Benarkah hidup bisa berjalan sesuai ekspektasi kita? Layaknya plot twist, tiba-tiba Desya dijodohkan dengan Deon, sahabatnya dari kandungan. Bukannya tidak senang, bagi Desya perjodohan ini adalah harapan yang menjadi kenyataan. Setelah bertahun-tahun memendam perasaannya pada Deon dan tidak percaya diri dengan tubuh overweight-nya; 75 kg dengan tinggi 160 cm, Desya merasa jalannya untuk bersama Dion dimudahkan oleh Tuhan. Setidaknya Desya tidak perlu susah payah mengungkapkan perasaannya. Awalnya, hubungan mereka berjalan lancar. Sayangnya, kebahagiaan Desya tidak berlangsung lama karena seorang wanita dari masa lalu Deon datang. Desya kalah telak. Single parents yang bak seorang model, telah mencuri perhatian Deon. Desya kalah telak. Wanita dari masa lalu itu memiliki terlalu banyak kelebihan yang diinginkan para wanita. Sedangkan Desya hanya punya kelebihan cinta untuk Deon dan kelebihan berat badan. Hingga seorang pria muncul dan membantu menemukan jalan keluar dari masalahnya. Mungkinkah kisah selanjutnya akan berjalan sesuai ekspektasi Desya?
Selesaiiiii! 3.5 ⭐️ 🤩🤩🤩 aku paling senang kalau baca novel yang berhasil mengusik emosiku apalagi akhir-akhir ini baca novel kerasa flat banget 😣. Setelah selesai baca ini aku jadi bertanya-tanya sama diri sendiri apa ketika aku bucin, aku sangat mengganggu orang disekitarku 😖.
Tertarik baca buku ini dari sinopsisnya dari sahabat jadi pasangan. Cukup suka sama alur ceritanya cuma gemes sama cara Desya menyelesaikan masalah mulai dari diam saja, nangis, dan terakhir kabur.
This is my first time reading Desy Miladiana's book. My friend picked this book for us to buddy-read and then I just downloaded it on my Gramedia Digital, so I didn't read the blurb at all.
Right from the beginning, it was the banger childhood bestfriend trope, and then followed by arranged marriage trope. I immediately had high expectation on this book and my god, the author did not disappoint me.
Character-wise, I like Desya A LOT. I like that she wasn't so pure-hearted and truly taking the best advantage out of the situation. I like the way she convinced Deon to accept the arrangement with sound, logic arguments. When she felt insecure, I could totally sympathize with her instead of rolling my eyes like I usually do when reading these type of scenes since one, her insecurities were deeply rooted within her years of unrequited love; and two, Deon's behavior was totally inexcusable.
Tbh, I was kinda scared when the plot went to the mainstream go-on-a-diet-to-get-your-man. Especially when the PT was a handsome, old friend of Desya who could have the potential to complete yet another mainstream love triangle story. But I was sooooo relieved it didn't go (completely) down that road. I love the fact Adrian-Desya were just good friends who supported each other. I love the fact that Deon kept messing with her diet unknowingly, kept saying that he didn't care about her body, and Desya remained to be fat at the end of the story. She should change her unhealthy eating habits, sure, but she doesn't have to change her body.
Deon was an asshole in the story, but the author handled him so well that it was hard for me to hate him. Even though he did taboo stuff as a groom to be, his way of thinking and actions still showed how much he cared about Desya. This adds plus points cz I definitely understand why the heck Desya couldn't let go of Deon. When Desya (finally) stood up for herself, I was quite satisfied with the amount of grovelling the author put him through.
The only reason why I couldn't rate this more than four stars is simply because of my personal taste.
Although I generally enjoyed the writing style and the angst it put me through, I have super low tolerance with cringey scenes and dictions. My whole body grimaced like I had just absorbed three gallons of lemon juice when Desya kept mentioning Deon as "pangeranku". The epilogue scene also yielded the same reaction and I was kinda disappointed (80% to myself and 20% to the author) because I was supposed to revel in their happiness, for god's sake. But here I was, cringing so hard, wishing that I ended my reading at the previous chapter instead of the epilogue.
Oh, and I noticed grammatical errors in some English sentences/phrases in this book as always, lol.
