Menjadikan kesehatan mental sebagai hal penting yang diakomodasi sistem sosial dan Negara, memang masih butuh waktu yang panjang. Stigma-stigma yang dilekatkan kepada para penyintas masih menjadi tembok tebal yang menghalangi pembahasan isu ini secara serius dan komprehensif. Pencegahan dan penanganannya sudah mulai digalakan, tapi masih terhalang sekat-sekat label negatif yang masih begitu subur. Tak jarang, orang-orang yang membutuhkan penanganan kesehatan mental justru menjadi kian terpuruk dan menyalahkan dirinya sendiri. Buku ini adalah usaha kecil untuk menggerus tembok itu.
Mengambil sudut pandanganya sendiri sebagai penyintas Gangguan Kecemasan, mengurai dengan detail bagaimana prosesnya menyadari dan mencari bantuan atas masalah kesehatan mental yang ia hadapi. Penulisan yang personal tetapi jauh dari dramatisasi. Tenni menambahkan banyak data penting untuk menjelaskan secara ilmiah gangguan yang dideritanya, dan bagaimana kondisi ini tak lantas membuatnya berhenti "berfungsi" sebagai manusia. Proses ini justru membawanya kepada pengalaman-pengalaman baru yang membuka kesempatan bereksplorasi untuk semakin erat memeluk dirinya sendiri.
Tenni Purwanti is a reporter who has been based in Jakarta since 2011 until now. Her short story Joyeux Anniversaire* was selected by Kompas Short Story Anthology 2014. She is one of 16 Emerging Indonesian Writer at Ubud Writers and Readers Festival 2015.
Buku yang menarik. Terutama karena blurb-nya. Sebenarnya saya mau memberi 3,5 bintang, tapi saya sangat mengapresiasi keberanian penulis membuka diri, menceritakan gangguan psikologis yang dianggap kebanyakan orang sebagai kelemahan--suatu anomali, dalam artian yang negatif. Tidak semua orang berani speak up tentang masalah kesehatan mental yang mengganggu mereka karena stigma yang melekat di masyarakat. Penyintas gangguan mental sering di-judge kurang iman, kurang bersyukur, dan lain sebagainya. Padahal terjadinya gangguan mental itu kompleks. Ada faktor genetika, pola asuh, dan ketidakseimbangan neurotransmitter di otak.
Pokoknya salut dengan penulis yang memberikan pengetahuan kepada pembaca tentang bagaimana ia berjuang hidup dengan gangguan kecemasan (yang ternyata lebih parah dari yang saya kira dan saya alami).
Buku kedua Tenni ini awalnya saya kira adalah kumpulan cerita juga seperti buku "Sambal dan Ranjang" yang terbit tahun lalu. Ternyata adalah catatan jurnal Tenni sebagai penyintas Gangguan Kecemasan (Anxiety Disorder) sejak 2017. Setelah membaca buku setebal 135 halaman ini saya jadi paham konteks beberapa cerpennya Tenni ada yang terasa muram. Tulisan di buku ini sangat jujur dan gamblang menceritakan pengalaman pribadi. Dengan berani ia berbagi cerita kehidupan personalnya untuk menggali sumber serangan kecemasan yang beberapa kali menimpanya. Mulai dari kondisi di keluarga, kondisi pekerjaan hingga ke hubungan asmaranya.
Pengalaman yang tidak mudah bagi siapapun yang menderitanya, terutama saat mencari bantuan untuk menghadapi permasalahan kesehatan mental ini. Lewat buku ini kita bisa lebih memahami konteks tentang Gangguan Kecemasan dari penyintasnya langsung sehingga kita tidak terjebak pada stigma yang sudah ada.
Judul buku ini mengingatkan kepada salah satu adegan di drama korea berjudul It's Okay to Not Be Okay yang sempat booming tahun lalu. Butterfly Hug adalah sebuah metode yang berguna untuk menekan rasa cemas dalam diri seseorang, ya begitu deh kira-kira yang aku tangkap dari drakornya. Dan ketika aku melihat judul buku ini, terbaca familiar.
