Jump to ratings and reviews
Rate this book
Rate this book
Menurutmu, mempunyai anak itu pilihan atau keharusan?

Latar belakang keluarga yang berbeda tak lantas membuat Prita dan Andi berdebat panjang saat diskusi tentang anak. Sebelum menikah, mereka sudah bersepakat untuk hidup tenang dan damai berdua saja sampai tua. Mereka bahagia. Sayangnya, prinsip mereka dianggap melenceng oleh keluarga Andi yang konservatif. Prita dianggap melawan kodrat. Beberapa perkataan dan perilaku anggota keluarga Andi membuat pasangan itu mengelus dada.

Situasi di sekitar mereka semakin mengancam. Kenzo, rekan kerja Prita, mulai terang-terangan mendekatinya. Belum lagi ibu yang menelantarkan Prita sejak kecil, tiba-tiba menuntut perhatiannya. Kedai kopi yang terancam bangkrut pun menguras pikiran Andi.

Keduanya tidak ingat lagi cara berbahagia. Komunikasi di antara mereka mulai terhambat. Namun, rumah tangga mereka terasa begitu riuh karena mulai terdengar suara-suara orang lain. Kehidupan Prita dan Andi pun tak lagi hanya milik berdua.

208 pages, ebook

Published September 15, 2021

13 people are currently reading
261 people want to read

About the author

Adrindia Ryandisza

16 books28 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
74 (20%)
4 stars
194 (54%)
3 stars
75 (21%)
2 stars
9 (2%)
1 star
2 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 142 reviews
Profile Image for Fety Niza.
109 reviews4 followers
September 19, 2021
Tadinya mau ngasih rating 3 bintang aja. Kenapa?
Karena buku ini bener-bener stressfull! Kayaknya gak ada satu halaman pun yang isinya menggambarkan kebahagiaan. Bener-bener KONFLIK SEMUA deh di tiap halamannya. Pusing gak lo?!
Apalagi aku baca buku ini pas akhir pekan. Niatnya kan mau menghabiskan akhir pekan dengan bahagia ternyata malah makin stres gara-gara buku iniii hahahhaa.

TAPI, malah jadinya aku kasih bintang 5. Kenapa tuh?
Karena setelah aku masuk ke bab-bab akhir buku ini, dengan sebelumnya ngasih jeda berenti baca dulu beberapa jam, aku mulai paham. Buku ini emang ngajarin realita kemungkinan persoalan yang akan terjadi di pernikahan. Sebenernya hikmah dan pelajaran dari cerita di novel ini tuh banyak banget!
Beberapa kalimat atau situasi di novel ini sukses bikin aku bergumam "iya juga ya". Aku juga berasa diajarin buat gak gampang menghakimi orang dalam situasi apapun.

Trus tiba-tiba keinget Daphne di series Bridgerton. Ada scene dia bilang ke ibunya, yang aku tangkep intinya tuh "Mama nyuruh aku cepet nikah, tapi mama gak ngajarin aku apapun tentang rumah tangga/pernikahan".
Emang bener kan? Sebagian besar kita emang gak pernah diajarin tentang pernikahan, terutama konflik-konfliknya. Nah, dengan baca novel ini, akutuh berasa diajarin sedikit tentang konflik-konflik itu. Konfliknya gak akan sama persis, tapi novel ini ngasih tau cara yang bener buat menyelesaikan konflik antara suami-istri.

Buat penulisnya, makasih kak dah nulis buku ini. Aku kepo, apa kakak ikut stres pas nulis kisah Prita dan Andi ini? Hahaha.
Profile Image for Nathania.
118 reviews20 followers
January 14, 2022
Kehidupan pernikahan yang menganut prinsip "child free". Isu yang di angkat cukup sesuai dengan prinsip sebagian orang di zaman sekarang.

Tujuan utama menikah memang bukan untuk memiliki anak, tetapi untuk saling membahagiakan satu sama lain.
Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book268 followers
November 9, 2021
Prita dan Andi memilih untuk tidak memiliki anak (child free) dalam kehidupan pernikahan mereka. Banyak alasan yang mereka kemukakan, salah satunya adalah Prita yang menganggap dirinya mungkin tidak mampu menjalankan fungsi sebagai ibu. Hal ini dilatarbelakangi masa lalu Prita yang besar tanpa kasih sayang Ibu, bahkan kerap kali dikecewakan oleh ibunya.

Masalah mulai muncul ketika keluarga Andi mulai mempertanyakan kehadiran anak, mengapa Prita tidak jua hamil, bahkan menyarankan mereka untuk periksa. Apalagi Fitri, kakaknya Andi hampir melahirkan anak ke-4. Prita dan Andi selalu bisa menjawab, namun kesabaran bisa tiba pada batasnya.

Isu child free sempat booming di twitter beberapa waktu lalu. Saya termasuk dalam kelompok pasangan yang menginginkan anak, meski harus menanti cukup lama. Meskipun demikian saya bisa memahami pilihan pasangan yang tidak menginginkan memiliki anak. Karena sesungguhnya seorang anak tidak bisa memilih dilahirkan lewat orang tua yang mana. Jika sepasang suami istri sepenuhnya sadar bahwa mereka belum/tidak mampu membesarkan seorang anak, pilihan terbaik adalah dengan tidak memilikinya. Saya pun bisa memaklumi pilihan Prita dan Andi. Namun, seharusnya keduanya memang perlu menyampaikannya secara terbuka kepada orang tua akan pilihan mereka. Dan Prita juga menyelesaikan konflik internal dengan mamanya sebelum berlarut-larut. Karena pilihan mereka menjadi bumerang saat mereka diperhadapkan pada berbagai masalah.

Di samping itu, saya tertarik dengan sosok Fitri. Ibu dengan 3 anak (nyaris 4), tidak bekerja, hidup menumpang bersama dengan orang tuanya, dan ketidak hadiran suami dalam pengasuhan anak. Sosok ini dianggap lebih ideal oleh ibunya Andi, karena memiliki anak, lalu digunakan sebagai pembanding bagi Prita yang tanpa anak, kerjaan mapan, dan didukung oleh suami.

Bukan salah benarnya pilihan yang diambil, tetapi bagaimana menghargai dan menghormati pilihan orang lain meski itu tidak sesuai dengan harapan kita.
Profile Image for Adrindia Ryandisza.
Author 16 books28 followers
Read
September 18, 2021
Setiap kisah memiliki kisah. Kalimat ini tepat untuk menggambarkan "OURS" dalam kehidupan saya sebagai penulisnya. Kali ini, saya ingin menceritakan kisah di balik novel yang akan terbit secara digital tanggal 15 September 2021. 

Saya selalu merasa perjalanan menulis "OURS" sebagai marathon. Lari jarak jauh dibandingkan sprint. Semuanya bermula pada awal tahun 2020 saya melihat cover premade buatan @designgedang yang sekarang menjadi cover dari novel ini. Pada detik itu juga cerita itu mengalir dalam benak yang akhirnya dijadikan dua bab yang saya unggah di GWP. Namun, saat itu, cerita itu sempat diam di tempat. Lalu tanggal 13 April 2020 kakak sekaligus sahabat saya berpulang, @adrisfi . Tidak lama dari itu cerita ini menjadi 'Cerita Pilihan Editor GWP' oleh Rosemary Kesauly. Di situ saya berpikir kalau kehidupan itu tentang keselarasan: ada duka, ada suka. 

Kemudian perjalanan "OURS" menjadi salah satu cerita yang lolos untuk The Writers' Show 2020 dan menulisnya adalah penyembuhan tersendiri setelah kehilangan kakak saya. Ternyata memang benar bahwa menulis itu menyembuhkan. Meskipun tidak menang, naskah "OURS" tetap dipilih untuk diterbitkan. Tentu saja, saya sangat senang. Bagaimanapun juga novel diterbitkan oleh @fiksigpu @bukugpu adalah salah satu impian saya. 

Perjalanan, tentu saja, tidak selesai sampai situ. Ada revisi yang perlu dijalani dan ini bukan proses yang instan. Sebagai penulisnya, saya ingin "OURS" sampai di tangan pembaca sudah dikemas semaksimal mungkin--tidak ada yang sempurna katanya, kan? Saya menulis kisah Prita dan Andi dengan sepenuh hati dan saya berharap pembaca juga merasakannya kala mengarungi kisah mereka. 

Novel ini adalah novel yang diterbitkan setelah saya tidak lama menulis. Oleh karena itu, "OURS" memiliki tempat spesial di hati saya. Bukan hanya sebuah karya, tetapi juga teman. 

Terima kasih @jaedemoiselle dan @dprihas
yang sudah membantu proses "OURS". 

Semoga "OURS" juga dapat menjadi hiburan dan penyembuhan untuk yang membacanya. Saya berharap bahwa orang-orang yang membacanya tidak lagi merasa 'sendiri'. 

Salam sayang,

Adrindia Ryandisza
Profile Image for nina.
148 reviews8 followers
October 8, 2021
Beberapa waktu lalu sempat heboh tentang child-free. Nah pas liat buku ini di instagram, aku langsung tertarik membacanya.

