Jump to ratings and reviews
Rate this book

Sugi dan Laura #1

Silent Demon

Rate this book
Detektif Sugi sama sekali tidak mengira bahwa pembunuhan seorang perempuan asing di stasiun MRT Jakarta akan mengarah pada situasi yang sangat berbahaya. Ibu kota ternyata terancam wabah virus mematikan. Bersama detektif Laura, Sugi harus berkejaran dengan waktu untuk menangkap pelaku yang amat licin, atau malapetaka besar takkan bisa terhindarkan.

232 pages, ebook

Published September 9, 2021

5 people are currently reading
58 people want to read

About the author

Fino Y. K.

3 books2 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
9 (9%)
4 stars
27 (27%)
3 stars
53 (54%)
2 stars
7 (7%)
1 star
2 (2%)
Displaying 1 - 30 of 30 reviews
Profile Image for Fahri Rasihan.
478 reviews124 followers
October 18, 2021
• Judul : Silent Demon
• Penulis : Fino Y. K.
• Penerbit : Elex Media Komputindo
• Terbit : Edisi Digital, 2021
• Tebal : 225 halaman

"𝘚𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘶𝘬𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯, 𝘴𝘦𝘱𝘢𝘯𝘥𝘢𝘪 𝘢𝘱𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘬𝘪𝘵𝘢, 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘮𝘦𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘶𝘴𝘶𝘩." (hal. 16)

Kematian seorang perempuan warga negara asing di dalam gerbong MRT di Senayan, mengharuskan Sugi untuk menyelidikinya. Sugi sendiri merupakan seorang detektif kepolisian yang sudah lama tidak menangani kasus-kasus seperti ini. Kematian perempuan itu bisa dibilang sangat mencurigakan. Tanpa alasan yang jelas ia kejang-kejang dan tewas seketika. Menurut penyelidikan, perempuan tersebut merupakan WNA asal Inggris yang bekerja sebagai model. Namun faktanya, status model tersebut hanyalah kedok untuk menutupi identitas aslinya sebagai intelijen dari Inggris. Setelah mengetahui profesi sesungguhnya dari perempuan bernama Gilliard Roberts itu, Sugi yakin ada sesuatu yang lebih besar dari hanya sekadar kasus pembunuhan. Apalagi sampai melibatkan intelijen dari negara Britania Raya. Dibantu sesama rekan dari kepolisian, Laura, Sugi berusaha untuk mengungkap motif di balik tewasnya Gilliard Roberts. Penyelidikan mereka membawa kepada sebuah fakta yang ternyata dapat membahayakan ibu kota Jakarta dalam serangan virus yang berbahaya.

Penyelidikan Sugi dan Laura membawa mereka terhadap fakta yang melibatkan BIN (Badan Intelijen Negara) dalam kasus ini, bahwa seorang profesor dari Inggris bernama Alan Murdoch telah dibunuh. Professor Alan Murdoch diketahui tengah melakukan penelitian dalam menggabungkan dua virus yang berbahaya bernama C1. Di mana virus tersebut bisa membunuh dan menular dengan cepat. Pelaku yang membunuh Alan Murdoch diduga telah mencuri data dan virus C1 tersebut untuk kepentingan terorisme. Oleh karenanya, intelijen Inggris dikirim ke Indonesia karena disinyalir pelaku pembunuhan tersebut adalah orang Indonesia. Tidak hanya itu, pelaku juga memiliki kemampuan siber yang sangat handal, sehingga sulit untuk dilacak keberadaannya. Tidak hanya di dunia nyata, komplotan teroris itu juga kerap beraksi di dunia maya. Kini, Sugi dan Laura berusaha untuk memburu pelaku terorisme yang sedang berencana menyerang kota Jakarta menggunakan senjata biologis. Dapatkah Sugi dan Laura menemukan pelaku teror tersebut? Siapa dalang di balik ini semua?

"𝘏𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘥𝘦𝘳𝘩𝘢𝘯𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢, 𝘬𝘦𝘤𝘶𝘢𝘭𝘪 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘺𝘢. 𝘐𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘸𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘪𝘳𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭, 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘮𝘣𝘪𝘴𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘤𝘪𝘵𝘢-𝘤𝘪𝘵𝘢. 𝘔𝘢𝘴𝘢 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘱𝘪𝘩𝘢𝘬 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘦𝘯𝘤𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢." (hal. 149)

Tidak disangka-sangka ternyata Elex Media Komputindo telah menerbitkan sebuah novel lokal dengan 𝘨𝘦𝘯𝘳𝘦 investigasi secara digital. Sayangnya, novel berjudul Silent Demon ini masih kurang terdengar gaungnya di telinga pembaca. Padahal ceritanya sendiri tidak kalah menarik dengan novel-novel investigasi dari luar negeri. Rasanya seperti menemukan jarum dalam tumpukan jerami saat saya bisa membaca novel ini, karena ceritanya yang bagus tidak sebanding dengan promosinya yang masih terasa kurang kencang. Dari tampilan 𝘤𝘰𝘷𝘦𝘳 bukunya sendiri sebenarnya terlihat cukup menarik dengan permainan warna yang memikat mata. Hiruk pikuk kota metropolitan, yaitu Jakarta tampak terdefinisikan dengan lugas dalam ilustrasi 𝘤𝘰𝘷𝘦𝘳 bukunya. Apalagi kota Jakarta digunakan sebagai latar tempat berjalannya cerita, sehingga terasa sangat sesuai dengan 𝘤𝘰𝘷𝘦𝘳 bukunya. Selain itu, ilustrasi 𝘤𝘰𝘷𝘦𝘳 bukunya pun terlihat artistik, sehingga tidak terkesan kaku dan membosankan. Namun, mungkin 𝘤𝘰𝘷𝘦𝘳 bukunya akan tampak lebih menarik lagi jika dibuat dengan ilustrasi yang menampakkan dua tokoh utamanya, Sugi dan Laura.

