Salah satu alasan Swastika Nareswari resign dari pekerjaannya adalah perbedaan cara pandangnya dalam urusan pekerjaan dengan Javas Maheswara, sang pimpinan. Tak hanya itu, sikap Javas yang kerap menguji kesabaran Swastika semakin memantapkan hatinya lepas dari tindakan semena-mena sang pimpinan.
Suatu hari, sebuah pameran pernikahan ‘Wedding Festival’ mempertemukan keduanya. Javas dan tunangannya sedang hunting mengenai konsep pernikahan mereka dikejutkan oleh penampakan Swastika yang sedang mencoba gaun pengantin berwarna hijau toska. Pertemuan itu tak hanya menjadi awal perdebatan Swastika dan Javas memaknai kehidupan, tapi juga tentang bagaimana seorang perempuan mempertahankan prinsipnya ketika seorang pria yang telah bertunangan mengusik kehidupannya.
Kupikir aku bakalan dnf bku ini, wkkwwk. Tapi selesai juga ternyta.
Awalnya chapter awal tuh bku ini emang menarik sih, tapi makin sini makin bosenkn, makin diputar2. Aku juga nggak bgtu samanpara cowok di sini. Pada creepy semua. Javas sama Radev tuh mreka keknya creepy banget. Radev malah udah nandain Tika sebegitunya. Anehnya, ini si Tika nggak ngertu gtu sama Radev pas awal2. Makin sini tuh cowok makin creepy aja nyosor2. Untungnya, Tika sadar kalau Radev tuh creepy.
Chemistry tiqp tokohnya juga nggak dapet kalau aku. Ama Javas juga kerasa tiba-tiba banget. Abisan d awal nggak ada petunjuk Tika tertarik. Marah2 mulu. Tapi tiba2 aja mau nerima tawaran Javis karena inget aroma bapaknya. Lah, kemarin2 ke mana. Javis juga sama aja creepy nya. Duuuh.
Beli ini tanpa tahu siapa pnulisnya dan cuman bermidalkan kover sama blurb. Jadi ya bgini kalau iseng2 beli bku di tokbuk. Kalau zonk, ya se zonk itu karena nggak berdiskon juga. 😂 😂
Jujur gak sesuai sama expectation sih. Hampir dnf malah pas baca. Awalnya oke lancar, mulai pertengahan cerita agak muter-muter sih. Jadi bikin gak seru buat baca. Dan ceritanya buatku cringe abis sih. Apalagi seperempat bagian terakhir menuju ending sampe epilognya pun bikin cringe.
Terlalu banyak hal yang tidak masuk akal. Hubungan kerja antara HR dan karyawan bisa seintim itu di tempat kerja. Proses interview kerja semudah itu.
Tokoh Tika yg posisinya manager finance tapi dibuat terlalu naif semacam anak smp.
Yang membuat saya paling terganggu sebenarnya adalah tokoh tika, sebagai perempuan yang mandiri, kok bisa digambarkan semudah itu mau di pegang-pegang di pinggul, di genggang tangan, di usap tangannya dan diperkenalkan sebagai calon menantu oleh laki-laki yang dia sendiri tidak mau akui sebagai apa.
Paham sih ini hanya fiksi, tapi not really my cup of tea.
Bakal spoiler banget nih curhat saya kali ini. Jangan dibaca kalau gak suka spoiler, ya. Saya kasih cerita ini bintang 2,3.
Tadinya saya sedang mulai membaca A Very Yuppy Wedding karena iseng nyari bacaan ringan . Tau-tau lihat ada buku ini, maka saya pinjam saja. Blurp-nya memang agak bikin penasaran, bagaimana seorang cewek akan menolak pedekate cowok yang sedang bertunangan, apalagi si cowok juga merupakan bosnya.
Eh nggak taunya...
Sebagaimana beberapa pembaca lain yg sudah menulis reviu atas buku ini, tampaknya pembaca sulit untuk bisa suka pada tiga tokoh utama cerita: Swastika, Javas, dan Radev.