But overall, this book truly made my day and freed me from going into reading slump after binge-reading disappointing series. I will definitely read more of Desy Miladiana's books soon! :D
Deon dan Desya telah menjadi sahabat sejak mereka dilahirkan. Bagi Desya, hanya Deon yang bisa memahami dirinya terutama dengan bentuk tubuhnya yang berisi. Sebaliknya bagi Deon, Desya adalah zona nyaman-nya, tempatnya berkeluh kesah dan memahami dirinya saat sedang terpuruk. Desya sudah lama mencintai Deon, tapi dia tak mau kehilangan sahabatnya itu. Ketika orang tua mereka sepakat menjodohkan mereka, Desya melihat kesempatan ini untuk bisa bersama Deon selamanya. Tapi apakah Deon juga memiliki perasaan yang sama?
Tidak ada dalam rencana Deon untuk hidup tanpa sahabatnya itu. Oleh karenanya, Deon menerima perjodohan mereka. Setelah bertunangan, Deon semakin yakin bahwa rasa sayangnya pada Desya cukup untuk membuatnya bertahan di sisi Desya. Tapi tiba-tiba saja Bella, mantan pacarnya kembali datang. Juga ada kehadiran Adrian, teman dekat Desya. Hanya mengapa Deon justru semakin ingin mempertahankan Desya?
Menjadi sahabat mungkin membuat Deon sulit mengartikan perasaannya pada Desya. Tapi tindak tanduk Deon sendiri sudah sangat mencerminkan itu. Namun, Desya butuh pernyataan yang eksplisit. Kalau dilihat dari porsinya, memang Desya yang sepertinya banyak berjuang mempertahankan Deon. Wajar saja Desya kemudian menjadi lelah.
Saya suka dengan endingnya. Diwarnai konflik soal kecemasan Desya terhadap bentuk fisiknya, penulis membuat jalan cerita yang adil bagi kedua tokoh. Setidaknya Desya ada usaha membuat perubahan pada berat badannya, meski Deon tidak menyadarinya. Mungkin karena Deon pada dasarnya memang tidak pernah mempermasalahkan soal fisik Desya. Over love is more important than over weight.
Buku romance ini punya trope yang aku suka banget yaitu friends to lovers bahkan ini adalah (childhood) best friend to lovers.
Bukunya enggak tebal, bahkan tidak sampai 300 halaman, membuat aku bisa baca buku ini cepat banget dalam kurun waktu 2 hari. Bahkan jika tidak terlalu sibuk mungkin kalian bisa menyelesaikan buku ini dalam kurun waktu 1 hari saja.
Bagiku ceritanya ini menarik banget diikutin. Disini kita bukan melihat dua sahabat yang berproses untuk menjadi pasangan (re: pacar) melainkan dua sahabat yang akhirnya menerima perjodohan kedua orang tua mereka dan berkomitmen untuk menikah. Apalagi Desya ternyata sudah memendam rasa ke Deon lama banget. Kita bisa melihat ke-sweet-an dua sahabat ini yang bikin kita pembaca yakin pasti ini dua orang sebenernya sama-sama suka. Ya, mungkin si Deonnya aja belum sadar.
Konflik yang diangkat pun sekedar perjuangan Desya aja untuk membuat Deon jatuh cinta padanya tapi ada juga orang lain yang membuat hubungan Desya dan Deon ini kayak naik kapal terombang-ambing. Di satu sisi aku juga merasa kesal dengan Deon tapi toh perasaan orang kan ga bisa dipaksa makanya ini poin yang menambah keseruan buku bagiku.
Meskipun sebenarnya alurnya lumayan bisa tertebak ya, semua konflik yang dihadirkan sampai dengan puncak konflik itu jujur buatku sih kurang terasa spesial. Ntah karena aku terlalu khatam buku romance atau gimana tapi memang apa yang aku tebak akan terjadi memang terjadi. Cukup disayangkan elemen kejutannya kurang.
Terlepas dari itu semua aku tetap akan menyarankan banget buat yang ingin baca buku romance apalagi ini bukunya pendek dan tidak berat banget jadi bisa dibaca dengan nyaman.
romance yang super ringan, trope childhood friends to lovers. menceritakan soal desya yang mencintai deon dalam diam sejak sma dan deon yang selalu— sadar gak sadar menjadikan desya sebagai zona nyamannya sepanjang mereka bersama. hubungan persahabatan mereka itu pun perlahan berubah sejak kedua orang tuanya menjodohkan mereka. konflik di buku ini ringan, desya bener-bener tipikal cewe di dunia nyata wkwkw. agak greget sih pas tengah-tengah si deon masih dipenuhi bayang-bayang mantan mana mantannya juga yang selalu jadi pusat overthinking-nya desya. but in the end, they manage the problem well dan akhirnya nggak denial lagi dengan perasaan satu sama lain <33
Kalau dilihat dari sampul buku Over (Love) Weight ini, calon pembaca pasti udah bisa mengira kisah di dalamnya tentang perempuan yang punya tubuh gemuk. Terus baca sekilas tentang buku ini di sampul belakangnya bisa menegaskan kalau ini juga tentang sahabat jadi cinta.
