru no Tabi (de-TEENS), Scarlet Love Song (DIVAPress), Heartsease (de-TEENS), Matryoshka (de-TEENS), Howls(dot)com (de-TEENS), FUURIN (Ice Cube Publisher KPG), The Heritage (Grasindo)
Pada paruh pertama, kita akan disajikan sajian khas cerita anak SMA yang tengah mengenal arti hidup dan juga cinta. Namun, di paruh kedua, bersiaplah. Apalagi bagi yang menyukai ending yang cliffhanger/angst/[kinda] sad ending, maka ini cocok untukmu.
Actual rating: 3.5⭐️
Peringatan pemicu: mengandung adegan kekerasan dan tindakan menyakiti diri sendiri.
Yulenka atau akrab disapa Julia menjalani masa SMA dengan penuh "tantangan". Sebelumnya, ia menjalani homescholling dan tak memiliki teman sebaya. Di masa adaptasi dia di sekolah, Julia bertemu dengan Regulus, yang berwajah seperti rubah gurun. Setiap bersama Regulus selalu turun hujan. Dari hujan yang membawa kasmaran, hingga hujan yang membawa luka.
Saat membaca ini dibuat penasaran. Sebenarnya ceritanya akan seperti apa sih. Pas di pertengahan udah mulai terlihat. Makin-makin ke ujung, makin "melelahkan" ternyata. Dan ending-nya ... aku tercenung. Tidak ada closure, konklusi, sudah begitu saja. Mungkin agar terkesan realistis ya, kan cinta pertama tak selalu indah, tapi tidak menggantung juga. Sesungguhnya ending ini "baik" jika dibarengi dengan build up.
Di paruh kedua, fokusnya di situ-situ saja. Hingga nyaris nggak ada perkembangannya. Lalu, aku kira akan ada cerita tentang Ibu dan Ayah Julia, tapi tidak ada. Banyak yang bisa dieksplor sebenarnya. Sayang banget.
Yang aku suka adalah karakter Julia. Cara dia bercerita, berpikir, bertindak, itu khas anak SMA—coming of age—yang unik banget. Nggak terkesan kekanakan atau bahkan terlalu dewasa. Semuanya pas, tapi unik. Sedangkan, untuk Regulus, dia terlalu abu-abu. Karena sudut penceritaannya dari Julia, jadi Regulus terkotak pada si rubah gurun aja. Terakhir, scene hujan di taman baca itu duuh ... 💐💐
Ini kali pertama aku kenalan sama tulisannya Ghyna Amanda, dan aku suka. Gaya bahasanya yang sendu sedari awal novel ini dibuka bikin aku langsung penasaran sama isi keseluruhannya. Ide novel ini pernah kutemui di novel-novel lain, tapi Ghyna Amanda bikin sesuatu yang beda buat novel ini.
Apa sih yang beda? Karakter Regulus. Aku suka sama dia. Dia genius banget, dan kegeniusannya ini nggak cuma dijelasin lewat narasi, tapi juga lewat beberapa tindakan. Dan ini nih yang perlu kita pelajari. Soalnya kalau kata Susan Bell, kalau kita mau bikin karakter yang nyata, karakter itu nggak cuma diomongin, tapi juga diperlihatkan dengan jelas. Selain itu, karakter Regulus yang supergenius ini juga mendukung banget sama latar belakang ceritanya, jadi emang bukan semacam tempelan.
Untuk Julia, aku suka sama tone-nya, tapi aku kurang bisa terikat sama dia. Aku lebih bisa terikat dan bersimpati sama Regulus. Mungkin karena Regulus punya latar belakang yang lebih kuat juga, dan konsep novel ini emang diceritain dari sudut pandang Julia soal kehidupan Regulus. Tapi, perkembangan karakter Julia sama Regulus tuh kerasa. Meski nggak tampak pesat, tapi tetep kelihatan.
Dan, yang paling kusuka dari novel ini tuh kurva ceritanya. Kurvanya baguuus. Di awal kelihatan biasa aja, terus naik pelan-pelan, sampe tengah naik lagi, terus klimaks, terus turun. Kalau kalian baca langsung, pasti bakal paham deh sama maksudku. Soalnya tuh kerasa banget kurvanya. Dan di bagian tengah aku agak kaget sama momen "itu" karena nggak nyangka, dan momen "itu" jadi taruhan yang bikin kurva ceritanya makin naik. Intinya, dari segi plot, novel ini udah bagus dan bisa banget kita jadiin pelajaran.
