Actual rating: 2,5
Kayaknya reviunya bakal penuh rant. Bukan berarti aku nggak enjoy bacanya, tapi lebih ke hal-hal yang mengganggu. Mungkin terkesan kecil, tapi bagiku mengganggu.
Pertama, where's Arini yang struggle bertahan dengan bekerja keras karena nyatanya hanya dijelaskan macam flash. Kilat. Maksudku, hal ini bisa jadi poin utama yang mendongkrak alasan Arini untuk bisa punya banyak uang. Selama bagian cerita struggle hidup, yang bagiku malah kayak kasih briefing singkat ini, aku nggak bisa menangkap kesulitan Arini selain penjelasan dalam bentuk narasi penulis. No emotion attached.
Kedua, nggak ada penjelasan sampai akhir gimana dia bisa pindah portal. Apa alasannya? Apa trigger-nya? Apa karena dia kepengin kaya? Tapi itu nggak menjelaskan sama sekali dan agak nggak nyambung. Beda kalau Arini ini people pleaser atau kalaupun bukan begitu dia nggak bisa berbuat banyak ketika ditindas karena ya simply, tingkatnya rendah. Bisa aja habis itu dia langsung bangkit sebagai tokoh antagonis yang balas dendam karena perlakuan semena-mena orang berduit tadi. But, yeah, again, balik ke masalah latar belakangnya nggak seratus persen "awake".
Ketiga, duh, bahasanku balik ke situ-situ juga akhirnya. Intinya, meskipun fantasi, nggak semuanya bisa dibikin sesuka hati. There's rule. Kalau dilangkahi atau diabaikan jelas hasilnya jomplang dan nggak jelas ke atas, bawah, samping, belakang, atau depan.
Keempat, ini yang entah kenapa mengganggu. Apakah bacaan latar Eropa jika menjawab keterkejutan karakternya selalu bilang "ya?" alih-alih "apa?" (tambah bumbu apa sesuai kebutuhan, misalnya syok banget jadi dipanjangkan, kayak "apaaa?" atau "apa?!"). Aku nggak tahu apakah di Webtoon memakai "ya?" karena bagiku wajar. Di sana kreatornya orang asli Korea dan pakai bahasa sana, termasuk habit bicara. Pakai "ya?" ketika kaget agak ... wagu. Kata "ya?" itu kan bahasa aslinya "yeh?", diterjemahkan jadi "ya". Tapi ini karya lokal, penulis Indonesia. Agak aneh pakai kata itu. Small thing, tapi ganggu bagiku.
Kelima, kalau semisal Arini masuk ke dunia lain karena ingin kaya, waktu menjadi sosok Felicia, dia malah memuaskan keinginan buat ... masak? Okelah, paham, mungkin itu salah satu keinginannya juga, tapi lebih cocok kalau dia langsung belanja-belanja, beli ini dan itu sebagai "pemuas" keinginan yang tertunda ketika masih menjadi Arini, dan bikin imej dia jadi jahat banget.
Selain kelima Keluhanku di atas, aku lumayan enjoy dengan gaya berceritanya. Deus ex machin memang, tapi ya sudahlah ya. Mungkin memang hanya difokuskan ke romansa saja.
Note: yang kubaca versi extended.