"FAKIR MISKIN DIPELIHARA OLEH NEGARA."Fakir miskin dipelihara oleh negara. Lalu siapa yang memelihara fakir asmara?
Patah hati? Hal biasa. Jadi “badut” yang menghibur saja? Apa boleh dikata. Ditinggal saat lagi sayang-sayangnya? Sudah level dewa.
Berbeda dengan seri Kami (Bukan) lainnya yang selalu bertokoh utamakan para mahasiswa dan alumni Kampus UDEL, di buku ini sang dosen mereka yang inspiratif itu yang jadi tokoh utama.
Ya! Si genius Lira Estrini!
Kita akan mendapat suguhan perjalanan asmara sang dokter rekayasa genetika hewan ini. Sejak ia masih mahasiswa baru di Kampus UDIN hingga menjadi dosen dan melihat satu per satu mahasiswanya menikah.
Lalu, pertanyaan-pertanyaan muncul di kepala Lira.
Dengan siapa akan menikah? Kapan sih, seharusnya menikah? Perlukah menikah?
Haruskah Lira meminta bantuan mahasiswanya untuk memecahkan teka-teki besar ini dan menemukan rumus “apa itu cinta”?
Serial ini wajib dibaca oleh pelajar SMA, mahasiswa, orang tua, karyawan, petinggi perusahaan, pengambil kebijakan di institusi, pendidik, anak start-up, anak muda berkarya, pengemudi ojek online, abang ondel-ondel, hingga Presiden Rusia, karena tiga novel sebelumnya sudah dibaca oleh Presiden Amerika Serikat dan Presiden Korea Utara, agar kita bisa memutuskan fakir asmara harus dipelihara oleh siapa.
Usahakan baca minimal 1 fiksi, dan 1 non-fiksi setiap bulan. Fiksi untuk hati, non-fiksi untuk kepala. – Ini juga pesan untuk kawan-kawan yang mencoba merintis jadi penulis. Jika ada yang menganggap karyamu baik, maka syukuri dan jangan terlalu terbang. Rekam itu di ingatan, jadikan dorongan untuk memberi dampak dan membawa pesan-pesan yang seru dan penting.
Jika rupanya ada yang tak suka, memberi kritik, saran, itu tak masalah. Beberapaa kritik malah bisa jadi pelontar yang ampuh untuk karyamu berikutnya. Lagi pula, orang sudah keluar uang untuk beli karyamu, masa mengkritik saja tidak boleh. Selama sesuatu itu karya manusia, pasti ada saja retak-retaknya.
Lain cerita jika menghina. Memang benar tak harus jadi koki untuk bisa menilai satu menu masakan itu enak atau tidak. Namun cukup jadi manusia untuk tidak menghina makanan yang barang kali tak cocok di lidahmu, kawan. – “Karya yang terbaik adalah karya yang selanjutnya.” Bisik seorang sahabat. “Tulislah sesuatu yang bahkan engkau sendiri akan tergetar apabila membacanya.” Sambung sahabat yang lain.
Buku keempat dari serial Kami (Bukan). Berbeda dengan 3 buku sebelumnya yang menceritakan petualangan Ogi dan kawan-kawan mulai dari kuliah, bekerja, berbisnis, hingga beberapa di antaranya menikah. Buku ini menceritakan tentang Lira, seorang dosen muda, yang di tiga buku sebelumnya juga sudah sering muncul. Menceritakan hampir keseluruhan kisah Lira mulai dari kuliah hingga menikah. Sedikit terasa membosankan ketika ada beberapa part yang sudah pernah diceritakan di buku-buku sebelumnya. Dan saya juga kurang paham maksud penulis untuk menyelipkan beberapa part Monster Ketawa. Cukup banyak yang saya skip di bagian tersebut. Ohh ya, ada salah satu tokoh yang entah memang sengaja ingin mengupas sedikit kisah penulis lain atau hanya namanya yang disamakan. Saya tidak masalah, sih. Toh, saya juga termasuk pembaca karyanya. Hanya saja ketika banyak part beliau dengan Lira, saya jadi sulit mengimajinasikan aja. Overall saya suka ceritanya, kisah jatuh bangun hubungan Lira dengan beberapa laki-laki, patah hatinya, cukup dekat dan relate dengan banyaknya perempuan di luar sana. Yang cukup mengganggu di ending adalah kenapa harus masih menyisakan pertanyaan, yaitu dengan siapa akhirnya Lira menikah?