Iya, ini cinta segitiga berbalut asmara kantor. Bolehlah cinta segiempat kalau Venetta tunangan Javas ikut dihitung. Dari interaksi empat orang ini, saya nggak bisa merasakan ada rasa cinta yang murni, beneran kuat gitu, padahal katanya Radev dan Javas sama-sama bucin pada Tika. Yang kelihatan malah dua-duanya cuma gede-gedean ego, secara sepihak menganggap Tika sudah setuju berpasangan dgn mereka.
Tapi bisa jadi karena karakter Tika juga gak punya kekuatan, sih. Katanya gak suka dgn gaya otoriter bos resenya, tapi berulang kali diminta kerja di luar job desk, dipegang tangan, dielus kepala, dicubit pipi, dll, dkk, oke oke aja. Tidak consent-nya sebatas ngedumel dalam batin, tapi diulang lagi, diulang lagi. Pun dgn Radev. Tika memang macam jatuh cinta pada jumpa pertama, tapi tanpa kesepakatan apa-apa kok ya nggak protes diajak masak bareng dan diaku calon mantu oleh orang tua Radev. Iya sih, hasil sidang skripsi Tika cuma dapat nilai B+, tapi kalau bekerja tiga tahun setelah lulus S1 sudah ditawari jadi manajer keuangan perusahan penerbitan mapan, mustinya dia gak -sori agak kasar- banget deh. Umur udah lewat seperempat abad, pengalaman pacaran juga udah ada, tapi kok segitu naifnya dalam berhubungan dgn dua cowok tadi. Ada masalah apa sebenarnya mbak pengarang dgn cewek ini?
Gitu sih, sebenarnya saya mau kasih dua bintang aja dgn penokohan yg asal-asalan ini. Tapi saya harus mengakui cukup terhibur dgn celetukan batin Tika yg wawasannya lebih luas dibandingkan lisan dan perbuatannya.
Rupanya buku ini baru banget terbit! Semangat terus ya, mbak pengarang. Mungkin lain kali bisa pilih nama tokoh-tokoh utama yg gak terlalu terlihat berkerabat dekat dengan Ratu Tribhuwana Tunggadewi (Nareswari-Maheswara-Prabangkara), padahal ini bukan zaman Majapahit.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Ini Novel karya Sekar Aruna pertama yg kubaca. Ceritanya ga yg menarik banget sih. Biasa aja. Tapi aku kurang suka dgn ketiga karakter disini 1. Swastika: dia padahal manager accounting loh, dari ceritanya kayaknya pinter gituu dalam urusan pekerjaan di kantor. Tapi kokk yaa dalam kehidupan sehari² (maap) kayak agak bodoh, maksudnya masa iya ga peka sama Javas sampe separah ituu untuk level manager & udah pernah pacaran. Single 3 tahun bisa membuat orang segak peka itukah?? Terus digambarkan juga kalo si Swastika ini mudah dipegang² cowo yg ga ada status hubungan khusus. Pas dipegang ga ada protes²nya gituu. Dan Swastika ini suka asumsi-an gak jelas & gak perlu, gak cocok aja karakternya sbg seorang manager gituu. Sedikit annoying aja tiap bab sama karakter si Swastika ini. 2. Javas: Ini juga parah sih sebagai seorang boss & sudah bertunangan, tapi digambarkan pria yg kesannya maksa pake BANGET, ampe suka nerror² Swastika kayak anak SMP SMA gitu lohh. Sorry kesannya kayak udah ga punya harga diri & wibawa sbg seorang boss & pria. 3. Radev: Gimana ceritanya dia bisa tiba² suka sama Swastika cuma? Karna dy paling bening di kantor? Belom punya status pacaran, tapi udah bawa Swastika ke rumahnya, udah pegang² Swastika layaknya orang pacaran.
Pokoknya kurang srek sama 3 tokoh di Novel ini. Gimana yah? Jabatan mereka di dunia kerja dengan karakter & pembawaan diri yg digambarkan ga cocok, ga make sense gituu. Agak capee sih bacanya, ga yang bikin penasaran juga. Terlalu maksa aja sih.
Maaf ya author, ini review jujur! Tetap semangat yahh, don't give up :)
This entire review has been hidden because of spoilers.
