One of the truly seminal works in modern cultural anthropology, Five Families is a dramatic and forceful account of the men, women, and children of five Mexican families and the impoverished communities in which they live.
Oscar Lewis was born in New York City in 1914, and grew up on a small farm in upstate New York. He received his PhD in anthropology from Columbia University in 1940, and taught at Brooklyn College and Washington University before helping to found the anthropology department at the University of Illinois, where he was a professor from 1948 until his death. From his first visit to Mexico in 1943, Mexican peasants and city dwellers were among his major interests. In addition to The Children of Sanchez, his other studies of Mexican life include Life in a Mexican Village, Five Families, Pedro Martinez, and A Death in the Sanchez Family. He is also the author of La Vida: A Puerto Rican Family in the Culture of Poverty—San Juan and New York, which won the National Book Award, and Living the Revolution: An Oral History of Contemporary Cuba, with his wife, Ruth Maslow Lewis, and Susan M. Rigdon. Lewis also published widely in both academic journals and popular periodicals such as Harper’s Magazine. Some of his best-known articles were collected in Anthropological Essays (1970). The recipient of many distinguished grants and fellowships, including two Guggenheims, Lewis was a Fellow of the American Academy of Arts and Sciences. He died in 1970.
Still unclear to me what gives "us" the right to examine "them," but the examination yields utterly compelling stories and helps me better understand my own home.
I'd already read The Children of Sanchez and The Death of Sanchez by this author, and was thrilled to run across this one completely by accident at the library. This one depicts a day in the life of five Mexican families - one in a rural village and four in Mexico City. Even though it was written in the 1950s, a lot of the details reminded me of the colonia I visited outside of Mexico City, and of the stories of my students and friends. The book is a work of anthropology that reads like a novel. If you're one of my friends who liked Random Family, I'm sure you would like this and Lewis's other books, too.
Never has an “old” book seemed so relevant. Lewis’s tome, by now, is history, but he takes five Mexican families (some of whom he has known since the 1940s) in the 1950s and makes a study of them. According to his own account, his approach is multi-faceted: 1) a holistic approach with regard to a single family 2) through the lens of one family member 3) to study a problem area in the family, and 4) another holistic method by taking in a typical day of a family.
Lewis’s process makes for a fascinating read. You feel as if you are reading a novel, that you are in the midst of each one of these families: The Martínez family living in the highland village of Azteca, the Gómez family of the Casa Grande neighborhood in Mexico City, the Gutiérrez family living on MC’s “Street of the Bakers,” the Sánchez family, “on the edge of Mexico City,” and the Castro family in the wealthiest neighborhood studied, the Lomas de Chapultepec area of Mexico City.
Lewis takes you into the various hovels that four of the families live in: earthen floors, primitive or substandard heating and cooking stoves, crowded conditions with multiple family members occupying beds or spaces on the floors. He lets us in on the daily grind of the working poor, always borrowing a few pesos from a friend, neighbor, or family member to make ends meet, and sometimes failing. The drudge of dead-end jobs or self-employment, i.e. selling off items in the street for yet a few more pesos. This all happens sixty years ago, and yet it would not be surprising to find out that many Mexicans still live the same way. No wonder they find conditions, as difficult as they are, in the United States “better” by comparison.
The final family, The Castro family, is by contrast, a representative of what Lewis calls the nouveau riche. David Castro, has come from poverty but has worked hard and successfully to bring his family to the “fringe” of one of the wealthier neighborhoods of MC. They have enough bedrooms for each of their four children, three boys and one girl. They have plenty of money, apparently, but David is largely in control of it. He and his wife, Isabel, have a “free union” marriage which is recognized neither by the government or the church, but it suits David Castro’s needs: to control his wife and his four spoiled children. They have three servants, but nothing is ever done to Isabel’s satisfaction. David never gives her enough money, she claims, and yet what she does have she spends quite freely on expensive items for herself and her children. The Castro family stands in stark contrast to the other four, and yet there seem to be some similarities. All five families with the exception of one are ruled by a macho man with an iron fist. All except one man (and Lewis suspects he may have “homosexual tendencies”) has affairs with multiple women. Children bicker and vie for their parents’ attention in various dysfunctional ways. Nutrition is poor (fried “meat” that is the dregs of what a shopper can buy). In all, however, the book still stands as an compelling study, one that should still interest Mexico’s neighbors who live along the border of the United States of America.