Well, Butterfly Hug berisi semacam catatan seorang yang menderita gangguan cemas. Pembaca diajak untuk menyelami bagaimana awalnya gangguan cemas di dalam dirinya bermula, serangan seperti apa yang terjadi sampai akhirnya ia memutuskan menemui psikiater dan psikolog. Buku ini lebih ke cerita semacam memoar atau catatan pribadi ketimbang buku ilmiah, itu juga yang kemudian bikin aku cukup menyukainya. Menurutku, nggak terlalu banyak istilah medis yang susah dimengerti, jadi hanya butuh waktu sebentar untuk melahapnya. Terbilang tipis juga, sekitar 130-an halaman saja, bisa dibaca dalam sekali atau dua kali duduk. Gaya menulisnya pun ringan dan enak dibaca. Walau demikian, malah rasanya cerita ini dekat sekali. Mungkin karena diceritakan dari sudut pandang pribadi, jadi berasa kayak denger pengalaman seorang teman.
Meski, menurutku kekurangannya adalah ada beberapa bagian yang seharusnya penting tapi tidak dijabarkan dengan lebih rinci. Sedangkan, beberapa hal yang sebenarnya hanya berupa cerita biasa --nggak ada kaitan medisnya, atau sesuatu yang perlu diketahui pembaca, malah dijabarkan lebih panjang. Tapi kembali lagi, sih, ya namanya juga catatan pribadi. Mungkin semacam membagikan pengalaman kepada pembaca aja kali ya tujuannya.
Bagaimanapun, penulisnya sudah berani menulis, bercerita, dan membagikan kisah ini kepada masyarakat umum saja, menurutku sudah sangat baik. Butuh keberanian yang besar untuk bisa membagikan kisah pribadi kita kepada orang banyak --apalagi kisah yang sebenarnya bukan cerita bahagia.
Buku ini berguna buat orang yang masih ragu-ragu ingin mencari bantuan profesional atau bagi mereka yang mungkin kadang merasa ada yang salah dengan dirinya. Nggak perlu tunggu sesuatu yang parah terjadi di dalam diri kita, untuk bisa datang ke profesional. Ditambah, belakangan orang-orang kayaknya udah cukup aware dengan kesehatan mental. Oh, ya, di buku ini juga diceritakan bagaimana perjuangan penulis mencari psikolog yang cocok. Jadi lumayan bisa menjadi input bagi pembaca yang masih ragu.
Selesai membaca, aku ingin berdiri dan bertepuk tangan atas keberanian Tenni Purwanti menulis buku ini. Apa yang dialaminya, berjuang berusaha menjalani hidup dengan Gangguan Kecemasan, pastilah teramat berat. Apalagi bila pengalaman itu dituangkan ke dalam tulisan, mungkin rasanya seperti menjalani semua itu dua kali.
Aku juga ingin berterima kasih, karena buku ini membuka wawasanku akan topik gangguan mental. Sesuatu yang setahuku, masih mendapat stigma sebagai 'bukan penyakit sungguhan'. Sesuatu yang dengan mudah dihakimi oleh mereka yang tidak pernah mengalaminya sendiri.
"...yes, I have Obsessive Compulsive Disorder. I am not ashamed of that. But it is not my story. It is just one piece. And if you continue to look at just that one piece, if you check that mental illness box and refuse to look at anything else, then I’m not going to live long enough to finish the rest of my story.” -Miranda Bailey, Grey's Anatomy.
Satu hal lagi yang penting kupahami setelah membaca: gangguan mental juga bukan identitas seseorang. Tenni hidup dengan Gangguan Kecemasan, namun ia 'berfungsi sepenuhnya', malah berhasil menerbitkan dua buku bagus.
Judul: Butterfly Hug Penulis: Tenni Purwanti Penerbit: Buku Mojok Kota Terbit: Yogyakarta Terbit: September, 2021
Membaca buku Butterfly Hug seperti menemukan buku harian seseorang di suatu tempat. Lalu, tak sengaja membacanya dan menemukan hal-hal ajaib di dalamnya, salah satunya membuatku merasa ditemani dan menjadi lebih berani.