Tapi, buku bersampul pink ini ternyata enggak sekadar kisah cinta yang menye-menye loh. Ada narasi yang enak dibaca dan mengalir sampai lupa daratan dan akhirnya menyelesaikan buku ini tanpa beban. Sampai plot cerita yang ringan tapi tetap menyenangkan untuk diikuti. Terus, perkembangan karakter tokohnya juga oke. Ketika peralihan pov dari dua tokoh utama di novel ini, kita sebagai pembaca tetap bisa mengetahui perbedaannya.
Aku nggak ingat kapan tepatnya terakhir baca ini dan agak lupa beberapa detailnya, tapi yang aku baca setengah menuju akhir agaknya mengingatkan bahwa buku ini belum memberikan kesan yang wow.
Ternyata aku sudah pernah membaca karya dari penulis dengan penerbit yang sama, "Lose or Love Her Again" dan mendapati satu kesamaan, semua karakter wanitanya menggunakan "kabur" sebagai cara terbaik memikirkan masalah yang ada. Well, sebenarnya nggak aneh juga mengingat banyak yang memakai plot seperti ini, tapi aku menyoroti ketika Desya memilih pergi walaupun dia bersikukuh (dan memang benar membantu kakaknya pada akhirnya) hanya ingin menenangkan diri. Yang masih membuatku bingung adalah kenapa dia harus semarah itu padahal dia sendiri yang menyuruh Deon angkat telepon dari Bella?
Oh, karakter Bella juga terkesan agak plain untuk jadi antagonis. Dia ada hanya sekedar merusak keyakinan Deon, just it. Jahat sih, saking jahatnya pengin kutimpuk /canda, Bel/. Lalu, aku bahkan nggak mendapat kesan Desya adalah wanita yang memiliki berat badan berlebih selain yang dijelaskan dirinya sendiri. Kayak, apa ya, penjelasannya kurang kuat (nggak dibarengi juga dengan cara lain, sih), jadi kesannya over weight hanya sebagai tempelan aja. Terus caranya merajuk tuh asdfjlfml bikin kesel banget hiks. Intinya, aku kurang sreg saja sama buku ini, terlalu berputar-putar dan ada beberapa detail yang diulang jadi membuatku bosan.
Satu kata buat novel ini dramatic. Capek banget hampir seluruh halaman isinya masalah yang berulang karna cemburu dan miskomunikasi padahal ini karakternya di umur 30-an tapi aku gak liat both of them act like an adult malah kayak liat anak sma dijodohin, Desya too dramatic gak bisa selesain masalah selalu act like nothing ujungnya nangis terus deon literally a red flag menye-menye gak bisa tegas kesel liat dia udah setengah buku masih kagum sama mantannya dan ini yang buat aku ngerasa deon sama desya gak ada chemistry as couple, deon tiba-tiba cemburu sama desya padahal dariawal gak ada arah dia seeing her as lovers disini harusnya penulis bisa bangun step yg nunjukin deon has something to desya baru bisa kerasa di cemburu dan jatuh cinta tanpa dia sadari padahal trope friends to lovers ini slow burn tp gak ada chemistry as couple.
Topic overweight si desya juga gak digali lebih dalam dan deskripsinya gitu aja rasa insecure dia jg dijelasin sekedar aja dan penyelasaian diet dia juga gak ada jd kayak masalah overweight dia cuma tempelan di cover. Bella as villain cuma mirip villain sinetron too plain dia kayak ada as karakter biar deon tau dia cinta sama desya that's it ga dijelasin kenapa dia ninggalin deon atau digali kenapa dia divorce biar lebih kerasa emosinya.
'Tiba-tiba aku merasakan dia mengusap puncak kepalaku' ini deskripsi diulang terus sampe berapa halaman like...i know desya nervous kalo diusap kepalanya sama deon tapi gak usah diulang terus but covernya cantik suka sama warnanya, aku beli karena suka covernya.
Novel romansa yang singkat, padat dan cepat selesai dibaca. Meskipun sudah bisa menebak alur dan endingnya, perjalanan dan proses mencintai dari dua mantan sahabat antara Desya dan Deon cukup berliku. Kehadiran orang ketiga makin menambah bumbu derai tangis Desya. Saya lebih gemas dengan sikap Deon yang terlalu membuka hati terhadap Bella, mantan pacarnya dulu dan tidak bisa bersikap tegas. Konflik cukup imbang dan ceritanya realistis.