Silent Demon memiliki tema investigasi dan aksi yang didipadukan dengan komposisi yang pas. Diceritakan seorang detektif polisi bernama Sugi yang harus menyelidiki sebuah kasus pembunuhan yang korbannya merupakan seorang wanita asing. Bersama rekannya, Laura, Sugi menemukan fakta yang mengejutkan, bahwa kasus yang sedang ia selidiki ternyata jauh lebih besar dari hanya sekadar kasus pembunuhan. Ada sekelompok teroris yang sedang berencana untuk menghancurkan kota Jakarta. Dan pemimpin kelompok tersebut memiliki kemampuan siber yang sangat mengagumkan. Membaca Silent Demon mengingatkan saya akan novel-novel Tsugaeda karena memiliki 𝘷𝘪𝘣𝘦𝘴 yang serupa. Salah satu keunggulan yang saya sukai dari novel ini adalah sistem kerja Polri yang diperlihatkan dengan baik di sini. Jujur selama ini saya selalu penasaran dengan sistem kerja Polri dan Silent Demon berhasil menjawab rasa penasaran saya. Riset yang dilakukan penulis terbilang kuat dan serius, sehingga menciptakan kerangka cerita yang kokoh. Profesi Sugi sebagai polisi tidak hanya sekadar tempelan atau iming-iming belaka, tapi memang menjadi sumber kekuatan ceritanya.

Ada dua tokoh utama yang sangat saya sukai dalam novel ini, yaitu Sugi dan Laura. Keduanya adalah tokoh yang tidak mudah untuk dilupakan, karena memiliki karakter yang kuat. Sugi adalah seorang polisi yang memiliki rekam jejak yang bagus selama berkarier menjadi polisi. Sebelum ditugaskan di Jakarta, Sugi merupakan salah satu polisi terbaik di Yogyakarta. Perangai Sugi yang kalem, sederhana, tapi juga berbahaya menjadikan tokoh Sugi mudah untuk disukai. Selain itu terdapat juga tokoh Laura, seorang polisi wanita yang ikut membantu Sugi. Laura digambarkan sebagai wanita yang kuat, tangguh, dan mandiri. Meskipun terlahir dengan fisik yang rupawan serta keluarga yang berada, tapi Laura lebih memilih menjadi abdi negara dengan usahanya sendiri. Kesigapan Laura dalam membaca situasi dan mengambil keputusan bisa menjadi daya tarik yang membuat saya kagum akan sosoknya. Penulis dapat menciptakan karakter yang kuat untuk setiap tokoh yang ada, meskipun latar belakang mereka hanya dibahas secara tipis-tipis. Karakter yang menonjol ini menambah kekuatan dalam jalan ceritanya. Tidak hanya Sugi dan Laura yang memiliki karakter yang kuat, tapi tokoh-tokoh lainnya pun dapat dibuat hidup dengan keunikan mereka masing-masing. Pendalaman karakter yang dihadirkan penulis dapat membangkitkan gairah saya untuk terus membacanya.

Latar belakang kota Jakarta yang dipergunakan di sini amat sangat terasa atmosfernya. Mulai dari jalan rayanya yang padat merayap, gedung-gedung pencakar langit yang bertebaran, hingga hiruk-pikuk yang menyertainya. Penulis seakan paham bagaimana caranya menghidupkan 𝘴𝘦𝘵𝘵𝘪𝘯𝘨 tempat untuk jalan ceritanya. Berbagai daerah dan lokasi yang ada di Jakarta disebutkan di sini. Di awal cerita saja pembaca sudah diajak untuk melihat kasus pembunuhan yang terjadi di sebuah MRT. Sudut pandang orang ketiga dipilih sebagai narasi untuk bercerita. Hampir semua tokoh yang terlibat diberi kesempatan untuk bercerita. Penggunaan sudut pandang ini terasa tepat, karena pembaca dapat melihat berbagai perspektif dari beberapa tokohnya. Gaya bahasa dan bercerita penulis tergolong ringan dan sederhana, sehingga dapat membuat pembaca dengan mudah melahap setiap kepingan ceritanya. Silent Demon ini merupakan jenis novel yang 𝘱𝘢𝘨𝘦 𝘵𝘶𝘳𝘯𝘦𝘳. Alur ceritanya pun terbilang cepat dan 𝘵𝘰 𝘵𝘩𝘦 𝘱𝘰𝘪𝘯𝘵. Penulis tidak mencoba untuk bertele-tele atau mengulur-ulur waktu hanya untuk memanjangkan cerita. Semua aspek ceritanya dibuat lugas dan jelas, sehingga mampu membuat betah untuk membacanya.

Permasalahan yang terjadi di Silent Demon bisa dibilang cukup kompleks. Terdapat berbagai kasus yang menyertai konflik utamanya. Mulai dari pembunuhan, pencurian, hingga ancaman teror yang mematikan. Konflik yang diciptakan oleh penulis terbilang 𝘦𝘹𝘵𝘳𝘢𝘰𝘳𝘥𝘪𝘯𝘢𝘳𝘺. Penulis dapat menangkap situasi yang terjadi saat ini dan mengemasnya menjadi sebuah konflik yang menarik. Isu-isu seperti kesenjangan sosial, pemerintahan, hingga pandemi dapat digabungkan ke dalam sebuah konflik yang memicu rasa penasaran. Sugi dan Laura dituntut untuk segera menuntaskan kasus teror yang mengancam kota Jakarta. Bahkan dalam penyelidikannya sampai melibatkan BIN dan MI6 dari Inggris. Bisa dibayangkan kekacauan seperti apa yang diciptakan oleh kelompok teroris tersebut. Alasan yang menyertai terjadinya teror sebenarnya masih belum terasa kuat, tapi masih dapat diterima oleh nalar. Penyelesaian konfliknya pun tidak terkesan dipaksakan dan justru malah terasa mengalir apa adanya. Saya suka dengan eksekusi penulis dalam menghadirkan konfliknya secara perlahan-lahan.