Konflik yang ada di buku ini kayak gak terlalu besar tapi 'ngena' di hati karena seperti realita kehidupan, terutama tentang keluarga. Aku suka dengan narasi yang menceritakan suatu kejadian tapi kayak gak ditulis gitu loh, kayak 'tell me that you tell the story without telling you're telling the story' paham gak sih?😅 soalnya ada beberapa kejadian yang bernarasi kayak begitu, jadinya gak bertele-tele.

Penokohannya juga gak lebay dan realistis, walaupun di awal-awal kayak si Andi udah yang paling sempurna, tapi manusia tetaplah manusia, tidak luput dari kesalahan.

Oh iya, karena bacanya di gramedia digital dan berbentuk epub, ada beberapa narasi yang kayak tiba-tiba berganti latar tempat tapi gak ada pembatasnya gitu, jadi sedikit membingungkan. Dan di awal sebenarnya gak mau baca ini karena di gramdig versi epub itu agak tricky bagiku. Untungnya aku baca di hp jadi lebih nyaman, karena biasanya baca di tablet yang mana kegedean fontnya. Overall, suka sama buku ini dan lega juga dengan endingnya.

4.5
Profile Image for Liliyana Halim.
311 reviews242 followers
January 7, 2022
Selesaiiiii! Yeayyyy buku pertama tahun 2022 🤩🤩🤩. Mama dan sodaranya Andi tu bikin 😖. Aku suka pendapat Andi tentang memiliki anak. Tapi aku kok kurang suka Prita ya 🙈.
Profile Image for Fahri Rasihan.
478 reviews126 followers
December 11, 2021
• Judul : Ours
• Penulis : Adrindia Ryandisza
• Penyunting : Nonie Pahmi
• Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
• Terbit : 03 November 2021
• Harga : Rp 62.000,-
• Tebal : 208 halaman
• Ukuran : 13.5 × 20 cm
• Cover : Soft cover
• ISBN : 9786020656311

"𝘉𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶𝘭𝘢𝘩. 𝘛𝘢𝘱𝘪, 𝘩𝘢𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘦𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘳𝘵𝘪 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩, 𝘬𝘢𝘯?" (hal. 8)

Sebelum memutuskan untuk menikah, Prita dan Andi sudah terlebih dahulu berdiskusi dan memutuskan untuk tidak memiliki anak. Keputusan ini diambil berdasarkan kondisi yang serba mahal dan luka lama yang membuat Prita takut untuk memiliki anak. Bisa dibilang hubungan Prita dan ibunya buruk, karena sang ibu memilih untuk menganggap Prita tidak ada dan kerap mengabaikannya. Prita yang sedari kecil merasa kurang perhatian dan tidak diurus oleh ibunya, memutuskan jika memiliki anak bukanlah sebuah keharusan setelah menikah, jika pasangan tersebut merasa tidak siap dan tidak mampu.

Prita tidak ingin jika kelak dia melahirkan seorang anak hanya untuk membuat anak tersebut sengsara karena Prita tidak mampu merawat dan mendidiknya. Bagi Prita, anak dilahirkan bukan hanya sebagai pembuktian atau investasi masa depan, tapi memiliki seorang anak adalah tanggung jawab tanpa pamrih yang tulus sepenuh hati. Bersama Andi, Prita yakin dia dapat berbahagia bersama, meskipun tanpa kehadiran seorang anak dalam kehidupan rumah tangga mereka.

Namun, meskipun Prita dan Andi setuju dan merasa baik-baik saja tanpa adanya kehadiran anak di dalam kehidupan mereka, tapi tidak demikian dengan keluarga besar Andi, terutama ibu dan kakak perempuannya, Fitri. Bagi ibu Andi yang telah dikaruniai empat orang cucu dari Fitri, memiliki anak dalam sebuah rumah tangga adalah keharusan dan merupakan kodrat seorang perempuan untuk mengandung serta melahirkan anak. Pekerjaan Prita sebagai seorang wanita karir kerap dipandang sebelah mata oleh ibu mertuanya.

Bahkan, ibu mertuanya itu berani memberikan interupsi pada urusan rumah tangga Prita dan Andi. Bisa dibilang ini wajar, karena ibu mertuanya belum tahu akan keputusan Prita dan Andi untuk tidak memiliki anak, sehingga dia kerap menekan dan memaksa Prita untuk segera hamil. Tidak mau urusannya semakin melebar dan carut marut, Prita dan Andi sepakat untuk mengutarakan pilihan mereka kepada keluarga besar Andi, meskipun akan menambah masalah baru ke depannya. Bisakah keluarga besar Andi menerima keputusan Prita dan Andi yang memilih untuk tidak memiliki anak? Bagaimana respon ibu Andi atas pilihan mereka tersebut?


"𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘳𝘵𝘪, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘳𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘢𝘬𝘢𝘭 𝘴𝘪𝘢-𝘴𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘦𝘭𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘨𝘢𝘭𝘢 𝘢𝘭𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘬𝘦 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘱𝘢𝘩𝘢𝘮. 𝘔𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘢𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳." (hal. 35)

Cerita yang dihadirkan dalam lini Metropop selalu menarik untuk dibaca, karena selain mengulik masalah asmara, tapi juga selalu ada tema yang tidak biasa yang turut menyertainya. Ours menjadi salah satunya, di mana novel ini membahas sesuatu yang masih tergolong tabu bagi masyarakat Indonesia.

Namun, keunggulannya tidak hanya terletak di situ saja, 𝘤𝘰𝘷𝘦𝘳 bukunya pun tidak kalah menarik dengan isi ceritanya. Ilustrator di balik 𝘤𝘰𝘷𝘦𝘳 buku yang cantik dan manis ini adalah @designgedang. Ilustrasi dua sejoli yang tengah berbaring sambil mengangkat kaki di depan jendela menunjukkan 𝘤𝘩𝘦𝘮𝘪𝘴𝘵𝘳𝘺 dan kehangatan yang terjalin dari kedua tokoh utamanya, Prita dan Andi. Gradasi warna yang dipilih juga tampak tegas, tapi tidak terlihat pucat dan menampilkan nuansa metropop yang cukup kentara. Gaya ilustrasinya pun terlihat minimalis, namun dapat menonjolkan cerita yang ada di dalam bukunya. Siapa coba yang tidak dibuat jatuh hati dengan 𝘤𝘰𝘷𝘦𝘳 buku yang sederhana dan cantik seperti ini.

Ours mempunyai tema cerita yang bisa dibilang mungkin masih terasa tabu dan kontroversial bagi masyarakat Indonesia. Cerita rumah tangga yang ditulis di sini dibarengi dengan isu tentang 𝘤𝘩𝘪𝘭𝘥𝘧𝘳𝘦𝘦. Di mana Prita dan Andi yang sudah berdiskusi sebelum menikah untuk tidak memiliki anak sama sekali. Namun, keputusan mereka itu tidak dibarengi dengan keinginan keluarga Andi sendiri, khususnya ibu dan kakak perempuannya. Di tengah usaha mereka menjelaskan tentang pilihan hidup mereka, Prita juga harus dihadapkan dengan masa lalu yang kembali menuntut untuk diperhatikan. Intervensi yang muncul menyebabkan hubungan Prita dan Andi terusik.

Tema atau isu yang coba dimasukkan penulis terasa segar dan berbeda. Baru kali ini saya menemukan novel lokal yang diberi bumbu tentang pilihan menjadi 𝘤𝘩𝘪𝘭𝘥𝘧𝘳𝘦𝘦. Ini dapat menambah 𝘪𝘯𝘴𝘪𝘨𝘩𝘵 baru bagi pembaca agar tahu dan dapat menerima perbedaan dari setiap pilihan hidup manusia. Di sini penulis ingin menekankan bahwa memiliki anak bukan sekadar coba-coba, tapi ada tanggung jawab yang besar di dalamnya.

Terdapat dua tokoh yang menghiasi jalan ceritanya, yaitu Prita dan Andi. Tokoh Prita adalah seorang wanita karier yang memutuskan untuk tidak memiliki anak saat menikah nanti. Alasan di balik keputusan Prita tersebut tidak terlepas dari perlakuan ibunya terhadap dirinya di masa lalu. Ada luka, kekecewaan, dan amarah yang membuat Prita merasa jika memiliki anak bukan hanya ajang coba-coba, tapi sebuah keputusan dengan tanggung jawab yang besar. Sementara tokoh Andi mempunyai karakter yang penyabar dan pengertian. Karakternya ini tampak saat dirinya setuju dengan keputusan menjadi 𝘤𝘩𝘪𝘭𝘥𝘧𝘳𝘦𝘦 ketika akan menikah dengan Prita. Selain itu Andi juga kerap menjaga perasaan Prita dengan memilih menyembunyikan masalah yang terjadi di kafe.