Seperti biasa, J.S Khairen selalu memberikan kutipan-kutipan yang indah di awal part. Berikut beberapa di antaranya yang saya sukai -Jadi ya, jodoh nggak akan ke mana, nanti akan ketemu sendiri, di waktu terbaik, dengan cara yang baik, dengan orang yang tak kalah baik juga, aamiin. -Sungguh tidak adil sekali jika luka masa lalumu dari hubungan sebelumnya yang belum sembuh, menjadi penghambatmu membuka hati untuk orang yang baru . Hei, orang itu tak tahu menahu apa-apa. Kamu tak mau membuka hati untuk orang yang, karena luka masa lalumu dengan hubungan yang lama. -Orang terbaik untuk kita seringnya tak perlu dicari. Ia muncul sendiri, di waktu, tempat dan cara terbaik. Meski tak jarang cara terbaik itu juga cara yang tak diduga-duga. -Kita sering menutup hati untuk orang baru, gara-gara luka yang ditinggalkan orang terdahulu. Hei ini sungguh tidak adil sekali. Orang baru itu tak tahu apa-apa, kenapa tiba-tiba kau vonis keji?
"Boleh saja halu, mengandai-andai, berimajinasi. Manusia mampu melakukannya tanpa batas. Tapi manusia dewasa juga tahu, angan-angan yang diwujudkan meski sedikit, jauh lebih indah daripada halusinasi berbukit-bukit."
Dari sekian lama, akhirnya Bang @js_khairen menerbitkan karya lanjutan dari Series Kami (Bukan). Kali ini, temanya seputar dunia percintaan, mulai dari bahagia sampai patah hati untuk kesekian kali, hingga akhirnya menemukan yang pas di hati dan pas di doa. Aduhai sekalii 🤪
Namanya juga percintaan, sepertinya identik dengan warna pink, ya? Tapi bukan berarti cover yang kewanitaan banget, tidak bisa di baca oleh kaum pria.
Kalau pembaca sudah pernah baca Kami (Bukan) Sarjana Kertas, sudah pasti hapal nama dosen yang asoy semlohay aduhai sekali. Siapa lagi kalau bukan, Lira. Bu Lira. Doktor Genetika Hewan. Lulusan luar negeri tapi dalam dunia percintaan selalu gagal 😄. Percayalah guys, kisah Lira di sini semuanya pernah di rasakan manusia yang sementara mencari pasangan yang tepat.
Yang paling greget, ya, karena hampir semua wanita pernah ada di posisi Lira ini. Dikasih senyum dikit, dipikir sedemikian rupa. Banyak deh pokoknya. Oh ya, mungkin di luar sana banyak yang sama kayak saya, di tengah kisah Lira dan Tomi yang suka ngilang-ngilang itu, berharap si Tomi itu ketahuan busuknya. 😤 Dan juga sepertinya soso Arko dan Ogi, adalah miniatur kaum pria ya. GAK PEKA. 😏
Sekalipun seperti itu, yakin saja, sejauh apapun perjalanan cinta yang gagal, pasti akan ada masa di mana hati yang terlanjur luka, terlanjur patah itu akan kembali utuh di tangan yang pas. Pas di hati, dan pas di doa. 😉
Ahh sudah lah. Pokoknya, saya masih tunggu identitas laki-laki di akhir bab dalam novel ini. Sekali lagi, makasih ya Bang sudah berusaha buat nulis ini. Sekalipun di teror terus. Nulisnya berbulan-bulan, tapi sampai ke pembaca hanya di baca dua jam 😄. Siapa suruh buat karya yang memicu jiwa penasaran kami? 😝
Endingnya masih menyisakan misteri besar buatku: LIRA NIKAH SAMA SIAPA??? (Saking penasaran, "kentang" dan emosinya jadi pakai capslock).