Cuma sayangnya aku merasa penyelesaiannya agak terburu-buru. Dan sebenarnya novel ini punya potensi yang amat besar untuk bisa dikembangkan lebih dalam lagi. Pasti bakal bagus banget kalau seandainya beberapa hal dari novel ini dibuat lebih detail/jelas. Tapi, dengan porsi segini pun sebenarnya udah cukup sih. Dan aku agak "kejebak" sama awal epilognya wkwk. Pas baca itu, aku kayak, "Hah, jadi cuma..." Tapi pas baca lagi sampe bawah, aku langsung, "Oalah..." Jadi langsung paham sama konsep epilognya dan aku suka dan aku merasa amanat ceritanya related banget sama aku—dan mungkin bagi banyak orang lain.
Yang jelas, aku merekomendasikan novel ini buat kalian baca, terutama buat kalian yang suka baca novel-novel young adult. Anw, kayaknya aku mau baca novel Ghyna Amanda yang lain deh. Kebetulan di Gramdig juga ada wkwk.
first impression aku ke buku ini bagus, dari judulnya, covernya, dan blurbnya menarik dan bikin penasaran buat baca. di awal2 juga digambarkan tingkahnya julia yang polos dan bikin ketawa, tapi sayangnya tingkah polosnya itu perlahan mengikis sampe di akhir cerita, jadi berasa kehilangan jati diri julia. dan, aku merasa masih banyak pertanyaanku terkait buku ini, mulai dari penyebab sakitnya regulus, adiknya regulus, kenapa nggak manggil bellani tante, penyebab wafatnya mamanya yulia, sampai pekerjaan ayahnya yulia. menurutku, kalau memang tidak akan dijelaskan bagian2 itu, tidak usah dimention aja sekalian, jadi berasa ada yang kurang. atau mungkin buku ini ada sequelnya juga, aku kurang tau.
Dari awal hingga pertengahan seru. Sayang banget bagian akhir penyelesaiannya terlalu cepat. Padahal penasaran sama ibunya julia dan keadaan Regulusnya.
HEHH ENDING MACAM APA INIII?!?! tolong itu endingnya nanggung banget, ga ada rasa puas sedikitpun. padahal di tengah tengah cerita, aku sangat menikmati alurnya.
dengan jalan cerita yang teka-teki begini, aku pikir di akhir bakal ada sebuah jawaban dari semua adegan aneh yang ada di dalamnya, tapi setelah menyelesaikan novel ini pun, otakku masih menyimpan banyak pertanyaan terutama pada Regulus si tokoh utama setelah yulenka.
Padahal dari awal aku interesting banget sama tokoh regulus ditambah ternyata dia punya penyakit yang menurutku sendiri aneh dan bertambah aneh karena aku tidak menemukan penjelasan apapun dari penyakitnya itu. penulis hanya mengatakan regulus mempunyai trauma diumur empat belas tahun, tapi penulis tidak menjabarkan trauma yang seperti apa, kenapa bisa terjadi, apa penyebab ia trauma, luka apa yang di dapat pada trauma itu, dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan dalam buku ini yang tidak dijelaskan penulis.
Ending novel ini terkesan buru-buru. Alurnya juga terlalu banyak loncatan, regulus dan yulenka kenalan, dan tidak banyak interaksi antara mereka di masa PDKT hanya beberapa kali, dua atau tiga mungkin, tapi setelah itu voila mereka tiba tiba udah jadian aja. sehingga aku pun tidak bisa merasakan suasananya, karena yeah itu, alurnya yang terlalu buru-buru.
pas di halaman terakhir, aku hampir tidak percaya kalau aku sudah menyelesaikan novel ini, karena endingnya sama sekali tidak menjawab semua pertanyaan yang muncul di otakku. aku sampai berpikir ‘apa nih novel ada sekuelnya atau part lain?’
novel ini pasti sempurna jika penulis lebih detail pada setiap kejadian, dan menjabarkan teka teki yang ada didalamnya, juga memberikan sedikit sentuhan suasana dengan alur yang mengalir, agar pembaca bisa menikmatinya.