Kebersamaan dan 𝘤𝘩𝘦𝘮𝘪𝘴𝘵𝘳𝘺 yang ditunjukkan oleh Prita dan Andi mampu menguatkan hubungan mereka. Namun, intervensi dari ibu Andi dan Fitri pada kenyataannya dapat menggoyahkan komunikasi di antara mereka berdua. Saya suka dengan cara penulis dalam membentuk karakter Prita yang memiliki trauma dan luka. Sebagai pembaca saya bisa untuk turut serta merasakan emosi yang dirasakan oleh tokoh Prita.

Ours menggunakan sudut pandang orang ketiga sebagai bentuk untuk menuturkan narasi ceritanya. Dua tokohnya, Prita dan Andi menjadi tokoh yang paling banyak menuntun pembaca ke dalam jalinan cerita yang terjadi. Penggunaan sudut pandang ini cukup memperlihatkan emosi kedua tokoh utamanya dengan baik. Saya dapat ikut merasakan amarah, kekhawatiran, dan kekecewaan yang dirasakan Prita saat berusaha berdamai dengan luka batinnya, serta tekanan dari pihak keluarga Andi yang meminta Prita untuk segera memiliki seorang anak.

Alur ceritanya berputar dengan cepat, ringkas, dan padat. Penulis tidak berusaha bertele-tele untuk memanjangkan jalan ceritanya, tapi sebaliknya, penulis lebih memilih 𝘵𝘰 𝘵𝘩𝘦 point langsung ke inti permasalahan.Gaya bahasa dan bercerita yang diperlihatkan penulis juga amat ringan dan sederhana, sehingga tidak akan sulit untuk diikuti dan dicerna oleh pembaca. Latar tempat ibu kota Jakarta pun lumayan terasa dengan atmosfer kemacetan dan kepadatan yang turut memenuhi jalan raya.

Isu atau permasalahan yang muncul dalam Ours tergolong tabu dan masih terasa kontroversial bagi masyarakat Indonesia. Di mana Prita dan Andi yang sebelum menikah telah berdiskusi dan mengambil keputusan untuk tidak memiliki anak sama sekali. Keputusan ini pastinya akan memicu perdebatan dalam keluarga, khususnya keluarga Andi. Prita dan Andi harus berusaha mencari cara untuk menjelaskan keputusan mereka pada keluarga Andi.

Tidak hanya itu, Prita pun dituntut untuk berdamai dengan masa lalu yang menjadi alasan mengapa dirinya tidak mau memiliki seorang anak. Bagi saya konfliknya ini terasa lambat di awal, tapi saat menuju akhir, baru terasa klimaksnya. Penulis tidak berusaha menampilkan konflik yang berlebihan atau berapi-api, tapi sebaliknya, semuanya terasa realistis. Saya suka dengan cara penulis dalam menyelesaikan konfliknya yang tidak harus terlihat "sempurna", tapi malah tampak apa adanya layaknya realita.

Ours bisa menjadi angin segar dalam lini metropop, karena mampu mengangkat sesuatu yang mungkin masih amat jarang dibahas dalam sebuah cerita fiksi. Isu perihal 𝘤𝘩𝘪𝘭𝘥𝘧𝘳𝘦𝘦 memang marak dibicarakan saat ini dan Ours mampu mengolah isu tersebut ke dalam sebuah cerita yang sederhana dengan isi yang membuka sudut pandang baru. Alasan di balik keputusan Prita untuk tidak memiliki anak juga terbilang tepat, karena trauma di masa lalu memang kerap menjadi bahan pertimbangan saat mengambil keputusan.

Persoalan Prita dan orangtuanya pun tidak kalah menarik dan bagi diri saya pribadi terasa sangat 𝘳𝘦𝘭𝘢𝘵𝘦, sehingga saya mampu memahami setiap keputusan yang Prita buat. Penyelesaian masalah antara Prita dan ibu kandungnya pun bagi saya terasa memuaskan, karena tampak sangat realistis. Kekurangan yang saya rasakan mungkin hanya terletak pada sosok ayah Prita yang perannya dan informasinya masih terasa misterius. Selebihnya, Ours mampu memperlihatkan sebuah realita yang tercipta bahwa memiliki anak bukan hanya sekedar pembuktian atau keharusan, tapi merupakan tanggunh jawab tanpa pamrih di masa depan.

"𝘛𝘦𝘳𝘬𝘢𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢𝘪 𝘴𝘦𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘮𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢 𝘵𝘶𝘮𝘱𝘶𝘭 𝘭𝘰𝘨𝘪𝘬𝘢𝘯𝘺𝘢." (hal. 154)

"𝘕𝘪𝘬𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘶𝘢. 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘵𝘦𝘵𝘦𝘱 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪-𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪, 𝘯𝘨𝘢𝘱𝘢𝘪𝘯 𝘯𝘪𝘬𝘢𝘩, 𝘬𝘢𝘯?" (hal. 155)
Profile Image for Leila Rumeila.
1,000 reviews28 followers
August 19, 2023
Jujur aja, sepanjang baca dari mulai buka 1 chapter sampai dengan kalimat terakhir kepala gue dibuat tegang. Haha.
Karna buku ini lebih ke tipe character-driven alih2 plot-driven, jadi gue akan lebih bahas mengenai karakter2nya.

Prita, well gue engga bisa bilang pro atau kontra dengan keputusannya. Dengan prinsip child-free yg dia anut dilandaskan ketakutan akan dirinya yg mungkin engga mampu menjadi ibu yg baik, sejujurnya gue pro ini. Kalau di awal memang merasa engga siap, bukan ragu2 ya, tapi sepenuhnya engga siap, menurut gue jangan. Karna di kehidupan nyata gue banyak menyaksikan ibu2 yg bukan selayaknya "ibu", hanya mau melahirkan tapi enggan mempertanggungjawabkan "kehidupan" si anak. You guys know what i mean.
Tapi, untuk alasan lebih jauh kenapa Prita sampai tidak siap seperti itu dikarenakan trauma dengan perlakuan ibunya, well gue rasa gue engga pro dengan ini. Sepanjang buku ini gue mengandai2 di posisi Prita, dan kemungkinan besar gue akan memilih jalan di mana gue tetap ingin punya anak dan justru kenangan buruk itu akan gue ubah jadi motivasi untuk menjadi ibu yg jauh lebih baik dari ibu Prita.
Selain perihal anak ini, gue sangat menyayangkan ada bagian di mana dia engga bisa memposisikan dirinya yg sudah bersuami dan malah mencari "teman cerita" beda gender. That really is inappropriate to do. No matter the reason, it's unacceptable for me.

Andi, gue rasa karakternya agak ketiban dengan karakter Prita. Cukup salut dengan Andi sebagai suami bisa tetap mendukung Prita dari serangan keluarganya. Tapi entahlah, overall gue merasa karakternya kurang punya prinsip aja, lebih ke iya iya aja dengan prinsip2 Prita.

Ibu Andi & Fitri (mertua & ipar Prita), ini karakter yg menyebabkan kepala gue tegang sepanjang cerita sih. Gue mau mencoba paham pemikiran si ibu ini, tapi kok ya selalu gagal. Gue malah lebih bisa paham capeknya Prita yg terus2an diteror ibu mertua macem kaya gini *semoga kita semua dijauhkan dari ibu mertua yg seperti ini, aamiin, lol*.

Ibu Prita, engga begitu banyak porsinya. Yet clearly, she's the worst type of mother if i have to categorize.

Kenzo, banyak tipe2 kaya dia di sekitar gue irl jadi kaya engga aneh lagi sih di jaman sekarang.
Profile Image for Shafira Indika.
303 reviews236 followers
December 1, 2021
Buku pertama yang aku selesaikan bulan ini!

Buku tipis ini harusnya bisa kelar sekali duduk asalkan ga kebawa emosi. TAPI SUSAH. Aku sempet berhenti baca sebentar dan beralih baca buku lain supaya gaterlalu emosian baca buku ini😅

"Ours" lumayan mengingatkanku sama buku "Lebih Senyap dari Bisikan" yang aku baca beberapa waktu lalu (dan sama2 aku kasih rate 5/5⭐️). Mungkin karena keduanya mengangkat kehidupan pernikahan kali ya? Meskipun begitu, hal yang dibahas di kedua buku tsb bertolak belakang.

Pada "Ours" kita akan ketemu sama pasangan Prita-Andi yg sepakat utk gapunya anak alias childfree. Keputusan yg ga umum ini menyulut emosi ibunya Andi dan Fitri, kakaknya Andi, yg heran dan ngerasa kalo Andi tu ikut2 Prita aja alias Prita cmn bawa2 pengaruh buruk buat Andi. Intinya si Prita ini jd selalu salah dah di mata ibu mertuanya beserta Fitri. Yah jujur ibunya Andi & Fitri ini jd duo ngeselin yg bikin emosi pas baca kyk apasihh ngurusin bgt?? Namun realitanya kan emg begitu. Padahal yg ngejalanin kan Prita sama Andi tp ini jd pada ikut campur dgn dalih memberi perhatian. Pdhl memberi perhatian kan gak sama dgn memojokkan & menjelek-jelekkan?