Buku bergenre psikologi ini adalah bacaan yang cukup ringan. Membahas tentang kesehatan mental, penulis menekankan bahwa ia menulis buku ini menggunakan sudut pandang penyintas, bukan ahli. Penulis menceritakan kisahnya dengan jujur dan polos. Sama sekali tidak mendramatisasi situasi yang dihadapinya. Penuturannya cukup nyaman untuk terus dibaca sampai akhir. Salah satu alasan mengapa aku menyukai buku ini.
Buku setebal 136 halaman ini terdiri atas 9 bagian: Pengantar Penerbit, Prolog, Dari Mana Semua Ini Bermula?, Perjalanan Panjang Menuju Pulih, Berdamai dengan Masa Lalu, Menjadi Penyintas Gangguan Cemas, Apa yang Sebaiknya Dilakukan Caregiver?, Epilog, dan Biografi Singkat Penulis.
Ada beberapa bagian yang membuatku tersentak, bahkan menangis. Suatu hal yang masih belajar kupahami. Mungkin karena aku merasa berempati, atau ada kisahnya yang mirip dengan kisahku juga? —tentunya dalam bentuk yang berbeda. Entah, mungkin.
Kalimat “being here and now” berulangkali muncul dalam buku ini dan menjadi semacam mantra bagiku. Selain itu, meski tak diucapkan secara tersurat, menurutku buku ini berusaha menyampaikan kepada pembaca agar tidak meromantisasi gangguan kesehatan mental. Sebab apabila mengalaminya, hal tersebut bagai sebuah pengembaraan panjang dengan jalur yang sangat terjal —yang entah kapan akan usai.
“... dalam konseling dengan Psikolog, tidak ada tingkatan, tidak ada ujian kenaikan tingkat, tidak ada sertifikasi. Juga setiap individu unik. Kisah hidupnya berbeda-beda dengan pemaknaan yang berbeda-beda pula.” (h. 74)
Terakhir, aku ingin berterima kasih kepada Mbak Tenny Purwanti yang telah menuliskan catatan harian ini. Mungkin tak mudah dan memicu hadirnya beberapa kekhawatiran, tetapi rasa khawatir itu pada akhirnya melahirkan begitu banyak kekaguman. Menurutku, buku ini sangat cocok untuk dijadikan sebagai teman.
Oh iya, sampulnya juga sangat indah.
Pengulas: @hanafm24 Buku ini bisa didapatkan di @tokobukufm
This entire review has been hidden because of spoilers.
Buku ini bukan novel, karena banyak yang mengira kalau ini fiksi atau buku self improvement. Sebenarnya saya juga kurang bisa menentukan ini buku genre apa. Tapi yang jelas, buku non fiksi ini berisi tentang pengalaman pribadi penulis sebagai penyintas gangguan kecemasan atau anxiety disorder. Mulai dari penyebab pertama munculnya gejala anxiety, proses pemulihan dengan konsultasi ke psikolog dan psikiater sampai akhirnya bisa berdamai dengan diri sendiri.
Penulis menyampaikan kisahnya dengan jujur dan sesuai dengan apa yang dialami sebagai penyintas bukan ahli. Jadi saat membaca buku ini, saya lebih merasa seperti sedang mengobrol santai dengan Kak Tenni.
Ada teknik di dalam buku ini yang cukup menarik, yaitu teknik 54321. Ini adalah salah satu latihan untuk "berada di sini saat ini". Karena saat cemas, kita cenderung terlalu berpikir apa yang yang terjadi di masa lalu atau apa yang nanti akan terjadi. Padahal kenyataannya kita berada di masa sekarang. Jadi teknik 54321 ini dilakukan dengan menemukan lima hal yang bisa dilihat, empat hal yang bisa didengar, tiga hal yang bisa disentuh, dua hal yang bisa dicium (atau dibaui), dan satu hal yang bisa dicecap.
