Ini dia yang kutunggu. Mini van kami berhenti juga di Notre Dame, katedral yang terkenal. Berada di pinggir Sungai Seine, konon dulunya bangsa Romania mendirikan kuil pemujaan untuk dewa Jupiter. Bertahun-tahun kemudian menjadi Cathedral St. Etienne, didirikan oleh Childebert di tahun 528. Sampai akhirnya Maurice de Sully, bishop Paris mendirikan katedral yang didedikasikan untuk Bunda Maria. Konstruksi yang menjadi katedral kini dimulai tahun 1183 dan selesai 180 tahun kemudian!
Fira Basuki (born June 7, 1972) is a well-known Indonesian novelist. Arguably her most famous work is her trilogy debut consisting of Jendela-Jendela (The Windows), Pintu (The Door) and Atap (The Roof). The trilogy concerning the journeys of Javanese brother and sister Bowo and June; from graduating high school, studying abroad in the US, their meta-physical experiences (especially Bowo's "second sight" and aura-reading capabilities), relationships with people of different nationalities (especially June's Tibetan husband), and their return home to Indonesia.
Her novel, Brownies, was adapted to a movie which was nominated for Best Picture at the 2005 Indonesian Film Festival, eventually losing out to Gie (though Brownies did earn a Best Director Citra award for Hanung Bramantyo). She recently launched to widespread media acclaim a popular biography on media person Wimar Witoelar, her first work in non-fiction.
Her latest novel, scheduled to be published July 2007, is entitled Astral Astria. As per August 2007, she works as Chief Editor at the Indonesian edition of Cosmopolitan Magazine.
Saya suka karya2 Fira Basuki. Akhir2 ini novelnya membawa genre yang tidak mainstream. Setiap novelnya selalu menyajikan sesuatu yang baru. Rojak, menceritakan tentang kawin campur, Alamak dengan tata bahasa dan cara penulisan yang berima. Astral Astria, bernuansa mistis tetapi ini sebenarnya menerangkan tentang kebudayaan kepercayaan kejawen jawa.
Paris Pandora, juga bernuansa mistis dan kepercayaan, tapi mungkin ini adalah sesuatu yang mulai hilang dari novel2 sekarang ini. Sementara penulis2 wanita lainnya menuju budaya plural dan modern, Fira berhasil menjelaskan tentang seorang wanita yang sudah mendunia, namun tetap rural, berusaha untuk tahu akar budayanya sesungguhnya. eksplorasinya tentang budaya ini yang membuat novel ini menjadi kuat.
Novel ini bukan tentang wanita di jantung ibukota yang tinggal di apartemen, sibuk dengan pekerjaan, dan bergulat menemukan cinta, seperti layaknya chiklit2 lain indonesia. Tapi tentang wanita menemukan jati diri, untuk merunduk seperti padi yang mencari akarnya, dan Astria mencari cintanya.
Astria yang melalui perjalanan roh dalam Astral Astria, sekarang bertemu dengan makhluk2 seperti Naga dan Gargoyle, masih dapat membaca kematian orang, dalam pencariannya terhadap jiwa kekasihnya yang hilang dan harta karun yang ditinggalkan oleh leluhurnya Ratu Sima. Perjalanan ke Paris, Bali, Dieng.
Tidak banyak generasi sekarang yang berusaha ingin tahu budaya di mana darah mereka berasal, lainnya hanya berusaha tampak modern, global, trendy. Dimana kekuatan budaya dikalahkan oleh sains, engineering, agama, psikologi, dll. Fira melalui Astria tidak seperti itu.
Dengan cara penceritaan yang ringan, Fira menjelaskan tradisi2 di Kawasan Dieng, lagu, lelakon yang harus dijalani, maksud dari tradisi di atas. Sebagian orang2 sekarang menganggap itu menjurus ke syirik, padahal budaya beda dengan agama. Hanya dengan iman yang kuat terhadap agama yang kita peluk dapat memilah-milah mana yang kita ikuti, atau hanya kita ketahui saja tentang lelakon budaya ini.
Fira hanya ingin kita tidak lupa pada budaya lokal kita, disamping kita berpedoman pada agama dan berpandangan modern.
Entah kenapa pas liat buku ini tertarik buat beli dan baca. Pas buka halaman pertama, ternyata ada tulisan: "Buku ini adalah logi kedua dalam dwilogi Astral Astria". HAIYAAAHH!! berarti harus baca logi pertamanya dulu dong?
