Aku sudah ditemukan oleh seseorang. Yang seperti doamu dulu sebelum pergi meninggalkanku: yang akan benar-benar menyayangiku. Yang akan benar-benar mencintaiku.
Kini aku telah ditemukannya, seseorang yang mencintai aku sebesar cintaku kepadamu dulu; atau bahkan lebih.
Aku sudah bahagia sekarang.
Tak perlu lagi kau khawatirkan kabarku.
Salahmu telah kumaafkan, luka olehmu telah tersembuhkan. Tak perlu lagi merasa bersalah karena meninggalkan aku, tak perlu lagi kau kasihani keadaanku. Hujan di kelopak mataku tak lagi memanggil namamu. Di dalam doaku, namamu telah digantikan oleh nama yang baru.
Aku sudah bahagia sekarang.
Terima kasih telah memutuskan untuk pergi.
Caramu menyakitiku kemarin, adalah cara Tuhan mempertemukan aku dengannya;
Ini adalah buku kumpulan puisi yang agak tebal berbanding buku-buku puisi yang ada di Malaysia ini. Naskah dari negara seberang ini memfokuskan perihal kehilangan yang berkaitan dengan perasaan, cinta dan insan yang tersayang. Apa rasanya apabila orang yang kita sayang, cinta dan rapat dengannya, tapi punyai hati pada insan lain. Setiap hari kita akan mendengar bebelannya mengenai insan yang dipujanya itu sedangkan yang memuja di hadapan mata hanya diabaikan. Begitulah salah satu perkara yang terkandung di dalam puisi yang ada.
Sebenarnya aku tak kenal pun dengan tuan penulis dan ini adalah percubaan yang pertama. Tapi percubaan ini, agak berbaloi dengan tulisannya yang sangat kemas dan bahasa yang membuai. Walaupun kekadang kita merasakan yang puisi itu seperti sama saja benda yang ingin diutarakannya, tapi penulis agak kaya dengan perbandingan, mungkin juga perbendaharaan katanya dan dia juga kelihatannya pandai bermain dengaan bahasa. Maka, kita tidak akan merasa bosan dan terus menyelak lembaran naskah. Tapi terus terang, buku ini mungkin sesuai untuk para remaja dan yang sekitarnya. Sebab benda-benda yang di ketengahkan di dalam puisi ini, selalunya melibatkan golongan ini yang mudah bergolak dengan perasaan yang belum stabil. Entahlah. Tapi sesiapa pun tetap boleh membacanya. Nampakkan yang aku masih lagi muda dari ulasan ini? *Muntah*
Aku suka font yang digunakan di dalam buku ini.
Mencintaimu aku tak sebatas hanya perihal rupa dan rasa. Suaramu adalah nyanyian pagi sekaligus alasan mengapa aku ingin sekali bangun lalu secepatnya mengecupmu. Puisi-puisiku tidak bernyawa. Ia hanya tulisan dari letupan rasa-rasa yang kau ciptakan.
Waktu sebenarnya tidak bisa menyembuhkan luka. Ia hanya membuatmu terbiasa akan hari-hari yang tanpa dirinya lagi, membuat hatimu mulai berani menerima kenyataan; bahawa tanpanya kau bisa baik-baik saja!
Akan ada suatu hari di mana aku tidak akan memikirkanmu lagi. Tidak peduli apa yang sedang kau lakukan dan sedang bersama siapa kau sekarang. Kau tidak lagi menjadi yang utama dalam pikiranku. Dan yang terpenting, aku tidak merinduikanmu lagi.
Pada permulaan naskah, puisi-puisinya kelihatan seperti seorang yang sangat kecewa dan tidak mampu untuk bangkit lagi dan selalu mengharapkan yang akan ada sesiapa yang boleh membantunya. Jiwanya terlalu pedih untuk memikirkan perpisahan yang bertandang. Pada peringkat pertengahan, puisinya lebih kepada kebangkitan dan dia mula berfikiran waras dan suku akhirnya, penulis cuba untuk menegaskan yang dia adalah pencinta paling setia di muka bumi ini walaupun apa pun yang terjadi. Hurmm.
Saya beli buku ini pada bulan Oktober yang lalu ketika (kononnya) sedang patah hati. Seorang rakan penerbit mencadangkan saya beli buku ini serta buku Senja, Hujan dan Cerita yang Telah Usai yang sesuai untuk orang yang patah hati.
Sejujurnya buku ini tidaklah terlalu merobekkan hati yang sedang kecewa tetapi sisi negatifnya, bagi orang yang sedang patah hati, membaca buku ini akan membuat kita (hahaha, kita!) bertambah cembeng dan mengasihani diri sendiri.
Buku ini adalah sebenar-benarnya glorifikasi patah hati. Aku membayangkan seorang prajurit yang mengiris pergelangan tangan setelah selesai membacanya.
