“Kau tahu apa yang lebih menakutkan daripada perang yang sesungguhnya?” tanyaku.
Ia menggeleng.
“Perang melawan rasa takut. Karena perang yang sesungguhnya adalah menghadapi rasa takut itu sendiri. Bukan hanya dirimu. Semua orang di sini takut. Percayalah. Kau hanya perlu mengatasi rasa takutmu. Kalau kau bisa menguasainya, kau akan bisa melihat ketakutan di wajah lawanmu.”
“Saat orang-orang merenungkan rasa sakit mereka dan membicarakan mengenai hal itu secara terus-menerus, atau mulai mendefinisikan diri mereka sendiri sebagai orang yang sakit dan menderita, rasa sakit mereka biasanya menjadi lebih intensif dan mereka merasa lebih tertekan.
Bahwa semakin kita berpikir tentang hal buruk terhadap diri kita, maka kemungkinan buruk itu juga akan muncul atau setidaknya kita akan merasa lebih sakit.”
“Rupanya keputusasaan telah membuat diriku berada di tempat paling bawah, sehingga aku tak mungkin bisa jatuh lagi.
Apa lagi yang kau takutkan jika hidupmu sudah berada di bawah, bukankah kau sudah tidak akan bisa jatuh lagi?”
3.5/5 🌟 untuk buku ini.