Kalangan akademisi sekuler menuduh para cendekiawan Muslim yang tidak sependapat dengan ide liberal sebagai menyucikan pemikiran keagamaan (taqdīs al-afkār ad-dīnī). Padahal pada saat yang sama, mereka sendiri mengimpor pemikiran Barat tanpa proses keilmuan memadai, menganggapnya tanpa cacat, bahkan pada level tertentu: menyucikannya (!) Sehingga tidak berlebihan jika kita juga menyebut mereka sebagai menyucikan pemikiran Barat (taqdīs al-afkār al-gharbī). Mereka ‘merayakan’ liberalisasi sebagai jalan menuju kemerdekaan berfikir, menjadi insan rasional, modern, dan maju sekaligus menuding agama (baca: Islam) sebagai biang kemunduran.
Sebagian kalangan menyindir gerakan ini sebagai pubertas intelektual. Sebagian yang lain menganggapnya sebagai gerakan pembaharuan pemikiran (tajdīd). Namun, dengan pikiran jernih akan mudah ditangkap kesan bahwa gerakan pemikiran ini lebih cenderung kepada gerakan sosial-politik ketimbang wacana keilmuan biasa. Kritik mereka terhadap para sahabat Nabi Saw., ulama, sejarah Islam, tradisi, aqidah, hukum-hukum syariah yang baku, al-Qur’an mushaf Utsmani, dan ilmu Tafsirnya sangat tinggi, mengindikasikan sebuah kemarahan dan kebencian yang tidak wajar. Semangat para akademisi di perguruan tinggi Islam untuk mengkaji pemikiran Barat juga mengalahkan antusiasme mengkaji tradisi pemikiran Islam. Metodologi Barat pun secara semena-mena (tanpa daya kritis) digunakan sebagai pisau bedah untuk menganalisa dan menafsir ulang naṣṣ-naṣṣ sumber syariat dan keilmuan Islam. Alih-alih mengangkat harkat dan martabat umat, liberalisasi pemikiran Islam malah berdampak pada semakin bertambahnya jarak antara kaum Muslimin dengan sumber agamanya sendiri dan tergerusnya rasa hormat kepada otoritas keilmuan Islam.
Jika dikatakan bahwa menjadi Muslim yang rasional menjadi alasan untuk menerima liberalisme dan menepikan agama (baca: Islam) sebagai salah satu sumber kebenaran. Maka, haruskah demikian?
Lahir di Gontor, 13 September 1958, Hamid Fahmy Zarkasyi adalah putra ke-9 dari KH Imam Zarkasyi, pendiri Pesantren Modern Gontor Ponorogo. Beliau juga Pemimpin Redaksi Majalah ISLAMIA dan direktur Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS).
Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi menamatkan pendidikan menengahnya di Kulliyatul Mu'allimin al-Islamiyah Pondok Modern Darussalam Gontor dan S1 di Institut Studi Islam Darussalam di pondok yang sama. Pendidikan 2 (MAEd) dalam bidang pendidikan diperolehnya di The University of Punjab, Lahore, Pakistan (1986). Pendidikan S2 (M.Phil) dalam Studi Islam diselesaikan di University of Birmingham United Kingdom (1998). Sedangkan studi S3 (PhD) bidang Pemikiran Islam diselesaikan di International Institute of Islamic Thought and Civilization - International Islamic University Malaysia (ISTAC-IIUM) Malaysia pada 6 Ramadhan 1427 H/29 September 2006.
Baru-baru ini ia dipilih menjadi Pimpinan Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI). Sejak tahun 2003 ia aktif melakukan workshop pemikiran Islam yang berupaya bersikap kritis terhadap program liberalisasi pemikiran Islam. Murid langsung Prof. Dr. Syed Mohammad Naquib al-Attas ini juga pernah menjadi wakil umat Islam Indonesia dalam simposium tentang masa depan politik Islam di JIIA Tokyo (2008). Ia juga menjadi anggota delegasi RI (Kemenlu) dalam program Public Diplomacy Campaign ke Austria (2010).
Ia banyak melakukan lawatan ke berbagai negara Eropa dan Asia dalam program dakwah, seminar, studi banding, dsb. Selain aktif menulis di berbagai media massa dan beberapa jurnal, kesehariannya ia habiskan untuk mengajar dan memimpin Program Kaderisasi Ulama dan Pascasarjana Institut Studi Islam Darussalam, Gontor.
Ulasan singkat ini saya buat sebagai refleksi kecil saya sebagai manusia awam akan ilmu agama dan hanya bermodal rasa penasaran terkait: "kenapa Islam sebegitu ditakutinya oleh masyarakat agama lain bahkan Peradaban Barat". Mohon dimaklumi jika isi ulasan ini akan ada bias pribadi yang mungkin bisa jadi salah.
Dari judulnya terlihat sangat menarik perhatian saya karena buku ini mengatakan akan menjawab tantangan liberalisasi pemikiran Islam. Isinya memang sangat menarik. Terdiri dari ±41 subjudul yang terbagi dalam 3 topik besar: 1. Liberalisasi pemikiran Islam. 2. Pluralisme Agama dan Toleransi Beragama. 3. Orientalisme, Misionarisme dan Keindonesiaan. Ketiga topik besar ini memuat sub-sub judul yang dibahas dengan bahasa, yang menurut saya, mudah dipahami oleh pembaca pemula atau yang baru belajar, dan penjelasannya juga cukup komprehensif karena disertai berbagai sumber rujukan. Hanya saja sumber rujukan ini tidak dituliskan dengan kaidah penulisan situasi saat ini atau minimal diberikan dibagian catatan kaki disetiap halamannya.