Saya membaca ini atas dasar tugas perdana kuliah Teori Kebudayaan
Di awal buku menceritakan sedikit spoiler tentang cerita yang akan di ceritakan. Dan kelebihan dari metode metode yang dipakai oleh Dr. Lewis di pengamatan-pengamatan ini. Cara menulisnya pun dengan menggunakan telaah hari-hari, dengan kebiasaan rutininasnya disertain dengan selipan-selipan cerita, kisah lama, dan background story dari sebuah peristiwa penting yang berhubungan dengan keadaan keluarga pada saat itu. Dengan begini, ‘realisme etnografis’ dari kisah ini sangat jelas tergambarkan, mengapa mereka percaya apa yang mereka percayai, mengapa mereka berpikir seperti apa yang bereka pikirkan, sampai mengapa mereka melakukan apa yang mereka lakukan. Sehingga membaca ini seperti layaknya membaca sebuah novel.
Empat kisah awal merupakan kisah orang-orang miskin yang dimana mereka mempunyai kesamaan yang sama dalam hal ekonomi. Kisah-kisah ini menceritakan cara-caranya menghadapi suatu masalah dari hal yang terbasic seperti makan ketika tidak ada bahan makanan, atau tidak ada uang untuk membeli keperluan rumah tangga. Dari kisah-kisah ini menceritakan perbedaan-perbedaan watak dari masing-masing karakter perorangan di keluarga.Saya secara pribadi paling suka menganalisis keluarga yang pertama, dan disandingkan dengan keluaga kedua dan membandingkan keduanya. Saya juga mendapati kesamaan dari seluruh cerita yaitu banyaknya sifat patriarki dan misogini yang digambarkan dan sangat mudah untuk bersimpati pada para perempuan di kisah-kisah ini meskipun saya mengingat tahun kisah-kisah ini adalah tahun 1950an dan itu merupakan hal ‘wajar’ pada masa tersebut. Saya juga menyimpulkan, selain tahun atau masa, dimana berarti bukan hanya edukasi yang minim, tapi kepercayaan yang masih tabu akan banyak hal, tapi sifat orang, dan bagaimana mereka bereaksi pada saat yang di tuliskan adalah hasil dari perlakuan masa kecilnya. Di kisah ini, banyak diselipkan background story yang dapat kita simpulkan mengapa para karakter ini bereaksi seperti itu. Dari kisah keluarga Martinez, Esperanza adalah seorang yang penurut, innocent, bahkan tak berani membantah. Bahkan dia tak berani berpendapat atau mengutarakan apa yang dia rasakan. Menurut saya itu dikarenakan hubungannya dengan sang ibu. Ketika dia kecil, dia selalu mengikuti kata ibunya, tidak berani membantah karena dia tau ibunya dapat memukulnya, walaupun dia kadang tidak tahu apa yang dia lakukan sampai ibunya sering memukulnya dan pernah sewaktu waktu bertanya, tapi sang kakak menasihatinya untuk terima saja pukulan sang ibu. Disini saya tangkap bahwa Esperanza orangnya penurut karena dia merasa dia tidak punya pilihan lain. Dia tidak tahu apa yang bisa dia lakukan selain menurut karena itulah juga dia jadi susah mengungkapkan perasaannya dan memendam apa yang dia rasakan dan melanjutkan melakukan apa yang menurutnya benar. Bahkan ketika ia hendak menikah dengan Pedro, ibunya mamberi nasihat kepadanya untuk selalu mengikuti kata suaminya dan harus mengikuti watak sang suami, dengan alasan agar suaminya tau bagaimana baiknya didikan sang ibu (bahkan nasihatnya untuk kepentingan sang ibu). Menurut saya karena ini juga saya