Senang sekali rasanya dapat menemukan novel investigasi yang apik seperti ini. Selain novel-novel Tsugaeda, kehadiran Silent Demon juga dapat menambah kemeriahan dalam 𝘨𝘦𝘯𝘳𝘦 ini. Saya suka dengan dunia kepolisian yang dibahas di sini. Rasanya masih jarang sekali novel investigasi yang memasukkan dunia kerja Polri dalam ceritanya. Karakter tokohnya yang kuat juga menjadi nilai tambah yang semakin membuat novel ini layak untuk dibaca. Gabungan investigasi dan aksinya pun dapat membuat jantung berdegup kencang. Penulis mempunyai keahlian dalam menghidupkan karakter, latar tempat, dan adegan, sehingga dapat menciptakan cerita yang solid. Kekurangan yang saya temukan hanya terletak di penyebutan nama yang terkadang tertukar. Selain itu kurangnya promosi dari penerbit juga sedikit disayangkan, karena Silent Demon ini seperti 𝘩𝘪𝘥𝘥𝘦𝘯 𝘨𝘦𝘮 yang masih belum banyak yang tahu. Semoga kedepannya novel ini akan dirilis juga versi cetaknya, karena jujur ceritanya bagus banget. Bagi kamu yang ingin mencoba membaca sesuatu yang baru dan berbeda dari novel lokal, Silent Demon bisa menjadi pilihan yang tepat. 𝘍𝘺𝘪 Silent Demon baru rilis secara digital dan bisa diakses di Gramedia Digital.
Profile Image for Lelita P..
632 reviews59 followers
December 20, 2021
Wah, seru. Rasanya kayak nonton film aksi Hollywood. Saya suka betapa novel ini ditulis dengan sangat detail. Pasti risetnya nggak main-main.

Sepertinya ini pertama kalinya saya membaca novel yang betul-betul menceritakan kisah perburuan penjahat di Indonesia dengan seorang detektif Polri sebagai tokoh utamanya. Senang banget sih, jadi kebuka mata saya tentang cara kerja bagian reskrim Polri. Selama ini saya cuma bisa membayangkan saja gimana cara kerja Polri dalam mengungkap suatu kasus kriminal. Kayaknya saya malah lebih tahu gimana cara kerja polisi US, UK, Korsel, dan Jepang, soalnya mereka kan banyak memproduksi serial TV/drama/komik/anime bergenre crime/thriller (bahkan comedy! *lirik B99*) yang menceritakan tentang kepolisian mereka. Sementara di Indonesia, jarang sekali saya menemukan karya fiksi lokal (dalam bentuk apa pun) yang menceritakan tentang Polri mengusut kasus. Dulu pernah ada sih, serial Enigma yang tayang di NET, sayang episodenya cuma dikit. Selain itu kayaknya saya belum pernah nemu lagi. Apakah memang cara kerja Polri serahasia itu sampe nggak bisa diungkap ke publik? Atau mungkin memang jarang ada penulis Indonesia yang punya akses ke sana sehingga memang sulit menulis kisah dengan latar kepolisian? Atau... barangkali cerita-cerita lain semacam itu sudah ada, sayanya aja yang kudet. Haha.

Makanya, baca Silent Demon ini rasanya nyenengin banget karena membuka mata saya tentang dalem-dalemnya Polri. Apalagi kan ya... belakangan ini tingkat kepercayaan masyarakat ke Polri sedang menurun banget. Novel ini jadi berkesan karena menunjukkan sisi lain Polri.

Itulah kenapa, saya setuju banget sama kata-kata di novel ini:

Memang Jakarta tidak sempurna, banyak pejabatnya korup, banyak pula polisi tidak baik. Tetapi tentu tidak bisa dipukul rata. Saat di Yogyakarta, ia tahu ada beberapa anggota dewan atau pejabat korupsi besar. Ia tahu pula tidak kalah banyak yang benar-benar berdedikasi, tidak makan uang rakyat sama sekali.
Polisi pun sebagian oknumnya tidak benar, tapi tidak sedikit pula yang sungguh-sungguh bekerja. Rasanya, itu terjadi di semua sektor kehidupan, tidak semua manusia punya kompas moral yang sama. (halaman 74)


Saya suka karena novel ini menyajikan sudut pandang yang fair. Masyarakat umum--terutama yang sudah pernah merasa dikecewakan kepolisian--tentunya hanya bisa memandang dari satu sisi karena hanya tahu apa yang tampak dari luar, tidak tahu dalamnya seperti apa. Protagonis novel ini memang detektif polisi, tapi saya senang karena sudut pandangnya terhadap institusi Polri dibuat adil dan realistis, sebagaimana kata-kata yang saya kutip di atas.

Untuk kasus dan cerita novelnya, seru dan bikin penasaran. Sebagai penggemar berat cerita detektif yang sudah banyak sekali membaca berbagai macam cerita detektif, menurut saya kasus yang diangkat dalam cerita ini lumayan oke. Kekuatan terbesarnya memang di detail ceritanya, sih. Soalnya banyak banget aspek yang di-cover dalam novel ini selain seluk beluk kepolisian itu sendiri, di antaranya terkait teknologi, peretasan komputer, virus, dan sebagainya. Semua bagian itu dituliskan dengan detail (secara teknis, lho!) sehingga tidak kerasa hanya sebagai "tempelan". Bahkan latar tempatnya juga riil--itu pasti dipikirkan benar-benar. (Kebetulan saya pernah lewat daerah-daerah yang disebutkan di novel ini, jadi kebayang rutenya. Nggak sembarangan lho merancang detail lokasi, tempat, dan rute perjalanan dalam fiksi yang berlatar di kota yang sungguhan ada--harus dibuat masuk akal juga.) Luar biasa sekali penulisnya, menghimpun pengetahuan dari berbagai hal tersebut dan memasukkannya menjadi sesuatu yang benar-benar hidup dalam novel ini. Makanya di awal reviu ini saya bilang, riset untuk novel ini pasti sangat mendalam.

Untuk gaya penceritaannya, lumayan mengalir. Bahasanya lugas, praktis, to the point--saya kira gaya bahasa seperti itu sangat sesuai dengan atmosfer ceritanya. Tetap efektif kok, adegan-adegannya berhasil diceritakan dengan baik. Dialognya pakai bahasa-bahasa baku, tapi nggak terasa terlalu kaku. Cuma ya... memang mengingatkan sama novel-novel tahun 2000-an awal haha.