Prita punya alasan sendiri mengapa ia tidak ingin mempunyai anak. Ia merasa tidak semua wanita bisa menjadi seorang ibu, termasuk dirinya. Luka di masa lalu yang ditorehkan oleh ibu kandungnya menjadi salah satu alasannya berpikir demikian. Prita gamau nantinya ia malah memproyeksikan sakit hatinya tsb ke anaknya, lalu anaknya jd menanggung beban yg sama dgnnya—yg artinya ia justru menciptakan "Prita" lainnya.

Ibunya Andi menyanggah hal itu dan bilang kalau kodratnya perempuan ya menjadi seorang ibu, nanti juga bisa aja Prita mengurus anaknya dgn sendirinya.

Padahal kan memiliki anak bukan perihal bagaimana nanti melainkan nanti bagaimana (kurang lebih itu yang dikatakan di buku ini). Pernyataan ibunya Andi jg bikin aku keinget sama "Lebih Senyap dari Bisikan" dimana si tokoh utama, Amara, merasa bahwa dgn melahirkan seorang anak ga berarti seseorang itu lngsg bisa switch perannya jadi seorang "ibu".

Intinya, permasalahan punya anak dan tidak punya anak ini sama-sama kompleks. Aku suka dgn cara pandang Prita yg memilih buat mendiskusikannya dari awal dgn Andi. Untungnya Andi jg ga menghindari percakapan tersebut. Prita dan Andi ini komunikasinya oke kok. Oke bgt malah. Namun, ketika ada orang2 yg ikut mencampuri kehidupan yg seharusnya mereka jalani berdua, banyak hal yg jd kacau.

Walaupun buku ini tipis, menurutku ceritanya pas bgt! Ga lebih, ga lebay, dan tetap realistis. Yang terpenting, ga jd kyk sinetron. Penokohannya juga oke, narasinya juga oke. Aku cocok bgt dgn gaya tulisannya yg mengalir dan ringan, bikin aku gabisa berhenti baca dari halaman pertama. Konfliknya jg ga berlarut-larut. Mantep lah pokoknya😎👍🏻
Profile Image for Fikriah Azhari.
363 reviews149 followers
December 14, 2021
Ours mengajak kita bertemu Prita dan Andi, pasangan yang bahkan sebelum menikah telah sepakat dengan prinsip childfree yang akan dijalankan. Telah ada consent oleh keduanya. Namun satu yang luput, yakni memberi tahu pihak keluarga.

Sebab seiring waktu berjalan, hal tersebut justru menjadi boomerang bagi keduanya.

***

Isu childfree jadi akar konflik di cerita ini. Aku menyayangkan sikap Andi—yang mohon maaf nih ya, cemen banget nggak gentle buat maju ngejelasin ke keluarga. Hal yang dia anggap enteng justru malah nyakitin pasangannya.

Aku ingat scene di mana Prita baru banget selesai mandi (literally baru keluar dari wc!) nanya baik-baik ke Ibu mertua minum apa, malah dibalas judes dengan “Duh Ibu tuh ndak perlu minum. Ibu butuhnya kalian punya anak.”. Gedeg banget nggak sih? Aku pengin ngucap dibuatnya.

Proses penyelesaian konfliknya cukup terasa, mulai dari kegaduhan keluarga mengenai pilihan yang diambil, upaya hasutan untuk berubah pikiran, hingga akhirnya kegoyahan komunikasi dari kedua belah pihak.

Aku suka banget pikiran yang dituangkan penulis. Tentang anak bukan semata-mata buat ngurus orangtua, tentang beratnya tuntutan yang dibebankan pada anak.

Aku mau mengapresiasi Kenzo yang gimana ya aku love-hate-relationship sama dia hahahaa #sorrynotsorry—thanks ya buat TMI-nya yang banyak banget, Ken.

Dari Ours, aku melihat sisi di mana dalam suatu hubungan, nggak hanya semata-mata perlu "aku" dan "kamu". Keduanya harus bertemu menjadi "kita".

Namun sebelum itu, make sure untuk memahami diri sendiri terlebih dahulu, supaya nggak gampang terpengaruh segala "kata orang" yang menghantui, bahkan menggoyahkan prinsip yang telah disepakati bersama pasangan.
Profile Image for Annelice.
200 reviews8 followers
May 21, 2023
Bintang 4!

Jujur saya bingung banget mau ngasih rate berapa karena bagi saya pribadi ceritanya belum selesai wkwk. Gila sih, novelnya memang tipis tapi konfliknya bisa sepanjang halaman!

Ours, bercerita tentang Prita dan Andi yang menikah dan memutuskan untuk childfree, tentu saja hal itu mendapat pertentangan dari keluarga ditambah usaha Andi yang menurun dan Prita yang ditaksir teman sekantornya membuat rumah tangga mereka berdua semakin goyah.

Oke, saya sama sekali nggak masalah dengan Prita dan Andi yang memutuskan untuk childfree karena bagaimanpun itu hidup mereka, mereka yang akan menjalani. Walaupun keputusan mereka dianggap menyimpang ya, tapi selama mereka happy menurut saya nggak masalah sama sekali, kita sebagai orang luar nggak merasa dirugikan sama sekali kan.

Tapi di realitanya ambil contoh selebram itu yang memutuskan childfree justru mendapat pertentangan dan cemooh dari berbagai kalangan yang bukan hanya keluarganya. Orang-orang masih beranggapan tugas istri ya ngurus anak, ngurus suami, masak, bersih-bersih, jadi ibu rumah tangga. Sayapun nggak setuju sama sekali dengan stigma demikian!

Menjadi istri bukan berarti nggak bisa mengembangkan diri dan berkarir. Istri seharusnya boleh kerja kalau memang dia mampu. Istri itu nggak harus selalu berkutat didapur. Masak kalau pengin, nggak pengin ya tinggal beli. Cuci baju kalau sempat, kalau engga ya tinggal laundry. Tapi orang-orang di negeri ini ya gitu. Nggak masak, nggak bersih-bersih dibilang malas. Yang lebih menyebalkannya lagi pakai bawa-bawa agama. Padahal suaminya nggak masalah. Tapi orang lain yang kepanasan, sok-sokan ceramah. Sebenarnya itu hanya alibi merek karena ekonomi yang terbatas yang membuat mereka nggak bisa seenaknya membuang uang untuk sekedar beli makanan atau laundry baju sehingga membawa-bawa agama buat nenangin diri sensiri.

Hal yang saya petik dari novel ini adalah pentinya memiliki pasangan/suami yang se visi dan misi, yang sepemikiran, yang mendukung, yang membebaskan dalam berkarir, yang selalu disisi ketika terjadi perdebatan keluarga. Jadi ketika ada kerjaan rumah, bisa dikerjakan bersama, ketika nggak masak, ngajak makan diluar, ketika berseteru dengan mertua, tidak memojokan.

Konflik dengan mertua dan ipar memang hal yang cukup membuat stress, apalagi jika mertua dan iparnya macam ibu Andi dan Fitri. Mulutnya lemess sayyy. Apalagi Fitri, si ipar nggak tau diri yang hanya menambah runyam masalah.

Sejujurnya saya nggak mewajarkan tingkah Ibunya Andi ya, kalau posisinya dibalik jika suatu saat, anak saya memutuskan childfree apakah saya siap?

Walaupun saya paham apa yang membuat Prita begitu takutnya memiliki anak. Saya nggak masalah dengan keputusan dia. Ini pendapat saya pribadi aja sih, kenapa dia nggak menjadikan ibunya pembelajaran, mengurus anak hingga sukses dan membuat ibunya malu dan terpuruk karena telah menyiakan-nyiakan Prita. Eniwey kalau itu keputusan Prita yang dikuatkan Andi sudah bulat, saya amat sangat menghargai keputusan mereka. Karena saya sendiri belum punya anak, saya nggak gimana nanti ribetnya ngurus anak apalagi kalau sudah lebih dari 1 wkwk.

Good job untuk kalian berdua yang saling mendukung dan menguatkan!
Profile Image for Suci Noorjannah Novianti.
175 reviews3 followers
February 7, 2023
Prita dan Andi sepasang suami istri yang sudah memutuskan untuk childfree sedari sebelum menikah. Seperti kasus-kasus yang sering kita dengar, lama-kelamaan mereka dicecari dengan pertanyaan kapan ingin memiliki momongan, segera cek ke dokter kandungan, dan kalau istri jangan kebanyakan bekerja nanti malah tidak kunjung diberi Tuhan rezeki anak.

Keputusan mereka tersebut bukan tanpa dasar. Awalnya karena Prita lahir di keluarga yang kurang beruntung. Mamanya menelantarkannya sehingga membuat Prita membenci hal tersebut dan berpikir bahwa tidak semua perempuan sanggup menjadi seorang ibu. Maka dari itu lah ia memutuskan untuk tidak memiliki anak, apalagi ia memang merasa tidak siap, ia tidak ingin anak tersebut nantinya malah menanggung kesulitan karena orangtuanya tidak bisa mengatasi permasalahan itu, kurang lebih seperti dirinya.