Nggak seperti tiga buku sebelumnya, seri ke-4 dari Kami (Bukan) ini sempat bikin aku turn off di awal cerita. Ini memang karena masalah selera personal saja, sih. Pertama, aku sempat terusik dengan 'age gap' antara Lira dan geng mahasiswa UDEL. Untungnya part itu akhirnya dijelaskan di bagian pertengahan, jadi okelah, clear.
Kedua, ada si T*** L*** sebagai karakter. Aku kurang tahu apa ini TL yang penulis asli diangkut sebagai karakter, atau memang murni ada tokoh yang mirip-mirip aja sama beliau. Sekali lagi, ini masalah personal, ya: aku memang nggak terlalu respect dg si TL karena sempat banyak berita buruk juga yang berkaitan dengannya. Jadi sempat ngerasa rada-rada, lah, selama baca buku ini di part-part yang ada beliaunya.
Tapi secara umum, aku suka dengan ceritanya. Menarik banget, karena seperti cerita khas Kami (Bukan), setiap karakter di sini punya kehidupan yang unik. Kali ini pun yang disoroti adalah Lira. Seru juga nebak-nebak gimana dia akan kandas dengan Tomi, Gerome, Soni, dll (sorry ya Lira, karena aku tahu dari awal kalau kamu nggak akan berakhir manis dengan mereka). Cuma ya itu... SAMA SIAPA DIA AKHIRNYA NIKAH HEY???
(ps. Aku sih di tim Ogi, hehe. Arko biarlah bahagia dengan Rere).
Hal lainnya yang mungkin perlu aku note di sini: 1. Masih ada banyak typo di naskah. Ada juga salah nyisipin nama karakter (lagi), di part Monster Ketawa). Harusnya Sijambu Aia tapi diketiknya Silimau Manih.
2. Entah kenapa rasanya agak 'ngebosenin' baca part-part yang sudah pernah muncul di buku sebelumnya. Misalnya kayak bagian perkenalan tentang Gala dan masalah hidupnya. Kalimat-kalimat yang dipakai di sini sama dengan di buku seri pertama. Memang, sih, kejadian yang diceritakan itu sama (cuma beda POV), tapi mungkin bakal lebih oke kalau gaya narasinya diubah, nggak terlalu plek-ketuplek, supaya ada perasaan 'baru' aja, gitu.
Walau, yah, di sisi lain cara ini juga bagus sebagai reminder bagi pembaca yang udah lama menuntaskan buku-buku Kami (Bukan) lainnya. Kebetulan aku bacanya marathon, jadi agak jemu juga pas baca part-part yang sama.
Ditunggu untuk buku ke-5! Semoga langsung terjawab dengan siapa Lira nikah hehe.
"... Fakir miskin dipelihara oleh negara ...", lalu siapa yang memelihara fakir asmara?
Begitulah salah satu cuplikan blurb-nya. Iya, ya. Siapa yang mau pelihara fakir asmara? Kalau aku fakir asmara, kamu mau pelihara nggak? Wkwk.
Novel ini bercerita tentang Lira, seorang perempuan dengan usia dewasa dalam perjuangannya menanti dan menemukan cinta. Bertemu orang salah berkali-kali. Dipatahkan berkali-kali, sampai berada dalam tahap pasrah dan nggak peduli. Aku pikir semua perempuan yang merasa sudah selesai dengan diri sendiri, tetapi belum menemukan cinta sejati memiliki fase seperti apa yang dialami Lira.
Aku pribadi seperti menyatu dengan tokoh utama karena merasa senasib dan sepenanggungan (kecuali bagian child free). Kaya lebih suka dan fokus belajar daripada cinta-cintaan. Kalau pun terlibat dalam cinta-cintaan bukan jadi prioritas utama. Wkwk. Selain itu lebih ngejar karier, hobi, dan pendidikan juga. Eh, ketika sadar waktu sudah banyak berlalu, merasa kelabakan.