Secara keseluruhan bukunya lebih menarik karena ada beberapa tokoh mistik yang sering menjadi rekaan dalam cerita-cerita fiksi. Dan tingkah mereka kadang lucu-lucu, apalagi si naga dgn nama yang "unik" hehe.. Tapi agak bingung sama judulnya, kenapa harus Paris Pandora ya? Agak kurang mewakili cerita, tapi ya sudahlah, mungkin Fira punya alasan sendiri.
Buku ini alurnya lebih sederhana dibanding Astral Astria, tema besarnya masih tentang spiritualitas dan mistik-mistikan, tapi yang ini lebih ke masalah cinta.
Buku Fira Basuki yang gue baca cuma series Ms. B and Alamak. Selain itu gue belom pernah baca. Jujur, rada bingung waktu ngebaca buku ini. Apa karena gue lompat, gak baca Astral Astria dulu?
Kesan magic and mistik kerasa banget di buku ini. Walo pun gue suka hal-hal yang berbau magic, tapi sempet bengong sejenak waktu mbak Fira bercerita tokoh dalam ceritanya Astria, bertemu dengan naga?? WHAT?? NAGA?? di Indonesia?? hhmm...
Anyway, buku ini cukup menghibur, apa lagi dengan cerita kehidupan cinta Astria yang (lagi-lagi) pas banget ama kisah percintaan yang gue alami.. halah!!! And ada pelajaran juga yang bisa diambil, 'yakin lah dengan kata hatimu. Karena kata hati gak pernah salah..'.. :)
wah, terus terang saya kecewa sama buku ini... ngga tahu kenapa, unsur mistis yang biasanya masuk akal, kali ini terlalu berlebihan porsinya, dan itu sangat mengganggu akal sehat. Padahal aku penyuka FirBas, mulai dari trilogi atap sampai Astral astria. Tapi untuk lanjutan Astral Astria ini, maaf, aku ngga sepakat. Mungkin satu-satunya alasan adalah karena daya imajinasiku rendah. hehehe...
Yang bikin kecewa lagi adalah editan buku ini hancur, buruk banget. Banyak kesalahamn kalimat di mana-mana. Astria Sima menuliskan dirinya sendiri sebagai Astral Astria yang notabene adalah judul buku, bukan namanya, itu salah satu contoh salah kalimat, yang lain masih banyak lagi... bikin ngga nikmat...
Mengecewakan!!!! Editing-nya juelek banget. Banyak kalimat dan kata2 yang berulang atau bahkan hilang, sehingga jadi rancu dan tidak nyambung.
Saya termasuk penggemar Fira Basuki, mulai dari Jendela sampai ke Miss B, tapi baru kali ini kecewa oleh karyanya.
Dan jujur aja, ceritanya juga kurang nendang, terlalu banyak unsur mistisnya. Sebagai perbandingan, karya2 yang dulu, unsur mistis hanya jadi penambah atau bumbu penyedap, tapi ko sekarang jadi bahasan utama?!?!
Lumayan. Novel ini kental sekali budaya Jawa nya, bahkan disampaikan agak berlebihan tapi tetap membuat pembaca memiliki pengetahuan lebih. Lepas dari fisik buku yg butuh editing lebih juga karena banyak kesalahan ketik, buku ini bolehlah jadi salah satu pilihan. Jangan lupa baca buku sebelumnya, Astral Astria.
Fiksi yang agak rumit menurut aku, percampuran jaman modern dan kuno serta mistis jawa yang kental. Pejelasan cerita legendanya ini sangat kuat dan seolah-olah penulisnya memang masuk dan menyatu dalam alam khayalnya sebagai titisan ratu Sima.
Fira lagi - lagi menyisipkan mysticism dan budaya ke dalam novelnya, pembaca bisa bertemu berbagai macam makhluk lewat Astria Sima, pembaca juga diajak membayangkan bertemu Gargoyles yang bisa bicara. Hiiii.. seru! Asal jangan dibayangin keterusan aja:D
kelanjutan dari astral astria ternyata, fiksi yang indonesia banget (soalnya ada tokoh2 dari cerita2 jaman dulu) bisa bikin ketawa juga, apalagi waktu ketemu si naga nagasari hehehe