Tapi tentu saja jalannya tidak semulus itu, terutama karena adanya pressure dari keuarga Andi: ibu dan Fitri (kakak perempuan Andi). Mereka terus mendesak Andi dan Prita untuk mempunyai anak. Selain hal itu, ibu Andi kerap kali menyudutkan Prita seolah-olah keputusan childfree tersebut dipengaruhi besar olehnya, dab banyak rentetan lainnya seputar istri itu harus begini, istri itu harus begitu.

Di tengah menghadapi kelimpungan itu semua, bisnus kedai kopi Andi sedang mengalami penurunan yang membawanya berujung pada pertengkaran dirinya dengan Prita. Di sisi lain, Prita justru sering diajak ngobrol oleh Kenzo, teman sekantornya yang telah duda dan diduga naksir dengan Prita.

-----

Premis ceritanya bagus, ngasih insight dan bayangan kepada kita semua kalau ingin memiliki anak memang harus dipikirkan sematang mungkin, tapi buku ini juga bukan berarti mengajak kita untuk childfree loh. Karena di beberapa bagian kita justru dikasih lihat tokoh lain yang juga mempunyai anak dan bisa hidup dengan damai, lagi-lagi ini soal keputusan tiap pasangan berdasarkan kondisi masing-masing.

Buku ini cocok untuk dibaca remaja ke atas karena menurut aku sekarang ini marak banget pernikahan diri, pernikahan muda, lantas hamil, lalu muncul kasus bayi ditelantarkan dan sebagainya, itu sepertinya karena kurangnya edukasi tentang pentingnya diskusi dan pemikiran panjang untuk memiliki anak. Intinya buku ini oke sih, apalagi aku baru pertama kali baca buku yang premisnya seperti ini. Menurutku penulis juga cukup berani menyuarakan melalui tulisan ini apalagi jika dilihat sepertinya Indonesia masih belum siap menerima hal ini, juga masih sangat jarang.

Tapi buku ini aku beri bintang 3/5 karena aku ga merasakan emosi yang bener-bener membuat emosional, kesel ada tapi ya kesel aja. Tokohnya emang ngeselin, tapi belum bikin aku sampe pengen banting hp (berhubung bacanya via Gramedia Digital), sih. Jadi emosinya masih terkontrol bagiku. Udah gitu aja sih.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for ANPRA.
94 reviews5 followers
June 15, 2022
Awalnya aku baru baca 13% terus reading slum hampir sebulan, entah dapet ilham darimana akhirnya ku baca lagi dan malah nagih dan menyelesaikan dalam sekali duduk, sampe2 aku annotating banyak bgt di buku ini hahaha

Menurutku, Kalo kalian pernah baca 'Lebih Senyap Dari Bisikan' karya Andina Dwi Fatma dan suka, kalian bakal suka juga sama buku ini. Bedanya di LSDB konflik utama rumah tangganya pengen punya anak, sedangkan di Ours konfliknya dikarenakan pasangan suami istri yg ingin Childfree. Aku suka dan vibe nya indonesia banget karena mungkin penulisnya orang indonesia juga dan sudah berumah tangga. Terasa sangat menyentuh dengan kerealistisannya. Ada pelajaran penting untuk selalu menghargai dan menghormati apapun keputusan tiap orang.

Buku ini berkesan dan begitu memberikan gambaran yang jelas tentang dunia rumah tangga untuk aku yang belum menikah. Banyak "oh ternyata gitu ya" di otak aku ketika baca buku ini. Menurutku siapapun harus membaca buku ini baik yang belum menikah ataupun sudah menikah terutama untuk yang sedang merencakan promil atau berniat childfree. Butuh Sudut pandang sangat luassss dan mataaaaaang dalam mengambil keputusan yang begitu penting bukan cuma untuk kita tapi untuk anak itu juga karena seorang anak tidak bisa memilih untuk dilahirkan atau tidak. Banyak anak yang jadi korban dari keegoisan orang tuanya.

Tokoh yang paling aku suka adalah bapaknya Andi dan Andi. Entahlah menurutku walaupun misal aku gada niatan childfree tapi support suami, keluarga ku dan juga mertua tetap sangat penting minimal dengan ga terus2an nanya atau ngeburu2 untuk segera hamil, Setidaknya itu membuatku merasa nyaman dan cukup disayangi.

Quotes yang aku suka banget:

"Perempuan kan yang nantinya hamil, lalu melahirkan. Jadi aku rasa perempuan lebih punya hak berbicara soal ini." 7

"Enggak semua perempuan yang melahirkan siap menjadi ibu. Kasian si anak enggak bisa memilih siapa orangtuanya. Seharusnya enggak ada cetakan absolut dalam hidup, bahwa setiap pasangan yang menikah harus memiliki anak." 8

Menurutku punya anak itu pilihan. Aku lebih memilih enggak punya anak daripada menyesali kehidupan kita yang berubah drastis. Apalagi kalau nggak mampu mengurusnya dengan maksimal. Bakal didera rasa bersalah terus-menerus. Kalau kita lihat dari sisi keuangan, semua semakin mahal dan susah didapatkan, kan? Kita harus punya tabungan dan dana darurat lebih banyak. Aku nggak mau merasa anakku nanti malah jadi beban. Rasanya nggak tega membawa satu nyawa kalau kita sebagai orangtua nggak siap. Keadaan dunia juga makin nggak beres begini.” Andi mengernyitkan kening setiap kali mengingat keadaan dunia sekarang.

“iya. Lagian, coba deh kamu pikir, kasihan kan anak-anak itu. Selain enggak bisa memilih siapa orangtuanya, mereka juga enggak bisa memilih kapan dan bagaimana mereka dilahirkan”

“Nah, itu. Yang paling menakutkan kalau punya anak, saat dia bilang dia nggak meminta dilahirkan,” tambah Andi.

Prita merasa dadanya sesak, seolah-olah rongga di balik rusuknya menyempit. Yang dikatakan Andi adalah kalimat yang selalu tebersit dalam benak Prita sejak dulu.

Aku enggak minta dilahirkan. Aku juga enggak mau mempunyai ibu kayak begitu. Kenapa aku harus hidup kayak gini? 9

la sangat mengagumi bagaimana Prita menyikapi dan membicarakan setiap kesulitan, Andi tidak perlu menerka dan mengasah kemampuannya sebagai cenayang, seperti hubungannya dengan para mantan kekasihnya. Seringnya, mereka enggan membicarakan isi hati, tetapi menuntut dimengerti.. 10

selain itu, Prita lebih mementingkan kehidupan setelah menikah dibandingkan memusingkan hari pernikahannya. la tidak mengharapkan resepsi meriah dengan perias mahal dan wedding dress karya orang ternama. Sebagai pekerja lembaga keuangan, mereka berdua memahami pengalokasian dana jangka panjang lebih penting ketimbang pesta satu malam. 16

Prita tahu, membuat anak bersalah karena terlahir adalah hal paling buruk yang bisa dilakukan oleh seorang ibu. Di fain sisi, Prita juga tahu bahwa sulit menjadi ibu; harus beradaptasi dengan kehidupan baru dan mengutamakan buah hati di atas dirinya. Semua itu yang membuat Prita enggan. Memiliki anak adalah perkara nanti bagaimana bukan bagaimana nanti. 31

Saat itu Prita sangat lega, karena dokter mereka sama sekali tidak mempertanyakan keputusan memasang IUD walaupun belum memiliki anak. Dokternya malah berkata lebih baik seperti ini jika belum siap memiliki anak. Pasalnya, anak bukan barang yang bisa tukar tambah. 40

“Dulu keluarga saya bilang punya anak aja, rezeki pasti selalu ada. Ternyata gak segampang itu, Pak. Sekarang yang nyuruhnyuruh punya anak malah tutup mata kalau saya mau meminjam uang, Pak.”