Selain itu, pasti teknik butterfly hug. Bagi yang pernah nonton drama Korea "It's Okay to Not be Okay" pasti udah gak asing lagi sama teknik ini. Walaupun saya sebenarnya belum selesai nonton drakor itu sampai habis. Semoga nanti pas liburan bisa maraton drakornya.
Saya juga ingin mengucapkan terima kasih banyak kepada Kak Tenni Purwanti yang sudah berbagi pengalamannya di dalam buku ini. Saya jadi mendapat insight baru, terutama tentang anxiety disorder dan mental health. Di masa sekarang topik tersebut memang penting banget untuk diangkat.
Saya suka di bagian cita-cita penulis untuk menjadi seorang drummer. Semangat dan positifnya membuat saya ikutan semangat juga untuk meraih cita-cita saya. Terima kasih lagi, Kak.🥰
Tulisannya bagus, mudah dicerna. Sebuah pengingat bahwa self diagnosis itu berbahaya, perlu bantuan profesional. Bahkan pendapat psikiater dan psikolog bisa berbeda. Perlu 2 tahun untuk menegakkan diagnosis gangguan kecemasan. Yang paling penting, tidak ada cara instan untuk memulihkan diri saat mengalami gangguan kecemasan. Butuh waktu, dana, dan tenaga yang tidak sedikit.
Ada banyak cerita-cerita personal tenni dalam buku ini, dari asmara sampai ke pengalaman tenni tumbuh besar dengan segala kejadian yang membentuk dirinya sekarang. Buat saya sih itu nggak masalah, karena lewat pengalaman-pengalaman tenni (termasuk penjelasan yang mudah dimengerti dari rangkaian terapi yang dilakukannya itu) membantu saya berefleksi. Kata-kata Tenni di banyak halaman buku ini juga mengingatkan saya untuk 'being here and now,' sebelum terbawa panik dengan memikirkan kemungkinan buruk yang belum tentu akan terjadi.
Saya yakin proses Tenni menjalani sesi demi sesi terapi itu tak selalu membuahkan analisa yang crystal clear tentang kondisinya, tetapi kemauannya untuk pulih dan mengupayakannya sampai sekarang itu begitu menginspirasi dan layak diapresiasi. Semoga saja, pengalaman dan penjelasan tenni dalam buku ini bisa memberi semangat juga bagi pembacanya yang lain.
Membaca ini membuatku membayangkan kalau kak Tenni di depanku dan bercerita pengalaman dia sebagai penyintas yg sudah berusaha memperbaiki kesehatan mentalnya lewat psikiater dan psikolog. Menambah wawasan baru tentang kesehatan mental. Tentu saja bahasanya ringan dan mudah dipahami.
Buku ini merupakan buku non fiksi yang menceritakan tentang pengalaman pribadi penulis sebagai penyintas gangguan kecemasan.
Ia menceritakan pertama kali mengalami serangan. Ia sempat mengira bahwa mengalami serangan jantung karena rasanya sedikit sakit di dada, detak jantung memburu, dan kesulitan untuk bernafas.
Akhirnya ia tau apa yang ia alami. Buku ini juga menjelaskan secara runtut proses penulis menuju kesembuhan. Dengan menemui tenaga profesional, menjalani terapi dan konseling.
Melalui buku ini jadi membuka mata dan pikiran bahwa mental illness itu nyata. Mungkin kita yang tidak merasakan bisa dengan mudah men-judge padahal kalau kita diposisi itu pasti juga merasakan ketakutan dan kekhawatiran.
Pembaca bakal dapat banyak insight dibuku ini seperti istilah dalam dunia kesehatan mental dan teknik untuk mengendalikan kecemasan.
Salah satunya teknik 'Butterfly Hug' buat yg udah nonton drama korea yg berjudul "It's Okay Not To Be Okay" pasti sudah familiar dengan teknik ini. Teknik ini utk stabilisasi emosi agar bisa meregulasi emosi secara mandiri dari panik ke tenang.