Ada satu kalimat yang saya rada kurang sreg:
Sugi berdinas untuk pertama kalinya setelah lulus Akpol di Yogyakarta. (halaman 148)


Pas baca kalimat itu saya sempet bingung. Akpol kan di Semarang? Terus barulah saya paham, oh, Yogyakarta itu tempat dinas pertama Sugi (sudah disebutkan di bab-bab sebelumnya). Mungkin kalimatnya lebih cocok kalau dibuat "Sugi berdinas untuk pertama kalinya di Yogyakarta setelah lulus Akpol", ya, agar nggak terkesan Akpol-nya terletak di Yogyakarta.

Kembali ke reviu. Saya suka alurnya. Awalnya nih ya, jujur saya sempat mengernyit karena dari bab-bab pertama sudah dijejali banyak backstory. Bahkan si villain pun udah ditunjukin. Tapi saya langsung paham bahwa novel ini memang bukan dan tidak dirancang sebagai novel whodunit, melainkan thriller action ala Hollywood yang memperlihatkan dua sisi cerita sebelum dibuat saling berkelindan: dari sisi hero-nya dan dari sisi villain-nya. Namun, bukan berarti nggak ada plot twist. Saya malah salah nebak. :)))) Kirain Tapi revelation untuk plot twist itu kurang gereget sih, soalnya langsung ditampilkan begitu saja.

Saya juga merasa closing kasusnya terlalu cepat. Tetahu "pendinginan" aja setelah klimaks, langsung skip time dua minggu kemudian. Dan apa yang terjadi antara bab sebelum terakhir dan bab terakhir itu cuma diceritakan sepintas aja lewat obrolan antarkarakternya. Rasanya kurang nendang, padahal adegan-adegan sebelumnya sudah seintens itu dan tensinya sudah setinggi itu.

Untuk karakter-karakternya, saya suka! Terasa manusiawi, realistis, nggak muluk-muluk. Backstory karakternya diceritakan di sana-sini, nyempil di sela-sela perjalanan mengurai kasus. Saya suka penempatan insert backstory itu--selingan yang menyenangkan, sekaligus bikin kita makin kenal sama karakter-karakter tersebut. Cuma karena atmosfer cerita ini--yang ditunjang dengan gaya bahasanya--memang logis dan to the point, saya merasa karakter-karakter di sini nggak terlalu ditekankan pada sisi emosi dan psikologisnya. Seperti Sada misalnya. Sebagai mastermind dari semua kejahatan di novel ini, dia kan karakter yang (seharusnya) kompleks banget. Kompleksitasnya itu memang ditunjukin, tapi ya udah gitu aja. Sebatas di permukaan, nggak sampe yang dalem banget bikin pembaca (saya) ngerasa gimana-gimana. Motivasinya melakukan kejahatan itu bisa dimengerti, tapi ya kayak cukup tahu aja, datar-datar aja bacanya.

Ini bukan kekurangan, tentu saja--kayaknya sih sayanya aja yang udah terlalu kebanyakan ngeliat aneka karakter villain superkompleks. :)))) Lagi pula, kembali lagi, fokus cerita novel ini memang di thriller-action, jadi kadar emosi segini untuk para karakternya juga udah cukup kok.

Anyway, saya suka karakter Laura. Polwan detektif yang keren dan pantes jadi role model untuk karakter wanita dalam fiksi crime lokal! Kuat, tangguh, mandiri, nggak menye. Awalnya saya sempet kecewa

Oh iya, ada satu terkait karakter-karakter ini yang saya agak bingung:

***

Overall, ini novel crime/thriller/action lokal yang keren. Saya harap lebih banyak orang membacanya. Kayaknya seru banget kalo jadi film--adegan-adegannya filmis banget, sih. Kalo ada filmnya, barangkali novel ini akan bisa meningkatkan citra Polri juga.

(Btw, novel ini ngingetin saya sama serial favorit saya waktu remaja, Serial Syakila. Serial itu adalah thriller/action lokal nomor satu di hati saya--nggak ada yang bisa ngalahin. Saya senang banget karena akhirnya menemukan bacaan sejenis. Semoga makin banyak fiksi Indonesia model begini.)
Profile Image for Autmn Reader.
883 reviews92 followers
May 7, 2022
Emang bukunya so so banget. Aku juga bingung kenapa aku bisa nggak suka. Mungkin karena story telling-nya nggak bgtu compelling buatku.

Padahal, sebenernya back story semua tokohnya terceritakan dengan baik. Villain-nya jug puny alsan jelas kenapa dia ngelakuin itu dan ya masuk akal juga. Tapi ya udah aja gitu jadiny.

Action yang ada di sini juga sebenernya bagus, sih. Well written. Tapi aku nggak bikin aku baca ini karena itu juga. Jadi kayak ya udah. Bagus tapi enggak cukup bagus. Entah deh, y. Wkwk.

Bukan buatku aja kayaknya. Karena aku juga nggak bisa bgtu jelasin kenapa aku nggak bgtu tertarik sama ceritanya.

I like it, but I don't love it.
Profile Image for Alexandra.
2,076 reviews122 followers
September 23, 2025
Aku jujur gak sempat ngecek sinopsis buku ini sebelumnya, langsung aja lompat baca haha
MCnya adalah seorang Detektif muda dari kepolisian Indonesia bernama Sugi dan partnernya dari Mabes Detektif Laura.
Perjuangan pemuda ini berusaha mengungkap kasus pembunuhan WNA dan resiko menyebarnya virus mematikan yang dijadikan senjata biologi.

Walau dibaca saat level kepercayaan terhadap instansi ini di dunia nyata sangat rendah menurutku buku ini seru dan sangat berpotensi.

Penjahatnya jenius komputer, idealis dan punya ide ekstrim terorisme. Sangat mencintai bangsa ini tapi dikecewakan negara sejak kecil.
Walau tak menyetujui, aku memahami apa yang mendasari kelakuan ekstrimnya yang sangat marah dengan kondisi bangsa dan ingin meresetnya. Secara harafiah. Kalau saja buku ini tidak terbit jauh sebelumnya, mungkin aku akan merasa penulis mengekstrak semua gelombang kemarahan hari2 terakhir ini dalam perwujudan si karakter antagonis.