Jujur, aku suka banget sama deskripsinya yang ditulis dari POV Julia. Karakter Julia yang terkesan ingin bebas dan asal ngomong itu enak banget. Writing style-nya ngalir dan bikin rasa penasaranku tuh kayak tumbuh buat nyari tau apa yang terjadi selanjutnya.
Karakternya juga menarik diikuti, salah satunya si Rubah Gurun satu ini. Dia nyimpen banyak banget rahasia dan tergolong cukup misterius. Berpegang teguh sama keyakinanku namatin buku ini buat nyari tahu semua masa lalu Regulus, ternyata aku enggak dapat yang aku harapkan.
Buku ini terasa diselesaikan secara buru-buru, apalagi endingnya yang seperti “terpaksa” agar cepat selesai. Padahal banyak rahasia dan misteri yang belum tuntas dan malah bikin bertanya-tanya ‘hah?’ karena tiba-tiba udah ada di Epilog. Semuanya terkesan menggantung dan ngebingungin.
Buku ini sebenernya masih bisa digali lebih dalam lagi karena jujur premis awalnya menarik banget, namun akhirnya malah terkesan buru-buru.
Buku ini menurutku enjoyable dan isinya enggak begitu berat, tergolong ringan tapi sebenernya juga enggak (apa yak).
Menurutku buku ini cocok untuk dibaca di waktu senggang dan bisa dibaca sehari aja. Jadi untuk kalian yang mau marathon satu buku satu hari, buku ini bisa jadi pilihannya
Aneh banget tiap baca buku pasti gak bisa kasih rating selain 4. Kayak semua buku yg gue baca tuh gak sempurna dan gak kurang dari 4, wkwk.
Oke. Sekarang tentang bukunya. Actually gue gak pernah nemuin orang semacan Julia dan Regulus di kehidupan nyata. Karena mereka berdua emang spesies langka, yang ketika ada di buku gue ingin berteman dengan mereka tapi kalau di real life? Gak tau. Kayanya gue akan mikir beribu-ribu kali dulu.
Karena gue gak pernah bisa berkomentar tentang kelebihan dan kekurangan suatu buku, jadinya gue cuman mau menuliskan tentang ketertarikan gue akan dunia yang dibikin Kak Ghyna Amanda ini.
Selain itu, karena emang idup gue lagi datar banget jadi kayak buku ini tuh bikin gue jadikan sebagai escapism. Seandainya hidup gue seperti Julia atau bahkan Regulus, bagaimana ya? Mungkin akan seru.
Akan tetapi, gue memang lebih tertarik menjadi Julia, ceplas-ceplos nya dia, datarnya dia, perilaku dia terhadap orang lain, dia yang berani sendiri (walau sebenernya sm Regulus, sih). Kadang gue tuh pengen banget punya kepribadian yang gak banyak mikir dan bodo amat, tapi sayangnya ya susah banget banget banget buat kaya gitu di real life.
Yah, intinya menurut gue bukunya bagus, dan di bab-bab terakhir bener2 bikin deg-degan karena gue bacanya tengah malem.
Dari tiga buku beliau yang pernah saya baca, ini favorit saya. Jadi paham kenapa GWP tertarik untuk menerbitkan naskah ini. Saya nggak mau reviu terlalu banyak, takut spoiler, tapi . Saya pribadi lebih memilih (dan lebih cocok dengan) novel ini.
Terus, kalau dilihat-lihat, Yulenka/Julia ini termasuk dalam spektrum nggak, sih? Soalnya dia kurang peka sama social cues. Anak homeschooling yang neurotipikal kayaknya nggak bakal bersikap dan bereaksi seekstrem Julia hehe.
Dari pertengahan ke akhir seru banget berasa lagi kejar-kejaran yang belum tahu garis finisnya di mana, dan ketika tebakan saya benar cuma bisa bilang "mau gimana lagi, namanya juga hidup 🥲". Realistis dan berkesan. Eh, kalau di Korea, sesama marga bukannya bakal susah menikah, ya? Atau ada cerita lain untuk Emina seperti halnya Tiara dan Yulya?
