30만 독자의 열렬한 지지를 받았던 <혼자 잘해주고 상처받지 마라>의 저자 유은정. 저자는 수많은 강연을 통해 “인간관계에서 상처받지 않으려면 도대체 어떻게 해야 하느냐?”라는 질문을 받아왔다. 이에 대한 답을 고민한 끝에 저자는 ‘경계(boundary)의 문제’라는 결론을 내린다. 나와 감정 착취자 사이에 존재하는 심리적 경계선을 지키지 못해 발생하는 문제라는 것이다.
내 감정의 영토에 들어와 주인인 척 앉아 있는 감정 착취자들을 몰아내려면 익숙한 관계, 수동적인 마음가짐이 주는 안정감을 버려야 한다. 이를 위해서는 무엇보다 관계에 대한 자신의 욕구를 명확히 알아야 한다.
저자는 이를 위해 먼저 상대와 ‘잘 지내고 싶은 것’인지 상대에게 ‘잘 보이고 싶은 것’인지를 구분하라고 말한다. 상대와 잘 지내고 싶은 마음은 갑을 없는 수평적 관계를 추구하지만, 잘 보이고 싶은 마음은 자신도 모르게 수직적 관계를 만든다. 무의식적으로 상대의 눈치를 살피게 되고 상대가 원하지 않은 친절을 기꺼이 베풀게 된다는 것이다.
Dua tahun terakhir saya banyak baca buku pengembangan diri, bukan karena mau jadi motivator atau karena beberapa kali memfasilitasi sesi psikososial, tapi lebih karena saya merasa memang butuh untuk membaca banyak hal tentang manusia. Ya tentang saya sendiri, orang-orang terdekat, rekan kerja hingga anak-anak.
Buku ini adalah salah satu literatur Korea di bagian pengembangan diri yang saya suka. Bisa dibilang terbitan Trans Media akhir-akhir ini lagi banyak menerjemahkan Korean-lit termasuk fiksi dan nonfiksi. Senangnya karena terbitan ini tuh bahasanya gak kaku, entah memang seperti itu versi Koreanya atau memang diterjemahkannya dengan pendekatan anak muda, jadinya enak banget dibaca. Beberapa malah ada yang pake ilustrasi, kali ini walau gak pake ilustrasi, tetap saja menyenangkan dibaca.
Yoo Eun Jung adalah psikiater yang menuliskan buku ini ibarat sesi terapi, tapi berbeda dengan I Want to Die But I Want to Eat Tteokpokki dalam buku ini tetap menjadi narasi bukan percakapan dengan tanya jawab ke para pasiennya. Kasus-kasus dalam buku ini memang nyata dan akan tetap relevan masalahnya hingga nanti-nanti. Misalnya bagaimana kita mendengar komentar seseorang tentang bentuk tubuh, hidup yang kita jalani, bagaimana peran orang tua dalam hidup anak, pasangan, dll.
Beberapa pasien di dalam buku ini menyalahkan diri sendiri, yang sering kali membuat kita makin terasa terpuruk, dari yang akhirnya menyimpan masalahnya, meledak hingga urusan diet makanan karena emosi hingga menyakiti diri sendiri secara fisik.
Asyik nih bukunya, kita dibawa menyelami banyak hal, banyak kasus, istilah psikologi dan sekaligus dapat mengetahui banyak hal yang bisa jadi solusi dari psikiaternya.
💕 Buku ini ditulis untuk mengajak kita agar menghargai dan mencintai diri sendiri sehingga kita tak perlu menjadi korban dari pengaruh kata-kata orang yang menyakiti perasaan kita. Umumnya, ketika orang lain melontarkan kata-kata menyakitkan kepada kita dan kita merasa marah kita sering dibilang “kok baper, kok sensi, kok marah, kok emosi, dan kata-kata lain semacam itu”.
💕 Karena pada dasarnya memang ada orang yang lahir dengan pembawaan yang sensitif. Tapi, lain lagi dengan hidup di lingkungan ‘sensitive condition’ dimana lingkungan mengharapkan kita menjadi sosok yang menderita dan tidak boleh bahagia. Biasanya orang-orang yang mengharapkan orang lain menderita dan merendahkan apapun yang orang lain lakukan karena mereka ingin menghilangkan perasaan rendah dirinya sekaligus agar mereka merasa superior.
