⛰ Al-Masih Lelaki yang Diurapi⛰
🧚♂️ @tasarogk
📚 568 halaman
🔖 @bentangpustaka
🏞 Terbawa arus kejadian, itu yang aku rasa selama membaca buku ini. Meski kejadian dalam buku ini seolah saling tumpang tindih, antara kejadian di Batavia, di masa kehidupan Isa, menurut Islam, Kristen, atau Yahudi. Tentang Saathii, atau Gesu, tentang Priyayi, atau Pak Modin Radiyawirana.
🏛 Kisahnya benar-benar sarat makna dan nilai. Penuh dengan konflik. Baik konflik pribadi atau kelompok. Konflik jasad atau batin. Konflik yang dibangun secara terang-terangan atau secara rahasia. Aku jadi bisa membayangkan, bagaimana Abah/Kang/Mas Tasaro melakukan riset untuk buku ini—Pasti dengan riset yang nggak kaleng-kaleng.
🧱 Selain itu, setiap kisah yang diambil dari masing-masing kitab, sepertinya akan membawa pada ketebalan iman yang menjadi-jadi. Bukan, bukan pada perasaan "semua agama benar", tetapi masing-masing pemegang kepercayaan akan meyakinkan dirinya dengan kisah yang dinukil dari kitab masing-masing. Kisah ini berperan sebagai penguat, pengingat, penyempurna kisah yang selama ini mungkin terkesan bagai dongeng masa kecil, jarang diasah, jarang dibarui dalam ingatan ketika kita sudah dewasa.
🏜 Benar. Seperti kata Angile van der Beck, "Jika seseorang telah yakin dengan kebenaran imannya, apapun yang terjadi atau diceritakan di luar itu tidak akan menggelisahkan dia."
Mendaras buku ini di awal, seperti memulai kisah dongeng dengan awalan "Pada suatu masa ... ", namun menjelang pertengahan, kita seolah diajak membuka banyak lembar sejarah, membuka kembali kitab yang kita imani untuk memperkuat suasana yang dibangun oleh penulis. Dan di akhir, kita seperti diajak menonton serial aksi yang luar biasa. Gabungan antara gambaran adegan, dengan pengetahuan tentang seni bela diri, juga pada kejutan-kejutan tokoh yang muncul di akhir, berhasil membuat aku—khususnya, sangat tercengang dan WOOAAAAH!
Banyak episode penuh air mata yang menyesakkan. Dan memberi efek haru karena penuturan yang luwes. Kesan yg diberikan lebih halus, tidak menyentak-nyentak. Seperti ketika Langgar dilarang untuk digunakan, ketika kebun sirih tuan Gesu dibakar habis, juga ketika Mletik berpisah dengan Baba Nioto.
Sangat menantikan kelanjutan buku ini. Sebab masih banyak pertanyaan dan rasa penasaran yang menunggu jawaban. Sungguh mengganggu pikiran. Akhir kisah buku ini tidak membuat efek kejut yg terlalu, tetapi membuat kita merasa ketagihan mengikuti ceritanya. Semoga segera rilis