Menurutku bukunya sangat galau sekali, sayangnya karena saat ini sedang tidak galau jadi merasa tidak tersentuh. Aku yakin jika membaca saat galau, pasti akan merasa sangat relate. Tetapi karena saat ini sedang tidak galau, jadi aku merasa cukup bosan ketika membaca. But overall, if you’re sad because of love, read this book! Mungkin akan merasa semakin sedih, tetapi karena relate, jadi you’ll feel like you’re not the only one. Cuma kalo lagi gak sedih atau galau, mungkin susah relate ya sama bukunya. Susah dapet feelnya. Or maybe it’s just me.
Judul: Merayakan kehilangan Penulis: Brian Khrisna Penerbit: mediakita Dimensi: ii + 222 hlm, 13x19 cm, cetakan kesepuluh 2017 ISBN: 9789797945275
Sejujurnya, di usia saat ini judul prosa romance kayak gini gak 'ngena' buatku. Namun, sebab kekurangan bahan bacaan, sampailah kulirik buku milik suami ini, yang masih tersegel rapi. Saat membaca awalan, benar saja membuatku menyesal. Bosan setengah mati dengan topik orang susah move on. Terutama dari sudut pandang lelaki. Ih, gemes banget! Ada ya orang demen nyakitin dirinya sendiri. Jadilah kuselang-seling baca dengan buku lain.
Namun, sebab azzamku sendiri yang berjanji menamatkan setiap bacaan yang kumulai, meski butuh ratusan purnama, kubaca lagilah #buku ini. Pertengahan, mulai menarik. Diksi yang dipakai, rimanya bagai puisi, lalu ada perubahan tokoh utama mulai move on, meski balik lagi tersandung kenangan. Semacam baca buku harian lelaki. Soalnya bentuknya prosa-prosa lepas, bukan jaliman cerita dengan alur.
Mulai ada hal menarik berupa quotes pembatas buku, ilustrasinya yang indah juga membantu. Tidak panjang, tapi padat rasa. Akhirnya, selesai juga kubaca dalam waktu 1 bulan. Bukan salah genrenya, akunya saja sih yang sudah tidak di fase itu. Mungkin kalau kubaca di usia atau fase aku belum menikah, sedang kalut tentang jodoh, buku ini akan mewakili segala rasa pahit itu. Macam kalimat berikut, penggambaran hubunganku dan suami dulu.
_"Yang paling menakutkan adalah jika ternyata kau memang orang yang tepat untukku, namun sayangnya kau datang di waktu yang salah."_ (H.99)
Ya, terima kasih penulis, sudah memperlihatkan dari sisi lelaki yang patah hati. Oh ya, pembatas bukunya juga menarik... Berbentuk postcard.
I've been eyeing on this book since last year and this year I got it from @ilovebuku as a birthday present for myself. Guess what? I just found my new favourite author. His writing is super sendu (melancholy? Idk how to translate that into English) and it suits me perfectly! I'm a sucker for sad books and this one comes at the right moment and the timing couldn't be better.
Merayakan Kehilangan (Celebrating Loss, literal translation) is a compilation of short stories, quotes and poems on heartbreak, coping with losing someone or getting dumped by a lover, moving on, healing, frustration and accepting that there are things we should let go.
Every piece of write up in this book carries almost similar vibes or theme BUT they are different in their own way. It's as if the author himself has interviewed hundreds of people who have gone through a heartbreak and weave them beautifully with lyrical words, conveying their emotions so precisely. I'm in love because the author knows what he's doing and he's doing it so well.
If you need a book for sendu hour, this is the perfect book. Everyone who needs a good cry or a good alone depressing time, can go grab this book, and I believe all of us have those moments, hence I don't need say anything anymore. And no, this is not a review copy, in case you're wondering. I just love it so so much!
Buku ini sebenarnya sudah ada tangan saya sejak Tahun 2017. Mungkin karena hati yang sedang terombang-ambing dan tidak menentu, saya memutuskan berhenti setelah membaca hanya sekitar 20 lembar mungkin. Saya letih menahan emosi yang begitu berejolak, menahan tetes air mata yang rasanya ingin meloloskan diri. Bagaimana tidak? saya membaca buku itu setelah ditinggal seseorang yang lebih memilih wanita lain daripada saya. Dan tibalah saat saya sudah cukup kuat untuk kembali membacanya, ya.. setahun kemudian baru saya selesaikan buku ini. Percaya tak percaya, hanya dalam hitungan jam saya langsung melahapnya habis. Jika di awal saya membacanya penuh emosi dan tetes air mata, kini sudah tak lagi. Buku ini seakan memberikan semangat dan elusan lembut di pundakmu seraya menyadarkan jika "kehilangan dia itu tak apa". Tapi jangan harap ini buku fiksi romansa yang penuh naik turun kehidupan. Buku ini berisi paragraf-paragraf pengobat lara yang mungkin akan perih diawal namun akan membuat kita lebih baik esoknya.
