Buku Rumah Tepi Kali, adalah buku sederhana namun sarat dengan emosi. Didalamnya berisi 19 cerita yang pernah dijalani maupun diceritakan dari orang-orang terdekat penulis. Sama seperti Anda, buku dengan ketebalan 200 halaman ini akan habis dibaca hanya dalam hitungan jam. Mengapa? Karena buku ini tidak “njlimet”, tidak bertele-tele, bahasa yang digunakan sederhana, alur cerita yang sederhana, dan tema yang sederhana juga. Namun berangkat dari kesederhanaan itulah, cerita-cerita dalam buku Rumah Tepi Kali menjadi mewah dan langsung menyentuh emosi pembaca.
Kehebatan dari penulis buku ini adalah kemampuannya memberikan makna dan nilai dari setiap cerita. Kepekaan dengan sekelilingnya itulah yang membuat cerita-cerita itu menjadi sedemikian hidup dan akrab disekitar kita. Bahkan seolah kita sendiri turut mengalami peristiwa tersebut.
Buku ini jugamenjadi menarik karena ada beberapa cerita dengan bersetting tahun 80-an, namun penulisnya mampu menggambarkannya dengan detil dan apik.
“Buku ini hanyalah buku biasa. Kalau Anda tersentuh dengan kebaikan-kebaikan dalam buku ini, berarti frekuensinya sama, berarti pembaca adalahnya orang-orang yang masih mudah tersentuh dengan kebaikan sekelilingnya” begitu kata dari Penulisnya.
harus baca buat tau bahwa kemanusiaan masih punya harapan, dan kita ada untuk mewujudkan itu! btw sangat disarankan untuk membaca ini di tempat privat, bacaannya bawang banget bikin nangis bombay~
buku pertama saya di 2022. nggak ragu saya kasih bintang lima. makasih udah buat saya merasa rekreasi, pulang kampung, lelarian di ladang kenang, istirahat menenun rindu. manis dan hangat kayak teh panas buatan ibuk, yang mana merupakan obat segala homesick.
cocok dibaca hati-hati yang lelah dan rindu rumah. kesahajaan yang dikemas begitu sederhana. ngalir dan nggak maksa. dan saya ngga habis pikir, gimana bisa seorang manusia sepeka itu terhadap sekitar. jujur saya iri. bisa tahu drama lahir-batin para tetangga begitu, menurut saya sebuah bakat dan previlege, ya, hehe. saya betulan pingin bisa kayak gitu, heu.
ada 19 cerita pendek ajaib di buku ini. dan semuanya menyenangkan. rasanya dilema, antara penasaran pingin tau cerita selanjutnya, sama ga pingin cepet2 habis. nagih. candu. seperti rekreasi yang men(y)enangkan.
bukan tentang cinta, bukan cerita kanak-kanak, bukan fiksi dan fantasi yang di luar jangkauan, bukan tenatang kehidupan yang klise, menggurui, serba-tahu, garing, bukan. there's a way, lemme called it adorable. ada rasanya. tidak biasa. saya suka!
Buku yang berisikan cerita-cerita yang menghangatkan hati klo kata aku, vibes-nya mirip-mirip pas nonton reply 1988 dengan kearifan lokal.
Ceritanya ngalir, gak maksa dan sarat makna. Gak ada yg sampe bener-bener bikin nangis, tapi beberapa kali bikin ngembeng mata. :' Cerita favoritku: Rumah yang tak pernah dipugar.
"Buku yang Terbit di Pinggir Kali", demikian Romo Dedy Vanshopi memberi julukan bagi karya ini. Sebuah kumpulan kisah yang tidak hanya membasuh hati, namun juga membuka cakrawala jiwa. Buku Rumah Tepi Kali menyajikan 19 cerita pendek yang mengalir lembut—seperti kali yang menjadi latarnya—namun menyimpan makna yang dalam dan inspirasi yang kuat.
