Baca ini entah mengapa bikin saya terngiang-ngiang Totto-chan karangan Tetsuko Kuroyanagi. Semacam Totto-chan versi Indonesia era 60-an. Itu yang terlintas di benak saya selama membaca ini. Mungkin karena tokoh utamanya sama-sama anak perempuan seumuran TK, dengan pola pikir yang mirip-mirip, dengan keingintahuannya yang besar.
Awal saya baca ini tidak kepikiran Totto-chan, sebetulnya, tapi begitu sampai di adegan kaki Dul putus setelah ditabrak kereta, saya langsung--benar-benar langsung; sekonyong-konyong--teringat adegan kawan Totto-chan yang mengidap polio jatuh saat berusaha memanjat pohon, yang saat itu dia tidak mengalami cedera, namun beberapa bulan kemudian meninggal (saya lupa-lupa ingat karena saya membaca Totto-chan saat masih SMP, itu juga belum diterbitkan oleh penerbit besar di Indonesia, hanya berupa buku fotokopian dengan sampul karton merah muda menyala yang dipinjamkan teman sekelas yang katanya: "Ini terjemahan novel jepang punya kenalan orangtuaku, belum diterbitkan di Indonesia secara resmi", yang kalau dipikir-pikir sekarang membuat saya penasaran siapa 'kenalan' orangtuanya tersebut, apa penerjemahnya?).
Totto-chan bisa dibilang novel "tebal" pertama yang saya baca selama hidup, karena sebelum menginjak bangku SMP saya hanya mau membaca buku anak-anak bergambar dan komik. Mungkin karena itu pulalah novel itu cukup berkesan dan membuat saya (entah mengapa) teringat akan Totto-chan saat membaca ini.
Omong-omong, sepertinya saya belum membaca terjemahan bahasa indonesia terbitan penerbit besar yang resmi.
Na Willa, tokoh utama di cerita ini, merupakan anak 'Wong Cino' yang tinggal di Surabaya era 1960-an. Diskriminasi disajikan dengan tersirat dan terkadang jenaka, melalui pikiran anak-anak, di buku ini. Namun, karena Mak-nya Na Willa seorang 'pribumi', Na Willa tidak diperlakukan berbeda oleh teman-temannya, bahkan ada adegan sahabat Na Willa sekaligus tetangga rumahnya sempat berkata, "Kamu bukan Cino! Kamu ireng," (dan bikin saya ngikik).
Bab "Pak" sempat membuat saya menitikkan air mata. Bapaknya Na Willa seorang pelaut. Jika melaut, bisa sampai berminggu-minggu atau berbulan-bulan. Suatu ketika, saat Na Willa masih sangat kecil, bapaknya lamaaaaaaaaaaaaaaa sekali tidak pulang. Begitu pulang, Na Willa yang membukakan pintu dan dengan polosnya bertanya, "Om cari siapa?". JLEB. Bapaknya langsung nangis di pintu depan, untung ibunya buru-buru menyusul ke pintu, kalau tidak mungkin akan ada hujan air mata. Sayangnya, saya udah keburu hujan air mata :")
Sejak saat itu, bapaknya Na Willa menolak pekerjaan yang mengharuskannya berbulan-bulan tidak pulang, paling lama dua minggu. Bagus.
Dan saya juga sukaaaaaa makan mata ikan!! Tos sama Na Willa! Senangnya! Emang itu bagian paling sedap dari ikan! Matanya! Kenyal-kenyal berlendir dan asin-asin gitu~~~ Slurp ):d
Lucunya, Na Willa sampai berharap ada ikan yang punya banyak mata, supaya dia bisa makan banyak mata dari satu ikan lol~ Pikiran bocah yang tidak terduga, saking sederhananya.
Saya suka Mak-nya Na Willa. Beliau orang pertama yang terlintas di benak Na Willa begitu dia tertimpa masalah. Mak bagi Na Willa seorang yang mampu membereskan masalah Na Willa sebesar apa pun--kalaupun tidak berhasil dibereskan, setidaknya ada solusi terbaik yang terpikirkan. Di bab boneka Na Willa sering kali copot tangan dan kakinya, bocah itu berpikir: Hanya Mak yang bisa memasang kembali tangan dan kaki boneka-bonekaku.
Yaelah, padahal mah sebenernya mungkin masih banyak orang dewasa di dunia ini yang bisa memasang kembali tangan dan kaki boneka yang copot, cuma di otak Na Willa, hanya Mak satu-satunya. Mak hebat. Tidak ada tandingannya. Bagi Na Willa.
Pola pikir Na Willa (dan Totto-chan) menggambarkan kepada kita (baca: orang dewasa), bahwa pikiran anak-anak itu sebetulnya sangaaaat sederhana. Namun saking sederhananya, sering kali justru berbalik jadi terlampau rumit untuk dipahami orang dewasa yang memang sudah terbiasa memikirkan segala sesuatunya dengan rumit sehingga lupa bagaimana cara "menyederhanakan" sesuatu.
Na Willa seolah menampar para pembaca dewasa untuk kembali mengingat apa-apa yang membuat kita susah hati saat masih kecil, apa-apa yang membuat sedih dan senang, apa-apa yang berharga bagi anak-anak. Sebab, orang dewasa sering kali lupa bahwa sudut pandangnya yang terlampau tinggi itu tidak sejajar lagi dengan anak-anak dan membuat mereka "terpaksa" berjinjit untuk mengikuti sudut pandang orang dewasa. Padahal mestinya orang dewasalah yang mau berusaha menunduk sedikit mengikuti sudut pandang anak-anak, agar bisa saling memahami dengan mereka.
Senang sekali membaca buku ini~ <3
Apalagi diberi langsung sama pengarangnya, ehehe~