"Aku ingin bercinta denganmu dan melahirkan banyak puisi"
Itu adalah kalimat pertama pada buku kumpulan puisi ini, dan memang benar, puisi-puisi di dalamnya lahir dari sepasang suami-istri yang sedang jatuh cinta. Puisi-puisi tentang jatuh cinta, saling mengagumi, dan memupuk rindu karena jarak.
"Sebab cinta adalah jatuh-jatuh yang tidak direncanakan"
"Pada setiap jejak yang menjauh, rindu membenih
Kau pergi dan tiba-tiba waktu mengandung sepi"
Yang unik dari buku ini adalah, puisi di dalamnya ditulis saling berbalas, lengkap dengan nama tempat, tanggal, dan waktu kapan dibuat. Kadang ditambah keterangan kecil, seperti "sudah pukul 09.27 WIB, SMS belum dibalas, rindu" lalu pada puisi balasannya ada keterangan "baru bisa balas jam 01.33 dari teras rumah". Ditambah fakta bahwa mereka menulis memang ketika sedang menjalani hubungan jarak jauh. Rasanya seperti sedang menyusup ke dalam ruang pesan sepasang kekasih, menggemaskan.
"Aku menulis puisi dan membiarkan mereka membawa pergi separuh diriku kepadamu,
Tetapi mereka hanya dapat disentuh oleh matamu"
Selain itu, ada beberapa puisi yang mereka tulis berdua, ketika mereka sedang bertemu. Membayangkan proses penulisannya bikin gemes sendiri, tengah malam, berdua, menulis puisi, sambil menumpahkan semua rindu.
Kalau bagian kesukaan lain dari puisi-puisi dalam buku ini adalah bagaimana mereka mengumpamakan sesuatu. Pantai, ombak, gelombang, bulan, bintang, bahkan sendal jepit. Seperti salah satu puisi yang terus-terusan berputar di kepala, judulnya Bulan Sabit di Puncak Gelombang
"Aku menginat senyummu
Seperti bulan sabit menggantung
Matamu adalah langit hitam,
Sekali dua kali aku mendapati bintang
Tiga empat kali aku tersesat di dalamnya"
Selain tentang jatuh cinta dan merindu, ada beberapa versi puisi yang agak sendu, ga banyak memang. Nah yg jadi kesukaan itu Luka-Luka Cinta. Ini agak lebih panjang dibanding puisi yang lain. Sini aku bisikin sepenggal,
"Kekasih, bila aku tidak mampu mencintaimu dengan baik
Akan kuambil satu tempat paling jauh dari dirimu,
Barangkali itu ruang-ruang yang masih kosong di langit,
Atau tempat-tempat paling gelap bagi matamu, supaya di sana,
Hidup bagiku berarti tidak mencintaimu sebaik-baiknya
Sebab telah kuketahui dari musim kemarau yang panjang
Bila cinta tidak menemukan jalan-jalan yang benar
Ia hanyalah luka tanpa bentuk dan rupa,
Luka yang paling luka" :(
(Ke bawahnya lebih perih lagi, jadi ayo bacaa, beli bukunya hehe)
Sebenernya suka juga sama Punggung Sepasang Kekasih. Ini tentang perpisahan. Ngingetin sama scene 2521 waktu Yijin-Heedo pelukan sebelum Yijin berangkat ke NY:")
Kesukaan lainnya, ada Membayangkan Kau Pergi, Sepasang Sendal Jepit, Rindu dan Pekerjaan Rumah, Menyetrika Rindu, Kota yang Lama Tidak Ada Pagi, Mencintai dari Jauh, Mencintai dan Saling Menyibak Rahasia, Tengah Malam dan Bicara Cinta, yah pokoknya banyak hehe.
Oiya bahasanya juga lumayan mudah dipahami, sederhana tapi indah, dan maknanya bisa sampai ke pembaca. Tipe-tipe puisi yang pengen banget bisa aku tulis.
Walaupun kebanyakan puisinya tentang jatuh cinta dan rindu, aku masih bisa menikmati baca buku ini, walaupun lagi ga di posisi keduanya. Selain itu, udah lama juga ga baca puisi-puisi, jadinya kaya seruuu aja bacanya. Nanti deh kalau lagi ngerasain hal yang sama kaya puisi-puisi ini, bakal baca ulang biar rasanya lebih dapet hahaha.
Bonus penggalan-penggalan yang aku sukaaa
"Cinta yang sungguh-sungguh adalah cinta tanpa kecuali, sebab cinta sudah sebuah pengecualian"
"Hatiku cukup luas untuk mencintai semua wanita
Tetapi kau, dengan keluasanmu, hadir memenuhinya tanpa menyisakan sedikit pun ruang kosong"
"Begitu cinta memeluk sepasang jiwa, mereka menjadi semesta pemberian"
"Aku tak pernah punya cukup kekuatan untuk membayangkan kau pergi, bukan karena apa-apa, aku hanya tak pahami bagaimana mencintai sambil berpikir tentang suatu waktu engkau akan meninggalkanku
Aku tak mengerti bagaimana mencintai sambil bersiap untuk berhenti mencintai"
"Semoga kita bertemu di sebuah waktu di mana semua lebih natural dan sederhana"