Dalam Al-Qur’an, surga digambarkan sebagai taman indah yang dialiri sungai di bawahnya: jannātun tajrī min taḥtihā al-anhār. Gambaran ini tak hanya memikat secara visual, namun juga menyentuh sisi emosional—karena gemericik air dan panorama sungai memang menghadirkan ketenangan, kedamaian, dan rasa syukur yang syahdu.
Lalu, apakah sebuah rumah di tepi kali bisa disebut sebagai surga? Jawabannya, bisa jadi, namun bukan karena letaknya, melainkan karena kehadiran orang-orang yang hidup di sekitarnya, dengan kesederhanaan yang luhur dan keikhlasan yang menginspirasi.
Di dalam buku ini, kita diajak mengenal tokoh-tokoh yang mungkin tak pernah tercatat dalam sejarah besar, namun diam-diam mencetak jejak yang tak lekang oleh waktu: Ada Pak Kardi, petani sederhana dengan rumah yang tidak pernah dipugarnya. Ada Kang Darsan yang sepenuh rela mengabdikan dirinya untuk Mushola Baiturahman sebagai tukang mengisi kulah saban subuh dan menjelang maghrib. Terdapat pula Mbak Arum, biduanita di kampung yang berbakat dengan suara yang hebat serta ada pula Kang Tarban, tukang kayu yang terampil.
Para tokoh ini hadir dalam balutan kisah yang sederhana, namun justru di sanalah letak kemewahannya. Buku ini mengingatkan kita bahwa kemuliaan tidak selalu lahir dari panggung megah, melainkan dari keseharian yang dijalani dengan cinta, niat baik, dan ketulusan.
Rumah Tepi Kali bukan sekadar buku cerita—ia adalah cermin kehidupan, tempat kita bisa melihat bahwa keindahan sejati tak perlu dicari jauh-jauh. Kadang, ia tinggal di tepian, dekat air yang mengalir, dan di hati orang-orang yang hidup apa adanya.
Ada dua pendekatan dalam menuliskan sebuah peristiwa. Pengalaman fisiknya yang lebih ditonjolkan atau pengalaman bathin si penulis yang akan dieksplorasi. Peristiwanya boleh sederhana, namun pengalaman bathin bagi yang menjalani, peristiwa itu bisa berubah menjadi sebuah peristiwa yang luar biasa.
Dalam Buku Rumah TepI Kali, sebenarnya cerita-cerita keseharian yang sederhana, bahkan mungkin seringkali terabaikan oleh kita. Menganggapnya cerita nirmakna. Namun ketika cerita-cerita tersebut digabungkan dengan penglaman bathin penulis, hasilnya menjadi sebuah cerita yang sarat akan nilai kehidupan dan menyentuh.
Rindu sekali rasanya membaca cerita-cerita sederhana nan penuh arti. Sayang sekarang kita cukup luput mendengar cerita kebaikan, seakan hal itu sungguh tidak lagi terjadi.
Awalnya saya pikir buku ini lebih cocok dibaca saat saya berada di kampung halaman, menyesuaikan latar cerita-ceritanya berada. Perkiraan saya salah, orang-orang di kota lah yang lebih butuh membaca buku ini.
Buku ini bagaikan hujan lokal di tengah Kota Bekasi. Menyirami batin kita yang sudah kering ditempa peluh dan omong kosong kehidupan sehari-hari. Panjang umurlah kebaikan.
sederhana banget sumpah cerita ceritanya, tapi bener bener meaningful dan banyak pelajaran hidup yang bisa diambil dari sini. kebanyakan menghighlight pelajaran tentang kesederhaan hidup yang merupakan bentuk dari kebahagiaan yang paling baik. gampang dipahami karena penggunaan bahasanya ga belibet dan banyak juga karakter di sini yang menunjukkan wajah dan pola pikir masyarakat indonesia yang sebetulnya.
Waktu pertama kali lihat buku ini di Kinokuniya, langsung tertarik karena ilustrasi sampulnya yang seperti mengajak nostalgia ke masa lalu, hati tiba-tiba mendadak jadi hangat. Alur ceritanya sederhana, tapi hikmah yang diberikan luar biasa. Sungguh cerita dalam buku ini memberi sudut pandang baru, sangat menyentuh sampai membuat air mata jatuh.