Penulis di sini pinter banget memosisikan tokoh yang bisa relate banget dialami oleh perempuan-perempuan macam si Lira. Bahkan di episode Elang, pikiran tokoh utama ini pernah mampir ke kepala aku. Pernah aku punya pikiran kaya si Lira.
Isi novel ini juga nggak melulu soal cinta, ada perjuangan tentang meraih mimpi juga perjuangan untuk lebih menghargai dan mencintai diri sendiri yang sering dianalogikan dengan binatang-binatang: anjing, kuda, kecoa, ubur-ubur, kutu loncat. Cocok nih dibaca mahasiswa-mahasiswa yang masih nyari jati diri.
Kalau kamu pembaca Serial Kami (Bukan), kamu akan ketemu lagi sama Ogi dan kawan-kawan. Hanya saja bagi yang sudah membaca serasa dibawa flashback dengan cerita sama tapi sudut pandang berbeda aja. Ada juga selipan cerita Monster Ketawa dalam beberapa chapter. Ini bagus buat menjaga mood baca, tapi aku sendiri karena kurang cocok genrenya nggak dibaca. Hehe.
Dan untuk endingnya, KENAPA HARUS DIRAHASIAKAN? Meskipun bisa menebak dengan siapa Lira akhirnya berlabuh, entah kenapa nggak bikin lega. Malah memunculkan pertanyaan-pertanyaan baru. Apalagi si prianya ini nggak banyak diceritakan. Udah kelihatan sih condong ke mana, tapi ... ah kurang nendang, dikit lagi.
Title: Kami (Bukan) Fakir Asmara Author: J.S Khairen Publisher: Bukune Number of Pages: viii + 348 "... the poor are cared for by the state...", then who takes care of the poor in romance? That's one of his blurb snippets. Yes, yes. Who wants to maintain a poor romance? If I'm poor in romance, do you want to keep it or not? Wow. This novel tells the story of Lira, a woman with a mature age in her struggle to wait and find love. She met the wrong people many times. She felt broken heart many times, until she surrenders stage and doesn't care. I think all women who feel that they are done with themselves. In the other side, they have not found true love. They have a phase like what Lira is going through. I feel like I'm one with the main character because I feel the same fate and responsibility. I prefer and focus on studying rather than loving a man until now. Even if i involved in a love relationship is not a priority. In addition, more career focus, hobbies, and education as well. When you realize that so much time has passed, you start to panic. The author here is good at positioning characters that career women can relate to. Even in the Eagle episode, the main character's thoughts never crossed my head. Once I had thoughts like Mrs. Lira. She’s ready to leave the empty space in his heart forever. She’s ready to live alone all her life. There’s a quote that I like. An eagle can fly high and live alone. The whole sky is subject to it. Unlike the case with doves, sparrows, turtledoves and other birds. They are gangs and cowards! Anyway, the contents of this novel are not only about love, but also about the struggle of achieving dreams as well as the struggle to appreciate and love self which is often analogous to animals such as dogs, horses, cockroaches, jellyfish, flea. This is suitable for students who are still looking for identity. If you are a reader of Kami (Bukan) Series, you will meet Ogi and friends again. It's just that for those who have read it, it feels like being brought in flashbacks with the same story but a different point of view. There is also a story insert (bonus) entitled The Laughing Monster in several chapters.
Kalo kalian kira novel ini menceritakan kisah romansa yang menye-menye, salah. Novel ini justru nyuruh kita buat resign dari dunia perbadutan, berhenti jadi fakir asmara dan fokus memperbaiki diri. Karena diri kita adalah cermin yang memantul.
-------- Lira Estrini, Ph.D. Ternyata gelar dan cemerlangnya karir Lira tak menjamin kisah asmaranya. Sejak kecil, dunia Lira selalu berkutat pada belajar, belajar dan belajar. Sampai-sampai ia tak punya waktu untuk memikirkan hatinya. Namun ketika usianya semakin matang, perkara hati ini semakin mengganggu pikirannya. Dengan siapa ia akan menikah? Adakah lelaki yang bersedia menjadi teman perjalanannya?
