Zaman yang bergerak membawa pengembaraan Astuti melewati ruang-ruang yang terus berganti. Sesak napasnya dalam kegelapan mata dan hati. Negeri matahari tak menyisakan cahaya, ia tetap dalam ruang gelap. Menjadi perempuan yang terus merayap. Karena pahlawannya ternyata lelaki yang lemah hati.
Deraan terus mengamit langkah, Astuti harus berjibaku di ruang gelap lain. Turut berkecamuk dalam riuh sengketa. Bertarung dengan hati dan dan darah yang larut bergolak. Semua beradu kuat, ada amarah yang terus murka dan dendam yang terus menyala. Astuti terus memuai, kadang ia menjadi air, melarutkan kegagahan. Sekali waktu ia menjadi racun, meracuni dirinya. Mengempas ke ruang gelap berikutnya dengan label yang berganti.
Perjalanan hidupnya adalah sebuah katastrofa. Astuti adalah katastrofa itu sendiri. Dimana ia beserta dalam setiap derap peristiwa. Merayapi waktu yang terus berkelindan, bergejolak dari api ke api.
Afifah Afra telah aktif menulis sejak kecil. Hingga sekarang, telah menghasilkan lebih dari 50 judul buku, serta ratusan cerpen, artikel dan syair yang dimuat di berbagai media. Aktif di Forum Lingkar Pena, sekaligus menjadi pendiri dan CEO di PT Indiva Media Kreasi (penerbit buku).
Sangat pelik dan padat konflik. Itulah kesan yang saya dapatkan setelah membaca buku garapan Afifah Afra ini. Sejak awal membaca, saya sudah disuguhi dua alur yang membuatku terus bertanya-tanya, apa hubungan kedua cerita ini yang terlihat seperti tidak ada hubungannya. Pertanyaan itu terus muncul dan baru terjawab di ujung cerita, benar-benar di ujung halaman akhir. Untungnya, penulis berhasil 'memelihara' rasa penasaran saya hingga menamatkan cerita.
Ini novel yang kutulis dalam waktu paling lama, 7 tahun! sebenarnya nggak puas, karena masih banyak yang harus dikembangkan. Mestinya, dengan kisah yang sedemikian panjang selang waktunya (1930-an hingga 1998), novel ini bisa 2 atau 3 kali lebih tebal, dengan berbagai pemaparan yang mendetail. Tetapi, saya senang dengan perwatakan yang saya bangun... meski juga masih banyak yang harus diperbaiki
Afifah selalu membuai pembacanya dengan plot dan tokoh-tokoh cerita yang memikat. Kita diajak menyusuri sejarah bangsa dari era 40-an hingga 98. Cinta dan idealisme berbaur dalam novel.
"Sebenarnya, tak banyak penduduk negeri ini yang senang mengobarkan api kebencian, "ujar Mbah Murong. "Hanya segelintir. Hanya saja, yang segelintir itu ternyata mampu menjadikan percikan api yang semula kecil menjadi kobaran neraka dunia yang meluluhlantakkan segalanya. Termasuk nilai-nilai kebenaran, kejujuran, dan kesetiaan. Orang menjadi takut untuk berkorban, karena tanpa berkorban pun, mereka telah menjadi korban. Korban-korban ketidakadilan, kezaliman, kebengisan." (Hal. 225)
Banyak sekali teman2 di Fb yang bertanya kepada saya, Apakah judul buku terbaik Afifah Afra menurut saya? Mungkin karena saya begitu antusias menginfokan buku-buku bagus di akun saya, lebih-lebih buku-buku yang ditulis penulis favorit saya; Helvy Tiana Rosa dan Afifah Afra. Saya tidak ragu mengatakan bahwa Katastrofa Cinta adalah buku terbaik Afifah Afra yang telah saya baca. Membaca novel ini sangat berbeda rasanya jika dibandingkan dengan 'cita rasa' novel-novel sejarah lain yang saya baca. Konflik yang rumit tapi memberikan banyak suspense adalah sebuah kenikmatan sendiri waktu saya membaca novel ini. Sungguh! Saya menunggu ada orang2 film yang melirik novel ini untuk difilmkan, karena, sungguh!, ini novel yang hebat dan keren!!!
Sepanjang membacanya bertanya2 apa sih arti Katastrofa. Googling deh saya, dan menemukan artinya : Katastrofa merupakan sebuah malapetaka akbar yang sifatnya tiba-tiba dan besar. Dapat diartikan juga sebagai perubahan yang hebat pada permukaan bumi.
Suka tulisan mbak Afifah.. bikin penasaran. Dan juga.. menebak2 benang merah yang menghubungkan dua tokoh beda zaman itu. Btw.. masalah ending nih. Berarti.. yang nikah di ending itu sepupu kan ya?
Seperti beberapa buku Afra yang lain buku ini berlatar sejarah dari era 40-an zaman kolonial, pergerakan komunis hingga kerusuhan Mei 1998. Menarik, meski banyak kalimat-kalimat yang terkesan 'canggih' juga percakapan dalam bahasa jawa yang tidak diterjemahkan, sedikit mengganggu pembaca yang tidak mengerti bahasa jawa.
Sampai ke akhir cerita saya penasaran : Apakah Cempaka memiliki pertalian darah dengan Firdaus yang akan menikahinya?
Padat konflik dari masa ke masa. Kita dibawa menjelajah ke masa silam hingga ke masa "kekinian". Astuti menjadi tokoh yang tertempa derita sedemikian kuat. Afifah Afra selalu bisa menghadirkan konflik yang begitu kompleks dan mengaduk-ngaduk rasa. Pula memindahkan rasa kita dari satu penderitaan ke penderitaan lainnya yang dialami oleh sang tokoh.
di awal membaca mungkin pembaca agak dibuat bingung karena seperti ada 2 cerita berbeda dalam 1 novel..... tapi semua itu menemukan benang merahnya sendiri ketika sudah sampai di bagian akhir novel...
Mba Afra dengan khasnya, menulis novel lintas zaman dengan begitu apik. Kisah sejak zaman penjajahan dari Belanda sampai Jepang sampai reformasi. Sangat menarik, memang mba Afra menurut saya begitu lihainya menulis kisah epik. Empat jempol untuk mba Afra. Saya suka sekali.