dapat menyebut keluarga Martinez adalah keluarga yang dynamic dalam artian keluarga ini adalah keluarga yang sistematis, teratur, dan saling melengkapi satu sama lain; suami yang otoriter dan suka ngatur, istri yang penurut dan tak suka membalas omongan. Keluarga ini juga beradab, dan sangat masih mengikuti value atau nilai nailai kekeluargaan tradisional dari dulu, seperti makan bersama, menunggu yang lainnya, dan kalau bisa selalu lakukan hal yang berguna (tak berleha leha). Pedro adalah seorang yang otoriter dan keras. Saya dapat menyebutnya bahwa Pedro adalah seorang tipe ‘alpha’, yang dimana dia mau yang ‘berkuasa’ di tempatnya, terlebih lagi pada perempuan yang menambah contoh patriarki lagi. Belum lagi alasan Pedro menikasi Esperanza karena ini ‘lemah’, tak berdosa dan lebih miskin darinya. Pedro orangnya juga keras kepala dan kuat secara spiritual; dia teguh dengan apa yang dia pegang. Dia mendapatkan pandangan baru, Protestan, yang membuatnya dapat berpegang pada sesuatu ketika dia sedang kecewa. Walaupun satu desa mengucilkannya karena pilihannya untuk berganti agama dari Katolik ke Protestan, dia tetap setia mengikuti ajaran-ajaran Protestan sampai suatu waktu dia dikecewakan lagi oleh seorang figur besar dalam masa Protestanisasiannya dan seorang lainnya yang juga beragama Prosestan yang membuatnya perlahan-lanhan berpaling dan kembali ke Katolik. Disini saya simpulkan bahwa Pedro ini orangnya teguh dan setia pada Tuhan, secara spiritual, tapi dalam menjalaninya secara agama, dia bisa kecewa sampai tergoyah untuk berpaling ke agama lain yang menurutnya lebih baik. Untuk Esperanza, pada sisi kepercayaan, dia berusaha untuk mengikuti apa yang dipercayai oleh sang suami walaupun dia ini sebenarnya masih percaya akan takhayultakhayul, ilmu hitam dll. Anak-anaknya Pedro, mulai dari yang paling tua; Felipe, bersifat hampir sama seperti bapaknya, yang saya bilang tipe ‘alpha’ terlihat dari saat dia ingin dianggap sebagai yang paling berkuasa apalagi diantara adik adiknya. Anak-anaknya yang lain, adik-adiknya Felipe ini layaknya anak usia belum tua yang sedang bertumbuh lainnya, mempunyai keinginan yang berbeda-beda tetapi Pedro tidak support itu dikarenakan dia sudah punya rencana yang katanya untuk ‘kebaikan mereka’. Jika saya pikir pikir, mungkin niat Pedro ini baik, agar jalan kehidupan anak-anaknya ini ‘tertata’, walau menurutku itu kurang pas, dikarenakan tiap-tiap anak mempunyai keinginannya masing masing. Pedro juga punya anak kesayangan, seperti kebanyakan orangtua lainnya, yaitu si paling bungsu. Ia bahkan berencana untuk menyekolahkannya tinggi walaupun salah satu tujuannya juga agar mereka dapat memperoleh uang dll yang banyak, dan bukan untuk kebaikan edukasinya sendiri kepada si bungsu. Keluarga ini lumayan ada bond antara sesama saudara yang saya lihat dari cara berkomunikasinya. Mereka juga dekat dengan Esperanza, tetapi tidak terlalu dekat, atau tidak banyak berkomunikasi dengan sang ayah. Dari sisi lain, Pedro ini juga seorang yang mempunyai keinginan untuk ‘maju’. Ia adalah seorang yang melek politik dan seorang yang peduli lingkungan. Ia juga ingin adanya perubahan agar menjadi lebih baik lagi.