Wedding Festival • Sekar Aruna • Elex Media Komputindo • 2021 • 331 hlm.
Tika lelah dengan sikap Javas--atasannya--yang kerap memberinya tugas di luar wewenangnya. Terlebih lagi, Javas sering membuatnya lembur atau meminta ditemani di luar urusan pekerjaan. Tak tahan dengan sikap Javas, Tika mantap hengkang dari perusahaan yang telah membesarkannya selama 3 tahun itu. Suatu kebetulan Radev, lelaki tampan yang baru dikenal Tika, menawari posisi di perusahaannya.
Tika berharap kepindahannya dapat melepaskan diri dari bayang-bayang Javas. Nyatanya, setelah Tika pindah ke kantor barunya pun, Javas juga tidak berhenti mengganggu ketenangan Tika. Keadaan semakin tidak nyaman ketika Javas terus melancarkan teror dengan pesan-pesan singkatnya, sementara Radev terang-terangan berusaha mendekatkan Tika dengan keluarganya.
Mampukah Tika mengurai alasan di balik teror Javas? Akankah Tika menerima Radev sebagai suaminya?
Ini kali pertamaku membaca karya Kak Sekar Aruna. Tak bisa dimungkiri, aku hanyut dalam ceritanya, sungguh page turner sekali buku ini! Aku menikmati bagaimana Radev begitu jelas menunjukkan ketertarikan serta keseriusannya dengan Tika. Aku kesal dengan sikap Tika yang bodoh--karena takbisa kukatakan polos juga mengingat ia adalah gadis usia cukup dewasa dan berpengalaman berpacaran, tak menangkap gelagat di balik tiap aksi Javas. Aku gemas dengan interaksi antara Javas dan Tika.
Namun demikian, ada beberapa poin yang terasa janggal. Aku tak berpikir hubungan antara dirut dan manajer keuangan bisa sedekat itu hingga Tika mampu berkata keras di depan Javas. Aku tidak percaya bahwa seorang personalia perusahaan seperti Radev mau merekrut calon karyawan yang jelas-jelas menjelekkan bosnya. Aku meragukan sikap idealis Tika yang tak menolak "diakrabi" Radev dan Javas. Meskipun begitu, aku tetap ingin membaca karya lain dari penulis.
--
This entire review has been hidden because of spoilers.
Tahu novel ini dari Wattpad, terus karena ada di Gramedia Digital tertarik baca buat tamatin novelnya.
Novelnya khas Wattpad ya, banyak adegan yang kurang masuk akal. Terutama soal profesionalisme Javas yang gk banget dan proses rekrument.
Konflik novel ini sudah setelah masuk 75% cerita. Sisa 25% cuma bahas slice of life kehidupan Javas sama Swastika setelah jadian. Alur ceritanya sebenarnya lumayan oke tetapi karakterisasi para tokohnya gk banget. Javas itu kalau ada di dunia nyata nyebelin abis dan gk bisa disukai walau ganteng. Dia gk profesional, semena-mena banget sama Swastika. Mungkin buat pembaca ABG lucu, sedangkan buat pembaca dewasa itu menyebalkan dan bikil ilfeel. Selain itu, Javas masih punya pasangan tapi malah ngebet banget deketin Swastika. Kelarin dulu atuh sama yang sebelumnya sebelum ngejar yang baru. Javas itu red flag garis keras pokoknya.
Namun, Swastika juga merupakan manusia yang menyebalkan (pantes jodoh sama Javas, sama-sama nyebelin). Swastika orangnya suka menghindar, pura-pura gk tau, dan gk bisa diajak serius. Tiap lawan bicaranya lagi ngomong serius, isi kepalanya malah bahas yang gk penting. Dia pilih pura-pura gk tau buat menghindar dan gk bisa tegas. Apalagi pas sama Radev. Kesel banget setelah nolak Radev terus Radevnya menjauh dia malah sok ingin deket terus dengan alasan 'still friend'. Sikap Swastika juga banyak yang tidak sopan.