Gaya penyelidikannya sat set walau kurang mendetail. Ruang lingkup kasusnya besar tapi terasa disederhanakan. Tapi cara berceritanya masih tipe banyak tell dan less show, sayang sekali. Tapi secara pribadi aku suka dan sangay mengapresiasi genre favorit ini mulai dilirik dan ditulis di Indonesia. Aku akan mencoba buku-buku selanjutnya.



PYC DL
Profile Image for Tika Nia.
226 reviews4 followers
October 10, 2022
Pikiran kita adalah pusat dari segala-galanya (h.172)

😷Silent Demon🔫
✍🏻 Penulis: Fino Y. K. @finoyurio
📕 Penerbit: Elex Media Komputindo @elexmedia
📆 Tahun Terbit: 2022
📑 Halaman: 218
🔖 Genre: Fiksi Kriminal, Thriller (18+)

Pembunuhan seorang WNA di stasiun MRT Jakarta mampu menarik perhatian banyak pihak. Tim kepolisian menugaskan 2 orang detektif untuk mengusut kasus ini. Mereka adalah detektif Sugi dan detektif Laura.

Di luar dugaan ternyata kasus ini bukan sekedar kasus pembunuhan. Para detektif, tim dari kepolisian dan BIN bekerja begitu keras untuk mengungkap pelakunya. Pihak intelijen dari negara asing pun diturunkan untuk membantu penyelidikan. Ada apa sebenarnya?

Ternyata pelaku pembunuhan WNA itu memiliki misi besar. Jakarta berada di ambang marabahaya. Pelaku itu memiliki komplotan yang memandang realitas dari sudut pandang yang berbeda dengan manusia normal. Sungguh di luar dugaan! Mereka juga memiliki kecerdasan dan kemampuan luar biasa. Musuh yang sangat berbahaya!

Lantas sebenarnya apa motif dari para pelaku? Mengapa mereka begitu nekad? Apakah para detektif berhasil mengungkap semuanya? Apakah pihak kepolisian berhasil menangkap pelaku utama dan komplotannya? Apakah misi berbahaya itu berhasil digagalkan?

🔎🔎🔎

Menurutku novel ini sangat cerdas dan logis! Itu penting bagiku, apalagi untuk novel bergenre thriller seperti ini. Alur ceritanya juga cukup cepat dan berhasil memelihara "rasa penasaranku". Part cerita yang dibuat pendek-pendek juga menjadi kelebihan tersendiri. Menghindarkan dari rasa bosan.

Topik virus dalam novel ini, yang (mungkin) terinspirasi dari fenomena teraktual juga menjadi nilai tambah. Penulis begitu cerdas menyelipkan beragam bahasan di sini. Dari segi kriminalitas, politik, psikologis bahkan ada sedikit bumbu romance. Menjadikan novel ini cocok dibaca bagi penggemar genre thriller yang suka 'mikir'. Tetapi tidak direkomendasikan untuk pembaca yang tidak suka bacaan berat dan berusia kurang dari 18 tahun.

Secara keseluruhan novel ini membuatku semakin tertarik untuk membaca novel bergenre thriller. Dan aku tidak sabar menunggu kasus-kasus selanjutnya!
Profile Image for Neneng Lestari.
296 reviews1 follower
May 4, 2023
(+) Diksinya singkat, padat dan jelas, sehingga alurnya tidak bertele-tele. Lumayan menikmati. Sehingga intensitas membaca ku lebih cepat. Karena rasa penasaran terus di pacu oleh part-part yang lumayan pendek.

(+) Penyelidikannya fokus pada kinerja polisi dan Sugi sebagai detektif polisi dan Laura. Jarang-jarang kan ada thriller lokal yang tokoh utamanya polisi

(-) Profil para tokohnya kurang nendang. Lebih banyak telling sehingga tidak bisa menggunggah simpati pembaca. Misal aja Sada, sebenarnya motifnya udah cukup menjadikan dia teroris, cuma itu nggak sampai ke pembaca. Kayak cuma ngarang aja gitu ...

(-) terlalu sangat banyak kebetulan di dalam novel ini. Kebetulan hape hilang, kebetulan Sada bertemu orang jenius, kebetulan Laura di pasangi alat pelacak, kebetulan terekam kamera. Kebetulan Prof Murdoc punya selingkuhan jadi bisa di ancam. Jujur ya, kebetulan-kebetulan seperti ini hanya membuat cerita fiksi terlihat benar-benar fiksi. Sekedar karangan aja.

(-) penempatan waktu yang berantakan. Entah karena memang alurnya cepat atau memang Penulis tidak ingin tokoh utamanya istirahat, semua di lakukan dalam satu waktu. Contoh aja Sugi, udah dihajar babak belur, dilempar ke jurang, lalu di serang di rumah sakit, eh lanjut dia melakukan pengejaran sampai tamat. Sekalian deh ngelamar jadi Avengers, cocok sih kurasa

(-) Pelengkap fakta. Sada memang peretas mahir, tapi dia nggak punya privilage bisa membeli labolatorium (aku rasa alat labolatorium kali ya. Tapi di buku di sebut membeli labolatorium canggih. Ini bikin aku bengong sebentar), membayar pembunuh bayaran, atau pun yang berkaitan dengan aksi teroris. Yah walaupun tujuan "mulia" kan perlu duit buat terlaksana. Bayarannya pun nggak bisa cuma sekotak rokok kan?

Anton dan Natan, mereka jenius biologi saat SMP, masa iya bisa di percaya buat ngerancang virus mematikan, seminggu pula 😭 Paham sih pengen terlihat "ganas" gitu, tapi ya sesuaikan lah sama kenyataan 😔

Akhir kata, sebenarnya oke, cuma kurang pas

⭐ 3/5

Silent Demon / Fino Y.K. / @elexmedia /Rilis 9 September 2021 / Tebal 232 hlm/ via @gramediadigital

#OneWeekOneBook #buibubacabuku
#HayuKitaBacaChallenge #ReviewBukuHayuKitaBaca
Profile Image for Khai.
10 reviews2 followers
January 3, 2024
Silent Demon (5/5)

Penulis: Fino Y.K
Halaman: 232
Genre: Fiksi, Misteri & Detektif
Diterbitkan oleh: Elex Media Komputindo
Selesai dibaca pada: 3 Januari 2024 (RBK)

Bermula dari kematian seorang wanita dari Inggris di MRT, Sugi yang seorang anggota divisi reserse langsung mencari tahu apa penyebab sang wanita tersebut bisa terbunuh, selain jejak kematiannya yang dianggap 'bersih', tanpa diduga ... si wanita itu bukan seorang model, tapi seorang intelejen dari Inggris.