Di keluarga kedua, beda dengan keluarga pertama, kisah yang saya senangi adalah karena Rosa, sang ibu rumah tangga disini adalah seorang yang berani berpendapat, mandiri, tegas, tetapi juga penyayang. Kisah keluarga Gomez ini menurut saya yang paling kompleks bedasarkan key wordsnya, walaupun tiga kisah setelah kisah keluarga ini lebih banyak karakternya dan ceritanya, seperti rumah Guitierrez yang ramai dan akur walaupun tak sedarah, rumah Sanchez yang ramai berisi banyak keturunan, atau rumah Castro yang rumahnya ramai dengan anak yang tak bisa diam dan pembantunya yang banyak. Kekompleksan keluarga Gomez saya nilai dari sifat masing-masing anggota keluarga. Agustin, si kepala keluarga yang sekarang sakit-sakitan tetapi masih mempunyai hubungan gelap; Rosa, sang istri yang berani; Alberto, anak pertama yang cukup romantis dan mempunyai hubungan dengan janda yang lebih tua darinya; Hector, anak kedua yang keperempuanan, hedon, bersih, dan tak tinggal bersama keluarganya karena diusir oleh sang ayah; Esther anak perempuan satu satunya yang well-educated dan penurut; dan Juanito, anak bungsu yang selayaknya anak usia 6 tahun, senang bermain. Di keluarga ini, saya mendapati lagi-lagi hubungan kurang dekat antara ayah-anak, dan hubungan baik antara ibu-anak. Disini memang, jika dibandingkan dengan Esperanza, Rosa ini lebih banyak waktu berleha-leha dalam artian Rosa ini tidak secekatan Esperanza atau Julia, istri dari keluarga Guitierrez. Tapi, Rosa ini menurut saya paling menonjol karakternya dibandingkan istri-istri yang lainnya. Seperti yang sidah dibikang tadi, ia dapat membela dirinya, dan berpendapat. Mungkin memang salah satu faktornya karena Agustin sudah sakit-sakitan, jadi dia tak takut pada sang suami, tak seperti kebanyakan istri di keluarga lainnya. Alasan Rosa tetap bertahan pada pernikahan ini walau dia tau Agustin selingkuh juga karena dia menyayangi sang suami, tak seperti Isabel dari keluarga Castro yang bertahan karena uang. Tak seperti beberapa keluarga yg lain, Rosa tak menyukai binatang dan tak ingin memelihara binatabg karena mereka menyusahkan dan membuang-buang uangnya, yang mana saya kumayan setuju (karena mereka miskin, penuhilah kebutuhan keluarga dulu) walaupun sebenernya juga bisa dipakai untuj investasi seperti pemikiran keluarga Martinez yang menyimpan kalkun untuk jaga jaga dan dapat dijual. Walaupun keluarga ini miskin, mereka tetap mengeluarkan uang untuk beramal, keperluan agama, bahkan untuk hiburan. Disini juga digambarjan, kalau beragam kultur lain sudah mulai masuk ke dalam desa tersebut, diambil dari lagu yang beragam asalnya yang disetel pada saat dansa-dansa.
Saya juga ingin berpendapat tentang keluarga yang beda sendiri, yaitu keluarga Castro, satu-satunya kisah keluarga yang kaya di buku ini. Keluarga ini ramai dengan pembantu yang banyak. Karakter dari anggota keluarga ini seperti di film-film, dengan Isabel, sang ibu keluarga yang menikah dengan David, kepala keluarga berlandaskan harta, tiga anak laki-laki yang susah diatur, dan seorang anak kesayangan perempuan yang manis dan penurut. Oh, dan seorang kepala keluarga yang kaya dari sebelum berkeluarga, mempunyai perempuan simpanan, dan cukup narsis. Ketika saya membaca kisah ini, saya hampir lupa kalau ini adalah kisah asli, karena memang sangat seperti di film-film. Diceritakan anak-anaknya yang laki-laki adalah anak yang kurang ajar, seenaknya, serta tak pandai bersyukur. Analisis mudahnya adalah karena mereka lahir kaya dan tak tahu harga atau value dari fasilitas, barang, atau bahkan makanan yang mereka punya karena telah terbiasa seperti itu sejak kecil. Ayah merekapun hanya mengancam-mengancam mereka dengan bilang akan mencabut fasilitas yang mereka punya sehingga mungkin itu tak berefek apa apa pada mereka. Anak-anak itu bahkan bukan hanya tak sopan dengan para pelayan dan pembantu disana, tetapi kadang juga kepada orangtuanya. Orangtuanya pun menurut saya tak juga memberikab contoh yang baik kepada sang anak. Mau ayah ataupun ibunya juga suka seenaknya pada pelayan. Ayahnya orangnya hedon dan suka berfoya-foya. Belum lagi sifatnya ketika marah, dia biasa berkata kasar dan main fisik. Saya kira itulah salah satu alasan besar anak-anaknya terutama yang laki-laki itu suka berkata