Rubrik Investigasi di majalah Tempo lahir dari perasaan "bersalah" dan rasa "berutang". Ketika rezim Soeharto jatuh pada 1998, media massa mendapatkan kebebasannya kembali. Tapi, seketika itu pula media berhadapan dengan setumpuk persoalan yang ditinggalkan rezim yang baru saja runtuh: sejumlah kasus besar yang tidak pernah terungkap. Lalu datang kesadaran itu: begitu banyak media massa di negeri ini, tapi begitu sedikit kasus mega dituntaskan.
Kepada aktivis hak asasi manusia Munir, kepada aktivis buruh Sidoarjo Marsinah, kepada wartawan Bernas Fuad Muhammad Syafruddin, kepada penyair Wiji Thukul, media masih "utang janji". Bahkan banyak kasus tak terjamah hukum. Dark numbers bukan cerita baru di era Orde Baru.
Di era setelahnya, berbagai persoalan muncul, terutama terkait korupsi, yang layak diinvestigasi. Penganggasiran uang negara terjadi di mana-mana: para pejabat publik, anggota DPR, bahkan para hakim. Kendati sering merasa seperti "berteriakteriak sendirian di padang pasir", Tempo berniat meneruskan ikhtiar jurnalisme investigasi ini.
Buku yang membuat saya memahami bagaimana jurnalis investigasi bekerja. Sebab, dalam melaporkan sebuah kasus yang rapi ditutupi oleh pihak-pihak yang lebih kuat memang tidak mudah. Harus ada keberanian dan cara-cara tersendiri supaya bisa mendapat informasi yang lebih mendalam.