Koloniale geschiedenis staat volop in de aandacht. Thema’s als slavernij, machtsmisbruik, ongelijkheid en geweld zijn onderwerp van vurig debat. In dit debat klinkt een roep om meerstemmigheid in de geschiedschrijving en een vraag om nieuwe verhalen. In De vlinders van Boven-Digoel neemt Alicia Schrikker de lezer mee op haar zoektocht naar ervaringen van mensen voor wie kolonialisme een alledaagse realiteit was. In de archieven in Jakarta stuit ze op kleine verhalen die draaien om grote thema’s. Met scherp oog voor detail legt ze de maatschappelijke verhoudingen aan de rafelranden van de koloniale wereld bloot. Zoals in het verhaal van Tapan en Tsjanga, twee jongetjes van nog geen tien jaar oud, die ontvoerd werden om als slaaf verkocht te worden. Of in dat van postbode Oesman, die zes maanden gevangenzat omdat hij een pakketje verkeerd bezorgde. En dacht de Nederlandse opzichter in strafkamp Boven-Digoel werkelijk dat hij antikoloniaal idealisme kon bestrijden door politieke gevangenen vlinders te laten vangen? De verborgen verhalen brengen de ongemakkelijke geschiedenissen van kolonialisme in beeld, waar goed en kwaad soms volstrekt door elkaar heen lopen en soms zonneklaar zijn.
Membaca buku ini sears mengikuti fragmen atau kepingan dari dunia kolonial Indonesia yang sungguh subtil, sehari-hari, dan kadang absurd. Sebagai sebuah buku sejarah, Alicia menghadirkan kisah dengan gaya penceritaan populer, meski tetap ketat berbasis pada arsip dan sumber. Popular di sini tentu saja tidak sekadar kisah daur ulang, melainkan dengan menyajikan renik kehidupan dunia kolonial yang meski kadang nampak remeh, tetapi ternyata berkaitan erat dengan struktur kolonial yang sangat besar dan eksploitatif itu. Kalas hanya membaca judulnya saja, saya kira buku ini bercerita secara utuh mengenai Boven Digoel. Ternyata, kisah tentang kupu-kupu dan bagaimana penjara kolonial bekerja ini justru jadi cerita paling akhir. Alicia menceritakan banyak sekali hal di buku ini, merentang sejak periode VOC hingga jelang alhier kekuasaan kolonial.
Dalam buku ini, Alicia banyak merekonstruksi mengenai sejarah keluarga. Juga, ihwal perbudakan menempati porsi yang cutup besar di buku ini, dan saya kira bagian ini yang cukup menarik perhatian saya. Kisah mengenai penculikan dua orang bocah di Bulukumba untuk dijadikan budak di Makassar rasanya sangat menarik, dengan rekonstruksi arsip menjadi basis utama Alicia menuliskan tentang ini. Juga cerita mengenai bencana gunung meletus di Sangihe maupun Ternate menyingkapkan banyak sekali tentang relasi penguasa lokal, pemerintah kolonial (VOC), serta para misionaris yang mengabarkan kekristenan di sana. Kesemuanya ini dibangun ceritanya melalui arsip-arsip VOC maupun pemerintah kolonial yang memang jadi "makanan sehari-hari" Alicia sebagai seorang sejarawan di Universitas Leiden.
Oh iya, edisi bahasa Indonesia buku ini sampan mengundang tanya: judulnya Boven Digoel, tapi kenapa kovernya bergambar lukisan tentang Batavia abad ke-17? Setelah menuntaskan buku ini, memang porsi cerita tentang perbudakan yang dominan mungkin saja menjadi alasannya. Batavia (kini Jakarta) seperti yang kita tahu adalah melting pot, tempat pertemuan dari perdagangan Nusantara ketika itu, yang mana komoditas utama yang diperdagangkan salah satunya adalah budak.
Buku ini dalam bahasa Indonesia, diterjemahkan menjadi "Kupu-kupu Boven Digoel". Ketika membacanya pertama kali saya pikir buku ini akan berbicara tentang kupu-kupu saja, tetapi ternyata membicarakan kehidupan kolonialisme di Indonesia dari hal-hal kecil yang sering kali terlupakan. Atau bahasa yang saya gunakan adalah—wong cilik.
Dalam buku ini ada beberapa cerita—bukan cerita fiksi, tetapi cerita nyata yang didapatkan oleh Alicia Schrikker melalui arsip, pencarian, perjalanan, dan juga museum-museum—yang mengisahkan bagaimana kehidupan masyarakat kolonial yang mungkin luput dari pandangan dan perhatian kita. Salah satu cerita yang paling membekas dalam benak saya adalah cerita tentang penjualan budak dan perbudakan itu sendiri. Penceritaannya tak hanya berputar pada bagaimana kehidupan sebagai seorang budak, tetapi juga bagaimana seseorang bisa menjadi budak.
Perbudakan pada masa kolonialisme digambarkan sebagai sesuatu yang kejam, para tuan yang menginginkan budak akan menghalalkan segala cara untuk bisa mendapatkan budak yang mereka inginkan. Budak bisa didapatkan melalui utang—mereka yang tidak mampu membayar utangnya, akan membayar utang dengan menjadikan diri sendiri dan sekeluarga menjadi budak. Jadi, apakah ada budak yang usianya masih bayi? Bisa jadi. Bahkan, para bayi yang lahir dari orang tua budak ini sudah dijual kepada para tuannya.
Tak hanya tentang perbudakan, cerita tentang seorang tukang pos yang bertugas menjadi kurir juga menarik perhatian. Seorang kurir pos yang salah mengantarkan paket kemudian dipenjara selama 6 bulan. Hal ini tentu menjadi pertanyaan besar, mengapa? Jawabannya ternyata politis sekali, berurusan dengan kekhawatiran pemerintah kolonial akan munculnya gerakan anti-kolonialisme dan berkembangnya komunisme.