Dibantu oleh Laura, detektif dari Mabes Polri, mereka berdua mengusut kematian si intelejen itu hingga berujung pada fakta-fakta baru yang mengancam keselamatan negara, dan juga seorang musuh yang nyatanya tengah bersembunyi di antara mereka.

──

Dari blurb yang sudah disajikan langsung bikin aku ngebatin 'fix harus baca', dan ya! Genre misteri setipe ini memang gak pernah mengecewakan, terlebih buku ini karya dari penulis lokal, jadi makin suka. Walau babnya lumayan banyak, tapi setiap babnya itu pendek, jadi nggak gampang ngerasa bosan.

Selain itu, porsi antara latar kepolisian yang menurutku lumayan jelas dinarasikan oleh sang penulis, lalu ke bagian komplotan antagonis menyusun strategi + kejahatan siber mereka, sampai ke bagian penceritaan kehidupan masing-masing tokoh lumayan balance, nggak berlebihan atau kurang, cukup intinya.

Gaya penulisan dari si penulis juga sederhana, tapi gampang banget dimengerti sekaligus diimajinasiin di kepala. Adegan baku hantam vibenya real kayak film action (walau aku ngebayangin si penjahat ini kayak Toji). Tapi aku ada nemu typo nama (?) di satu bagian yang sempat bikin 'hah? Ohh' sejenak, mungkin itu bisa diperbaikin lagii.

Terusss juga harus lumayan teliti bacanya, bcz enih si impostor lumayan hmmm ya [mngelus dada]. Berhubung penjahatnya udah di-spill di awal-awal bab, jadi nggak ada bagian plot twist di buku ini, tapi masih lumayan enjoy baca gimana struggle-nya Sugi sama Laura yang mengusut si komplotan ini sampai dapat, the ril penjahat licin macam belut.

Oh iya buku ini ada buku keduanya, judulnya The Infinite Quest, tapi menurutku bisa aja dibaca terpisah soalnya aku baca yang kedua dulu baru yang ini 😭😭😭.
Profile Image for Wardah.
952 reviews172 followers
April 21, 2022
Skor final 3,5/5 bintang

Silent Demon berkisah tentang Sugi dan Laura yg terlibat penyelidikan kematian orang asing di MRT. Pembunuhan yg rapi dan menggemparkan itu membawa keduanya pada fakta mengerikan: ibukota terancam teror virus mematikan. Diburu waktu, keduanya berusaha mencari dalang dibalik teror yg akan terjadi.

Novel ini tipis, hanya 218 halaman. Namun, isinya padat. Penulis menyajikan dalam sudut pandang orang ketiga serba tahu, jadi pembaca akan diajak melihat kisah bukan hanya dari sudut Sugi dan Laura, tapi juga dari sisi para villain. Secara personal, karakter-karakternya kuat dan punya sisi manusiawi, termasuk villain-nya yg jenius. Sayangnya cuma terlalu banyak tell, jadi ada kencenderungan bosan di beberapa bagian.

Genre yang tertulis di buku ini juga misteri thriller, tapi menurutku pribadi lebih cocok misteri aksi dan crime. Karena gak banyak misteri yg ada, sebab ditulis dari sudut serba tahu. Tentu saja masih ada plot twist yg patut ditunggu. 😆

Hal yang paling aku suka itu alur penyelidikan yang terjadi. Ini kali pertama aku dapat gambaran gimana polisi Indonesia bekerja. Seru banget melihat Sugi dan Laura mencari petunjuk, mendalami hal yg mungkin mengarah pada pelaku, hingga berusaha mengkonfrontasi pelaku. Lokasinya juga cukup familier meski ada di sekitaran Jabodetabek. Terakhir, aksinya ditulis dengan seru banget!

Meski di sisi lain hal ini bikin para karakter kurang dieksplorasi sisi emosionalnya. Padahal para karakter punya potensi buat bikin pembaca semakin simpati, apalagi tipe villain di buku ini tuh kompleks dan punya tujuan mulia.

"Masa depan berpihak kepada mereka yang berencana dan melakukannya." (h. 149)


Secara keseluruhan aku menikmati buku ini. Silent Demon aku rekomendasikan buatmu yang ingin baca kisah thriller dengan aksi. Kamu bakal puas baca buku beralur cepat ini. 👍
Profile Image for Sona.
34 reviews
January 19, 2025
Banyak narasi yang ngalor ngidul dan bertele tele, kesannya kayak mengagungkan banget kalau Laura dan Sugi bisa bela diri loh bukannya emang itu kewajiban mereka ya untuk melindungi negara ini?. Pokoknya banyak banget mubazir narasi ngalor ngidul padahal lagi adegan ACTION itu yang paling bikin GREGET. Bayangin aja lagi genting gentingnya malah narasinya ngomongin Sugi pandai menembak karena bla bla. Terus ada lagi ketika tembakan Sugi mengenai lawan narasinya bilang Sugi kaget kebisaan itu masih melekat, aneh juga sih katanya dia latihan tembak mulu tapi ya masa kaget. Terus ada salah penyebutan nama juga, serta di bagian akhir tuh kok Sugi dan Laura tiba tiba kok punya hp lagi ya? Sempet bingung kek HAH Laura punya hp kok bisa nelpon Sugi?

