Sekelompok pasukan menyerang Dusun Khae Khwa. Senjata api menyalak. Senjata tajam berkelebat. Orang-orang menjerit dan berhamburan. Dalam kekacauan itu, ibu dan adik Begum diseret menuju kematian. Begum sendiri bisa meloloskan diri dari peristiwa itu. Ia menerobos desingan peluru, lalu pergi ke tempat yang entah. Namun, selepas itu, ia justru terjebak dalam kekacauan yang lain, kebiadaban yang lain. Pasukan pemberontak Air Force Independent (AFI) yang menyelamatkannya, menyeret anak itu ke dalam pembantian demi pembantaian yang lebih biadab ketimbang kebiadaban sebelumnya!
Begum adalah tokoh utama dalam novela dengan nama yang sama. Dia merupakan anak dari etnis Rohingya yang saat itu dilanda mimpi buruk sepanjang harinya. Di tanah Aceh tempat persinggahannya, dia dimintai seorang reporter untuk menceritakan berbagai kejadian kelam yang telah dilaluinya—di tanah kelahirannya. Bagi Begum, hal tersebut tidaklah mudah hingga ia mampu bersikap kasar atas penolakannya untuk bercerita. Namun, secara perlahan—seiring kehangatan yang diterimanya dari para relawan sekitar, hatinya yang beku sebab luka yang didapatkannya pun mulai mencair dengan sendirinya. Sudut pandang Begum singgah ke masa silam—menayangkan bermacam peristiwa yang membuatnya ngilu. Betapa tidak, kampung halamannya diserbu kekejaman para tentara utusan negaranya. Untuk remaja seperti Begum, perang dan penindasan sama sekali tak pernah terbayang di dalam hidupnya. Begum tidak tahu di mana ayahnya tinggal, hingga suatu hari ia menyaksikan bagaimana rasanya dilucuti oleh perasaan takut saat orang-orang di sekitarnya disiksa, dibunuh secara sadis oleh desing peluru selayaknya mainan yang terus memburu manusia tanpa ampun.
Para perempuan dilecehkan sebelum akhirnya dicingcang kematian. Hingga adik dan ibunya diseret dan tak mampu ia temukan adalah momen paling mendebarkan, ibunya memerintahnya untuk melarikan diri—menyusuri lembah dan rimba tiada ujung. Semua kenangan baik di tanah kelahirannya berubah gelap sebab tertimbun penindasan demi penindasan yang membawanya pada momen bahwa ia juga harus membantai sisa manusia di perkampungan-perkampungan lainnya—karena saat itu Begum ditawan tentara lain. Dalam pelariannya bersama saudaranya yang tersisa, penderitaan tidak berhenti di sana. Keserakahan dan kelaparan menciptakan perang lainnya dalam kecemasan di tengah samudra ganas—mencari persinggahan yang bisa memberikan rasa aman.
Dari kisah Begum yang singkat—tetapi terasa sangat panjang dan menyayat, helaan napas terus mengudara di sepanjang perjalanan membaca halaman demi halaman. Seolah rasa sakit yang diembannya turut dibebankan ke dalam perasaan pembaca—bahwa Begum ingin memberitahu kepada dunia tentang betapa mengerikannya manusia atas perang dan penindasan yang kadang kala di atas namakan demi kebaikan negara—padahal sejatinya, tak ada manfaat yang bisa didapatkan saat manusia lebih buas dari satwa-satwa predator. Meskipun begitu, dalam pekat kesengsaraan yang dirasa—cinta dan kasih selalu menyelinap untuk memberikan kepercayaan bahwa di balik segala kelam dan kejamnya pengalaman itu, masih ada sisa rasa kemanusiaan yang bisa digaungkan dan disebarkan. Secara penulisan isi dan desain buku sangat nyaman untuk dinikmati, gaya bahasanya yang mudah dicerna pun menjadi nilai lebih yang memudahkan penyampaian cerita. Walau ada beberapa kejadian yang sulit dipahami—secara keseluruhan sangat layak untuk dibaca.
Selama membaca novelet ini, di setiap rangkaian kalimatnya, paragrafnya, dan setiap berganti ke halaman berikutnya begitu pula chapter selanjutnya, selalu membuatku menahan napas dan perasaan seperti teriris-iris yang amat sangat perih itu tiba-tiba saja hadir, membayangkannya saja sangat mengerikan walaupun ini disajikan dalam bentuk fiksi. Begum 😭😭😭😭😭 dan semua etnis Rohingya yang telah gugur atau yang sekarang selamat dari tragedi itu, semoga hidup kalian sekarang bisa lebih baik ya.
Cerita seorang bocah bernama Begum yang kehilangan keluarga, tempat tinggal dan harapan hidup. Pov Begum sebagai seorang anak yang melalui segalanya untuk sedikit tenang setelah kabur dari kengerian 1 dan seterusnya.
Disini diceritakan latar belakang ia dan tempat tinggalnya, faktor penyebab terjadinya tragedi di berbagai tempat dan orang-orang lain yang juga jadi korbannya. Disisipi cerita yang haru di beberapa tempat persinggahannya, hingga trauma yang ia punya pada akhirnya.
• Gaya penulisannya bagus, aku suka. Sayang banget ada beberapa typo. • Walaupun aku ga terlalu paham konflik Rohingya, tapi buku ini lumayan eye opener. • Alurnya oke. • Ceritanya sedih, tapi pas part Begum lari kehutan dan ada Harimau itu aku jadi ngakak malah. Kek gak make sense.
140 halaman yang dibaca menghasilkan sebuah kesedihan dan kemarahan. Sedih melihat etnis rohingnya yang mengalami ketidakadilan di negaranya sendiri sekaligus marah mengapa pemerintahan Myanmar begitu kejam terhadap etnis rohingnya.