Darwis, dr. Jamal, Sonny, Gerome, Tomi. Beberapa lelaki ini sudah Lira coba, menjalani hubungan sebaik mungkin, tetapi pada akhirnya tak ada yang berakhir bahagia. Semuanya kandas di tengah perjalanan. Arko, Ogi? Juga ia coba untuk menjalin hubungan lebih dari sekadar 'dosen dan mahasiswa'. Pada akhirnya, siapakah teman perjalanan sejati sang dosen genius ini? -------
Novel ini berisi 48 episode dan ada bonus episode "Monster Ketawa" sampai episode 06. Favoritku episode 33; episode yang jelasin konsep obat yang tidak perlu diminum/disuntikkan. Yaitu MEMBANTU ORANG LAIN. Membantu orang lain memecahkan masalah, sama saja dengan membantu diri sendiri mencari jalan keluar.
Akhir kata, aku setuju bgt sama quotes ini: “Orang terbaik untuk kita seringnya tak perlu dicari. Ia muncul sendiri, di waktu, tempat dan cara terbaik. Meski tak jarang cara terbaik itu juga cara yang tak diduga-duga”
Percaya guys, Allah sudah menentukan siapa yang akan menjadi pendamping kita kelak. Nggak akan tertukar dan nggak akan terlambat, semua ketetapan-Nya selalu tepat✨😇
Novel romance penuh nasihat. Meski tokoh utamanya cewe, but i wanna recommend this book for ladies n gentleman! Biar kaum laki-laki ini tidak mengikuti jejak Gerome dan Tomi🤬
Ini buku J.S. Khairen pertama yang gue baca. Jujur penasaran sama yang pernah dapet Writer of The Year ini hehehe.
First impression gue: Penulisannya ini cowok banget, setipe sama Brian Krishna, Eka Kurniawan (Terutama di 'Seperti Dendam...'), dan Candra Aditya. Terhibur sama asbun-asbunnya yang duarr, gegar menggelegar, ajigijaw, dsb.
Sekarang kita masuk ke cerita. "Kami (Bukan) Fakir Asmara" ini cerita soal Lira Estrini, perempuan muda, cantik, pinter, gila sekolah, tapi nggak kawin-kawin. Somehow it reminds me of "Cinta Suci Zahrana"-nya Kang Abik. Termasuk juga dinamika Lira yang seorang dosen ini berdinamika sama para mahasiswanya, kasih motivasi, bahkan sampe liburan bareng. Oh, sama kita juga bakal diajak menyelami politik kampus antah berantah bernama UDEL ini sip.
Anyways, balik lagi soal Lira. Dari awal cerita kita bakal diajak Lira PDKT-an sama beberapa cowok. Ada yangv akhirnya balik lagi, terus bikin Lira patah hati hebat. Ada yang balik lagi tapi ternyata udah nikah. Dan ada yang balik lagi tapi bikin Lira ilfeel maksimal. Tapi jujur kesel juga sama Lira yang.. Nyet, lo belom kelar sama satu cowok malah prospek cowok lain tuh begimana ceritanya sih?
Ending-nya menyenangkan, dan jujur kalo gue tebak, dari gestur dan pembawaannya lewat dialog, itu Ogi. Ogi, bukan?
Oh terakhir, gue ngga ngerti apa tujuan penulis bikin bonus episode si Monster Ketawa itu. Tadinya malah gue pikir dia bakal sama Darwis, makanya make sense kalo ada Monster Ketawa karena gue pikir peran Darwis dan cerpennya itu bakal sesignifikan itu. Kalo gini jadi nanggung ga sih? Apalagi Kan ceritanya udah episode 200 tuh, kenapa ini cuma 3 aja? jadi apa sebenernya motivasinya?