Namun, Andi tidak bisa mengabaikan masalah yang dialami pegawainya begitu saja. la tidak memiliki andil, seperti keluarga Rudi yang menyuruh orang memiliki anak, tanpa memberi tahu apa risiko dan konsekuensinya. 43

Apakah tugas istri hanya sebatas pabrik anak? Pria membatin. la merasa dirinya yang memiliki tubuh dan berhak menentukan pilihannya. Selain disuruh mengandung janin selama sembilan bulan, ia juga dititah untuk siap mempertaruhkan nyawanya saat melahirkan. 51

Menjadi suami istri tidak serta merta memiliki kemampuan telepati. Semuanya tetap harus diutarakan untuk selalu satu paham 59

Seolah Andi melakukan kontak batin dengan ayahnya, ia mendapati apa yang ingin didengar olehnya. Di lain sisi, Andi tahu ayahnya tidak memihak siapa-siapa. Laki-laki yang selalu dikagumi sejak kecil itu selalu bersikap netral; menjadi panutan yang layak dan memperlakukan istrinya dengan baik. Seumurumur Andi tidak pernah melihat orangtuanya bertengkar di depan anak-anaknya. Juga menjadikan contoh untuk anak-anaknya, bukan sekadar memberikan petuah. 85

Respect is earned, not given. 89

Bagi Prita, Andi tidak perlu melakukan hal-hal kejutan yang terlalu mewah. Hal-hal kecil yang megu jauh lebih membuat hatinya menghangat. Ibarat percikan yang selalu terlihat indah, dibandingkan api besar yang akan membakar dan menyengat. bentuk afeksi dan atensi yang kadang terlewatkan oleh pasangan yang sudah bersama selama bertahun-tahun. 91 92

orang berpikir bahwa keputusan mereka untuk tidak memiliki anak seperti dosa besar, padahal mereka tidak membuat siapa merugi. 123

Seorang anak adalah makhluk bernyawa dan berperasaan, tidak seharusnya dijadikan taruhan untuk melihat apakah dirinya bisa menjadi ibu yang baik ataupun tidak. 131

Mau tak mau, Prita bertanya-tanya apakah memiliki organ reproduksi memang satu kewajiban untuk menggunakannya sesuai fungsinya alih-alih sebuah pilihan. 143


ironisnya adalah Andi ingin menjadi seseorang yang melindungi Prita, tetapi semalam dirinya justru yang menyakiti. Bahkan, Andi menjadi ancaman terbesar karena akan jauh lebih mefyakitkan untuk Prita jika berbuat salah. Orang yang paling dekat adalah orang yang paling berbahaya. Mungkin ini yang orang bilang.jatuh cinta tidak boleh pada orang yang sembarang. 171

“Baguslah. Aku maunya kamu cuma bisa mengandalkan aku. Tapi, ya akunya juga harus bisa diandalkan lebih dulu.” 200
Profile Image for Sandra Bianca.
128 reviews4 followers
February 25, 2022
Read this book with open minded!

𝙈𝙚𝙣𝙪𝙧𝙪𝙩𝙢𝙪 𝙥𝙪𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙣𝙖𝙠 𝙞𝙩𝙪 𝙥𝙞𝙡𝙞𝙝𝙖𝙣 𝙖𝙩𝙖𝙪 𝙠𝙚𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨𝙖𝙣?
Terus terang kalimat pembuka itu makes me a little surprised. Sebelumnya aku emang udah tertarik pas baca blurb-nya, yaitu tentang Prita dan Andi yang memutuskan untuk tidak memiliki anak setelah mereka menikah.
Salah nggak sih, kalau mereka memutuskan kayak gitu?
Bagiku sih nggak. Everyone have their own choice.
Keputusan Prita dan Andi ini tentu aja menimbulkan pertentangan, terutama dari ibu dan kakaknya Andi. Maklumlah, pandangan orangtua soal kalau menikah harus punya anak, blah blah....
Well, pandangan itu nggak salah juga sih.

Prita yang memiliki latar belakang sebagai anak yang ditelantarkan mamanya, membuatnya tidak percaya diri akan bisa menjadi seorang ibu yang baik. Sementara Andi yang tumbuh dalam keluarga sempurna pun memiliki pandangan jika ke depannya hidup akan lebih sulit, memiliki anak hanya akan membuatnya merasa bersalah jika tidak bisa membesarkannya dengan baik.

Isi dari buku ini lebih mengeksplor mengenai sudut pandang dan prinsip yang sama sekali bertolak belakang. Dan, bagaimana Prita dan Andi mempertahankan pernikahan mereka di tengah-tengah badai kontra serta masalah-masalah lain yang membuat keduanya salah paham.

Like or dislike?
Like it!
Prinsip dan pilihanku jelas berbeda dengan mereka. Tapi melalui mereka aku bisa lebih memahami kenapa sih orang nggak mau punya anak?
Hidup emang makin susah. Biaya gedein anak beda sama biaya gedein ikan mas koki. Kalau emang ngerasa nggak akan siap dengan kehadiran anak, mending nggak usah sekalian. Daripada ujung-ujungnya anak yang jadi korban. Sedikit banyak aku juga ngebayangin sebuah pernikahan tanpa adanya seorang anak. Nggak deh, pas tua nanti aku pengin gendong cucu kok, haha!

Buku setebal 200++ ini isinya cukup padat. Pokoknya kalau baca buku ini kudu open minded ya. Jangan menghakimi atau malah terseret dengan mereka.

Oiya, jangan harap ada adegan uwuu ala-ala suami-istri. Hubungan Prita dan Andi sebagai suami-istri terasa hambar banget karena di sini terlalu fokus mengeksplor perbedaan pandangan hidup. Nggak ada yang benar atau salah. Just be thoughtful.
Profile Image for Autmn Reader.
883 reviews93 followers
March 21, 2023
Baca di Gramedia Digital.

Buku ini kubaca pas banget lagi booming2nya lagi pernyataan selebgram yang lagi booming. Dan aku jadi bisa membedakan mana yang jadi korban dan mana yang jadi korban dan pelaku. Nah, Prita ini korban dan bukan pelaku. Jadi pas aku baca ini pun, aku memahami kenapa dia memutuskan buat ambil jalan ini. Andi dan Prita ya pasangan yang cocok karena mereka satu visi, dan bisa dipahami juga keduanya kenapa memutuskan buat kayak memilih childfree.

Nah, sepanjang baca ini, aku ngerasa bosen dan datar-datar aja. Aku juga nggak simpati keduanya. Lebih ke, ya terserah aja keduanya mau gimana, enggak merugikan orang lain. Hubungan keduanya juga datar awal-awal tuh.

Terus akhirnya ada perkara Ibu-Ibu. Dan buku inilah yang bikin aku frustrasi dan lelah. 😂 Kek, ya elaaah buuuuu, seneng banget ngurusin idup orang. 😂 Ibunya Prita pun nggak lebih baik. Yah, background 2 tokoh utamanya itu emang jadinya kuat sih buat mengambil keputusan-keputusan mereka.

Nah terus, munculah hal ini:


Over all, bukunya readable, sih. Cuman bosen aja di awal karena emang datar2 aja ceritanya.
Profile Image for Meiliana Kan.
242 reviews52 followers
December 31, 2021
Actual rating 3.8 ⭐

Menurutku buku ini mengangkat tema yang sangat menarik, tentang pasangan muda, Prita dan Andi, yang menikah dan kemudian memutuskan untuk childfree, yang mana masih menjadi hal tabu di sini (yah buktinya kemarin sempat heboh begitu ada influencer yang memutuskan untuk childfree).

Konflik terjadi ketika ibunya Andi (yang menjadi mertua Prita) dan Fitri, kakaknya Andi (yang menjadi iparnya Prita) mendorong-dorong mereka untuk punya anak. Setiap kali ada acara keluarga pasti muncul pertanyaan, "udah isi belom?" dari mereka ataupun dari kerabat lain yang hobi ikut campur. Yah dari awal menikah, Prita dan Andi memang sudah memutuskan untuk gak mau punya anak tapi mereka gak bilang ke ortu mereka. Emang gak harus juga, sih. Cuma ya karena orang-orang sini masih mikirnya "kalau nikah ya harus punya anak" jadi begitu ortu mereka tau langsung syok.

Isu patriarki kental sekali di angkat di novel ini. Kayak hampir setiap bab pasti ada aja stigma yang dilontarkan oleh Ibu dan Fitri ke Prita dan Andi, tapi sebagian besar dilontarkan ke Prita. Ku gemes banget sama Ibu dan Fitri tapi masih bisa paham sih kenapa mereka begitu. Istilahnya masih old school gitu lah pikirannya gak mau nerima kalau zaman udah berubah. Mereka mikirnya punya anak ya punya anak aja, gak usah mikirin nanti anaknya bakal kayak gimana gedenya atau ngurusnya gimana. Maka Prita bilang, "Memiliki anak itu perkara 'nanti bagaimana' bukan 'bagaimana nanti'" dan aku mengangguk-angguk setuju dengan perkataannya itu.

Menurutku Prita dan Andi ini kayak potret pasangan milenial yang punya banyak pertimbangan yang matang sampai akhirnya mereka memutuskan untuk childfree. Lalu, menurutku cara penuturan penulis tuh cukup enak untuk diikuti (walau bagiku ada beberapa bagian yang terlalu deskriptif, tapi ini tergantung selera, sih) tapi aku merasa agak risih dengan perpindahan scene yang kurang smooth. Kayak kalimat atasnya nyeritain apa, begitu ganti paragraf tau-tau udah beda scene. Dan endingnya menurutku agak bisa ketebak gitu, setelah semua konflik yang terjadi, datangnya bertubi-tubi pula, tapi reda gitu aja. Agak kurang gimana gitu. Tapi overall aku suka sih dengan ceritanya, menarik banget karena ngangkat topik yang gak umum di masyarakat. Udah masuk era Citizen 4.0 tapi perkara punya anak atau gak aja masih diributin berbagai pihak, yang hamil siapa yang lahirin siapa kok situ ngatur-ngatur 🙃🙃

Oiya satu lagi, di awal-awal aku sempet sebel sama Kenzo, sih. Malah aku lebih sebel sama Kenzo daripada sama Ibu dan Fitri 🤣🤣
Profile Image for jian..
77 reviews4 followers
November 21, 2021
Akhirnya aku bisa menuntaskan buku ini, meskipun agak lama selesainya karena aku harus selalu mengambil jeda dan menetralkan emosi akibat kelakuan Ibu mertua dan Ipar dari Prita.