kasar, tak sopan bahkan sering bertengkar satu sama lain. Hubungan David dan Isabel juga sulit. David ini punya perempuan simpanan, yang mana bahkan diketahui oleh anak-anak dan istrinya secara tak sengaja, namun tetap dilanjutkan hubungannya (seperti keluarga Gomez). Walaupun alasan Isabel menikah dengan David inj karena uang, ia suka bingung apakah ia menyayangi suaminya apa membencinya, dikarenakan sifat David yang tak terduga dan anger issuesnya yang jika meledak suka menjadi sangat kasar dan maik tangan. David ini orangnya juga sangat tertutup secara emosional, bahkan dengan istrinya. Kemungkinan besar ini dikarenakan inner child dia atau isu personalnta yang dimana bisa ditarik dari masa kecilnya yang pahit, dimana dia dibesarkan oleh wanita-wanita yang tuna susila, penjahat, pemabuk serta pecandu obat bius. Belum lagi ia tak pernah mengenal bahkan mengingat ayahnya sendiri. Para pengurus sekolah permah merekomendasikan untuk membawa anak-anaknya ke psikiater atau psikolog. Tetapi dengan sifat David yang tertutup ini, dia tak mau ada orang lain yang mencampuri urusan keluarganya. Dia percaya bahwa ia dapat mengurus anak-anaknya. Padahal malah justru itu dia harus membawa anaknya atau bahkan dia sendiri ke psikolog untuk me resolve personal issuenya. Tetapi mengingat ini adalah cerita tahun 1950an, stigma dunia psikologi masih sangat suram. Jangankan tahun itu, tahun ini aja masih banyak orang yang berstigma bahwa ke psikolog itu adalah hal yang buruk. Disamping itu, saya juga melihat kultur whitewash yang dibawa sendiri oleh David ke keluarga karena menurutnya budaya luar Mexico seperti Amerika atau Eropa itu lebih keren, dengan menggunakan produk-produknya dan sarapan ala budaya sana.
This entire review has been hidden because of spoilers.
These books (sociological study) read like fiction and thus are easy to read. I simply cannot put Lewis' books down. So far, I've only read Five Families and anything I can get my hands on about the Sanchez family.
I wish Lewis had continued writing (or a subsequent author) about this family in perpetuity!
This book is a time machine and a complete, detailed version of your neighbor's gossips in the baby boomer era.
It's a modern cultural anthropology book, but the method which is used gives the feeling of narrated story that focuses on the characters' emotion and reaction to poverty they're living. Almost like fiction, the stories are full of conflicts and twists, except there is no actual and complete resolution in each of the families' story.
While it is not surprising since it's based on actual reports, this book can be frightening and startling in the same time to newer generation. Is it because the situation is very different now? Or because it's starting to look like that again? Unstoppable forces of development was the creator of poverty, those who weren't able to keep up with the new trends and competitions are labelled as such. The stride bears a new standard way of living, the tableware, the telly, building materials, Mexico's dependent on American dollar, etc. Before all this, people were living the same.
Towards the characters themselves, it's easy to sympathize the women (Poor Esperanza!), but it's also not easy to antagonize the men despite the sexism described, given the explanation the author provided about how things were in 1950. This book can be a little tiring as I started to take a break during Rosa's family story. I find reading this can be frustrating as the characters seem to be stuck, but I say 'justified' because the story is non-fiction after all.
This books blatantly shows how poverty affects the life of a family, which of course, not in a good way. That's how seminal this book is to record something that has happened, and still happening, and still should catch our attention. No matter how this book shakes its readers' emotions, it is still an eye-opener and entertaining anthropology book to read.
"El estudio intensivo de las familias tiene muchas ventajas metodológicas. Como la familia es un sistema social pequeño se presta por sí mismo a la consabida vía antropológica. [...] Los estudios de familias salvan la brecha entre los extremos conceptuales de la cultura por un polo y el individuo por el otro".