Kejadian dibuku ini juga CEPET banget, kasian Sugi belum istirahat haha. Lagipula kesel juga sih sama Sugi KARENA NAIFNYA MINTA AMPUN. Mungkin itu supaya mainin emosi pembaca kali yaaa, tapi tetep aja greget. Sebenernya buku ini bagus bangeeeet dari tema dan actionnya, aku juga suka Laura karena gak digambarkan menye menye. Serius jarang banget kan di Indonesia ada action kayak gini, dan aku bener bener menghargai bangeet! Kekurangan di buku ini terletak pada narasi dan alur waktu ajaaa, karena dibuat buru buru padahal Sugi dan Laura baru aja ketimpa tangga.
Profile Image for Tata.
115 reviews6 followers
June 3, 2023
Novel bertemakan kriminal-detektif dari Indonesia, detail latar cerita; tempat, lembaga/organisasi yang dipakai dan transportasi adalah yang ada di Indonesia, dalam novel ini mengambil lokasi di Jakarta, gaya penulisan pun terasa familiar karena lokal itu yaa.

Engga hanya itu aja, penulis, melalui narasi dan teks deskripsi, juga memberikan detail tentang pekerjaan kepolisian, penyidik dan senjata biologi dengan bahasa yang mudah dipahami.

However, I am afraid to say this but I am sorry sepertinya cerita ini kurang greget ya? Narasi dan deskripsi cerita dan tokoh dirasa terlalu mubazir (atau mungkinkah tujuannya untuk memperkenalkan tokoh karena ada series #2 kan). To be frank, I did not finish reading the book even I have reached page 150s (dikit lagi yaa nanggung). Karena mubazir di narasi-deskripsi, jadi lupa kalau ini novel kriminal yang tokoh utamanya adalah detektif. I also wish detektif Sugi dan detektif Laura lebih strong lagi roles saat mereka sedang bertugas atau berinteraksi di lembaga pekerjaan mereka atau bahkan secara individu.

Well... happy reading all!
Profile Image for Arutala.
506 reviews1 follower
May 13, 2024
Beberapa novel yang berlatar penyelidikan kriminal ala Indonesia seharusnya seru dan memiliki bobot kearifan lokal yang keren. Kadang progresnya sudah baik namun eksekusinya kurang nendang.

Dalam Silent Demon kita disuguhi kisah dua detektif kepolisian yang menurut saya sepak terjangnya kurang heboh dan kurang tergali. Apalagi mengetahui watak Sugi yang apa-apa maunya sendiri tanpa back up dalam mengejar penjahat. Tokoh-tokoh lain seperti Rino, Laura, dan Yoga seakan hanya sepintas saja penampilannya.

Tema yang diangkat sih sangat keren, soal senjata biologi yang jatuh di tangan teroris. Keren karena seorang peretas Indonesia bisa membuat MI6 dan BIN kerepotan. Dengan tebal yang hanya 200-an halaman, rasanya kurang banyak seolah masih ada cerita tersembunyi yang mungkin bisa dikulik dari novel ini terutama interaksi antara Sugi dan Laura.
Profile Image for Leanna.
36 reviews
October 18, 2025
4.0/5.0

Bagus sih. Penulisnya nulis dengan bahasa singkat. padat, dan jelas jadi lebih terkesan kaku. But this is detective novel so it not a matter.

Overall it's good, novel detektif²an yang berlokasi di Indonesia. what a shame its have no plot twist. For me, yang dicari dari novel detektif itu 1. how they are solve the problem, and 2. the plot twist or page turnee. Tapi disini, sejak awal villainnya ketebak. so it's like flat(?)

Selain what i was judged, bagus semua kok. Chemistry tokohnya ada yang kerasa laa, eveb not 100% semua scenenya aku bisa masuk.
Profile Image for Lia.
255 reviews1 follower
December 19, 2022
Crime-mystery ringan yang cukup oke. Fast paced dan page turner. Ada unsur suspense dan plot twist di bagian ending, meskipun plot twistnya nggak bikin kaget, tapi oke.
Banyak adegan aksi kejar-mengejar dan tembak-tembakan.
Latar tempat yang digunakan dan disebut-sebut sangat familiar seperti MRT dan kawasan Blok M, menjadikan buku ini terasa "dekat" bagi para pembaca lokal.
Untuk teman-teman yang sedang mencari buku misteri yang ringan, buku ini cocok sekali.
Profile Image for Indira.
44 reviews1 follower
March 17, 2023
Rating pas nya 4,5. Novel dengan genre crime-thriller lokal ini jadi angin segar diantara novel2 serupa yang ditulis penulis luar. Dynamic Sugi-Laura yang mencari titik terang pada sebuah kejahatan yang dilakukan Sada terasa memikat, dengan penggambaran yang detail dan cukup memacu adrenalin. Menjelang akhir juga dikuak bahwa kejahatan yang disusun rapi pun bisa saja memiliki celah yang membahayakan sekaligus jadi peluang bagi para polisi untuk menggagalkannya.
Profile Image for Maurina Pratiwi.
152 reviews1 follower
September 23, 2024
Keren.. dalam menarasikan aksi dr Sugi patut diacungi jempol.
Cm sayang dalam mendeskripsikan kelebihan karakternya lbh ke hiperbola ya, melebih-lebihkan, dan momen nya itu kenapa harus pas ada kejadian ini itu, klo menurutku ga harus dijabarkan ga apa2 malah terkesan alami, para pembaca yg akan menilai bagaimana karakter mereka.
Tp sejauh ini alur yg cepat dan ga bertele2 jd nilai lebih novel ini..
Semoga kasus selanjutnya bs menonjolkan lg karakter laura dan sugi lbh baik lagi..
3,8🌟/5
65 reviews1 follower
November 12, 2022
Berpotensi bgt buat jadi novel kriminal lokal yang bagus. Ide ceritanya bagus, tapi mohon maaf keknya gaya penceritaannya kurang luwes mnrut saya. Alurnya terlalu cepat. Bagus sih actionnya dijelasin detail tp kesannya jd agak gmn gtu menurt saya. Terima kasih sudah menulis novel ini kak. Semoga penulisnya bisa lebih baik lagi 🙏 semangat kak.
Profile Image for DAN.
19 reviews
June 1, 2024
3.5/5 sebenernya si.
Aku udh tertarik bgt baca blurb. Udah menjanjikan juga ide ceritanya. Kirain bakalan misteri berakhir plot twist tp malah gamblang dikasi tau villainnya siapa wkwwkwk ga ada kesempatan buat pembaca nebak2 dan penasaran makanya jd mayan membosankan. Padaahal udh menarik bgt gitu loh kaya ide dan latar ceritanya :"
Profile Image for Dara Oct.
27 reviews2 followers
August 26, 2022
Ide cerita & penokohannya bagus, tapi kurang greget. Terlalu singkat mungkin? Terlalu cepat alurnya? Nunggu lanjutan seriesnya. Semoga semakin bagus karna sebenarnya potensial banget untuk jadi series detektif lokal yang besar.
Profile Image for Umul Amalia.
7 reviews
May 10, 2023
Gaya bahasa mengalir, MC berkembang dengan baik, ceritanya juga oke.