Selain itu, buku ini juga menjelaskan penyebab kecemasan itu terjadi. Salah satu yang ikut andil adalah pengasuhan. Aku tidak mengatakan pola asuh yang tertuang dibuku ini tidak baik. Karena psikologis tiap anak kan berbeda jadi pola asuhnya pun pasti berbeda antara satu anak dengan anak lain.
Selama kita hidup pasti ada banyak luka yang kita terima entah itu dlm bentuk luka pengasuhan, kekerasan, pengabaian, toxic relationship dll. Jika semua ini tidak tertangani dengan baik maka akan menumpuk hingga akhirnya meledak pada waktu yang tak terduga.
Not gonna lie, I bought this book because of title. I knew that term throught one of k-drama and thought, "Okay, I have to purchase it" without reading the blurb. Aku kira ini buku self-help yang menyuguhi kita dengan kalimat-kalimat penguatan but guess what? Aku terkaget ketika membaca beberapa halaman pertama. Jelas ini bukan buku self-help, tetapi lebih ke memoar.
Membaca buku ini membuatku merasa salut dengan penulis karena dia berani menuliskan pengalaman-pengalaman pribadinya sebagai penyintas untuk dibaca banyak orang. Dengan begini, orang awam bisa mendapatkan gambaran apa saja yang dilalui oleh penyintas.
Selain itu, kesan yang paling dominan ketika aku membaca buku ini adalah merasa dikuliti. Aku seperti membaca narasi tentang diriku sendiri. Saat penulis menguraikan pikiran rumitnya yang membuat dia diserang kecemasan, saat penulis menjelaskan sistem pertahanan dirinya, bahkan mengibaratkan diri sebagai mawar berduri (aku juga demikian!), semuanya terasa mengupas diriku satu-persatu. Meskipun ada beberapa tindakan dan faktor yang berbeda, aku seolah bisa memahami apa yang dialami penulis.
Bagian yang paling aku suka adalah saat penulis menceritakan pengalamannya tentang teknik grounding yang diajarkan oleh psikolog, yang salah satu dari teknik itu dipilih menjadi judul buku ini. Setelah membaca buku ini, aku semakin diyakinkan bahwa kita harus mencari bantuan ahli jika kita merasa ada yang ‘tidak beres’ dalam diri kita untuk menghindari salah diagnosa. Penulis juga berkali-kali menekankan untuk tidak self-diagnose karena itu berisiko membahayakan diri sendiri. Menyadari bahwa ada yang ‘salah’ itu adalah langkah awal untuk menolong diri.
Jika kamu termasuk orang seperti saya, kuatlah, sembuhkan dirimu sendiri dan temui ahlinya.
Last but not least, melalui bahasanya yang lugas dan kuat, penulis juga menunjukkan kepada banyak orang bahwa penyintas gangguan kecemasan atau penyintas penyakit mental yang lain tetaplah manusia yang sangat berfungsi.
"Kadang kita baru menyadari kejadian di masa lalu ternyata berkaitan dengan masa sekarang."
Buku ini bercerita tentang pengalaman penulis sebagai penyintas gangguan kecemasan. Aku salut sama keberanian kak Tenni untuk speak up dan berbagi pengalamannya selama ia mengalami gangguan kecemasan. Seperti yg ditulis bahwa awalnya beliau takut kalau buku ini akan menjadi batu sandungan bagi karirnya di masa depan.
Dari buku ini aku belajar kalau kesehatan mental itu sangat penting, jangan disepelekan dan jangan dipandang sebelah mata.
Seperti disebutkan disini kalau kesehatan mental itu ga berpengaruh dari seseorang itu dekat atau tidak dengan Tuhan nya tapi bisa jadi karena ada trauma dan kejadian yg membuat orang tsb mengalami masalah kesehatan mental.