Sebelum memutuskan untuk menikah, Prita dan Andi telah sepakat untuk tidak memiliki anak atau yang akhir-akhir ini trending dengan kata lain, yaitu childfree. Selain karena alasan utama yang Prita kemukakan, alasan-alasan lain yang membuat mereka memutuskan untuk tidak memiliki anak itu, menurutku cukup logis. Apalagi setelah melihat Fitri, kakak dari Andi yang memiliki tiga hampir empat anak dengan segala kerepotan yang terpampang nyata di depan merek.

Keluarga Andi selalu bertanya mengapa mereka belum juga memiliki anak, padahal sudah 2 tahun menikah. Bahkan Ibu Andi menyuruh mereka untuk segera periksa ke dokter. Inilah awal mula masalah dalam rumah tangga mereka.

Aku suka dengan topik yang diangkat penulis dalam cerita ini, berbeda dengan kebanyakan. Apalagi beberapa waktu yang lalu, ada statment dari influencer yang cukup terkenal mengenai keinginan mereka untuk childfree. Yang mana, itu menjadi topik hangat dan sempat trending di sosial media.

Aku bisa menerima alasan Prita dan Andi untuk tidak memiliki anak. Menurutku itu sangat reasonable apalagi di era yang sekarang ini. Cuma, mungkin masyarakat di sekitar kita masih awam dengan hal ini dan menganggapnya tabu, padahal di luar negeri ini hal yang lumrah terjadi dalam hubungan suami istri. Kebanyakan orang-orang berpikir, siapa yang bakalan merawat kita kalau tua dan sakit-sakitan nanti? Siapa yang bakalan mengirimkan doa kepada kita, kalau nanti kita telah tiada? Padahal itu menurutku tergantung pribadi masing-masing aja, sebab semua itu pasti ada jalannya dan sudah dipikirkan dengan baik oleh mereka penganut childfree.

Di buku ini, yang paling bikin aku emosi dan rasanya darahku mendidih itu, Ibu Andi dan Fitri, kakak dari Andi. Mereka berdua ini bagaikan sekutu yang selalu siap sedia menjajah menantu dan ipar. Aku tidak suka dengan cara Ibu Andi memojokkan Prita dan menganggap Prita sebagai perempuan yang menyalahi kodratnya. Lalu, ada Fitri si tukang kompor yang selalu menjadikan Prita sebagai tameng untuk memarahi anak-anaknya.

Aku suka ending dari buku ini. Kunci dari rumah tangga itu, saling terbuka, komunikasi, saling percaya, dan tidak mendengarkan perkataan orang lain. Karena, dalam rumah tangga itu yang menjalani istri dan suami, bukan mertua, ipar ataupun orang lain.

Kudos for the author of this wonderful book!
Profile Image for Laaaaa.
208 reviews5 followers
October 15, 2021
temanya menarik, ga kayak metropop kebanyakan.
isu yg diangkat relate sama kehidupan pasangan di luar sana. ya diatur mertua, ya jadi generasi sandwich. riweuhnya ga main2 emang, capeknya juga ga ketulungan. capek fisik dan capek ati.

perempuan kodratnya punya anak, melayani suami di rumah, dll yg selalu digembor-gemborkan. di sini emang kek kebanyakan keluarga lain, kalo ada yg salah di antara pasangan pasti yg dicari kesalahannya adalah pihak perempuan. ya walaupun gak semuanya gitu. tapi yg namanya orang tua pasti ngebela anaknya dong. subjektif. tanpa mau dengar dari pihak anaknya dan menantunya. ya intinya gitu deh.

semoga kita2 bisa terhindar dari mertua yg kata2nya nyakitin kek emaknya si andi. aamiin.

eh bentar ada kalimat yg menarik buatku:
memiliki anak adalah perkara NANTI BAGAIMANA bukan BAGAIMANA NANTI.
liat aja si fitri, kewalahan kan. dia juga malah nyalahin anaknya. dia yg punya anak kan harusnya tau konsekuensi kalo punya anak. gimana dah
Profile Image for Acipa.
141 reviews12 followers
December 9, 2021
buku yang terbilang adem tanpa klimaks yg segimananya, tp openingnya cakep sih jujur jd page turning abis, tau tau gak berasa aja gt, literally couple goals banget Prita - Andi ini, bisa saling ngertiin dan mahamin satu sama lain… kudos!
Profile Image for Ayu Welirang.
Author 17 books93 followers
June 4, 2022
Widih! Kelar dong hanya dalam waktu 3.5 jam. Jadi, biar bisa ikutan #BanyakBacaMetropop, gue subscribe dulu Gram Digital wkwkw. Sebenernya akhir2 ini nggak subscribe, karena lagi ngabisin timbunan lain yang masih banyak. Cuma setelah dipikir2, mau baca dulu berbagai Metropop ah buat meringankan otak pasca menulis thriller. 😂😂😂

Dan gue suka Ours! Meskipun beberapa ulasan bilang bahwa buku cukup stressful, kacau, waduh banget, gue tidak merasakannya. Mungkin karena apa yang gue rasakan, cukup relate dengan Prita dan Andi.

Gue sama suami memang bukan penganut childfree sih, tapi juga bukan penganut yang pengin buru2 punya anak juga. Gue mikirnya, kami berdua menikah buat bahagia, senang, dan menikmati kehidupan berdua. Jadi, dengan hal-hal yang diutarakan Prita, juga alasan keduanya, gue relate aja kok, karena emang benar.

Respons keluarga juga wajar, bukan yg nyebelin banget. Ya, karena emang sebagian besar masyarakat yang seumuran orang tua gue, pasti akan beranggapan seperti ibunya Andi. Pilihan hidup serta akses perempuan dulu, berbeda dengan perempuan sekarang. Makanya kayak terjadi gap kultur terhadap pilihannya Prita dan Andi.

Gue suka sih sama Andi yang terus dukung Prita, walau di bagian tengah dia juga cukup terbebani dengan banyak masalah. Buat gue, konfliknya bagus dan memang realistis, karena begitulah adanya. 🤣

Hanya saja, ada beberapa minus. Gue agak terganggu sama perubahan adegan dan latar yang tiba-tiba. Mungkin karena nggak pakai batas (misalnya *** atau *), untuk menunjukkan perubahan adegan. Atau ini cuma ada di versi digitalnya doang? Entahlah~

Jadi gue bingung dan kadang mengernyitkan dahi sih, pas Prita lagi diskusi sama Andi, eh kok tiba2 ada Fitri? Atau tiba2 beralih ke Saskia? Lah, tadi bukannya lg diskusi sama Andi? Rasanya nggak smooth aja pemotongan adegan itu.

Banyak typo juga yang masih gue temukan di versi gramdig (moga aja di versi cetak gak ada ya). Misalnya, Prita jadi Pria, atau rentan waktu padahal harusnya rentang waktu. Dan lain sebagainya. Nggak krusial sih selama gue masih paham konteks kalimatnya, jadi masih bisa dimaafkan.

Oh ya, gue juga awal2 nggak suka sama Kenzo, abis munculnya ngeselin. Kayak yang ngurusin amat rumah tangga orang. Tapi setelah ke belakang dijelaskan, ternyata dia cuma mau berbagi saran rumah tangga, karena dia menyesal telah gagal. Oke, nice. Gue pikir mau jadi pebinor dia. 😂😂😂

Overall, ini MetroPop yang beda dan gue cukup suka. Karena nyaris barengan keluarnya sama Semangat Tante, Sasa, gue masih lebih simpati sama tokoh di Ours sih daripada Sasa. 🤣🤣🤣🤣

Rating: 4.4/5
Profile Image for Ra..
123 reviews14 followers
April 14, 2023
Buku ini mengangkat tema childfree yang mungkin di Indonesia mulai banyak dibicarakan. Karena sesuai dengan paham ibunya Andi sang suami, kalo sudah seharusnya pasangan yang menikah itu mempunyai anak. Mengetahui Prita dan Andi memutuskan untuk tidak memiliki anak, tentu saja membuat ibunya mencak-mencak (?) Belum lagi permasalahan dengan Ibu kandung Prita yang menjadi salah satu alasan Prita dan Andi memilih untuk childfree. Permasalahan yang datang dari berbagai sudut membuat Prita dan Andi semakin sulit berkomunikasi. Hingga akhirnya permasalahan mereka dapat diselesaikan dengan komunikasi, tentunya hal ini menjadi reminder bagiku kalo komunikasi memang sangat penting dalam berlangsungnya suatu hubungan baik dengan pasangan, keluarga, maupun teman.
Profile Image for Isthi.
31 reviews1 follower
March 18, 2022
Jujur, pusing banget ditiap halamannya. SEBELLLLL. Konflik zaman sekarang. Lagi-lagi diingatkan, betapa pentingnya menjaga komunikasi yang baik dan jangan ikut campur urusan orang lain. 👍
Profile Image for Elisabeth Beatrice.
161 reviews8 followers
January 6, 2022
Final Review~

"Bukannya mengajari kurang ajar, ya. Maksudnya kan kita tidak bisa mengendalikan orang, tapi kita bisa mengendalikan diri. Ya, dengan tidak usah didengar itu." - Pg. 85

Selesai! Ini adalah kali pertama aku membaca karya Kak Adrindia.