Lewis comparte que durante sus estudios ha empleado cuatro formas de acercamiento diferentes, pero relacionadas entre sí, que al combinarse proporcionan un estudio integral de la vida familiar: • Local. Los datos sobre la familia se organizan y presentan bajo encabezados de cultura material, vida económica, relaciones sociales, vida religiosa, relaciones interpersonales, y así sucesivamente. • Técnica al estilo Rashomón. Consiste en ver a la familia a través de los ojos de cada uno de sus miembros. • Seleccionar, para su estudio intensivo, aquel problema o suceso especial o aquella crisis a la que reacciona toda la familia. • Observación detallada en un día típico de la vida familiar.
El presente libro se centra en el cuarto enfoque entre los anteriormente mencionados, presentando una narración de cinco días ordinarios en las vidas de cinco familias ordinarias representativas: los Martínez, los Gómez, los Gutiérrez, los Sánchez y los Castro.
It might be because of the edition that I got, but the text was really small and hard to read.
Nonetheless, the picture it shows is a harsh one, a needed one. It takes place just when the economic boom in Mexico was taking place, and it remarks that even though it might be going for some people (it even gives an example of them) poverty still affects a great percentage of the Mexican population.
Culture is not only dictated by your socio-economic status. But also by your experiences, your life, your close family, your interactions, but money can, and it definitely will, play an important role in these.
This book is highly recommended to those that want to study post-revolutionary Mexico during the PRI's 70 year mandate.
Kondisi miskin dan situasi miskin dalam 5 keluarga ini akan memberikan berbagai pembelajaran untuk mengambil suatu keputusan, menciptakan program inklusif, bahkan membuat perencanaan bantuan, karena memberantas kemiskinan itu perlu kajian mendalam.
Estudio clásico etnográfico acerca de la pobreza en México en el periodo de modernización. La descripción de un día en la cotidianidad de cinco familias, ofrece al lector elementos para aproximarse a las distintas condiciones de la pobreza bajo las cuales los actores despliegan sus creencias, expectativas y estrategias para afrontarla.
This book gives descriptions of one day in the life of each of five families. Four of the families are poor, and the researcher takes great care to depict events as they happened as if he were telling a story. He also gives relevant background information where applicable. I enjoyed reading about how the people of Mexico live and to get some insight into their lives. I realize this lifestyle if from the 1950's but it is still very interesting.
Lewis mengintegrasikan dirinya dalam keluarga miskin di Meksiko. Ilustrasi kemiskinan diceritakan sangat mendetail dalam buku ini. "Kemiskinan sudah menjadi budaya yang secara senagaja diciptakan oleh kelas atas" sebuah "kemiskinan menjadikan diri mereka tidak berdaya dan tidak memiliki kekuatan untuk membela diri, hanya kekuatan komunallah yang mampu mengangkat dan menyampaikan suara-suara orang miskin
As an excursion of the poverty in 1950s mexico it is probably unique. However, the detail can become overwhleming and also questionable (how does the author know what people are thinking?). It does not draw conclusions and perhaps that is deliberate but I think the book would have benefited from some proper ending.
buku terjemahan yang aku baca.. Menceritakan tentang kisah lima keluarga yang ada di Mexic pada tahun 50 tahun.an. Metode penulisan yang digunakan oleh Oscar lewis adalah Novel etnografi karena Oscar bennar - benar menggambarkan tentang lima kelurga tersebut. Seakan-akan pembaca ikut terjun dan melihat secara langsug kegiatan sehari-hari mereka. Recomennded buat yang menyukai etnografi
I had to read this when I was a senior in high school for my Spanish IV class. As someone who has enjoyed the luxuries and tolerated the challenges of a lower class citizen of Mexico, I thought the book was accurate and educational.
It was a great book to read. It was assigned to me for a class in college and dreaded it. However, it was a pleasant surprise, I couldn't put it down. I was actually upset when the book ended and there were no other families to learn about.
Read this while at the University of Southern Mississippi but cannot remember for what class. What I remember is the book had a big impact. This is odd because I do not remember a single story or line from the book. I just know it is going to be on my reread list.
It was a thoroughly interesting Ethnography; though, it was hard to read in the sense that it was somewhat sexist (understandable due to time period) but also depressing to read.