Ketiga topik diatas banyak dijabarkan secara definisi dari para ahli-ahli terdahulu untuk memahami bagaimana pandangan terkait suatu istilah itu terlahir. Disini saya sangat merasa terbantu dengan adanya penjelasan definisi makna istilah ini karena framework berpikir saya seolah terbangun dan sadar bahwa dari sekedar "istilah" itu ternyata bisa sangat berpengaruh terhadap cara pandang akan suatu fenomena besar kedepannya.
Buku volume-1 ini sepemahaman saya memang sepertinya hanya membahas bagian permukaan dari permasalahan dan perdebatan mengapa Islam harus dipercayai sebagai sumber firman Tuhan. Selain itu setiap sub judul yang dibahas juga seperti kita memakan buah yang baru dikupas kulitnya dan saat kita cicipi satu gigitan buah ini terasa enak sehingga membuat penasaran bagaimana kelanjutan kunyahan buah berikutnya. Menurut saya seperti itulah apa yang saya rasakan setelah membaca seluruh isi buku ini. Buku ini seperti pengantar kita untuk lebih haus membaca buku karya pemikir-pemikir lain yang banyak dikutip disini, khususnya pemikir islam, misalnya buku karya Syed M. Naquib al-Attas.
Dari buku ini jugalah yang akhirnya menjawab rasa penasaran saya mengapa di Barat, misalnya di Negara Inggris, sampai ada institusi pendidikan atau jurusan yang mengkhususkan studi tentang orientalisme. Dibuku ini dijelaskan secuil mengapa hal itu bisa terjadi. Ini semakin menguatkan pendapat bahwa setiap masyarakat Indonesia yang akan menempuh pendidikan di Negara Barat atau di negara manapun yang memiliki basis kepercayaan selain Islam perlu dibekali secara baik pemahaman ilmu agama Islamnya sebelum belajar kesana.
Rujukan dan fenomena yang menjadi studi kasus dibuku ini banyak yang diambil dari kejadian atau sumber lebih dari hampir 7 tahun yang lalu, sedikit sekali yang diambil dari sumber terbaru. Jadi memunculkan banyak lagi sebagai orang awam seperti saya untuk mencari literatur terbaru mengenai isu pemikiran dibuku ini. Tapi secara garis besar saya suka dengan bagaimana setiap penulis menjelaskan topiknya dimulai dari fenomena atau pertanyaan dan diakhiri dengan kesimpulan atau implikasi yang ditulis secara runut dan mudah dipahami. Bahkan dibagian akhir ini juga seolah menjelaskan, mengapa Islam dan Negara Indonesia adalah 2 hal yang tak bisa dipisahkan serta bagaimana kenyataannya saat ini.
Bagian yang juga menggelitik rasa penasaran saya, sebagai perempuan, dibuku ini adalah pada subjudul: Liberalisme dan Feminisme (hal. 79). Pada subjudul ini ternyata tokoh pahlawan perempuan bernama RA. Kartini sangat berpengaruh pada lahirnya paham itu. Saya jadi penasaran untuk membaca surat-surat Kartini yang dibukukan menjadi judul: Habis Gelap Terbitlah Terang.
Menurut saya, berikut ini adalah beberapa kutipan menarik dibuku ini:
...kajian orientalisme itu berbeda dengan kajian para ulama dalam tradisi intelektual Islam. Kajian Orientalisme tidak berdasarkan keimanan (faith-based) maka secara otomatis tidak selalu dapat bersikap adil. Artinya, ketika mengkaji Islam "mereka" tidak dapat memahami & meletakkan suatu konsep dalam tradisi intelektual Islam sebagai bagian dari struktur konsep yang tercermin dalam pandangan hidup Islam. (konsep ilmu dalam Islam berdimensi iman dan amal).
Karena kehilangan dimensi iman, maka ilmu tidak lagi berguna dan berkaitan dengan taqarrub kepada Allah karena konsep ilmu tidak diletakkan sebagai bagian dari struktur konseptual Islam, maka ilmu tidak lagi berhubungan secara langsung dengan amal.
... Bagi yang tidak membaca secara kritis—apalagi enggan membaca—kajian orientalis akan terlihat rasional dan objektif. Apa yang orientalis kaji juga seperti sejalan dengan tuntunan keilmuan kontemporer, tetapi sejatinya secara konseptual mengandung kerancuan-kerancuan. (Hal. 318)
...pandangan dan kritik orientalis berdasarkan kajian mereka terlihat sangat spesifik. Artinya jika mereka mengkaji suatu bidang tertentu, mereka lewatkan bidang kajian yang lain... (Hal. 250)
Jadi, kajian Orientalis yang dianggap merepresentasikan nilai objektif dan ilmiah itu sangat mungkin untuk terjerumus dalam kesalahan... Orientalis sebagai ilmu itu tidak bebas nilai... (Hal. 250)
🤯 emoji ini akan sangat mewakili seketika kita membaca halaman per halaman buku “Rasional Tanpa Menjadi Liberal”. Rasanya seperti sedang membaca proceeding (kumpulan artikel ilmiah) dengan 300++ halaman. Para penulis menyajikan pembahasan yang cukup komprehensif dan juga ilmiah bagaimana seharusnya generasi islam memandang berbagai pemahaman keliru seputar islam yang dibuat oleh penganut orientalism. Banyak fakta sejarah yang dihadirkan lengkap dengan buktinya untuk menguatkan bahwa generasi islam tidak perlu lagi memiliki inferiority complex pada pemikir barat dan tak perlu lagi overglorify atau mengagung-agungkan pendapat barat yang justru sedang mengaburkan identitas, kontribusi serta sejarah islam dan tokoh-tokoh muslim itu sendiri. Worth it!! 🖤