Judul bukunya " Kami (Bukan) Fakir Asmara" Serial novel Kami bukan oleh J.S Khairen. Dengan viii+348 hlm. Walaupun judulnya ada Asmara² nya dan sampulnya warna pink. Tapi, isi dari bukunya hampir jauh dari itu. Kebanyakan nyeritain tokoh utama tentu jg dgn kisah Asmara nya, tapi lain dgn novel cinta²an diluar sana. Novel yg satu ini bener² menghanyutkan. Kisah seorang dosen muda cantik lulusan rekayasa genetika hewan yg akhirnya hrs bantu kampus UDEL. Kampus yg didirikan oleh ayahnya. Isinya kampus UDEL ini adalah mahasiswa yang hidup segan mati tak mau dan jg kebanyakan mahasiswa buangan. Beda dengan almamater dosen yg begitu beretika dan semangat dalam menimba ilmu. But, setelah dosen cantik ini hadir dengan semua binatang eksperimen nya. Mahasiswa UDEL bukan lg menjadi MahaSisa. Mereka punya harapan. Yang aku suka dari buku ini. Di spill cerpen² menarik. Sama seperti buku "The Book Of Lost Things." Memberikan cerita² pendek yang membuat novelnya beda. Dan juga cara dosen cantik ini mendidik mahasiswa²nya dengan binatang eksperimen. Salah satunya hewan yg hampir sejuta umat manusia membencinya. Kecoa. Tp, bu dosen ini memberikan satu pembelajaran yang bisa diambil dari hewan ini. Tetap bertahan dikala meteor, peperangan atau nuklir sekalipun menyerang bumi ini. Kecoa masih akan tetap hidup. So, jadilah kecoa katanya. Yang bertahan dikeadaan apapun untuk tetap hidup.
buat penggemar setia buku genre motivasi,self development, slice of life, youth, atau romance (walau ga romance2 banget ini tp tetep ada unsur unyu2nya wkwkw) bisa banget baca buku ini ya guys...
gemes banget baca iniiihhh gatau kannn ini penulisnya sarjana ekonomi malah ceritanya tentang kedokteran dan psikologi..
salut banget pokoknya sama jalan ceritanya, terutama sama analogi2nya yang makjos tenan, paling mantap janji kecoa itu bang!
ohiya ini bahasan ringan tapi banyak makna dan pelajaran yang tersirat maupun tersurat yang bisa diambil contoh wajib banget baca pokoknya..
last but not least, thank you banget buat bang khairen semoga sukses terus dengan karya2nya yaa..
This entire review has been hidden because of spoilers.
Sebuah buku lanjutan dari seri "Kami (Bukan) Generasi Bac*t" dengan tokoh utama Bu Lira. buku yang cukup tebal dengan kisah yang sangat menarik untuk diikuti. juga terdapat selingan cerita di luar alur utama sehingga tidak terlalu bosan (meskipun sebenarnya tidak bosan juga). Namun masih terdapat kesalahan kepenulisan yang sebenarnya tidak masalah juga sih. Ada baiknya sebelum kamu membaca buku ini, kamu telah membaca seri yang sebelumnya, tapi jika belum pun tak masalah karena kamu akan tetap bisa mengikuti alurnya.
Overall buku ini layak untuk dibaca, nikmati kisah para tokoh-tokoh yang ajigijaw, gempar menggelegar ini.
Always a fun read! Ending nya ajigijaw sekali, dari tadi Saya bolak-balik baca bagian terakhir buat nebak-nebak apa atau "siapa" kah "orang" yang dirahasiakan ini. Saya juga suka banget sama selipan cerpen "Monster Ketawa" diantara tiap episode, ampuh banget buat ngejaga tensi antar episodenya (dan nggak kalah menarik dari cerita utamanya!). Tapi emang masih ada kalimat di beberapa bagian yang menurut Saya pemilihan kata nya agak kurang "nyambung" sih (and some minor typo, gak ganggu juga sih hehe). But overall, Saya juga sangat menikmati buku ini, seperti Saya menikmati seri Kami (Bukan) yang lainnya.
Semoga seri terakhirnya cepat dirilis, Saya udah penasaran banget ini! )':
https://www.instagram.com/p/CdhIQxXv5... ______________________________________ Bercerita tentang seorang dosen bernama lira dan seputar kisah asmaranya. Didalamnya banyak hal-hal menarik, misalnya setiap cerita pasti diawali dengan quote yang mengena dihati, ada juga analogi-analogi yang pasti belum sempat kita dengar bahkan terpikirkan. Juga banyak makna dan pelajaran-pelajaran yang tersirat ataupun tersirat yang bisa kita ambil
Terus, ada bonus episode dalam novel ini yang awalnya ku baca tapi karena terlalu keasikkan dengan cerita utama jadinya beberapa bonus episode ku lewati hehe..