"Ada Kesenangan dan Ketenangan ketika menatapmu. Seakan hidup begitu aman, seakan jatuh cinta jauh dari risiko terluka"
Buku kumpulan puisi ini bikin gue takjub sih. Setiap puisinya hingga quotesnya tuh menurut gue punya nyawa, bener-bener dirayakan. Gue jadi inget kata-kata "Kalo jatuh cinta sama seniman maka akan diabadikan lewat karyanya setelah berpisah".
"Seandainya kau mengerti, ada namamu di kolom notifikasi, aku gembira setengah mati."
"Beranilah untuk jatuh cinta. Ketika kau berhasil, kau akan bahagia. Ketika kau gagal, kau akan belajar cara-cara yang salah untuk menggapai bahagia. Kau butuh dua hal itu"
Kalo lo suka puisi, buku ini menurut gua cocok buat lu apalagi ketika lo gagal move on hahaha engga ko, bukan gagal move on tapi mungkin harus Merayakan Kehilangan.
Sebuah buku yang isinya sedikit membuat hati melo. Entah saya aja yang emang berlebihan, atau karena terbawa cerita masa lalu. Tapi yang pasti, apa yang saya tangkap dari buku ini lebih kepada penyadaran, bahwa sebenarnya kehilangan adalah sebuah hal yang pasti kita alami.
Entah kita yang ditinggalkan sehingga merasa kehilangan, atau justru kita yang pergi hingga menimbulkan rasa kehilangan pada orang lain.
Dan kehilangan gak selalu membawa pada keburukan, karena meskipun hari ini kita rasa lebih buruk dari kemarin, bukan berarti esok gak bisa lebih baik. Saya juga nulis review di ig tentang buku ini. Hihi
Ketika membaca buku ini di awal seperti sedang membaca puisi. Semakin jauh semakin merasa, "kenapa hampir 80% yg ada dalam buku ini seperti yang ku alami?." Hingga akhirnya ku terhanyut kembali ke dalam kisah lama yang ku kira ku sudah lupa sakitnya. Tapi ternyata tidak. Setelah membaca buku ini ku seperti kembali membuka luka lama, namun ku diajarkan untuk anggap itu semua pembelajaran. Penulis sangat lihat dalam menghanyutkan pikiran dan perasaan dalam waktu yang bersamaan dalam buku ini.
Sesuai judulnya, membahas mengenai kehilangan seseorang yang dicintainya. Dari awal hingga akhir buku, menjelaskan sakitnya ketika orang yang dicintainya tidak mencintai balik. Aku memutuskan untuk berhenti saat membaca 10 halaman awal. Entah karena tidak sesuai ekspektasi, entah karena bahasanya yang metafora, entah karena pembahasan sakit hatinya hanya itu-itu saja. Akhirnya aku berhenti dan tidak membacanya lagi.
"Doaku hanya satu ketika suatu saat nanti kita tidak sengaja bertemu. Aku ingin melihatmu seperti sesosok manusia sebagaimana aku pertama kali melihatmu dulu. Bukan seperti sesosok puisi sebagaimana aku melihatmu sekarang"
Dari halaman pertama dan sampai habis isinya puisi-puisi galau. Beruntungnya sudah move on jadi pas baca buku ini langsung mikir, "ternyata dulu gue pernah sebucin ini suka sama orang" karena kata demi kata relate banget sama kehidupan manusia single yang baru putus HAHAHA
What a great book! Membaca buku ini membuat emosi saya naik-turun. Pada tulisan-tulisan awal saya dibuat sedih sesedih sedihnya. Lalu ditengah2 saya dibuat marah, karena merasa bodoh. Lalu diakhir cerita, saya dibuat lupa oleh sedih dan marah sebelumnya, karena saya dibuat jatuh cinta!
Buku ini tidak cocok untuk saya yang hatinya sedang tidak patah hati dan telah berdamai dengan banyak kekelaman. Mungkin, saya kan kembali membacanya ketika saya sedang patah hati. Tapi, sayangnya saya ragu akan ingat untuk membacanya kembali.
Tapi ini mungkin buku yang cocok untuk remaja yang baru patah hati karena perihal percintaan.
Sesuai judulnya, buku ini membahas tentang kehilangan seseorang yang dicintai. Buku ini kurang sreg ke saya yang sama sekali sedang tidak merasakan kehilangan, dan juga bahasanya kurang sesuai dengan aliran yang saya sukai.
Mungkin buku ini lebih cocok dibaca oleh orang-orang yang sedang patah hati dan yang ditinggalkan.
Kumpulan tulisan yang memberikan satu kesadaran bahwa kita pasti punya kesulitan masing-masing dalam berjuang di fase kehilangan. Itu gapapa. Kita punya keputusan tersendiri memilih rela atau tetap menunggu meski harapan bisa saja sangat tipis.
bukunya sangat emosional (atau lebih tepatnya, saya-lah yang lagi sangat emosional karena suatu hal) buku ini sukses membawa saya masuk ke dalam apa yang bang mbeeer tulis. ditunggu TWILHnya bang