💕 Jika ada orang seperti itu di lingkungan sekitar kalian, buku ini menuliskan 3 sikap yang harus kita tumbuhkan, yaitu: ketegasan, sikap dingin, dan kemampuan memutuskan. Dan yang tak kalah penting buanglah keinginan untuk terlihat baik di hadapan orang lain. Berhentilah terus membohongi diri sendiri. Tunjukkan bahwa kita terluka karena sikap mereka, bersikap tegaslah kepada mereka. Karena aku adalah superhero untuk diriku sendiri.
💕 Selain itu, lihat juga ke dalam dirimu sendiri. Kenapa kamu sering terluka. Jadi berhentilah membanding-bandingkan dirimu dengan orang lain. Tanamkan prinsip “aku adalah aku, kamu adalah kamu”. Fokuslah kepada diri sendiri, fokuslah pada perasaanmu, dan abaikan apapun mulut siapapun yang membuat merasa tersakiti. Karena buku ini akan banyak mengajarkan bahwa setiap orang butuh teman, butuh keberanian, dan butuh kepastian untuk menjadi sosok yang lebih berani dalam menghadapi hidup.
“Kita adalah permulaan diri kita. Jadi, mulai sekarang bertarunglah, berdamai, dan bangkitlah selayaknya orang dewasa” (hlm. 38).
Buku dengan genre self improvement ini berisi essai yg diambil dari pengalaman klien penulis. Permasalahan yg dipaparkan complicated dan relate dengan yg sering terjadi ketika menginjak usia 20 an. Seperti mencemaskan masa depan, tuntutan orang tua, pekerjaan, hubungan pertemanan, dsb.
Salah satu contoh, ketika ngumpul pasti ditanyain dengan pertanyaan yg terdengarnya basa basi tetapi sebenarnya telah menyentuh identitas diri. Ketika kita menunjukkan ketidaksenangan mereka malah mengolok dengan sebutan 𝐛𝐚𝐩𝐞𝐫.Tanpa disadari mereka menghilangkan perasaan rendah dirinya dengan mengorbankan orang lain agar merasa superior.
Kerap kali pencapaian jadi tolak ukur keberhasilan seseorang. Padahal pertanyaan itu terlalu dini untuk ditanyakan pada kalangan usia awal hingga pertengahan 20 an. Lebih cocok dengan pertanyaan 𝙖𝙥𝙖 𝙮𝙜 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙡𝙖𝙠𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙡𝙖𝙣𝙟𝙪𝙩𝙣𝙮𝙖.
So, buku ini membantu kita menguraikan dan menemukan akar masalahnya. Selain itu, mengajak kita menghargai dan mencintai diri sendiri sehingga kita tak perlu menjadi korban dari kata-kata menyakitkan mereka.
Ingat! Jangan pernah membiarkan orang lain memasuk dan menyerang wilayah emosional. Kita butuh keberanian menghadapi hidup.
Karena judulnya, awalnya kukira buku ini hanya berisi pembahasan tentang orang-orang yang melewati batas, suka merendahkan orang lain, berkata seenaknya dan cara menanggapinya. Tapi ternyata melebihi ekspektasi karena yang dibahas dalam buku ini cukup banyak, tentang isu kesehatan mental yang lainnya atau permasalahan yang banyak dihadapi milenial seperti kita, ceilah😄. Meskipun permasalahn dan kliennya dari korea (ya namanya juga buku dari sana) tapi banyak juga yang masih relate sama kehidupan di sini. Selain itu di buku ini juga ada terapi psikologisnya yang bermanfaaat buat yang mungkin merasa capek, lelah, butuh semangat buat ngejalanin hidup. Buku ini juga mengajak untuk lebih menghargai diri sendiri agar tak menjadi korban dari kata-kata orang lain, juga agar tetap memiliki kesadaran untuk tak menjadi penebar kebencian baik secara sengaja maupun tidak. Karena biasanya perkataan spontan yang keluar ngga kita sadari tapi kita ngga tau dampak kata-kata itu pada orang lain, apalagi kalau ada embel-embel becanda.
Bagi saya buku ini sangat menarik, saya belajar banyak perkara baru dalam buku ini. Buku ini sangat sesuai untuk mereka yang dalam proses hendak mengenal diri atau orang lain. Selain itu saya rasa buku ini sesuai juga bagi mereka yang merancang untuk berkeluarga ataupun sudah berkeluarga supaya dapat memahami serba sedikit emosi dan perasaan anak-anak.