Seri terbaru yang cukup berbeda karena yang dibahas adalah POV si Bu Dosen, Lira Estrini, dosen rekayasa genetika hewan yang sangat ginius. Pada seri ini berfokus kehidupan dari Lira dalam menjalani kehidupannya sebagai dosen dan :))))
Kehidupan Lira yang sangat berbeda ditampilkan pada seri ini. Membaca seri ini serasa nostalgia dengan seri seri sebelumnyaa, merefresh ingatan tentang seri sebelumnya :))) Kuot kuot yang terdapat pada tiap babak dan awal chapter membuat senyam senyum sendiri dan kadang bergumam "kok beneer :)"
Lira adalah kita dalam menjalani kehidupan yang sangat wah ini :)))))))))))))
saya membaca ini karena anak saya membaca ini awalnya hanya mengisi waktu luang karena kami sekeluarga senang membaca yang saya temukan di dalam novel ini adalah sebuah perjalanan refleksi mengenai cinta dan makna di dalamnya dialognya enak maknanya kena saya rasa ini merupakan salah satu karya mengenai cinta yang menarik untuk anda baca kecoa dan janji kecoa salah satu favorit saya di dalam buku ini
di malam hari melihat juwita cantik anggun berkebaya bila dikau memang cinta beranilah memperjuangkannya
Well gk seperti tiga serial “kami (bukan)” sebelumnya Buku ini lebih mengulas kisah dosen mereka Lira yg mencari tambaran hati Btw, kurang menikmati jalan ceritanya apa karna bosan dengan cerita cinta atau tiga buku sebelumnya lebih meledakkan emosi penonton yang tiap tokoh punya konflik dan solusi masing2 Tapi dibuku ini, konflik nya tentang cinta yang aku kurang nikmati Gak sabar tunggu series terakhirnya
Always fun dan stress released banget baca serial kami (bukan). Tentang dosen dan 7 mahasiswanya. Tentang pendidikan, impian, karir, sampe asmara. Seri kali ini berfokus sama kisah si dosen muda. Panutanku bu dosen Lira, terimakasih untuk analogi hewannya: anjing yang setia, janji kecoa, ubur-ubur yang tak pernah mati, kuda tangguh, kutu loncat. Terimakasih sudah memantikkan semangat dan dedikasi. Good.
Alhamdulillah, ngga pernah kecewa dengan karya-karya dajomb yang udah aku beli🤗 terimakasih banget-banget loh dajomb, karena karya nya yang selalu menemani🥰 semoga dajomb dan keluarga selalu sehat-sehat, dan selalu semangat berkarya nya💪, jadi aku bisa nikmatin terus karya-karya dajomb sampai tua nanti 😁 amiiin 🤲
Saya tau emang perlu pengulangan sedikit dari cerita sebelumnya, tetapi saya merasa terlalu banyak yg diulang jadi saya bosan di beberapa bagian. Cerita juga banyak membahas tentang Lira, sehingga judul "Kami" terasa kurang pas. Anyway, tetap bakal baca buku terakhir dari serial ini. Sukses terus buat Kak J.S. Khairen!
This entire review has been hidden because of spoilers.
Seperti biasanya. Novel dari J.S. Khairen selalu bukan novel ringan. Novel yang membuat berpikir tentang kehidupan. Waktu bab-bab yang seperti pengulangan sedikit bosan tapi ketika masuk kisah Lira sangat menarik.
Walaupun bukan ending yang terjadi bukan seperti ending yang saya harapkan :). Tapi saya pribadi merasa buku ke empat lebih membuat saya terhibur karena beberapa chapter yang merupakan flashback dari buku 1 dan 2, sehingga kembali mengingat beberapa cerita dan detail kecil dari serial ini.