Kovernya cantik banget!!! Oh ya, kalau ada face claim-nya, kira-kira siapa muse buat tokoh Regulus Han? Adakah idol yang pakai emoji rubah?🦊 (Baru ingat ternyata YoungK!!! Hahaha)
Satu kata: indah. Jujur, memang dari prolog sudah menebak-nebak akan jadi apa kisah karakter-karakter utama dalam buku ini. Sikap spontan dan apa adanya Julia-lah yang membuatku jatuh cinta. Seandainya berada dalam posisi Regulus, aku juga akan menyukai gadis dengan sosok seperti Julia. Well, sebenarnya masih bisa kasih rating agak tinggi, tapi ... entahlah, rasanya kayak kisah ini masih banyak yang belum terselesaikan.
Soal kisah masa lalu orang tua Julia juga sebenarnya masih menyisakan tanda tanya, begitu pula soal masa lalu Regulus. Meskipun mungkin memang Downpour berfokus pada hubungan Julia dan Regulus, agaknya di ending kurang mulus dan masih terasa banyak ganjalan. Setelah sampai halaman terakhir pun rasanya hanya hampa. So, 3.8 stars! Good job buat penulisnya, sepertinya bakal kepoin tulisannya yang lain, hihi.
Rating 3 diberikan semata-mata karena gue udah pernah baca Matryoshka dan The Lost Bride sebelumnya, jadi udah nggak asing dengan keunikan tone cerita dan karakter-karakternya yg kembali dimunculkan di sini. Bagi yg belum baca Matryoshka apalagi yg bener-bener baru kenalan sama tulisannya Ghyna Amanda, I don't think this book will make a wise introduction. Terlalu banyak info-dumping yg mengacu ke buku-buku sebelumnya tanpa diikuti dgn penjelasan yg jelas. Lalu,
Pas awal baca, ceritanya biasa. Tapi tambah lama tambah tenggelam sama ceritanya. Aku suka banget sama hujan dan perumpamaan hujan hujan di novel ini. Tapi sayang, karena endingnya terkesan kurang, seperti yulenka aku juga bingung sama ceritanya. Novel ini sanggup bikin aku kemanisan dan nangis juga, masih ga bisa move on dari endingnya.
⚠️ Yang bikin gua penasaran itu apa yang terjadi sama ibu yulenka, apa yang terjadi sama Regulus sebenarnya yang membuat dia PTSD. Kenapa dia tiba tiba ninggalin julia, apa karna takut menyakiti julia? Atau karna regulus ada sangkut pautnya sama kematian ibunya yulenka? Asli bingungg...apakah nanti bakalan ada jilid 2? (Masih berharap)
This entire review has been hidden because of spoilers.
Writingnya seperti novel terjemahan, mungkin memang punya strong influence toward English book kali, ya? Soalnya author sempet mention kalau dia sempet studying aboard. Penulisannya juga rapi dan efektif, nggak nyangkut pas dibaca. Anyway, covernya cantik.
Hanya saja, karena seperti novel terjemahan, bahasanya lumayan kaku. Aku juga merasa plot-nya tipis, bukan sekadar slowburn. Apalagi endingnya angst, wah malah tambah sedih.
Aku sempet berpikir, kalau author nulis novel fantasi, sepertinya akan indah sekali. Worth trying, right?
Wah, ketemu lagi dengan Yulenka... plus pasangan Tiara dan Tristan dari The Lost Bride. Sekelumit Virgo yang gak disebut namanya.
Regulus Han menjadi bagian penting dalam hidup Yulenka meski cuma dalam pertemuan yang termasuk singkat. Ceritanya sangat menarik, endingnya juga benar-benar tidak biasa. Awalnya sempet "HAH KOK GINI?!" tapi setelah diam sejenak, ya udah namanya juga hidup. Aku ngomong apa, sih... wkwkwk....
Ringan untuk dibaca, tapi tetep punya alur cerita yang OK. Penggambaran tokohnya cukup jelas, sayangnya background dari si pemeran utama masih semu, baca ini bener-bener menggantung, banyak pertanyaan yang mesti dijelaskan, seperti trauma apa yang dialami si pria, apa yang membuat dia trauma, dll.