Selain karakterisasi tokohnya yang menyebalkan, judul novel dan isi cerita tidak terasa ada korelasinya. Hanya ada dua bab yang membahas wedding festival. Itu pun saat bab tersebut tidak terasa sesuatu yang spesial.
Secara keseluruhan, novel ini ringan untuk dibaca saat senggang dan lagi gak ingin banyak mikir. Cocok buat yang masih remaja atau anak kuliahan. Buat yang dewasa dan sudah bekerja mungkin bakal agak kesel.
1. Alur yang muter-muter. Perkembangan yang terlihat dari awal cuma Swastika ketemu Radev, pindah kerja demi menghindari Javas, udah. Abis itu Radev ngasih kode frontal—Tika nggak nolak—Javas mendekat—Tika jual mahal gitu aja terus. Belum lagi plot twist (yang sebenarnya terduga tapi) terlalu tiba-tiba.
2. Karakter Radev yang touchy dan creepy banget. Iya, iya, Javas juga nggak kalah creepy-nya, tapi masih bisa ditolerir karena dia meneror lewat chat tanpa banyak adegan sentuhan saat bertemu. Sementara Radev? Selalu menunjukkan kepemilikan lewat sentuhannya ke Tika juga klaim kalau Tika itu "Calon Istri"-nya. Hah? Halo, Bang? Situ udah nanya Tika dia mau jadi istrimu atau nggak?
3. Karakter Tika yang, ehm, untuk perempuan yang digambarkan mandiri dan independen, sejak awal dia nggak keberatan dipegang-pegang Radev tanpa consent? Nggak keberatan dengan 'pemaksaan' yang terselubung? Belum lagi, saat itu Radev hanya sering melempar kode, bukan menyatakan perasaannya langsung. Belum lagi, dia hanya 'pura-pura' menghindari Javas padahal tau dia ada rasa lain. Karakter dia yang nggak tegas dan seolah membiarkan dua cowok ini mengejarnya tanpa kepastian juga sama sekali nggak mengundang simpati.
4. Karakter Javas yang sama creepy-nya. Javas mengingatkanku pada seorang bos di novel lain yang melakukan hal yang sama ke bawahan yang dia suka: ngelempar job desk lain, nyuruh lembur, dst. Meski dia menyeramkan karena creepy dan stalker, dia yang paling bisa kutolerir dari trio tokoh utama.
5. The wedding festival ... apakah ini merujuk ke titik balik perubahan sikap Tika ke Javas? Kalau iya, akan lebih menyenangkan kalau prosesnya dibuat lebih smooth supaya "plot twist"-nya nggak terkesan memaksa.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Review ini mengandung pendapat pribadi, sama sekali tidak berniat menghasut apalagi memengaruhi pembaca yang mungkin penasaran dengan buku ini. So, read on your own risk!
Sewaktu membaca blurb, bakal berekspektasi wah bakal banyak kisah menguras air mata dan perasaan, nih karena bertema pengantin yang masih ragu akan meneruskan pernikahannya atau tidak setelah ada orang baru masuk dalam kehidupannya, yaitu si Swastika. Ekspektasi berbanding terbalik dengan realita karena ternyata isinya super nyebelin. Iya, maksudku si Swastika. Karena buku ini memakai sudut pandang orang pertama, sikap denial Tika bisa tersembunyi dengan baik (atau memang penulis saja yang ingin memberi kesan Tika itu sebenarnya tahu perasaan Javas?)
Tapi menurutku justru kalau sikap asli Tika disembunyikan, even buat pembaca, penjelasan di akhir malah bikin kaget, sih. Pembaca jadinya mikir kok tiba-tiba Tika jadi berubah memilih Javas ketimbang Raven? Kayaknya di awal Tika enjoy-enjoy aja dikenalin ke keluarga Raven, kok tiba-tiba ...? Yah, aku tahu Tika bakal berakhir sama siapa, tapi sekali lagi, klimaksnya terasa kurang nendang. Lalu kesannya di akhir juga terlalu banyak dijejalkan kisah uwu. Entah, energi di blurb nggak kerasa sama sekali dan yah agak kecewa ternyata isinya beda.