Tapi untuk ukuran novel investigasi, alurnya terasa kurang 'menegangkan dan membingungkan'. Pemilihan POV untuk MC dan villain tampaknya menjadi penyebab kenapa novel ini minim twist.
Profile Image for Harumichi Mizuki.
2,441 reviews73 followers
April 9, 2024
Sebenarnya keren sih ceritanya. Risetnya sungguh luar biasa. Banyak detail teknis yang begitu meyakinkan. Cuma gaya penulisannya terasa kaku dan ada beberapa detail di spot-spot penting yang menimbulkan pertanyaan soal logika cerita.
Profile Image for Jessy Willy Pramestie.
153 reviews1 follower
August 28, 2024
Aku lumayan tertarik dengan novel ini dimana sangat jarang genre yang digunakan di Indonesia yaitu criminal action. Ide sudah baik, mungkin agak kurang dieksekusi. Banyak nama tokoh tapi hanya terkesan sekilas seperti kurang berperan, karakter kurang kuat.

Aku beri 3,8/5 bintang
11 reviews
December 3, 2024
not the kind of book yang akan aku mention kalau lagi sharing sharing tentang buku, tapi overall aku suka >< mungkin ceritanya akan lebih bisa membawa emosi kalau dibikin lebih panjang, jadi ga kerasa ada yang kosong & buru buru. soon akan baca sequel nyaa 🤩🤩
Profile Image for covinsky.
28 reviews1 follower
July 24, 2023
3.5 ⭐
Lumayan seru dari awal sampai pertengahan, sayangnya pertengahan sampai akhir so so. Ada beberapa bagian yang cenderung klise tapi yaa ngga jelek banget. Kemungkinan besar bakal baca sequelnya
Profile Image for Alief Faiz.
44 reviews
November 20, 2023
cukup klise sebenarnya, cuma ink cukup fast-paced, pengenalan karakter yang bagus, dan benar² bagus untuk buku pertama di seri petualang Sugi dan Laura.
Profile Image for Andahh.
84 reviews6 followers
December 28, 2024
Ada kekurangan dalam buku ini, kyk miss leading yg terlewat aja. Tapi lumayanlah.
Profile Image for Merz87.
145 reviews
November 1, 2025
Gak ribet isi novelnya..Untuk ukuran penulis lokal, novel ini sudah bagus n bisa bersanding dengan pengarang..👍
Profile Image for Azfa.
295 reviews3 followers
October 23, 2024
#temanduduk📚

📕 𝕊𝕀𝕃𝔼ℕ𝕋 𝔻𝔼𝕄𝕆ℕ
✍️ @finoyurio
🖨️ @elexmedia
⏳ 2022 [aku baca yg edisi revisinya]
📑 219 hlm
⚠️ 18+

🕵‍♂️🕵‍♀️
Novel ini mengisahkan tentang aksi detektif Sugi dan Laura dalam memecahkan kasus meninggalnya seorang perempuan asing di stasiun MRT Jakarta dan telah dipastikan sebagai korban pembunuhan. Hasil penyidikan sangat mengejutkan, di mana mengarahkan pada ancaman wabah virus serius yang membahayakan penduduk ibu kota.

Sementara Sugi dan Laura yang terus berupaya memecahkan kasus agar bisa mengamankan pelaku, Sada dalang di balik aksi pembunuhan yang mempunyai keahlian melakukan peretasan, terus memastikan kesiapan amunisi sebagai misi utamanya yaitu memyembuhkan Jakarta. Berkejaran dengan waktu dan harus menghadapi penghianatan, mungkinkah Sugi dan Laura dapat mengamankan Sada? Atau Sada yang lebih dulu melaksanakan misi yang dianggapnya mulia itu? 🥺
🕵‍♂️🕵‍♀️

🔎 Wah 👏 beneran edisi revisi ya, hal yang dulu pernah kutanyakan karena terasa tiba² banget, di edisi kali ini telah diganti dgn versi yang lebih baik. Ceritanya terasa lebih nyaman diikuti, sensasi menengangkannya juga masih terasa, meskipun udah tahu endingnya. Terus cover yang ini memang lebih keren, sangat menggambarkan isi cerita. 🤩

🔎 Dulu pas pandemi dan membaca ini, aku suka sama tokoh Sada, sebab jago melakukan aksi peretasan tapi sampai stu aja. Sekarang masih suka sih tapi lebih banyak merasa ngeriknya. Jangan ada deh di dunia nyata, ya meskipun sepertinya ngga mungkin, manusia kan suka memenuhi nafsunya tanpa peduli orang lain. 🤧

🔍 Yang jelas novel ini berhasil memberikan hiburan utkku, aku suka bagian penggabungan keahlian peretasan dan senjata biologinya. Sebagai karya lokal, membaca novel ini seperti membaca karya negara luar. Dari novel ini, aku sbg pembaca sadar bahwa banyak orang menjadi jahat lantaran pemerintah yang zolim, lalu mereka yang akhirnya memilih menjadi penjahat juga disebabkan oleh orang² di sekitar yg terus membully, menghina, dan menyakiti. Tapi itu seharusnya bukan menjadi pembenaran ya untuk semena-mena membalas berbuat jahat, apalagi kalau dampaknya akan merugikan orang banyak. 🥲 Intinya kita perlu sama²jadi manusia aja ya! Dan terus memegang prinsip kebenaran yg sesuai dengan moral dan ajaran agama di tengah profesi apa pun yang kita pilih atau lakoni untuk memutus rantai tindak kejahatan itu. 🥺

#silentdemon
#jejak_sibuku
This entire review has been hidden because of spoilers.
Displaying 1 - 30 of 30 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.