Kadang ketawa sendiri, sering juga menangis.. Cerita cerita pendek yang dengan sederhana mengingatkan keburukan diri tapi menunjukkan bahwa Tuhan bisa dirayu... memunculkan harapan cita cita kita pasti bisa dicapai dan ampunan pasti diberikan.. aamiin
rmah tepi kali, membacanya sungguh membuat haru. Bahwa kebaikan, sunggu sangat dekat dan lekat dalam kehidupan sehari. Upaya kecil , sederhana, tapi selal bermakna.
Sangat bagus dibaca sebai pesan juga panduan moral khas orang-orang berbudi.
This book touched my heart. I cried a lot once I finished some of the stories. The story is simple yet heartwarming. It reminds me that kindness is simple and sweet.
Buku ini ringan banget tapi penuh makna, berangkat dari cerita sehari-hari kebaikan para tokohnya, kepekaan dengan sekeliling, dan hal-hal kecil yang kadang ga terpikirkan. Cerita-ceritanya simple tapi menyentuh. It reminds me that kindness is simple and sweet.
Buku yang berisi 19 cerita pendek berlatar pemukiman pinggir kali ini mengandung banyak cerita kebaikan. Kebaikan yang barangkali tak mudah dipahami alasannya untuk sebagian orang. Bahkan cerita yang mengandung nilai keburukan, dalam buku ini dapat dikemas dengan menarik tanpa meninggalkan pesan moral yang bisa diambil.
Beberapa cerita menggambarkan tentang kepasrahan kepada Tuhan YME, cinta dan hubungan orangtua-anak, atau bahkan cinta antar saudara.
Setiap kata yang diuntai dalam cerita-cerita pendek ini, menurut saya, punya kemampuan menyejukkan. Beberapa kali saya seperti diajak berada secara langsung menjadi warga desa, menikmati ritme kehidupan warga desa yang mungkin lambat, namun menenangkan.
Tidak ada yang terlalu spesial dalam buku ini. Semuanya seperti cukup, pada porsinya.
Alasan Membaca: Sejujurnya, buku ini tidak pernah terlintas dalam pikiran gua. Mungkin salah satu alasannya karena gua belum pernah mendengar nama penulisnya. But, I came across this book cause one of my friends highly recommend this book. Therefore, I give this book a try.
Personal though: Buku ini telah menemani gua selama gua commute baik ketika sedang di dalam TiJe atau MRT. Dan, menurut gua buku ini ibarat sebuah hidden gem. Gua senang banget bisa dapat kesempatan membaca buku ini.
Sebenarnya, theme yang diangkat sendiri tidak begitu complex, buku ini berisi kumpulan cerita dari kehidupan penulis dan beberapa orang yang ada di kehidupan penulis ketika ia tinggal di desa. Akan tetapi, banyak sekali nilai-nilai kehidupan yang diangkat dalam setiap cerita tersebut. Nilai-nilai moral yang tentunya bisa menjadi kind reminder untuk gua personally.
Mulai dari cerita pertama, perlahan air mata gua jatuh begitu saja. Rasa haru dan sedih dengan mudah menghampiri gua selama membaca buku ini.
Menurut gua, siapa pun please read this book at least once.
Rumah Tepi Kali karya Dedy Vansophi merupakan novel yang bercerita tentang pelajaran hidup yang terinspirasi dari keluarga dan lingkungan sekitar san penulis tinggal. Dengan kepiawaiannya, ia menggubah kisah-kisah tersebut menjadi cerita yang ringan, penuh guyon namun tetap memiliki makna dan ajaran hidup yang sangat berguna dan tetap relevan meskipun zaman sudah berubah.
Saya membaca novel ini dalam versi Bahasa Ngapak. Sebagai warga ngapak, saya merasa sedang didongengi pada saat baca novel ini. Sangat banyak pelajaran hidup, tentang kesabaran, kebijaksanaan dan petuah yang bisa dipetik dalam bacaan ini. Pokoke nylekamine poll,,,