Mungkin memang tidak berjodoh dengan buku ini, tapi nggak menutup kemungkinan baca karya-karya penulis yang lain. Semangaaat!
Jujur aku menaruh ekspetasi yang tinggi terhadap buku ini, karena di ipusnas antriannya rame banget say, jadi aku kira bagus dong ya, eh pas baca ternyata tidak sesuai dengan ekspetasi aku. Javis ni menurutku tokoh yang bikin ilfeel banget, sorry to say ya, soalnya kayak diikuti terus kemana-mana, didatengi rumahnya, dikirimin makanan, padahal statusnya dah punya tunangan, tuh weirdo banget, walaupun pas udah putus juga tetep aneh menurutku. Radev juga, nggak tau ya apakah ini hal biasa atau enggak, tapi aku nggak mengingat Radev udah menyatakan perasaannya sebelum mengajak Tika ketemu orangtuanya, tapi pas di rumah orangtuanya dia tiba-tiba bilang sesuatu yang mengindikasikan ke arah pernikahan, without saying anything with Tika, ya maaf kalau hal kayak gini umum, tapi menurutku aneh. Tokohnya Tika juga nggak jelas bangett, di awal nggak pernah ada deskripsi yang menjelaskan kalau dia suka sama Javis, dan justru dari narasinya dia lebih suka sama Radev. Tapi kenapa end-up dia memilih Javis dan merelakan Radev tuh rasionalisasinya apa sihh? Seingetku juga nggak dijelasin kenapa akhirnya dia milih Javis, sepahamanku cuma dia luluh dengan perilakunya Javis, tapi masa iya cuma karena itu?? Jadi ya aku nggak bisa menikmati chemistry antara Tika dan Javis. Karena alasan-alasan itulah aku merasa novel dengan 340an halaman ini membosankan
This entire review has been hidden because of spoilers.
Swastika dan Javas yang sering banget bertengkar. Padahal Javas adalah bosnya Swastika. Aku cukup suka dengan ceritanya. Unik dan alurnya juga stabil. Konfliknya runtun. Dan gaya bahasanya melokal dan sederhana. Mudah dimengerti dan setiap tokohnya menurutku punya daya tarik masing-masing.
Di sini karakter Swastika sangat keras kepala banget. Dia kayak benci sebenci-bencinya sama Javas. Aku ngerti banget posisi Swastika. Dimana dibebankan sebah pekerjaan yang bukan dalam jobdesk kita. Kadang aku juga gedeg sama Swastika yang dia itu seperti tidak mau kasih kesempatan sama Javas walaupun pria itu udah dalam mode on serius. Mungkin karena rasa kekesalan Swastika kali ya.
Di sini aku rasa karakter Javas juga udah ketebak kalau dia lagi senter-senter suka sama Swastika. Terbukti dalam dialog Javas yang kadang ngegombal Swastika. Dan beberapa scene di mana mereka itu lagi berdua. Aku sih. Cukup suka dengan chemistry kedua tokoh ini.
Penggunaan diksinya bener-bener enak buat dibaca. Aku suka dan enjoy. Buku ini page turner buat aku, semakin dibaca semakin penasaran mau selesain.
Banyak hal janggal sampai lebih dari setengah buku. Aku lama banget bacanya karena kesal dengan si Tika. Awalnya aku kira dia ini ga peka. Ternyata plot twist. Hal yg menurutku mengesalkan adalah dia ga bisa tegas ke Javas. Mau2nya dimodusin sama Javas yg udah punya tunangan. Diperlakukan bak ratu oleh Raven juga g menegaskan hubungan mereka. Padahal udh dikenalin ke keluarganya, kalau ga nyaman atau ga suka, y lebih bilang lah. Bukannya mau ke sana, ke sini Rating buat cerita 2.5, tp total 3 karena aku suka covernya Apalagi diakhir, bisa2nya dengan cepat dia milih Javas. Si tunangan juga santay aja pula Serba aneh walau ini fiksi, ini karya Sekar Aruna yg sangat kusayangkan
Tema ceritanya menarik, namun plotnya gak jalan. Tidak ada konflik yang menggerakkan cerita. Tidak ada dinamika cerita, hanya berputar dan berkutat di satu hal yang sama. Karakter juga tidak dibangun dengan baik tidak ada background story dari karakter utama: kenapa dia takut sama cowok, bagaimana konflik batin dia, kenapa dia selalu menanggapi semua dengan humor, dia pintar tapi kenapa lemot... Cerita kantor juga tidak banyak dikembangakan. Jujur baru pertama kalinya saya baca novel fiksi roman yang menyiksa karena terpaksa harus diselesaikan membacanya.