Membaca buku ini membuatku menyadari bahwa tidak mudah bagi seseorang yg memiliki gangguan kesehatan mental, aku baca pengalaman penulis di buku ini aja rasanya capek banget, apalagi mereka yg bener-bener mengalaminya.
Dan jika disekitar kita ada orang-orang seperti ini, jangan dihindari bahkan dijauhi, karena mereka sesungguhnya juga manusia pada umumnya, cuma pada saat-saat tertentu disaat ada pemicu yg membuat mereka 'kambuh', mereka perlu perhatian lebih seperti kasus penulis dia hanya perlu di genggam tangannya sambil diyakinkan bahwa dia ada di tempat yg aman.
Lewat buku ini juga aku belajar istilah-istilah psikologi yg belum pernah aku dengar sebelumnya. Lalu apa bedanya Psikiater dan Psikolog. Lalu juga teknik-teknik dalam mengatasi 'serangan' yg dialami orang dengan gangguan kesehatan mental, salah satunya Butterfly Hug, jika dilakukan dengan benar teknik ini bisa menenangkan instan tanpa obat.
Lalu jangan asal mengambil kesimpulan bahwa kita mengalami gangguan mental, karena harus dikonsultasikan ke ahlinya. Juga jangan men-judge orang-orang dengan gangguan mental karena mereka juga manusia yg 'berfungsi normal' selayaknya orang lain. Overall aku suka buku ini, banyak pelajaran yg bisa diambil. Recommended banget buat dibaca.
Menarik. Kata pertama untuk menggambarkan buku ini. Dari cover yang indah, judul yang menimbulkan rasa penasaran, dan ... pertanyaan: "Informasi apa yang ditawarkan buku setipis 135 halaman ini?" lengkap membuat aku ingin membacanya.
🦋Thx untuk @klysandy yang bersedia meminjamkan anak kecilnya ini untukku. Dan selamat menunggu untuk @aditya.nurikhlas Semoga buku ini bisa jadi teman baca akhir tahun yang sesuai.🦋
Setelah membacanya, rupanya buku ini versi ringan dari berbagai buku yang membahas tentang kesehatan mental. Bahasanya nggak banyak membebani, enakeun pisan, dan cara menulis yang seperti cerita mengalir membuat kita tidak merasa digurui, tetapi seperti diajak mendengarkan cerita atau kisah lampau sang penulis.
🦋Informatif. Dalam 135 halaman, saya bisa menemukan banyak informasi yang penting. Tentang konsep penting dalam konseling, metode grounding yang diantaranya adalah metode 54321 dan Butterfly hug, juga tentang beberapa hal yang menurutku penting sebagai pengenalan atau justru pendalaman bagi kita yang sedang tertarik pada isu kesehatan mental.
Sedikit saja yang aku rasa kurang. Bahasan di akhir mengenai les drum, kisah cinta 3 runtut yang dialami penulis seperti terlalu panjang diceritakan. Dan karena di awal isi buku ini telah kaya, seolah-olah bagian akhir ini justru menjadi antiklimaks yang kurang pas. Tapi, aku yakin selalu ada alasan mengapa bagian itu ditulis sangat panjang.
Terima kasih Author! Buku ini memberikan pengalaman yang menarik dalam membaca buku tentang isu kesehatan mental.🦋 #tebarracunliterasi #buku #bukubutterflyhug #butterflyhug #bookrecommendations #bookreview #bookexperiences #bookstagram #bookstagramindonesia #booklover #bookenthusias #bookreader #books
Buku yang mencerahkan tentang kesehatan mental. Tenni Purwanti, penulis Butterfly Hug, membagikan perjalanan hidupnya sebagai penyintas gangguan kecemasan. Ia menceritakan serangan cemasnya yang pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya. Hingga akhirnya, ia menjalani proses pemulihan yang dibantu oleh psikiater dan psikolog.
Di sela menceritakan perjalanan panjang untuk pulih, penulis juga menyelipkan kisah masa lalu yang berkaitan dengan gangguan kecemasannya. Pokoknya buku ini bagus untuk ningkatin kesadaran akan kesehatan mental.