Sedari awal membaca, sudah dihadapkan pada pertanyaan yang tentu saja dapat memicu konflik, yaitu tentang keinginan Prita yang tidak ingin memiliki anak karena trauma dengan masa kecilnya. Beruntung bagi Prita karena Andi juga memiliki pandangan yang sama walau dengan alasan yang berbeda.

Tetapi, di negara ini, pertanyaan "kapan punya anak?" akan selalu muncul. Dalam kasus Prita dan Andi, keluarga besar Andi yang "nyinyir" dan terlalu memaksakan kehendak bahwa setiap pasangan yang menikah harus memiliki anak. Belum lagi tanpa sadar perkataan sebagian anggota keluarga yang menyakiti baik Prita maupun Andi.

Padahal menurutku pribadi, setiap pasangan memiliki pilihan. Lebih baik tidak memiliki anak, daripada nantinya hanya untuk ditelantarkan. Anak juga bukanlah jaminan masa depan orang tuanya. Malah seharusnya orang tualah yang menjamin masa depan anak.

Isu childfree ini selalu menjadi pro dan kontra, di dalam buku ini Kak Adrindia menyampaikannya dengan baik. Di sini kita diajak untuk menyelami lika-liku pernikahan Andi-Prita, serta bagaimana efeknya ketika keluarga besar mengetahui keputusan besar mereka berdua. Belum lagi konflik yang muncul dari kedai kopi yang dimiliki oleh Andi.

Secara keseluruhan aku menyukai kisah ini. Baik Andi maupun Prita adalah pasangan muda yang sama-sama mau belajar memahami dan membangun rumah tangga yang harmonis, meski tidak memiliki anak.
Profile Image for Farajour.
15 reviews1 follower
December 3, 2022
Satu kata untuk tema yang diangkat pada buku ini, yaitu tentang "Childfree".
Keputusan dalam memilih tidak memiliki anak setelah menikah/childfree, bagaimana menurutmu?

Yakin deh, semakin kalian baca halaman per halaman, pertanyaan di kepala akan semakin bercabang. karena, dimana akan dikaitkan dengan keinginan/kebutuhan keluarga untuk memiliki keturunan. Pro dan kontra tentu saja ada. Kodrat wanitapun juga akan dipertanyakan.
Sebenarnya tokoh-tokoh di buku ini memiliki luka di masa lalu yang perlu di sembuhkan. Dimulai dengan bagaimana Prita dibesarkan oleh ibu yang memiliki Syndrom baby blues sehingga membuat Prita khawatir tentang anak begitupun Andi memikirkan permasalahan perekonomian jangka panjang.

Aku berharap cerita ini bisa di film kan si hehe, atau justru udah ada film yang mirip-mirip? Let me know :))
Profile Image for Amaya.
749 reviews58 followers
October 5, 2021
First book yang kubaca less than 24 hours wow! Memang ceritanya nggak panjang dan belibet, malah langsung terkesan mengena di satu topic. Sebenarnya nggak hanya satu pelajaran juga yang bisa dipetik, banyak malah. Walaupun aku belum merasakan di tahapan Andi atau Prita, tapi side valuenya ada yang relate dengan real life-ku, sehingga kurang lebih baca ini sekalian curhat begitu. Kalau soal tokoh aku lebih ke hate-love sama mereka berdua. Hate di sini lebih ke yes i hate that personality even in real life. Apakah ini realistic fiction? Karena kurasa semua di dalamnya nggak ada yang meleset, alias dinamika dalam kehidupan tuh seperti itu.

Anyway, sukses buat penulisnya, ditunggu karya-karya selanjutnya xD
Profile Image for Yessie L. Rismar.
136 reviews2 followers
December 8, 2021
Ours bercerita tentang Prita dan Andi yang sepakat untuk tidak memiliki anak. Sayangnya, keduanya tidak berterusterang kepada orangtua, sehingga itu menjadi konflik yang rumit.
.
.
Masalah childfree ini memang sempat ramai jadi topik beberapa waktu lalu, dan saya merasa cocok banget dengan terbitnya novel ini.
.
.
Untuk karakter, saya merasa Andi lebih menonjol dibanding Prita. Bisa dibilang dia tipe suami idaman gitulah, yang pengertian banget sama istrinya.
.
.
Alurnya cepat, gaya bahasanya ringan, jadi enak dan mengalir aja bacanya. Sayangnya, saya merasa bagian Prita dengan keluarganya sendiri kurang digali. Pun dengan sahabatnya, juga dengan Kenzo yang menurut saya berpotensi bikin cerita semakin greget dan seru.
.
.
Untuk Ours, saya kasih 3.5 bintang.
Profile Image for Ila Rizky Nidiana.
65 reviews75 followers
November 4, 2021
Novel Ours ini salah satu novel metropop yang bisa selesai dibaca dalam waktu singkat. Asli, bacanya super kilat. Sehari aja udah kelar. 😁

Konfliknya intens dan bikin mikir, "iya juga ya, ga punya anak itu kan keputusan yang bakalan lama, ga hanya untuk satu hari." Jadi harus dipikirin bener-bener.

Overall suka sama tema childfree yang dibahas. Jadi bisa lihat sisi lain dari keluarga Prita dan Andi. Karena tiap orang memiliki alasan untuk suatu keputusan apapun, jadi kita nggak bisa menjudge sebelum merasakannya sendiri.

Review lengkap di blog ya. Klik linknya :

https://resensi.ilarizky.com/2021/11/...
Profile Image for Lulu Khodijah.
439 reviews10 followers
November 2, 2021
Seperti biasa, kecepatan membaca fiksi sungguh kilat.

Konflik di novel ini adalah hal yg benar-benar selalu ada di pikiranku ttg menikah. Memang ternyata menikah bukan ttg 2 org tetapi 2 keluarga.

Dari paragraf awal memulai buku ini aja pertanyaannya udah menohok. Pasangan Prita-Andi bukan yg sempurna meski udah menyamakan prinsip dr awal. Tetep aja kan berkonflik pd suatu titik. Ini udah mirip sm real life :")

Cuma kecewa di ending aja sih kurang greget 😅
Profile Image for Khurin W. F..
192 reviews9 followers
February 19, 2023
Premis yang diangkat dari buku ini adalah topik yang akhir-akhir ini lagi hangat diperbincangkan: childfree. Menceritakan tentang Prita dan Andi, pasutri yang sejak sebelum menikah sepakat untuk tidak memiliki anak. Hal ini salah satunya disebabkan karena kehidupan masa lalu prita dengan mamanya yang meninggalkan trauma selama bertahun-tahun.

Plot dari cerita ini tidak padat, hanya berputar pada Prita dan Andi yang dituntut untuk konform pada standar masyarakat. Hampir setiap hari dilewati dengan serangan pertanyaan kapan punya momongan. Untungnya, Andi dinarasikan sebagai laki-laki yang tenang dan bisa menjadi support system bagi Prita.

Namun, inilah salah satu hal yang membuat aku sedikit kurang nyaman selama membaca buku ini. Andi is too good to be true. Karakternya nyaris tidak memiliki kekurangan sama sekali. Kekurangannya hanya terlihat (setidaknya bagiku) saat menuju bab akhir, itu pun hanya sekali saja.

Selain itu, aku merasa ada ketimpangan selama membaca buku ini. Aku merasa para ibu yang dijadikan tokoh di buku ini digambarkan sebagai ibu yang kurang baik terhadap anak-anaknya maupun orang lain. Mama Prita, ibu Andi, Fitri, dan mertua Kenzo. Cuma satu tokoh yang digambarkan bisa menjadi ibu sekaligus perempuan karir yang baik: Mbak Tari. Sayangnya, Mbak Tari hanya disebutkan sekilas saja. Jadi, alih-alih memberi pesan kalau kita berhak memilih apa yang terbaik untuk diri kita, pesan tersebut menurutku kurang tersampaikan karena ketimpangan ini.

Last, I think it would be nice if we explore more about the dynamic between Prita and her mum. Memang sudah dijelaskan, tapi menurutku masih kurang tergambarkan apa yang dilakukan mama Prita kepada anaknya itu sampai-sampai meninggalkan trauma yang sangat mendalam.
Displaying 1 - 30 of 142 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.