Aku merasa kayaj baca wattpad yang ditulis seadanya. Kenapa? Karena: 1. Alurnya terlalu cepat. Kurang tertata. Dan aku gak merasa ada emosi yang dibangun, apalagi konflik yang greget banget. 2. Tiba-tiba Tika yang segitu antinya sama Javas dan deket sama Radev, kok bisa beralih ke Javas? 3. Judulnya Wedding Festival, tapi gak ada adegan yang berarti di acara Wedding Festival itu. Jadi kayak gak nyambung 4. Aku ngerasa kok bahasanya Tika ngobrol sama sahabatnya terlalu kaku ya?
Akhirnya dapat giliran baca setelah antre berbulan bulan di ipusnas, novelnya ringan banget, sekali duduk baca langsung kelar..cuma tokoh tokoh cowoknya ya ampun pada enggak banget, yang satu tukang maksa yang satu tukang kuntit..serem serem ngeselin..untung si tokoh cewek walaupun rada menye menye dan gak tegas tapi dia kocak jadi novelnya lumayan menghibur sampai di tengah tengah..sisanya bener2 ketebak dan rada boring.
Pertama baca novel ini..aku gak punya ekspektasi apapun..aku menikmati pada bagian komedinya,karena kisah romantisnya tidak terlalu banyak..Tika yang terlalu barbar,Javas yang labil,dan Radev yang pemaksa..ketiganya memiliki porsi cerita yang pas..meskipun aku gak terlalu suka sama karakter Swastika tapi entah kenapa novel ini memiliki daya tarik sendiri
Aneh banget, masa sekelas manajer keuangan ga paham kode-kode cinta? Dari awal chemistry pemeran utama, Tika sama javas tuh gak ada. Tika cuma marah2 doank, kesel, emosi positifnya gak ada. Lebih aneh lagi, Radev masa nawarin kerjaan di tempat makan sama orang yg gak dikenal, terus tiba2 si Tika juga mau2 aja. Fiksi sih boleh ya tapi kalau diluar nalar dan logika juga kayaknya kurang elok gt 🤭
Hampir DNF, seperempat dari novel masih penasaran, mulai bab akhir udah gak kuat cuma scroll-scroll manja aja. Ini beneran Swastika ga bisa ngasih batesan? Dipegang-pegang protes biasa aja, masalahnya ini tokoh laki-lakinya hobi jadi stalker. Serem abis kalau ada di dunia nyata. Untuk penulisannya oke, mungkin di cerita lain bakal nyoba baca. Oh iya covernya bikin mikir ini novel lama 😂
This entire review has been hidden because of spoilers.
Untuk pemerannya cukup bgs deskripsi nya Cuma untuk alur cerita terlalu panjang, plus karakternya kurang menonjol satu sama lain sehingga pada saat klimaks bingung di mana posisinya Tapi sampai akhir cerita saya menikmati setiap katanya Semoga bisa lebih baik lagi, ditunggu ya karya berikutnya😊
Sudah bisa diduga jalan ceritanya apalagi endingnya. Cerita yang ringan dengan alur yang biasa saja. Awalnya memang menarik tapi mendekati tengah cerita seolah jadi bertele-tele. Swastika yang jinak-jinak merpati berhadapan dengan Javas yang cringe rasanya pengalaman membaca kali ini datar saja saat membaca cerita model begini.
Sepanjang cerita hanya diisi upaya Swastika yang kucing-kucingan dengan bos yang beda 8 tahun ini tanpa ada konflik besar apalagi plot yang mengejutkan. Biasa saja.