Sesekali kita harus menyelidiki diri kita sendiri. Adakah yang belum sanggup kita lepaskan sampai detik ini?
Terkadang kita merasa sudah cukup merelakan cinta dengan meninggalkan seseorang. Padahal hati kita masih terpaut pada bayangannya, lalu berhalusinasi memilikinya.
Kita merasa sudah cukup mengikhlaskan mimpi-mimpi dengan berhenti berlari. Padahal kita belum mengorbankan rasa aman dari diri ini, memilih bersembunyi karena takut jatuh lagi.
Kita merasa sudah cukup melupakan trauma masa lalu dengan mengejar masa depan. Padahal kita hanya butuh membuktikan diri. Kita dendam pada mereka yang telah melukai kita.
Kita katakan pada dunia bahwa kita siap jadi pejuang dan pembela sebuah misi. Padahal misi kita hanyalah memperjuangkan dan membela diri kita sendiri, demi memukau seisi bumi.
Tuhan dan dunia ini sama-sama menawarkan sebuah ikatan untuk jadi tempat bergantung kita. Ikatan mana yang paling setia dan ikatan mana yang hanya fatamorgana?
Kita tahu jawabannya, sangat tahu. Tapi, kita seringkali lupa bahwa kita adalah bagian dari dunia, perasaan kita adalah bagian dari dunia, dan harga diri kita juga bagian dari dunia.
Lalu, kenapa kita harus segigih itu untuk mempertahankannya? Bukankah kita hanya perlu melepaskan ikatan untuk meneguhkan ikatan lainnya?
🍁Sewaktu kecil, kita hidup bebas sekali. Semuanya menyenangkan meski tanpa tujuan. Kemudian masa muda mengenalkan kita berbagai impian indah. Kita mulai belajar untuk berlari dengan iming-iming sejuta keinginan. Sayangnya, Buku ini bukan tentang keduanya.
🍁Buku ini akan mengajarkan tentang berjalan dengan tujuan tanpa keinginan. Semua impian yang pernah terlintas itu kita akan belajar untuk melepaskannya. Melepas cinta yang pernah dibangun, asa yang pernah ditata, juga keyakinan diri bahwa kita istimewa.
🍁Di sisi lain, kita juga akan belajar melepas rasa takut, ambisi mengalahkan orang lain, bahkan keinginan untuk berlomba itu sendiri. Hanya orang-orang yang berada di "next level" yang bisa melakukannya. Kenapa? Karena mereka adalah pelaku permainan tak terbatas.
🍁Yang aku suka dari buku ini adalah kejujurannya. Keberanian penulis dalam menceritakan perasaan terdalamnya membuatku merasa diajak bicara oleh teman baik. Tak terhitung berapa kali kalimat dalam buku ini menorehkan luka. Tapi aku tetap ingin melanjutkannya sampai akhir. Bukankah kita butuh terluka agar tahu caranya sembuh?
🍁Aku rekomendasikan buku ini untuk kalian kaula muda yang sedang dirundung banyak kegelisahan. Yang kebingungan memilih prioritas masa depan, yang merasa impiannya kian menjauh, atau bahkan tak kunjung menemukan impian. Mari belajar cara aneh dari penulis; rahasia melepaskan.
🍁Selama ini kita selalu dituntut untuk menemukan, mencari, dan menggapai segala hal. Itu membuat kita cepat jatuh saat tak bisa menggapainya. Sekalipun tergapai, impian itu ternyata tidak serta merta membuat kita bahagia. Kita tidak pernah tahu ada cara terbaik dalam menghadapi hidup, yaitu melepaskan.
🌟"Tanda orang yang bersyukur bukan saat dia berterima kasih. Tetapi, saat dia berhenti meminta. Lalu bergerak memberikan apa-apa yang didapatkannya selama ini." (Hal. 26)
🌟"Jika benar mencintai seseorang, aku seharusnya membuatnya makin dekat kepada Tuhan, bukan kepadaku." (Hal. 49)
Salah satu yang menarik dari buku ini adalah cover buku yang indah. Yang lainnya adalah, karena ini merupakan sudut pandang dari orang lain. Ini merupakan cerita tentang kehidupan Penulis yang berusaha untuk melepaskan apa yang seharusnya ia tidak genggam. Di sini kita sebagai pembaca diberitahu bermacam cara untuk mengikhlaskan apa yang ingin kita lepas bebaskan.
Saya yakin sekali bahwa tiap kata dalam buku ini ditulis dari hati, oleh hati dan disampaikan pula kepada hati para pembaca di luar sana, termasuk saya. Buku yang membuat saya tidak melewatkan satu kata pun bahkan dari pesan tambahan di luar bukunya.
Saya berani bilang buku ini mengerikan, karena rasanya bukan seperti membaca buku. Melainkan Teh Kartini berhasil membongkar aib-aib saya sebagai 'manusia' dan 'hamba', tanpa pernah mengenal saya. Buku ini seperti sahabat yag tahu semua bagian cerita terbaik dan terburuk dalam hidupmu, bahkan rahasia-rahasia besar yang selama ini kamu pendam rapat-rapat.
Syukurlah, Teh Kar bertanggungjawab ketika membeberkan rahasia-rahasia yang membuat malu diri ini, dengan melengkapi tiap rahasia beserta cara untuk melepaskannya. Entah berapa kali saya katakan pada mereka yang meminta rekomendasi untuk membaca Rahasia Melepaskan, karena melalui buku ini kamu bakalan merasa 'ditampar' berkali-kali hingga sadarkan diri.